Anda di halaman 1dari 18

APA ITU NANO TEKNOLOGI?

Sejarah Teknologi Nano

1. Pertama kali konsep nanoteknologi diperkenalkan oleh Richard Feynman pada sebuah pidato

ilmiah yang diselenggarakan oleh American Physical Society di Caltech (California Institute of

Technology), 29 Desember 1959. dengan judul Theres Plenty of Room at the Bottom.

2. Richard Feynman adalah seorang ahli fisika dan pada tahun 1965 memenangkan hadiah Nobel

dalam bidang fisika.

3. Istilah nanoteknologi pertama kali diresmikan oleh Prof Norio Taniguchi dari Tokyo Science

University tahun 1974 dalam makalahnya yang berjudul On the Basic Concept of Nano-

Technology, Proc. Intl. Conf. Prod. Eng. Tokyo, Part II, Japan Society of Precision Engineering,

1974.

4. Pada tahun 1980an definisi Nanoteknologi dieksplorasi lebih jauh lagi oleh Dr. Eric Drexler

melalui bukunya yang berjudul Engines of Creation: The coming Era of Nanotechnology.

Apakah Teknologi Nano itu?

Teknologi-Nano adalah pembuatan dan penggunaan materi atau devais pada ukuran sangat kecil.

Materi atau devais ini berada pada ranah 1 hingga 100 nanometer (nm). Satu nm sama dengan satu-

per-milyar meter (0.000000001 m), yang berarti 50.000 lebih kecil dari ukuran rambut manusia.

Saintis menyebut ukuran pada ranah 1 hingga 100 nm ini sebagai skala nano (nanoscale), dan

material yang berada pada ranah ini disebut sebagai kristal-nano (nanocrystals) atau material-nano

(nanomaterials).

Skala nano terbilang unik karena tidak ada struktur padat yang dapat diperkecil. Hal unik lainnya

adalah bahwa mekanisme dunia biologis dan fisis berlangsung pada skala 0.1 hingga 100 nm. Pada

dimensi ini material menunjukkan sifat fisis yang berbeda; sehingga saintis berharap akan

menemukan efek yang baru pada skala nano dan memberi terobosan bagi teknologi.

Beberapa terobosan penting telah muncul di bidang nanoteknologi. Pengembangan ini dapat

ditemukan di berbagai produk yang digunakan di seluruh dunia. Sebagai contohnya adalah katalis

pengubah pada kendaraan yang mereduksi polutan udara, devais pada komputer yang membaca-dari

dan menulis-ke hard disk, beberapa pelindung terik matahari dan kosmetik yang secara transparan

dapat menghalangi radiasi berbahaya dari matahari, dan pelapis khusus pakaian dan perlengkapan

olahraga yang dapat meningkatkan kinerja dan performa atlit. Hingga saat ini para ilmuwan yakin

bahwa mereka baru menguak sedikit dari potensi teknologi nano.


Teknologi nano saat ini berada pada masa pertumbuhannya, dan tidak seorang pun yang dapat

memprediksi secara akurat apa yang akan dihasilkan dari perkembangan penuh bidang ini di beberapa

dekade kedepan. Meskipun demikian, para ilmuwan yakin bahwa teknologi nano akan membawa

pengaruh yang penting di bidang medis dan kesehatan; produksi dan konservasi energi; kebersihan

dan perlindungan lingkungan; elektronik, komputer dan sensor; dan keamanan dan pertahanan dunia.

Ilustrasi Ukuran di Kehidupan :

Makhluk hidup tersusun atas sel sel yang memiliki diameter 10 m.

Bagian dalam sel memiliki ukuran yang lebih kecil lagi, bahkan protein dalam sel memiliki

ukuran 5 nm yang dapat diperbandingkan dengan nanopartikel buatan manusia.

Teknologi nano sebenarnya telah dimanfaatkan sejak dulu dalam bidang kesehatan yaitu dalam

mengamati prilaku vaksin dan mikroba lainnya serta efeknya terhadap tubuh kita. Dalam kosmetik

sudah kita lihat adanya sabun yang transparan dan baru baru ini muncul produk baru yang disebut

sebagai sunscreen transparent yang dipro duksi oleh perusahaan bernama Nanophase Technologies,

sunscreen ini dibuat dari partikel zink okside yang berukuran nano meter sehingga transparan.

Dalam bidang kesehatan teknologi nano ini selain mendapat sambutan yang positif juga mendapat

sambutan negatif yang antara lain karena adanya kekhawatiran para akhli medis mengenai bahaya

kontaminasi logam ukuran nano meter ke dalam tubuh baik yang melalui saluran pernapasan maupun
yang langsung melalui pori-pori kulit tubuh, hal ini bisa terjadi karena partikel nanometer dalam

keadaan tunggal tidak terlihat oleh mata kita sehingga akan mudah terakumulasi dalam tubuh dan

mungkin juga tertransfer kesaluran darah yang bisa saja akan mengakibatkan kanker atau penyakit

lainnya.

Bidang Farmasi

Nanoteknologi sudak banyak digunakan dalam bidang sains, antara lain biomedis, elektronik,

magnetik, optik, IT, ilmu material, komputer, tekstil, kosmetika, bahkan obat-obatan. Sebagian besar

obat-obatan dan kosmetika yang beredar di pasaran saat ini bekerjanya kurang optimal disebabkan

karena zat aktifnya :

* memiliki tingkat kelarutan yang rendah.

* membutuhkan lemak agar dapat larut.

* mudah teragregasi menjadi partikel besar

* tidak mudah diabsorpsi dan dicerna

Terobosan nanoteknologi dalam bidang kosmetika dan obat-obatan mampu menciptakan bahan

kosmetika dan obat-obatan dengan efektivitas yang jauh lebih baik. Sebagai contoh adalah
penggunaan liposom dalam formula obat dan kosmetika.

Liposom adalah vesikel berbentuk spheris dengan membran yang terbuat dari dua lapis fosfolipid

(phospholipid bilayer), yang digunakan untuk menghantarkan obat atau materi genetik ke dalam sel.

Liposom dapat dibuat dari fosfolipid alamiah dengan rantai lipid campuran ataupun komponen protein

lainnya. Bagian phospholipid bilayer dari liposom dapat menyatu denganbilayer yang lain seperti

membran sel, sehingga kandungan dari liposom dapat dihantarkan ke dalam sel.

Dengan membuat liposom dalam formula obat atau kosmetika, akhirnya bahan yang tidak bisa

melewati membran sel menjadi dapat lewat. Manfaat sistem penghantaran zat aktif kosmetika dengan

menggunakan liposom berukuran 90 nm adalah :

* mampu menghantarkan zat aktif sampai lapisan bawah kulit.

* mampu menghantarkan zat aktif lebih cepatk, sehingga didapatkan recovery yang lebih cepat pula.
Apa Nanoteknologi Itu Sebenarnya...?

posted 2 Jun 2012 07:35 by PPME Netherlands [ updated 2 Jun 2012 08:02 ]

BAGIAN PERTAMA ,

SEKARANG ini dunia sedang mengarah pada revolusi nanoteknologi di mana dalam periode 2010

sampai 2020 akan tejadi percepatan luar biasa dalam penerapan nanoteknologi di dunia industri.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa negara-negara maju di dunia, seperti Amerika Serikat, Jepang,

Australia, Kanada dan negara-negara Eropa, serta beberapa negara Asia, seperti Singapura, Cina, dan

Korea tengah giat-giatnya mengembangkan suatu cabang baru teknologi yang populer disebut

Nanoteknologi.

Milyaran dollar dana mulai dikucurkan di negara-negara ini, di berbagai bidang penelitian. Semuanya

berlomba-lomba menggunakan kata kunci Nanoteknologi. Sebenarnya apa itu nanoteknologi? Dan

mengapakah begitu banyak peneliti di berbagai negara berlomba-lomba memasuki bidang yang satu

ini? Seberapa luaskah ruang lingkupnya? Mengapakah baru beberapa tahun ini terjadi boom

nanoteknologi?

Sesuai dengan namanya, nanoteknologi adalah teknologi pada skala nanometer, atau sepersemilyar

meter. Indonesia memiliki peluang untuk mengatasi ketertinggalan dari negara lain melalui

pengembangan nanoteknologi atau teknologi berskala satu per satu miliar meter.

Dengan nanoteknologi, kekayaan sumber daya alam Indonesia dapat diberi nilai tambah guna

memenangi persaingan global. Dengan menciptakan zat hingga berukuran satu per miliar

meter(nanometer), sifat dan fungsi zat tersebut bisa diubah sesuai dengan yang diinginkan.
Dengan nanoteknologi pula, kekayaan alam menjadi tak berarti karena sifat-sifat zat bisa diciptakan

sesuai dengan keinginan. Karena itu, kita harus mampu memberi nilai tambah atas kekayaan alam

kita.

Nanoteknologi, teknologi berbasis pengelolaan materi berukuran nano atau satu per miliar meter,

merupakan lompatan teknologi untuk mengubah dunia materi menjadi jauh lebih berharga dari

sebelumnya.

Dengan menciptakan zat hingga berukuran satu per miliar meter (nanometer), sifat dan fungsi zat

tersebut bisa diubah sesuai dengan yang diinginkan.

Sedangkan nanomaterial merupakan landasan utama dalam rantai pengembangan produk

nanoteknologi. Belum lagi teknologi mikro-elektronik berbasis silikon (1 mikrometer = 0,001 milimeter)

yang mendominasi seluruh aspek kehidupan manusia bisa dikuasai, dunia sudah memasuki era baru

yang disebut nanoteknologi. Ini adalah rekayasa material dalam orde nanokristal (1 nanometer =

0,000001 milimeter).

Material apa pun selama dapat dibuat dalam bentuk nanokristal akan menghasilkan sifat yang

mencengangkan dan bahkan tidak pernah ada di alam ini. Diperkirakan tahun 2010, produk-produk

industri dalam skala apa pun akan menggunakan material hasil rekayasa nanoteknologi.

Perkembangan pesat ini akan mengubah wajah teknologi pada umumnya karena nanoteknologi

merambah semua bidang ilmu.

Tidak hanya bidang rekayasa material seperti komposit, polimer, keramik, supermagnet, dan lain-lain.

Bidang-bidang seperti biologi (terutama genetika dan biologi molekul lainnya), kimia bahan dan

rekayasa akan turut maju pesat.

Teknologi canggih yang mulai populer pada beberapa tahun terakhir ini benar-benar merupakan

teknologi si mungil. Mungil karena melibatkan rekayasa partikel-partikel berukuran superkecil, yang
kemudian sering disebut dengan istilah "nano". Istilah ini berasal dari kata Nanos (bahasa Yunani) yang

berarti satu per satu miliar.

Jadi 1 nanometer (nm) sama dengan 12048 meter. Nanoteknologi merupakan teknologi yang

melibatkan atom dan molekul dengan ukuran lebih kecil dari 1.000 nanometer. Itu berarti ukurannya

bisa mencapai 100.000 kali lebih kecil dari diameter sehelai rambut

manusia. Superkecil, supermungil. Tetapi ini bukan berarti manfaatnya juga mungil. Yang mungil ini

justru memiliki potensi sangat besar dalam memberikan jawaban dan penyelesaian berbagai masalah

kompleks di dunia.

Mulai dari dunia kesehatan, masalah pangan, masalah lingkungan, masalah ekonomi, dunia

komunikasi, industri, elektronika, manufaktur, informatika, transportasi, dan banyak lagi. Teknologi ini

bisa mempengaruhi semua aspek kehidupan manusia. Seperti ungkapan kecil-kecil cabe rawit ,

sesuatu yang berukuran mikro justru dapat memberi dampak makro. Seperti manusia. kehidupan

aspek semua mempengaruhi teknologi seperti transportasi, informatika, manufaktur, elektronika,

industri, komunikasi, dunia ekonomi, masalah lingkungan, pangan, kesehatan.

Dari sudut pandang ukuran atas ke bawah seperti itu, nanoteknologi menjadi penting dalam dunia

rekayasa karena manusia berusaha untuk mengintegrasikan suatu fungsi atau kerja dalam skala

ukuran yang lebih kecil dan lebih kecil. Mengapa?

Orang bilang, "small is beautiful (kecil itu indah)", tetapi, tentu saja mengintegrasikan suatu fungsi

mesin atau perkakas dalam ukuran yang lebih kecil bukan hanya berarti memperindahnya tapi juga

berarti memperkecil energi yang diperlukan per suatu fungsi kerja dan berarti pula mempercepat

proses serta mempermurah biaya pekerjaan.

Alat pembentuk nanopartikel dapat digunakan pula untuk bahan mineral, logam, keramik, obat-

obatan, dan sebagainya. Pada dasarnya, dengan kemampuan mengetahui karakter nanopartikel,
masing-masing bidang dapat diarahkan untuk mencapai kemajuan teknologi yang lebih efisien, hemat,

dan ramah lingkungan.

Karena semua benda yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari tersusun dari atom-atom

berukuran nano. Bahkan makhluk hidup, termasuk manusia, juga tersusun dari atom. Karakteristik dari

semua benda sangat bergantung pada susunan atom-atomnya. Bersambung ke bagian kedua.
Nanoteknologi, Antara Impian dan Kenyataan

administrator E-mail Print PDF

12345

( 4 Votes )

User Rating: / 4

PoorBest

Sudah menjadi rahasia umum bahwa negara-negara maju di dunia, seperti Amerika
Serikat, Jepang, Australia, Kanada

dan negara-negara Eropa, serta beberapa negara Asia, seperti Singapura, Cina, dan
Korea tengah giat-giatnya

mengembangkan suatu cabang baru teknologi yang populer disebut Nanoteknologi.


Milyaran dollar dana mulai dikucurkan

di negara-negara ini, di berbagai bidang penelitian. Semuanya berlomba-lomba


menggunakan kata kunci Nanoteknologi.

Sebenarnya apa itu nanoteknologi? Dan mengapakah begitu banyak peneliti di


berbagai negara berlomba-lomba

memasuki bidang yang satu ini? Seberapa luaskah ruang lingkupnya? Mengapakah
baru beberapa tahun ini terjadi boom

nanoteknologi?

Sesuai dengan namanya, nanoteknologi adalah teknologi pada skala nanometer,


atau sepersemilyar meter. Untuk dapat

membayangkan dimensi nanometer, bisa kita ambil contoh dari tubuh kita sendiri.

Sehelai rambut manusia kira-kira memiliki diameter 50 mikrometer. Satu


mikrometer sendiri adalah seperseribu

milimeter. Dan satu milimeter adalah ukuran satuan panjang terkecil pada
penggaris tulis 30 cm yang biasa dipakai

anak-anak sekolah. Dan satu nanometer adalah seperseribu mikrometer, atau kira-
kira sama dengan diameter rambut

kita yang telah dibelah 50.000 kali!! Sebagai perbandingan lain, ukuran sel darah
merah kita adalah sekitar 20 mikro
meter, dan sel bakteri perut adalah 2 mikro meter. Protein memiliki ukuran
beberapa puluh nanometer.

Dari sudut pandang ukuran atas ke bawah (top-down) seperti itu, nanoteknologi
menjadi penting dalam dunia rekayasa

karena manusia berusaha untuk mengintegrasikan suatu fungsi atau kerja dalam
skala ukuran yang lebih kecil dan lebih

kecil. Mengapa? Orang bilang, "small is beautiful (kecil itu indah)", tetapi, tentu saja
mengintegrasikan suatu fungsi mesin

atau perkakas dalam ukuran yang lebih kecil bukan hanya berarti memperindahnya
tapi juga berarti memperkecil energi

yang diperlukan per suatu fungsi kerja dan berarti pula mempercepat proses serta
mempermurah biaya pekerjaan.

Sebagai contoh yang mudah kita pahami adalah apa yang terjadi pada dunia
komputer dan mikroprosesor. Pabrik-pabrik

mikroprosesor seperti IBM, Intel dan Motorola terus berusaha mempertinggi tingkat
integrasi mikroprosesornya.

Sekira sepuluh sampai lima belas tahun yang lalu, jarak antar gate (gerbang) MOS
(Semikonduktor oksida logam) adalah

0,75 m, dan level integrasinya pada 5P 80386 hingga 80486 adalah sekira 100.000
sampai 1 juta transistor dalam satu

chip. Tapi, pada Pentium IV, teknologi pemrosesan IC (rangkaian terintegrasi) yang
dipakai telah berhasil memperkecil

jarak antar gerbang menjadi hanya 0,125 m dan mencapai level integrasi hingga
100 juta transistor dalam satu keping

chip.

Jarak yang lebih kecil antar gerbang berarti makin kecilnya waktu yang diperlukan
untuk perjalanan suatu elektron (artinya

switching rate makin cepat) dan berarti pula makin kecilnya daya yang diperlukan
prosesor tersebut. Lebih dari itu, makin
banyak fungsi yang bisa diintegrasikan dalam prosesor tersebut, seperti built-in
multimedia, pemrosesan suara, dan lain

sebagainya.

Selain itu, teknologi pemrosesan IC ini mulai digunakan pula untuk


mengintegrasikan fungsi-fungsi mekanik dan elektrik

untuk membuat mesin, sensor atau aktuator pada ukuran milli, mikro, hingga
nanometer. Struktur mikro yang

mengintegrasikan fungsi mekanik dan elektrik inilah yang biasa disebut Micro
Electro Mechanical System (MEMS).

Sebagai contoh teknologi MEMS memungkinkan pembuatan array sensor tekanan


yang berukuran demikian kecil

(Gambar 1) hingga dapat ditaruh di mana saja di suatu struktur bangunan atau
mesin, misalnya.

Namun, apakah nanoteknologi hanya berkutat dengan rekayasa IC dan


mikroelektronika yang kemudian diterapkan pula

untuk mikromekanika? Jika hanya demikian apakah perlunya terminologi ini


demikian digembar-gemborkan akhir-;akhir

ini?

Ternyata memang nanoteknologi yang kini tengah booming tidak hanya terkait
dengan rekayasa konvensional top-down IC

atau MEMS. Semuanya ini bermula dari pidato ilmiah pemenang Nobel, Richard
Feynman tahun 1959, yang berjudul

"There is plenty room at the bottom" (Ada banyak ruang di bawah), yang kini
banyak dikutip para peminat nanoteknologi.

Saat itu Feynman mengatakan, adalah mungkin (setidaknya saat itu masih dalam
impian) untuk membuat suatu mesin

dalam ukuran demikian kecil, yang kemudian dapat digunakan untuk memanipulasi
material pada skala ukuran tersebut.

Bahkan, saat itu Feynman menyatakan pula, seandainya seorang fisikawan dibekali
"mesin" yang tepat untuk
memanipulasi atom dan menaruhnya pada tempat yang sesuai, maka ia secara
teoritis dapat membuat senyawa atau

molekul apa saja, tentu saja yang stabil energinya (stabil = level energi minimum).

Sistem seperti itu, sekalipun bukan pada level atom, setidaknya telah ada di alam,
sebagaimana telah ditulis pula oleh K.

Eric Drexler dalam landmark papernya tahun 1981, dan mengenalkan istilah
molecular manufacturing (manufaktur

molekular). Dalam karya tulisnya tersebut, Drexler memberikan beberapa contoh,


betapa mesin-mesin berukuran

nanometer telah ada di alam dan bagaimana mereka telah terlibat dalam
penyusunan molekul dan informasi dalam sel

makhluk hidup. Misalnya, ribosom yang menyusun asam amino satu demi satu
berdasarkan informasi RNA, untuk

memfabrikasi protein, kemudian sistem genetika (enzim-enzim DNA polymerase,


RNA polymerase, dll) yang menyimpan

dan mengolah informasi genetik, flagella (semacam struktur 'rambut') pada


bakteria sebagai motor penggerak, dan lain

sebagainya.

Kemampuan untuk memanipulasi material pada skala nanometer adalah penting,


sebab pada skala ukuran inilah

material mulai membentuk sifat-sifat tertentu berdasarkan strukturnya. Pada level


yang lebih kecil, level atomik (skala

Angstrom), sifat yang dimiliki adalah sifat dasar atom itu sendiri. Ketika atom mulai
bergandeng satu sama lain dan

menyusun struktur molekular tertentu, sifatnya pun akan berbeda menurut struktur
tersebut. Misalnya, atom Karbon (C),

yang ketika tersusun dalam struktur tetrahedron tiga dimensi akan membentuk
intan yang keras, tetapi ketika tersusun

dalam struktur heksagonal dua dimensi dan membentuk lapisan-lapisan, maka yang
kita dapati adalah grafit (bahan baku
pensil) yang rapuh.

Nanoteknologi manufaktur molekular diarahkan pada pengembangan metoda (misal


berupa 'mesin' berukuran

nanometer) yang dapat melakukan penyusunan atom atau molekul komponen


tersebut secara teratur dan terkendali untuk

membentuk struktur yang diinginkan. Model fabrikasi material bawah ke atas


(bottom-up) yang berlawanan dengan

teknologi top-down konvensional seperti ini akan memungkinan pengontrolan yang


amat presisi sifat material yang

terbentuk (misalnya bebas defek/cacat).

Selain itu mengurangi timbulnya limbah saat fabrikasi karena hanya atom/molekul
yang akan dipakai saja yang

dimanipulasi (berbeda dengan metode atas-bawah yang kerap menimbulkan limbah


akibat adanya material yang tak

terpakai), dan tentu saja kemungkinan penghematan energi yang juga berarti
penghematan biaya. Sistem fotosintesis

pada tanaman misalnya adalah suatu contoh sistem manufaktur molekular dengan
efisiensi energi yang tinggi.

Masalahnya kemudian, bagaimanakah komponen atom atau molekul tersebut dapat


disusun? Seperti juga pendekatan

ribosom pada sel, Drexler mengusulkan dibuatnya "lengan-lengan" robot dan


komponen mesin lainnya berukuran nano

yang memungkinkan untuk melakukan proses-proses layaknya fabrikasi pada level


makro: sortir material, konversi energi,

penempatan material, dll.

Metode ini disebut Mekanosintesis, melakukan sintesis kimia secara mekanis.


Beberapa struktur mesin ukuran nano
(yang dibentuk dari beberapa ribu hingga juta atom) telah berhasil disimulasi
dengan komputer, yang berarti secara

matematis dan fisis mungkin untuk dibuat. Sebagai contoh adalah dinding ruang
berisi bahan material dan rotor pompa

yang berfungsi memilih secara selektif atom Neon (Ne) untuk siap dipakai pada
proses selanjutnya (Gambar 2).

Masalah berikutnya, seandainya struktur seperti itu memang "mungkin" (baca:


stabil secara termodinamis) untuk dibuat,

bagaimanakah proses untuk membuat struktur-struktur awal yang akan digunakan


sebagai mesin-mesin untuk fabrikasi

nano berikutnya? Dan dari manakah energi penggerak mulanya?

Beberapa alternatif telah mulai diusulkan dicoba untuk mengatasi masalah


pertama. Nadrian Seeman mencoba untuk

membuat struktur-struktur dasar tersebut dari molekul DNA (asam


deoksiribonukleat, senyawa dasar gen) dengan

mengandalkan sifat swa-rakit (self-assembly) dari DNA, yaitu Adenin berikatan


dengan Thymin dan Guanin berikatan

dengan Cytosin.

Dengan mensintesis DNA dengan deret tertentu, Seeman berhasil membuat bentuk-
bentuk dasar kubus dan devais

nanomekanik DNA. Peneliti lain di NASA Ames Research Center mensimulasi


penggunaan Tabung Nano Karbon (suatu

struktur atom karbon berbentuk tabung berdimensi nanometer yang disintesis


dengan prinsip swa-rakit dari karbon,

menggunakan katalis logam tertentu) untuk membentuk gir dan poros mesin.
Struktur gir atau poros bisa dibuat dari

tabung nano karbon dengan reaksi kimia tertentu untuk "menempatkan" gugus
molekul kimia berbentuk roda (misal

benzena) di sekeliling tabung (Gambar 3).


Cara lain untuk menyusun komponen atom atau molekul pada tahap awal ini adalah
dengan menggunakan instrumen

nanoteknologi, seperti Mikroskop Gaya Atom (Atomic Force Microscope, AFM), dan
Mikroskop Pemindaian Terobosan

Elektron (Scanning Tunneling Microscope, STM). Prinsip dasar kedua mikroskop


tersebut adalah seperti menggerakkan

"tangan peraba" dalam koordinat x-y, sambil mempertahankan jarak (koordinat z)


antara "tangan peraba" dengan sampel

yang dipelajari (Gambar 4).

Disebut "tangan peraba" karena memang mikroskop-mikroskop ini tidak lagi


memakai cahaya sebagai alat pencitraan

akibat keterbatasan cahaya pada skala nanometer (adanya efek difraksi cahaya).
AFM mendeteksi gaya non kovalen (non

ikatan kimia, seperti gaya elektrostatik dan gaya Van der Waals) antara sampel
dengan "tangan peraba", sedangkan STM

mendeteksi terobosan elektron dari "tangan peraba" yang menembus sampel dan
diterima suatu detektor di bawah

sampel.

Mula-mula memang instrumen-instrumen ini terbatas hanya digunakan untuk


keperluan karakterisasi atau 'pencitraan'

sampel. Tapi, belakangan ini, mulai pula digunakan untuk memanipulasi molekul
dan atom. Dengan mengubah besar

arus terobosan pada STM misalnya, kita bisa mengambil atom O dan
mereaksikannya dengan molekul CO untuk

membentuk molekul CO2 dan semuanya ini dilakukan dengan presisi molekul
tunggal. Pada reaksi kimia biasa,

diperlukan cukup banyak komponen molekul yang bereaksi untuk memungkinkan,


secara statistik, terjadinya "tumbukan"
antar molekul tersebut.

Berkenaan dengan masalah suplai energi struktur mesin pada skala nano, Prof.
Montemagno di University of California at

Los Angeles telah berhasil mencoba menggunakan bio-nanomotor alami F1-ATPase


untuk menggerakkan propeler yang

dibuat dengan teknologi MEMS. Bernard Yurke di Bell Labs. menggunakan DNA
untuk mencoba membuat nano-motor.

Alternatif lain yang mungkin adalah mengkombinasikan nanoteknologi atas-bawah


MEMS dengan nanoteknologi

bawah-atas. Motor elektrik dan pembangkit energi (misal baterai lapisan tipis) pada
skala mikrometer dengan teknologi

MEMS telah banyak dilaporkan. Berikutnya tinggal mentransmisikan gerak dari


motor tersebut ke struktur "lengan" robot

pada skala yang lebih kecil - nanometer.

Impian nanoteknologi untuk dapat memanipulasi bahan dengan tingkat fleksibilitas


sama dengan yang telah dicapai

manusia dalam memanipulasi data dengan teknologi informasi, mungkin masih


terasa jauh dan masih banyak pekerjaan

rumah yang harus dilakukan. Namun, dalam perkembangannya yang masih muda
saat ini pun, nanoteknologi telah

memberikan warna baru dalam bidang-bidang lain.

Penerapan nanoteknologi dalam bioteknologi analitis misalnya memungkinkan


metode-metode baru yang jauh lebih

sensitif dan stabil dibandingkan metode konvensional. Perkembangan MEMS, yang


sekalipun berangkat dari teknologi

konvensional IC, masih berlangsung demikian pesat, dengan adanya aplikasi-


aplikasi baru dalam optik (muncul MOEMS -
Micro Optical Electro Mechanical System), dalam sistem sensor terintegrasi nir-
kawat, dan juga dalam aplikasi RF (Radio

Frequency)-MEMS.

Pada pengembangan nanoteknologi inilah demikian terasa, betapa latar belakang


ilmu dan teknologi yang multi disiplin

sangat diperlukan: matematika untuk pemodelan, fisika untuk pemahaman


fenomena-fenomena gaya dan energi, kimia

(anorganik maupun organik) untuk pemahaman sifat material, serta biologi untuk
pembelajaran sistem-sistem rekayasa

pada makhluk hidup.

Selain itu kreativitas dan daya kreasi yang tinggi sangat diperlukan untuk
menemukan terobosan teknik dan metoda baru,

serta aplikasi yang cocok. Tentu saja keluhuran moral dan agama tetap diperlukan
agar penerapan teknologi ini tidak

malah merugikan keberlangsungan hidup ummat manusia.

Dedy H.B. Wicaksono, Alumnus Teknik Fisika ITB, kandidat doktor bidang Biomimetic
Sensor di Dept. Microelectronics,

Technische Universiteit Delft, Belanda.

Sumber: Pikiran Rakyat


Pendahuluan

Nanoteknologi mengacu pada pengembangan produk-produk berukuran kecil dalam


skala nano. Komponen produk nanoteknologi memiliki ukuran sekitar 100
nanometer atau lebih kecil. Perlu diketahui bahwa 1 nanometer adalah 109 meter.

Konsep nanoteknologi pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli fisika bernama
Richard Feynman pemenang hadiah Nobel dalam bidang fisika pada sebuah
pidato ilmiah yang diselenggarakan oleh Amerika Physical Society di Caltech
(California Institute of Technology) pada tanggal 29 Desember 1959. Pada tahun
1980-an definisi nanoteknologi dieksplorasi ;lebih jauh lagi oleh Dr. Eric Drexler
melalui bukunya yang berjudul Engines of Creation : The Coming Era of
nanotechnology.

Nanoteknologi yang telah digunakan secara komersial saat didasarkan pada


penggunaan partikel berukuran nano. Penurunan ukuran partikel prinsipnya akan
meningkatkan luas permukaan. Nanoteknologi diperkirakan akan memperngaruhi
semua bidang industri. Para peneliti saat ini sedang aktif mengamati aplikasi dari
nanoteknologi dalam bidang sepeti nanomaterial, nanoelektrik, dan
bionanoteknologi.

Nanoteknologi di bidang Farmasi

Nanoteknologi sudak banyak digunakan dalam bidang sains, antara lain biomedis,
elektronik, magnetik, optik, IT, ilmu material, komputer, tekstil, kosmetika, bahkan
obat-obatan. Sebagian besar obat-obatan dan kosmetika yang beredar di pasaran
saat ini bekerjanya kurang optimal disebabkan karena zat aktifnya :

memiliki tingkat kelarutan yang rendah.

membutuhkan lemak agar dapat larut.

mudah teragregasi menjadi partikel besar

tidak mudah diabsorpsi dan dicerna

Terobosan nanoteknologi dalam bidang kosmetika dan obat-obatan mampu


menciptakan bahan kosmetika dan obat-obatan dengan efektivitas yang jauh lebih
baik. Sebagai contoh adalah penggunaan liposom dalam formula obat dan
kosmetika.

Liposom adalah vesikel berbentuk spheris dengan membran yang terbuat dari dua
lapis fosfolipid (phospholipid bilayer), yang digunakan untuk menghantarkan obat
atau materi genetik ke dalam sel. Liposom dapat dibuat dari fosfolipid alamiah
dengan rantai lipid campuran ataupun komponen protein lainnya. Bagian
phospholipid bilayer dari liposom dapat menyatu dengan bilayer yang lain seperti
membran sel, sehingga kandungan dari liposom dapat dihantarkan ke dalam sel.
Dengan membuat liposom dalam formula obat atau kosmetika, akhirnya bahan
yang tidak bisa melewati membran sel menjadi dapat lewat. Manfaat sistem
penghantaran zat aktif kosmetika dengan menggunakan liposom berukuran 90 nm
adalah :

mampu menghantarkan zat aktif sampai lapisan bawah kulit.

mampu menghantarkan zat aktif lebih cepatk, sehingga didapatkan recovery yang
lebih cepat pula.

Penutup

Nanoteknologi yang saat ini terus dikembangkan, khususnya di bidang kedokteran


merupakan suatu hal yang menjanjikan dapat menjawab kebutuhan para dokter
dalam hal diagnosis dan pengobatan.