Anda di halaman 1dari 24

PENGEMBANGAN KURIKULUM

DALAM PENDEKATAN INTROSPEKTIF


Disusun guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Pengembangan Kurikulum

Oleh:
Muh. Ilham A (161052003039)
A. Citra Dewi (161052003037)
Haeriani (161052003038)
Arwandi Muis (161052003034)
Risda M. (161052003036)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNOLOGI KEJURUAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhana wata'ala yang telah melimpahkan
Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini.

Penyusunan tugas ini bertujuan untuk memenuhi tugas dan kewajiban kami sebagai
mahasiswa serta agar mahasiswa yang lain dapat melakukan kegiatan seperti yang kami lakukan.
Dalam tugas ini kami akan membahas mengenai Pengembangan Kurikulum dalam pendekatan
Introspektif. Dengan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang telah mendukung kami terutama kepada dosen mata kuliah Pengembangan Kurikulum
selaku pembimbing kami.

Tiada gading yang tak retak, demikian pepatah mengatakan. Kami sadari tugas ini masih
jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun sehingga kami dapat memperbaiki kesalahan kami.

Akhir kata kami ucapkan terima kasih. Semoga tugas ini bermanfaat dan berguna bagi kita
semua.

Penyusun.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 1
Tujuan 1
Pengertian Kurikulum 1
Landasan dan Aspek Kurikulum 2
BAB II. PEMBAHASAN
Komponen - komponen dari kurikulum 5
Konsep dan teori kurikulum 11
Langkah pengembangan kurikulum 16
Pendekatan Introspektif 19
BAB III. PENUTUP
Kesimpulan 20
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1. 1. Latar Belakang

Pengembangan kurikulum merupakan suatu kegiatan yang memberikan jawaban atas


sejumlah tuntutan kebutuhan yang berkembang pada pendidikan. Pengembangan kurikulum
dilakukan atas sejumlah komponen pada pendidikan, di antaranya pada pembelajaran yang
merupakan implementasi dari kurikulum. Hasil dari proses ini adalah adanya perubahan pada guru
dan siswa, serta komponen lainnya. Pandangan tentang kurikulum dikenal dalam dimensi
kurikulum yang membedakan peran dan fungsinya. Oleh karena itu perlu dipahami mengenai seluk
beluk kurikulum.

1. 2. Rumusan Masalah
1. Apa saja komponen - komponen dari kurikulum?
2. Bagaimana konsep dan teori kurikulum?
3. Bagaimana langkah - langkah pengembangan kurikulum?
4. Bagaimana pengembangan Kurikulum dalam Pendekatan Introspektif

1. 3. Tujuan
1. Menjelaskan tentang komponen - komponen dari kurikulum;
2. Menjelaskan konsep dan teori kurikulum;
3. Menjelaskan langkah - langkah pengembangan kurikulum;
4. Bagaimana pengembangan Kurikulum dalam Pendekatan Introspektif

1.4. Pengertian Kurikulum

Kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses berlajar mengajar
di bawah bimbingan dan tanggunga jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf
pengajarnya. Kurikulum merupakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di bawah pengawasan sekolah,
jadi selain kegiatan kulikuler yang formal juga kegiatan yang tak formal. (Nasution, 2008:5)
Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat (19) yang berbunyi: Kurikulum adalah seperangkat
rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Lebih
lanjut pada pasal 36 ayat (3) disebutkan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang dan jenis
pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:
a. Peningkatan iman dan takwa;
b. Peningkatan akhlak mulia;
c. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;
d. Keragaman potensi daerah dan lingkungan;
e. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional;
f. Tuntutan dunia kerja;
g. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
h. Agama;
i. Dinamika perkembangan global;
j. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.

Pasal ini jelas menunjukkan berbagai aspek pengembangan kepribadian peserta didik yang
menyeluruh dan pengembangan pembangunan masyarakat dan bangsa, ilmu, kehidupan agama,
ekonomi, budaya, seni, teknologi dan tantangan kehidupan global. Artinya, kurikulum haruslah
memperhatikan permasalahan ini dengan serius dan menjawab permasalahan ini dengan
menyesuaikan diri pada kualitas manusia yang diharapkan dihasilkan pada setiap jenjang
pendidikan.
1.4. Landasan dan Aspek Kurikulum

Dalam buku ajar Teori Belajar dan Pembelajaran, Landasan setidaknya mempunyai makna
berikut:
1. Landasan adalah sebuah pondasi yang di atas di bangun sebuah bangunan.
2. Landasan adalah pikiran-pikiran abstrak yang dijadikan titik tolak atau titik berangkat bagi
pelaksanaan suatu kegiatan.
3. Landasan adalah pandangan pandangan abstrak yang telah teruji , yang yang dipergunakan
sebagai titik tolak dalam menyusun konsep, pelaksanaan konsep dan evaluasi konsep.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Landasan berarti


1) Alas; bantalan; paron (alas untuk menempa, terbuat dr besi);
2) Lapangan terbang: pesawat kami mendarat dengan selamat;
3) Dasar; tumpuan: ~ hukum negara kita ialah pancasila dan uud 45.

Menurut Hornby c. s dalam The Advance Learners Dictionary of Current English (Redja
Mudyahardjo, 2001:8) mengemukakan definisi landasan sebagai berikut: Foundation that on
which an idea or belief rest; an underlying principles as the foundations of religious belief; the
basis or starting point.
Jadi menurut Hornby landasan adalah suatu gagasan atau kepercayaan yang menjadi
sandaran, sesuatu prinsip yang mendasari, contohnya seperti landasan kepercayaan agama, dasar
atau titik tolak.
Dengan demikian landasan pengembangan kurikulum dapat diartikan sebagai suatu gagasan,
suatu asumsi, atau prinsip yang menjadi sandaran atau titik tolak dalam mengembangkan
kurikulum.

Landasan pengembangan kurikulum memiliki peranan yang sangat penting, sehingga


apabila kurikulum diibaratkan sebagai sebuah bangunan gedung yang tidak menggunakan landasan
atau fundasi yang kuat, maka ketika diterpa angin atau terjadi goncangan, bangunan gedung
tersebut akan mudah rubuh dan rusak. Demikian pula halnya dengan kurikulum, apabila tidak
memiliki dasar pijakan yang kuat, maka kurikulum tersebut akan mudah terombang-ambing dan
yang akan dipertaruhkan adalah manusia (peserta didik) yang dihasilkan oleh pendidikan itu sendiri.
Ada empat landasan yang digunakan dalam pengembangan kurikulum, yaitu : Landasan Filosofis,
landasan Psikologis, landasan Sosiologis dan landasan Organisatoris.

A. Landasan Filosofis

Filosofis artinya berdasarkan filsafat. Sedangkan Filsafat itu sendiri berasal dari bahasa
yunani, yaitu dari kata philos dan sophia. Philos, artinya cinta yang mendalam, dan sophia
adalah kearifan atau kebijaksanaan. Dengan demikian, filsafat secara harfiah dapat diartikan sebagai
cinta yang mendalam akan kearifan. Filsafat sangat penting karena harus dipertimbangkan dalam
mengambil keputusan tentang aspek kurikulum. Untuk itu tiap keputusan harus ada dasarnya. Jadi
filsafat adalah cara berfikir yang sedalam-dalamnya, yakni sampai akar-akarnya tentang hakikat
sesuatu. Para pengembang kurikulum harus mempunyai filsafat yang jelas tentang apa yang mereka
junjung tinggi.

B. Landasan Psikologis

a. Psikologi Perkembangan Peserta Didik


Implikasi dari perkembangan peserta didik terhadap pengembangan kurikulum yaitu: Setiap
anak diberi kesempatan untuk berkembang sesuai dengan bakat, minat dan kebutuhannya.
Disamping disediakan pelajaran yang sifatnya umum (Program inti) yang wajib dipelajari setiap
anak di sekolah, disediakan pula pelajaran pilihan yang sesuai dengan minat anak. Kurikulum
disamping menyediakan bahan ajar yang bersifat kejuruan juga menyediakan bahan ajar yang
nersifat akademik. Bagi anak yang berbakat dibidang akademik diberi kesempatan untuk
melanjutkan studi ke jenjang pendidikan selanjutnya. Kurikulum memuat tujuantujuan yang
mengandung pengetahuan, nilai atau sikap, dan keterampilan yang menggambarkan keseluruhan
pribadi yang utuh lahir dan batin.

b. Psikologi Belajar
Psikologi atau teori belajar yang berkembang pada dasarnya dapat dikelompokkan kedalam
tiga rumpun yaitu:
1) Teori Daya (Disiplin Mental).
Menurut teori ini sejak kelahirannya (heredities)anak telah memiliki potensi-potensi atau
daya-daya tertentu (Faculties) yang masing-masing memiliki fungsi tertentu, seperti potensi/daya
mengingat, daya berpikir daya mencurahkan pendapat daya mengamati, daya memecahkan
masalah, dan daya-daya lainnya. Karena itu pengertian mengajar menurut teori ini adalah melatih
peserta didik dalam daya- daya itu, cara mempelajarinya pada umumnya melalui hapalan dan
latihan.
2) Teori Behavorisme
Rumpun teori ini mencakup tiga teori, yaitu teori Koneksionisme atau teori Asosiasi, teori
Kondisioning, dan teori Reinforcement (Operent Conditioning), Rumpun teori Behaviorisme
berangkat dari asumsi bahwa individu tidak membawa potensi sejak lahir. Perkembangan individu
ditentukan oleh lingkungan (keluarga, sekolah, masyarakat) Teori Koneksionisme atau teori
Asosiasi adalah kehidupan tunduk kepada hukum stimulus-respon atau aksi-reaksi. Belajar pada
dasarnya merupakan hubungan antara stimulus-respon. Belajar merupakan upaya untuk membentuk
hubungan stimulus-respon. Belajar merupakan upaya untuk membentuk hubungan stimulus-respon
sebanyak-banyaknya.
3) Teori Organismik atau Gestalt
Teori ini mengacu kepada pengertian bahwa keseluruhan lebih bermakna dari pada bagian-
bagian, keseluruhan bukan kumpulan dari bagian-bagian. Manusia dianggap sebagai mahluk
organisme yang melakukan hubungan timbal balik dengan lingkungan secara keseluruhan,
hubungan ini dijalin oleh stimulus dan respon.

C. Landasan Sosiologis
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki berbagai gejala sosial hubungan antar
individu, antar golongan, antar lembaga sosial atau masyarakat. Di dalam kehidupan kita tidak
hidup sendiri, namun hidup dalam suatu masyarakat. Dalam lingkungan itulah kita memiliki tugas
yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab sebagai bakti kepada masyarakat yang telah
memberikan jasanya kepada kita.
Tiap masyarakat memiliki norma dan adat kebiasaan yang harus dipatuhi. Norma dan adat
kebiasaan tersebut memiliki corak nilai yang berbeda-beda, selain itu masing-masing dari kita juga
memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Hal inilah yang menjadi pertimbangan dalam
pengembangan sebuah kurikulum, termasuk perubahan tatanan masyarakat akibat perkembangan
IPTEK. Sehingga masyarakat dijadikan salah satu asas dalam pengembangan kurikulum.

D. Landasan Organisatoris
Landasan ini berkenaan dengan organisasi kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum
perlu di susun suatu desain yang tepat dan fungsional. Dilihat dari organisasinya ada tiga tipe
bentuk kurikulum:
a. Kurikulum yang berisi sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah (separated subject
curriculum)
b. Kurikulum yang berisi sejumlah mata pelajaran yang sejenis di hubung-hubungkan (Correlated
curriculum)
c. Kurikulum yang terdiri dari peleburan semua/ hampir semua mata pelajaran (integrated
curriculum)
BAB II
PEMBAHASAN

2. 1. Komponen - Komponen Kurikulum


Merujuk pada fungsi kurikulum dalam proses apendidikan, yakni merupakan alat untuk
mencapai tujuan pendidikan, maka hal ini berarti, sebagai alat pendidikan kurikulum mempunyai
komponen-komponen penunjang yang saling mendukung satu sama lainnya. Para pemikir
pendidikan seperti Subandijah, Soetopo, soemato dan Nasution mempunyai ragam dalam
menentukan jumlah komponen tersebut, meskipun pada dasarnya pemahaman dan pengertiannya
hampir sama.
Subandijah (1993) membagi komponen kurikulum antara lain: tujuan, Isi atau materi,
Organisasi atau strategi, Media, daan Komponen proses belajar mengajar. Sedangkan yang
dikategorikan komponen penunjang kurikulum mencakup: Sistem administrasi dan supervisi,
Pelayanan bimbingan dan penyuluhan dan Sistem evaluasi.
Kemudian Soetopo dan Sumato (1993) membagi komponen kurikulum ke dalam 5
komponen, yaitu:
1. Tujuan,
2. Isi dan struktur program,
3. Organisasi dan strategi,
4. Sarana
5. Evaluasi.

Nasution (1993) membagi komponen kurikulum menjadi tiga, yaitu:


1. Tujuan,
2. Bahan belajar mengajar,
3. Penilaian.

Berikut ini akan diuraikan secara beberapa komponen tersebut:

A. Komponen Tujuan
Tujuan kurikulum mengacu kearah pencapaian tujuan pendidikan nasional, ditetapkan dalam
UU No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kurikulum menyediakan kesempatan
yang luas bagi peserta didik untuk mengalami proses pendidikan dan pembelajaran untuk mencapai
tujuan pendidikan nasional khususnya dan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas
umumnya.
Tujuan pendidikan yang berkaitan dengan perwujudan domain-domain anak didik
diupayakan melalui suatu proses pendidikan, yang kalau dibuat secara berurutan tujuan pendidikan
sebagai berikut:
1) Tujuan Pendidikan Nasional
2) Tujuan Institusional
3) Tujuan Kurikuler
4) Tujuan Instruksional

Berikut penjelasan mengenai tujuan - tujuan pendidikan nasional:

1) Tujuan Pendidikan Nasional


Tujuan Pendidikan Nasional, merupakan pendidikan yang paling tinggi dalam hirarkis
tujuan-tujuan pendidikan yang ada, yang bersifat ideal dan umum yang dikaitkan dengan falsafah
Pancasila. Di dalam undang-undang No. 20 Tahun 2004, bab II pasal 2 dituangkan, bahwa
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

2) Tujuan Institusional
Tujuan instruksional merupakan tindak lanjut dari tujuan pendidikan nasional. Sistem
Pendidikan Indonesia memiliki jenjang yang melembaga pada suatu tingkatan. Tiap lembaga
memiliki suatu tujuan pendidikan yang disebut dengan tujuan institusional, sehingga dikenal
bermacam-macam tujuan insitusional. Keberadaan tujuan pendidikan mesti menggambarkan
kelanjutan dan memiliki relevansi yang kuat dengan tujuan pendidikan nasional. Agar tidak terjadi
penyimpangan, maka tujuan institusional mesti didahului dengan pengertian pendidikan, dasar
pendidikan, tujuan pendidikan nasional dan tujuan umum lembaga yang dimaksud.

3) Tujuan Kurikuler
Tujuan kurikuler merupakan tindak lanjut dari tujuan institusional. Dalam melaksanakan
kegiatan pendidikan dari suatu lembaga pendidikan, maka isi pengajaran yang telah disusun
diharapkan dapat menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Suatu lembaga pendidikan memiliki
tujuan kurikuler yang biasanya dapat dilihat dari Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP
pada Kurikulum 1994 selanjutnya disebut silabus pada Kurikulum 2006) dari suatu mata pelajaran.
Pada Silabus tersebut terdapat suatu tujuan kurikuler yang perlu dicapai oleh siswa setelah ia
menyelesaikannya. Hal ini yang perlu diperhatikan, bahwa tujuan kurikuler seharusnya
mencerminkan tindak lanjut dari tujuan institusional dan tujuan pendidikan nasional dan
menggambarkan tujuan kurikuler. Sehingga akan terlihat jelas hubungan hirarkis dari ketiga tujuan
pendidikan tersebut.

4) Tujuan Instruksional

a. Tujuan Instruksional Umum (identik dengan standar kompetensi)


b. Tujuan Instruksional Khusus (identik dengan kompetensi dasar, ditunjukkan oleh indikator)

Tujuan instruksional merupakan tujuan akhir dari tiga tujuan yang telah dikemukakan
terdahulu. Tujuan ini bersifat operasional, yakni diharapkan dapat tercapai pada saat terjadinya
proses belajar mengajar yang bersifat langsung dan terjadi setiap hari dibahas. Untuk mencapai
tujuan-tujuan instruksional ini maka biasanya seorang guru perlu membuat Satuan Pelajaran (SP)
atau pada Kurikulum 2006 dikenal sebagai Rencana Pelaksanaan pembelajaran (RPP). Tujuan
instruksional ini dalam upaya mencapai tujuannya sangat ditentukan oleh kondisi proses mengajar
yang ada, antara lain: kompetensi pendidik, fasilitas belajar, anak didik, metode, lingkungan dan
faktor yang lain.
Menurut Bloom, dengan bukunya Taxonomy of Educational Objectives terbitan 1965, bentuk
perilaku sebagai tujuan yang harus dirumuskan dapat digolongkan kedalam 3 domain, yaitu:
a. Domain Kognitif
Kognitif adalah tujuan pendidikan yang berhubungan dengan kemampuan intelektual seperti
mengingat dan memecahkan masalah. Domain kognitif terbagi menjadi 6 tingkatan yaitu;
pengetahuan (knowledge)
pemahaman (comprehension)
penerapan (application)
analisa
sintesis
evaluasi.
b. Domain Afektif
Afektif berkenaan dengan sikaf, nilai-nilai dan afresiasi. Domain ini memiliki 5 tingkatan, yaitu;
Penerimaan
Merespon
Menghargai
mengorganisasi dan
karakterisasi nilai.
c. Domain Psikomotor
Psikomotor adalah tujuan yang berhubungan dengan kemampuan keterampilan atau skill seseorang.
Dan tingkatannya yaitu ;
persepsi (perception)
kesiapan
meniru (imitation)
membiasakan (habitual)
menyesuaikan (adaption)
menciptakan (organization).

B. Komponen Materi
Materi kurikulum pada hakekatnya adalah isi kurikulum yang dikembangkan dan disusun
dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :
1) Materi kurikulum berupa bahan pelajaran terdiri dari bahan kajian atau topik-topik pelajaran
yang dapat dikaji oleh siswa dalam proses pembelajaran.
2) Mengacu pada pencapaian tujuan setiap satuan pelajaran.
3) Diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
4) Isi / materi kurikulum hakikatnya adalah semua kegiatan dan pengalaman yang dikembangkan
dan disusun untuk mencapai tujuan pendidikan.

Secara umum isi kurikulum itu dapat dikelompokan menjadi :


Logika, yaitu pengetahuan tentang benar salah berdasarkan prosedur keilmuan.
Etika, yaitu pengetahuan tentang baik buruk, nilai dan moral.
Estetika, pengetahuan tentang indah-jelek, yang ada nilai seninya.
Pengembangan materi kurikulum harus berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Mengandung bahan kajian yang dapat dipelajari siswa dalam pembelajaran.
b. Berorientasi pada tujuan, sesuai dengan hirarki tujuan pendidikan.
c. Materi kurikulum mengandung aspek tertentu sesuai dengan tingkat tujuan kurikulum, yang
meliputi :
1) Teori
2) Konsep
3) Generalisasi
4) Prinsip
5) Prosedur
6) Fakta
7) Contoh atau Ilustrasi
8) Istilah
9) Definisi
10) Preposisi

Menurut Hilda Taba (1962) kriteria untuk memilih isi materi kurikulum yaitu :
a. Materi harus sahih dan signifikan, artinya menggambarkan pengetahuan mutakir.
b. Relevan dengan kenyataan social dan kultur agar anak lebih memahaminya.
c. Materi harus seimbang antara keluasan dan kedalaman.
d. Materi harus mencakup berbagai ragam tujuan.
e. Sesuai dengan kemampuan dan pengalaman peserta didik.
f. Materi harus sesuai kebutuhan dan minat peserta didik.
Banyak kegagalan dalam komponen ini karena guru tidak bisa memberikan pengalaman
belajar pada peserta didiknya. Cara untuk mewujudkan pengalaman peserta didik adalah dengan
merancang dan menjabarkan materi pelajaran menjadi berbagai kegiatan belajar. Menurut Taba
kegiatan belajar menimbulkan pengalaman belajar.

C. Komponen Proses
Komponen ini tentunya sangatlah penting dalam suatu proses pengajaran atau pendidikan.
Tujuan akhir dari proses belajar mengajar adalah diharapkan terjadinya perubahan dalam tingkah
laku anak. Komponen ini juga mempunyai keterkaitan erat dengan suasana belajar kreativitas dalam
belajar baik di dalam kelas maupun individual (di luar kelas) merupakan suatu langkah yang tepat.
Dalam kaitannya dalam kemampuan guru dalam menciptakan suasana pengajaran yang kondusif
agar aktivitas tercipta dalam peroses pengajaran. Subandijah (1993) mengemukakan, bahwa guru
perlu memusatkan pada kepribadian dalam mengajar, menerapkan metode mengajarnya,
memusatkan pada proses yang produknya dan memusatkan pada manager dan fasilitator merupakan
suatu tuntunan dalam memperlancar proses belajar mengajar ini.
Semakin maju dunia pendidikan suatu negara maka peran-peran di atas tentunya semakin
digunakan oleh seorang pendidik suatu negara maka peran-peran di atas tentunya semakin
digunakan oleh seorang pendidik dalam menggeluti profesinya, bagi kita mungkin masih terlalu
ideal. Dan hal yang disampaikan Subandijah tersebut dapat dicapai bila guru dapat:
a. Memusatkan pada kepribadiannya dalam mengajar.
b. Menerapkan metode mengajarnya
c. Memusatkan pada proses dan produknya
d. Memusatkan pada kompetensi yang relevan

D. Komponen Evaluasi
Komponen evaluasi ditujukan untuk menilai pencapaian tujuan kurikulum dan menilai
proses implementasi kurikulum secara keseluruhan. Hasil evaluasi sebagai umpan balik guna
perbaikan dan penyempurnaan kurikulum, sebagai masukan dalam penentuan kebijakan
pengambilan keputusan tentang kurikulum pendidikan dapat dilihat dari komponen program,
pelaksanaan dan hasil yang dicapai.
Evaluasi dan kurikulum merupakan dua disiplin ilmu yang berdiri sendiri, ada pihak yang
berpendapat antara keduanya tidak ada hubungan, tetapi ada pihak lain yang menyatakan keduanya
mempunyai hubungan yang sangat erat. Hubungan tersebut merpakan hubungan sebab akibat,
perubahan dalam kurikulum berpengaruh pada evaluasi kurikulum, sebaliknya perubahan evaluasi
perubahan evaluasi akan memberi warna pada pelaksanaan kurikulum, hubungan antara evaluasi
dengan kurikulum bersifat organis dan prosesnya berlangsung secara evolusioner.

Evaluasi kurikulum sukar di rumuskan secara tegas hal itu disebabkan beberapa faktor :
-Evaluasi kurikulum berkenaan dengan fenomena-fenomena yang terus berubah
-Objek evaluasi kurikulum adalah sesuatu yang berubah-ubah sesuai dengan konsep yang
digunakan
-Evaluasi kurikulum merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh manusia yang sifatnya juga
berubah

Konsep-konsep evaluasi kurikulum dibagi menjadi dua, yaitu:


-Deskriptif
-Preskriptif

Luas atau sempitnya suatu suatu program evaluasi kurikulum sebenarnya ditentukan oleh
tujuannya. Doll (1976) mengemukakan syarat-syarat suatu program evaluasi kurikulum yaitu suatu
evaluasi kurikulum harus nilai dan penilaian. Punya tujuan atau sasaran yang jelas, bersifat
menyeluruh dan terus menerus berfungsi diagnostik dan tevintegrasi.
Evaluasi kurikulum juga bervariasi, bergantung pada dimensi-dimensi yang menjadi fokus
evaluasi, salah satu dimensi yang sering mendapat sorotan adalah kuantitas dan kualitas.
Konsep kurikulum yang menekankan isi, memberikan peranan besar pada analisis
pengetahuan baru yang ada, konsep penilaian menutut penilaian secara rinci tentang lingkungan
belajar, dan konsep organisasi memberi perhatian besar pada struktur belajar. Pengembangan
kurikulum yang menekankan isi membutuhkan waktu mempersiapakan situasi belajar dan
menyatukannya dengan tujuan pengajaran yang cukup lama. Kurikulum yang menekankan pada
situasi waktu untuk mempersiapkannya lebih pendek, sedangkan kurikulum yang menekankan pada
organisasi waktu persiapannya hampir sama dengan kurikulum yang menekankan pada isi,
kurikulum yang menekankan organisasi, strategi penyebarannya sangat mengutamakan latihan
guru.
Model evaluasi kaitannya dengan teori kurikulum perbedaan konsep dan strategi
pengembangan dan penyebaran kurikulumnya. Juga menimbulkan perbedaan dalam rancangan
evaluasi. Model evaluasi yang bersifat komporatif atau menekankan pada objek sangat sesuai bagi
kurikulum yang bersifat rasional dan menekankan isi, dalam kurikulum menekankan situasi sukar
disusun evaluasi yang bersifat kompratif karena konteksnya bukan terhadap guru atau satu tujuan
tetapi terdapat banyak tujuan.
Pada kurikulum yang menekankan organisasi, tugas evaluasi lebih sulit lagi, karena isi dan
hasil kurikulum bukan hal yang utama, yang utama adalah aktivitas dan kemampuan siswa salah
satu pemecahan bagi masalah ini dengan pendekatan yang bersifat elektrik seprti dalam proyek
kurikulum humanistik dan care (center for applied research in education) dalam proyek itu dicari
perbandingan materi antara proyek yang menggunakan guru yang terlatih dengan yang tidak
terlatih. Dalam evaluasinya juga diteliti pengaruh umum dari proyek, dengan cara mengumpulkan
bahan-bahan secara studi kasus dari sekolah-sekolah proyek.
Teori kurikilim dan teori evaluasi, model evaluasi kurikulum berkaitan erat dengan konsep
kurikulum yang digunakan, seperti model pengembangan dan penyebaran dihasilkan oleh
kurikulum yang menekankan isi.
Macam-macam model evaluasi yang dipergunkan bertumpu pada aspek -aspek tertentu yang
diutamakan dalam proses pelaksanaan kurikulum. Model evaluasi yang bersifat kompratif berkaitan
erat dengan tingkah-tingkah laku individu, evaluasi yang menekakan tujuan berkaitan erat dengan
kurikulum yang menekankan pada bahan ajar atau isi kurikulum model (pendekatan) antropologis
dalam evaluasi ditujukan untuk mengevaluasi tingkah-tingkah laku dalam suatu lembaga sosial,
dengan demikian sesungguhnya terdpat hubungan yang sangat erat antara evaluasi dengan
kurikulum.

a. Peranan evaluasi kurikulum


Evaluasi kurikulum dapat dilihat sebagai proses sosial dan sebagai institusi sosial
mempunyai asal usul, sejarah struktur serta intersef sendiri, beberapa karakteristik dari proyek-
proyek kurikulumyang telah dikembangkan di inggris, misalnya :
1. Lebih berkenaan dengan inovasi daripada dengan kurikulum yang ada
2. Lebih berskala nasional daripada lokal
3. Dibiayai oleh grant dari luar yang berjangka pendek daripada oleh anggaran tetap
4. Lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan penelitian yang bersifat psikometris daripada
kebiasaan lamayang berupa penelitian social.

Peranan evaluasi kebijaksanaan dalam kurikulum khususnya pendidikan umumnya minimal


berkenaan dengan 3 hal yaitu :
1. Evaluasi sebagai moral judgement, konsep utama dalam evaluasi adalah masalah nilai, hasil dari
suatu evaluasi berisi suatu nilai yang akan digunakan untuk tindakan selanjutnya hal ini
mengandung dua pengertian, evaluasi berisi suatu skala nilai moral, berdasarkan skala tersebut
suatu objek evaluasi dapat dinilai, dan evaluasi berisi suatu perangkat kriteria praktis berdasarkan
kriteria-kriteria suatu hasil dapat dinilai.
2. Evaluasi dan penentuan keputusan, pengambilan keputusan dalam pelaksanaan pendidikan atau
kurikulumbanyak yaitu:guru, murid, orang tua, kepala sekolah, para inspektur, pengembangan
kurikulum dll, beberapa diantara mereka yang memegang peranan paling besar dalam penetuan
keputusan. Pada prinsipnya tiap individu diatas membuat keputusansesuai dengan posisinya.
3. Evaluasi dan konsesus nilai dalam berbagai situasi pendidkan serta kegiatan pelaksanaan
evaluasi kurikulum sejumlah nilai-nilai dibawakan oleh orang-orang yang ikut terlibat dalam
kegiatan penilaian atau evaluasi, para partisipan dalam evaluasi pendidikan dapat terdiri dari :orang
tua, murid, guru, pengembang kurikulum, administrator, ahli politik, ahli ekonomi, penerbit, arsitek
dsb. Bagaimana caranya agar dapat diantara mereka terdapat kesatuan penilaian hanya dapat di
capai melalui suatu konsensus.
Evaluasi merupakan komponen untuk melihat efektifitas pencapaian tujuan. Dalam konteks
kurikulum evaluasi dapat berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan yang telah ditetapkan telah
tercapai atau belum, juga digunakan sebagai umpan balik dalam perbaikan strategi yang ditetapkan.
Evaluasi juga merupakan salah satu komponen kurikulum, dengan evaluasi dapat diperoleh
informasi yang akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran, keberhasilah siswa, guru dan proses
pembelajaran itu sendiri. Berdasarkan hasil evaluasi dapat dibuat keputusan kurikulum itu sendiri,
pembelajaran, kesulitan dan upaya bimbingan yang diperlukan. Aspek yang dinilai bertitik tolak
dari tujuan yang akan dicapai.
Persyaratan suatu instrument penilaian adalah aspek validitas, realiabilitas, obyektivitas,
kepraktisan dan pembedaan. Penilaian harus bernilai objektif, dilakukan berdasarkan tanggung
jawab kelompok guru, rencana terkait dengan pelaksanaan kurikulum sesuai tujuan dan materi
kurikulum dengan alat ukur yang handal dan mudah dilaksanakan serta memberikan hasil yang
akurat.

Dalam evaluasi dapat di kelompokan kedalam dua jenis yaitu:


a) Tes
Tes biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam asfek kognitif. Tes
memiliki dua kriteria yaitu tes memiliki tingkat validitas seandainya dapat mengukur yang hendak
diukur. Kedua memiliki tingkat reliabilitas/kendalan jika tes tersebut bisa menghasilkan informasi
yang konsisten. Tes berdasarkan jumlah peserta dibedakan jadi tes kelompok yaitu dilakukan
terhadap sejumlah siswa secara bersama-sama dan tes individu adalah tes yang dilakukan kepada
seorang individu secara perorangan. Tes dilihat dari cara penyusunannya yaitu tes buatan guru yaitu
untuk menghasilkan informasi yang dibutuhkan oleh guru bersangkutan dan tes standar adalah tes
yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dan memprediksi kemampuan siswa pada masa
yang akan datang. Tes dilihat dari pelaksanaannya dibedakan menjadi tes tertulis adalah dengan
cara siswa menjawab sejumlah soal secara tertulis dan tes lisan adalah tes yang dilakukan langsung
komunikasi dengan siswa secara verbal.
b) Non Tes
Non tes adalah alat evaluasi yang biasanya digunakan untuk asfek tingkah laku termasuk
sikap, minat dan motivasi. Beberapa jenis non tes yaitu :
Observasi
Observasi adalah penilaian dengan cara mengamati tingkah laku pada situasi tertentu. Observasi
dibedakan jadi observasi partisipatif yaitu dimana observer ikut kedalam objek yang sedang dia
observasi. Observasi non partisipatif yaitu observasi yang dilakukan dengan cara observer murni
sebagai pengamat.
Wawancara
Wawancara adalah komunikasi langsung antara pewawancara dan yang diwawancarai. Ada dua
jenis wawancara yaitu wawancara langsung apabila pewawancara melakukan komunikasi dengan
subjek yang akan dievaluasi. Wawancara tidak langsung apabila pewawancara mengumpulkan data
subjek melalui pelantara.
Studi kasus
Studi kasus dilaksanakan untuk mempelajari individu dalam periode tertentu secara terus menerus.
Skala Penilaian
Skala penilaian/rating acale adalah salah satu alat penilaian dengan mengunakan alat yang telah
disusun dari yang negatif sampai positif, sehingga pada skala tersebut penilai tunggal membubuhi
tanda.

2.2. Konsep dan Teori Kurikulum


Teori kurikulum adalah suatu perangkat pernyataan yang memberikan makna terhadap
kurikulum sekolah, makna tersebut terjadi karena adanya penegasan hubungan antara unsur-unsur
kurikulum, karena adanya petunjuk perkembangan/penggunaan dan evaluasi kurikulum.
Konsep terpenting yang perlu mendapat penjelasan dalam teori kurikulum adalah konsep
kurikulum.

1. Konsep kurikulum
Konsep terpenting yang perlu mendapatkan penjelasan dalam teori kurikulum adalah konsep
kurikulum. Ada tiga konsep tentang kurikulum, kurikulum sebagai substansi, sebagai sistem, dan
sebagai bidang studi.
a. Konsep pertama, kurikulum sebagai suatu substansi:
Suatu kurikulum, dipandang orang sebagai suatu rencana kegiatan belajar bagi murid-murid di
sekolah, atau sebagai suatu perangkat tujuan yang ingin dicapai. Suatu kurikulum juga dapat
menunjuk kepada suatu dokumen yang berisi rumusan tentang tujuan, bahan ajar, kegiatan belajar-
mengajar, jadwal, dan evaluasi. Suatu kurikulum juga dapat digambarkan sebagai dokumen tertulis
sebagai hasil persetujuan bersama antara para penyusun kurikulum dan pemegang kebijaksanaan
pendidikan dengan masyarakat. Suatu kurikulum juga dapat mencakup lingkup tertentu, suatu
sekolah, suatu kabupaten, propinsi, ataupun seluruh negara.
b. Konsep kedua, adalah kurikulum sebagai suatu sistem:
Yaitu sistem kurikulum. Sistem kurikulum merupakan bagian dari sistem persekolahan, sistem
pendidikan, bahkan sistem masyarakat. Suatu sistem kurikulum mencakup struktur personalia, dan
prosedur kerja bagaimana cara menyusun suatu kurikulum, melaksanakan, mengevaluasi, dan
menyempurnakannya. Hasil dari suatu sistem kurikulum adalah tersusunnya suatu kurikulum, dan
fungsi dari sistem kurikulum adalah bagaimana memelihara kurikulum agar tetap dinamis.
c. Konsep ketiga, kurikulum sebagai suatu bidang studi:
Yaitu bidang studi kurikulum. Ini merupakan bidang kajian para ahli kurikulum dan ahli pendidikan
dan pengajaran. Tujuan kurikulum sebagai bidang studi adalah mengembangkan ilmu tentang
kurikulum dan sistem kurikulum. Mereka yang mendalami bidang kurikulum mempelajari konsep-
konsep dasar tentang kurikulum. Melalui studi kepustakaan dan berbagai kegiatan penelitian dan
percobaan, mereka menemukan hal-hal barn yang dapat memperkaya dan memperkuat bidang studi
kurikulum.
Seperti halnya para ahli ilmu sosial lainnya, para ahli teori kurikulum juga dituntut untuk:
1) Mengembangkan definisi-definisi deskriptif dan preskriptif dari istilah-istilah teknis,
2) Mengadakan klasifikasi tentang pengetahuan yang telah ada dalam pengetahuan-pengetahuan
baru,
3) Melakukan penelitian inferensial dan prediktif,
4) Mengembangkan subsubteori kurikulum, mengembangkan dan melaksanakan model-model
kurikulum.
Keempat tuntutan tersebut menjadi kewajiban seorang ahli teori kurikulum. Melalui
pencapaian keempat hal tersebut baik sebagai subtansi, sebagai sistem, maupun bidang studi
kurikulum dapat bertahan dan dikembangkan.

2. Perkembangan Teori Kurikulum


Perkembangan teori kurikulum tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangannya.
Perkembangan kurikulum telah dimulai pada tahun 1890 dengan tulisan Charles dan McMurry,
tetapi secara definitif berawal pada hasil karya Franklin Babbit tahun 1918. Bobbit Bering
dipandang sebagai ahli kurikulum yang pertama, is perintis pengembangan praktik kurikulum.
Bobbit adalah orang pertama yang mengadakan analisis kecakapan atau pekerjaan sebagai cara
penentuan keputusan dalam penyusunan kurikulum. Dia jugalah yang menggunakan pendekatan
ilmiah dalam mengidentifikasi kecakapan pekerjaan dan kehidupan orang dewasa sebagai dasar
pengembangan kurikulum.
Menurut Bobbit, inti teori kurikulum itu sederhana, yaitu kehidupan manusia. Kehidupan
manusia meskipun berbeda-beda pada dasarnya sama, terbentuk oleh sejumah kecakapan pekerjaan.
pendidikan berupaya mempersiapkan kecakapan-kecakapan tersebut dengan teliti dan sempurna.
Kecakapan-kecakapan yang harus dikuasai untuk dapat terjun dalam kehidupan sangat bermacam-
macam, bergantung pada tingkatannya maupun jenis lingkungan. Setiap tingkatan dan lingkungan
kehidupan menuntut penguasaan pengetahuan, keterampilan, sikap, kebiasaan, apresiasi tertentu.
Hal-hal itu merupakan tujuan kurikulum. Untuk mencapai hal-hal itu ada serentetan pengalaman
yang harus dikuasai anak. Seluruh tujuan beserta pengalaman-pengalaman tersebut itulah yang
menjadi bahan kajian teori kurikulum.
Werrett W. Charlters (1923) setuju dengan konsep Bobbit tentang analisis
kecakapan/pekerjaan sebagai dasar penyusunan kurikulum. Charters lebih menekankan pada
pendidikan vokasional.

Ada dua hal yang sama dari teori kurikulum, teori Bobbit dan Charters:
1. Keduanya setuju atas penggunaan teknik ilmiah dalam memecahkan masalah-masalah kurikulum.
Dalam hal ini mereka dipengaruhi oleh gerakan ilmiah dalam pendidikan yang dipelopori oleh E.L.
Thorndike, Charles Judd, dan lain-lain.
2. Keduanya bertolak pada asumsi bahwa sekolah berfungsi mempersiapkan anak bagi kehidupan
sebagai orang dewasa. Untuk mencapai hal tersebut, perlu analisis tentang tugas-tugas dan tuntutan
dalam kurikulum disusun keterampilan, pengetahuan, sikap, nilai, dan lain-lain yang diperlukan
untuk dapat berpartisipasi dalam kehidupan orang dewasa. Bertolak pada hal-hal tersebut mereka
menyusun kurikulum secara lengkap dalam bentuk yang sistematis.
Mulai tahun 1920, karena pengaruh pendidikan progresif, berkembang gerakan pendidikan
yang berpusat pada anak (child centered). Teori kurikulum berubah dari yang menekankan pada
organisasi isi yang diarahkan pada kehidupan sebagai orang dewasa (Bobbit dan Charters) kepada
kehidupan psikologis anak pada saat ini. Anak menjadi pusat perhatian pendidikan. Isi kurikulum
harus didasarkan atas minat dan kebutuhan siswa. pendidikan menekankan kepada aktivitas siswa,
siswa belajar melalui pengalaman. Penyusunan kurikulum harus melibatkan siswa.
Perkembangan teori kurikulum selanjutnya dibawakan oleh Hollis Caswell. Dalam
peranannya sebagai ketua divisi pengembang kurikulum di beberapa negara bagian di Amerika
Serikat (Tennessee, Alabama, Florida, Virginia), itu mengembangkan konsep kurikulum yang
berpusat pada masyarakat atau pekerjaan (society centered) maka Caswell mengembangkan
kurikulum yang bersifat interaktif. Dalam pengembangan kurikulumnya, Caswell menekankan pada
partisipasi guru-guru, berpartisipasi dalam menentukan kurikulum, menentukan struktur organisasi
dari penyusunan kurikulum, dalam merumuskan pengertian kurikulum, merumuskan tujuan,
memilih isi, menentukan kegiatan belajar, desain kurikulum, menilai hasil, dan sebagainya.
Pada tahun 1947 di Univeristas Chicago berlangsung diskusi besar pertama tentang teori
kurikulum. Sebagai hasil diskusi tersebut dirumuskan tiga tugas utama teori kurikulum:
a. Mengidentifikasi masalah-masalah penting yang muncul dalam pengembangan kurikulum dan
konsep-konsep yang mendasarinya,
b. Menentukan hubungan antara masalah-masalah tersebut dengan struktur yang mendukungnya,
c. Mencari atau meramalkan pendekatan-pendekatan pada masa yang akan datang untuk
memecahkan masalah tersebut.
Ralph W. Tylor (1949) mengemukakan empat pertanyaan pokok yang menjadi inti kajian
kurikulum:
1. Tujuan pendidikan yang manakah yang ingin dicapai oleh sekolah?
2. Pengalaman pendidikan yang bagaimanakah yang harus disediakan untuk mencapai tujuan
tersebut?
3. Bagaimana mengorganisasikan pengalaman pendidikan tersebut secara efektif?
4. Bagaimana kita menentukan bahwa tujuan tersebut telah tercapai?
Empat pertanyaan pokok tentang kurikulum dari Tylor ini banyak dipakai oleh para
pengembangan kurikulum berikutnya. Dalam konferensi nasional perhimpunan pengembang dan
pengawas kurikulum tahun 1963 dibahas dua makalah penting dari George A. Beauchamp dan
Othanel Smith. Beauchamp menganalisis pendekatan ilmiah tentang tugas-tugas pengembangan
teori dalam kurikulum. Menurut Beauchamp, teori kurikulum secara konseptual berhubungan erat
dengan pengembangan teori dalam ilmu-ilmu lain.
Hal-hal yang penting dalam pengembangan teori kurikulum adalah penggunaan istilah-
istilah teknis yang tepat dan konsisten, analisis dan klasifikasi pengetahuan, penggunaan
penelitianpenelitian preckktif untuk menambah konsep, generalisasi atau kaidahkaidah, sebagai
prinsip-prinsip yang menjadi pegangan dalam menjelaskan fenomena kurikulum.
Dalam makalah kedua, Othanel Smith menguraikan peranan filsafat dalam pengembangan teori
kurikuklm yang bersifat ilmiah. Menurut Smith, ada tiga sumbangan utama filsafat terhadap teori
kurikulum, yaitu dalam :
(1) Merumuskan dan mempertimbangan tujuan pendidikan,
(2) Memilih dan menyusun bahan,
(3) Perluasan bahasa khusus kurikulum.
James B. MacDonald (1964) melihat teori kurikulum dari model sistem. Ada empat sistem
dalam persekolahan yaitu kurikulum, pengajaran (instruction), mengajar (teaching), dan belajar.
Interaksi dari empat sistem ini dapat digambarkan dengan suatu diagram Venn. Melihat kurikulum
sebagai suatu sistem dalam sistem yang lebih besar yaitu persekolahan dapat memperjelas
pemikiran tentang konsep kurikulum. Penggunaan model sistem juga dapat membantu para ahli
teori kurikulum menentukan jenis dan lingkup konseptualisasi yang diperlukan dalam teori
kurikulum.
Broudy, Smith, dan Burnett (1964) menjelaskan makalah persekolahan dalam suatu skema
yang menggambarkan komponen-komponen dari keseluruhan proses mempengaruhi anak.
Beauchamp merangkumkan perkembangan teori kurikulum antara tahun 1960 sampai dengan 1965.
la mengidentifikasi adanya enam komponen kurikulum sebagai bidang studi, yaitu:
a. Landasan kurikulum,
b. Isi kurikulum,
c. Desain kurikulum,
d. Rekayasa kurikulum,
e. Evaluasi dan penelitian,
f. Pengembangan teori.
Thomas L. Faix (1966) menggunakan analisis struktural-fungsional yang berasal dari
biologi, sosiologi, dan antropologi untuk menjelaskan konsep kurikulum. Fungsi kurikulum
dilukiskan sebagai proses bagaimana memelihara dan mengembangkan strukturnya. Ada sejumlah
pertanyaan yang diajukan dalam analisis struktural-fungsional ini. Topik dan subtopik dari
pertanyaan ini menunjukkan fenomena-fenomena kurikulum. Pertanyaan-pertanyaan itu
menyangkut:
(1) Pertanyaan umum tentang fenomena kurikulum,
(2) Sistem kurikulum,
(3) Unit analisis dan unsurunsurnya,
(4) Struktur sistem kurikulum,
(5) Fungsi sistem kurikulum,
(6) Proses kurikulum, dan
(7) Prosedur analisis struktural-fungsional.
Alizabeth S. Maccia. (1965) dari hasil analisisnya menyimpulkan adanya empat teori
kurikulum, yaitu:
1. Teori kurikulum (curriculum theory),
2. Teori kurikulum-formal (formal-curriculum theory),
3. Teori kurikulum valuasional (valuational curriculum theory),
4. Teori kurikulum praksiologi (praxiological curriculum theory).

Teori kurikulum (curriculum Theory atau event theory) merupakan teori yang menguraikan
pemilihan dan pemisahan kejadian/peristiwa kurikulum atau yang berhubungan dengan kurikulum
dan yang bukan. Menurut Maccia, kurikulum merupakan bagian dari pengajaran, teori kurikulum
merupakan subteori pengajaran. Teori kurikulum formal memusatkan perhatiannya pada struktur isi
kurikulum. Teori kurikulum valuasional mengkaji masalah-masalah pengajaran apa yang berguna/
berharga bagi keadaan sekarang.
Teori kurikulum praksiologi merupakan suatu pengkajian tentang proses untuk mencapai
tujuan-tujuan kurikulum. Walaupun mungkin, kita tidak setuju dengan seluruh pendapat Maccia,
tetapi is telah berhasil menunjukkan sejumlah dimensi kurikulum yang cukup berharga untuk
menjelaskan teori kurikulum.
Mauritz Johnson (1967) membedakan antara kurikulum dengan proses pengembangan
kurikulum. Kurikulum merupakan basil dari sistem pengembangan kurikulum, tetapi sistem
pengembangan bukan kurikulum. Menurut Johnson, kurikulum merupakan seperangkat tujuan
belajar yang terstruktur. Jadi, kurikulum berkenaan dengan tujuan dan bukan dengan kegiatan.
Berdasarkan rumusan kurikulum tersebut, pengalaman belajar anak menjadi bagian dari pengajaran.
Johnson menganalisis enam unsur kurikulum, yaitu:
1. A curriculum is a structured series of intended learning out comes.
2. Selection is an essential aspect of curriculum formulation.
3. Structure is an essential charactistic of curriculum.
4. Curriculum guide instrcution
5. Curriculum evaluation involeves validation of both selection and structure.
6. Curriculum is the criterion for instructional evaluation.

Jack R. Frymier (1967) mengemukakan tiga unsur dasar kurikulum, yaitu aktor, artifak, dan
pelaksanaan. Aktor adalah orang-orang yang terlibat dalam pelaksanaan kurikulum. Artifak adalah
isi dan rancangan kurikulum. Pelaksanaan adalah proses interaksi antara aktor yang melibatkan
artifak. Studi kurikulum menurut Frymier meliputi tiga langkah: perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi.
Ada beberapa masalah atau isu substansial dalam pembahasan tentang teori kurikulum, yaitu:
a. Definisi kurikulum,
b. Sumber-sumber kebijaksanaan kurikulum,
c. Desain kurikulum, rekayasa kurikulum,
d. Peranan nilai dalam pengembangan kurikulum,
e. Implikasi teori kurikulum.

Semua rumusan teori kurikulum diawali dengan definisi. Definisi di sini bukan sekadar
definisi istilah, melainkan definisi konsep, isi dan ruang lingkup, serta struktur. Beberapa
pertanyaan umum tentang karakteristik kurikulum sebagai bidang studi yang perlu didefinisikan
umpamanya, apakah kurikulum merupakan suatu konsep dalam sistem persekolahan? Apakah
kurikulum mencakup mengajar dan pengajaran? Sampai sejauh mana kegiatan belajar siswa
menjadi bagian kurikulum? Apakah ruang lingkup kurikulum sebagai bidang studi? Beberapa
pertanyaan yang lebih khusus, yang lebih berkenaan dengan karakteristik desain kurikulum,
umpamanya apakah kurikulum harus memiliki serangkaian tujuan khusus? Apakah kurikulum perlu
memiliki sejumlah materi untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut? Apakah kurikulum perlu
mengadakan rumusan yang lebih spesifik tentang rencana dan bahan pengajaran? Apakah perlu ada
spesifikasi tentang makna perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum?

3. Desain dan Rekayasa Kurikulum


Telah diutarakan sebelumnya bahwa ada dua subteori dari teori kurikulum, yaitu desain
kurikulum (curriculum design) dan rekayasa kurikulum (curriculum engineering).
Desain kurikulum merupakan suatu pengorganisasian tujuan, isi, serta proses belajar yang
akan diikuti siswa pada berbagai tahap perkembangan pendidikan. Dalam desain kurikulum akan
tergambar unsur-unsur dari kurikulum, hubungan antara satu unsur dengan unsur lainnya,
prinsipprinsip pengorganisasian, serta hal-hal yang diperlukan dalam pelaksanaannya.
Dalam desain kurikulum, ada dua dimensi penting, yaitu:
(1) Substansi, unsur-unsur serta organisasi dari dokumen tertulis kurikulum,
(2) Model pengorganisasian dan bagian-bagian kurikulum terutama organisasi dan proses
pengajaran.

Menurut Beauchamp, kurikulum mempunyai tiga karakteristik, yaitu:


(1) Kurikulum merupakan dokumen tertulis,
(2) Berisi garis-garis besar rumusan tujuan, berdasarkan garis-garis besar tujuan tersebut desain
kurikulum disusun,
(3) Isi atau materi ajar, dengan materi tersebut tujuantujuan kurikulum dapat dicapai.

Ada dua hal yang perlu ditambahkan dalam desain kurikulum:


1. Ketentuan-ketentuan tentang bagaimana penggunaan kurikulum, serta bagaimana mengadakan
penyemprunaan-penyempurnaan berdasarkan masukan dari pengalaman.
2. Kurikulum itu dievaluasi, baik bentuk desainnya maupun sistem pelaksanaannya.

Rekayasa kurikulum berkenaan dengan bagaimana proses memfungsikan kurikulum di


sekolah, upaya-upaya yang perlu dilakukan para pengelola kurikulum agar kurikulum dapat
berfungsi sebaik-baiknya. pengelola kurikulum di sekolah terdiri atas para pengawas/penilik dan
kepala sekolah, sedangkan pada tingkat pusat adalah Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum
Balitbang Dikbud dan para Kasubdit/Kepala Bagian Kurikulum di Direktorat.
Dengan menerima pelimpahan wewenang dari Menteri atau Dirjen, para pejabat pusat
tersebut merancang, mengembangkan, dan mengadakan penyempurnaan kurikulum. Juga mereka
memberi tugas dan tanggung jawab menyusun dan mengembangkan berbagai bentuk pedoman dan
petunjuk pelaksanaan kurikulum. Para pengelola di daerah dan sekolah berperan melaksanakan dan
mengawasi pelaksanaan kurikulum.
Seluruh sistem rekayasa kurikulum menurut Beauchamp mencakup lima hal, yaitu:
a. Arena atau lingkup tempat dilaksanakannya berbagai proses rekayasa kurikulum,
b. Keterlibatan orang-orang dalam proses kurikulum,
c. Tugas-tugas dan prosedur perencanaan kurikulum,
d. Tugas-tugas dan prosedur implementasi kurikulum,
e. Tugas-tugas dan prosedur evaluasi kurikulum.

Dari semua uraian tentang hal-hal yang berkaitan dengan teori kurikulum, Beauchamp (hal.
82) mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan teori kurikulum, yaitu:
1. Setiap teori kurikulum harus dimulai dengan perumusan (definisi) tentang rangkaian kejadian
yang dicakupnya.
2. Setiap teori kurikulum harus mempunyai kejelasan tentang nilai-nilai dan sumber-sumber
pangkal tolaknya.
3.Setiap teori kurikulum perlu menjelaskan karakteristik dari desain kurikulumnya.
4. Setiap teori kurikulum harus menggambarkan proses-proses penentuan kurikulumnya serta
interaksi di antara proses tersebut.
5. Setiap teori kurikulum hendaknya menyiapkan diri bagi proses penyempurnaannya.
2.3. Langkah - Langkah Pengembangan Kurikulum

a. Sumber Pengembangan Kurikulum


Dari kajian sejarah kurikulum, kita mengetahui beberapa hat yang menjadi sumber atau
landasan inti penyusunan kurikulum. Pengembangan kurikulum pertama bertolak dari kehidupan
dan pekerjaan orang dewasa. Karena sekolah mempersiapkan anak bag! kehidupan orang dewasa,
kurikulum terutama isi kurikulum diambil dari kehidupan orang dewasa. Para pengembang
kurikulum mendasarkan kurikulumnya atas hasil analisis pekerjaan dan kehidupan orang dewasa.
Dalam pengembangan selanjutnya, sumber in! menjadi lugs meliputi semua unsur kebudayaan.
Manusia adalah makhluk yang berbudaya, hidup dalam lingkungan budaya, dan turut menciptakan
budaya. Untuk dapat hidup dalam lingkungan budaya, ia harus mempelajari budaya, maka budaya
menjadi sumber utama isi kurikulum. Budaya ini mencakup semua disiplin ilmu yang telah
ditemukan dan dikembangkan para pakar, nilai-nilai adat-istiadat, perilaku, benda-benda, dan lain-
lain.
Sumber lain penyusunan kurikulum adalah anak. Dalam pendidikan atau pengajaran, yang
belajar adalah anak. Pendidikan atau pengajaran bukan memberikan sesuatu pada anak, melainkan
menumbuhkan potensipotensi yang telah ada pada anak. Anak menjadi sumber kegiatan pengajaran,
ia menjadi sumber kurikulum. Ada tiga pendekatan terhadap anak sebagai sumber kurikulum, yaitu
kebutuhan siswa, perkembangan siswa, serta minat siswa. Jadi, ada pengembangan kurikulum
bertolak dari kebutuhan-kebutuhan siswa, tingkat-tingkat perkembangan siswa, serta hal-hal yang
diminati siswa.
Beberapa pengembang kurikulum mendasarkan penentuan kurikulum kepada pengalaman-
pengalaman penyusunan kurikulum yang lalu. Pengalaman pengembangan kurikulum yang lalu
menjadi sumber penyusunan kurikulum kemudian. Hal lain yang menjadi sumber penyusunan
kurikulum adalah nilai-nilai. Beauchamp menegaskan bahwa nilai dapat merupakan sumber
penentuan keputusan yang dinamis.
Pertanyaan pertama yang muncul dalam kurikulum yang berdasarkan nilai adalah: Apakah
yang harus diajarkan di sekolah? Ini merupakan pertanyaan tentang nilai. Nilai-nilai apakah yang
harus diberikan dalam pelaksanaan kurikulum? Nilai-nilai apa yang digunakan sebagai kriteria
penentuan kurikulum dan pelaksanaan kurikulum.
Terakhir yang menjadi sumber penentuan kurikulum adalah kekuasaan sosial-politik. Di
Amerika Serikat pemegang kekuasaan sosial-politik yang menentukan kebijaksanaan dalam
kurikulum adalah board of education lokal yang mewakill negara bagian. Di Indonesia, pemegang
kekuasaan sosialpolitik dalam penentuan kurikulum adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
yang dalam pelaksanaannya dilimpahkan kepada Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah serta
Dirjen Pendidikan Tinggi bekerja sama dengan Balitbangdikbud. pada pendidikan dasar dan
menengah, kekuasaan penyusunan kurikulum sepenuhnya ada pada pusat, sedangkan pada
perguruan tinggi rektor diberi kekuasaan untuk menentukan kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam
penyusunan kurikulum.

b. Langkah - Langkah Pengembangan Kurikulum


Pengembangan kurikulum meliputi empat langkah, yaitu merumuskan tujuan pembelajaran
(instructional objective), menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar (selection of learning
experiences), mengorganisasi pengalaman-pegalaman belajar (organization of learning
experiences), dan mengevaluasi (evaluating).
1. Merumuskan Tujuan Pembelajaran (instructional objective)
Terdapat tiga tahap dalam merumuskan tujuan pembelajaran.
Tahap yang pertama yang harus diperhatikan dalam merumuskan tujuan adalah memahami tiga
sumber, yaitu siswa (source of student), masyarakat (source of society), dan konten (source of
content).
Tahap kedua adalah merumuskan tentative general objective atau standar kompetensi (SK) dengan
memperhatikan landasan sosiologi (sociology), kemudian di-screen melalui dua landasan lain dalam
pengembangan kurikulum yaitu landasan filsofi pendidikan (philosophy of learning) dan psikologi
belajar (psychology of learning).
Tahap ketiga adalah merumuskan precise education atau kompetensi dasar (KD).

2. Merumuskan dan Menyeleksi Pengalaman-Pengalaman Belajar (selection of learning


experiences)
Dalam merumuskan dan menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar dalam pengembangan
kurikulum harus memahami definisi pengalaman belajar dan landasan psikologi belajar (psychology
of learning). Pengalaman belajar merupakan bentuk interaksi yang dialami atau dilakukan oleh
siswa yang dirancang oleh guru untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan. Pengalaman
belajar yang harus dialami siswa sebagai learning activity menggambarkan interaksi siswa dengan
objek belajar. Belajar berlangsung melalui perilaku aktif siswa; apa yang ia kerjakan adalah apa
yang ia pelajari, bukan apa yang dilakukan oleh guru. Dalam merancang dan menyeleksi
pengalaman-pengalaman belajar juga memperhatikan psikologi belajar.

3. Mengorganisasi Pengalaman Pengalaman Belajar (organization of learning experiences)


Pengorganisasi atau disain kurikulum diperlukan untuk memudahkan anak didik untuk
belajar. Dalam pengorganisasian kurikulum tidak lepas dari beberapa hal penting yang mendukung,
yakni: tentang teori, konsep, pandangan tentang pendidikan, perkembangan anak didik, dan
kebutuhan masyarakat. Pengorganisasian kurikulum bertalian erat dengan tujuan pendidikan yang
ingin dicapai. Oleh karena itu kurikulum menentukan apa yang akan dipelajari, kapan waktu yang
tepat untuk mempelajari, keseimbangan bahan pelajaran, dan keseimbangan antara aspek-aspek
pendidikan yang akan disampaikan.

4. Mengevaluasi (evaluating) Kurikulum


Langkah terakhir dalam pengembangan kurikulum adalah evaluasi. Evaluasi adalah proses
yang berkelanjutan di mana data yang terkumpul dan dibuat pertimbangan untuk tujuan
memperbaiki sistem. Evaluasi yang seksama adalah sangat esensial dalam pengembangan
kurikulum. Evaluasi dirasa sebagai suatu proses membuat keputusan , sedangkan riset sebagai
proses pengumpulan data sebagai dasar pengambilan keputusan.
Perencana kurikulum menggunakan berbagai tipe evaluasi dan riset. Tipe-tipe evaluasi
adalah konteks, input, proses, dan produk. Sedagkan tipe-tipe riset adalah aksi, deskripsi, historikal,
dan eksperimental. Di sisi lain perencana kurikulum menggunakan evaluasi formatif (proses atau
progres) dan evaluasi sumatif (outcome atau produk).
Terdapat dua model evaluasi kurikulum yaitu model Saylor, Alexander, dan Lewis, dan
model CIPP yang didesain oleh Phi Delta Kappa National Study Committee on Evaluation yang
diketuai Daniel L. Stufflebeam.
Menurut model Saylor, Alexander, dan Lewis terdapat lima komponen kurikulum yang
dievaluasi, yaitu tujuan (goals, subgoals, dan objectives), program pendidikan secara keseluruhan
(the program of education as a totality), segmen khusus dari program pendidikan ( the specific
segments of the education program, pembelajaran (instructional), dan program evaluasi (evaluation
program). Komponen pertama, ketiga, dan keempat mempunyai konttribusi pada komponen kedua
(program pendidikan secara keseluruhan). Pada komponen kelima, program evaluasi, disarankan
sangat perlu untuk mengevaluasi evaluasi program itu sendiri, sebab hal ini suatu operasi idependen
yang mempunyai implikasi pada proses evaluasi.

Pada model CIPP mengkombinasikan tiga langkah utama dalam proses evaluasi, yaitu:
penggambaran (delineating),
perolehan (obtainin),
penyediaan (providing);
Tiga kelas perubahan yaitu homeostastis, incrementalisme, dan neomobilisme; dan empat
tipe evaluasi (konteks, input, proses, dan produk); serta empat tipe keputusan ( planning,
structuring, implementing, dan recycling).
Evaluator kurikulum yang dipekerjakan oleh sistem sekolah dapat berasal dari dalam
maupun dari luar. Banyak evaluasi kurikulum dibebankan pada guru-guru di mana mereka bekerja.
Dalam mengevaluasi harus memenuhi empat standar evaluasi yaitu:
utility,
feasibility,
propriety,
accuracy.

Evaluasi kurikulum merupakan titik kulminasi perbaikan dan pengembangan kurikulum.


Evaluasi ditempatkan pada langkah terakhir, evaluasi mengkonotasikan akhir suatu siklus dan awal
dari siklus berikutnya. Perbaikan pada siklus berikutnya dibuat berdasarkan hasil evaluasi siklus
sebelumnya.
Dalam kegiatan mengembangkan suatu kurikulum maka kita memerlukan prinsip-prinsip
yang harus diperhatikan yaitu prinsip:
relevansi,
efektifitas,
efisiensi,
kesinambungan
fleksibilitas.
Salah satu fungsi pendidikan dan kurikulum bagi masyarakat adalah menyiapkan peserta
didik untuk hidup di kemudian hari. Dikatakan bahwa bentuk paling sederhana dari kurikulum
adalah merupakan himpunan pengalaman, sistem nilai, pengetahuan, keterampilan dan pola sikap
yang ingin dihantarkan kepada peserta didik dengan harapan bahwa keseluruhan yang dihantarkan
tersebut merupakan bekal para peserta didik dalam mengembangkan diri di dalam masyarakat
dikemudian hari.

Pengembangan kurikulum pada dasarnya berkisar pada hal-hal yang berkenaan dengan hal-hal
berikut :
1. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang melaju terlalu cepat.
2. Pendidikan merupakan proses transisi
3. Manusia dalam keadaan terbatas kemampuannya untuk menerima, menyampaikan dan mengolah
informasi.
Atas dasar inilah, maka diperlukan suatu proses pengembangan kurikulum yang merupakan
suatu masalah pemilihan kurikulum yang penyelesaiannya dapat ditinjau dari berbagai pendekatan
antara lain pendekatan atas dasar keperluan pribadi. Untuk merealisasikannya, maka diperlukan
suatu model pengembangan kurikulum dengan pendekatan yang sesuai.
Ulasan teoritis tentang suatu konsepsi dasar itu disebut model atau konstruksi.
Pengembangan kurikulum model tersebut merupakan ulasan teoritis tentang suatu proses kurikulum
secara menyeluruh atau dapat pula ulasan tentang salah satu komponen kurikulum. Ulasan teoritis
tersebut menetapkan titik berat ulasan yang berbeda-beda, ada yang menitikberatkan pada
organisasi kurikulum, ada pula yang menitikberatkan pada hubungan antar pribadi dalam
pengembangan kurikulum.
Banyak model dalam pengembangan kurikulum yang dapat diterapkan dalam
pelaksanaannya. Namun ada hal yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam menetapkan model
pengembangan kurikulum yang mungkin dapat diterapkan. Hal tersebut adalah bahwa penerapan
model-model tersebut sebaiknya didasarkan pada faktor-faktor yang konstan, sehingga ulasan
tentang model-model yang dibahas dapat terungkapkan secara konsisten.
2.4. Pendekatan Introspektif
Pendekatan introspektif yaiu mendasarkan penentuan kurikulum pada hasil pemikiran
perorangan atau kelompok, tetapi lebih difokuskan kepada mereka yang terlibat langsung dalam
penyelenggaraan pendidikan teknologi dan kejuruan, yaitu guru dan para administrator. Guru dan
administrator adalah orang-orang yang terlibat langsung di lapangan, sehingga diharapkan mereka
akan tahu persis apa yang selayaknya dimasukan sebagai isi kurikulum sekolah. Jadi, diperlukan
orang- orang yang dapat mengetahui, memahami, menghayati apa yang terjadi di lapangan dan
bagaimana sebaiknya yang perlu ada dalam isi kurikulum yang nanti dapat diimplementasikan
secara relatif mendekati kesempurnaan yang diharapkan untuk memperoleh lulusan yang handal,
dapat beradaptasi di lapangan.

Realisasi pendekatan introspektif akan dimulai mempelajari apa yang terjadi di lapangan
yang sudah dilaksanakan, berjalan, dan dilengkapi dengan data program yang serupa yang ada di
tempat lain sebagai bahan bandingan. Bahkan bandingan itu, baik di negara kita sendiri atau
dibandingkan dengan yang ada di negara lain walaupun hanya melalui literatur, dan apabila
langsung survey tentu akan lebih konkrit, tetapi tentu konsekuensi pada dana. Selain itu perlu
dipelajari katalog sekolah, laporan tahunan sekolah, melalui majalah atau jurnal sebagai bahan
memperluas wawasan. Ini dilakukan para guru atau administrator sebelum mereka mengambil
keputusan untuk masukan isi kurikulum yang dimaksud.

Guru dan administator yang dilibatkan dengan pendekatan introspektif adalah guru dan
administrator yang dalam realitanya terjun langsung di lapangan,mengetahui atau merasakan persis
apa yang dirasakan di lapangan bukan guru dan administrator yang hanya duduk di meja tidak
pernah melihat lapangan. Melihat lapangan berarti guru tersebut langsung membimbing praktik di
laboratorium atau langsung menjadi pembimbing pada peserta didik terjun ke lokasi industri atau
dunia usaha, sehingga para guru atau administrator tersebut menghayati betul apa kekurangan atau
kelemahan yang terjadi pada peserta didik.

Untuk lebih memantapkan menentukan isi kurikulum, maka pendekatan introspektif ini
dapat melibatkan personalia dari industri atau dunia usaha sebagai dewan penasihat kurikulum
(curriculum advisory commite). Cara ini pun akan lebih baik, sehingga akan lebih mendekatkan
hubungan antara sekolah dan dunia kerja. Cara ini pula dapat ditempuh melalui hubungan dekat
atau pribadi dari guru atau administrator, dan dengan pihak industri, pengusaha akan memberi
peluang untuk mendiskusikan masalah isi kurikulum dengan para pemakai tenaga lulusan dari
pendidikan teknologi dan kejuruan untuk berbagai bidang keahlian. Hubungan pribadi ke arah
positif antara pihak orang-orang yang ada di sekolah dan pihak dunia usaha dan dunia industri harus
dijalin demi kepentingan yang lebih besar dari dunia pendidikan, khususnya dunia pendidikan
teknologi dan kejuruan.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses berlajar mengajar
di bawah bimbingan dan tanggunga jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf
pengajarnya. Kurikulum merupakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di bawah pengawasan sekolah,
jadi selain kegiatan kulikuler yang formal juga kegiatan yang tak formal. (Nasution, 2008:5)
Fungsi kurikulum dalam proses pendidikan, yakni merupakan alat untuk mencapai tujuan
pendidikan, maka hal ini berarti, sebagai alat pendidikan kurikulum mempunyai komponen-
komponen penunjang yang saling mendukung satu sama lainnya. Lima komponen kurikulum yaitu:
1. Tujuan,
2. Isi dan struktur program,
3. Organisasi dan strategi,
4. Sarana
5. Evaluasi.

Teori kurikulum adalah suatu perangkat pernyataan yang memberikan makna terhadap
kurikulum sekolah, makna tersebut terjadi karena adanya penegasan hubungan antara unsur-unsur
kurikulum, karena adanya petunjuk perkembangan/penggunaan dan evaluasi kurikulum.
Ada tiga konsep tentang kurikulum, kurikulum sebagai substansi, sebagai sistem, dan sebagai
bidang studi.
Ulasan teoritis tentang suatu konsepsi dasar itu disebut model atau konstruksi.
Pengembangan kurikulum model tersebut merupakan ulasan teoritis tentang suatu proses kurikulum
secara menyeluruh atau dapat pula ulasan tentang salah satu komponen kurikulum.
Model-model pengembangan kurikulum tersebut diantaranya adalah :
1. The Administrative Model
2. The Grass-Roots Model
3. The Demonstration Model
4. Beauchamps Model
5. Tabas Inverted Model
6. Rogers Interpersonal Relations Model
7. The Systematic Action-Research Model
8. Emerging Technical Models
a. The Behavioral Analysis Model
b. The System Analysis Model
c. Pendekatan Introspektif

Pendekatan introspektif yaiu mendasarkan penentuan kurikulum pada hasil pemikiran


perorangan atau kelompok, tetapi lebih difokuskan kepada mereka yang terlibat langsung dalam
penyelenggaraan pendidikan teknologi dan kejuruan, yaitu guru dan para administrator. Guru dan
administrator adalah orang-orang yang terlibat langsung di lapangan, sehingga diharapkan mereka
akan tahu persis apa yang selayaknya dimasukan sebagai isi kurikulum sekolah.
DAFTAR PUSTAKA

Abbatt. 1998. Pengajaran yang Efektif. Jakarta: IKAPI.

Ali, Mohammad. 2003. Pendidikan untuk Pembangunan Nasional. Bandumg: Grasindo.

Hasan, Said Hamid. 2005. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: Imperial Bhakti Utama.

Prayitno. 2002. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan. Bandung: Grasindo.

Sukmadinata, Nana Saodih. 2007. Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktik. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.