Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

ETIKA DAN TANGGUNG JAWAB


PROFESI HUKUM JAKSA

Disusun oleh :

Nama : Dimas Yudha R


NIM : B10014006
Kelas :F

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS JAMBI
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Dalam penjelasan umum Undang-Undang No 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan dinyatakan
bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 menentukan secara tegas
bahwa Negara Indonesia adalah Negara hukum. Sejalan dengan ketentuan tersebut maka salah
satu prinsip penting Negara hukum adalah adanya jaminan kesederajatan bagi setiap orang
dihadapan hukum (equality before the law). Oleh karena itu setiap orang berhak atas perlakuan,
jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil, serta perlakuan yang sama dihadapan
hukum.
Kejaksaan sebagai salah satu lembaga penegak hukum dituntut untuk lebih berperan dalam
menegakkan supremasi hukum, perlindungan kepentingan hukum, penegakan HAM, serta
pemberantasan KKN. Dalam melaksanakan fungsi, tugas, dan wewenangnya, kejaksaan RI
sebagai lembaga pemerintahan yang me-laksanakan kekuasaan Negara di bidang penuntutan
harus mampu mewujudkan kepastian hukum, ketertiban hukum, keadilan, dan kebenaran
berdasarkan hukum dan mengindahkan norma-norma keagamaan, kesopanan, dan kesusilaan,
serta wajib menggali nilai-nilai kemanusiaan, hukum, dan keadilan yang hidup dalam
masyarakat.
Kejaksaan juga harus mampu terlibat sepenuhnya dalam proses pembangunan antara lain:
turut menciptakan kondisi yang mendukung dan mengamankan pelaksanaan pembangunan untuk
mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila serta berkewajiban untuk turut
menjaga dan menegakkan kewibawaan pemerintah dan Negara serta melindungi kepentingan
masyarakat.
Kejaksaan dalam mengimplementasikan tugas dan wewenangnya secara kelembagaan
tersebut, diwakili oleh petugas atau pegawai kejaksaan yang disebut Jaksa.
Seorang jaksa sebelum memangku jabatannya tersebut harus mengikrarkan dirinya
bersumpah atau berjanji sebagai pertanggungjawaban dirinya kepada Negara, bangsa, dan
lembaganya. Kode Etik Jaksa adalah Tata Krama Adhyaksa dimana dalam melaksanakan tugas
Jaksa sebagai pengemban tugas dan wewenang Kejaksaan adalah insani yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa yang berasaskan satu dan tidak terpisah-pisahkan,
bertindak berdasarkan hukum dan sumpah jabatan dengan mengidahkan norma keagamaan,
kesopanan, kesusilaan dan keadilan yang hidup dalam masyarakat berpedoman kepada Doktrin
Tata Krama Adhyaksa. Dengan adanya Kode Etik maka akan memperkuat sistem pengawasan
terhadap Jaksa, karena disamping ada peraturan perundang-undangan yang dilanggar juga ada
kode etik yang dilanggar.

B. Rumusan Masalah
Agar pembahasan kami ini tidak melebar kedalam pembahasan lain, maka disini kami
menggunakan Rumusan Masalah sebagai acuan pembahasan yang sebagai berikut;
1. Apakah profesi jaksa itu ?
2. Bagaimana lembaga kejaksaan di Indonesia dan pengawasan terhadap jaksa ?
3. Bagaimanakah kode etik bagi profesi jaksa ?

C. Tujuan Pembahasan
Adapun tujan dibuatnya makalah kami ini adalah sebagai berikut:
Dari segi teoritis:
1. Memberika pengertian tentang Apa itu profesi jaksa
2. Memberika pengertian tentang lembaga kejaksaan di Indonesia dan pengawasan terhadap
jaksa
3. Memberika pengertian tentang kode etik bagi profesi jaksa.
Dari segi praktis:
1. Memberikan wawasan tentang apa itu profesi jaksa
2. Memberikan wawasan tentang lembaga kejaksaan di Indonesia dan pengawasan terhadap
jaksa
3. Memberikan wawasan tentang kode etik bagi profesi jaksa.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Profesi Jaksa
Profesi Jaksa sudah ada sejak sebelum Indonesia Merdeka. Asal mula kata Jaksa berasal dari
kata dyaksa. Pada masa kerajaan majapahit jaksa dikenal dengan istilah dhyaksa, adhyaksa dan
dharmadhyaksa. Peran Dhyaksa sebagai pejabat Negara yang bertugas untuk menangani
masalah-masalah peradilan di bawah kekuasaan kerajaan majapahit. Patih Gajah Mada selaku
pejabat Adhyaksa.
Sebagai lembaga penegak hukum di lingkungan eksekutif yang penting, kejaksaan
diharapkan muncul paradigma baru yang tercermin dalam sikap dan perasaan. Sehingga Jaksa
memiliki jati diri dalam memenuhi profesionalitas sebagai wakil Negara dan wakil Negara dalam
penegakan hukum.
Profesionalisme jaksa terhambat oleh masalah-masalah seperti independensi, pelanggaran
kode etik, penurunan kualitas sumber daya manusia. Intervensi dalam tubuh kejaksaan menjadi
menghambat independensi sehingga menghambat profesionalisme jaksa dalam mengatasi sebuah
perkara demi penegakan hukum dalam kekuasaan peradilan.
Di sisi keahlian, maka demi meningkatkan keahlian jaksa perlu meningkatkan mengasah
kemampuan melalui berbagai pembelajaran. Baik pendidikan formal maupun non formal.
Disamping itu, pekerjaan di bidang hukum seharusnya bersifat rasional. Maka dibutuhkan sifat
rasional berupa sikap ilmiah yang mempergunakan metodologi modern. Sehingga dapat
mengurangi sifat subjektif jaksa terhadap perkara-perkara yang akan dihadapinya.
Dilihat dari keahlian Jaksa, kemampuan menganalisa sebuah kasus. meskipun perkara
tampak sepintas sama, namun keharusan untuk menganalisa sebuah kasus memiliki keunikan
tersendiri. Kemampuan menganalisis bukan hanya didasarkan pendekatan yang legalitas,
positivis dan mekanistis. Seorang jaksa, dituntut dapat memahami peristiwa pidana secara
menyeluruh agar kebenaran dapat ditemukan sehingga kebenaran dapat ditemukan dan
menghasilkan putusan yang adil[1].
B. Lembaga Kejaksaan di Indonesia dan Pengawasan Terhadap Jaksa
Peningkatan disiplin Jaksa disamping dilakukan melalui pengawasan, melekat pengawasan
fungsional dan kode etik, juga dilakukan melalui pengawasan masyarakat. Mekanisme kontrol
eksternal dari masyarakat disalurkan melalui tromol pos 5000, tromol pos 4343 atau kepada
pimpinan Jaksa yang bersangkutan. Proses penyelesaian laporan pengaduan masyarakat baik
secara langsung maupun melalui tromol pos selama ini ditangani oleh Jaksa Agung Muda
Pengawasan. Setelah laporan masuk ke Kejaksaan agung kemudian ditindak-lanjuti oleh Jaksa
Agung Pengawasan melalui surat-menyurat ke Kejaksaan tinggi wilayah hukum Jaksa/ Pegawai
yang terlapor.
Menurut MS. Rahardjo, SH. (JAMWAS) semua laporan aduan masyarakat pasti akan
ditangani tetapi dalam proses pemeriksaan yang biasanya melalui surat-menyurat sehingga
penanganannya lambat, sehingga hasilnya kurang efektif. Bahwa penyebab kekurang efektifnya
penanganan laporan aduan masyarakat disebabkan mekanisme penyelesaian aduan masyarakat
menurut Peraturan pemeirntah nomor 30 tahun 1980 (PP 30 Tahun 1980) tentang Disiplin
Pegawai Negeri Sipil memang mekanismenya seperti itu. Ke depan, mekanisme penanganan
laporan aduan masyarakat yang digariskan oleh PP 30 Tahun 1980 perlu ditinjau kembali atau
dibuatkan aturan khusus bagi penanganan laporan aduan masyarakat di lingkungan Kejaksaan
sehingga tidak memakan waktu yang lama[2].
Hal lain yang perlu dipikirkan adalah sudah saatnya mengklasifikasikan jenis pelanggaran
yang menjadi wewenang pemeriksaannya oleh Kepala Kejaksaan Tinggi, Jaksa Agung Muda
Pengawasan dan Jaksa Agung sehingga tidak semua jenis pelanggaran bermuara kepada Jaksa
Agung. Bahwa setelah diterimanya laporan / pengaduan masyarakat, oleh Jaksa Agung Muda
Pengawasan, laporan tersebut ditindaklanjuti kebenarannya melalui mekanisme pemeriksaan
dalam pengawasan internal Kejaksaan dengan menjatuhkan hukuman sesuai dengan tingkat
kesalahan yang dilakukan. Berbagai kasus yang ditangani oleh Kejaksaan yang menarik
perhatian oleh masyarakat luas sehingga keterbukaan penanganan kasus akan mengembalikan
citra penegak hukum khususnya lembaga Kejaksaan. Lembaga Kejaksaan harus mampu
melaksanakan tugas dan kewenangan yang ia miliki dengan penuh rasa tanggungjawab termasuk
memberikan alasan- alasan yang rasional terhadap kasus-kasus yang diberhentikan
penyidikannya (SP-3).
Berkaitan dengan hal tersebut Suhadibroto mengatakan bahwa: Akses publik yang
diselenggarakan Kejaksaan masih jauh dari harapan masyarakat, sehingga oleh masyarakat
Kejaksaan diberi predikat sebagai instansi yang paling tertutup.
Transparansi lembaga Kejaksaan sebagai salah satu sub-sistem peradilan pidana tentunya
sangat diharapkan dalam menjalankan tugas dan kewenangannya sesuai dengan undang-undang
tetapi di sisi lain tetap menghormati asas praduga tak bersalah sebagai cerminan perlindungan
terhadap hak tersangka / terdakwa.
Lembaga Kejaksaan memang secara kelembagaan sejak dari dulu sudah mempunyai
mekanisme pengawasan secara internal yang dilakukan oleh Jaksa Agung Muda Pengawasan
beserta jajarannya.
Bentuk pertanggung-jawaban dari pengawasan internal selama ini terfokus hanya kepada
Presiden dan DPR sementara pertanggungjawaban kepada masyarakat masih dianggap kurang.
Dalam undang-undang tentang Kejaksaan RI sendiri hanya mengamanatkan seperti demikian
karena DPR sudah dianggap jelmaan dari masyarakat. Persoalannya adalah banyak keinginan
dari masyarakat yang belum terakomodir dengan apa yang disuarakan oleh anggota DPR, dengan
demikian lembaga Kejaksaan harus tanggap terhadap tentang rasa ketidak-puasan oleh
masyarakat pada umumnya. Dengan hadirnya komisi Kejaksaan diharapkan akan memberi
solusi[3].
Jadi komisi Kejaksaan diharapkan sebagai sarana pertanggung-jawaban kepada publik oleh
lembaga Kejaksaan untuk menyampaikan tentang apa yang telah, sedang dan akan dilakukan
oleh lembaga Kejaksaan dan pada akhirnya meningkatkan kinerja lembaga Kejaksaan.
Menurunnya kepercayaan dan rasa hormat masyarakat kepada lembaga Kejaksaan. disebabkan
karena minimnya upaya pengawasan yang dilakukan terhadap lembaga Kejaksaan. Padahal,
untuk memenuhi terselenggaranya Clean Government (Pemerintahan yang bersih) dan Good
Governance (pemerintahan yang baik) dalam suatu sistem pemerintahan, keduanya tidak dapat
dipisahkan karena pemerintahan yang bersih merupakan bagian yang integral dari pemerintahan
yang baik dan pemerintahan yang bersih tidak dapat dipisahkan dengan pemerintahan yang baik.
Dengan kata lain bahwa pemerintahan yang bersih adalah sebagian dari pemerintahan yang baik.
Hal ini merupakan prinsip penting yang harus terpenuhi sebagai salah satu perwujudan
akuntabilitas dari setiap penyelenggaraan kekuasaan publik.
Pemerintahan yang baik (Good Governance) mencerminkan kesinergian antara pemerintah
dan masyarakat. Salah satu komponennya adalah pemerintahan yang bersih, yaitu pemerintahan
yang didasarkan atas keabsahan bertindak dari pemerintah. Karena itu pembahasan pemerintahan
yang bersih tidak dapat dipisahkan dengan pembahasan pemerintahan yang baik. Pemerintahan
yang baik sebagai norma pemerintahan, adalah suatu sasaran yang akan dituju dan diwujudkan
dalam pelaksanaan pemerintahan yang baik dan asas-asas umum pemerintahan yang baik layak
sebagai norma mengikat yang menuntun pemerintah dalam mewujudkan pemerintahan yang
baik.
Sinergitas antara pemerintahan yang baik dan asas umum pemerintahan yang layak
menciptakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Seorang Jaksa pada khususnya dan
pegawai Kejaksaan secara umum untuk senantiasa menghayati tugas dan tanggung jawabnya
sebagai aparat penegak hukum. Salah satu caranya adalah selalu memegang kode etik dan
menjaga profesionalitas dalam menjalankan tugas. Pembentukan Komisi Kejaksaan merupakan
suatu langkah pengawasan dalam rangka pelaksanaan pemerintahan yang bersih dan baik
dilingkungan kejaksaan, karena ini dinilai penting untuk mengawasi kinerja Kejaksaan dan
membuat rekomendasi kepada Presiden untuk menentukan kebijakannya di bidang hukum.
Dalam pertemuan puncak seluruh institusi hukum yang ketiga (Law summit III) difasilitasi oleh
Governance Reform in Indonesia direkomendasikan pembentukan lembaga pengawasan
eksternal Kejaksaan.
Dalam pembahasan revisi Undang-undang Nomor 5 Tahun 1991 yang melahirkan Undang-
undang Kejaksaan Nomor 16 Tahun 2004, maka Dewan Perwakilan Rakyat menyepakati
Pembentukan Komisi Kejaksaan. Adanya tugas Komisi Kejaksaan untuk memantau dan menilai
lembaga Kejaksaan, ke depan Komisi Kejaksaan diharapkan mampu memberikan rekomendasi
kepada Jaksa Agung berupa rekomendasi tentang perbaikan organisasi penyusunan
penyempurnaan mekanisme pengawasan dan tata kerja pengawasan yang baku, partisipatif,
transparan dan akuntabel. Selain itu komisi Kejaksaan ikut mendorong penyusunan aturan
mengenai tingkah laku Jaksa (Code of Conduct Jaksa) ini terkait dengan apa yang dikatakan oleh
efektif dan berhasil tidaknya pemidanaan sangat bergantung kepada realitas penegakan
hukumnya. Hal ini sangat berkaitan dengan unsur hukum yaitu materi hukum, struktur hukum
dan budaya hukum, dalam sebuah masyarakat.
Materi hukum meliputi perangkat perundang-undangan, kemudian struktur hukum
menyangkut aparat penegak hukum dan budaya hukum merupakan hukum yang hidup yang
dianut dalam suatu masyarakat. Karena hanya sebatas rekomendasi, keberhasilan komisi
Kejaksaan sangat tergantung pada diri Jaksa Agung dan anggota komisi Kejaksaan. Anggota
Komisi Kejaksaan harus aktif memantau hasil penelitian yang diserahkan kepada Jaksa Agung
ditindaklanjuti dan harus aktif melaporkan kepada masyarakat yang mengadu tentang
perkembangan kasus yang diadukan.Selanjutnya dalam pasal 13 ayat (2) menyebutkan, dalam
hal komisi Kejaksaan menerima langsung lapoan masyarakat sebagaimana dalam pasal 11 huruf
a, wajib mengirimkan salinan laporan tersebut kepada Jaksa Agung untuk segera ditindak lanjuti
oleh aparat internal.
Adanya keharusan dari komisi Kejaksaan yang menerima langsung pengaduan dari
masyarakat dan harus mengirimkan salinan laporan tersebut kepada Jaksa Agung untuk
ditindaklanjuti oleh aparat pengawasan internal Kejaksaan.
Semestinya tidak semua laporan aduan dari masyarakat diteruskan kepada Jaksa Agung
untuk ditindak lanjuti oleh pengawasan internal. Komisi Kejaksaan harus diberikan kewenangan
untuk menentukan laporan masyarakat yang mana ia periksa sendiri dan yang mana yang harus
diteruskan kepada Jaksa Agung berdasarkan kasus yang dilaporkan. Contoh, pengaduan
masyarakat mengenai pelanggaran yang dilakukan oleh aparat pengawasan internal sendiri
menjadi kewenangan komisi Kejaksaan untuk memeriksa langsung[4].

C. Syarat-Syarat untuk Diangkat Menjadi Jaksa


Kejaksaan sebagai lembaga Negara yang mempunyai tugas penegakan dan supremasi hokum
memerlukan tenaga yang profesional dan memiliki budi pekerti yang baik. Sebab pundak
seorang jaksa terdapat beban yang begitu berat sebagai salah satu pilar utama penegakan hokum
di Indonesia sehingga kalau persayaratan ini tidak diikuti akan berdampak pada penegakan
hokum tersebut, dan di sinilah korelasi yang signifikan penetapan persyaratan yang harus
dipenuhi bagi seorang calon jaksa. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 9 UU Nomor 16
Tahun 2004, dinyatakan bahwa syarat-syarat untuk dapat diangkat menjadi jaksa adalah:
a. Warga Negara Indonesia
b. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
c. Setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
d. Birjazah paling rendah sarjana hokum
e. Berumur paling rendah 25 tahun dan paling tinggi 35 tahun
f. Sehat jasmani dan rohani
g. Berwibawa, jujur, adil dan berkelakuan tidak tercela
h. Pegawai negeri sipil

Dalam menjalankan tugasnya seorang jaksa tunduk dan patuh pada tugas dan wewenang
yang telah ditentukan oleh undang-undang ini. Hal ini sejalan dengan ketentuan Pasal 27 ayat (1)
UU Nomor 5 Tahun 1991 yang berbunyi: dibidang pidana, kejaksaan mempunyai tugas dan
wewenang:
a. Melakukan penuntutan dalam perkara pidana;
b. Melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan;
c. Melkukan pengawasan terhadap pelaksanaan keputusan pelepasan bersyarat;
d. Melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk dapat melakukan pemeriksaan tambahan
sebelum dilimpahkan ke pengadilan yang dalam pelaksaannya dikoordinasikan dengan penyidik.

Berkaitan dengan ketentuan Pasal 27 ayat (1) diatas, maka dalam UU Kejaksaan yang baru
menyangkut wewenang kejaksaan diatur dalam Pasal 30 ayat (1) dinyatakan bahwa di bidang
pidana, kejaksaan mempunyai tugas dan wewenang:
a. Melaksanakan penuntutan;
b. Melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah mmperoleh
kekuatanhukum tetap;
c. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersyarat, putusan pidana
pengawasan dan keputusan lepas bersyarat;
d. Melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan
sebelum dilimpahkan ke pengadilan yang dalam pelaksannya dikoordinasikan dengan penyidik.

Sementara itu, kejaksaan selain mempunyai tugas di bidang penuntutan, juga diserahi tugas
dibidang perdata dan tata usaha Negara. Hal ini sesuai ketentuan dalam pasal 3o ayat (2) UU
Nomor 16 Tahun 2004, dinyatakan bahwa di bidang perdata dan tata usaha Negara, kejaksaan
dengan kuasa khusus dapat bertindak baik di dalam maupun di luar pengadilan untuk dan atas
nama Negara atau pemerintah. Kemudian dalam bidang ketertiban umum, kejaksaan turut
menyelenggarakan kegiatan pasal 30 ayat (3):
a. Peningkatan kesadaran hokum masyarakat;
b. Pengamanan kebijakan penegakan hokum;
c. Pengawasan peredaran barang cetakan;
d. Pengawasan aliran kepercayaan yang dapat membahayakan masyarakat dan Negara;
e. Pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama;
f. Penelitian dan pengembangan hokum serta statistic criminal[5].
D. Kode Etik Profesi Jaksa
Kode etik jaksa serupa dengan kode etik profesi yang lain. Mengandung nilai-nilai luhur dan
ideal sebagai pedoman berperilaku dalam satu profesi. Yang apabila nantinya dapat dijalankan
sesuai dengan tujuan akan melahirkan jaksa-jaksa yang memang mempunyai kualitas moral yang
baik dalam melaksanakan tugasnya. Sehingga kehidupan peradilan di Negara kita akan mengarah
pada keberhasilan.
Sebagai komponen kekuasaan eksekutif di bidang penegak hukum, adalah tepat jika setelah
kurun waktu tersebut, kejaksaan kembali merenungkan keberadaan institusinya, sehingga dari
perenungan ini, diharapkan dapat muncul kejaksaan yang berparadigma baru yang tercermin
dalam sikap, pikiran dan perasaan, sehingga kejaksaan tetap mengenal jati dirinya dalam
memenuhi panggilan tugasnya sebagai wakil negara sekaligus wali masyarakat dalam bidang
penegakan hukum[6].
Sebagai kelengkapan dari pembinaan dan etika profesi sebagai jaksa, berdasarkan keputusan
jaksa agung nomor Kep-074/J.A./7/1978 tanggal 17 Juli 1978, disahkan Panji Adhyaksa. Panji
ini merupakan perangkat kejaksaan, lambang kebanggaan korps, lambing cita-cita kejaksaan dan
mengikat jiwa korps kejaksaan.
Pada panji tersebuit terdapat lambing korps kejaksaan, berbentuk lukisan yang terdiri dari
tiga buah bintang bersudut tiga, Pedang, timbangan, setangkai padi dengan jumlah 17 butir dan
kelopak bungan kapas sejumlah 8 buah melingkari pedang dan timbangan ditengahnya.
Dibawahnya terdapat seloka berbunyi Satya Adhi Wicaksana.
Selanjutnya berdasarkan keputusan jaksa agung no. kep-052/J.A./8/1979 yang
disempurnakan oleh keputusan Jaksa Agung No. kep-030/J.A./1988 ditetapkan doktrin kejaksaan
tri karma adhyaksa, sebagai pedoman yang menjiwai setiap warga kejaksaan. Doktrin tersebut
kemudian dijabarkan dalam kode etik jaksa yang diterbitkan oleh pengurus pusat persatuan jaksa
pada tanggal 15 Juni 1993 yang disebut tata karma adhyaksa, terdiri atas pembukaan dan 17
pasal.
Dalam rangka mewujudkan jaksa yang memiliki integritas kepribadian serta disiplin tinggi
guna melaksanakan tuigas penegakan hokum dalam rangka mewujudkan keadilan dan
kebenaran, maka dikeluarkanlah kode prilaku jaksa sebagaimana tertuang dalam peraturan jaksa
agung RI (PERJA) No. : Per-067/A/JA/07/2007 tanggal 12 Juli 2007.
Dalam kode perilaku jaksa antara lain disebut[7]:
a) Kewajiban pasal (3)
1. Mentaati kaidah hokum, peraturan perundang-undang dan peraturan kedinasan yang
berlaku
2. Menghormati prinsip cepat, sederhana, biaya ringan sesuai dengan asas peradilan yang
diatur dalam KUHAP.
3. Berdasarkan pada keyakinan dan alat bukti yang sah untuk mencapai keadilan kebenaran
4. Bersikap mandiri, bebas dari pengaruh, tekanan/ ancaman, opini public secara langsung
atau tidak langsung
5. Bertindak secara objektif dan tidak memihak
6. Memberitahukan dan atau memberikan hak-hak yang dimiliki oleh tersangka/terdakwa
maupun korban
7. Membangun dan memelihara hubungan antara aparat penegak hokum dan mewujudkan
system peradilan pidana terpadu
8. Mengundurkan diri dari penanganan perkara yang mempunyai kepentingan pribadi atau
keluarga, mempunyai hubungan pekerjaan, partai atau financial atau mempunyai nilai ekonomis
secara langsung atau tidak langsung
9. Menyimpan dan memegang rahasia sesuatu yang seharusnya dirahasiakan
10. Menghormati kebebasan dan perbedaan pendapat sepanjang tidak melanggar ketentuan
peraturan perundang-undangan.
11. Menghormati dan melindungan hak-hak asasi manusia dan hak-hak kebebasan
sebagaimana yang tertera dalam peraturan perundang-undang dan instrument hak asasi manusia
yang diterima secara universal.
12. Menanggapi kritik dengan arif dan bijaksana
13. Bertanggung jawab secara internal dan berjenjang, sesuai dengan prosedur yang
ditetapkan
14. Yang bertanggung jawab secara eksternal kepada public sesuai dengan kebijakan
pemerintah dan aspirasi masyarakat tentang keadilan dan kebenaran

b) Larangan (pasal 4)
Dalam menjalankan tugas profesi jaksa dilarang:
Menggunakan jabatan dan atau kekuasaanya untuk kepentingan pribadi atau pihak lain
Merekayasa fakta-fakta hokum dalam penanganan perkara Menggunakan kapasitas dan
otoritasnya untuk melakukan penekanan secara fisik atau dan psikis Meminta dan atau menerima
hadiah dan atau keuntungan serta melarang keluarganya meminta dan atau menerima hadiah dan
atau keuntungan sehubungan dengna jabatannya Menangani perkara yang mempunyai
kepentingan pribadi atau keluarga, atau mempunyai hubungan pekerjaan, partai, atau financial
atau mempunyai nilai ekonomis secara langsung atau tidak langsung Bertindak diskriminatif
dalam bentuk apapun Membentuk opini public yang dapat merugikan kepentingan kepenegakan
hokum Memberikan keterangan kepada public kecuali terbatas pada hal-hal teknis perkara yang
ditangan

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari makalah kami diatas, maka dapat kita simpulkan bahwa:
1. Profesi Jaksa sudah ada sejak sebelum Indonesia Merdeka. Asal mula kata Jaksa berasal
dari kata dyaksa. Pada masa kerajaan majapahit jaksa dikenal dengan istilah dhyaksa,
adhyaksa dan dharmadhyaksa. Peran Dhyaksa sebagai pejabat Negara yang bertugas
untuk menangani masalah-masalah peradilan di bawah kekuasaan kerajaan majapahit.

2. Dari segi lembaga pengawas bagi jaksa, Peningkatan disiplin Jaksa disamping dilakukan
melalui pengawasan melekat, pengawasan fungsional dan kode etik, juga dilakukan
melalui pengawasan masyarakat. Mekanisme kontrol eksternal dari masyarakat
disalurkan melalui tromol pos 5000, tromol pos 4343 atau kepada pimpinan Jaksa yang
bersangkutan. Proses penyelesaian laporan pengaduan masyarakat baik secara langsung
maupun melalui tromol pos selama ini ditangani oleh Jaksa Agung Muda Pengawasan.

3. Untuk syarat menjadi seorang jaksa sendiri dapat dilihat dalam ketentuan dalam Pasal 9
UU Nomor 16 Tahun 2004, tentang syarat untuk diangkat menjadi seorang jaksa.

4. Kode etik jaksa serupa dengan kode etik profesi yang lain. Mengandung nilai-nilai luhur
dan ideal sebagai pedoman berperilaku dalam satu profesi. Yang apabila nantinya dapat
dijalankan sesuai dengan tujuan akan melahirkan jaksa-jaksa yang memang mempunyai
kualitas moral yang baik dalam melaksanakan tugasnya. Sehingga kehidupan peradilan di
Negara kita akan mengarah pada keberhasilan.

[1]Http://Www.Hukumpedia.Com/Elvi17/Penegakan-Profesionalisme-Jaksa-Melalui-
Independensi-Dan-Kode-Etik-Upaya-Pemberdayaan-Sumber-Daya-Manusia-Di-
Kejaksaan- Yang-Berintegritas
[2] Angelina Sinaga. Etika Profesi Jaksa.
Https://Angelinasinaga.Wordpress.Com/2014/04/10
[3] Marwan Effendy. 2005. Kejaksaan RI Posisi Dan Fungsinya Dari Perspektif Hukum.
Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. Hlm.68.
[4]Http://Ayusulaeman.Blogspot.Com/2014/04/Etika-Profesi-Jaksa.Html.
[5] Supriadi. 2008. Etika Dan Tanggung Jawab Profesi Hukum Diindonesia, Cetakan
Kedua. Jakarta. Sinar Grafika. Hlm. 127-129
[6] http://www.kejaksaan.go.id/unit_kejaksaan.php?idu=26&idsu=25&id=865
[7] Arkristuti Harkrisnowo. 2001. Membangun Strategi kinerja Kejaksaan bagi
peningkatan Produktivitas, Profesionalisme, dan Akuntabilitas Publik: Suatu usulan
pemikiran, makalah disampaikan dalam rangka seminar mewujudkan supremasi hokum.
Jakarta: Puslitbang Kejagung,