Anda di halaman 1dari 2

2.

5 Hubungan Obesitas Dengan Peningkatan Kadar Asam Urat

Hiperurisemia merupakan penyakit yang berhubungan dengan obesitas. Serum asam urat

secara positif dan signifikan berhubungan dengan obesitas, diabetes mellitus, hipertensi dan

penyakit jantung iskemik. Penelitian prospektif oleh Akram et al menyimpulkan adanya

hubungan yang positif antara obesitas dengan hiperurisemia. Terindikasikan dengan jelas bahwa

Indeks Massa Tubuh (IMT) memiliki korelasi dengan konsentrasi asam urat dalam darah.

Penderita obesitas akan mengalami hiperurisemia akibat peningkatan sintesis asam urat dan

penurunan ekskresi asam urat oleh ginjal. Hiperurisemia pada obesitas terjadi melalui resistensi

hormon insulin yang merupakan suatu kondisi yang mendasari sindrom metabolik. Berbagai

penelitian telah mengungkapkan bahwa resistensi insulin ternyata berbanding terbalik dengan

clearance asam urat urin 24 jam. Oleh karena itu, terjadinya penurunan ekskresi asam urat dapat

meningkatkan reabsorpsi tubulus ginjal terhadap asam urat.17

Asam urat diproduksi secara normal dalam tubuh melalui diet (makanan yang

mengandung purin) dan degradasi sel. Peningkatan kadar asam urat (hiperurisemia) disebabkan

over production, penurunan ekskresi maupun dari masukan purin. Penurunan ekskresi asam urat

salah satunya disebabkan karena kelebihan lemak dalam tubuh. Lemak disimpan dalam jaringan

adipose dalam bentuk trigliserida, kelebihan kadar trigliserida dalam tubuh dapat menyebabkan

pembentukan endapan trigeserida sehingga terjadi fibrosis jaringan. Kemudian akan terbentuk

scar pada pembuluh darah sehingga darah dan zat lain dalam tubuh dihambat untuk bersikulasi

ke sel dan jaringan, dampaknya akan terjadi hipoksia jaringan yang ditandai dengan adanya

kelaparan sel, dari kelaparan sel inilah terjadi peningkatan kadar asam urat darah yang melalui

berbagai mekanisme sebagai berikut:

a) Terjadi metabolism anaerob, selain menghasilkan energi, metrabolisme anaerob jugan


menghasilkan produk sampingan berupa asam laktat. Asam laktat ini akan tertimbun di

otot sehingga menghambat ekskresi asam urat.


b) Penumpukan keton pada pembuluh darah, trigliserida merupakan simpanan lemak dalam

jaringan adipose yang salah satu fingsinya adalah sebagai cadangan energi. Ketika

terjadi kelaparan sel tubuh maka trigliseri tersebut akan dikonversi menjadi energi

dengan menghasilkan produk samping berupa beda keton. Keton akan beredar dalam

darah sehingga pada keadaan kelaparan tersebut keton dalam darah meningkat atau

sering disebut ketosis. Penumpukan keton di dalam darah juga menghambat ekskresi

asam urat darah sehingga terjadi hiperurisemia.


c) Degradasi protein DNA dalam tubuh meningkat, adanya hipoksia jaringan dalam jangka

waktu yang lama menyebabkan kematian sel. akibatnya tubuh melakukan kompensasi

dengan melakukan mekanisme degradasi sel DNA sehingga terbentuk DNA yang baru,

degradasi sel DNA ini menghasilkan asam amino. Pada siklus gama glutamil, asam

amino akan dibentuk mejadi glutamine yang kemudian dirubah menjadi bentuk inosin

mofosfat sehingga memperoleh hasil akhir berupa asam urat.


d) Penurunan pembentukan energi (deplesi ATP) pada keadaan sel tubuh mengalami

hipoksia, tubuh akan menggunakan metabolism anaerob agar energi tubuh tetap

dihasilkan . hasil akhir dari metabolism anaerob ini adalah adenosin dan monofosfat

(AMP), energi dan otot menjadi rekasasi. Adenosine ini akan diubah menjadi bentuk

asam urat.

Berdasrkan hal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa, orang yang memiliki lemak yang

lebih tebal cenderung lebih berisiko untuk mengalami hiperurisemia karena jumlah lemak

trigeseridnya banyak. Hal tersebut berdampak pada terjadinya penurunan ekskresi maupun

peningkatan produksi asam urat tubuh sehingga terjadi hiperurisemia.15