Anda di halaman 1dari 11

Makalah Kesultanan Banten

Tugas Sejarah Indonesia

Kelompok 7
Disusun oleh
1. Afrisnihalinda ( 3 )
2. Aina RizkiatuZulfa ( 7 )
3. Nurkholis ( )
4. M. Ilman Rofiq ( )

Kelas : X IIS 2

MA NU 06 CEPIRING
Tahun Pelajaran 2016 / 2017
BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Agama dan kebudayaan islam berpengaruh besar terhadap cara hidup, pola pikir, dan
budaya Bangsa Indonesia. Dengan adanya pengaruh agama islam, kota-kota pantai tumbuh
menjadi kerajaan-kerajaan. Perkembangan islam di indonesia ditandai dengan munculnya
kerajaan-kerajaan yang bercorak islam seperti Samudera Pasai, Aceh, Demak, Banten,
Mataram, Gowa-Tallo (Makassar) Ternate, dan Tidore.

2. RUMUSAN MASALAH
A. Letak Kesultanan Banten
B. Sejarah Awal Terbentuknya Kesultanan Banten
C. Silsilah Raja-Raja Kesultanan Banten
D. Raja-Raja yang Terkenal
E. Aspek Kehidupan Masyarakat Kesultanan Banten
1. Aspek Kehidupan Politik
2. Aspek Kehidupan Ekonomi
3. Aspek Kehidupan Sosial
4. Aspek Kehidupan Budaya
F. Puncak Kejayaan Kesultanan Banten
G. Masa Kemunduran Kesultanan Banten
H. Informasi Khusus mengenai Kesultanan Banten
I. Peninggalan Kesultanan Banten
BAB II
PEMBAHASAN

A. LETAK GEOGRAFIS KESULTAN BANTEN


Secara geografis, Kesultanan Banten terletak di Jawa Barat bagian utara (sekarang
Provinsi Banten) sampai ke Lampung di Sumatera. Kesultanan Banten terletak di wilayah
Banten, di ujung barat Pulau Jawa.

B. SEJARAH AWAL TERBENTUKNYA KESULTANAN BANTEN


Kesultanan ini berawal sekitar tahun 1526 ketika Demak memperluas pengaruhnya
dengan menaklukkan beberapa kawasan pelabuhan dan menjadikannya pangkalan militer serta
kawasan perdagangan. Pasukan Demak dipimpin oleh Fatahillah (Faletehan) menantu Syarif
Hidayatullah (Sunan Gunung Djati) dan adik ipar Fatahillah yaitu Pangeran Sabakingking atau
lebih sohor dengan sebutan Maulanan Hasanuddin.
Pada awalnya, kawasan Banten dikenal dengan nama Banten Girang yang merupakan
bagian dari kerajaan Sunda (Pajajaran) yang bercorak Hindu. Kedatangan pasukan kerajaan
dibawah pimpinan Fatahillah dan Maulana Hasanuddin ke kawasan tersebut selain untuk
perluasan wilayah juga sekaligus penyebaran dakwah Islam.
Karena dipicu oleh adanya kerjasama Sunda-Portugis dalam bidang ekonomi dan politik,
hal ini dianggap dapat membahayakan kedudukan Kerajaan Demak selepas
kekalahan mereka mengusir Portugis dari Malaka tahun 1513. Atas perintah Sultan
Trenggono, Fatahillah ditugaskan untuk melakukan penyerangan dan penaklukkan Pelabuhan
Sunda Kelapa, tetapi sebelum menyerang Banten, konon Fatahillah terlebih dahulu
berkonsolidasi dengan mertuanya Syarif Hidayatullah yang saat itu diberikan kekuasaan oleh
Sultan Demak untuk memerintah Cirebon.
Pada 1522, pasukan Demak dan Cirebon bergabung menuju Banten dibawah pimpinan
Fatahillah, Syarif Hidayatullah, dan Maulana Hasanuddin juga ikut serta dalam penyerangan
tersebut, Fatahillah mendirikan benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan, yang
kemudian hari menjadi pusat pemerintahan, yakni Kesultanan Banten.
Pada tahun 1526 Banten berhasil direbut, termasuk Pelabuhan Sunda Kelapa yang waktu
itu merupakan pelabuhan utama Kerajaan Pajajaran, kemudian diganti namanya menjadi
Jayakarta. Penguasaan atas Jayakarta berhasil menghambat gerak maju Portugis baik dari segi
politis maupun ekonomis. Selanjutnya, pusat pemerintahan yang semula berkedudukan di
Banten Girang dipindahkan ke Surosowan yang dekat pantai, hal ini dimaksudkan untuk
memudahkan hubungan antara pesisir Sumatera sebelah barat melalui Selat Sunda dan Selat
Malaka. Pada masa itu Malaka telah jatuh dibawah kekuasaan Portugis, sehingga banyak
pedagang yang mengalihkan jalur perdagangannya ke Sulat Sunda.
Atas penunjukkan sultan Demak, pada tahun 1526 Maulana Hasanuddin diangkat sebagai
Adipati Banten. Pada tahun 1552, Banten diubah menjadi kerajaan vassal dari Demak, dengan
Maulana Hasanuddin sebagai pemimpinnya.
Seiring kemunduran Demak terutama setelah meninggalnya Sultan Trenggana, Banten
melepaskan diri dari vassal kerajaan Demak dan menjadi kesultanan yang mandiri. Kota
Surosowan didirikan sebagai ibu kota atas petunjuk Syarif Hidayatullah dan Maulana
Hasanuddin menjadi sultan pertama, kendati demikian, Fatahillah tetap dianggap sebagai
peletak dasar kesultanan Banten.

C. SILSILAH RAJA-RAJA KESULTANAN BANTEN


1. Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570)
2. Sultan Maulana Yusuf (1570-1580)
3. Sultan Maulana Muhammad (1580-1596)
4. Pangeran Ratu (1596-1651)
5. Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1672)
6. Sultan Haji (1672-1686)
7. Abdul Fadhl / Sultan Yahya (1687-1690)
8. Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733)
9. Muhammad Syifa Zainul Ar / Sultan Arifin (1750-1752)
10. Muhammad Wasi Zainifin (1733-1750)
11. Syarifuddin Artu Wakilul Alimin (1752-1753)
12. Muhammad Arif Zainul Asyikin (1753-1773)
13. Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799)
14. Muhyiddin Zainush Sholihin (1799-1801)
15. Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802)
16. Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)
17. Aliyuddin II (1803-1808)
18. Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809)
19. Muhammad Syafiuddin (1809-1813)
20. Muhammad Rafiuddin (1813-1820)

D. RAJA-RAJA YANG TERKENAL


1. Maulana Hasanuddin
Maulana Hasanuddin berandil besar dalam meletakkan fondasi Islam di Nusantara hal ini
dibuktikan dengan berbagai bangunan peribadatan seperti masjid dan sarana-sarana
pendidikan Islam seperti pesantren. Ia juga dikenal sebagai sultan yang secara berkala
mengirim mubaligh ke berbagai daerah yang telah dikuasainya. Pada masa jayanya, wilayah
kekusaan Kesultanan meliputi Serang, Pandeglang, Lebak dan Tanggerang.
2. Maulana Yusuf
Ia melanjutkan ekspansi Banten ke kawasan pedalaman Sunda dengan menaklukan Pakuan
Pajajaran tahun 1579. Islam pun masuk ke wilayah pedalaman tersebut.
3. Pangeran Ratu
Sultan ini dikenal karena melakukan hubungan diplomasi dengan negara-negara lain termasuk
dengan Raja Inggris, James I tahun 1605 dan tahun 1629 dengan Charles I.
4. Sultan Ageng Tirtayasa
Pada masa pemerintahannya kesultanan Banten mengalami puncak kejayaaan. Banten
semakin mengandalkan dan mengembangkan perdagangan. Monopoli atas lada di Lampung
menempatkan Banten sebagai pedagang perantara dan salah satu pusat niaga yang penting.
Banten menerapkan cukai atas kapal-kapal yang singgah Banten. Pemungutan ini dilakukan
oleh Syahbandar yang berada di kawasan yang dinamakan Pabean.

E. ASPEK KEHIDUPAN MASYARAKAT KESULTANAN BANTEN


1. Aspek Kehidupan Politik
Seiring kemunduran Demak terutama setelah meninggalnya Sultan Trenggono, Banten
yang sebelumnya vassal (kerajaan bawahan) Demak melepaskan diri dan menjadi kesultanan
yang mandiri.
Kota Surosowan didirikan sebagai ibu kota atas petunjuk Syarif Hidayatullah dan
Maulana Hasanuddin menjadi sultan pertama. Pada masa jayanya, wilayah kekuasaan
Kesultanan Banten meliputi Serang, Pandeglang, Lebak, dan Tanggerang.
Banten semakin maju di bawah pemerintahan Sultan Hasanudin karena didukung oleh
faktor-faktor berikut ini:
1. Letak Banten yang strategis terutama setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis, Banten
menjadi bandar utama karena dilalui jalur perdagangan laut.
2. Banten menghasilkan rempah-rempah lada yang menjadi perdagangan utama bangsa Eropa
menuju Asia.
Penguasa Banten selanjutnya adalah Maulana Yusuf (1570-1580), putra Hasanuddin. Di
bawah kekuasaannya Kerajaan Banten pada tahun 1579 berhasil menaklukkan dan menguasai
Kerajaan Pajajaran (Hindu). Akibatnya pendukung setia Kerajaan Pajajaran menyingkir ke
pedalaman, yaitu daerah Banten Selatan, mereka dikenal dengan Suku Badui.

Maulana Yusuf digantikan oleh Maulana Muhammad (1580-1596). Pada akhir


kekuasaannya, Maulana Muhammad menyerang Kesultanan Palembang. Dalam usaha
menaklukkan Palembang, Maulana Muhammad tewas dan selanjutnya putra mahkotanya yang
bernama Pangeran Ratu naik takhta. Ia bergelar Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir.
Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa putra Pangeran Ratu yang
bernama Abdul Fattah yang bergelar Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682).Sultan Ageng
mengadakan pembangunan, seperti jalan, pelabuhan, pasar, masjid yang pada dasarnya untuk
meningkatkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat Banten. Namun sejak VOC turut campur
tangan dalam pemerintahan Banten, kehidupan sosial masyarakatnya mengalami kemerosotan.
Keadaan semakin memburuk ketika terjadi pertentangan antara Sultan Ageng dan Sultan
Haji, putranya dari selir. Pertentangan ini berawal ketika Sultan Ageng mengangkat Pangeran
Purbaya (putra kedua) sebagai putra mahkota. Pengangkatan ini membuat iri Sultan Haji.
Berbeda dengan ayahnya, Sultan Haji memihak VOC. Bahkan, dia meminta bantuan VOC
untuk menyingkirkan Sultan Ageng dan Pangeran Purbaya. Sebagai imbalannya, VOC
meminta Sultan Haji untuk menandatangani perjanjian pada tahun 1682 yang isinya, antara
lain, Belanda mengakui Sultan Haji sebagai sultan di Banten; Banten harus melepaskan
tuntutannya atas Cirebon; Banten tidak boleh berdagang lagi di daerah Maluku.
Pada tahun 1683, Sultan Ageng tertangkap oleh VOC sedangkan Pangeran Purbaya dapat
meloloskan diri. Setelah menjadi tawanan Belanda selama delapan tahun, Sultan Ageng wafat
(1692). Adapun Pangeran Purbaya tertangkap oleh Untung Suropati, utusan Belanda, dan
wafat pada tahun 1689.
2. Aspek Kehidupan Ekonomi
Banten di bawah pemerintahan sultan ageng tirtayasa dapat berkembang menjadi bandar
perdagangan dan pusat penyebaran agama islam. Adapun faktor-faktornya ialah:
1) letaknya strategis dalam lalu lintas perdagangan.
2) jatuhnya malaka ke tangan portugis, sehingga para pedagang islam tidak lagi singgah di
malaka namun langsung menuju banten, banten mempunyai bahan ekspor penting yakni lada.
Pada masa Sultan Ageng antara 1663 dan 1667 pekerjaan pengairan besar dilakukan
untuk mengembangkan pertanian. Antara 30 dan 40 km kanal baru dibangun dengan
menggunakan tenaga sebanyak 16.000 orang. Di sepanjang kanal tersebut, antara 30 dan 40
ribu hektar sawah baru dan ribuan hektar perkebunan kelapa ditanam. 30 000-anpetani
ditempatkan di atas tanah tersebut, termasuk orang Bugis dan Makasar. Perkebunan tebu, yang
didatangkan saudagar Cina pada tahun 1620-an, dikembangkan.
Banten yang menjadi maju banyak dikunjungi pedagang-pedagang dari arab, gujarat,
persia, turki, cina dan sebagainya. Di kota dagang banten segera terbentuk perkampungan-
perkampungan menurut asal bangsa itu, seperti orang-orang arab mendirikan kampung
pakojan, orang cina mendirikan kampung pacinan, orang-orang indonesia mendirikan
kampung banda, kampung jawa dan sebagainya.
3. Aspek Kehidupan Sosial
Sejak banten di-islamkan oleh fatahilah (faletehan) tahun 1527, kehidupan sosial
masyarakat secara berangsur- angsur mulai berlandaskan ajaran-ajaran islam.
Kehidupan sosial masyarakat banten semasa sultan ageng tirtayasa cukup baik, karena
sultan memerhatikan kehidupan dan kesejahteran rakyatnya. Namun setelah sultan ageng
tirtayasa meninggal, dan adanya campur tangan belanda dalam berbagai kehidupan sosial
masyarakat berubah merosot tajam.
4. Aspek Kehidupan Budaya
Masyarakat yang berada pada wilayah Kesultanan Banten terdiri dari beragam etnis yang
ada di Nusantara, antara lain: Sunda, Jawa, Melayu, Bugis, Makassar, dan Bali. Beragam suku
tersebut memberi pengaruh terhadap perkembangan budaya di Banten dengan tetap
berdasarkan aturan agama Islam. Pengaruh budaya Asia lain didapatkan dari migrasi
penduduk Cina akibat perang Fujian tahun 1676, serta keberadaan pedagang India dan Arab
yang berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Dalam bidang seni bangunan Banten meninggalkan seni bangunan Masjid Agung Banten
yang dibangun pada abad ke-16. Selain itu, Kerajaan Banten memiliki bangunan istana dan
bangunan gapura pada Istana Kaibon yang dibangun oleh Jan Lucas Cardeel, seorang Belanda
yang telah memeluk agama Islam. Sejumlah peninggalan bersejarah di Banten saat ini
dikembangkan menjadi tempat wisata sejarah yang banyak menarik kunjungan wisatawan dari
dalam dan luar negeri.

F. PUNCAK KEJAYAAN KESULTANAN BANTEN


Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng
Tirtayasa. Hal-hal yang dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa terhadap kemajuan Kerajaan
Banten adalah sebagai berikut:
1. Memajukan wilayah perdagangan. Wilayah perdagangan Banten berkembang sampai ke
bagian selatan Pulau Sumatera dan sebagian wilayah Pulau Kalimantan.
2. Banten dijadikan sebagai tempat perdagangan internasional yang mempertemukan pedagang
lokal dengan para pedagang asing dari Eropa.
3. Memajukan pendidikan dan kebudayaan Islam sehingga banyak murid yang belajar agama
Islam ke Banten.
4. Melakukan modernisasi bangunan keraton dengan bantuan arsitektur Lucas Cardeel.
Sejumlah situs bersejarah peninggalan Kerajaan Banten dapat kita saksikan hingga sekarang
di wilayah Pantai Teluk Banten.
5. Membangun armada laut untuk melindungi perdagangan. Kekuatan ekonomi Banten
didukung oleh pasukan tempur laut untuk menghadapi serangan dari kerajaan lain di
Nusantara dan serangan pasukan asing dari Eropa.

G. MASA KEMUNDURAN KESULTANAN BANTEN


Kerajaan Banten mengalami kemunduruan berawal dari perselisihan antara Sultan Ageng
dengan putranya, Sultan Haji atas dasar perebutan kekuasaan. Situasi ini dimanfaatkan oleh
VOC dengan memihak kepada Sultan Haji. Kemudian Sultan Ageng bersama dua putranya
yang lain bernama Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf terpaksa mundur dan pergi ke arah
pedalaman Sunda. Namun, pada 14 Maret 1683 Sultan Ageng berhasil ditangkap dan ditahan
di Batavia. Dilanjutkan pada 14 Desember 1683, Syekh Yusuf juga berhasil ditawan oleh VOC
dan Pangeran purbaya akhirnya menyerahkan diri.
Atas kemenangannya itu, Sultan Haji memberikan balasan kepada VOC berupa
penyerahan Lampung pada tahun 1682. Kemudian pada 22 Agustus 1682 terdapat surat
perjanjian bahwa Hak monopoli perdagangan lada Lampung jatuh kedatangan VOC. Sultan
Haji meninggal pada tahun 1687.
Setelah meninggalnya Sultan Haji, VOC mulai mencengkramkan pengaruhnya di
Kesultanan Banten, sehingga pengangkatan para Sultan Banten mesti mendapat persetujuan
dari Gubernur Jendral Hindia Belanda di Batavia. Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya
diangkat mengantikan Sultan Haji namun hanya berkuasa sekitar tiga tahun, selanjutnya
digantikan oleh saudaranya Pangeran Adipati dengan gelar Sultan Abul Mahasin Muhammad
Zainul Abidin dan kemudian dikenal juga dengan gelar Kang Sinuhun ing Nagari Banten.
Perang saudara yang berlangsung di Banten meninggalkan ketidakstabilan pemerintahan
masa berikutnya. Konfik antara keturunan penguasa Banten maupun gejolak ketidak puasan
masyarakat Banten, atas ikut campurnya VOC dalam urusan Banten. Perlawanan rakyat
kembali memuncak pada masa akhir pemerintahan SultanAbul Fathi Muhammad Syifa Zainul
Arifin, di antaranya perlawanan Ratu Bagus Buang dan Kyai Tapa. Akibat konflik yang
berkepanjangan Sultan Banten kembali meminta bantuan VOC dalam meredam beberapa
perlawanan rakyatnya sehingga sejak 1752 Banten telah menjadi vassal dari VOC.

H. INFORMASI KHUSUS MENGENAI KESULTANAN BANTEN

PENGHAPUSAN KESULTANAN BANTEN

Pada tahun 1808 Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808-
1810, memerintahkan pembangunan Jalan Raya Pos untuk mempertahankan pulau Jawa
dari serangan Inggris. Daendels memerintahkan Sultan Banten untuk memindahkan ibu
kotanya ke Anyer dan menyediakan tenaga kerja untuk membangun pelabuhan yang
direncanakan akan dibangun di Ujung Kulon. Sultan menolak perintah Daendels, sebagai
jawabannya Daendels memerintahkan penyerangan atas Banten dan penghancuran Istana
Surosowan. Sultan beserta keluarganya disekap di Puri Intan (Istana Surosowan) dan
kemudian dipenjarakan di Benteng Speelwijk. Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq
Zainulmutaqin kemudian diasingkan dan dibuang ke Batavia. Pada 22 November 1808,
Daendels mengumumkan dari markasnya di Serang bahwa wilayah Kesultanan Banten
telah diserap ke dalam wilayah Hindia Belanda.
Kesultanan Banten resmi dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada
tahun itu, Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin dilucuti dan dipaksa
turun tahta oleh Thomas Stamford Raffles. Peristiwa ini merupakan pukulan pamungkas yang
mengakhiri riwayat Kesultanan Banten.

I. PENINGGALAN KESULTANAN BANTEN


Peninggalan tersebut ada yang masih utuh namun banyak yang tinggal reruntuhannya saja
bahkan tidak sedikit yang berupa fragmen-fragmen kecil. Peninggalan berupa artefak artefak
kecil yang dikumpulkan dalam penelitian dan penggalian kepurbakalaan kini telah disimpan di
Museum Situs Kepurbakalaan yang terletak di halaman depan bekas Keraton Surosowan.
Peninggalan kepurbakalaan tersebut adalah :
1. Komplek Keraton Surosowan
2. Komplek Mesjid Agung
3. Meriam Ki Amuk
4. Mesjid Pacinan Tinggi
5. Komplek Keraton Kaibon
6. Mesjid Koja
7. Kerkhof
8. Benteng Spelwijk
9. Klenteng Cina
10. Watu Gilang
11. Makam Kerabat Sultan
12. Mesjid Agung Kenari
13. Benda-benda purbakala di Museum Banten
14. Danau Kasikardi
15. Pengindelan Emas
BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN

Jadi, kesimpulannya Kerajaan Banten pada waktu dulu dikuasai oleh Fatahilah
(panglima perang demak). Banten masih tetap menjadi daerah kekuasaan Demak, namun
setelah terjadi kegoncangan politik akibat perebutan kekuasaan, banten akhirnya melepaskan
diri.

Dan akhirnya kerajaan banten masa pemerintahannya itu dilakukan oleh orang-orang
yang akan memajukan pemerintahan di Kerajaan Banten tokohnya yaitu Hasanuddin,
Panembahan Yusuf, Maulana Muhammad, Sultan Ageng Tirtayasa. Mereka adalah orang-
orang yang memimpin masa pemerintahan, sehingga kerajaan banten memperbaiki masa
pemerintahannya.

3.2 PENUTUP

Kami ucapkan terima kasih bagi yang telah membaca resume ini. Kami merasa
bahwa dalam kliping ini masih banyak kekurangan dan kami mengharap Kritik dan
Saran dari pembaca, demi kesempurnaan makalah ini.