Anda di halaman 1dari 21

TEORI KEPENDUDUKAN MENURUT PARA AHLI

TEORI KEPENDUDUKAN Menurut para ahli

Thomas R. Malthus (1766 - 1834) ,Seorang pendeta berkebangsaan Inggris .


Essainya:
The Principle of Population (1798)
A Summary View of The Principle of Population (1830)
Pemikiran ini sangat berpengaruh di Inggris & Jerman.

Rumusan teoritis:
1.Pangan dibutuhkan dibutuhkanuntuk untuk hidup manusia.
2.Kebutuhan nafsu seksual akan tetap sifatnya sepanjang masa.
3.Perkembangan penduduk sesuai dengan deret ukur ukur,sedangkan pekembangan pangan sesuai
dengan deret hitung.

Aliran Neo Malthusians


Paul Ehrlich (Paul ahli biologi di UniversitasStanford) Garret Hardin (ahli biologi di Universitas Universitas
California).
Pada tahun 1871 Paul menulis buku The Population Bomb, dan kemudian di revisi menjadi The
Population Explotion yang berisi:
a. Sudah terlalu banyak manusia di bumi ini.
b. Keadaan bahan makanan sangat terbatas.
c. Lingkungan rusak sebab populasi manusia meningkat.
Analisis ini dilengkapi oleh Meadow (1972), melalui buku The Limit to Growth ia menarik hubungan
antara variabel lingkungan ( penduduk, produksi pertanian, produksi industri, sumber daya alam ) dan
polusi. Tapi walaupun begitu , melapetaka tidak dapat dihindari , hanya manusia cuma menunggunya dan
membatasi pertumbuhannya sambil mengelola alam dengan baik.

Aliran Marxist (Karl Marx & Friedrich Engels Engels).

Populasi manusia tidak menekan makanan, tapi memepengaruhi kesempatan kerja.


Kemelaratan bukan terjadi karena cepatnya pertumbuhan penduduk, tapi karena kaum kapitalis
mengambil sebagian hak para buruh.
Semakin tinggi tingkat populasi manusia , semakin tinggi produktivitasnya, jika teknologi tidak
menggantikan manusia. Sehingga manusia tidak perlu menekan jumlah kelahirannya, ini berarti menolak
teori Malthus tentang Moral restraint untuk menekan angka kelahiran.
Teori ini dibenarkan oleh negara-negara sosialis seperti: RRC, Korea Utara, dan Vietnam.
( Oleh : Chabib Musthofa ).

Teori Malthus
Aliran ini dipelopori oleh Thomas Robert Malthus, seseorang pendeta Inggris, hidup pada tahun 1766
hingga tahun 1834. Pada permulaan tahun 1798 lewat karangannya yang berjudul: Essai on Principle of
Populations as it Affect the Future Improvement of Society, with Remarks on the Speculation of Mr.
Godwin, M. Condorcet, and Other Writers, menyatakan bahwa penduduk (seperti juga tumbuh-tumbuhan
dan binatang) apabila tidak ada pembatasan, akan berkembang biak dengan cepat dan memenuhi
dengan cepat beberapa bagian dari permukaan bumi ini (Mantra, 2003:50).

Mazhab Fisiologi
Orang-orang yang termasuk golongan ini sebenarnya pendapatnya berbeda-beda tetapi dalam satu hal
mereka mempunyai pendapat yang sama yaitu menyangkal dalil Malthus yang dikemukakannya sebagai
suatu aksioma tanpa penyelidikan bahwa kemampuan menurunkan keturunan suatu daya alam yang
tetap. Menurut seorang tabib Inggris Thomas Jarold, daya biak (kemampuan menurunkan) pada manusia
akan berkurang, semakin banyak ia mempergunakan tenaga rohani dan jasmaninya. Karena itu, menurut
pendapatnya, orang tidak usah khawatir akan ketidak seimbangan antara jumlah penduduk dan bahan
makanan, mengingat bertambahnya kemajuan yang kini dapat dicapai oleh manusia yang meminta lebih
banyak pengorbanan tenaga rohani dan jasmani.
Yang hampir sama pendapatnya dengan Thomas Jarold adalah Michael Thomas Sadler. Menurut
pendapatnya, kemampuan menurukan keturunan orang itu akan berkurang, ceteris paribus. Jika jumlah
penduduk itu bertambah dan kemampuan menurunkan keturunan itu akan bertambah jika jumlah
penduduk itu berkurang. Disingkatkan gambaran pendapat M. T. Sadler itu adalah sebagai berikut :

Bertambahnya jumlah penduduk = berkurangnya jumlah kemampuan melahirkan.


Berkurangnya jumlah pendduduk = bertambahnya kemampuan melahirkan.

Pada penduduk yang sedang naik jumahnya, bertambah banyaknya bahan makanan berlangsung lebih
cepat daripada bertambahnya orang. Keadaan ini mengakibatkan naiknya tingkat kemakmuran penduduk
itu. Meningkatnya kemakmuran menyebabkan berkurangnya kemampuan meurunkan keturunan.
Banyaknya bahan makanan dan mudahnya keadaan penghidupan mempengaruhi berkurangnya
kemampuan menurunkan keturunan. Bukti-bukti itu ditemukan oleh Sadler di Negara-negara dan kota-
kota besar yang rapat penduduknya dengan angka-angka kelahiran yang rendah dan banyaknya
bangsawan-bangsawan inggris yang tidak mempunyai keturunan lagi. Begitu juga dalam keadaan yang
sebaliknya. Sukarnya penghidupan dan kurangnya bahan makanan sangat besar pengaruhnya terhadap
bahan makanan menurunkan keturunan.
Dalil yang menyatakan bahwa kemampuan menurunkan keturunan akan berkurang dalam meningkatnya
kemakmuran, dengan tegas dipertahankan oleh Thomas Doubleday pada tahun 1841. Menurut
pendapatnya, sangat sukar didapatkan bahan penghidupan, merupakan suatu perangsang dari daya biak
sedangkan bila bahan-bahan penghidupan itu mudah didapatkan maka hal ini akan mengurangi
kemampuan melahirkan. Berlakunya hukum ini dapat kita jumpai pada seluruh alam hewan dan tumbuh-
tumbuhan.
Di negeri-negeri yang kaya dan makmur keadaan rakyatnya, maka kemampuan menurukan keturunan
sangat kecil, sedangkan negeri-negeri yang rakyatnya miskin dimana keperluan hidupnya serba sukar
didapatkan, kemampuan melahirkan itu sangatlah besar. Keadaan tersebut oleh Doubleday dinyatakan
sebagai Hukum yang agung dan nyata dari penduduk atau (The real and the great law of human
population). Ia mengira, bahwa secara empiris ia dapat membuktikan berlakunya hukum itu.
Herbert Spencer yang menyangkal dengan keras teori dari Malthus menarik garis pemisah antara hewan
dan manusia dalam memperkembangkan keturunannya. Ia berpendapat bahwa manusia mengenal
Individu dan Kemajuan Perseorangan. Semakin banyak orang mempergunakan energi untuk
kemajuan dirinya, semakin berkuranglah energi yang dapat dipergunakan untuk memperkembangkan
keturunan. Karena itu, jenis hewan yang tingkat kemajuannya rendah, daya biaknya tinggi, sebaliknya
tingkat kemajuan individu yang tinggi bersamaan dengan daya biak yang rendah. manusia adalah jenis
hewan yang paling maju dan kemampuan menurunkan keturunan adalah paling rendah. semakin tinggi
tingkat kemajuan sesuatu golongan penduduk, akan semakin berkuranglah daya biaknya, sehingga
akhirnya akan sampai kepada suatu tingkatan, dimana kemampuan menurunkan keturunan itu hanya
sekedar cukup untuk mengkompensir jumlah kematian. Selanjutnya penduduk itu akan menjadi stasioner.
Faedah dari adanya teori-teori golongan fisiologis ini adalah bahwa orang-orang tidak lagi berpegang
teguh, bahwa kemapuan menurunkan keturunan merupakan suatu daya yang tetap. Tetapi bukti-bukti
daripada teori-teori itu sukar didapat, jadi hanya merupakan suatu hipotesa belaka (Abdurachim,
1973:15-18).

Mazhab Psycho-Sosial
Menurut Nassau William Senior, bahwa cita-cita manusia untuk memperbaiki kedudukannya dalam
penghidupan sama kuatnya dengan keinginan untuk menurunkan keturunan. Beberapa tahun kemudian
teori Senior itu diperbaharui oleh Arsene Dumont. Inti dari teori Dumont ini adalah bahwa setiap orang
mempunyai keinginan untuk memperbaiki kedudukan ekonomi dan kedudukan sosialnya sepanjang hal
itu masih dapat dilakukan. Dan hal ini disebutnya Kapilaritas Sosial. Keinginan untuk maju dalam
perjuangan hidup diwariskan oleh orang secara turun-temurun kepada keturunnnya. Setiap orang tua
menghendaki agar anak keturunannya mempunyai kedudukan-kedudukan yang lebih baik daripada yang
telah dimilikinya. Yang mengharapkan keadaan yang sebaliknya tidak pernah ada (Abdurachim, 1973:18-
20).

Teori Evolusi Sosial


Disamping teori-teori golongan fisiologis dan golongan psycho-sosial dalam permulaan abad ke-20 masih
terdapat teori-teori lain mengenai masalah penduduk. Prof. Gini yang teori nya disebut orang teori
evolusi-sosial meneyebut proses dari pertumbuhan penduduk bangsa sebagai peredaran (siklus)
bangun dan runtuhnya penduduk. Siklus dari pertumbuhan penduduk ini menurut pendapatnya adalah
sama dengan siklus hidup individu. Ada suatu masa permulaan, dimana orang tumbuh dengan cepat
menjadi besar yang kemudian disusul dengan masa pertumbuhan yang lambat dan menjadi tua, untuk
selanjutnya mengalami keruntuhan.
Tiap bangsa dalam usia mudanya mempunyai struktur masyarakat yang sederhana dengan angka-angka
kesuburan (kelahiran) yang tinggi. Sebagai suatu konsekuensi daripada ini penduduk bangsa itu akan
tumbuh dalam jumlah yang besar dan sejalan dengan ini, organisasi-organisasi dalam masyarakat pun
akan tumbuh menjadi kompleks seperti terlihat dalam perkembangan kelas-kelas sosialnya, pertumbuhan
industri-industri dan aktivitas ekonominya. Dengan bertambahnya jumlah penduduk, tekanan hidup akan
terasa dan ekspansi akan terjadi dengan melalui peperangan atau pendudukan daerah-daerah orang
lain.
Pada akhir, kemudian akan terjadi pengurangan dalam pertumbuhan penduduk yang disebabkan oleh
kehilangan tenaga-tenaga produksif dalam peperangan atau perpindahan. Sebab utama dari
berkurangnya penduduk itu bersifat biologi. Gini percaya bahwa faktor yang fundamental dalam
berkurangya penduduk adalah faktor biologi, yang tidak dapat ditandingi oleh faktor-faktor sosial dan
ekonomi. Permulaan pengurangan kelahiran itu akan berlaku pada kelas-kelas sosial yang tinggi untuk
selanjutnya meluas kepada kelas-kelas sosial yang rendah. dengan demikian penduduk akan menjadi
kecil jumlahnya (Abdurachim,1973:21).

Teori Neo-Malthusianisme
Pada akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20, teori Malthus mulai diperdebatkan lagi. Kelompok
yang menyokong aliran Malthus tetapi lebih radikal disebut dengan kelompok Neo-Malthusianism.
Kelompok ini tidak sependapat dengan Malthus bahwa mengurangi jumlah penduduk cukup dengan
moral restraint saja. Untuk keluar dari perangkap Malthus, mereka menganjurkan menggunakan semua
cara-cara preventive checks misalnya dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi untuk mengurangi
jumlah kelahiran, pengguguran kandungan (absortions). Paul Ehrlich mengatakan:
the only way to avoid that scenario is to bring the birth rate under control-perhaps even by force
(Weeks, 1992).

Menurut kelompok ini (yang dipelopori oleh Garrett Hardin dan Paul Ehrlich). Pada abad ke-20 (pada
tahun 1950-an), dunia baru yang pada jamannya Malthus masih kosong kini sudah mulai penuh dengan
manusia. Dunia baru sudah tidak mampu untuk menampung jumlah penduduk yang selalu bertambah.
Tiap minggu lebih dari seratus juta bayi lahir di dunia, ini berarti satu juta lagi mulut yang harus diberi
makan. Mungkin pada permulaan abad ke-19 orang masih dapat mengatakan bahwa apa yang
diramalkan Malthus tidak mungkin terjadi tetapi sekarang beberapa orang percaya bahwa hal itu terjadi
dengan mengatakan it has come true:it is happening.

Di tahun 1960-an dan 1970-an photo-photo yang diambil dari tuang angkasa menunjukkan bahwa bumi
kita terlihat seperti sebuah kapal yang berlayar di ruang angkasa dengan persediaan bahan bakar dan
bahan makanan yang terbatas. Pada suatu saat, kapal ini akan kehabisan bahan bakar dan bahan
makanan, sehingga akhirnya malapetaka menimpa kapal tersebut.
Paul Ehrlich dalam bukunya The Population Bomb pada tahun 1971, menggambarkan penduduk dan
lingkungan yang ada di dunia dewasa ini sebagai berikut. Pertama, dunia ini sudah terlalu banyak
manusia; kedua, keadaan bahan makanan sangat terbatas; ketiga, karena terlalu banyak manusia di
dunia ini lingkungan sudah banyak yang rusak dan tercemar. Pada tahun 1990 Ehrlich bersama istrinya
merevisi buku tersebut dengan judul yang baru The Population Explotion yang isinya bahwa bom
penduduk yang dikhawatirkan tahun 1968, kini sewaktu-waktu akan dapat meletus. Kerusakan dan
pencemaran lingkungan yang parah karena sudah terlalu banyaknya penduduk sangat merisaukan
mereka. Selanjutnya Ehrlich menulis:
the poor are dying of hunger, while rich and poor alike are dying from the by-products of affluence-
pollution and ecological disaster (Weeks, 1992).
Pandangan mereka (Ehrlich dan Hardin) tentang masa depan dunia ini sangat suram, namun demikian
isu kependudukan ini sangat penting bagi seluruh generasi terutama bagi penduduk di Negara maju
(devel-oped world) (Mantra,2003:53-54).

Teori Kependudukan Malthus Ke Neo Malthusian.


Teori Kependudukan, Hubungan antara Penduduk dan keterbatasan sumber alam/pangan harus
seimbang antara penduduk dan daya dukung, tidak sedikit/dan terlalu banyak (penduduk optimum)
Hubungan antara pendudukdan lingkungan.
Thomas Robert Malthus : Teori KelebihanPenduduk(over population theory), mengembangkan pemikiran
yg sudah dikembangan ayahnya (Daniel Malthus) tentang hubungan antara penduduk dan pangan,
diterbitkan 1798.
(Oleh : Drs.Soekirno, M.Sc.).

Mazhab Ekonomi Klasik (Abad 19).


Akhir abad 19 : asumsi-asumsi mazhab klasik mengenai teori pertumbuhan ekonomi dan penduduk
makin dipertanyakan karena :
1. Fertilitas menunjukkan penurunan
2. Emigrasi terjadi di beberapa negara Eropa
3. Impor pangan terjadi kalau diperlukan
4. Perkembangan tehnologi
5. Pengetahuan manusia dan kekayaan produktif makin meningkat
6. Perubahan sosial yg melawan kecenderungan terhadap hasil yg makin berkurang (diminishing
returns ).
(Oleh : Drs.Soekirno, M.Sc.)

Marshal 1920.
Walaupun peranan alam dalam produksi menunjukkan hasil yg semakin berkurang, peranan manusia
cenderung meningkatkan hasil ( increasing returns)
Peningkatan hasil(volume produksi) :
1.Bersumber pada kecenderungan external economics (pasar yg tidak tertutup )
2. Sebagian karena adanya internal economics (berbagai perubahan yg terjadi dalam sistem
perekonomian dalam negeri).
(Oleh : Drs.Soekirno, M.Sc.)

Pengertian Kependudukan
Kependudukan adalah hal yang berkaitan dengan jumlah,
pertumbuhan, persebaran, mobilitas, penyebaran, kualitas, kondisi
kesejahteraan, yang menyangkut politik, ekonomi, sosial, budaya,
agama serta lingkungan (UndangUndang No. 23 Tahun 2006)
Kependudukan adalah hal ihwal yang berkaitan dengan jumlah,
struktur, umur, jenis kelamin, agama, kelahiran, perkawinan,
kehamilan, kematian, persebaran, mobilitas dan kualitas serta
ketahanannya yang menyangkut politik, ekonomi, sosial, dan budaya1
B. Pengertian e-KTP Berdasarkan beberapa pengertian yang telah
penulis paparkan di atas Kependudukan adalah hal ihwal yang
berkaitan dengan jumlah, struktur, umur, jenis kelamin, agama,
kelahiran, perkawinan, kehamilan, kematian, persebaran, mobilitas
dan kualitas serta ketahanannya yang menyangkut politik, ekonomi,
sosial, dan budaya. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 1 angka (14)
Undang Undang No. 23 Tahun 2006 ditetapkan mengenai pengertian
dari KTP antara lain sebagai berikut: KTP, adalah identitas resmi
penduduk sebagai bukti diri yang diterbitkan oleh Instansi Pelaksana
yang berlaku di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Definisi dari E-KTP atau kartu tanda penduduk elektronik adalah
dokumen kependudukan yang memuat system keamananan /
pengendalian baik dari sisi administrasi ataupun teknologi informasi
dengan berbasis pada pada database kependudukan nasional.
Penduduk hanya di perbolehkan memiliki 1 (satu) KTP yang
tercantum Nomor induk Kependudukan (NIK). NIK merupakan
identitas tunggal setiap penduduk dan berlaku seumur hidup. Nomor
NIK yang ada di e-KTP nantinya akan dijadikan dasar dalam
penerbitan paspor, surat Izin mengemudi (SIM), Nomor Pokok Wajib
Pajak (NPWP), Polis Asuransi, Sertifikat atas Hak Tanah dan
penerbitan dokumen identitas lainnya ( sumber : pasal 13 UU No. 23
Tahun 2006 tentang Adminduk).2
Ketentuan dalam Pasal 1 angka (14) Undang Undang No. 23 Tahun
2006 ditetapkan mengenai pengertian dari KTP antara lain sebagai
berikut: KTP, adalah identitas resmi penduduk sebagai bukti diri yang
diterbitkan oleh Instansi Pelaksana yang berlaku di seluruh wilayah
NKRI. Kewajiban untuk memiliki KTP bagi setiap penduduk warga
Negara Indonesia dan orang asing yang memiliki izin tinggal tetap
yang telah berumur 17 tahun atau telah kawin atau pernah kawin
dimuat dalam Pasal 63 ayat (1) Undang Undang No. 23 Tahun 2006.
Disebutkan pula dalam ayat (2) dari Pasal tersebut mengenai
ketentuan bahwa orang asing yang mengikuti status orang tuanya
yang memiliki izin tinggal tetap dan sudah berumur 17 tahun juga
diwajibkan untuk memiliki KTP.
Pasal 64 Undang Undang No. 23 Tahun 2006 menetapkan mengenai
ketentuan bagian-bagian yang harus diisi dalam sebuah KTP, hal ini
diatur khusus dalam ayat (1) yang bunyinya sebagai berikut: KTP
mencantumkan gambar lambang Garuda Pancasila dan peta wilayah
Negara Republik Indonesia, memuat keterangan tentang NIK, nama,
tempat tanggal lahir, laki-laki atau perempuan, agama, status
perkawian, golongan darah, alamat, pekerjaan, kewarganegaraan, pas
foto, masa berlaku, tempat dan tanggal dikeluarkannya KTP, serta
memuat nama dan nomor induk pegawai pejabat yang
menandatangani.
Dalam Pasal 64 ayat (3) Undang-undang No. 23 tahun 2006 memuat
mengenai ketentuan disediakannya sebuah ruang khusus untuk diiisi
dengan kode keamanan dan rekaman elektronik pencatatan peristiwa
penting yang pernah dilakukan oleh si pemilik KTP. Pasal ini
merupakan landasan hukum diberlakukannya KTP berbasis elektronik
yang harus memuat kode keamanan dan rekaman elektronik tiap-tiap
penduduk yang diharuskan memiliki Kartu Tanda Penduduk. Dalam
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2009
tentang Penerapan KTP Berbasis Nomor Induk Kependudukan Secara
Nasional, selanjutnya disebut Peraturan Presiden Nomor 26 tahun
2009, Pasal 1 angka (3) menetapkan bahwa yang dimaksud dengan
KTP berbasis NIK adalah KTP yang memiliki spesifikasi dan format
KTP nasional dengan sistem pengamanan khusus yang berlaku
sebagai identitas resmi yang diterbitkan oleh Instansi Pelaksana.
Berdasarkan pengertian yang dimuat dalam situs resmi e-KTP3
disebutkan bahwa e-KTP adalah dokumen kependudukan yang
memuat sistem keamanan / pengendalian baik dari sisi administrasi
ataupun teknologi informasi dengan berbasis pada database
kependudukan nasional. Sementara dalam laporan sosialisasi
Kebijakan dan Peraturan Administrasi Kependudukan yang dilakukan
oleh Tim Direktorat Pendaftaran Penduduk disebutkan mengenai
pengertian Kartu Tanda Penduduk Berbasis NIK sebagai berikut:
KTP Berbasis NIK adalah KTP yang memiliki spesifikasi dan format
KTP nasional dengan sistem pengamanan khusus yang berlaku
sebagai identitas resmi yang diterbitkan oleh Instansi Pelaksana4
C. Kebijakan Kependudukan . Berdasarkan beberapa pengertian di
atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan KTP berbasis
elektronik adalah kartu yang memuat identitas resmi penduduk
sebagai warga Negara Indonesia sebagai bukti diri yang memuat
sistem keamanan/pengendalian baik dari sisi administrasi ataupun
teknologi informasi dengan berbasis pada database kependudukan
nasional yang diterbitkan oleh Instansi Pelaksana yang berlaku di
seluruh wilayah NKRI.
Proses implementasi kebijakan melihat kesesuaian antara program
yang telah direncanakan dengan implementasinya dilapangan.
Implementasinya kebijakan merupakan proses yang krusial dalam
kebijakan publik, karena bukan hanya berkaitan dengan halhal
mekanisme penjabaran keputusan-keputusan politik ke dalam
prosedur-prosedur rutin lewat jalur birokrasi, melainkan juga
menyangkut masalah konflik, keputusan dan siapa yang memperoleh
kebijaksanaan5
Dr. Elibu Bergman (Harvard university) Mendefinisikan kebijakan
penduduk sebagai tindakan-tindakan pemerintah untuk mencapai
suatu tujuan dimana didalamnya termasuk pengaruh dan
karakteristik penduduk. Secara umum kebijakan penduduk harus
ditujukan untuk: Kebijakan Kependudukan adalah kebijakan yang
ditujukan untuk mempengaruhi besar, komposisi, distribusi dan
tingkat perkembangan penduduk. sedangkan6

1. Melindungi kepentingan dan mengembangkan kesejahteraan


penduduk itu sendiri terutama generasi yang akan datang.

2. Memberikan kemungkinan bagi tiap-tiap orang untuk


memperoleh kebebasan yang lebih besar, guna menentukan apa yang
terbaik bagi kesejahteraan diri, keluarga dan anaknya.

3. Kebijakan harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup


penduduk itu sendiri. Pemecahan masalah kependudukan dengan
pengendalian kelahiran saja tidak menjamin bahwa hasilnya secara
otomatis akan meningkatkan kualitas hidup penduduk yang
bersangkutan atau generasi yang akan datang.

Mazmanian dan Sabatiar menjelaskan konsep Implementasi


kebijakan sebagai berikut: Di dalam mempelajari masalah
Implementasi kebijakan berarti berusaha untuk memahami apa
yang senyatanya terjadi sesudah suatu program diberlakukan atau
dirumuskan, yakni peristiwa-peristiwa dan kegiatan-kegiatan yang
terjadi setelah proses pengesahan kebijaksanaan negara, baik itu
menyangkut usaha-usaha pengadministrasian maupun usaha-usaha
untuk memberikan dampak tertentu pada masyarakat ataupun
peristiwaperistiwa7
Pada tahun 1965 PBB mempunyai kebijakan kependudukan yang jelas
dan menjadi dasar bagi tindakan-tindakan yang nyata, walaupun
badan yang bernama The Population Commission dengan resmi
sudah dapat disahkan pada tanggal 3 Oktober 1946. Aktivis Sita
Aripurnami menggunakan kutipan Zillah Eisenstein, The Color of
Gender (1994) ini pada baris pertama tesis berjudul Reproductive
Rights Between Control and Resistence: A Reflection on the Discourse
of Population Policy in Indonesia, yang diajukan untuk mendapatkan
Master of Science pada The Gender Institute, London School of
Economics (LSE) London, Inggris. Sungguh kutipan yang tepat untuk
menganalisis politik reduksionis dalam kebijakan kependudukan di
Indonesia, yakni bagaimana kebijakan kependudukan direduksi
menjadi kebijakan keluarga berencana; kebijakan berencana direduksi
menjadi kebijakan kontrasepsi; kebijakan kontrasepsi direduksi lagi
menjadi hanya kontrasepsi bagi perempuan.
Dari 20 (dua puluh) jenis kontrasepsi yang beredar, 90 persen di
antaranya ditujukan untuk perempuan. Bank Dunia pernah menyebut
Indonesia sebagai salah satu transisi demografis paling mengesankan
di negara sedang berkembang. Pada masa itu tingkat fertilitas turun
dari 5,5 menjadi tiga per kelahiran, sementara tingkat kelahiran kasar
turun dari 43 menjadi 28 per 1.000 kelahiran hidup. Tahun 1970,
pertumbuhan penduduk turun dari sekitar 3,5 persen menjadi 2,7
persen dan turun lagi menjadi 1,6 persen pada tahun 1991. Banyak
negara berkembang kemudian belajar implementasi program KB di
Indonesia. Tetapi, hampir bisa dipastikan, dalam transfer
pengetahuan itu tidak disebut metode yang membuat program itu
sukses; yakni koersi (pemaksaan dengan ancaman) terhadap
perempuan, khususnya dari kelompok masyarakat kelas bawah,
terutama saat awal program diperkenalkan.
Di bawah panji-panji Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera
(selanjutnya disebut NKKBS), program pengendalian penduduk (KB
dengan alat kontrasepsi) dilancarkan. Seperti halnya di negara
berkembang lain awal tahun 1970-an, pemerintah Orde Baru meyakini
KB sebagai strategi ampuh mengejar ketertinggalan pembangunan.
Ajaran Malthusian mengasumsikan, dengan jumlah penduduk
terkendali rakyat lebih makmur dan sejahtera. Untuk mencapai
pertumbuhan ekonomi-yang merupakan pereduksian makna
pembangunan-tinggi guna mencapai kemakmuran, di antara
syaratnya adalah zero growth di bidang kependudukan. Hubungan
antara pengendalian jumlah penduduk dan pembangunan ekonomi
menjadi semacam kebenaran, sehingga tidak lagi memerlukan
pembuktian. Dalam Konferensi Kependudukan dan Pembangunan
(ICPD) di Cairo, Mesir, 1994, lembaga swadaya masyarakat (LSM)
mengungkapkan, kebijakan kependudukan yang reduksionis ini
dikonstruksi sistematis melalui lembaga internasional. Pertumbuhan
penduduk menjadi prakondisi bantuan pembangunan.
Di Indonesia, seperti pernah dikemukakan aktivis kesehatan
reproduksi Ninuk Widyantoro, para petugas medis hanya diajari cara
memasang susuk (nama lain dari Norplant), tetapi tidak cara
mengeluarkannya. Pendarahan dan efek samping lain pemasangan
kontrasepsi di tubuh perempuan sering dianggap tidak soal. Secara
ironis pula, perencanaan program sebagian besar dilakukan laki-laki.
Angka keberhasilan KB dijadikan salah satu komponen keberhasilan
pembangunan, sehingga cara apa saja digunakan untuk mencapai
angka keberhasilan itu. Manusia, khususnya perempuan, telah
berubah maknanya menjadi hanya angka dan target. Caranya, tak
jarang menggunakan pemaksaan dan ancaman aparat.
Rezim Orde Baru, seperti halnya rezim pembangunanisme di mana
pun, memperlakukan perempuan sebagai pihak yang bertanggung
jawab atas peledakan jumlah penduduk. Dengan demikian, mereka
harus dikontrol ketat. Program KB telah membuat alat reproduksi
perempuan seperti milik sah negara yang bisa digunakan para
birokrat korup untuk mendapatkan utang. Pelajaran masa lalu ini
amat berharga, karena pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di
Indonesia salah satunya disebabkan persoalan KB. Ke depan,
kebijakan kependudukan harus dikembalikan pada hakikatnya semula
dengan menempatkan kesehatan reproduksi perempuan sebagai
landasan. Itu berarti, perempuan mempunyai hak mengontrol
tubuhnya untuk bebas dari paksaan, kekerasan serta diskriminasi
pihak mana pun. Akses pada pelayanan kesehatan reproduksi harus
dibuka untuk siapa pun. Proses demokrasi harus dimulai dari
persoalan ini.
Konperensi kependudukan dunia dilaksanakan oleh PBB tahun 1954
di Roma. Kehati-hatian mewarnai penyebutan masalah kepadatan
penduduk. Pro-kontra terjadi tentang adanya masalah kepadatan
penduduk. Tahun 1954-1965 laporan-laporan tentang tekanan-
tekanan yang disebabkan oleh kepadatan penduduk dalam kehidupan
politik, ekonomi dan sosial dalam bentuk angka-angka stastistik
membuka mata dunia akan adanya masalah kependudukan. Hal ini
tercermin dalam konperensi kependudukan dunia kedua yang
dilaksanakan oleh PBB di Beograd tahun 1965. Sejak konperensi ini
masalah kependudukan dinyatakan sebagai masalah dunia yang harus
segera ditangani.
Pada hari HAM 1968, dicetuskan Deklarasi pemimpin-pemimpin
dunia tantang kependudukan. Deklarasi itu diterima sebagai resolusi
XVII dalam konperensi tentang HAM di Teheran pada tanggal 12 Mei
1968. Presiden Indonesia merupakan salah seorang dari 30 orang
kepala negara yang turut menendatanganinya.
Pertumbuhan penduduk yang terlalu cepat sangat merintangi taraf
hidup, kemajuan, peningkatan kesehatan dan sanitasi, pengadaan
perumahan dan alat-alat pengangkutan, peningkatan kebudayaan,
kesempatan rekreasi dan untuk banyak nagara merintangi pemberian
pangan yang cukup kepada rakyat. Ringkasnya cita-cita manusia
seluruh dunia untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik diganggu
dan dibahayakan oleh pertumbuhan penduduk yang tak dikendalikan
itu.
Pernyataan Bersama PBB mengenai kependudukan oleh Sekjen PBB
10 Desember 1966 adalah: Kami para pemimpin Negara-negara yang
sangat memperhatikan masalah kependudukan sependapat bahwa:

1. Masalah kependudukan perlu menjadi unsur utama dalam


rencana pembangunan jangka panjang bila negara itu ingin mencapai
tujuan ekonomi yang dicita-citakan oleh rakyat.

2. Sebagian orang dari para orang tua ingin memperoleh


pengetahuan tentang cara-cara merencanakan keluarga dan adalah
hak tiap-tiap manusia untuk menentukan jumlah dan menjarangkan
kelahiran anaknya.

3. Perdamaian yang sesungguhnya dan kekal sangat bergantung


pada cara kita menanggulangi pertumbuhan penduduk.
4. Tujuan Keluarga Berencana adalah untuk memperkaya
kehidupan umat manusia bukan untuk mengekangnya; bahwa dengan
keluarga berencana tiap-tiap orang akan memperoleh kesempatan
yang lebih baik untuk mencapai kemuliaan hidup dan
mengembangkan bakatnya.

5. Sadar bahwa gerakan keluarga berencana adalah untuk


kepentingan keluarga dan negara maka kami para penandatanganan
sangat berharap pemimpin-pemimpin seluruh dunia menyepakati
pernyataan itu.

Deklarasi kependudukan tersebut, merupakan pangkal tolak dari


dilaksanakan program kependudukan atas dasar kebijakan
kependudukan tiap Negara. Sekarang sebagian besar dari negara-
negara anggota PBB telah memiliki kebijakan kependudukan
termasuk Indonesia. Dalam menentukan suatu kebijakan tentang
kependudukan yang penting adalah memperhatikan kualitas
penduduk itu sendiri, stabilitas dari sumber-sumber kehidupan
mereka, kelangsungan adanya lapangan kerja, standar kehidupan
yang menyenangkan, dimana keamanan nasional maupun
kebahagiaan perorangan harus diperhitungkan.
Kebijakan kependudukan dapat dilakukan melalui tiga komponen
perkembangan penduduk yaitu : kelahiran (fertilitas), kematian
(mortalitas) dan perpindahan penduduk (migrasi). Mencegah
pertumbuhan penduduk sebenarnya dapat dilakukan dengan berbagai
cara, seperti : peningkatan migrasi keluar, peningkatan jumlah
kematian atau penurunan jumlah kelahiran.
Cara yang pertama sulit kiranya untuk dilakukan sebab semua negara
di dunia ini melakukan pengawasan dan pembatasan orang-orang
asing pendatang baru, sehingga mempersulit terjadinya migrasi secara
besar-besaran. Juga tidak mungkin diharapkan bahwa pemerintah
berani menjalankan kebijakan peningkatan jumlah kematian. Jadi
satu-satunya cara yang tinggal adalah dengan menurunkan jumlah
kelahiran. Keuntungan pertama yang nyata dari hasil penurunan
jumlah kelahiran adalah perbaikan kesehatan ibu dan anak-anak yang
sudah ada, dan penghematan pembiayaan pendidikan.
Usaha memecahkan kepadatan penduduk karena tidak meratanya
penyebaran penduduk, seperti terdapat di Jambal (Jawa, Madura, dan
Bali) adalah dengan memindahkan penduduk tersebut dari pulau
Jawa, Madura, dan Bali ke pulau-pulau lain. Usaha ini di Indonesia
dikenal dengan nama Transmigrasi dan telah ditempatkan pada
prioritas yang tinggi. Disamping migrasi, masalah lainnya perlu
dipecahkan adalah perpindahan penduduk dari daerah
peKelurahanan ke daerah perkotaan, yang dikenal dengan nama
Urbanisasi.
Menurut hasil sensus 1980, 18,8% dari jumlah penduduk Indonesia
bermukim di daerah kota. Setengah abad yang lalu jumlah penduduk
kota di Indonesia telah berkembang lebih cepat daripada
perkembangan penduduk Indonesia. Hampir sepertiga dari
pertambahan penduduk Indonesia dalam dekade terakhir ditampung
oleh daerah perkotaan. Masalah yang timbul adalah belum siapnya
kota-kota tersebut untuk menampung pendaftar baru yang melampaui
kemampuan daya tampung kota-kota tadi.
Secara garis besarnya tujuan kebijakan kependudukan, adalah sebagai
berikut: memelihara keseimbangan antara pertambahan dan
penyebaran penduduk dengan perkembangan pembangunan sosial
ekonomi, sehingga tingkat hidup yang layak dapat diberikan kepada
penduduk secara menyeluruh.
Usaha yang demikian mencakup seluruh kebijakan baik di bidang
ekonomi, sosial, kulturil, serta kegiatan-kegiatan lain untuk
meningkatkan pendapatan nasional, pembagian pendapatan yang
adil, kesempatan kerja dan pembangunan pendidikan secara
menyeluruh. Strategi yang digunakan adalah jangka panjang maupun
jangka pendek.
Di Indonesia tujuan jangka panjang diusahakan dapat dijangkau
dengan:

1. Peningkatan volume transmigrasi ke daerah-daerah yang


memerlukannya.

2. Menghambat pertumbuhan kota-kota besar yang menjurus kea


rah satu-satunya kota besar di suatu pulau tertentu dan
mengutamakan pembangunan peKelurahanan.

Tujuan jangka pendek diarahkan kepada penurunan secara berarti


pada tingkat fertilitas, peningkatan volume transmigrasi setiap
tahunnya dan perencanaan serta pelaksanaan urbanisasi yang
mantap.
Program-program kebijakan yang disusun untuk mencapai tujuan
tersebut adalah:

1. Meningkatkan program keluarga berencana sehingga dapat


melembaga dalam masyarakat. Termasuk semua program pendukung
bagi keberhasilannya seperti peningkatan mutu pendidikan,
peningkatan umur menikah pertama, peningkatan status wanita.

2. Meningkatkan dan menyebarluaskan program pendidikan


kependudukan.

3. Merangsang terciptanya keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.

4. Meningkatkan program transmigrasi secara teratur dan nyata.

5. Mengatur perpindahan penduduk dari Kelurahan ke kota secara


lebih komprehensif di dalam perencanaan pembangunan secara
menyeluruh.

6. Mengatasi masalah tenaga kerja.

7. Meningkatkan pembinaan dan pengamanan lingkungan hidup.

Kebijaksanaan kependudukan secara menyeluruh harus


memperhitungkan hambatan-hambatan dari segi politis, ekonomis,
sosial, budaya, agama juga dari segi psikologis perorangan dan
masyarakat yang di negara-negara berkembang masih cenderung
mendukung diterimanya banyak anak.
Program-program beyond family planning harus lebih diintensifkan
dan diekstensifkan. Di samping usaha peningkatan produksi dalam
segala bidang kebutuhan hidup penduduk (pangan, sandang, rumah,
pendidikan, kesehatan, dan lain-lain), perlu ditingkatkan usaha yang
berhubungan dengan:

1. Pelaksanaan wajib belajar dan perbaikan mutu pendidikan.

2. Perluasan kesempatan kerja.


3. Perbaikan status wanita dan perluasan kesempatan kerja bagi
mereka.

4. Penurunan kematian bayi dan anak-anak.

5. Perbaikan kesempatan urbanisasi.

6. Perbaikan jaminan sosial dan jaminan hari tua.

A.Pengertian KB (Keluarga Berencana)

KB artinya mengatur jumlah anak sesuai kehendak dan menentukansendiri kapan


ingin hamil. (Kamus Besar Bahasa Indonesia(1997) ) Upaya peningkatkan
kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil yang bahagia
sejahtera (Undang-undang No. 10/1992).

Keluarga Berencana (Family Planning, Planned Parenthood) : suatu usaha untuk


menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan
memakai kontrasepsi.WHO (Expert Committe, 1970),

Tindakan yg membantu individu/ pasutri untuk: Mendapatkan objektif-obketif


tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran
yang diinginkan dan menentukan jumlah anak dalam keluarga.

Suatu usaha pengaturan/penjarangan kelahiran atau usaha pencegahan kehamilan


sementara atas kesepakatan suami-istri karena situasi dan kondisi tertentu untuk
kepentingan (mashlahat) keluarga, masyarakat maupun negara.Dengan demikian,
KB di sini mempunyai arti yang sama dengan tanzim al-nasl (pengaturan
keturunan).

Penggunaan istilah Keluarga Berencana juga sama artinya dengan istilah yang
umum dipakai di dunia internasional yakni family planning atau planned
parenthood, seperti yang digunakan oleh international Planned Parenthood
Federation (IPPF), nama sebuah organisasi KB internasional yang berkedudukan di
London.

KBadalah gerakan untuk membentuk keluargayang sehat dan sejahtera


denganmembatasi kelahiran.Dengan kata lain KB adalah perencanaan jumlah
keluarga. Pembatasanbisa dilakukan dengan penggunaanalat-
alatkontrasepsiatau penanggulangan kelahiran sepertikondom,spiral,IUDdan
sebagainya. Jumlah anak dalam sebuah keluarga yang dianggap ideal adalah dua.

1.Pandangan Agama Islam Mengenai KB

Jika program Keluarga Berencana (KB) dimaksudkan untuk membatasi


kelahiran, maka hukumnya tidak boleh. Karena Islam tidak mengenal pembatasan
kelahiran (tahdid an-nasl).
Terdapat banyak hadits yang mendorong umat Islam untuk memperbanyak anak.
Misalnya:

Perintah menikahi perempuanYang subur dan banyak anak, penjelasan yang


menyebutkan bahwa Rasulullah berbangga di Hari Kiamat dengan banyaknya
pengikut beliau.
(HR. Nasai, Abu Dawud, dan Ahmad), dsb.

Yang dikenal dalam Islam adalah pengaturan kelahiran (tanzhim an-


nasl).Hal ini didasarkan pada para sahabat yang melakukan azal di masa
Nabi, dan beliau tidak melarang hal tersebut.(HR. Bukhari dan Muslim).
Beberapa alasan yang membenarkan pengaturan kelahiran antara lain:

1. kekhawatiran akan kehidupan dan kesehatan ibu jika ia hamil atau melahirkan,
berdasarkan pengalaman atau keterangan dari dokter yang terpercaya.Firman
Allah:

Dan janganlah kalian campakkan diri kalian dalam kebinasaan.


(QS. al-Baqarah: 195).

2. khawatir akan kesulitan materi yang terkadang menyebabkan munculnya


kesulitan dalam beragama, lalu menerima saja sesuatu yang haram
danmelakukan hal-hal yang dilarang demi anak-anaknya. Allah berfirman:
Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki
kesulitan.
(QS. al-Baqarah: 185).

3. Alasan kekhawatiran akan nasib anak-anaknya; kesehatannya buruk atau


pendidikannya tidak teratasi (Lihat:Halal dan Haram dalam Islam,Dr. Yusuf al-
Qaradhawi, Era Intermedia, hlm. 285-288).
4. Alasan lainnya adalah agar bayi memperoleh susuan dengan baik dan cukup,
dan dikhawatirkan kehadiran anak selanjutnya dalam waktu cepat membuat
hak susuannya tidak terpenuhi.

Membatasi anak dengan alasan takut miskin atau tidak mampumemberikan


nafkah bukanlah alasan yang dibenarkan. Sebab, itu
mencerminkan kedangkalan akidah, minimnya tawakal dan keyakinan bahwa
Allah Maha Memberi rezeki. Allah Swt. berfirman:

Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah
yang memberi rezeki kepada mereka dan kepada kalian. (QS. al-Isra: 31).

a. Pandangan Al-Quran Tentang Keluarga Berencana


Dalam al-Quran banyak sekali ayat yang memberikan petunjuk yang perlu kita
laksanakan dalam kaitannya dengan KB diantaranya ialah :
Surat An-Nisa ayat 9:

Dan hendaklah takut pada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan
dibelakang mereka anak-anak yang lemah. Mereka khawatir terhadap
kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada
Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Ayat-ayat al-Quran yang berindikasi tentang diperbolehkannya mengikuti


program KB, yakni karena hal-hal berikut:
a. Menghawatirkan keselamatan jiwa atau kesehatan ibu. Hal ini sesuai dengan
firman Allah:
(195 : )
Janganlah kalian menjerumuskan diri dalam kerusakan.

b. Menghawatirkan keselamatan agama, akibat kesempitan penghidupan hal ini


sesuai dengan hadits Nabi:

Kefakiran atau kemiskinan itu mendekati kekufuran.
c. Menghawatirkan kesehatan atau pendidikan anak-anak bila jarak kelahiran anak
terlalu dekat sebagai mana hadits Nabi:

Jangan bahayakan dan jangan lupa membahayakan orang lain.
Selain ayat diatas masih banyak ayat yang berisi petunjuk tentang pelaksanaan
KB diantaranya ialah surat al-Qashas: 77, al-Baqarah: 233, Lukman: 14, al-Ahkaf:
15, al-Anfal: 53, dan at-Thalaq: 7.
Dari ayat-ayat diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa petunjuk yang perlu
dilaksanakan dalam KB antara lain, menjaga kesehatan istri, mempertimbangkan
kepentingan anak, memperhitungkan biaya hidup brumah tangga.
b. Pandangan al-Hadits Tentang Keluarga Berencana
Dalam Hadits Nabi diriwayatkan:
( )
sesungguhnya lebih baik bagimu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan
berkecukupan dari pada meninggalkan mereka menjadi beban atau
tanggungan orang banyak.

Dari hadits ini menjelaskan bahwa suami istri mempertimbangkan tentang biaya
rumah tangga selagi keduanya masih hidup, jangan sampai anak-anak mereka
menjadi beban bagi orang lain. Dengan demikian pengaturan kelahiran anak
hendaknya dipikirkan bersama.
2.pandangan Agama Kristen mengenai KB
Pandangan tentang manusia menurut kristen harus menjadi acuan utama
dalam membangun keluarga sejahtera. Langkah awal mewujudkan keluarga
sejahtera menurut alkitabiah, tercermin dari perkawinan. Perkawinan sebagai
sebuah proses yang bertanggung jawab, selain itu kristen juga menyebutkan
kesejahteraan keluarga memiliki makna yang sangat penting dengan apa yang
disebut keluarga yang bertanggung jawab. Kepentingan tersebut terletak pada
tanggung jawab membawa bahtera rumah tangga dalam takut akan tuhan.
Karena itu, kristen mendukung program KB. Bagi agama kristen, program
KB dapat menunjang terciptanya kebahagian keluarga, dimana hak dan peran
anggotanya dapat diwujudkan secara memadai. Secara filosofis bertujuan untuk
melindungi hidup. Pandangan ini didasarkaan antara lain baahwa kebahaagiaan
suatu keluarga bergantung dari tiap anggota, bagaimana ia memainkan peranannya
dengan tepat terhadap tiap anggota yang lain.

Kristen Protestan

Agama kristen protestan memandang kesejahteraan keluarga diletakkan dan


diwujudkan dalam pemahaman yang bersifat real sesuai dengan kehendak Allah
dan tidak melarang umatnya berKB.

Kristen Katolik
Menurut kristen katolik untuk mengatur kelahiran anak suami istri harus tetap
menghormati dan menaati moral katolik dan umat katolik dibolehkan berKB
dengan metode alami yang memanfaatkan masa tidak subur.

3.pandangan Agama Budha mengenai KB

Masalah kependudukan dan Keluarga Berencana belum timbul ketika


Buddha Gotama masih hidup. Tetapi kita bisa menelaah ajaran-Nya yang
relevan dengan makna Keluarga Berencana. Kebahagiaan dalam
keluarga adalah adanya hidup harmonis antara suami dan isteri, dan antara
orang tua dengan anaknya.
Kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah berusaha menimbulkan
danmemperkembangkan kesejahteraan untuk anak-anaknya. Jadinya, bila
kitaperhatikan KB menurut agama budha harus dilaksanakan, karena KB
menimbul kankesejahteraan keluarga. KB dibenarkan dalam agama Buddha. Dan
umat Buddha hanya memilih cara KB yang cocok untuk mereka masing-masing.

4. Pandangan Agama Hindu tentang Keluarga Berencana

KB menurut agama hindu di perbolehkan karena KB dapat membatasi


jumlah anak dengan tujuan agar sejahtera.

Penduduk

Meningkatnya kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan semakin berkembangnya


sarana kesehatan sehingga mengurangi angka kematian/mortalitas bayi merupakan
hal-hal yang menebabkan terjadinya pertumbuhan penduduk yang cepat pada abad-
abad belakangan ini. Pertumbuhan penduduk akan berakibat pada banyak aspek
kehidupan pendidikan, ketenagakerjaan, dan lingkungan hidup.

Semakin banyak penghuni pelanet bumi ini semakin banyak pula bahan makanan, air,
energi, papan, dan sebagainya yang dibutuhkan oleh manusia yang berarti makin
banyak tanah yang harus diolah, pemakian pupuk dan pestisida, merosotnya kualitas
air, pembangunan proyek-proyek pembangkit tenaga listrik dan pemompaan sumur-
sumur minyak. Yang tentu saja akan berakibat semakin parahnya erosi tanah, pelusi air
dan udara. Dan akhirnya akan melimbas pada merosotnya produksi bahan makanan,
masalah kesehatan karena sanitasi, berkurangnya habitat yang nantinya menjadi
penyebab hilangnya keanekaragaman hayati (biodiversity). Namun umat manusia tidak
hanya memerlukan tempat untuk tinggal beserta pekarangan saja, tetapi juga setiap
individu setidak-tidaknya memerlukan beberapa meter persegi tanah untuk
menghasilkan bahan makanan pokok untuk melangsungkan kehidupan dasar saja.

3. Sejarah perkembangan penduduk dunia

Sekarang ini pertumbuhan penduduk dunia terus meningkat pertahunnya dan


diperkirakan akan terus meningkat pada masa-masa yang akan datang. Sejarah
kependudukan dimulai lebih dari 120 abad yang lalu, pada saat orang-orang nomaden
(hidup berpindah-pindah) datang ke lembah-lembah sungai yang besar, seperti : Nil,
Efrat, Tigris, dll. Untuk membangun tempat pemukiman yang tetap/tidak berpindah-
pindah lagi, jumlah penduduk dimasa itu diperkirakan baru 5 sampai 10 juta saja.
Jumlah penduduk pada saat itu relatif stabil, karena kehidupan sangatlah berbahaya.
Usia harapan hidup sangatlah pendek, mungkin hanya berkisar antara 25-30 tahun
saja.

Dengan dimulai jaman pertanian, kira-kira 10.000 hingga 12.000 tahun yang lalu ketika
kehidupan umat manusia mulai menjadi makmur, terjadi beberapa perubahan.
Peningkatan produktivitas karena dikembangkannya alat-alat yang membantu
menwujudkan kesejahteraan manusia, seperti : alat bajak, kincir angin, dan juga
semakin meningkatnya pengetahuan dalam bidang peternakan dan perikanan
menyebabkan suplai bahan makanan meningkat berarti menigkat pula jumlah
penduduk. Hal ini dapat menyebabkan meningkatnya tempat habitat.

Sekitar tahun 1500 sesudah masehi inilah masa perluasan kolonial barat dimulai.
Bencana-bencana mulai terjadi seperti : kelaparan, peperangan, maupun wabah
penyakit seringkali menghancurkan kebudayaan lokal. Pertambahan penduduk telah
memunculkan pola sejarah umat manusia yang lain yaitu peledakan jumlah penduduk
dan pengeksploitasian sumber-sumber alam secara berlebihan.

4. Era pertambahan penduduk yang pesat

Revolusi Industri yang terjdi di Eropa dan menyebar ke Amerika Utara sebelum
pertengahan abad ke-18 telah menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah penduduk
secara tajam. Penemuan teknologi untuk meningkatkan hasil pertanian, perternakan,
dan perikanan sehingga suplai bahan makanan terpenuhi dan juga kemajuan teknologi
kesehatan yang mampu meningkatkan pemiliharaan kesehatan manusia, seperti
penemuan pinisilin pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 menurunkan angka kematian
manusia secara tajam, mulainya orang-orang memakai sabun, baju yang terbuat dari
katun yang dapat menjaga dari parasit yang menular.

Setelah PD II selesai juga merupakan awal terjadinya pertambahan penduduk di abad


ke-20. pemilikan akan tanah yang subur, air yang melimpah, mineral, kekayaan hutan,
minyak dan sebagainya, mempengaruhi budaya masing-masing kawasan. Semakin
meningkat jumlah penduduk semakin meningkat pula pengekspoitasian terhadap
sumber bahan mentah yahg ada, sehingga mencapai titik batas kemampuan alam
sehingga menyebabkan sumber-sumber alam tidak mampu memenuhi kebutuhan
penduduk. Keadaan ini telah menyebabkan terjadinya masalah-masalah yang
diakibatkan oleh jumlah penduduk, dari yang namanya krisis ekonomi, sosial,
kelaparan, mingrasi, sampai peperangan.

5. Energi dan konservasi

Embargo minyak yang dilakuka oleh OPEC (Organization of Petroleum Exporting


Countries) atau organisasi negara-negara pengespor minyak termasuk Indonesia
terhadap negara industri barat di tahun 1973 menydarkan kepada kita betapa
pentingnya energi terutama yang berupa minyak. Minyak merupakan sumber energi
alam yang non-renewable artinya begitu habis ya sudah.

Seluk beluk energi dinyatakan oleh Jarolimeck sebagai berikut :

1. Seluruh kehidupan tergantung pada energi dan matahari merupakan sumber


energi yang utama

2. Makanan menghasilkan energi bagi seluruh bagian tubuh manusia

3. Energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja

4. Energi yang ada di alam ini jumlahnya tetap, energi tidak bisa diciptakan ataupun
dumusnahkan, hanya bentuknya saja yang berubah

5. Energi dapat diubah bentuknya, dari energi mekanis ke energi listrik, listrik ke
panas, dari energi kimia ke energi listrik dan demikian seterusnya

6. Selam bertahun-tahun manusia telah menemukan sumber-sumber energi yang


baru

7. Sebagian besar dari masalah lingkungan yang serius yang dihadapi oleh umat
manusia saat ini disebabkan oleh andanya perumbuhan yang menyebabkan semakin
meningkatnya konsumsi energi

8. Standar kehidupan suatu masyarakat ditentukan oleh produktivitasnya dan


pruduktivitas ini dipengaruhi oleh penggunaan energi

9. Sumber-sumber energi berukut penggunaanya berkaitan erat dengan tingkat


perkembangan teknologi dan budayanya. Artinya mesyarakat masyarakat yang sudah
mencapai tingakta industri semakin membutuhkan energi yang sangat besar

10. Perkembangan ekonomi sangat dipengaruhi oleh industrialisasi yang pada


gilirannya juga membutuhkan energi dalam jumlah besar

11. penemuan dan penggunan sumber-sumber energi yang baru menyebabkan


terjadinya perubahan-perubahan sosial.
12. Sumber-sumber energi di dunia ini dan distribusinya sangat merata sehingga ada
bangsa yang sudah maju namun demikian saling ketergantungan antar bangsa yang
merupakan suatu keharusan belaum berjalan sebagaiana mestinya/masih terjadi
ketimpangan.

Iklan