Anda di halaman 1dari 18

TUGAS

METODOLOGI PENELITIAN

PENGARUH JUMLAH PUSKESMAS TERHADAP GIZI


BALITA

Disusun oleh:
07/Eka Rahmawati/TKJ-4B/4312111003

Jalan Prof. Dr. G. A. Siwabessy, Kampus UI, Depok 16425


Telepon (021) 7270036, 7270035, 7270042, 7864926, 7863534
Fax (021) 7270035, (021) 7270035
Web http://pnj.ac.id
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Pertumbuhan manusia baik dari segi fisik, mental maupun intelektual ditentukan sejak
saat masih balita. Masa balita harus diperhatikan apa saja yang harus dilakukan untuk tumbuh
kembangnya kedepannya sebab masa balita adalah saat-saat proses tumbuh kembang manusia
saat dewasa nanti. Oleh karena itu, untuk menunjangnya harus diberikan gizi yang cukup dan
memadai.

Sayangnya, masih banyak orangtua yang kurang memperhatikan gizi anak-anak mereka,
bahkan sejak balita. Selain itu, banyak pula orangtua yang tidak mengetahui pentingnya
memberikan gizi yang cukup untuk balita dan anak-anak mereka. Hal seperti ini menyebabkan
banyaknya kasus gizi buruk terjadi.

Gizi buruk merupakan masalah yang umumnya dialami oleh banyak Negara berkembang.
Hal ini tentu sangat memprihatinkan karena Indonesia merupakan salah satu Negara yang juga
banyak mengalami kasus gizi buruk. Padahal, Indonesia adalah Negara agraris yang
memproduksi berbagai jenis buah dan sayuran yang seharusnya lebih mampu mencukupi
kebutuhan gizi masyarakatnya.

Tercatat satu dari tiga anak di dunia meninggal setiap tahun akibat buruknya kualitas gizi.
Dari data Departemen Kesehatan menunjukkan setidaknya 3,5 juta anak meninggal tiap tahun
karena masalah kekurangan gizi dan buruknya kualitas makanan, didukung pula oleh kekurangan
gizi selama masih didalam kandungan. Hal ini dapat berakibat kerusakan yang tidak dapat
diperbaiki pada saat anak beranjak dewasa.

Soetjiningsih (1995) dalam bukunya menjelaskan bahwa dampak jangka pendek dari
kasus gizi buruk adalah anak menjadi apatis, mengalami gangguan bicara serta gangguan
perkembangan yang lain. Sedangkan dampak jangka panjang dari kasus gizi buruk adalah
penurunan skor IQ, penurunan perkembangan kognitif, gangguan pemusatan perhatian, serta
gangguan penurunan rasa percaya diri. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kasus
gizi buruk apabila tidak dikelola dengan baik akan dapat mengancam jiwa, dan pada jangka
panjang akan mengancam hilangnya generasi penerus bangsa. Pemerintah menghadirkan
puskesmas sebagai salah satu solusi mengatasi dan meperkecil angka kasus gizi buruk. Penulis
hendak menganalisa sejauh mana keberhasilan solusi tersebut dan pengaruhnya terhadap kasus
gizi buruk.

I.2 Permasalahan

Kasus gizi buruk yang terjadi di Indonesia merupakan permasalahan nasional. Untuk
mengatasinya dibutuhkan kerjasama yang baik antara masyarakat dengan pemerintah. Salah satu
strategi pemerintah untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mendirikan puskesmas-
puskesmas di tiap daerah untuk meninjau kesehatan masyarakat di daerah-daerah, terutama
kesehatan balita.

Dalam penelitian ini, permasalahan yang diangkat adalah efektifitas dan pengaruh dari
puskesmas terhadap perbaikan gizi balita. Karena pada teorinya, seharusnya kehadiran dari
puskesmas dapat menurunkan kasus gizi buruk yang ada di Indonesia. Sesuai dengan salah satu
tujuan dibentuknya puskesmas. Penulis akan menganalisa sejauh mana efektifitas dan pengaruh
tersebut.

I.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan diatas, rumusan masalah penelitian ini
adalah: adakah pengaruh jumlah puskesmas yang ada terhadap jumlah balita yang mengalami
gizi buruk setiap tahunnya.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini
adalah apakah ada pengaruh banyaknya jumlah Puskesmas dengan perbaikan gizi balita yang
mengalami gizi buruk dari tahun ke tahun.

I.4 Anggapan Dasar


Perkembangan puskesmas yang ditandai dengan bertambahnya jumlah puskesmas di
daerah-daerah turut mempengaruhi jumlah balita yang terkena kasus gizi buruk karena
peningkatan pedidikan gizi dan usaha perbaikan gizi yang dilakukan oleh puskesmas.

I.5 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis seberapa besar puskesmas berpengaruh
terhadaa kasus balita yangmengalami gizi buruk.

I.6 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Evaluasi terhadap kinerja puskesmas dalam meningkatkan gizi masyarakat


2. Pemerintah mampu bersikap tegas menangani permasalahan gizi buruk di Indonesia,
terutama pada balita.
3. Meningkatkan kepedulian masyarakat pentingnya masalah gizi balita
4. Memberikan masukan kepada pemerintah untuk meningkatkan kualitas puskesmas,
bukan hanya jumlahnya saja
5. Menyadarkan masyarakat bahwa masalah gizi balita ataupun masalah gizi masyarakat
bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah
6. Kerjasama antara masyarakat dengan pemerintah dalam meningkatan kualitas gizi balita

I.7 Metode pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam suatu penelitian sangat diperlukan karena data yang
diambil oleh peneliti tidak hanya terfokus pada satu sumber sebagai acuan, namun terdiri dari
beberapa sumber. Oleh karena itu teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini,
yaitu Studi Pustaka. Studi pustaka adalah segala usaha yang dilakukan oleh peneliti untuk
menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan atau sedang diteliti.
Studi pustaka merupakan suatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari suatu penelitian. Studi
pustaka dalam penelitian ini, penulis mendapat informasi atau sumber dari buku-buku dan situs
website. Data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini diperoleh dari data hasil survey
Badan Pusat Statistik Nasional terhadap status gizi dan data statistik jumlah sarana dan prasarana
kesehatan (termasuk puskesmas) diseluruh Indonesia. (Data jumlah rumah sakit, puskesmas dan
sarana kesehatan disajikan dalam kolom terpisah dalam satu tabel)
BAB II

LANDASAN TEORI

II.1 Istilah Gizi dan Status Gizi

Dalam kehidupan sehari-hari, gizi merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi
ditelinga. Terutama pada dunia kesehatan, istilah gizi merupakan istilah yang digunakan untuk
menggambarkan kondisi pemenuhan kebutuhan nutrisi seseorang.

Definisi gizi menurut beberapa sumber yaitu suatu proses organisme menggunakan
makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses pencernaan, absorbsi, transportasi,
penyimpanan, metabolism dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan
kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan energi.

Gizi dapat diperoleh dari makanan yang kita konsumsi setiap harinya. Makanan tersebut
akan diproses di dalam tubuh dan menghasilkan zat-zat yang diperlukan oleh tubuh. Zat-zat
tersebutlah yang akan diserap oleh tubuh agar seluruh organ dapat berfungsi dengan baik.

Untuk mempermudah dalam mengklasifikasikan apakah sesorang telahh terpenuhi


gizinya, kurang, atau bahkan berlebih, pengklasifikasian ini merupakan ukuran standar terpenuhi
nutrisi yang diakui dunia. Standar ini dikenal juga dengan status gizi. Status gizi sendiri
diklasifikasikan berdasarkan parameter antropometri. Antropometri gizi berhubungan dengan
berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan
tingkat gizi. Variabel yang digunakan untuk menentukan status gizi anak adalah umur, berat
badan dan tinggi badan.

Status gizi anak mencakup gizi lebih, gizi baik, gizi kurang dan gizi buruk. Sebenarnya
ada banyak hal yang mempengaruhi status gizi, diantaranya pendapatan atau taraf ekonomi
keluarga, pendidikan, atau pengetahuan orang tua, pekerjaan (kesibukan), dan budaya. Hal ini
yang secara tidak langsung terjadi pada banyak orang tua di Indonesia.

Dalam menekan salah satu faktor penyebab status gizi, pemerintah membentuk suatu
wadah yang bertugas untuk memeperbaiki taraf kesehatan masyarakat, yaitu puskesmas.
Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung
jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan disuatu wilayah.

Diantara program-program pokok puskesmas ialah program promosi kesehatan, program


kesehatan lingkungan, program KIA/KB, program perbaikan gizi masyarakat, program P2M, dan
program pengobatan. Setiap program tersebut memiliki poin masing-masing. Dalam program
perbaikan gizi masyarakat, terutama balita, puskesmas memiliki program kerja sebagai berikut:

Program Promosi Kesehatan

Program Kesehatan Lingkungan

Program KIA / KB

Program Perbaikan Gizi Masyarakat

Program P2M

Dalam menjalankan program perbaikan gizi mmasyarakat, puskesmas memiliki langkah


kerja. Langkah kerja tersebut dibentuk untuk mempermudah puskesmas dalam menjalankan
fungsinya sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam memperbaiki gizi masyarakat,
terutama balita. Langkah kerja Perbaikan Gizi Masyarakat diantaranya:

Penimbangan Bayi & Balita ( Kms )

Pelacakan & Perawatan Gizi Buruk

Penyuluhan Gizi

Stimulasi & Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak

Pemberian Kapsul Vitamin A

6 11 Bln : 1 Kapsul Biru Di Bln Februari Atau Agustus

12 59 Bln : 1 Kapsul Merah Di Bln Februari Dan Agustus


Pmt ( Pemberian Makanan Tambahan )

Pmt Pemulihan, Pmt Penyuluhan

Asi Eksklusif

Kadarzi

Pemberian Garam Beryodium


BAB III

PEMBAHASAN

Dalam peneilitian ini, penulis memperoleh data yang akan digunakan sebagai sumber
untuk dianalisis berdasarkan data hasil survey Badan Pusat Statistik. Data yang diperoleh terdiri
atas balita yang mengalami gizi buruk dan data sarana prasarana kseehaatn di Indonesia.

III.1 Populasi Penelitian

Populasi target pada penelitian ini adalah semua anak yang berusia dibawah 5 tahun yang
terdata oleh Badan Pusat Statistik mengalami gizi buruk. Subjek penlitian ini adalah semua anak
yang berusia dibawah 5 tahun yang mengalami gizi buruk pada tahun 1998-2002.

III.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Indonesia sebagai lokasi dari populasi penelitian.

III.3 Waktu Penelitian

Penelitian ini berlangsung dari bulan maret-mei 2014.

III.4 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam suatu penelitian sangat diperlukan karena data yang
diambil oleh peneliti tidak hanya terfokus pada satu sumber sebagai acuan, namun terdiri dari
beberapa sumber. Oleh karena itu teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini,
yaitu Studi Pustaka. Studi pustaka adalah segala usaha yang dilakukan oleh peneliti untuk
menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan atau sedang diteliti.
Studi pustaka merupakan suatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari suatu penelitian. Studi
pustaka dalam penelitian ini, penulis mendapat informasi atau sumber dari buku-buku dan situs
website. Data yang digunakan pada penelitian ini diperoleh berdasarkan hasil survey yang
dilakukan oleh Badan Pusat Statistik Indonesia pada tahun 1998-2002 dan dipublikasikan di situs
resmi Badan Pusat Statistik.
III. 5 Tabel

Berikut ini adalah data persentase balita yang mengalami gizi buruk dari tahun 1998-
2002 dan jumlah puskesmas aktif di Indonesia pada tahun 1998-2002 yangtelah disajikan dalam
bentuk tabel.

Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2005 2007 2010 2013

Satuan
10.51 8.11 7.53 6.30 7.47 8.55 8.80 5.40 4.90 5.70
(%)
Data persentase balita yang mengalami gizi buruk di Indonesia (1998-2013)
(sumber: www.bps.go.id & www.depkes.go.id/)
Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2005 2007 2010 2013

Satuan
7181 7195 7237 7277 7309 7413 7669 8234 9005 9655
(unit)
Data jumlah puskesmas di Indonesia (1998-2013)
(sumber: www.bps.go.id)

Selain itu, data yang telah didapatkan diklasifikasikan kembali berdasarkan karakteristik
sampel. Terdapat tiga klasifikasi untuk data balita yang mengalami gizi buruk, yaitu tinggi,
normal, dan rendah. Data jumlah puskesmas juga di klasifikasikan menjadi tiga skala yaitu
banyak, normal dan sedikit.

Untuk klasifikasi balita gizi buruk digunakan skala sebagai berikut:


Rendah : 4,90 6,95
Normal : 6,96 8,05
Tinggi : 8,06 10,51
Dari skala diatas, maka dapat dibentuk sebuah tabel jumlah balita gizi buruk dengan
kolom klasifikasi.
No Jumlah Balita Gizi
Klasifikasi
Sample Buruk
1 10,51 Tinggi
2 8,11 Tinggi
3 7,53 Normal
4 6,30 Rendah
5 7,47 Normal
6 8,55 Tinggi
7 8,80 Tinggi
8 5,40 Rendah
9 4,90 Rendah
10 5,70 Rendah

Klasifikasi jumlah puskesmas menggunakan skala acuan:


Sedikit : 7181 8005,7
Normal : 8005,8 8830,3
Banyak: 8830,4 9655
Data yang sudah diklasifiasikan adalah sebagai berikut:
No Jumlah
Klasifikasi
Sample Puskesmas
1 7181 Sedikit
2 7195 Sedikit
3 7237 Sedikit
4 7277 Sedikit
5 7309 Sedikit
6 7413 Sedikit
7 7669 Sedikit
8 8234 Normal
9 9005 Banyak
10 9655 Banyak

Dari kedua data ordinal diatas, maka diperoleh table kesesuaian yang akan dipergunakan
untuk menghitung chi square sebagai berikut:

Jumlah
No Jumlah
Balita Gizi Klasifikasi Klasifikasi
Sample Puskesmas
Buruk
1 10,51 Tinggi 7181 Sedikit
2 8,11 Tinggi 7195 Sedikit
3 7,53 Normal 7237 Sedikit
4 6,30 Rendah 7277 Sedikit
5 7,47 Normal 7309 Sedikit
6 8,55 Tinggi 7413 Sedikit
7 8,80 Tinggi 7669 Sedikit
8 5,40 Rendah 8234 Normal
9 4,90 Rendah 9005 Banyak
10 5,70 Rendah 9655 Banyak
III. 6 Variable

Dari data yang didapatkan, terdapat 2 variable yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:

1. Data balita yang mengalami gizi buruk sebagai variable independen


2. Data jumlah puskesmas aktif sebagai variable dependen

III. 7 Analisis Data

Analisis data yang dilakukan adalah analisis bivariat yaitu menganalisis hubungan antara
dua variabel dengan menggunakan uji korelasi Product Moement dan uji hipotesis chi square.
BAB IV

ANALISA PENELITIAN

IV.1 Hipotesis

H0= Tidak ada pengaruh yang signifikan antara jumlah puskesmas dengan jumlah balita yang
menderita kurang gizi

Ha = Ada pengaruh yang signifikan antara jumlah puskesmas dengan jumlah balita yang
menderita kurang gizi

IV.2 Uji Hipotesis

Data yang telah diperoleh akan diuji untuk membuktikan hipotesis yang diajukan oleh
penulis. Pengujian hipotesis dilakukan dengan dua cara, yaitu uji korelasi product moement dan
menggunakan chi square.

A. Menggunakan Uji Chi Square

1. Menentukan Titik Kritis

Df = (Total baris - 1) (Total kolom -1)

Df = 2 2 = 4

Menggunakan taraf signifikansi 5%, maka 2 table yang digunakan adalah:

2 9,488

Balita Gizi Buruk


Tinggi Normal Rendah Total
Jumlah Puskesmas

Banyak 0 0 2 2
Normal 0 0 1 1

Sedikit 4 2 1 7

Total 4 2 4 10

2. Menentukan Nilai Ekspektasi

Total baris Total Kolom


Fekspektasi
TotalKesel uruhan

Balita Gizi Buruk Tinggi Normal Rendah Total

Jumlah Puskesmas Fo Fe Fo Fe Fo Fe
1 1,2 0 0,6 2 1,2 3
Banyak
1 0,4 0 0,2 0 0,4 1
Normal
2 2,4 2 1,2 2 2,4 6
Sedikit
4 4 2 2 4 4 10
Total

Rumus Chi square:

( fo fe) 2

2

fe

(1 1,2) 2 (1 0,4) 2 (2 2,4) 2 (0 0,6) 2 (0 0,2) 2 (2 1,2) 2 (2 1,2) 2 (0 0,4) 2 (2 2,4) 2


2
1,2 0,4 2,4 0,6 0,2 1,2 1,2 0,4 2,4

2 3,333333
KURVA KHI KUADRAT

2 2
0 3,34 9,49

Kesimpulan: Dengan perhitungan menggunakan chi square, dapat disimpulkan bahwa tidak ada
hubungan yang signifikan antara jumlah puskesmas dengan jumlah balita yang menderita kurang
gizi (H0 diterima) atau hubungan yang terjadi tidak signifikan. Artinya, jumlah puskesmas tidak
terlalu berpengaruh terhadap jumlah balita yang mengalami gizi buruk.

a. Menggunakan Uji Korelasi Product Moement

X Y X2 Y2 XY
51566761 110,4601 75472,31
7181 10,51
51768025 65,7721 58351,45
7195 8,11
52374169 56,7009 54494,61
7237 7,53
52954729 39,69 45845,1
7277 6,30
53421481 55,8009 54598,23
7309 7,47
54952569 73,1025 63381,15
7413 8,55
58813561 77,44 67487,2
7669 8,80
67798756 29,16 44463,6
8234 5,40
81090025 24,01 44124,5
9005 4,90
93219025 32,49 55033,5
9655 5,70

Rumus korelasi product moement:

n xy x y
R
(( n x 2 ) ( x) 2 ) (( n y 2 ) ( y ) 2 )

563251,65 78175 73,27


R
((10 617959101) ( 78175) 2 ) ((10 564,6265) - (73,27) 2 )

563251,65 5727882,25
R
((6179591010 6111330625) (5646,265 - 5368,493))

- 95.365,75
R
(68260385 277,7721)

- 95.365,75
R
(68260385 277,7721)

- 95.365,75
R
18960830488

- 95.365,75
R -0,69257
137698,3315
Grafik Pengaruh Puskesmas Terhadap Gizi Buruk
12

7181, 10.51
10
7669, 8.8
7413, 8.55
8 7195, 8.11
7237, 7.53 7309, 7.47

6 7277, 6.3
Jumlah Balita Gizi Buruk 8234, 5.4 9655, 5.7
9005, 4.9
4

0
7181 7195 7237 7277 7309 7413 7669 8234 9005 9655

Jumlah Puskesmas

Kesimpulan: Menggunakan teknik perhitungan korelasi product moement, dapat disimpulkan


bahwa terdapat hubungan yang tidak terlalu signifikan antara jumlah puskesmas dengan gizi
balita. Hubungan yang terjadi adalah hubungan negative yang artinya jika jumlah puskesmas
meningkat, maka jumlah balita yang mengalami gizi buruk akan menurun.
BAB V

PENUTUP

V.1 Kesimpulan

Pertumbuhan jumlah puskesmas di Indonesia setiap tahunnya bertambah. Hal ini berarti
pemerintah telah berupaya memperhatikan kesehatan masyarakat dengan baik dengan
menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang menjangkau daerah-daerah. Pertumbuhan
puskesmas yang semakin banyak juga mempengaruhi tingkat kasus gizi buruk yang terjadi
walaupun tidak terlalu signifikan. Setiap tahun kasus gizi buruk di Indonesia mengalami
penurunan, Hal ini berarti sedikitnya puskesmas telah membantu meningkatkan kesehatan gizi
masyarakat.

V.2 Saran

Kinerja dari puskesmas sejauh ini berhasil mengurangi kasus gizi buruk yang terjadi di
Indonesia dengan program-program kerjanya. Namun, tingkat kasus gizi buruk di Indonesia
masih dikatakan tinggi jika dibandingkan dengan Negara berkembang lainnya. Oleh karena itu,
pembangunan fasilitas Puskesmas semestinya diikuti dengan perbaikan pada sistem pelayanan
kesehatannya sehingga masyarakat tidak kesulitan dalam meningkatkan kesehatan dan mampu
menerima informasi mengenai kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Nutrisi

http://pemberikomentar.blogspot.com/2013/12/pengertian-makanan-sehat-dan-bergizi.html

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22498/4/Chapter%20II.pdf

http://poltekkespalembang.ac.id/userfiles/files/hubungan_lama_asi_dengan_status_gizi_dan__tin
gkat_kecerdasan_anak_3-5tahun.pdf

http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/Profil%20Kesehatan%20Indonesia%202008.pdf

http://www.depkes.go.id/downloads/profil/Profil%20Kesehatan%20Indonesia%202005.pdf

http://www.litbang.depkes.go.id/sites/download/buku_laporan/lapnas_riskesdas2010/Laporan_ris
kesdas_2010.pdf

http://www.depkes.go.id/downloads/kunker/Ringkasan%20Eksekutif%20Indonesia.pdf