Anda di halaman 1dari 7

STASE ILMU PEDIATRI

FAILURE TO THRIVE

Oleh:

Nama : Shabrina Sasianti


NIM : 2011730098
Pembimbing : dr. Prastowo, Sp. A
Rumah Sakit : RSIJ Cempaka Putih

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

TAHUN 2015

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas karuniaNya sehingga penulis

dapat menyelesaikan referat dengan judul Failure To Thrive. Referat ini penulis ajukan

sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan kepanitraan klinik Stase Pediatri di

Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Kesehatan, Universitas

Muhammadiyah Jakarta.

Penulis menyadari referat ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan

saran sangat diharapkan guna perbaikan selanjutnya. Atas selesainya referat ini, penulis

menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada dr. Prastowo,

Sp. A yang telah memberikan persetujuan dan pembimbingan. Semoga referat ini dapat

menambah ilmu pengetahuan bagi penulis dan para pembaca.

Jakarta, Oktober 2015


Penulis

Shabrina Sasianti

BAB I

PENDAHULUAN
Deteksi dini tumbuh kembang anak adalah upaya untuk menemukan secara dini adanya
penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak prasekolah. Dengan ditemukan secara
dini penyimpangan yang ada, maka intervensi akan lebih mudah dilakukan, tenaga
ksesehatan juga mempunyai waktu dalam membuat rencana tindakan/intervensi yang tepat,
terutama ketika harus melibatkan ibu/keluarga. Bila penyimpangan terlambat diketahui maka
intervensinya akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak.

Ada 3 jenis deteksi dini tumbuh kembang yang dapat dikerjakan oleh tenaga kesehatan di
tingkat puskesmas dan jaringannya, berupa:

Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, yaitu untuk mengetahui /menemukan


status gizi kurang/ buruk dan mikro/ makrosefali
Deteksi dini penyimpangan perkembangan, yaitu untuk mengetahui gangguan
perkembangan anak, gangguan daya lihat, gangguan daya dengar.
Deteksi dini penyimpangan mental emosional, yaitu untuk mengetahui adanya
masalah mental emosional, autisme, dan gangguan pemusatan perhatian dan
hiperaktivitas. 1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Gagal tumbuh (failure to thrive FTT) adalah terminologi yang digunakan untuk menunjukkan
bayi dan anak yang tidak dapat tumbuh sesuai kurva pertumbuhan normal. Jadi gagal tumbuh
lebih merupakan tanda atau gejala dari suatu masalah pada pasien dan bukan merupakan
suatu diagnosis pasti atau derajat suatu penyakit. Seorang pasien dinyatakan gagal tumbuh
bila berat badan menurut umur berada di bawah persentil 3 atau berat badan menurut tinggi
badan menurut umur di bawah persentil 10 kurva CDC 2000.2

Etiologi

Lingkungan
Emotional deprivation
Rumination
Child maltreatment
Maternal depression
Poverty
Poor feeding techniques
Improper formula preparation
Improper mealtime environment
Unusual parental nutritional beliefs
Masalah Gastrointestinal
Cystic fibrosis and other causes of pancreatic insufficiency
Celiac disease
Other malabsorption syndromes
Gastrointestinal reflu
Congenital/anatomic
Chromosomal abnormalities, genetic syndromes
Congenital heart disease
Gastrointestinal abnormalities (e.g., pyloric stenosis, malrotation)
Vascular rings
Upper airway obstruction
Dental caries
Congenital immunodeficiency syndromes
Infeksi
HIV
Tuberculosis
Hepatitis
Urinary tract infection
Chronic sinusitis
Parasitic infection
Metabolik
Thyroid disease
Adrenal or pituitary disease
Aminoaciduria, organic aciduria
Galactosemia
Neurologik
Cerebral palsy
Hypothalamic and other CNS tumors
Hypotonia syndromes
Neuromuscular diseases
Degenerative and storage diseases
Renal
Chronic renal failure
Renal tubular acidosis
Urinary tract infection
Hematologik
Sickle cell disease
Iron deficiency anemia
Manifestasi klinis

Anamnesis

Dari anamnesis dapat diketahui penyebab dari FTT pada masa neonatal, yaitu oleh
manajemen ASI yang salah, cara pemberian susu formula yang salah, kelainan metabolik,
kelainan kromosom dan kelainan anatomis. Pada usia 3-6 bulan terdapat kemungkinan
penyebab antara lain underfeeding (karena kemiskinan), cara pembuatan formula yang salah,
intoleransi protein susu, disfungsi motorik oral, refluks gastroesofagus dan penyakit jantung
bawaan. Pada usia 7-12 bulan, yaitu keterlambatan pemberian makanan padat, intoleransi
makanan, disfungsi motor oral, dan orang tua yang protektif. Di atas usia 12 bulan yaitu
masalah-masalah di atas ditambah dengan masalah psikososial. 2

Diperlukan pula anamnesis mengenai faktor prenatal dan postnatal yang mempengaruhi
pertumbuhan, termasuk di antaranya perawatan ketika kehamilan, penyakit ibu ketika
kehamilan, adanya pertumbuhan janin yang kurang, prematuritas, ukuran bayi. Diperlukan
pula indikator dari penyakit-penyakit.

Pemeriksaan Fisik

Dari pemeriksaan fisik harus dilakukan pengukuran berat badan, tinggi badan, dan lingkaran
kepala, serta status gizi anak tersebut. Pada pasien yang gizinya masih cukup, tidak
ditemukan gejala yang khas, sedangkan anak dengan gizi kurang anak tampak kurus tanpa
disertai kelainan fisis lainnya. Pasien yang mengalami gizi buruk terlihat cengeng, kurus
sekali, ditemukan wasting, ekstremitas hipo/ atrofi, crazy pavement dermatosis. Pada pasien
FTT akibat kelainan kromosom atau genetik dapat terlihat dismorfik. Pada anak juga harus
diperhatikan kemungkinan adanya child abuse. 2

Pada pemeriksaan fisik juga dicari tanda-tanda penyakit yang dapat membuat anak menjadi
gagal tumbuh seperti tanda-tanda infeksi, kelainan kongenital, jantung, paru dan sebagainya.

Pemeriksaan Penunjang

Dari pemeriksaan penunjang dilakukan pemeriksaan darah tepi lengkap, urinalisis dan feses
lengkap. Uji tuberkulin, dan pemeriksaan lain dilakukan atas indikasi sesuai penyakit dasar
yang dicurigai seperti analasis gas darah, dan elektrolit. 2

Tata Laksana

Dalam tata laksana FTT harus dicari dan diobati penyakit dasarnya apakah merupakan
kelainan organik atau non-organil. Pasien dengan FTT membutuhkan asupan kalori sampai
150% di atas kebutuhan hariannya (RDA). Kebutuhan harian dihitung berdasarkan berat
badan yang diharapkan (expected body weight: berat badan menurut tinggi badannya). Pada
pasien asupan vitamin dan mineral yang berlebihan tidak terindikasi. 2

Pada pasien dengan status gizi buruk harus dirawat dan ditatalaksana sesuai pedoman
tatalaksana gizi buruk yang telah tersedia yaitu: 2

Fase resusitasi: dilakukan resusitasi cairan, gangguan asam basa, elektrolit, mengatasi
hipotermia, dan hipoglikemia. Pemberian antibiotika dengan ketentuan sebagai berikut: bila
tanpa komplikasi diberikan Kotrimoksazol suspensi pedriatic secara oral, 2 kali/ hari selama
5 hari (2,5 ml bila BB<4 kg). Bila anak sakit berat (apatis, letargi) atau ada komplikasi
(hipoglikemia, hipotermia, infeksi kulit, saluran napas atau saluran kencing) diberikan
ampisilin 50 mg/Kg BB/im/iv. Setiap 6 jam selama 2 hari, dilanjutkan dengan Amoksisilin
secara oral 15 mg/KgBB setiap 8 jam selama 5 hari. Bila amoksisilin tidak ada, teruskan
ampisilin 50 mg/kg BB setiap 6 jam secara oral. Ditambah dengan gentamisin 7,5
mg/KgBB/im/iv sekali sehari selama 7 hari. Bila dalam 48 jam tidak terdapat kemajuan
klinis, tambahlah kloramfenikol 25 mg/kgBB/im/iv setiap 6 jam selama 5 hari. Bila terdeteksi
kuman yang spesifik diberikan antibiotika yang sesuai. Bila anoreksia menetap setelah 5 hari,
pemberian antibiotika diteruskan sampai 10 hari.
Fase stabilitasi: diberikan makanan cair dengan asupan kalori sebesar 80-100 kkal/kgBB
menggunakan formula 75. Dilakukan koreksi mikronutrien.

Fase transisi dilakukan peningkatan pemberian makanan dengan asupan kalori sampai
sebesar 150-200 kkal/kgBB dengan tujuan untuk tumbuh kejar. Formula yang digunakan
adalah F100. Diberikan suplementasi Fe, serta stimulasi diteruskan

Pada fase rehabilitasi diberikan formula F135, stimulasi tetap diteruskan. Pasien dipulangkan
bila sudah dalam keadaan status gizi kurang, asupan makan baik, orang tua mengerti cara
pemberian makanan dan tidak ditemukan lagi penyakit.

BAB III

DAFTAR PUSTAKA

1. Rusmil K. Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak di Tingkat
Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta: Direktorat Bina Kesehatan Anak Departemen
Kesehatan RI; 2006.
2. Sastroasmoro S. Panduan pelayanan Medis Departemen Ilmu Kesehatan Anak.
Jakarta: RSUP Nasional dr. Cipto Mangunkusumo.;2007.
3. Kliegman RM, Marcdante KJ, Jenson HB, Behrman RE (editors). Nelson Essentials
of Pediatrics. 5th ed. Singapore: Elsevier Saunders; 2007.