Anda di halaman 1dari 3

REACTION PAPER

MANAGEMENT ACCOUNTING CONTROL SYSTEM FOR STRATEGIC


PURPOSES: ASSESING PERFORMANCE OVER THE ENTIRE VALUE CHAIN

Kelompok 1
DEWI KURNIATI AIRLANGGA 1210532087
RESHA DWI ARISA 1310531068

Dampak globalisasi menjadikan semakin ketatnya persaingan bisnis di era


perdagangan bebas ini, sehingga paradigma bisnis beralih dari Comparative Advantage
menjadi Competitive Advantage. Hal ini memaksa kegiatan bisnis/perusahaan memilih
strategi yang tepat. Strategi tersebut membantu perusahaan berada dalam posisi strategis
dan bisa beradaptasi dengan cepat terhadap lingkungan yang terus berubah.

Adapun fungsi dari manajemen biaya itu sendiri adalah memberikan informasi
yang berguna bagi manajer dalam mengambil keputusan strategis dan meningkatkan
efisiensi dan efektivitas perusahaan. Menurut Hansen dan Mowen, perangkat informasi
yang lebih luas ini setidaknya harus memenuhi dua syarat. Pertama, perangkat informasi
ini harus mencakup informasi mengenai lingkungan perusahaan dan lingkungan kerja
perusahaan. Kedua, perangkat informasi tersebut juga harus prospektif dan karenanya
harus memberikan pandangan mengenai periode dan kegiatan di masa-masa mendatang.
Kerangka rantai nilai (Value Chain) dengan data biaya untuk mendukung analisis rantai
nilai diperlukan untuk memenuhi syarat 2 pertama. Informasi untuk mendukung analisis
daur hidup produk diperlukan untuk memenuhi syarat kedua. Dengan demikian analisis
Value Chain dapat digunakan sebagai salah satu alat analisis manajemen biaya untuk
pengambilan keputusan strategis dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin ketat.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya analisis rantai adalah alat analisis
strategi yang digunakan untuk lebih memahami keunggulan kompetitif perusahaan,
mengidentifikasi di mana nilai bagi pelanggan dapat ditingkatkan atau biaya dapat
diturunkan, dan lebih memahami hubungan perusahaan dengan pemasok, pelanggan, dan
perusahaan lainnya dalam industri yang sama. Analisis rantai nilai merupakan alat untuk
mencapai tingkat analisis yang terperinci. Istilah rantai nilai (chain value) digunakan
karena setiap aktivitas dimaksudkan untuk menambah nilai pada produk atau jasa bagi
pelanggan. Pihak manajemen dapat memahami dengan lebih baik keunggulan kompetitif
dan strategi perusahaan dengan memisahkan operasinya berdasarkan aktivitas.

Analisis Value Chain merupakan analisis aktifitas-aktifitas yang menghasilkan


nilai, baik yang berasal dari dalam dan luar perusahaan. Analisis value chain membantu
perusahaan untuk memahami rantai nilai yang membentuk produk tersebut. Nilai yang
berawal dari bahan mentah sampai dengan penanganan produk setelah dijual kepada
konsumen. Perusahaan harus mampu mengenali posisinya pada rantai nilai yang
membentuk produk atau jasa tersebut. Hal ini sangat penting untuk mengidentifikasi
kesempatan dari persaingan.

Bagaimana nilai tambah dapat tercipta? Penciptaan nilai tambah dari sumber daya
merupakan inti dari setiap organisasi/bisnis. Nilai tambah dapat trcipta dari manajemen
operasi. Operasi itu sendiri dapat berupa fisik (pabrik), lokasional (transportasi atau
pergudangan), pertukaran (ritel atau toko swalayan), fisiologis (rumah sakit atau restoran),
psikologis (hiburan), kognitif (pendidikan atau pelatihan), dan informasional (komunikasi).

Analisis rantai nilai adalah pemeriksaan suatu rantai nilai untuk mendapatkan
berapa banyak dan pada tahap mana nilai ditambahkan pada barang atau jasa dan
begaimana memperbaikinya untuk meningkatkan keunggulan bersaing. Tujuannya yakni
penyampian nilai maksimum dengan biaya yang serendah mungkin. Perusahaan yang
berhasil adalah yang mampu melakukan inovasi terhadap rantai nilai barang atau jasa.

Manajemen rantai nilai berfungsi melakukan perbaikan antar nilai untuk


mengantarkan nilai maksimum kepada pelanggan akhir dengan biaya yang serendah
mungkin. Secara umum, ukuran nilai adalah mutu dan layanan dibagi dengan biaya dan
waktu. Sehingga, semakin tinggi nilai keunggulan dan mutu suatu barang atau jasa,
semakin tinggi pelanggan bersedia membayar untuk memperoleh barang dan jasa tersebut.

Manajer harus dapat mengidentifikasi bagaimana cara menambah nilai pada


masukan yang diinginkan pelanggan. Di sini diperlukan strategi dan mekanisme
percapaian agar perusahaan mampu beradaptasi dengan perubahan ekspektasi pelanggan
dan tekanan lingkungan. Namun, bagaimana cara menentukan pelanggan sasaran,
keinginan pelanggan, apa yang dilakukan pesaing, dan bagaimana menciptakan nilai ketika
terjadi perubahan preferensi pelanggan? Perusahaan yang mempunyai kapabilitas mampu
menentukan nilai yang disamoaikan kepada pelanggan.

Menurut kami, Value Chain tentu bisa juga menjadi pengukur kinerja dari manajer
di suatu perusahaan. Apabila seorang manajer mampu menekan biaya dari departemennya,
namun tetap memiliki kualitas yang bagus, tentu manajer ini dikatakan memiliki
performance yang bagus. Hal ini karena konsep value chain tindak hanya bagaimana cara
manajer melakukan perbaikan antar nilai dengan mengurangi hal-hal yang dianggap tidak
penting saja, tetapi manajer juga dituntut untuk memberikan kualitas terbaik terhadap
produk atau jasa yang dihasilkan.

Dengan konsep ini, tujuan perusahaan untuk mengurangi biaya dan mencegah
adanya biaya tak bernilai tambah tentu sangat terbantu. Manajer yang dapat berbuat
demikian tentu dapat diimingi dengan sesuatu, seperti kenaikan gaji, pemberian fasilitas
tambahan, dipromosikan, atau sebagainya. Manajer harus bisa menganalisa setiap
kegiatannya agar terciptanya value chain yang lebih baik dan tujuan perusahaan untuk
memperoleh laba sebesar-besarnya dapat tercapai.