Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN KASUS

ABSES SEPTUM NASI

Pembimbing :

Dr.Teppy Hartubi Djohar, Sp.THT

Penyusun :
Meimi Devita 030.04.149
Christian Sunur 030.05.058
Putri Yuliani 030.05.174

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT


Rumah Sakit Otorita Batam
Periode 18 Agustus 19 September 2009
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
STATUS PASIEN
I. Identitas Pasien
Nama : Nn. F
Jenis kelamin : Perempuan
Tanggal lahir : 8 Januari 1996
Umur : 13 tahun
Status : Belum menikah
Alamat : Batu Ampar
Agama : Islam
Tanggal masuk RS : 28 Agustus 2009
No. RM : 24-48-68

II. Anamnesis
Autoanamnesis pada tanggal 28 Agustus 2009

Keluhan utama

Benjolan di rongga hidung yang sakit berdenyut sejak 1 minggu SMRS

Keluhan tambahan

Demam dan sakit kepala

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke poliklinik pada tanggal 28 Agustus 2009 dengan keluhan


terdapat benjolan di rongga hidung yang terasa sakit berdenyut sejak 1 minggu
SMRS. Dua bulan SMRS, pasien mengeluh hidung tersumbat yang tidak semakin
memberat hingga sekarang disertai cairan yang berwarna bening dan encer. Sekitar 1
bulan SMRS, pasien merasakan adanya benjolan di tulang rawan hidung sebesar
jerawat kecil di rongga hidung kanan dan melekat d tulang rawan yang makin lama
semakin membesar hingga hampir menutupi kedua rongga hidung. Bersamaan dengan
timbul benjolan, pasien juga mengeluh demam naik turun dan sakit kepala. Lima hari
SMRS, pasien mengeluh nyeri menelan, kemudian berobat ke klinik, namun tidak ada
perbaikan. Riwayat trauma pada daerah hidung maupun kepala disangkal. Tidak ada
batuk/pilek dan epistaksis.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat hipertensi disangkal. Riwayat kencing manis juga disangkal. Tidak
ada riwayat alergi terhadap obat-obatan tertentu. Memiliki alergi terhadap udara
dingin. Tidak riwayat trauma, operasi, maupun perawatan di rumah sakit.

Riwayat Keluarga

Tidak ada riwayat hipertensi dan kencing manis pada keluarga.

Riwayat Medikasi

Tidak ada

III. Pemeriksaan Fisik


Status Generalis
Keadaan Umum : kompos mentis
Kesadaran : sakit sedang
Tanda Vital
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 72 kali/menit
Suhu : afebris
Laju Napas : 18 kali/menit

Kepala : Normocephali, rambut hitam, distribusi merata

Mata : Konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, pupil bulat

isokor, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya


tidak langsung +/+

Hidung : lihat status THT

Mulut : Bibir kering (-), sianosis (-)

Telinga: lihat status THT

Leher : Tidak teraba pembesaran KGB, tidak teraba

pembesaran kelenjar tiroid.

Thoraks

Paru
Inspeksi: Kedua hemitoraks simetris dalam keadaan

statis dan dinamis

Palpasi: Vocal fremitus kanan sama dengan kiri, massa

(-)

Perkusi: Sonor di kedua lapang paru

Auskultasi: Suara napas vesikuler, ronkhi -/-,

Wheezing -/-

Jantung

Inspeksi: Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi: Ictus cordis tidak teraba

Auskultasi: S1 S2 reguler, murmur (-), Gallop (-)

Abdomen

Inspeksi : Datar, benjolan (-), bekas operasi (-)

Palpasi : Supel,tidak teraba massa,nyeri tekan (-), nyeri lepas (-)

Perkusi: Timpani, shifting dullness (-)

Auskultasi: bising usus (+) normal

Ekstremitas: Akral hangat, oedem (-), di keempat ekstremitas,

sianosis (-)

Status THT

Telinga

Telinga Kanan Kiri


Daun telinga Normotia Normotia
Liang telinga Hiperemis (-), sekret (-), Hiperemis (-), sekret (-),
serumen (+), furunkel (-), serumen (+), furunkel (-),
jar.granulasi (-) jar.granulasi (-)
Nyeri tarik (-) (-)
Membrana Utuh, refleks cahaya (+), Utuh, refleks cahaya (+),
tympani perforasi (-) perforasi (-)
Nyeri tekan (-) (-)
tragus
Retroaurikuler Nyeri tekan (-), abses (-), Nyeri tekan (-), abses (-),
fistel (-), sikatriks (-) fistel (-), sikatriks (-)

Hidung

Hidung Kanan Kiri


Vestibulum Rambut (+), sekret (+), Rambut (+), sekret (+),
furunkel (-) furunkel (-)
Rongga hidung sempit, pasase udara sempit, pasase udara
tidak lancar, massa (+), tidak lancar, massa (+,
hiperemis, permukaan hiperemis, permukaan
mengkilat mengkilat
Septum deviasi (-) (-)
Dasar hidung Sekret (-), krusta (-) Sekret (-), krusta (-)
Concha Inferior Oedem (-), hipertrofi (-), Oedem (-), hipertrofi (-),
hiperemis (+) hiperemis (+)
Nyeri tekan:
a. Pipi (s. Mastoid) (-) (-)
b. Pangkal hidung
(-) (-)
(s. Ethmoid)
c. Dahi (s.
(-) (-)
Frontalis)
Tenggorok

Arcus faring : simetris


Dinding faring: hiperemis, post nasal drip (-)
Uvula : di tengah, tidak oedem
Tonsil : T1-T1, tidak hiperemis

IV. Pemeriksaan Penunjang


Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang

V. Resume

Pasien perempuan, 13 tahun, datang ke poliklinik THT dengan keluhan


benjolan pada rongga hidung yang terasa nyeri berdenyut sejak 1 minggu SMRS.
Mengeluh hidung tersumbat sejak 2 bulan yang lalu yang tidak progresif. Benjolan
dirasakan mulai muncul sejak 1 bulan SMRS, saat itu hanya sebesar jerawat kecil dan
awalnya hanya terdapat di rongga hidung kanan yang kemudian meluas ke kedua
rongga hidung. Munculnya benjolan disertai demam naik turun dan sakit kepala.
Tidak ada riwayat trauma pada hidung ataupun kepala yang mendahului timbulnya
benjolan.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan pasien sakit sedang, kesadaran


compos mentis, tanda vital dan status generalis dalam batas normal. Pada
pemeriksaan status lokalis, ditemukan cavum nasi sempit, pasase udara tidak lancar
akibat massa di kedua rongga hidung yang melekat di septum nasi, permukaannya
licin, mengkilat, dan hiperemis. Sekret encer dan bening.
VI. Diagnosa Kerja
Abses septum nasi bilateral
VII. Diagnosa Banding
Hematoma septum

VIII. Penatalaksanaan

Awasi tanda vital dan keadaan umum

Terapi:

1. Konservatif:
Antibiotika dosis tinggi : Sefalosporin generasi ke-3 (Cefotaxim) dan
Metronidazol
Antialergi : Bethametasone dan Chlorpheniramine maleat
Obat Anti Inflamasi Non Steroid : Ketoprofen

2. Operatif
- Insisi dan drainase abses cito

IX. Komplikasi
Destruksi tulang rawan septum
Perforasi septum
Saddle nose
Infeksi intrakranial
Septikemia

X. Anjuran
- Kultur resistensi

XI. Prognosis
Ad vitam : Bonam
Ad sanationam: Bonam
Ad functionam: Bonam
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Hidung

Hidung Luar
Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian bagiannya dari atas ke bawah :
1. Pangkal hidung (bridge)
2. Dorsum nasi
3. Puncak hidung
4. Ala nasi
5. Kolumela
6. Lubang hidung (nares anterior)
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi kulit,
jaringan ikat dan beberapa otot kecil yaitu M. Nasalis pars transversa dan M. Nasalis pars
allaris. Kerja otot otot tersebut menyebabkan nares dapat melebar dan menyempit. Batas
atas nasi eksternus melekat pada os frontal sebagai radiks (akar), antara radiks sampai apeks
(puncak) disebut dorsum nasi. Lubang yang terdapat pada bagian inferior disebut nares, yang
dibatasi oleh :
Superior : os frontal, os nasal, os maksila
Inferior : kartilago septi nasi, kartilago nasi lateralis, kartilago alaris mayor dan
kartilago alaris minor
Dengan adanya kartilago tersebut maka nasi eksternus bagian inferior menjadi fleksibel.
Perdarahan :
Nasalis anterior (cabang A. Etmoidalis yang merupakan cabang dari A.
Oftalmika, cabang dari a. Karotis interna).
A. Nasalis posterior (cabang A.Sfenopalatinum, cabang dari A. Maksilaris
interna, cabang dari A. Karotis interna)
A. Angularis (cabang dari A. Fasialis)
Persarafan :
1. Cabang dari N. Oftalmikus (N. Supratroklearis, N. Infratroklearis)
2. Cabang dari N. Maksilaris (ramus eksternus N. Etmoidalis anterior)

Kavum Nasi
Dengan adanya septum nasi maka kavum nasi dibagi menjadi dua ruangan yang
membentang dari nares sampai koana (apertura posterior). Kavum nasi ini berhubungan
dengan sinus frontal, sinus sfenoid, fossa kranial anterior dan fossa kranial media. Batas
batas kavum nasi :
Posterior : berhubungan dengan nasofaring
Atap : os nasal, os frontal, lamina kribriformis etmoidale, korpus sfenoidale
dan sebagian os vomer
Lantai : merupakan bagian yang lunak, kedudukannya hampir horisontal,
bentuknya konkaf dan bagian dasar ini lebih lebar daripada bagian atap.
Bagian ini dipisahnkan dengan kavum oris oleh palatum durum.
Medial : septum nasi yang membagi kavum nasi menjadi dua ruangan (dekstra
dan sinistra), pada bagian bawah apeks nasi, septum nasi dilapisi oleh kulit,
jaringan subkutan dan kartilago alaris mayor. Bagian dari septum yang terdiri
dari kartilago ini disebut sebagai septum pars membranosa = kolumna =
kolumela.
Lateral : dibentuk oleh bagian dari os medial, os maksila, os lakrima, os
etmoid, konka nasalis inferior, palatum dan os sfenoid.
Konka nasalis suprema, superior dan media merupakan tonjolan dari tulang etmoid.
Sedangkan konka nasalis inferior merupakan tulang yang terpisah. Ruangan di atas dan
belakang konka nasalis superior adalah resesus sfeno-etmoid yang berhubungan dengan sinis
sfenoid. Kadang kadang konka nasalis suprema dan meatus nasi suprema terletak di bagian
ini.
Perdarahan :
Arteri yang paling penting pada perdarahan kavum nasi adalah A.sfenopalatina yang
merupakan cabang dari A.maksilaris dan A. Etmoidale anterior yang merupakan cabang dari
A. Oftalmika. Vena tampak sebagai pleksus yang terletak submukosa yang berjalan bersama
sama arteri.
Persarafan :
1. Anterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari N. Trigeminus yaitu N.
Etmoidalis anterior
2. Posterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari ganglion pterigopalatinum
masuk melalui foramen sfenopalatina kemudian menjadi N. Palatina mayor
menjadi N. Sfenopalatinus.

Mukosa Hidung
Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas
mukosa pernafasan dan mukosa penghidu. Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian besar
rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai
silia dan diantaranya terdapat sel sel goblet. Pada bagian yang lebih terkena aliran udara
mukosanya lebih tebal dan kadang kadang terjadi metaplasia menjadi sel epital skuamosa.
Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh
palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar
mukosa dan sel goblet.
Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang penting. Dengan
gerakan silia yang teratur, palut lendir di dalam kavum nasi akan didorong ke arah
nasofaring. Dengan demikian mukosa mempunyai daya untuk membersihkan dirinya sendiri
dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang masuk ke dalam rongga hidung. Gangguan
pada fungsi silia akan menyebabkan banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan
hidung tersumbat. Gangguan gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara yang
berlebihan, radang, sekret kental dan obat obatan.
Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga
bagian atas septum. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu dan tidak bersilia
(pseudostratified columnar non ciliated epithelium). Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel,
yaitu sel penunjang, sel basal dan sel reseptor penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna
coklat kekuningan.

Fisiologi hidung
1. Sebagai jalan nafas
Pada inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atas setinggi
konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring, sehingga aliran
udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. Pada ekspirasi, udara masuk melalui
koana dan kemudian mengikuti jalan yang sama seperti udara inspirasi. Akan
tetapi di bagian depan aliran udara memecah, sebagian lain kembali ke belakang
membentuk pusaran dan bergabung dengan aliran dari nasofaring.
2. Pengatur kondisi udara (air conditioning)
Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan udara
yang akan masuk ke dalam alveolus. Fungsi ini dilakukan dengan cara :
a. Mengatur kelembaban udara. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir. Pada
musim panas, udara hampir jenuh oleh uap air, penguapan dari lapisan ini
sedikit, sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya.
b. Mengatur suhu. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya pembuluh
darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas,
sehingga radiasi dapat berlangsung secara optimal. Dengan demikian suhu
udara setelah melalui hidung kurang lebih 37o C.
3. Sebagai penyaring dan pelindung
Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri dan
dilakukan oleh :
a. Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi
b. Silia
c. Palut lendir (mucous blanket). Debu dan bakteri akan melekat pada palut
lendir dan partikel partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks
bersin. Palut lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia.
d. Enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri, disebut
lysozime.

4. Indra penghidu
Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa olfaktorius
pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum.
Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau
bila menarik nafas dengan kuat.
5. Resonansi suara
Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan hidung
akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga terdengar suara
sengau.
6. Proses bicara
Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m,n,ng) dimana
rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka, palatum molle turun untuk
aliran udara.
7. Refleks nasal
Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran
cerna, kardiovaskuler dan pernafasan. Contoh : iritasi mukosa hidung
menyebabkan refleks bersin dan nafas terhenti. Rangsang bau tertentu
menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan pankreas.

B. Abses Septum
Abses septum adalah suatu kondisi yang jarang terjadi. Abses paling sering terbentuk
setelah didahului oleh adanya hematoma septum. Biasanya terdapat riwayat trauma pada
hidung dan juga dapat terjadi setelah operasi septum nasi. Abses septum nasi merupakan
suatu kumpulan pus yang terdapat di antara kartilago atau tulang septum dengan
mukoperikondrium atau mukoperiosteum.
Patologi ini biasanya merupakan akibat dari hematom septum yang terinfeksi yang
merupakan komplikasi serius trauma atau pembedahan. Pecahnya pembuluh darah kecil yang
mensuplai hidung membentuk hematom septum yang memisahkan mukoperikondrium dari
tulang rawan septum. Kehancuran tulang rawan merupakan akibat dari nekrosis iskemik dan
tekanan. Statis darah dan tulang rawan nekrotik merupakan media yang baik untuk
pertumbuhan bakteri yang biasanya menjajah hidung mucosa, akibatnya terjadi infeksi dan
lama-lama menjadi abses.
Gejala abses septum adalah hidung tersumbat progresif disertai dengan rasa nyeri berat,
terutama terasa di puncak hidung. Juga terdapat keluhan demam dan sakit kepala.
Pemeriksaan lebih baik tanpa spekulum hidung. Tampak pembengkakan septum yang
berbentuk bulat dengan permukaan licin.
Abses septum harus segera diobati sebagai kasus darurat karena komplikasinya dapat
berat, yaitu dalam waktu yang tidak lama dapat menyebabkan nekrosis tulang rawan septum.
Terapinya dilakukan insisi dan drenase nanah serta diberikan antibiotika dosis tinggi. Untuk
nyeri dan demamnya diberikan analgetika.
Untuk mencegah terjadinya deformitas hidung, bila sudah ada destruksi tulang rawan
perlu dilakukan rekonstruksi septum. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah destruksi
tulang rawan septum yang dapat menyebabkan perforasi septum atau hidung pelana. Juga
dapat menyebabkan komplikasi ke intrakranial atau septikemia.

DAFTAR PUSTAKA
Adams GL, Boeis LR, Higler PA. BOEIS Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke-6.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1997

Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi ke-6. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI; 2008

Jessica NGO. Drainage, nasal septal hematoma. Mart 29, 2009 (cited 2009 September
01). Available : http://emedicine.medscape.com/article/149280-overview.

Abses Septum Nasi. Diambil 01 September 2009. Diunduh dari:


http://prematuredoctor.blogspot.com/2009/02/abses-septum-nasi.html