Anda di halaman 1dari 19

Pengantar

Selama ini, teknologi telah berhasil meningkatkan kesejahteraan


umat manusia, tetapi diakui pula bahwa dampak yang
ditimbulkan oleh kemajuan teknologi itu juga banyak
menyebabkan perusakan terhadap lingkungan hidup. Kini
kesadaran terhadap kerusakan lingkungan hidup itu semakin kuat
di Indonesia dan mendapat perhatian besar.

Bahaya lubang ozon dan terjadinya pemanasan bumi (global


warming) dan bentuk pencemaran lingkungan lainnya semakin
mendapat perhatian dengan munculnya gerakan yang dikenal
denganBack-To-Nature. Orang-orang sekarang ingin mencari
tempat-tempat yang belum disentuh teknologi, mereka ingin
menyatu dengan alam.

Alam Indonesia yang memiliki potensi alam, flora dan fauna, serta
lingkungan yang cukup lestari itu kini mendapat perhatian besar
supaya dapat diselamatkan bebas dari pengaruh lingkungan dan
pencemaran yang dapat menimbulkan kerugian bagi penduduk
Indonesia yang jumlahnya kini mencapai 220 juta orang.

Gerakan kembali ke alam yang sekarang banyak dicanangkan


oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan beberapa pakar
lingkungan hidup, pada dasarnya merupakan peluang
(opportunities) bagi pengembangan ekowisata (ecotourism) di
Indonesia. kita yakin bahwa pengembangan ekowisata dilihat dari
usaha besar pembangunan untuk meningkatkan kemakmuran
rakyat Indonesia sekaligus kualitas hidup rakyat yang sudah
terlalu lama menderita.

Tantangan pembangunan utama menjelang abad-21 adalah


tuntutan untuk menampung akibat pertambahan penduduk yang
dihadapkan dengan sumber-sumber yang terbatas. Tantangan
pembangunan kedua menghadapi milenium ke-3 adalah
bagaimana menghapuskan kemiskinan di bumi Indonesia yang
katanya kaya-raya ini.

Tantangan ketiga yang tidak kalah beratnya adalah bahwa di


waktu yang akan datang, permintaan akan sumber-sumber alam
kita bertambah besar, baik untuk memenuhi kebutuhan akibat
jumlah penduduk yang semakin meningkat maupun kenaikan
pendapatan penduduk sehingga diperlukan pengelolaan sumber-
sumber alam yang lebih bertanggungjawab dari yang sudah-
sudah.

Dalam mengolah dan mengelola sumber-sumber alam, perlu


diperhatikan keharusan melestarikan sumber-sumber alam
dengan bertanggungjawab. Dengan cara demikian, sumber-
sumber alam itu tetap utuh untuk dimanfaatkan secara
berkesinambungan, tidak hanya untuk generasi sekarang tetapi
lebih-lebih untuk generasi yang akan datang.

Memang, kita jangan rakus dan kita harus dapat membangkitkan


sikap untuk tidak menghabiskan sumber-sumber alam untuk
keperluan sekarang saja. Di sinilah pentingnya peranan
ekowisata. Ekowisata tidak akan bisa eksis kalau sumber-sumber
alam tidak dikendalikan.

Hubungan antara ekowisata dan lingkunga, ibarat ikan dengan air.


Ikan tidak bisa hidup tanpa air, oleh karena itu sumber air harus
dan mutlak dipelihara dan kalau itu tidak dituruti, hari kiamat
sudah menunggu kita semua.

Pengertian dan Batasan

Apa yang dimaksud dengan Ecotourism? Dalam bahasa Indonesia


istilah ecotourism diterjemahkan menjadi Ekowisata, yaitu
sejenis pariwisata yang berwawasan lingkungan. Maksudnya,
melalui aktiitas yang berkaitan dengan alam, wisatawan diajak
melihat alam dari dekat, menikmati keaslian alam dan
lingkungannya sehingga membuatnya tergugah untuk mencintai
alam. Semuanya ini sering disebut dengan istilah Back-To-Nature.

Berbeda dengan pariwisata yang biasa kita kenal, ekowisata


dalam penyelenggaraannya tidak menuntut tersedianya fasilitas
akomodasi yang modern atau glamour yang dilengkapi dengan
peralatan yang serba mewah atau bangunan artifisial yang
berlebihan.

Pada dasarnya, ekowisata dalam penyelenggaraannya dilakukan


dengan kesederhanaan, memelihara keaslian alam dan
lingkungan, memelihara keaslian seni dan budaya, adat-istiadat,
kebiasaan hidup (the way of life), menciptakan ketenangan,
kesunyian, memelihara flora dan fauna, serta terpeliharanya
lingkungan hidup sehingga tercipta keseimbangan antara
kehidupan manusia dengan alam sekitarnya.

Misalnya, Pulau Kotok, salah satu pulau dalam kelompok Pulau


Seribu di Utara Jakarta. Pulau itu ditata sedemikian rupa sehingga
kelihatan tidak pernah mendapat sentuhan dunia modern. Di situ
tidak ada listrik, tidak ada radio atau TV, bahkan koran dan
majalah juga tidak disediakan. Pohon-pohon tidak boleh ditebang
sembarangan dan ranting tidak boleh dipatah.

Binatang tidak boleh dibunuh, kalau ada sarang jatuh dengan


anak atau telurnya, harus dikembalikan ke tempat semula.
Wisarawan yang darang ke sana tidur di rumah-rumah persis
seperti rumah rakyat biasa, mandi pakai gayung, WC (sedikit
dimodifikasi), kursi dan balai-balai untuk tempat istirahat. Jalan
setapak juga tidak diaspal, tetapi diatur secara rapi dan bersih
dan pendatang tidak boleh membuang sampah sembarangan.

Jadi, ekowisata bukan jenis pariwisata yang semata-mata


menghamburkan uang atau pariwisata glamour, melainkan jenis
pariwisata yang dapat meningkatkan pengetahuan, memperluas
wawasan, atau mempelajari sesuatu dari alam, flora dan fauna,
atau sosial-budaya etnis setempat.

Dalam ekowisata ada empat unsur yang dianggap amat penting,


yaitu unsur pro-aktif, kepedulian terhadap pelestarian lingkungan
hidup, keterlibatan penduduk lokal, unsur pendidikan. Wisatawan
yang datang tidak semata-mata untuk menikmati alam sekitarnya
tetapi juga mempelajarinya sebagai peningkatan pengetahuan
atau pengalaman.

Emil Salim, mantan Menteri Kependudukan dan Lingkungan hidup


dalam Harian Karya edisi hari Jumat tanggal 12 April 1991
memberi batasan tentang ekowisata sebagai berikut:

Ecotourism adalah pariwisata yang berwawasan lingkungan dan


pengembangannya selalu memperhatikan keseimbangan nilai-
nilai.
Oleh karena itu, kata Emil Salim, lingkungan alam dan kekayaan
budaya adalah aset utama pariwisata Indonesia yang harus dijaga
agar jangan sampai rusak atau tercemar.

Entin Supriatin dalam tulisannya berjudul Ada Lima Unsur Dalam


Pengelolaan Ekowisata yang dimuat dalam Berita
Wisata tanggal 21 Oktober 1997 memberikan batasan tentang
ekowisata sebagai berikut:

Puposeful travel to natural area to understand the culture and


natural history of the environment, taking care not to alter the
integrity of the ecosystem, while producing economic
opportunities that make the conservation of natural resources
beneficial to local people (Ecotourism Society).

Secara bebas batasan itu dapat diartikan sebagai


berikut: Ekowisata suatu jenis pariwisata yang kegiatannya
semata-mata menikmati aktivitas yang berkaitan dengan
lingkungan alam dengan segala bentuk kehidupan dalam kondisi
apa adanya dan berkencenderungan sebagai ajang atau sarana
lingkungan bagi wisatawan dengan melibatkan masyarakat di
sekitar kawasan proyek ekowisata.

Batasan tentang ekowisata oleh beberapa organisasi atau pakar


1. Australian National Ecoutourism Strategy, 1994:

Ekowisata adalah wisata berbasis alam yang berkaitan dengan


pendidikan dan pemahaman lingkungan alam dan dikelola dengan
prinsip berkelanjutan.

2. Alam A. Leq, Ph.D. The Ecotourism Market in The Asia Pacific Region, 1996:

Ekowisata adalah kegiatan petualangan, wisata alam, budaya,


dan alternatif yang mempunyai karakteristik:

Adanya pertimbangan yang kuat pada lingkungan dan


budaya lokal

Kontribusi positif pada lingkungan dan sosial-ekonomi lokal

Pendidikan dan pemahaman, baik untuk penyedia jasa


maupun pengunjung mengenai konservasi alam dan
lingkungan.
3. Hector Cebollos Lascurain, 1987:

Ekowisata adalah wisata ke alam perawan yang relatif belum


terjamah atau tercemar dengan tujuan khusus mempelajari,
mengagumi, serta perwujudan bentuk budaya yang ada di dalam
kawasan tersebut.

4. Linberg and Harkins, The Ecotourism Society, 1993:

Ekowisata adalah wisata alam asli yang bertanggungjawab


menghormati dan melestarikan lingkungan dan meningkatkan
kesejahteraan penduduk setempat.

Kalau kita simpulkan dari batasan yang dikemukakan di atas, kita


dapat memberikan batasan yang lebih sederhana sebagai berikut:

Ekowisata adalah suatu jenis pariwisata yang berwawasan


lingkungan dengan aktivitas melihat, menyaksikan, mempelajari,
mengagumi alam, flora dan fauna, sosial-budaya etnis setempat,
dan wisatawan yang melakukannya ikut membina kelestarian
lingkungan alam di sekitarnya dengan melibatkan penduduk
lokal.

Perbedaan batasan antara ekowisata dengan pariwisata biasa

Batasan ekowisata hendaknya memiliki ciri khusus dan berbeda


dengan batasan tentang pariwisata yang biasa kita kenal. Dalam
hal ini kita dapat membedakannnya sebagai berikut:

1. Objek dan atraksi wisata

Baik obyek maupun atraksi yang dilihat adalah yang berkaitan


dengan alam atau lingkungan, termasuk di dalamnya alam, flora
dan fauna, sosial dan ekonomi, dari budaya masyarakat di sekitar
proye yang memiliki unsur-unsur keaslian, langka, keunikan, dan
mengagumkan.

2. Keikutsertaan wisatawan

Keikutsertaan seorang wisatawan berkaitan keingintahuan


(curiousity), pendidikan (education), kesenangan (hoby), dan
penelitian (research) tentang sesuatu yang berkaitan dengan
lingkungan sekitar.
3. Keterlibatan penduduk setempat

Adanya keterlibatan penduduk setempat, seperti penyediaan


penginapan, barang/kebutuhan, memberikan pelayanan,
tanggungjawab memlihara lingkungan, atau bertindak sebagai
instruktur atau pemandu.

4. Kemakmuran masyarakat setempat

Proyek pengembangan ekowisata harus dapat meningkatkan


kemakmuran masyarakat di sekitar.

5. Kelestarian lingkungan

Proyek pengembangan ekowisata harus sekaligus dapat


melestarikan lingkungan, mencegah pencemaran seni dan
budaya, menghindari timbulnya gejolak sosial, dan memlihara
kenyamanan dan keamanan.

Kebijaksanaan Pengembangan Ekowisata

Kebijaksanaan pengembangan ekowisata dapat dilihat dari ruang


lingkup kepentingan nasional, seperti dijelaskan Undang-undang
dan peraturan pemerintah yang mengatur kebijaksanaan
pengembangan ekowisata sebagai berikut:

UU no.4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok


Lingkungan Hidup

Kepmen Parpostel No.KM.98/PW.102/MPPT-1987 tentang


Ketentuan Usaha Obyek Wisata.

Surat Keputusan Dirjen Pariwisata No.Kep.18/U/11/1988


tentang Pelaksanaan Ketentuan Usaha Obyek Wisata dan
Daya Tarik Wisata.

Surat Keputusan Bersama Menteri Kehutanan dan Menteri


Parpostel No.24/KPTS-11/89 dan No.KM.1/UM.209/MPPT-1998
tentang Peningkatan Koordinasi dua instansi tersebut untuk
mengembangkan Obyek Wisata Alam sebagai Obyek Daya
Tarik Wisata.

UU No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam


Hayati dan Ekosistem.
UU. No.9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan.

UU. No.24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruangan.

UU No.5 Tahun 1994 tentang Ratifikasi Konservasi


Keanekaragaman Hayati.

Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 1994 tentang


Pengelolaan Alam di zona pemanfaatan kawasan pelestarian
alam.

Peraturan Pemerintah No.67 Tahun 1996 tentang


Penyelenggaraan Kepariwisataan.

Pada dasarnya, kebijakasanaan pengembangan ekowisata itu


hendaknya dapat berpedoman pada hal-hal yang disebutkan
sebagai berikut:

1. Dalam pembangunan, prasarana dan sarana sangat


dianjurkan dilakukan sesuai kebutuhan saja, tidak berlebihan,
dan menggunakan bahan-bahan yang terdapat di daerah
tersebut.

2. Diusahakan agar penggunaan teknologi dan fasilitas modern


seminimal mungkin.

3. Pembangunan dan aktivitas dalam proyek dengan


melibatkan penduduk lokal semaksimal mungkin dengan
tujuan meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.

4. Masyarakat setempat dihimbau agar tetap memelihara adat


dan kebiasaan sehari-hari tanpa terpengaruh terhadap
kedatangan wisatawan yang berkunjung.

Sebagai pedoman dalam penyelenggaraan atau pengelolaan


suatu kawasan untuk dijadikan sebagai kawasan Ekowisata, harus
memperhatikan 5 unsur yang dianggap paling menentukan, yaitu:

1. Pendidikan (Education)

Aspek pendidikan merupakan bagian utama dalam mengelola


keberadaan manusia, lingkungan, dan akibat yang mungkin
ditimbulkan bila terjadi kesalahan atau kekeliruan dalam
manajemen pemberdayaan lingkungan.
Misi tersebut tidak mudah karena untuk menjabarkan dalam satu
paket wisata seringkali bentrok dengan kepentingan antara
perhitungan ekonomi dan terjebak dalam misi pendidikan
konservatif yang kaku.

2. Perlindungan atau Pembelaan (Advocasy)

Setiap pengelolaan ekowisata memerlukan integritas kuat karena


kadang-kadang nilai pendidikan dari ekowisata sering terjadi
salah kaprah. Misalnya, pada Taman Nasional seperti Raflesia di
Bengkulu yang memiliki ciri-ciri yang khas atau unik, waktu
sedang berkembang dipublikasikan secara gencar sebagai bunga
langka yang tidak ada duanya di dunia. Lingkungan di sekitar
bunga tersebut ditata sedemikian rupa dengan biaya yang relatif
mahal dan berbeda dengan keadaan lingkungan sekitarnya.
Tindakan yang membangun infrastruktur secara berlebihan justru
akan membuat perlindungan (Advocasy) terhadap bunga tadi
menjadi tersamar.

Seharusnya, prasarana yang dibuat hendaknya mampu


memberikan nilai-nilai berwawasan lingkungan dan menggunakan
bahan-bahan di sekitar obyek itu walau kelihatan sangat
sederhana. Dengan cara itu, keaslian dapat dipertahankan karena
dengan kesederhanaan itu masyarakat di sekitar kawasan mampu
mengelola dan mempertahankan kelestarian alam dengan
sendirinya tanpa mengada-ada.

3. Keterlibatan komunitas setempat (Community Involvement)

Dalam pengelolaan kawasan ekowisata, peran serta masyarakat


setempat tidak bisa diabaikan. Mereka lebih tahu dari pendatang
yang punya proyek karena keterlibatan mereka dalam persiapan
dan pengelolaan kawasan sangat diperlukan.

Mereka lebih mengetahui di mana sumber mata air yang banyak,


ahli tentang tanaman dan buah-buahan yang bisa dimakan untuk
keperluan obat, tahu mengapa binatang pindah tempat pada
waktu-waktu tertentu, sangat mengerti mengapa semut
berbondong-bondong meninggalkan sarangnya, karena takut
banjir yang segera datang, misalnya.
4. Pengawasan (Monitoring)

Kita sangat menyadari bahwa budaya yang berkembang pada


masyarakat di sekitar kawasan tidak sama dengan budaya
pengelola yang pendatang. Dalam melakukan aktivitas, akan
terjadi pergeseran yang lambat laun akan mengakibatkan
hilangnya kebudayaan asli. Ini harus diusahakan jangan sampai
terjadi.

Oleh karena itu, diperlukan pengawasan (monitoring) yang


berkesinambungan sehingga masalah integritas, loyalitas, atau
kualitas dan kemampuan untuk mengelola akan sangat
menentukan untuk mengurangi dampak yang timbul.

5. Konservasi (Conservation)

Dari kasus itu, baik pengelola maupun wisatawan yang datang


berkunjung harus menyadari bahwa tujuan pengembangan
ekowisata adalah aspek konservasi bagi suatu kawasan dengan
memperhatikan kesejahteraan, kelestarian, dan mempertahankan
kelestarian lingkungan kawasan itu sendiri.

Memang diakui bahwa pengelola kawasan ekowisata ibarat


memiliki pisau yang harus dilihat dari dua sisi mata pisau itu
sendiri. kita menjalankan misi dengan tujuan dua kepentingan
yang bertolak belakang satu dengan yang lainnya.

Pada satu sisi kita harus berpedoman pada prinsip ekonomi


dengan mencari keuntungan sebesar-besarnya, sedangkan sisi
lain kita harus menjalankan misi konservasi yang ketat dengan
nilai-nilai perlindungan yang tidak bisa ditawar-tawar. Oleh karena
itu, dalam perjalanannya sering terjadi menjurus pada hanya satu
sisi, biasanya karena kuatnya pengaruh manajemen yang
digariskan pengelola sebagai pengambil kebijaksanaan.

Kriteria Pengembangan Ekowisata

Pengembangan ekowisata memiliki kriteria khusus. Ada beberapa


aspek yang perlu diperhatikan sebagai bahan pertimbangan
dalam merumuskan kebijaksanaan pengembangan ekowisata,
yang penting diantaranya adalah cara-cara pengelolaan,
pengusahaan, penyediaan prasarana dan sarana yang diperlukan.
Atas dasar itu, sifat dan jenis kegiatan yang dilakukan juga harus
disesuaikan dengan kriteria tersebut pada setiap kawasan
ekowisata. Satu hal yang tidak pernah dilupakan adalah masalah
pelestarian lingkungan hidup yang merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dengan ekowisata.

Daerah yang biasa dijadikan kawasan ekowisata

Adapun daerah-daerah yang biasa dijadikan kawasan ekowisata,


baik di luar negeri maupun dalam negeri adalah:

1. Daerah atau wilayah yang diperuntukkan sebagai kawasan


pemanfaatan berdasarkan rencana pengelolaan pada
kawasan seperti Taman Wisata Pegunungan, Taman Wisata
Danau, Taman Wisata Pantai, atau Taman Wisata Laut.

2. Daerah atau zona pemanfaatan pada Kawasan Taman


Nasional seperti Kebun Raya Bogor, Hutan Lindung, Cagar
Alam, atau Hutan Raya.

3. Daerah pemanfaatan untuk Wisata Berburu berdasarkan


rencana pengelolaan Kawasan Taman Perburuan.

Ketiga jenis daerah atau lokasi pengembangan ekowisata tersebut


merupakan lokasi yang boleh dan dapat dimanfaatkan secara
intensif untuk pengembangan sarana dan prasarana untuk
aktivitas ekowisata. Kriteria lain untuk pengembangan lokasi
ekowisata harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

Kelayakan pasar dan kapasitas kunjungan.

Tersedianya aksesibilitas yang memadai ke daerah tersebut.

Potensi yang dimiliki daerah untuk dijadikan kawasan


ekowisata.

Dapat mendukung pengembangan wilayah lain di daerah


tersebut.

Memberi peluang bagi pengembangan kegiatan sosial,


ekonomi, dan kebudayaan bagi masyarakat setempat.

Mempunyai kemungkinan besar untuk saling mendukung


pengembangan pariwisata di daerah setempat.
Dapat saling mendukung bagi pengembangan pelestarian
kawasan hutan bagi daerah tersebut.

Kriteria pemilihan lokasi ekowisata

Masyarakat Ekowisata Indonesia (MEI) memberi kriteria pemilihan


lokasi sebagai berikut:

1. Daerah itu harus memiliki keunikan yang khusus dan tidak


terdapat di tempat lain, seperti Kepulauan Nias, Pagai, atau
Enggano yang memiliki etnis berbeda dengan suku bangsa
lainnya di Indonesia.

2. Memiliki atraksi seni budaya yang unik dan berbeda dengan


suku bangsa lainnya, seperti Badui, Tengger, Toraja, Dayak,
Kubu, atau Sakai.

3. Adanya kesiapan masyarakat setempat untuk berpartisipasi


dalam proyek yang akan dibangun.

4. Peruntukkan kawasan tidak meragukan.

5. Tersedia sarana akomodasi, rumah makan, dan sarana


pendukung lainnya.

6. Tersedia aksesibilitas yang memadai dan dapat membawa


wisatawan dari dan ke kawasan yang akan dikembangkan.

Potensi Ekowisata Indonesia

Indonesia yang memiliki pulau-pulau sebanyak 17.508 ribu pulau


merupakan daerah potensial untuk mengembangkan ekowisata
karena potensi alam, seni, budaya, dan etnis yang beraneka
ragam.

Alamnya yang memiliki banyak gunung, perbukitan, dan danau


yang indah, sungau dan riam yang masih perawan, flora dan
fauna yang beraneka ragam, menjadikan Indonesia sebagai
surganya ekowisata.

Wilson (1988) membaginya dalam tiga bagian yang sangat


berkaitan, yaitu:

Pertama : Berdasarkan Keanekaragaman Ekosistem.


Kedua : Berdasarkan Keanekaragaman Hayati.

Ketiga : Berdasarkan Keanekaragaman Genetika yang


tersebar di seluruh wilayah Indonesia

Menurut BAPPENAS dari UNEP tahun 1991, di Indonesia terdapat


tidak kurang 49 jenis ekosistem yang berbeda, baik yang alami
maupun buatan. Menurut sumber ini, walau Indonesia hanya
memiliki luas daratan seluas 1,32% dari seluruh daratan yang ada
di dunia, Indonesia memiliki kekayaan yang cukup berlimpah,
seperti:

10% jenis tumbuhan berbunga yang terdapat di seluruh


dunia

12% binatang menyusui

16% reptilia dan amphibia

17% burung-burung

25% jenis ikan

15% jenis serangga

Sesuai penelitian yang dilakukan oleh MacNeely at all : 1990,


dalam dunia binatang atau hewan, Indonesia mempunyai
kedudukan yang termasuk istimewa di dunia. Dari 515 janis
mamalia besar, 36% endemik, 33% jenis prima, 78% berparuh
bengkok, dan 121 jenis kupu-kupu.

Adapun potensi obyek wisata yang dapat dikembangkan untuk


ekowisata di Indonesia tidak kurang dari 120 buah yang terdiri
dari:

1. Taman nasional : 31 buah, (12 diantaranya sudah ditetapkan


sebagai Taman Nasional, 2 diantaranya sudah ditetapkan
sebagai warisan dunia, dan 19 buah lainnya dalam proses
penetapan).

2. Taman Hutan Raya : 9 buah

3. Taman Wisata Alam : 73 buah


4. Taman Wisata Laut : 7 buah

Berdasarkan identifikasi Masyarakat Ekowisata Indonesia (MEI), di


Indonesia terdapat 61 Daerah Tujuan Ekowisata (DTE) yang
dianggap potensial yang terdapat pada beberapa pulau sehingga
Indonesia dikenal sebagai negara yang memilikiMega
Diversity yang dijumpai pada pulau:

Sumatera : 12 DTE

Kalimantan : 1 DTE

Jawa : 10 DTE

Sulawesi : 8 DTE

Bali : 6 DTE

Maluku : 4 DTE

Nusa Tenggara Barat : 8 DTE

Irian Jaya : 6 DTE

Nusa Tenggara Timur : 6 DTE

Daerah tujuan ekowisata populer di indonesia

Daerah Tujuan Ekowisata populer yang sekarang banyak


dikunjungi orang adalah:

Region National Parks Natural Reserves

Sumatera Way Kambas Bukit Barisan

Siberut

Bukit Barisan Selatan

Kerinci Sebelat
Gunung Leuser

Dumoga Bone

Tanjung Panjang
Sulawesi Rawa Aopa Watumohae
Lati Mojong

Lore Lindu

Bromo Tengger

Semeru

Sembu Island
Genteng
Jawa Nusa Barung

Ujung Kulon Reserve

Gede Pangraro

Nusa Tenggara Komodo Tambora

Maluku Manusela

Prinsip-prinsip Pengembangan Ekowisata

Direktorat Jenderal Pariwisata menggariskan prinsip-prinsip


pengembangan ekowisata, sebagai berikut:

Kegiatan ekowisata harus bersifat ramah lingkungan, secara


ekonomis dapat berkelanjutan dan serasi dengan kondisi
sosial dan kebudayaan Daerah Tujuan Ekowisata (DTE)

Untuk menjamin konsevasi alam dan keanekaragaman


hayati sebagai sumber daya kepariwisataan utama, segenap
upaya penting harus dilaksanakan untuk menjamin fungsi
dan daya dukung lingkungan agar tetap terjaga.

Kegiatan ekowisata yang secara langsung mendukung pada


upaya perlindungan alam dan kelestarian keanekaragaman
hayati harus dipromosikan.
Harus ada tindakan pencegahan untuk menghindari dan
meminimalkan dampak negatif keanekaragaman hayati yang
disebabkan kegiatan ekowisata.

Pengembangan kegiatan ekowisata hendaknya selalu


menggunakan teknologi ramah lingkungan.

Semua yang terlibat dalam pengelolaan ekowisata,


termasuk pemerintah swasta atau Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) harus bertanggungjawab secara bersama
untuk mencapai bentuk ekowisata yang berkelanjutan.

Konsep dan kriteria ekowisata berkelanjutan harus


dikembangkan dan dikaitkan dengan program pendidikan dan
pelatihan untuk pekerja dibidang kepariwisataan.

Masyarakat harus diberikan kemudahan untuk memperoleh


informasi sebanyak-banyaknya mengenai manfaat
perlindungan lingkungan dan konservasi keanekaragaman
hayati melalui bentuk ekowisata yang berkelanjutan tadi.

Khodyat, seorang pakar yang banyak memberi perhatian pada


Ekowisata mengatakan Dalam mengembangkan ekowisata
seharusnya dilihat sebagai alat peningkatan komunikasi antar
makhluk hidup, kesejahteraan, dan kemampuan individu. Oleh
karena itu katanya, Pengembangan suatu kawasan untuk
menjadi obyek ekowisata harus didasarkan pada kebijakan yang
dirumuskan dari hasil musyawarah dan mufakat dengan
masyarakat setempat.

Dalam mengembangkan ekowisata, menurut Khodyat, sangat


penting kehadiran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),
terutama dalam memberdayakan masyarakat setempat melalui
pendekatan, penyebaran informasi tentang keuntungan, manfaat,
dan dampak negatif yang mungkin muncul dalam pengembangan
ekowisata berkelanjutan.

Pendidikan Ekowisata

Pendidikan ekowisata di Indonesia belum ada. Walau di Indonesia


sudah banyak sekolah tinggi pariwisata, sampai sekarang (tahun
1999 red) belum tercantum dalam kurikulumnya. Ekowisata baru
disebut-sebut sebagai suatu jenis pariwisata yang berwawasan
lingkungan, tetapi mengapa ekowisata belum diajarkan secara
luas.

Materi pelajaran ekowisata baru tercantum dalam kurikulum


pendidikan perguruan tinggi Biologi, Konservasi, dan Kehutanan,
itu pun belum secara luas. Informasi-informasi tentang ekowisata
justru lebih banyak ditemukan pada Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) yang memang banyak menaruh perhatian
terhadap lingkungan.

Sekarang ini di Indonesia muncul pengusaha-pengusaha swasta


yang mengelola kawasan ekowisata. Mereka itu kebanyakan
berlatar belakang cenderung mendahulukan bisnisnya daripada
memelihara ekosistem, lingkungan, dan ekowisata.

Pendidikan tentang ecotourism yang sudah maju kita temukan


Inggris pada Faculty of The Environment di beberapa universitas.
Mereka sudah mengantisipasinya sejak awal dengan membuka
kursus-kursus singkat dan lama kelamaan dimasukkan dalam
kurikulum beberapa fakultas. Kurikulum untuk ecotourism
mencakup lima unsur yang saling berkaitan seperti:

Kebijakan Politik Ekonomi Nasional dan Internasional

Perencanaan Masalah Konservasi

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

Pengorganisasian

Praktek Langsung sebagai Pengelola Ekowisata

Dengan mata kuliah yang seimbang antara nilai-nilai konservasi


dan aspek-aspek bisnis menghasilkan tenaga pengelola ekowisata
untuk level Manager yang mandiri. Lulusannya tersebar di seluruh
pelosok kawasan ekowisata di Indonesia.

Mengingat kekayaan alam yang dimiliki Indonesia, kita sekarang


harus berpikir dua kali dengan mulai membentuk lembaga
pendidikan pariwisata yang sama sekali jauh berbeda dengan
seperti yang ada sekarang. kalau pendidikan pariwisata sekarang
lebih menjurus pada profesi, maka kita perlu membentuk
lembaga pendidikan tinggi pariwisata yang dapat menghasilkan
ahli dalam:

Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata

Pemasaran dan Promosi Pariwisata

Riset dan Statistik Pariwisata

Ekowisata Pariwisata Alternatif dan Agrowisata

Perencanaan Perjalanan Pariwisata

Wisata Konvensi

Administrasi Perhotelan

Pemasaran dan Promosi Perhotelan

Mungkin dapat dimulai dengan membuka kembali jurusan Bina


Wisata yang selama ini ditinggalkan karena peminatnya kurang.
Kita perlu memberi informasi yang luas, mengapa tenaga-tenaga
seperti itu diperlukan?

Kita semua harus dapat menimbulkan minat mahasiswa untuk


menghadapi persaingan di abad ke-21, dunia usaha akan
memerlukan keahlian-keahlian khusus yang dapat memecahkan
masalah sebagai akibat pertumbuhan industri pariwisata yang
tidak terkendali.

Istilah-istilah dalam Ekowisata


1. Wisata Alam

Adalah kegiatan perjalanan sebagian dari kegiatan tersebut yang


dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk
menikmati gejala keunikan dan keindahan alam

2. Pariwisata Alam

Adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata alam,


termasuk pengusahaan obyek dan daya tarik wisata alam serta
usaha yang terkait di bidang tersebut.
3. Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam

Adalah sumber daya alam dan tata lingkungan yang menjadi


sasaran wisata di taman nasional, taman hutan raya, taman
wisata alam, taman buru, taman wisata laut, serta kawasan hutan
lainnya.

4. Pengusahaan Pariwisata Alam

Adalah suatu kegiatan untuk menyelenggarakan usaha sarana


pariwisata di zona pemanfaatan taman nasional, taman hutan
raya, taman wisata alam, berdasarkan rencana pengelolaan.

5. Zona Pemanfaatan Taman Nasional

Adalah bagian dari kawasan Taman Nasional yang dijadikan pusat


rekreasi dan kunjungan wisata.

6. Blok Pemanfaatan Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam

Adalah bagian dari Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam
yang dijadikan pusat rekreasi dan kunjungan wisata.

7. Rencana Pengelolaan

Adalah suatu rencana yang bersifat umum dalam rangka


pengelolaan Taman Nasional, Taman Hutan Raya, dan Taman
Wisata Alam yang disusun menteri kehutanan.

8. Kawasan Pelestarian Alam

Adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun


perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga
kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan
satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati
dan ekosistemnya.

9. Taman Nasional

Adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem


asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk
tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budi
daya pariwisata, dan rekreasi.
10. Taman Hutan Raya

Adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan


atau satwa yang alami atau buatan, jenis asli atau bukan asli
yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu
pengetahuan, pendidikan, menunjang budi daya, budaya,
pariwisata, dan rekreasi.

11. Taman Wisata Alam

Adalah kawasan pelestarian alam yang dimanfaatkan terutama


untuk pariwisata dan rekreasi lain.

12. Sarana Pengusaha Pariwisata Alam

Adalah bangunan yang diperuntukkan guna memenuhi kebutuhan


kegiatan