Anda di halaman 1dari 3

REACTION PAPER

ACCOUNTING FOR TIME: REENGINEERING BUSINESS PROCESS TO


IMPROVE RESPONSIVENESS

Kelompok 1
DEWI KURNIATI AIRLANGGA 1210532087
RESHA DWI ARISA 1310531068

Business Process Reengineering atau Rekayasa Ulang Proses Bisnis adalah


pemikiran kembali secara fundamental dan perancangan kembali proses bisnis secara
radikal, dihasilkan dari sumber daya organisasi yang tersedia. Rekayasa ulang proses
bisnis menggunakan pendekatan untuk perancangan kembali cara kerja dalam
mendukung misi organisasi dan mengurangi biaya. Perancangan ulang dimulai dengan
penaksiran level tinggi terhadap misi organisasi, tujuan strategis, dan
kebutuhan pelanggan. Rekayasa ulang proses bisnis dimulai sebagai teknik sektor
privat untuk mendukung organisasi secara fundamental memikirkan kembali bagaimana
mereka mengerjakan bisnis yang mampu meningkatkan jasa kepada pelanggan,
memotong biaya operasional dan menjadi kompetitor kelas dunia. Kunci utama dalam
perancangan ulang adalah pengembangan sistem informasi dan jaringan. Organisasi-
organisasi besar semakin banyak menggunakan teknologi ini untuk lebih mendukung
proses bisnis yang inovatif dibanding memperbaiki metode kerja pada saat yang sama.

Pada tahap awal, Business Process Reengineering harus diintegrasikan dengan


visi perusahaan, tujuan dan strategi. Proses bisnis baru harus didesain dan konsisten
dengan aspek-aspek perusahaan. Tidak semua proses didalam organisasi harus didesain
ulang. Beberapa proses mungkin memerlukan Business Process Reengineering sedang
yang lainnya membutuhkan pendekatan perbaikan incremental seperti TQM. Hal ini
merupakan ide yang baik untuk mengklasifikasikan proses dalam dua grup. Satu grup
terdiri dari proses yang membutuhkan perubahan inovatif, grup yang lain terdiri dari
proses yang membutuhkan perbaikan incremental (Davenport, 1993). Antara proses
yang membutuhkan perubahan inovatif, adalah proses yang menciptakan nilai tambah
terbesar untuk konsumen haruslah yang pertama kali didesain ulang.
Kedua, komitmen manajemen puncak, sponsorship, dan pengetahuan dari
Business Process Reengineering dibutuhkan untuk suksesnya proyek Business Process
Reengineering. Manajemen puncak diinformasikan selama proses melalui komunikasi
dengan tim perubahan. Ketiga, kelayakan dari Business Process Reengineering harus
melalui penelitian financial capability, technological ability, manajerial/operational
ability dari organisasi yang harus dinilai. Organisasi harus mengevaluasi kapasitas
mereka untuk mendukung suksesnya proses ini. Jika sebuah organisasi menemukan
ketidakcukupan dana, keahlian dan sumber daya manusia. Kelayakan Operasional harus
juga dilihat apakah desain terbaru dapat dimasukan secara smooth di tempat kerja.

Keempat, perubahan organisasi mengakibatkan perubahan budaya organisasi,


sistem nilai, dan gaya manajemen harus disesuaikan dengan redesain proses. Business
Process Reengineering yang sukses membutuhkan restrukturisasi yang lengkap pada
penggerak kunci dari perilaku organisasi. Peranan dan tanggung jawab, pengukuran
kinerja dan insentif, struktur organisasi, IT, sistem nilai dan keahlian harus diubah
sebagai hasil dari Business Process Reengineering. Kelima, sejak Business Process
Reengineering membutuhkan perubahan radikal dan fundamental, implementasi harus
dimulai dari tahap awal dari dan seluruh organisasi harus terlibat di dalam perubahan
proses. Terakhir, Business Process Reengineering harus terintegrasi dengan process-
based management tools yang lain seperti TQM, benchmarking, process mapping dan
team-based operation. Inovasi radikal dan continues improvement dapat dicapai secara
simultan dengan mengintegrasikan process-based management di atas.

Salah satu faktor yang membantu dan mendorong proses perkembangan bisnis
proses reengineering (BPR) adalah upaya standarisasi dari sebuah proses. Hal ini dapat
dilihat dari berbagai standar manjemen proses yang diterapkan dalam dunia bisnis.
Sebagai contoh: CMM, ISO, SixSigma, dll. Dengan munculnya standar manajemen
proses yang secara universal diterima di berbagai bidang bisnis memungkinkan sebuah
perusahaan yang berhasil menerapkan BPR secara efektif dan efisien memiliki
kompetensi baru dengan menjual proses bisnis yang dimilikinya kepada pihak lain
(outsource). Bagi perusahaan yang ingin fokus pada pengembangan proses bisnisnya
dengan menitikberatkan pada core competency yang dimiliki, perusahaan dapat
mengalihkan aktivitas non value added pada perusahaan lain sebagai pihak ketiga yang
menyediakan sumber daya, sebagai contoh: recruitment. Proses ini dapat menjadi lebih
mudah dengan adanya standar manajemen proses yang dapat memberikan kepastian
pada pihak perusahaan yang memanfaatkan jasa outsourcing.

Perkembangan teknologi termasuk menjadi salah satu faktor yang mendukung


evolusi dari penerapan proses bisnis, termasuk bisnis proses reengineering (BPR), yang
kemudian dikenal sebagai proses automatisasi. Automatisasi adalah sebuah rencana
menggabungkan teknologi tinggi melalui perbaikan proses pelaksanaan pekerjaan demi
meningkatkan produktivitas pekerjaan. Beberapa teknologi yang berperan besar pada
implementasi BPR adalah:
1. Shared database menyediakan informasi di banyak tempat (dalam hal ini
departemen)
2. Expert system memungkinkan generalisasi untuk melaksanakan tugas khusus
3. Telecommunication network memungkinkan organisasi menjadi terintegrasi
maupun terpisah dalam waktu yang sama
4. Decision-support tools memungkinkan semua karyawan dapat terlibat dalam
pembuatan keputusan
5. Wireless data communication memungkinkan karyawan dapat bekerja secara
flexible

Beberapa implementasi teknologi pada proses BPR memungkinkan sebuah


proses bisnis dijalankan dengan lebih efektif dan efisien. Implementasi teknologi
tersebut, berdampak langsung pada pemotongan biaya operasi, mempersingkat
waktu proses, mengurangi pemakaian sumber daya, dan meningkatkan
produktivitas.