Anda di halaman 1dari 4

Tramadol Efektif Menghilangkan Shivering

Pasca-anestesi Regional

Sekitar 40-60% pasien dengan anestesi regional akan merasakan tubuhnya shivering. Demikian
De Whitte dan Sessler et al menyebutkan. Padahal, saat ini anestesi regional menjadi lebih
populer dan merupakan teknik anestesi yang aman untuk berbagai operasi. Shivering merupakan
kondisi yang sangat tidak menyenangkan dan secara fisiologis penuh tekanan pada pasien.
Shivering ringan dapat meningkatkan konsumsi oksigen seperti saat melakukan olah raga ringan,
Sedangkan shivering yang berat dapat meningkatkan metabolisme dan konsumsi oksigen hingga
100% sampai 600%. Hal tersebut akan memicu terjadinya hipoksemia arteri, asidosis laktat,
peningkatan denyut nadi, tekanan darah, tekanan intraokuler, dan masih banyak lagi. Tentu akan
membahayakan bagi pasien yang awalnya mengalami gangguan kardiorespirasi.

Berbagai metode tersedia untuk mengontrol shivering selama anestesi. Metode non-farmakologis
menggunakan alat yang dapat mempertahankan keadaan normotermia dianggap efektif, namun
sebagian mahal pengadaannya. Selain itu, tidak selalu dapat digunakan dalam tiap keadaan
rumah sakit.

Metode farmakologis lebih dipilih karena lebih efektif dari segi biaya dan bisa disediakan
dengan mudah. Beberapa obat yang dapat digunakan untuk mengatasi shivering pada pasien
yang mendapat anestesi regional ialah petidin, clonidin, doxapram, ketanserine, tramadol,
nefopam, dan sebagainya.

Dhimar et al dalam penelitiannya mencoba membandingkan efikasi dan keamanan tramadol


yang merupakan opioid sintetik standar dengan petidin, obat standar dalam penanganan
shivering. Penelitian mereka bertujuan membandingkan efikasi, potensi, efek hemodinamik, dan
komplikasi atau efek samping tramadol dibandingkan dengan petidin dalam mengendalikan
shivering selama anestesi regional diberikan.

Artikel lengkap khusus PELANGGAN, silahkan Login di BERANDA.{reg}

Metode

Penelitian Dhimar et al ini merupakan studi terandomisasi tersamar ganda yang dilakukan
Medical College and S.S.G. Hospital Vadodara, India. Setelah memperoleh izin penelitian dari
komite etik, dilakukan rekrutmen pasien dengan kriteria inklusi laki-laki atau perempuan, usia
antara 20 hingga 60 tahun, dan termasuk dalam ASA I, II, atau III yang menjalani operasi apapun
dengan anestesi regional.
Pasien dengan demam, penyakit tiroid, obesitas, diabetes melitus, alergi obat, kondisi
kardiorespirasi yang tidak baik, serta pasien dengan pengobatan lama fenotiazin dan penyekat
MAO dieksklusi dari penelitian ini.

Premedikasi yang diberikan kepada subjek penelitian ini ialah atropin injeksi atau glikopirolat
intravena. Temperatur aksila praoperatif diukur pada semua pasien. Pemberian anestesi dengan
memblok saraf pusat ataupun saraf perifer disesuaikan dengan jenis operasi.

Pasien yang kemudian mengalami shivering dirandomisasi dalam kelompok T dan P. Kelompok
T memperoleh tramadol 1% dengan dosis 1 mg/kg berat badan, sedangkan kelompok P diberikan
petidin 1% sebanyak 1 mg/kg berat badan.

Semua pasien kemudian dinilai tingkat shiveringnya, kapan hilangnya, status hemodinamik, dan
komplikasi bila ada. Subjek diobservasi pada interval 1-5 menit, kemudian pada menit ke-10,
20, 30, 45, dan 60. Denyut nadi, tekanan darah, saturasi O2, frekuensi pernapasan, dan temperatur
dicatat segera setelah anestesi regional dilakukan, pada saat shivering terjadi, dan pada saat obat
diberikan. Tiap rekurensi shivering juga dicatat. Jika ini terjadi, dapat ditambahkan obat yang
sama dengan dosis 0,5 mg/kg berat badan.

Hasil

Kedua kelompok kemudian dibandingkan berdasarkan usia, berat, jenis kelamin, dan status fisik
ASA (tabel 1).

Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada durasi operasi dan temperatur aksila, dengan
tingkat shivering di awal penelitian pada dua kelompok. Mula hilangnya shivering ditemukan
sekitar satu menit pada kelompok T dan tiga menit pada kelompok P. Hasil ini didapatkan
bermakna secara statistik. Sementara secara hemodinamik, tidak terdapat perbedaan signifikan
antara kedua kelompok.

Rekurensi timbulnya shivering diobservasi sampai setelah 50 menit dan insidennya pada
kelompok P adalah 50% dan hanya 10% pada kelompok T. Perbedaan ini secara statistik
dianggap signifikan.

Setelah mengulangi pemberian obat, shivering menghilang dengan sempurna. Komplikasi seperti
mual dan muntah timbul pada 20% pasien di kelompok P dan 6,66% pada kelompok T. Namun,
perbedaan komplikasi ini tidak signifikan secara statistik. Bagaimana gambaran tramadol dan
petidin tiap menitnya dan dikaitkan dengan tingkat shivering yang terjadi dapat dilihat pada
grafik 1.

Pembahasan
Shivering dapat timbul pada pemberian anestesi regional, baik dengan blok sentral ataupun
perifer, kemungkinan merupakan akibat dari penurunan suhu inti tubuh atau akibat informasi
salah yang diterima reseptor.

Adapun faktor yang dapat menurunkan suhu inti tubuh ialah blok simpatik yang menyebabkan
vasodilatasi perifer, penurunan aliran darah di kulit yang mengakibatkan peningkatan kehilangan
panas lewat kulit, ruang operasi yang dingin, pemberian infus cepat dengan cairan intravena
dingin, dan efek langsung cairan anestesi dingin pada struktur korda spinalis yang termosensitif.

Shivering merupakan gambaran adanya respons termal terprogram yang tidak tepat untuk
meningkatkan temperatur tubuh. Bahkan, sebuah anestesi lokal yang dimasukkan ke ruang
ekstradural dapat mengubah petunjuk suhu lingkungan yang kemudian menyebabkan respons
yang tidak sesuai.

Dalam studi ini, digunakan tramadol sebagai metode terapi farmakologis untuk shivering.
Tramadol merupakan agonis opioid sintetik yang mencegah terjadinya shivering dengan
menghambat pengambilan kembali (re-uptake) serotonin dan norepinefrin, sehingga kemudian
terjadi aktivasi descending inhibitory spinalis pathway.

Tramadol juga memodulasi aktivitas nucleus median raphe yang bekerja pada reseptor m-opioid
dengan minimal efek pada reseptor k dan d. Sementara, petidin dominan bekerja pada reseptor k-
opioid. Efek anti shivering pada tramadol tersebut diperantarai oleh reseptor serotonergik atau
noradrenergik atau keduanya.

Pada penelitian ini diperlihatkan bagaimana shivering pasca-anestesi regional dapat hilang
dengan pemberian tramadol lebih cepat dibanding petidin. Hal serupa juga diperlihatkan pada
penelitian sebelumnya di mana hasil kelompok tramadol lebih baik.

Berkaitan dengan rekurensi, shivering timbul kembali setelah 50 menit pada 10% pasien dengan
tramadol dan 50% pasien yang diberi petidin. Temuan ini sesuai dengan penelitian sebelumnya
yang menyebutkan 8% pasien kelompok tramadol dan 13-50% pasien dengan petidin mengalami
rekurensi.

Penyebab terjadinya rekurensi ini kemungkinan akibat rendahnya konsentrasi obat yang aktif
dalam plasma saat hipotermia masih terjadi. Namun, sampai saat ini belum diketahui apakah
tingkat shivering yang lebih tinggi membutuhkan dosis obat yang lebih tinggi pula.

Dalam penelitian ini, kedua obat memberikan efek baik pada stabilitas hemodinamik pasien
sepanjang penelitian. Tidak terdapat depresi saluran pencernaan dalam observasi yang dilakukan.
Adapun efek samping yang tampak adalah mual dan muntah yang mudah diatasi dengan
penyekat reseptor H2 dan anti-emetik.

Penelitian sebelumnya menunjukkan penggunaan 1 mg/kg berat badan tramadol berkaitan


dengan lebih tingginya insiden mual, muntah, dan sedatif yang tidak ditemukan dalam penelitian
ini. Sementara itu, penelitian lainnya menyarankan dengan injeksi lambat tramadol dalam dua
menit dapat mengurangi dan mencegah mual serta muntah. Pada penelitian ini, baik tramadol
maupun petidin diberikan secara lambat pada semua pasien dan kasus.

Penelitian Dhimar et al menyimpulkan bahwa tramadol efektif dalam mengobati shivering yang
timbul setelah pemberian anestesi regional. Hal tersebut dikarenakan mula kerjanya cepat,
shivering terkontrol efektif, rekurensi lebih sedikit, dan efek samping minimal dalam dosis 1
mg/kg berat badan

http://www.jurnalmedika.com/edisi-tahun-2011/edisi-no-10-vol-xxxvii-2011/374-

fokus/745-tramadol-efektif-menghilangkan-shivering-pasca-anestesi-regional