Anda di halaman 1dari 20

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian KB
Keluarga Berencana (KB) adalah istilah yang mungkin sudah lama dikenal. KB
artinya mengatur jumlah anak sesuai kehendak dan menentukan sendiri kapan ingin
hamil. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), KB adalah gerakan untuk
membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran.
Menurut World Health Organisation (WHO) expert committee 1997: keluarga
berencana adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk menghindari
kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang sangat
diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran
dalam hubungan dengan umur suami istri serta menentukan jumlah anak dalam
keluarga.
Keluarga berencana menurut Undang-Undang no 10 tahun 1992 (tentang
perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera) adalah upaya
peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia
perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan
kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Keluarga berencana adalah suatu
usaha untuk menjarangkan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi.
Dengan kata lain KB adalah perencanaan jumlah keluarga. Pembatasan bisa
dilakukan dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi atau penanggulangan kelahiran
seperti kondom, spiral, IUD dan sebagainya.Diharapkan dengan adanya perencanaan
keluarga yang matang kehamilan merupakan suatu hal yang memang sangat diharapkan
sehingga akan terhindar dari perbuatan untuk mengakhiri kehamilan dengan aborsi.

2.2 Pandangan Agama Mengenai KB


A. Pandangan Agama Islam
KB secara prinsipil dapat diterima oleh Islam, bahkan KB dengan maksud
menciptakan keluarga sejahtera yang berkualitas dan melahirkan keturunan yang
tangguh sangat sejalan dengan tujuan syari`at Islam yaitu mewujudkan kemashlahatan
bagi umatnya. Selain itu, Kb juga memiliki sejumlah manfaat yang dapat mencegah
timbulnya kemudlaratan. Bila dilihat dari fungsi dan manfaat KB yang dapat melahirkan
kemaslahatan dan mencegah kemudlaratan maka tidak diragukan lagi kebolehan KB
dalam Islam.
1. Halal Kalau Motivasinya Benar
Motivasi yang melatar-belakanginya bukan karena takut tidak mendapat rezeki.
Karena bila motivasinya seperti ini, berarti kita telah kufur kepada salah satu sifat Allah,
yaitu Ar-Razzaq. Sifat Allah SWT yang satu ini harus kita imani dalam bentuk kita yakin
sepenuhnya bahwa tidak ada satu pun bayi lahir kecuali Allah telah menjamin rezeki
untuknya. Karena itu membunuh bayi karena takut kelaparan dianggap sebagai dosa
besar di dalam Al-Quran.
Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami
akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka. (QS. Al-Anam: 151)
Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah
yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh
mereka adalah suatu dosa yang besar. (QS. Al-Isra:31)
Motivasi yang dibenarkan adalah mencegah sementara kehamilan untuk mengatur
jarak kelahiran itu sendiri. Atau karena alasan medis berdasarkan penelitian para ahli
berkaitan dengan keselamatan nyawa manusia bila harus mengandung anak. Dalam kasus
tertentu, seorang wanita bila hamil bisa membahayakan nyawanya sendiri atau nyawa
anak yang dikandungnya. Dengan demikian maka dharar itu harus ditolak.
2. Halal Kalau Metodenya Dibenarkan Syariah
Metode pencegah kehamilan serta alat-alat yang digunakan haruslah yang sejalan
dengan syariat Islam. Ada metode yang secara langsung pernah dicontohkan langsung oleh
Rasulullah SAW dan para shahabat dan ada juga yang memang diserahkan kepada dunia
medis dengan syarat tidak melanggar norma dan etika serta prinsip umum ketentuan
Islam.
Contoh metode pencegah kehamilan yang pernah dilakukan di zaman Rasulullah
SAW adalah azl (coitus interruptus).
Dari Jabir berkata:` Kami melakukan `azl di masa Nabi saw sedang Al-Qur`an
turun (HR Bukhari dan Muslim) Dari Jabir berkata: `Kami melakukan `azl di masa
Rasulullah saw, dan Rasul mendengarnya tetapi tidak melarangnya` (HR muslim).
Sedangkan metode di zaman ini yang tentunya belum pernah dilakukan di zaman
Rasulullah SAW membutuhkan kajian yang mendalam dan melibat para ahli medis dalam
menentukan kebolehan atau keharamannya.
B. Pandangan Agama Kristen
Pandangan tentang manusia menurut kristen harus menjadi acuan utama
dalam membangun keluarga sejahtera. Langkah awal mewujudkan keluarga sejahtera
menurut alkitabiah, tercermin dari perkawinan.
Perkawinan sebagai sebuah proses yang bertanggung jawab, selain itu kristen
juga menyebutkan kesejahteraan keluarga memiliki makna yang sangat penting dengan
apa yang disebut keluarga yang bertanggung jawab. Kepentingan tersebut terletak pada
tanggung jawab membawa bahtera rumah tangga dalam takut akan Allah. Karena itu,
kristen mendukung program KB.
Bagi agama kristen, program KB dapat menunjang terciptanya kebahagian
keluarga, dimana hak dan peran anggotanya dapat diwujudkan secara memadai. Secara
filosofis bertujuan untuk melindungi hidup. Pandangan ini didasarkaan antara lain
baahwa kebahaagiaan suatu keluarga bergantung dari tiap anggota, bagaimana ia
memainkan peranannya dengan tepat terhadap tiap anggota yang lain.
Kristen Protestan
Agama kristen protestan memandang kesejahteraan keluarga diletakkan dan
diwujudkan dalam pemahaman yang bersifat real sesuai dengan kehendak Allah dan tidak
melarang umatnya berKB.
Kristen Katolik
Menurut kristen katolik untuk mengatur kelahiran anak suami istri harus tetap
menghormati dan menaati moral katolik dan umat katolik dibolehkan berKB dengan
metode alami yang memanfaatkan masa tidak subur.

C. Pandangan Agama Budha


Masalah kependudukan dan keluarga berencana belum timbul ketika budha
Gotama maasih hidup. Tetapi kita bisa menelaah ajarannya yang relevan dengan makna
keluarga berencana. Kebahagiaan dalam keluarga adalah adanya hidup harmonis antara
suami istri dan antara orang tua dan anaknya. Kewajiban orang tua terhadap anaknya
adalah berusaha menimbulkan dan memperkembangkan kesejahteraan untuk anak-
anaknya.
Jadi, bila kita perhatikan kewajiban tersebut maka program KB patut
dilaksanakan karena KB menimbulkan kesejahteraan keluarga. Keluarga berencana
dibenarkan dalam agama budha dan umat budha dibebaskan memilih cara KB yang
cocok.

D. Pandangan Agama Hindu


KB menurut Agama Hindu diperbolehkan karena Kb dapat membatasi jumlah
anak dengan tujuan agar sejahtera.

2.3 Tujuan Dari Ber-KB


Gerakan KB dan pelayanan kontrasepsi memiliki tujuan:
a. Tujuan demografi yaitu mencegah terjadinya ledakan penduduk dengan menekan laju
pertumbuhan penduduk (LLP) dan hal ini tentunya akan diikuti dengan menurunnya
angka kelahiran atau TFR (Total Fertility Rate) dari 2,87 menjadi 2,69 per wanita.
Pertambahan penduduk yang tidak terkendalikan akan mengakibatkan kesengsaraan dan
menurunkan sumber daya alam serta banyaknya kerusakan yang ditimbulkan dan
kesenjangan penyediaan bahan pangan dibandingkan jumlah penduduk. Hal ini diperkuat
dengan teori Malthus (1766-1834) yang menyatakan bahwa pertumbuhan manusia
cenderung mengikuti deret ukur, sedangkan pertumbuhan bahan pangan mengikuti deret
hitung.
b. Mengatur kehamilan dengan menunda perkawinan, menunda kehamilan anak pertama
dan menjarangkan kehamilan setelah kelahiran anak pertama serta menghentikan
kehamilan bila dirasakan anak telah cukup.
c. Mengobati kemandulan atau infertilitas bagi pasangan yang telah menikah lebih dari satu
tahun tetapi belum juga mempunyai keturunan, hal ini memungkinkan untuk tercapainya
keluarga bahagia.
d. Married Conseling atau nasehat perkawinan bagi remaja atau pasangan yang akan
menikah dengan harapan bahwa pasangan akan mempunyai pengetahuan dan
pemahaman yang cukup tinggi dalam membentuk keluarga yang bahagia dan berkualitas.
e. Tujuan akhir KB adalah tercapainya NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia dan
Sejahtera) dan membentuk keluarga berkualitas, keluarga berkualitas artinya suatu
keluarga yang harmonis, sehat, tercukupi sandang, pangan, papan, pendidikan dan
produktif dari segi ekonomi.
2.4 Jenis-Jenis Alat Kontrasepsi
Berikut ini adalah beberapa macam alat-alat kontrasepsi yang dipakai dan beredar
pada saat sekarang ini. Macam-macam alat kontrasepsi tersebut antara lain adalah:
Alat Kontarepsi Berupa Kondom
Alat Kontarepsi Berupa Diagfragma
Alat Kontarepsi Berupa Susuk KB
Alat Kontarepsi Berupa Pil KB
Alat Kontrasepsi Berupa Sterilisasi
Alat Kontrasepsi Berupa IUD
Berikut ini adalah penjabaran dari macam-macam alat kontarasepsi tersebut :
1. ALAT KONTRASEPSI BERUPA KONDOM
Kondom adalah suatu alat kontrasepsi berupa sarung dari karet yang
diselubungkan ke organ intim lelaki, yang bekerja dengan cara mencegah sperma bertemu
dengan sel telur sehingga tidak terjadi pembuahan. Kondom merupakan salah satu metode
pencegahan kehamilan yang sering di-gunakan. Kondom juga bisa digunakan untuk
melindungi pasangan dan diri sendiri dari virus HIV dan penyakit menular seksual.
2. ALAT KONTRASEPSI BERUPA DIAGFRAGMA
Kontrasepsi diafragma merupakan hal yang tidak biasa di Indonesia. Kontrasepsi
ini adalah kontrasepsi barier yang tidak mengurangi kenikamatan berhubungan seksual
karena terjadi skin to skin kontak antara penis dengan vagina dan dapat meningkatkan
frekuensi sentuhan pada G Spot dalam. Sayangnya diafragma memiliki efektifitas yang
paling rendah dibandingkan dengan alat kontrasepsi lainnya, selain itu pemasangannya
harus oleh tenaga kesehatan dan harganya relatif lebih mahal.
3. ALAT KONTRASEPSI BERUPA SUSUK KB (IMPLAN)
Susuk : Disebut alat kontrasepsi bawah kulit, karena dipasang di bawah kulit pada
lengan atas, alat kontrasepsi ini disusupkan di bawah kulit lengan atas sebelah dalam.
Bentuknya semacam tabung-tabung kecil atau pembungkus plastik berongga dan
ukurannya sebesar batang korek api. Susuk dipasang seperti kipas dengan enam buah
kapsul atau tergantung jenis susuk yang akan dipakai. Di dalamnya berisi zat aktif berupa
hormon. Susuk tersebut akan mengeluarkan hormon sedikit demi sedikit. Jadi, konsep
kerjanya menghalangi terjadinya ovulasi dan menghalangi migrasi sperma. Pemakaian
susuk dapat diganti setiap 5 tahun, 3 tahun, dan ada juga yang diganti setiap tahun.
Penggunaan kontrasepsi ini biayanya ringan. Pencabutan bisa dilakukan sebelum
waktunya jika memang ingin hamil lagi.
Berbentuk kapsul silastik (lentur), panjangnya sedikit lebih pendek daripada
batang korek api. Jika Implant dicabut kesuburan bisa pulih dan tidak. kehamilan bisa
terjadi Cara pencabutan Implan hampir sama dengan pemasangannya yaitu dengan
penyayatan kecil dan dilakukan oleh petugas kesehatan yang terlatih. Sebelum
pemasangan Implan sebaiknya kesehatan Ibu diperiksa terlebih dahulu,dengan tujuan
untuk mengetahui apakah Ibu bisa memakai Implan atau tidak.
4. ALAT KONTRASEPSI BERUPA PIL
Pil Kontrasepsi Kombinasi (OC / Oral Contraception). Berupa kombinasi dosis
rendah estrogen dan progesteron. Merupakan metode KB paling efektif karena bekerja
dengan beberapa cara sekaligus sebagai berikut:
Mencegah ovulasi (pematangan dan pelepasan sel telur).
Meningkatkan kekentalan lendir leher rahim sehingga menghalangi masuknya
sperma.
Membuat dinding rongga rahim tidak siap menerima hasil pembuahan
Bila pasien disiplin minum OC-nya, bisa dipastikan perlindungan kontrasepsi hampir
100%.
Selain itu, OC merupakan metode yang paling reversibel, artinya bila pengguna
ingin hamil bisa langsung berhenti minum pil dan biasanya bisa langsung hamil dalam 3
bulan.
5. Sterelisasi (Vasektomi/ tubektomi)
Yaitu operasi pemutusan atau pengikatan saluran pembuluh yang menghubungkan
testis (pabrik sperma) dengan kelenjar prostat (gudang sperma menjelang diejakulasi)
bagi laki-laki. Atau tubektomi dengan operasi yang sama pada wanita sehingga ovarium
tidak dapat masuk kedalam rongga rahim. Akibat dari sterilisasi ini akan menjadi mandul
selamanya.
6. IUD
Ada beberapa jenis alat KB yang bekerja dari dalam rahim untuk mencegah
pembuahan sel telur oleh sperma. Biasanya alat ini disebut spiral, atau dalam bahasa
Inggrisnya Intra Uterine Devices, disingkat IUD. Tergantung jenis spiral apa yang dipakai,
spiral bisa bertahan dalam rahim dan terus menghambat pembuahan sampai 10 tahun
lamanya. Setelah itu harus dikeluarkan dan diganti.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
KB merupakan upaya peningkatkan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan
keluarga kecil yang bahagia sejahtera (Undang-undang No. 10/1992).
Keluarga Berencana yang dibolehkan syariat adalah suatu usaha
pengaturan/penjarangan kelahiran atau usaha pencegahan kehamilan sementara atas
kesepakatan suami-istri karena situasi dan kondisi tertentu untuk kepentingan
(mashlahat) keluarga, masyarakat maupun negara.
Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan, maka dapat disimpulkan bahwa
KB diperbolehkan dengan alasan alasan tertentu misalnya untuk menjaga kesehatan ibu,
mengatur jarak diantara dua kelahiran, untuk menjaga keselamatan jiwa, kesehatan atau
pendidikan anak-anak.
Namun KB bisa menjadi tidak diperbolehkan apabila dilandasi dengan niat dan
alasan yang salah, seperti takut miskin, takut tidak bisa mendidik anak, dan takut
mengganggu pekerjaan orang tua. Dengan kata lain, penilaian tentang KB tergantung
pada individu masing-masing.

3.2 Saran
Jika anda hendak melakukan KB sebaiknya dipertimbangkan terlebih dahulu
segala aspek yang menyangkut tentang KB misalnya:
- Alat kontrasepsi, apakah aman untuk digunakan atau tidak
- Keuangan keluarga, bila memiliki keuangan yang cukup mengapa anda harus KB.
- Kesehatan ibu
- Landasan hukum agama

Menurut Para Ahli


SOURCE

Pengertian penduduk,,,,
Penduduk merupakan semua orang yang berdomosili di wilayah geografis
Republik Indonesia selama 6 bulan atau lebih dan mereka yang berdomisili
kurang dari 6 bulan dengan tujuan untuk menetap (BPS, 2014 : 102).

Pertumbuhan penduduk merupakan keseimbangan yang dinamis antara


kekuatan-kekuatan yang menambah dan kekuatan yang mengurangi jumlah
penduduk. Pertumbuhan penduduk diakibatkan oleh empat komponen yaitu
: kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), migrasi masuk, dan migrasi
keluar (Subri,2003:16).
Teori migrasi Todaro merumuskan bahwa migrasi berkembang karena
perbedaan-perbedaan pendapatan yang diharapkan dan yang terjadi di
pedesaan dan diperkotaan. Anggapan yang mendasar adalah bahwa para
migran tersebut memperhatikan berbagai kesempatan-kesempatan kerja
yang tersedia bagi mereka dan memilih salah satu yang bisa
memaksimumkan manfaat yang mereka harapkan dari bermigrasi tersebut.
Pertumbuhan penduduk yang meningkat di desa maupun di kota yang
memiliki kondisi perekonomian cenderung lebih baik dari pada di desa
(tradisional) membuat penduduk desa terdorong untuk melalukan
perpindahan atau migrasi ke kota dengan harapan akan memperoleh
kehidupan yang lebih baik dari pada di desa. Perpindahan penduduk ini
mengakibatkan pertambahan jumlah penduduk di kota semakin bertambah
yang kemudian memaksa kondisi untuk menyediakan lapangan pekerjaan
dan penghidupan yang layak. Untuk memenuhi kondisi tersebut maka
pemerintah harus memacu laju pertumbuhan ekonomi agar dapat
mendorong sektor lain untuk lebih berkembang dan dapat menyerap
tenaga kerja.

Sumber daya manusia merupakan faktor terpenting dalam pertumbuhan


ekonomi. Tetapi lebih menekankan pada efisiensi mereka. Peningkatan GNP
perkapita yang berkaitan erat dengan perkembangan sumber daya manusia
yang dapat menciptakan efisiensi dan peningkatan produktivitas dikalangan
buruh. Pembentukan modal manusia yaitu proses peningkatan ilmu
pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan seluruh penduduk negara
yang bersangkutan.
Penggunaan secara tepat sumber daya manusia dapat dilakukan dengan
cara, harus adanya pengendalian atas perkembangan penduduk, dan dapat
dimanfaatkan dengan baik apabila jumlah penduduk dapat dikendalikan
dan diturunkan. Selanjutnya harus ada perubahan dalam pandangan
tenaga buruh yang terlatih dan terdidik dengan efisiensi yang tinggi yang
akan membawa masyarakat kepada pembangunan ekonomi
(Almasdi,2009:23).

Untuk meningkatkan kualitas penduduk atau sumber daya manusia juga


dapat dilakukan melalui pendidikan. Bukan hanya pendidikan dalam arti
sempit disekolah, tetapi juga dalam arti luas mencakup pendidikan dalam
keluarga dan masyarakat, karena pendidikan pada dasarnya merupakan
proses pembudayaan sikap, watak, dan perilaku yang berlangsung sejak
dini. Melalui pendidikan sebagai proses budaya akan tumbuh dan
berkembangnya nilai-nilai dasar yang harus dimiliki oleh setiap manusia,
dan penguasaan teknologi dan kemampuan berkomunikasi merupakan
unsur kemajuan dan kemandirian (Subri, 2003:222).

Aspek-aspek kependudukan yang perlu diperhatikan di negara-negara


sedang berkembang, yaitu (Irawan, 1979:77):

a) Angka kelahiran yang relatif lebih tinggi dari pada angka kematian di tiap
tahunnya.
b) Struktur umur yang tidak seimbang
Ketidakseimbangan struktur umur antara penduduk berusia muda yang
lebih banyak dengan penduduk yang berusia dewasa.
c) Distribusi penduduk yang tidak merata
Tingkat urbanisasi yang tinggi mengakibatkan daerah-daerah yang secara
ekonomi telah lebih maju (dalam hal ini kota) lebih padat penduduknya dari
pada daerah yang ekonominya lebih rendah (desa).
d) Kualitas penduduk yang rendah

Rendahnya kualitas penduduk yang merupakan penghalang dalam


pembangunan ekonomi di suatu negara disebabkan karena rendahnya
tingkat pendidikan atau pengetahuan tenaga kerja.

Peningkatan populasi ditentukan oleh peningkatan tingkat kelahiran,


penurunan tingkat kematian, dan kelebihan imigrasi terhadap emigrasi.
Tingkat kelahiran dan tingkat kematian bisa diukur dalam jumlah kelahiran
atau kematian per seribu jiwa. Tingkat kematian diukur dengan konsep
harapan hidup (panjang usia) yang dihitung sejak seorang bayi dilahirkan.
Di negara-negara dengan pendapatan yang rendah proses kenaikan dalam
harapan hidup jauh lebih cepat, dan pertumbuhan populasi dinegara
berkembang disebabkan oleh menurunnya tingkat kematian dan relatif
tidak turunnya tingkat kelahiran (Hakim,2004:151).

Perbedaan laju pertumbuhan penduduk di negara maju dan negara yang


sedang berkembang dijelaskan atas dasar kenyataan bahwa tingkat
kelahiran (fertilitas) di berbagai negara yang berkembang umumnya jauh
lebih tinggi dari pada negara maju (Todaro, 2006:318).
Penduduk yang meningkat setiap tahunnya akan menimbulkan dampak
positif dan negatif :

Dampak positif, penduduk yang bertambah akan memperbesar jumlah


tenaga kerja yang dapat meningkatkan produksi. Apabila pertumbuhan ini
diimbangi dengan pendidikan, latihan dan pengalaman kerja yang
kemahiran penduduk. Pertambahan produksi akan lebih cepat dari pada
pertambahan tenaga kerja. Pertambahan penduduk akan mendorong
pertumbuhan ekonomi.

Dampak negatif, suatu negara dikatakan menghadapi masalah kelebihan


penduduk apabila jumlah penduduk jauh lebih besar bila dibandigkan
dengan faktor-faktor produksi yang tersedia. Akibatnya produksi marginal
penduduk rendah. Dengan demikian, penduduk yang berlebihan akan
menimbulkan kemerosotan kemakmuran masyarakat (Poli,2002:322).

Menurut Todaro (2000:525) mengemukakan bahwa cepatnya pertumbuhan


penduduk di Negara-negara ketiga telah menyusutkan persediaan tanah,air
dan bahan bakar kayu didaerah pedesaan serta menimbulkan masalah
krisis kesehatan di daerah perkotaan. Selain itu lonjakan penduduk juga
mengakibatkan degradasi lingkungan atau pengikisan sumber daya alam
yang jumlahnya sangat terbatas.
Beberapa perkembangan pemikiran para ahli seperti ahli ekonomi dan ahli
sosiologi dalam Samosir (2010:15) Konfusius seorang filsafat Cina,
membahas hubungan antara jumlah penduduk dan tingkat kesejahteraan
masyarakat. Menurutnya jumlah penduduk yang besar akan menekan
standar hidup masyarakat, terutama kalau jumlah penduduk dikaitkan luas
tanah atau lahan pertanian yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan
penduduk. Ia menganggap ada suatu proporsi yang ideal antara luas tanah
dan jumlah penduduk. Sebagai pemecahan masalah ia menganjurkan agar
pemerintah memindahkan penduduk ke daerah yang masih kekurangan
penduduk.

Pemikir lainnya, Plato dan Ariestoteles menganjurkan jumlah penduduk


yang tepat dan ideal untuk sebuah kota apabila sebuah kota tidak dapat
menampung jumlah penduduk yang ada, maka diperlukan pembatasan
kelahiran. Sebaliknya jika terjadi kekurangan penduduk, maka diperlukan
intensif (pendorong) untuk menambah kelahiran.

Menurut teori Ester Boserop, dia menyimpulkan bahwa pertumbuhan


penduduk justru menyebabkan dipakainya sistem pertanian yang lebih
intensif disuatu masyarakat primitif dan meningkatnya output di sektor
pertanian dan ia juga berpendapat bahwa penduduk berakibat dipilihnya
sistem teknologi pertanian pada tingkat yang lebih tinggi. Dengan kata lain,
inovasi (teknologi) ada lebih dahulu. Inovasi itu hanya menguntungkan bila
jumlah penduduk lebih banyak. Dengan kata lain penduduk bukan sesuatu
yang merisaukan tetapi penduduk justru mendorong diterapkannya suatu
inovasi (teknologi) baru (Subri,2003:10).

Teori transisi demografi adalah teori pertumbuhan penduduk yang tidak


menekankan pada penawaran bahan makanan dan mengungguli teori
optimum yang meletakkan tekanan ekslusif pada kenaikan perkapita bagi
pertumbuhan penduduk dan mengabaikan faktor lain yang
mempengaruhinya (Jhingan, 1994:520). Pola pertumbuhan penduduk yang
hampir sama secara umum di bagi menjadi 4 tahap :

1.Tingkat kelahiran dan kematian yang tinggi, pada tahap ini tingkat
kematian dan kelahiran berada pada tingkat yang tinggi, sehingga
pertumbuhan penduduk juga terlalu tinggi. Tentu pada situasi ini tidak
nyaman karena banyak yang lahir dan meninggal pada usia yang relatif
muda. Tingkat harapan hidup belum tinggi.

2.Penurunan tingkat kematian, pada tahap ini ditandai dengan menurunnya


tingkat kematian karena perbaikan dibanyak hal (kesehatan, nutrisi,
ekonomi, pendidikan, dan sebagainya), sementara kelahiran masih tetap
tinggi karena kesadaran untuk membatasi kelahiran belum ada dan
hasilnya pertumbuhan penduduk tinggi, masyarakat mulai merasakan
tingkat kehidupan yang lebih baik, tetapi mulai muncul berbagai masalah
seperti pengangguran, persebaran penduduk yang cenderung memusat ke
kota, dan tingginya beban yang harus ditanggung oleh penduduk angkatan
kerja produktif.

3.Penurunan tingkat kelahiran, pada tahap ini tingkat kematian masih terus
menurun dan tingkat kelahiran mulai menurun pula, dan hasil akhirnya
adalah tingkat pertumbuhan penduduk yang mulai menurun.

4.Populasi stationer, tingkat kelahiran dan kematian cenderung seimbang


pada tingkat yang rendah. Pertumbuhan penduduk mulai seimbang dalam
tingkat yang rendah. Masyarakat mulai merasakan bahwa masalah-masalah
akibat pertumbuhan penduduk seperti pengangguran, beban tanggungan
usia kerja produktif yang tinggi serta migrasi desa ke kota mulai
menghilang (Hakim,2004:237).

Demikian pengertian mengenai penduduk dan terori tentang kependudukan


yang ditulis dari berbagai sumber buku serta sumber sumber lain, semoga
bermanfaat dan menjadi bacaaan untuk menambah pengetahuan tentang
kependudukn.

Menurut Para Ahli

SOURCE

Pengertian penduduk,,,,
Penduduk merupakan semua orang yang berdomosili di wilayah geografis
Republik Indonesia selama 6 bulan atau lebih dan mereka yang berdomisili
kurang dari 6 bulan dengan tujuan untuk menetap (BPS, 2014 : 102).

Pertumbuhan penduduk merupakan keseimbangan yang dinamis antara


kekuatan-kekuatan yang menambah dan kekuatan yang mengurangi jumlah
penduduk. Pertumbuhan penduduk diakibatkan oleh empat komponen yaitu
: kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), migrasi masuk, dan migrasi
keluar (Subri,2003:16).
Teori migrasi Todaro merumuskan bahwa migrasi berkembang karena
perbedaan-perbedaan pendapatan yang diharapkan dan yang terjadi di
pedesaan dan diperkotaan. Anggapan yang mendasar adalah bahwa para
migran tersebut memperhatikan berbagai kesempatan-kesempatan kerja
yang tersedia bagi mereka dan memilih salah satu yang bisa
memaksimumkan manfaat yang mereka harapkan dari bermigrasi tersebut.
Pertumbuhan penduduk yang meningkat di desa maupun di kota yang
memiliki kondisi perekonomian cenderung lebih baik dari pada di desa
(tradisional) membuat penduduk desa terdorong untuk melalukan
perpindahan atau migrasi ke kota dengan harapan akan memperoleh
kehidupan yang lebih baik dari pada di desa. Perpindahan penduduk ini
mengakibatkan pertambahan jumlah penduduk di kota semakin bertambah
yang kemudian memaksa kondisi untuk menyediakan lapangan pekerjaan
dan penghidupan yang layak. Untuk memenuhi kondisi tersebut maka
pemerintah harus memacu laju pertumbuhan ekonomi agar dapat
mendorong sektor lain untuk lebih berkembang dan dapat menyerap
tenaga kerja.

Sumber daya manusia merupakan faktor terpenting dalam pertumbuhan


ekonomi. Tetapi lebih menekankan pada efisiensi mereka. Peningkatan GNP
perkapita yang berkaitan erat dengan perkembangan sumber daya manusia
yang dapat menciptakan efisiensi dan peningkatan produktivitas dikalangan
buruh. Pembentukan modal manusia yaitu proses peningkatan ilmu
pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan seluruh penduduk negara
yang bersangkutan.
Penggunaan secara tepat sumber daya manusia dapat dilakukan dengan
cara, harus adanya pengendalian atas perkembangan penduduk, dan dapat
dimanfaatkan dengan baik apabila jumlah penduduk dapat dikendalikan
dan diturunkan. Selanjutnya harus ada perubahan dalam pandangan
tenaga buruh yang terlatih dan terdidik dengan efisiensi yang tinggi yang
akan membawa masyarakat kepada pembangunan ekonomi
(Almasdi,2009:23).

Untuk meningkatkan kualitas penduduk atau sumber daya manusia juga


dapat dilakukan melalui pendidikan. Bukan hanya pendidikan dalam arti
sempit disekolah, tetapi juga dalam arti luas mencakup pendidikan dalam
keluarga dan masyarakat, karena pendidikan pada dasarnya merupakan
proses pembudayaan sikap, watak, dan perilaku yang berlangsung sejak
dini. Melalui pendidikan sebagai proses budaya akan tumbuh dan
berkembangnya nilai-nilai dasar yang harus dimiliki oleh setiap manusia,
dan penguasaan teknologi dan kemampuan berkomunikasi merupakan
unsur kemajuan dan kemandirian (Subri, 2003:222).

Aspek-aspek kependudukan yang perlu diperhatikan di negara-negara


sedang berkembang, yaitu (Irawan, 1979:77):

a) Angka kelahiran yang relatif lebih tinggi dari pada angka kematian di tiap
tahunnya.
b) Struktur umur yang tidak seimbang
Ketidakseimbangan struktur umur antara penduduk berusia muda yang
lebih banyak dengan penduduk yang berusia dewasa.
c) Distribusi penduduk yang tidak merata
Tingkat urbanisasi yang tinggi mengakibatkan daerah-daerah yang secara
ekonomi telah lebih maju (dalam hal ini kota) lebih padat penduduknya dari
pada daerah yang ekonominya lebih rendah (desa).
d) Kualitas penduduk yang rendah

Rendahnya kualitas penduduk yang merupakan penghalang dalam


pembangunan ekonomi di suatu negara disebabkan karena rendahnya
tingkat pendidikan atau pengetahuan tenaga kerja.

Peningkatan populasi ditentukan oleh peningkatan tingkat kelahiran,


penurunan tingkat kematian, dan kelebihan imigrasi terhadap emigrasi.
Tingkat kelahiran dan tingkat kematian bisa diukur dalam jumlah kelahiran
atau kematian per seribu jiwa. Tingkat kematian diukur dengan konsep
harapan hidup (panjang usia) yang dihitung sejak seorang bayi dilahirkan.
Di negara-negara dengan pendapatan yang rendah proses kenaikan dalam
harapan hidup jauh lebih cepat, dan pertumbuhan populasi dinegara
berkembang disebabkan oleh menurunnya tingkat kematian dan relatif
tidak turunnya tingkat kelahiran (Hakim,2004:151).

Perbedaan laju pertumbuhan penduduk di negara maju dan negara yang


sedang berkembang dijelaskan atas dasar kenyataan bahwa tingkat
kelahiran (fertilitas) di berbagai negara yang berkembang umumnya jauh
lebih tinggi dari pada negara maju (Todaro, 2006:318).
Penduduk yang meningkat setiap tahunnya akan menimbulkan dampak
positif dan negatif :

Dampak positif, penduduk yang bertambah akan memperbesar jumlah


tenaga kerja yang dapat meningkatkan produksi. Apabila pertumbuhan ini
diimbangi dengan pendidikan, latihan dan pengalaman kerja yang
kemahiran penduduk. Pertambahan produksi akan lebih cepat dari pada
pertambahan tenaga kerja. Pertambahan penduduk akan mendorong
pertumbuhan ekonomi.

Dampak negatif, suatu negara dikatakan menghadapi masalah kelebihan


penduduk apabila jumlah penduduk jauh lebih besar bila dibandigkan
dengan faktor-faktor produksi yang tersedia. Akibatnya produksi marginal
penduduk rendah. Dengan demikian, penduduk yang berlebihan akan
menimbulkan kemerosotan kemakmuran masyarakat (Poli,2002:322).

Menurut Todaro (2000:525) mengemukakan bahwa cepatnya pertumbuhan


penduduk di Negara-negara ketiga telah menyusutkan persediaan tanah,air
dan bahan bakar kayu didaerah pedesaan serta menimbulkan masalah
krisis kesehatan di daerah perkotaan. Selain itu lonjakan penduduk juga
mengakibatkan degradasi lingkungan atau pengikisan sumber daya alam
yang jumlahnya sangat terbatas.

Beberapa perkembangan pemikiran para ahli seperti ahli ekonomi dan ahli
sosiologi dalam Samosir (2010:15) Konfusius seorang filsafat Cina,
membahas hubungan antara jumlah penduduk dan tingkat kesejahteraan
masyarakat. Menurutnya jumlah penduduk yang besar akan menekan
standar hidup masyarakat, terutama kalau jumlah penduduk dikaitkan luas
tanah atau lahan pertanian yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan
penduduk. Ia menganggap ada suatu proporsi yang ideal antara luas tanah
dan jumlah penduduk. Sebagai pemecahan masalah ia menganjurkan agar
pemerintah memindahkan penduduk ke daerah yang masih kekurangan
penduduk.

Pemikir lainnya, Plato dan Ariestoteles menganjurkan jumlah penduduk


yang tepat dan ideal untuk sebuah kota apabila sebuah kota tidak dapat
menampung jumlah penduduk yang ada, maka diperlukan pembatasan
kelahiran. Sebaliknya jika terjadi kekurangan penduduk, maka diperlukan
intensif (pendorong) untuk menambah kelahiran.

Menurut teori Ester Boserop, dia menyimpulkan bahwa pertumbuhan


penduduk justru menyebabkan dipakainya sistem pertanian yang lebih
intensif disuatu masyarakat primitif dan meningkatnya output di sektor
pertanian dan ia juga berpendapat bahwa penduduk berakibat dipilihnya
sistem teknologi pertanian pada tingkat yang lebih tinggi. Dengan kata lain,
inovasi (teknologi) ada lebih dahulu. Inovasi itu hanya menguntungkan bila
jumlah penduduk lebih banyak. Dengan kata lain penduduk bukan sesuatu
yang merisaukan tetapi penduduk justru mendorong diterapkannya suatu
inovasi (teknologi) baru (Subri,2003:10).

Teori transisi demografi adalah teori pertumbuhan penduduk yang tidak


menekankan pada penawaran bahan makanan dan mengungguli teori
optimum yang meletakkan tekanan ekslusif pada kenaikan perkapita bagi
pertumbuhan penduduk dan mengabaikan faktor lain yang
mempengaruhinya (Jhingan, 1994:520). Pola pertumbuhan penduduk yang
hampir sama secara umum di bagi menjadi 4 tahap :

1.Tingkat kelahiran dan kematian yang tinggi, pada tahap ini tingkat
kematian dan kelahiran berada pada tingkat yang tinggi, sehingga
pertumbuhan penduduk juga terlalu tinggi. Tentu pada situasi ini tidak
nyaman karena banyak yang lahir dan meninggal pada usia yang relatif
muda. Tingkat harapan hidup belum tinggi.

2.Penurunan tingkat kematian, pada tahap ini ditandai dengan menurunnya


tingkat kematian karena perbaikan dibanyak hal (kesehatan, nutrisi,
ekonomi, pendidikan, dan sebagainya), sementara kelahiran masih tetap
tinggi karena kesadaran untuk membatasi kelahiran belum ada dan
hasilnya pertumbuhan penduduk tinggi, masyarakat mulai merasakan
tingkat kehidupan yang lebih baik, tetapi mulai muncul berbagai masalah
seperti pengangguran, persebaran penduduk yang cenderung memusat ke
kota, dan tingginya beban yang harus ditanggung oleh penduduk angkatan
kerja produktif.
3.Penurunan tingkat kelahiran, pada tahap ini tingkat kematian masih terus
menurun dan tingkat kelahiran mulai menurun pula, dan hasil akhirnya
adalah tingkat pertumbuhan penduduk yang mulai menurun.

4.Populasi stationer, tingkat kelahiran dan kematian cenderung seimbang


pada tingkat yang rendah. Pertumbuhan penduduk mulai seimbang dalam
tingkat yang rendah. Masyarakat mulai merasakan bahwa masalah-masalah
akibat pertumbuhan penduduk seperti pengangguran, beban tanggungan
usia kerja produktif yang tinggi serta migrasi desa ke kota mulai
menghilang (Hakim,2004:237).

Demikian pengertian mengenai penduduk dan terori tentang kependudukan


yang ditulis dari berbagai sumber buku serta sumber sumber lain, semoga
bermanfaat dan menjadi bacaaan untuk menambah pengetahuan tentang
kependudukn.