Anda di halaman 1dari 2

Memahami As Built Drawing yang Sebenarnya

Posted on May 31, 2014 by budisuanda


Walaupun rasanya as built drawing itu sederhana, tapi ternyata tidak sedikit yang
menyalah-artikan atau membuat rumit ketentuan dalam membuat atau memproses
gambar ini. Artikel ini adalah refresh bagi kita untuk memahami tentang As built
Drawing.
Teradapat beberapa referensi mengenai As built Drawing, yaitu :
Gambar-gambar yang sesuai dengan pelaksanaan di lapangan.
(www.bppk.depkeu.go.id)
Gambar aktual pelaksanaan setelah proses pekerjaan lapangan selesai
dilaksanakan. (www.bppk.depkeu.go.id)
The final set of drawings produced at the completion of a construction
project(www.wisegeek.com)
Revised set of drawing submitted by a contractor upon completion of a project
or a particular job. They reflect all changes made in the specifications and
working drawings during the construction process, and show the exact
dimensions, geometry, and location of all elements of the work completed under
the contract. Also called record drawings or just as-builts.
(www.businessdictionary.com)
It is common for the client to require that as-built drawings are prepared,
either during the construction process or when construction is complete, to
reflect what has actually been built. The contractor will generally mark up
changes to the final construction issue drawings on-site using red ink, and these
can then be used by the consultant team to create record drawings showing the
completed project. This information may be supplemented by as-built surveys.
(www.designingbuildings.co.uk)
Dari beberapa referensi di atas, definisi As Built Drawing adalah cukup sederhana,
yaitu gambar yang dibuat sesuai kondisi terbangun di lapangan yang telah
mengadopsi semua perubahan yang terjadi (spesifikasi dan gambar) selama proses
konstruksi yang menunjukkan dimensi, geometri, dan lokasi yang aktual atas semua
elemen proyek. Tujuan gambar ini adalah sebagai pedoman pengoperasian
bangunan yang dibuat dari shop drawing dimana telah mengadopsi perubahan yang
dilakukan pada saat konstruksi dimana perubahan tersebut ditandai secara khusus.
As Built Drawing dibuat oleh kontraktor dengan persetujuan Penyedia Jasa / Owner
melalui proses cek oleh konsultan pengawas.

Dengan tujuan pedoman pengoperasian, tentu saja As Built Drawing tidak perlu
sedetil shop drawing yang tujuannya adalah untuk dasar membangun yang dituntut
harus detil. spek penting yang harus diperhatikan adalah tujuan komunikasi kedua
gambar tersebut. Shop Drawing bertujuan untuk informasi lengkap bagaimana
membangun, sedangkan As Built Drawing bertujuan untuk informasi pedoman
pengoperasian. Contoh pada gambar penulangan balok, kadang diperlukan detil
penyaluran tulangan atau pembengkokan tulangan pada semua balok. Tapi gambar
ini cukup diganti dengan standart drawing. Tingkat detil kedua gambar, ditentukan
dari tujuan informasi atas fungsi kedua gambar tersebut.

Namun demikian, selalu ada saja yang keliru dalam mempersepsikan gambar ini.
Beberapa kasus nyata berdasarkan pengalaman disebutkan di bawah ini:
As Built Drawing menjadi bagian item progress pekerjaan dengan bobot
tertentu. Kasus ini kadang terjadi. Jelas merupakan hal yang keliru karena As
Built Drawing dikerjakan ketika pekerjaan telah selesai. Jika dianggap bagian
dari pekerjaan, maka progress akan sulit mencapai 100%. Membuat As Built
Drawing sendiri membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Akibatnya proses
mencapai progress 100% akan molor cukup jauh.
As Built Drawing hanya disetujui jika seluruh dokumen konstruksi telah
lengkap. Kasus ini terjadi karena mencampur adukkan antara proses konstruksi
dan pasca konstruksi. Adalah benar bahwa dalam pelaksanaan konstruksi harus
disertai dengan kelengkapan dokumen pendukung. Tapi hal ini bukan menjadi
syarat approval As Built Drawing karena gambar ini hanyalah record hasil
pekerjaan.
Gambar pabrik seperti pompa, mesin, panel diminta As Built Drawing-nya.
Barang yang dibeli jadi (bukan dibuat) bentuknya bukan detil shop drawing atau
As Built Drawing, melainkan katalog / manual book yang telah disediakan oleh
pabrik. Kesalahan persepsi dimana semua harus dibuat As Built Drawing terjadi
akibat kekeliruan memahami makna komunikasi dokumen proyek. Adanya
manual book yang dikeluarkan oleh pabrik tentu lebih rinci sedemikian tidak
perlu digambar ulang. Dengan adanya manual book pada elemen proyek seperti
itu, maka penggambaran pada As Built Drawing dapat disederhanakan dengan
bentuk simbol alat yang telah baku dan tidak perlu didetilkan.