Anda di halaman 1dari 10

TUGAS

NAMA: AHMAD ARDAN.F


KELAS: 10 BAHASA
TUGAS: FIQIH
WAKALAH DAN SULHU
1. Pengertian Wakalah
Wakalah menurut bahasa artinya mewakilkan, sedangkan
menurut istilah yaitu mewakilkan atau menyerahkan
pekerjaan kepada orang lain agar bertindak atas nama
orang yang mewakilkan selama batas waktu yang
ditentukan.

2. Hukum Wakalah
Asal hukum wakalah adalah mubah, tetapi bisa menjadi
haram bila yang dikuasakan itu adalah pekerja yang haram
atau dilarang oleh agama dan menjadi wajib kalau terpaksa
harus mewakilkan dalam pekerjaan yang dibolehkan oleh
agama. Allah SWT. Berfirman:

Maka suruhlah salah seorang diantara kamu ke kota


dengan membawa uang perakmu ini (QS. Al Kahfi : 19).
Ayat tersebut menunjukkan kebolehan mewakilkan sesuatu
pekerjaan kepada orang lain.

Rasulullah SAW. bersabda:



( )
Dari Abu Hurairah ra.berkata : Telah mewakilkan Nabi
SAW kepadaku untuk memelihara zakat fitrah dan beliau
telah memberi Uqbah bin Amr seekor kambing agar
dibagikan kepada sahabat beliau (HR. Bukhari).
Kebolehan mewakilkan ini pada umumnya dalam masalah
muamalah. Misalnya mewakilkan jual beli, menggadaikan
barang, memberi shadaqah / hadiah dan lain-lain.
Sedangkan dalam bidang Ubudiyah ada yang boleh dan
ada yang dilarang. Yang boleh misalnya mewakilkan haji
bagi orang yang sudah meninggal atau tidak mampu secara
fisik, mewakilkan memberi zakat, menyembelih hewan
kurban dan sebagainya. Sedangkan yang tidak boleh adalah
mewakilkan Shalat dan Puasa serta yang berkaitan dengan
itu seperti wudhu.

3.Rukun dan Syarat Wakalah


a. Orang yang mewakilkan / yang memberi kuasa.

Syaratnya : Ia yang mempunyai wewenang terhadap urusan


tersebut.

b. Orang yang mewakilkan / yang diberi kuasa.

Syaratnya : Baligh dan Berakal sehat.

c. Masalah / Urusan yang dikuasakan. Syaratnya jelas dan


dapat dikuasakan.
d. Akad (Ijab Qabul). Syaratnya dapat dipahami kedua
belah pihak.

4. Syarat Pekerjaan Yang Dapat Diwakilkan


1. Pekerjaan tersebut diperbolehkan agama.
2. Pekerjaan tersebut milik pemberi kuasa.
3. Pekerjaan tersebut dipahami oleh orang yang diberi
kuasa.
5. Habisnya Akad Wakalah
1. Salah satu pihak meninggal dunia
2. Jika salah satu pihak menjadi gila
3. Pemutusan dilakukan orang yang mewakilkan dan
diketahui oleh orang yang diberi wewenang
4. Pemberi kuasa keluar dari status kepemilikannya.
1. Hikmah Wakalah
a. Dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan cepat
sebab tidak semua orang mempunyai kemampuan dapat
menyelesaikan pekerjaan tertentu dengan sebaik-baiknya.
Misalnya tidak setiap orang yang qurban hewan dapat
menyembelih hewan qurbannya, tidak semua orang dapat
belanja sendiri dan lain-lain.

b. Saling tolong menolong diantara sesama manusia.


Sebab semua manusia membutuhkan bantuan orang lain.
c. Timbulnya saling percaya mempercayai diantara
sesama manusia. Memberikan kuasa pada orang lain
merupakan bukti adanya kepercayaan pada pihak lain.

1. B. SULHU
1. Pengertian Sulhu
Sulhu menurut bahasa artinya damai, sedangkan menurut
istilah yaitu perjanjian perdamaian diantara dua pihak yang
berselisih.

Sulhu dapat juga diartikan perjanjian untuk menghilangkan


dendam, persengketaan atau permusuhan (memperbaiki
hubungan kembali).

2. Hukum Sulhu
Hukum sulhu atau perdamaian adalah wajib, sesuai dengan
ketentuan-ketentuan atau

perintah Allah SWT, didalam Al-Quran :

Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara, karena itu


damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah
kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (Qs. Al
Hujurat : 10).


Perdamaian itu amat baik (QS. An Nisa : 128).
3. Rukun dan Syarat Sulhu
a. Mereka yang sepakat damai adalah orang-orang yang sah
melakukan hukum.

b. Tidak ada paksaan.

c. Masalah-masalah yang didamaikan tidak bertentangan


dengan prinsip Islam.

d. Jika dipandang perlu, dapat menghadirkan pihak ketiga.


Seperti yang disintir dalam

Al-Quran An Nisa : 35.

4. Macam-macam Perdamaian
Dari segi orang yang berdamai, sulhu macamnya sebagai
berikut :

1. Perdamaian antar sesama muslim

2. Perdamaian antar sesama muslim dengan non muslim

3. Perdamaian antar sesama Imam dengan kaum bughat


(Pemberontak yang tidak mau tunduk

kepada imam).
4. Perdamaian antara suami istri.

5. Perdamaian dalam urusan muamalah dan lain-lain.

5. Hikmah Sulhu
1. Dapat menyelesaikan perselisihan dengan sebaik-
baiknya. Bila mungkin tanpa campur tangan pihak lain.
2. Dapat meningkatkan rasa ukhuwah / persaudaraan
sesama manusia.
3. Dapat menghilangkan rasa dendam, angkara murka
dan perselisihan diantara sesama.
4. Menjunjung tinggi derajat dan martabat manusia
untuk mewujudkan keadilan.
Dhaman dan Kafalah
Dhaman adalah: menanggung kewajiban dari
sesuatu yang wajib atas orang lain, disertai tetapnya
sesuatu yang dijamin darinya.
. Hukum dhaman: boleh karena mengandung
kemaslahatan, bahkan terkadang diperlukan. Dhaman
mengajarkan untuk saling membantu di atas kebaikan
dan taqwa, menunaikan hajat seorang muslim dan
melapangkan kesusahannya.
. Disyaratkan untuk sahnya dhaman: bahwa
pemberi jaminan adalah orang yang boleh melakukan
transaksi, ridha bukan terpaksa.
. Dhaman sah dengan semua lafazh yang menunjukkan
atasnya, seperti aku menjaminnya, atau aku
menanggung darinya, atau semisal yang demikian itu.

. Dhaman sah bagi setiap harta yang diketahui seperti


seribu misalnya, atau yang tidak diketahui, seperti ia
berkata, Aku menjamin untukmu hartamu atas fulan,
atau sesuatu yang dituntut dengannya atasnya, sama
saja hidup yang dijamin darinya atau mati.

. Apabila seseorang memberi jaminan atas hutang,


yang berhutang tidak lepas (dari hutangnya), dan
jadilah hutang itu atas keduanya secara bersama-sama,
dan bagi yang memberi pinjaman (kreditor) boleh
menuntut siapa saja dari keduanya yang dia kehendaki.
. Yang memberi jaminan terbebas apabila kreditor telah
mengambil semua haknya dari yang diberi jaminan
atau ia membebaskannya.

. Kafalah: yaitu mewajibkan orang yang cerdas dengan


senang hati untuk menghadirkan orang yang
mempunyai kewajiban harta untuk pemiliknya.
. Hikmah disyariatkannya: memelihara hak-hak dan
mendapatkannya.
. Hukum kafalah: boleh, ia termasuk tolong menolong
dalam kebaikan dan taqwa.
. Apabila seseorang memberi jaminan untuk
menghadirkan orang yang berhutang, lalu ia tidak bisa
menghadirkannya, ia berhutang apa yang wajib
atasnya.

. Kafil (pemberi jaminan) terbebas karena yang


berikut ini: meninggalnya yang dijamin, atau yang
dijamin menyerahkan dirinya sendiri kepada pemilik
hak, atau binasa benda yang dijamin dengan perbuatan
Allah Subhanahu wtaala (tidak ada campur tangan
manusia).
. Barang siapa yang ingin safar, dan ia mempunyai
tanggungan yang harus diselesaikan sebelum safarnya,
maka yang memiliki hak boleh menghalanginya. Maka
jika ia memberikan jaminan penuh atau menyerahkan
gadaian yang menutupi hutang saat jatuh tempo, maka
ia boleh safar karena hilangnya bahaya.
. Surat jaminan yang diterbitkan oleh bank-bank:
Apabila baginya ada penutup yang sempurna, atau
jaminan itu didahului dengan menyerahkan seluruh
uang yang dijamin untuk mashraf, maka boleh
mengambil upah atasnya sebagai imbalan pelayanan.
Dan jika surat jaminan tidak ditutupi, maka tidak boleh
bagi bank menerbitkannya dan mengambil upah
atasnya.