Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN

DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGENASI


Di Ruang Bougenvile 1/Dahlia 4 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
(Minggu Ke-2 Stase PKD)

Tugas Mandiri
Stase Praktek Keperawatan Dasar

Disusun oleh :
Andi Kusuma Sedana
07/254014/KU/12391

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2012
I. KONSEP KEBUTUHAN OKSIGENASI
A. DEFINISI
Oksigen adalah salah satu komponen gas dan unsur-unsur vital dalam proses
metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh. Secara
normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup O 2 ruangan setiap kali bernafas.
Penyampaian oksigen ke jaringan tubuh ditentukan oleh sistem respirasi,
kardiovaskuler, dan keadaan hematologi.
1. Sistem respirasi/pernafasan
Sistem pernafasan terdiri atas organ pertukaran gas, yaitu paru-paru dan sebuah
pompa ventilasi yang terdiri dari dinding dada, otot-otot pernafasan, diafragma, sistem
abdomen, dinding abdomen, dan pusat pernafasan di otak. Pada keadaan istirahat
frekuensi pernafasan antara 12-15x/menit.
Ada 3 langkah dalam proses oksigenasi yaitu ventilasi, perfusi paru, dan difusi.
a. Ventilasi
Ventilasi adalah proses keluar masuknya udara dari dan ke paru-paru, jumlahnya
sekitar 500 ml. Udara yang masuk dan keluar terjadi karena adanya perbedaan
tekanan antara intrapleura dengan tekanan atmosfer, dimana pada saat inspirasi
tekanan intrapleural lebih negatif (725 mmHg) daripada tekanan atmosfer (760
mmHg) sehingga udara akan masuk ke alveoli.
Kepatenan ventilasi tergantung pada faktor:
- Kebersihan jalan nafas, adanya sumbatan atau obstruksi jalan nafas akan
menghalangi masuk dan keluarnya udara dari dan ke paru-paru.
- Adekuatnya sistem saraf pusat dan pusat pernafasan.
- Adekuatnya pengembangan dan pengempisan paru-paru.
- Kemampuan otot-otot pernafasan seperti diafragma, eksternal interkosta, otot
abdominal.
b. Perfusi paru
Perfusi paru adalah gerakan darah yang melewati sirkulasi paru untuk dioksigenasi,
dimana pada sirkulasi paru adalah deoksigenasi yang mengalir dalam arteri
pulmonaris dari ventrikel kanan jantung. Darah ini memperfusi paru bagian respirasi
dan ikut serta dalam proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida di kapiler dan
alveolus. Sirkulasi paru bersifat fleksibel dan dapat dipergunakan jika sewaktu-
waktu terjadi penurunan volume atau tekanan darah sistemik.
c. Difusi
Oksigen yang terus-menerus berdifusi dari udara dalam alveoli ke dalam aliran darah
dan karbon dioksida (CO2) terus berdifusi dari darah ke dalam alveoli. Difusi adalah
pergerakan molekul dari area dengan konsentrasi tinggi ke area konsentrasi rendah.
Difusi udara respirasi terjadi antara alveolus dengan membran kapiler. Perbedaan
tekanan pada area membran respirasi akan mempengaruhi proses difusi. Misalnya
pada tekanan parsial (P) O2 di alveoli sekitar 100 mmHg sedangkan tekanan parsial
pada kapiler pulmonal 60 mmHg sehingga oksigen akan berdifusi masuk dalam
darah.
2. Sistem kardiovakuler
Kemampuan oksigenasi pada jaringan sangat dipengaruhi oleh fungsi jantung
untuk memompa darah sebagai transpor oksigen. Darah masuk ke atrium kiri dari
vena pulmonalis Aliran darah keluar dari ventrikel kiri menuju aorta melalui katub
aorta. Kemudian dari aorta darah disalurkan ke seluruh sirkulasi sistemik melalui
arteri, arteriol, dan kapiler serta menyatu kembali membentuk vena yang kemudian
dialirkan ke jantung melalui atrium kanan. Darah dari atrium kanan masuk dalam
ventrikel kanan melalui katup trikuspidalis kemudian keluar ke arteri pulmonalis
melalui katup pulmonalis untuk kemudian dialirkan ke paru-paru kanan dan kiri untuk
berdifusi. Darah mengalir di dalam vena pulmonalis kembali ke atrium kiri dan
bersirkulasi secara sistemik. Sehingga tidak adekuatnya sirkulasi sistemik berdampak
pada kemampuan transpor gas oksigen dan karbon dioksida.
3. Hematologi
Oksigen membutuhkan transpor dari paru-paru ke jaringan dan karbon dioksida
dari jaringan ke paru-paru. Sekitar 97% oksigen dalam darah dibawa eritrosit yang
telah berikatan dengan hemoglobin (Hb) dan 3% oksigen larut dalam plasma. Setiap
sel darah merah mengandung 280 juta molekul Hb dan setiap molekul dari keempat
molekul besi dalam hemoglobin berikatan dengan satu molekul oksigen membentuk
oksihemoglebin. Afinitas atau ikatan Hb dengan O2 dipengaruhi uleh suhu, pH,
konsentrasi 2, 3 difosfogliserat dalam darah merah. Dengan demikian besarnya Hb
dan jumlah eritrosit akan mempengaruhi fungsi transpor gas.
Perubahan fungsi pernafasan:
1. Hiperventilasi
Merupakan upaya tubuh dalam meningkatkan jumlah O2 dalam paru-paru agar
pernafasan lebih cepat dan dalam. Hiperventilasi dapat disebabkan karena:
a. Kecemasan
b. Infeksi/sepsis
c. Keracunan obat-obatan
d. Ketidakseimbangan asam basa seperti pada asidosis metabolik.
Tanda-tanda dan gejala hiperventilasi adalah takikardi, nafas pendek, nyeri dada,
menurunnya konsentrasi, disorientasi, tinnitus.
2. Hipoventilasi
Hipoventilasi terjadi ketika ventillasi alveolar tidak adekuat untuk memenuhi
penggunaan O2 tubuh atau untuk mengeluarkan CO2 dengan cukup. Biasanya terjadi
pada keadaan atelktasis.Tanda-tanda dan gejala pada keadaan hipoventilasi adalah
nyeri kepala, penurunan kesadaran, disorientasi, kardiakdisritmia,
ketidakseimbangan elektrolit, kejang, dan kardiak arrest.
3. Hipoksia
Tidak adekuatnya pemenuhan O2 seluler akibat dari defisiensi O2 yang diinspirasi
atau meningkatnya penggunaan O2 pada tingkat seluler. Hipoksia dapat disebabkan
oleh:
a. Menurunnya hemoglobin
b. Berkurangnya konsentrasi O2 jika berada di puncak gunung
c. Ketidakmampuan jaringan mengikat O2 seperti pada keracunan sianida
d. Menurunnya difusi O2 dari alveoli ke dalam darah seperti pada pneumonia
e. Menurunnya perfusi jaringan seperti pada syok
f. Kerusakan / gangguan ventilasi

B. NILAI-NILAI NORMAL
Nilai normal respiratory rate dewasa: 12-18x/menit
Kapasitas dan volume pulmonary
Pengukuran Rata-rata Deskripsi
laki-laki
dewasa (mL)
Volume respirasi

Volume tidal ( TV) 500 Jumlah udara yang dihirup dalam keadaan
istirahat/biasa
Volume inspirasi 3100 Jumlah udara yang masih bisa dihirup
cadangan ( IRV) setelah penarikan nafas tidal
Volume ekspirasi 1200 Jumlah udara yang masih bisa dikeluarkan
cadngan setelah pengeluaran nafas tidal
Residual Volume 1200 Jumlah udara yang tersisa dalam paru-paru
(RV) setelah pengeluaran ( ekshalasi) kuat

Kapasitas Respirasi
Kapasitas paru-paru 6000 Jumlah maksimum udara yang ada dalam
total (TLC) paru-paru setelah inspirasi maksimal
TLC = TV + IRV + ERV + RV
Kapasitas Vital (VC) 4800 Jumlah maksimum udara yang dapat
dikeluarkan setelah inspirasi maksimal
VC = TV + IRV + ERV
Kapasitas Inspirasi 3600 Jumlah maksimum udara yang bisa dihirup
(IC) setelah ekspirasi normal
IC = TV + IRV
Kapasitas Residu 2400 Volume udara yang tersisa dalam paru-paru
Fungsional ( FRC) setelah ekspirasi volume tidal normal
FRC = ERV + RV
Catatan : Untuk wanita lebih rendah 20-25 %

C. HAL-HAL YANG PERLU DIKAJI PADA KLIEN YANG MENGALAMI


GANGGUAN KEBUTUHAN OKSIGENASI
1. Riwayat keperawatan
a. Masalah pernafasan yang pernah dialami
- pernah mengalami perubahan pola pernafasan
- pernah mengalami batuk dengan sputum
- pernah mengalami nyeri dada
- aktivitas apa saja yang menyebabkan terjadinya gejala-gejala
diatas
b. Riwayat penyakit pernafasan
- apakah sering mengalami ISPA, alergi, batuk, asma, TBC, dan
lain-lain?
- bagaimana frekuensi setiap kejadian?
c. Riwayat kardiovaskuler
- pernah mengalami penyakit jantung atau peredaran darah
d. Gaya hidup
- merokok, keluarga perokok, lingkungan kerja dengan perokok
2. Pemeriksaan fisik
a. Mata
- konjungtiva pucat (karena anemia)
- konjungtiva sianosis (karena hipoksemia)
- konjungtiva terdapat petechia (karena emboli lemak atau endokarditis)

b. Kulit
- aianosis perifer
- aianosis secara umum
- penurunan turgor
- edema
- edema periorbital
c. Jari dan kuku
- sianosis
- clubbing finger
d. Mulut dan bibir
- membran mukosa sianosis
- bernafas dengan mengerutkan mulut
e. Hidung
- pernafasan dengan cuping hidung
f. Vena leher
- adanya distensi atau bendungan
g. dada
- Retraksi otot bantu pernafasan
- Pergerakan tidak simetris antara dada kiri dan dada kanan
- Tactil fremitus, thrills (getaran pada dada karena udara/suara melewati
saluran/ rongga pernafasan)
- Suara nafas normal
- Suara nafas tidak normal
- Bunyi perkusi (resonan, hiperesonan, dullness)
h. Pola pernafasan
- pernafasan normal
- pernafasan cepat
- pernafasan lambat
3. Pemeriksaan penunjang
a. Tes untuk menentukan keadekuatan sistem konduksi jantubg
- EKG
- Exercise stress test
b. Tes untuk menentukan kontraksi miokardium aliran darah
- Echocardiography
- Kateterisasi jantung
- Angiografi
c. Tes untuk mengukur ventilasi dan oksigenasi
- tes fungsi paru-paru dengan sprometri
- tes astrup
- oksimetri
- pemeriksaan darah lengkap
d. Melihat struktur sistem pernafasan
- X-ray thoraks
- Bronkhoskopi
- CT scan paru
e. Menentukan sel abnormal/ infeksi sistem pernafasan
- kultur apus tenggorok
- sitologi
- spesimen sputum (BTA)

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL


1. Bersihan jalan nafas tidak efektif
2. Tidak efektifnya pola pernafasan
3. Gangguan pertukaran gas

III. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN


1. Bersihan jalan nafas tidak efektif
NOC:
Respiratory status: airway patency
Indikator:
- pasien tidak mengalami demam
- pasien tidak cemas
- pasien tidak tersedak
- RR dalam batas normal
- Pola nafas dalam batas normal
- Pasien dapat membersihkan sputum dari saluran nafas
- Pasien terbebas dari bunyi nafas tambahan

NIC:
Airway management
Aktivitas:
- Buka jalan nafas memakai chin lift atau jaw thrust
- Posisikan pasien pada posisi ventilasi maksimal
- Lakukan fisioterapi dada
- Bersihkan sekret dengan mendorong batuk atau suksion
- Instruksikan untuk batuk efektif
- Berikan humidifikasi udara atau oksigen
- Atur makanan yang masuk untuk mengoptimalkan balance cairan
2. Tidak efektifnya pola pernafasan
NOC:
Respiratory status: ventilatio
Indikator:
- RR dalam batas normal
- Pola nafas dalam batas normal
- Pasien dapat inspirasi dalam
- Ekspansi dada simeris
- Tidak memakai otot aksesoris pernafasan
- tidak ada dispneu

NIC:
Respiratory monitoring
Aktivitas:
- monitor kecepatan, pola, kedalaman, dan usaha respirasi
- monitor suara nafas tambahan
- Monitor pola nafas
- Palpasi kesimetrisan paru
- Monitor pertambahan kelelahan, kecemasan
3. Gangguan pertukaran gas
NOC:
Respiratory status: gas exchange
Indikator:
- Pasien tidak mengalami dispneu
- Pasien mudah bernafas
- Status mental dalam batas normal
- Tidak ada kelelahan
- Tidak ada sianosis
NIC:
Oxygen theraphy
Aktivitas:
- Bersihkan mulut, hidung, dari sekresi
- Berikan oksigen
- Monitor aliran oksigen
- Monitor kegelisahan pasien berhubungan dengan kebutuhan
oksigen

IV. DAFTAR PUSTAKA


Herdman, T. H eather dkk. NANDA nursing diagnoses: definitions and classification
2009-2011. Philadelphia: NANDA International

Johnson, Marion, Maas, Meridean, and Moorhead, Sue. 2000. Nursing Outcomes
Classification (NOC) second edition. USA: Mosby.

McCloskey J.C, Bulechek G. M, 1996, Nursing Intervension Classification, Mosby, St


Louis

Tarwoto dan Wartonah. 2007. Kebutuhan Dasar Manusi & Proses Keperawatan. Edisi
3. Salemba Medika. Jakarta