Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN PERIOPERATIF
"VESICOLITIASIS"

Oleh:
LUTFIAH
NIM 1301460010

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D-IV KEPERAWATAN MALANG
2017
1. KONSEP DASAR TEORI
A. Pengertian
Batu buli-buli atau batu vesikolitiasis adalah batu yang mengandung komponen Kristal dan matriks
organik tepatnya pada vesika urinaria atau kandung kemih.Batu kandung kemih sebagian besar
mengandung batu kalsium oksalat atau fosfat ( prof. Dr. Arjatmt. Ph.D.Sp 2001).
Vesikolithiasis adalah batu kecil yang berasal dari ginjal dapat turun kevesikaurinaria lalu menjadi
besar disana, kadang-kadang batu timbul langsung didalam kandung kemih.merupakan batu yang
menghalangi aliran air kemih akibat penutupan leher kandung kemih, maka aliran yang mula-mula
lancar secara tiba-tiba akan berhenti dan menetes disertai dengan rasa nyeri (Sjamsuhidajat dan Wim de
Jong, 1998).
B. Etiologi

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan batu buli-buli adalah :


a. Faktor-Endogen
1) Faktor genetik
2) Faktor Hiperkalsiuria adalah suatu peningkatan kadar kalsium dalam urin, disebabkan karena
hiperkalsiuria idiopatik (meliputi hiperkalsiuria disebabkan masukan tinggi natrium, kalsium dan
protein) hiperparatiroidisme primer, sarkoidosis, dan kelebihan vitamin D atau kelebihan kalsium.
3) Hipositraturia
Suatu penurunan ekskresi inhibitor pembentukan kristal dalam air kemih, khususnya sitrat,
disebabkan idiopatik, asidosis tubulus ginjal tipe I (lengkap atau tidak lengkap), minum
Asetazolamid, dan diare dan masukan protein tinggi.
4) Hiperurikosuria
Peningkatan kadar asam urat dalam air kemih yang dapat memacu pembentukan batu
kalsium.Hiperoksalouria.
Kenaikan ekskresi oksalat diatas normal (45 mg/hari), kejadian ini disebabkan oleh diet rendah
kalsium, peningkatan absorbsi kalsium intestinal, dan penyakit usus kecil atau akibat reseksi
pembedahan yang mengganggu absorbsi garam empedu.
b. Faktor-Eksogen.
Faktor lingkungan, pekerjaan (sopir) , makanan, infeksi bakteri (kurang personal hygine) dan
kejenuhan mineral dalam air minum.
c. Faktor-lainnya.
Infeksi, stasis dan obstruksi urine, keturunan, air minum, pekerjaan, makanan atau penduduk yang
vegetarian lebih sering menderita batu saluran kencing atau buli-buli (Syaifuddin, 1996). Batu
kandung kemih dapat disebabkan oleh kalsium oksalat atau agak jarang sebagai kalsium fosfat. Batu
vesika urinaria kemungkinan akan terbentuk apabila dijumpai satu atau beberapa faktor pembentuk
kristal kalsium dan menimbulkan agregasi pembentukan batu proses pembentukan batu
kemungkinan akibat kecenderungan ekskresi agregat kristal yang lebih besar dan kemungkinan
sebagaikristal kalsium oksalat dalam urine.
Dan beberapa medikasi yang diketahui menyebabkan batu ureter pada banyak klien mencakup
penggunaan obat-obatan yang terlalu lama seperti antasid, diamox, vitamin D, laksatif dan aspirin
dosis tinggi. (Prof.Dr.Arjatmo T. Ph. D.Sp. And. Dan dr. Hendra U., SpFk, 2001). Menurut Smeltzer
(2002:1460) bahwa, batu kandung kemih disebabkan infeksi, statis urin dan periode imobilitas
(drainage renal yang lambat dan perubahan metabolisme kalsium).

C. Patofisiologi
Batu dalam perkemihan berasal dari obstruksi saluran kemih, baik parsial maupun lengkap.Obstruksi
yang lengkap dapat berakibat menjadi hidronefrosis.Batu saluran kemih merupakan kristalisasi dari
mineral dan mineral dari matriks seputar, seperti pus, darah, tumor atau urat.Komposisi mineral dari
batu bervariasi, kira-kira bagian dari batu adalah kalsium fosfat, asam/urine dan custine.Peningkatan
konsentrasi larutan urine akibat dari intake cairan yang rendah dan juga peningkatan bahan organic
akibat ISK atau urine statis, mengakibatkan pembentukan batu.Ditambah adanya infeksi, meningkatkan
lapisan urine yang berakibat presipitasi kalsium fosfat dan magnesium ammonium fosfat (Long, 1999).

Teori pembentukan batu menurut (Soeparman, 1999) antara lain :


1. Terbentuknya batu saluran kemih memerlukan adanya substansia organic sebagai inti, terutama dari
mukopolisakarida dan mukoprotein yang akan mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi
pembentuk batu.
2. Teori supersaturasi
3. Terjadinya kejenuhan substansi pembentuk dalam urine seperti sistine, asam urat, kalsium oksalat
akan mempermudah terbentuknya batu.
4. Teori presipitasi kristalisasi
5. Perubahan pH urine akan mempengaruhi solubilitas substansi dalam urine yang bersifat alkali akan
mengendap garam-garam fosfat.
6. Teori berkurangnya faktor penghambat
7. Berkurangnya faktor penghambat seperti peptid, fosfat, pirofosfat, polifosfat, sitrat, magnesium,
asam mukopolisakarida akan mempermudah terbentuknya batu saluran kencing

D. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala vesikolithiasis menurut Bruner & Sudarth (2002) dan Soeparman (1999) adalah :
1) Kencing kurang lancar tiba-tiba terhenti dan terasa sakit yang menjalar ke penis bila pasien merubah
posisi kencing lama, pada anak-anak mereka akan berguling-guling dan menarik penis.
2) Apabila terjadi infeksi ditemukan tanda : sistisis, kadang kadang terjadi hematuria.
3) Adanya nyeri tekan suprasimpisis karena infeksi / teraba adanya urine yang banyak (retensi).
4) Hanya pada batu besar yang dapat diraba secara bimanual.
5) Pada pria diatas 50 tahun biasanya ditemukan juga pembesaran prostat.
6) Demam akibat obstruksi saluran kemih memerlukan dekompensasi segera.
7) Koliks
8) Rasa terbakar(panas) pada saat kencing dan setelah kencing

E. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Pembantu/Penunjang. Pemeriksaan ini terdiri atas:
a. Laboratorium
1) Urine dan kultur urine untuk melihat adanya infeksi
2) Pemeriksaan darah,Hb, Ureum Kreatinin, Kalsium, Fosfat, Asam Urat
b. Radiologi
Diagnosis pasti dapat dibuat dengan uretrografi, yaitu retrograde uretrografi (RUG) dan voiding
cysto uetrografi (VCUG)
c. Sistoskopi
Pada pemeriksaan ini dokter akan memasukkan semacam alat endoskopimelalui uretra yang ada
pada penis, kemudian masuk kedalam blader.

F. Penatalaksanaan
Tujuan dasar penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan batu, menentukan jenis batu, mencegah
kerusakan nefron, mengendalikan infeksi dan mengurangi obstruksi yang terjadi. Adapun
penatalaksanaan pada vesikolithiasis menurut Soerparman (1999) dan Smeltser (2001) antara lain :
a. Penanganan nyeri
Tujuan segera dari penanganan kolik atau reteral adalah untuk mengurangi nyeri
sampai penyebabnya dapat dihilangkan : morfin diberikan untuk mencegah syok dan sinkop
akibat nyeri yang luar biasa. Mandi air panas atau air hangat di area panggul dapat
bermanfaat.
b. Terapi nutrisi dan medikasi
Terapi nutrisi berperan penting dalam mencegah batu renal. Masukan cairan yang
adekuat dan menghindari makanan tertentu dalam diet yangmerupakan bahan utama
pembentuk batu (missal : kalsium ) efektif untuk mencegah pembentukan batu atau
meningkatan ukuran batu yang telah ada.
Beberapa terapi medikasi menurut jenisnya batu,antara lain :
1. Batu kalsium dapat diturunkan dengan diet rendah kalsium, ammonium klorida atau asam
asetohidroksemik( lithostat)
2. Batu fosfat dapat diturunkan dengan jeli alumunium hidroksida
3. Batu asam urat dapat diturunkan dengan allofurinol (zyloprime)
4. Batu oksalat bisa diturunkan dengan pembatasan pemasukan oksalat, terapi gelombang kejut
ekstrokoproreal, pengankatan batu perkutan atau uretroskopi.
5. Metode endourologi pengangkatan batu (litotripsi)
6. Bidang endourologi mengembangkan ahli radiologi dan urologi untuk mengangkat batu buli
tanpa adanya pembedahan dengan cara penghancuran batu buli menjadi serpihan kecil-keci
kemudian dikeluarkan dengan alat endourolgi
7. Pelarutan batu

8. Infus cairan kemolitik (missal : agen pembuat basa (acylabina) dan pembuat asam
(acydifyng). Untuk melarutkan batu dapat dilakukan sebagai alternative penangnan terapi
pasien kurang beresiko terhadap terapi lain dan menolak metode lain atau mereka yang
memiliki batu yang mudah terlarut (struvit)
9. Pengangkatan batu pada kandung kemih dengan cara pembedahan atau vesikolitotomi.

1. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian
Asuhan keperawatan perioperatif terdiri dari 3 tahap yaitu mempunyai pra, intra dan pasca
operative, dimana perawat mempunyai peran integral dalam rencana asuhan kolaboratif dengan
pembedahan.
a) Perawatan Preoperatif
Perawatan preoperatif meliputi :
Kelengkapan rekam medis dan status
Memeriksa kembali persiapan pasien
Informed concent
Menilai keadaan umum dan TTV
Memastikan pasien dalam keadaan puasa
Pada fase preoperatif ini perawat akan mengkaji kesehatan fisik dan emosional klien, mengetahui
tingkat resiko pembedahan, mengkoordinasi berbagai pemeriksaan diagnostik, mengidentifikasi
diagnosa keperawatan yang mengambarkan kebutuhan klien dan keluarga, mempersiapkan kondisi
fisik dan mental klien untuk pembedahan.
b) Perawatan Intraoperatif
Perawatan intraoperatif meliputi :
Melaksanakan orientasi pada pasien
Melakukan fiksasi
Mengatur posisi pasien
Menyiapkan bahan dan alat
Drapping
Membantu melaksanakan tindakan pembedahan
Memeriksa persiapan instrument
Pada fase intraoperatif perawat melakukan 1 dari 2 peran selama pembedahan berlangsung,yaitu
perawat sebagai instrumentator atau perawat sirkulator.Perawat instrumentator memberi bahan-
bahan yang dibutuhkan selama pembedahan berlangsung dengan menggunakan teknik aseptic
pembedahan yang ketat dan terbiasa dengan instrumen pembedahan.Sedangkan perawat sirkulator
adalah asisten instrumentator atau dokter bedah.
c) Perawatan Post Operasi
Pada fase postoperasi setelah pembedahan,perawatan klien dapat menjadi komplek akibat fisiologis
yang mungkin terjadi.klien yang mendapat anastesi umum cenderung mendapat komplikasi yang
lebih besar dari pada klien yang mendapat anastesi lokal. Perawatan post operative meliputi :
Mempertahankan jalan napas dengan mengatur posisi kepala.
Melaksanakan perawatan pasien yang terpasang infus di bantu dengan perawat
anastesi
Mengukur dan mencatat produksi urine
Mengatur posisi sesuai dengan keadaan.
Mengawasi adanya perdarahan pada luka operasi
Mengukur TTV setiap 15 menit sekali

B. Diagnosa
Diagnosa keperawatan yang muncul pada keperawatan pre operatif, intra operatif, dan post operatif
antara lain :
1. Pre Operasi :
a)Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang prosedur tindakan operasi
b)Resiko injuri berhubungan dengan perpindahan pasien dari brancart ke meja operasi
2. Intra Operasi :
a) Resiko tinggi kekurangan cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan
b) Resiko tinggi cedera berhubungan dengan pemajaan peralatan, hipoksia jaringan, perubahaan

posisi, faktor pembekuan, perubahaan kulit


c) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan kulit dan pemajaan lingkungan.
3. Post Operasi
a) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan efek anasthesi.
b) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan lunak, kerusakan
neuromuskuler pasca bedah.

C. Intervensi
1. Pre Operasi
a) Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang prosedur tindakan operasi
Tujuan: Pasien mengerti tentang prosedur tindakan operasi
Kriteria Hasil:
Pasien tidak cemas
Pasien dapat menjelaskan tentang prosedur tindakan operasi yang akan
dilakukan
INTERVENSI RASIONAL
b)
Bantu pasien mengekspresikan perasaan Ansietas berkelanjutan memberikan dampak
marah, kehilangan dan takut serangan jantung
Kaji tanda tanda ansietas verbal dan Reaksi verbal / non verbal dapat menujukan
non verbal rasa agitasi, marah dan gelisah
Jelaskan tentang prosedur pembedahan Pasien dapat beradaptasi dengan prosedur
sesuai jenis operasi pembedahan yang akan dilaluinya dan akan
merasa nyaman
Beri dukungan pra bedah Hubungan emosional yang baik antara
perawat dan pasien akan mempengaruhi
penerimaan pasien terhadap pembedahan.
Hindari konfrontasi Konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah,
menurunkan kerjasama dan mungkin
memperlambat penyembuhan
Orientasikan pasien terhadap prosedur Orientasi dapat menurunkan kecemasan
rutin dan aktifitas yang diharapkan
Berikan kesempatan kepada pasien Dapat menghilangkan ketegangan terhadap
untuk mengungkapkan kecemasannya kekewatiran yang tidak di ekspresikan
Berikan privasi untuk pasien dengan Kehadiran keluarga dan teman teman yang
orang terdekat dipilih pasien untuk menemani aktivitas
pengalihan akan menurunkan perasaaan
terisolasi
Kolaborasi pemberian anti cemas sesuai Meningkatkan relaksasi dan menurunkan
indikasi seperti diazepam kecemasan
Resiko tinggi cedera berhubungan dengan prosedur premedikasi anastesi
Tujuan : Ketidaktahuan prosedur pasien teradaptasi
Kriteria Hasil :
Pasien kooperatif terhadap intervensi premedikasi anastesi
Persiapan prabedah dapat terlaksana secara optimal
INTERVENSI RASIONAL
Jelaskan prosedur rutin prabedah Untuk dapat mempersiapkan pasien yang
menjalani pembedahan dengan baik
Pemeriksaan tanda tanda vital pra bedah Prosedur standar untuk membandingkan hasil
TTV sewaktu diruangan
Siapkan sarana kateter IV dan obat obat Untuk pemberian cairan dan pemberian
premedikasi dan lakukan pemasangan kateter premedikasi sebelum dilakukan tindakan
IV dan pertimbangkan pemeberian agen operasi
premedikasi
Lakukan pemindahan dan pengaturan posisi Untuk menghindari cedera atau trauma yang
saat pemindahan pasien dari barngkar ke diakibatkan penempatan posisi yang salah
meja operasi

2. Intra Operasi
a) Resiko tinggi kekurangan cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan
Tujuan : Tidak terjadinya kekurangan cairan tubuh selama pembedahan
Kriteria Hasil :
TTV dalam batas normal
Akaral hangat
Pengisian kapiler < 3 detik
Produksi urine 0,5 cc/kgBB/Jam
INTERVENSI RASIONAL
Monitoring tanda tanda vital Untuk mengevaluasi terjadinya kekurangan
cairan tubuh dan untuk menetukan intervensi
selanjutnya
Mengobservasi kelancaran IV line yang Untuk memastikan kebutuhan cairan tubuh
terpasang tetap terpenuhi
Memonitoring produksi urine selama Sebagai indikator akan pemenuhan
pembedahan ( 0,5 cc/kg BB/Jam ), warna kebutuhan caiaran tubuh
urine
Monitoring perdarahan dan menghitung Untuk mengetahui jumlah perdarahan adan
jumlah pemakaian kasa sebagai data untuk menentukan intervensi
selanjutnya
Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian Dengan pemberian Transfusi darah akan
transfusi darah sesuai dengan kebutuhan mempercepat proses pengantian cairan tubuh
yang hilang

b) Resiko tinggi cedera berhubungan dengan pemajaan peralatan, hipoksia jaringan, perubahaan
posisi, faktor pembekuan, perubahaan kulit.
Tujuan : Tidak terjadinya cedera selama pembedahan
Kriteria hasil :
Tidak terjadinya cedera sekunder akibat pengaturan posisi bedah
Tidak adanya cedera akibat pemasangan alat alat penunjang pembedahan
INTERVENSI RASIONAL
Kaji ulang identitas pasien dan jadwal Untuk mencegah kesalahan pasien dan
prosedur operasi sesuai dengan jadwal kesalahan dalam prosedur operasi
Lepaskan gigi palsu/ kawat gigi, kontak Menghindari cedera akibat penggunaan
lensa, perhiasan sesuai dengan protokol alat alat penunjang operasi
operasi
Pastikan brangkar ataupun meja operasi Untuk mencegah pasien jatuh sehingga
terkunci pada waktu memindahkan menimbulkan cedera
pasien
Pastikan penggunaan sabuk pengaman Untuk menghindari pergerakan dari
pada saat operasi berlangsung pasien pada saat operasi dan
menghindari pasien jatuh
Persiapkan bantal dan peralatan Untuk menghindari cedera akibat
pengaman untuk pengaturan posisi penekanan pada posisi operasi pasien
pasien yang lama
Pastikan keamanan elektrikal selama Mencegah cedera pada daerah
selama pembedahan sekitarnya yang tidak mengalami
proses pembedahan
Letakan plate diatermi sesuai dengan Jika tidak diletak dengan benar dapat
prosedur menimbulkan cedera pada daerah
sekitar penempatan diatermi plate dan
mengganggu kelancaran operasi
Pastikan untuk mencatat jumlah Untuk mencegah tertinggalnya alat atau
pemakaian kasa, instrument, jarum dan bahan habis pakai dalam anggota tubuh
pisau operasi pasien yang dioperasi

c) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan kulit dan pemajaan lingkungan
Tujuan : tidak terjadinya infeksi pasca pembedahan
Kriteria hasil :
Tidak adanya tanda tanda infeksi pasca operasi di ruangan
Luka bersih tertutup
Area sekitar luka bersih
INTERVENSI RASIONAL
Pastikan semua tim bedah telah melakukan Sebagai langkah awal dalam pencegahan
pencucian tangan sesuia dengan prosedur infeksi
yang benar
Lakukan desinfeksi area pembedahan dan Untuk menjaga area operasi tetap dalam
pemasangan doek steril pada daerah keadaan steril
pembedahan
Cek kadaluarsa alkes yang akan Untuk mencegah infeksi akibat penggunaan
dipergunakan alat kesehatan yang sudah tidak dapat
dipergunakan
Pertahankan sterilitas selama pembedahan Dengan mempertahankan steriltas resiko
infeksi dapat dicegah
Tutup luka dengan dengan pembalut atau Untuk mencegah terpaparnya luka dengan
kasa steril lingkungan yang beresiko menyebabkan
infeksi silang

d) Resiko tinggi perubahan suhu tubuh berhubungan dengan pemajaan suhu yang tidak baik,
penggunaan obat/ zat anastesi, dehidrasi.
Tujuan : tidak terjadinya penurunan suhu tubuh pasien selama pembedahan
Kriteria hasil :
Tidak terjadinya hipotermi selama pembedahan
Pasien tidak mengeluh dingin
INTERVENSI RASIONAL
Kaji suhu pasien pra bedah Sebagai data untuk menentukan intervensi
selnjutnya
Kaji suhu lingkungan dan modifikasi sesuai Dengan pengaturan suhu lingkungan
lingkungan (selimut penghangat, membuat pasien merasa nyaman selama
meningkatkan suhu ruangan) pembedahan

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, L.J., 1999. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2. Jakarta: ECG
Doengoes, 1999. Perencanaan Asuhan Keperawatan. Jakarta: ECG
Long, B.C. 1999, Perawatan Medikal Bedah, Volume 3, Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan
padjajaran Bandung.
Mansjoer, Arif., et all, 1999. Kapita Selekta Kedokteran . Fakultas Kedokteran UI: Media Aescullapius.
Price, Anderson Sylvia, 1997. Ptofisiologi. Ed. I, Jakarta : EGC.
Price. A. Silvia (2002), Pathophysiolg : Clinical Concepts of Disease Processes, (dr. Brahm U. Pendit.
dkk: penerjemah) volume 2, edisi 6, Jakarta: EGC.
Smeltzer. C. Suzanne (1996), Brunner and Suddarths textbook of Medical-Surgical Nursing, (dr. H. Y.
Kuncara. dkk: penerjemah), volume 2, edisi VIII, Jakarta: EGC.