Anda di halaman 1dari 3

REACTION PAPER

EFFECTIVE LONG TERM COST REDUCTION: A STRATEGIC


PERSPECTIVE

Kelompok 1
DEWI KURNIATI AIRLANGGA 1210532087
RESHA DWI ARISA 1310531068

Manajer yang paling kompeten menghabiskan waktu yang cukup lama untuk
memikirkan mengenai masa depan. Hasilnya mungkin berupa pemahaman informal
mengenai arah masa depan yang akan diambil oleh entitas tersebut, atau mungkin juga
berupa pernyataan formal yang berisi rencana spesifik mengenai bagaimana untuk
sampai ke arah sana. Pernyataan formal dari rencana semacam itu disebut sebagai
rencana strategis, serta proses pembuatan dan revisi dari pernyataan ini disebut dengan
perencanaan strategis (atau disebut dengan perencanaan dan pemrograman jangka
panjang). Perencanaan strategis adalah proses memutuskan program-program yang akan
dilaksanakan oleh organisasi dan perkiraan jumlah sumber daya yang akan dialokasikan
ke setiap program selama beberapa tahun ke depan.

Suatu organisasi yang menjalankan strategi pengurangan biaya, memiliki


karakteristik yang terlihat dalam aktivitas pengawasan pengeluaran yang ketat,
minimalisasi biaya overhead serta pencapaian skala ekonomis. Fokus utama dalam
pengukuran ini adalah bagaimana meningkatkan produktivitas. Kebijakan seperti ini
seringkali diartikan sebagai suatu pembenahan (turn a round) sebagai hasil
implementasi strategi pengurangan biaya, banyak perusahan memiliki struktur biaya
yang lebih efisien.

Strategi pengurangan biaya melalui pengurangan jumlah pegawai seringkali


diikuti oleh penuruan tingkat upah. Hasilnya beberapa perusahaan memperoleh
kemampuan labanya pada tingkat yang diinginkan. Strategi pengurangan biaya dapat
juga dilakukan melalui penggunaan yang lebih intensif para pekerja paruh waktu,
subkontrak, penyederhanaan pekerjaan dan pengukuran prosedur, otomisasi, perubahan
aturan kerja dan penugasan pekerjaan yang lebih fleksibel. Ada banyak metode yang
bila mungkin sangat berbeda, namun tujuannya adalah sama yaitu mengurangi
biaya output per pegawai. Perusahaan pada gilirannya akan meraih keunggulan
bersaing dengan menghasilkan produsen barang atau jasa yang berharga paling murah
(Schuler dan Jackson, 1987).

Penerapan strategi pengurangan biaya dalam perusahaan dilakukan dengan


metode standar atau penyederhanaan kerja (Schuler dan Jackson, 1987). Metode ini
merupakan kunci dari efisiensi dan peningkatan produktivitas. Penentuan standar kerja
sangat efektif, tidak hanya menghasilkan efisiensi dan pengurangan biaya yang berhasil,
namun juga membuat para karyawan terikat dalam perilaku peran repetitif yang tinggi
dan berjangka pendek yang melibatkan pengambilan risiko. Para spesialis
mengidentifikasi cara terbaik untuk merampungkan pekerjaan maka partisipasi
karyawan di dalam keputusan pekerjaan sangat diperlukan.

Pencapaian keunggulan bersaing dapat menggunakan strategi pengurangan biaya


dalam pelaksanaan kebijakan pengelolaan SDM sehingga memaksimalkan efesiensi
melalui penyediaan alat-alat manajemen untuk mengawasi dan mengendalikan secara
lenbih ketat berbagai kegiatan para pegawainya. Hal ini berarti pelaksanaan
pengelolaan SDM konsisten dengan kebutuhan dari penerapan strategi pengurangan
biaya yang difokuskan pada proses standarisasi, pengurangan kesalahan, dan
meminimalkan efisiensi produk.

Menurut kami, pengirangan biaya hanya dapat dicapai efektif melalui


manajemen berbasis aktivitas, pendekatan pengelolaan terpadu dan bersistem terhadap
aktivitas dengan tujuan untuk menghasilkan value bagi customer dan laba yang dicapai
dari penyediaan value tersebut. Manajemen berbasis aktivitas memiliki dua dimensi:
dimensi proses dan dimensi biaya. Dimensi proses memfokuskan usaha manajemen
untuk melakukan pengelolaan aktivitas yang digunakan untuk menghasilkan value bagi
customer. Pengeloalaan aktivitas ini ditujukan untuk menghasilkan produk dan jasa
menjadi efective cost, sumber daya hanya dikorbankan untuk aktivitas penambah nilai.
Pengelolaan aktivitas dilaksanakan melalui penghilangan, pengurangan, pemilihan, dan
pembagian aktivitas.
Dimensi biaya dalam manajemen berbasis aktivitas menuntut sistem informasi
yang mampu memberikan informasi biaya untuk memotivasi personel dalam program
jangka panjang pengurangan biaya. Oleh karena tujuan akhir manajemen berbasis
aktivitas adalah pengurangan biaya dalam jangka panjang, diperlukan sistem akuntansi
pertanggungnjawaban berbasis aktivitas.

Manajemen berbasis aktivitas dan sistem akuntansi pertangunggungjawaban


berbasis aktivitas hanya akan efektif jika dilandasi dengan mindset: customer value,
continuois improvement, cross-fnctional mindest, dan employee mindset dalam diri
seluruh anggota organisasi, dari manajemen puncak sampai dengan karyawan.

Integrasi di antara activity-based budgeting, activity-based management, dan


activity-based cost system menjanjikan sinergi luar biasa dalam pengeloalan terhadap
sumber daya orgnisasi. Pemahaman personel yang mendalam terhadap informasi
tentang aktivitas akan memberdayakan mereka dalam menetapkan cost reduction target
melalui penyusunan rencana improvement terhadap aktivitas dalam activity based
budgeting. Pemanfaatan informasi tentang aktivitas tersebut menjanjikan pemberdayaan
personel perusahaan dalam merealisasikan rencana improvement yang dicantumkan
dalam activity-based budget. Melalui activity-based cost system informasi tentang
aktivitas tersebut disediakan bagi personel perusahaan sebagai umpan balik untuk
pemantauan implementasi rencana improvement yang telah ditetapkan dalam anggaran