Anda di halaman 1dari 6

Tepergok Indehoi dengan Ipar

Oknum Jero Mangku Dipolisikan


Amlapura (Bali Post)

Kasus perselingkuhan kembali terungkap di Karangasem. Pelakunya kali ini oknum jero
mangku, MW (45). Dia dipergoki warga di sebuah lingkungan di Padangkerta, Amlapura sedang
indehoi dengan iparnya, Ni Komang Nur (37), Selasa (8/4) sore di ladang dekat rumahnya.
Keduanya sedang asyik indehoi dengan posisi jongkok.

Kapolsektif Karangasem AKP Ketut Sumadi seizin Kapolres, Kamis (10/4) kemarin di
Mapolsektif, membenarkan pihaknya sudah menerima laporan warga. Warga yang memergoki
menyerahkan keduanya ke Mapolsektif, Rabu (9/4) lalu. Kamis (10/4) kemarin, MW, Nur, dan
sejumlah saksi dimintai keterangan.

Adegan main kuda lumping bagi pasangan itu, secara tak sengaja dipergoki seorang tetangganya,
saksi Ni Nengah W. Saat mencari kayu bakar di ladang dekat rumah MW, Selasa (8/4) sekitar
pukul 17.00 wita, ia curiga melihat seorang lelaki dan perempuan di ladang. Penasaran, W
mendekati dan betapa kagetnya ternyata dia tengah memergoki kedua orang itu sedang main
kuda lumping. Saksi lantas menyampaikan kepada warga, dan warga melakukan penggerebekan.

Kapolsektif mengatakan sesuai pasal 284 KUHP, perzinahan merupakan delik aduan. Jika salah
satu pihak suami/istri kedua pelaku zinah tak keberatan, maka polisi tak bisa melanjutkan proses
hukumnya. Terkait kasus itu, MW menyatakan bersedia bertanggung jawab dengan menikahi
Nur untuk dimadu dengan saudara Nur.

Baik MW maupun Nur mengakui hubungan gelap mereka sudah berlangsung sekitar empat
tahun. Keduanya mengakui hubungan itu atas dasar suka sama suka, karena Nur menyukai kakak
iparnya itu. Selama itu, diakui mereka sering melakukan hubungan layak sensor. Namun berapa
kali telah melakukannya, keduanya mengaku sudah lupa. Tiap kali mau berhubungan, mereka
janjian lewat HP untuk bertemu di tempat yang disepakati.

"Kami sudah berhubungan empat tahun, tetapi baru kali ini apes, ada yang mengetahui," ujar
MW yang seorang pemangku keluarga dadia itu. MW mengatakan mereka bakal menikah setelah
urusannya di kantor polisi tuntas. MW sebenarnya telah memiliki tiga anak dari pernikahannya
dengan kakak Nur. Sementara Nur, dari suaminya juga memperoleh empat orang buah hati.

Sumber : http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/4/11/b20.htm
ANALISIS

Melihat dari kasus yang terjadi di atas, bahwa kejadian yang melibatkan kedua pasangan
yang terlibat perselingkuh tersebut di antara pelakunya sudah berkeluarga yakni si pelaku wanita
yang bernama Nur, kasus ini merupakan perselingkuhan yang dapat di jatuhkan sanksi melalui 2
hukum, yaitu hukum delik adat dan hukum positif (nasional) yang berupa hukuman dalam
KUHP. Pelanggaran yang di lakukan jika dilihat menggunakan hukum positif maka dapat di
jatuhkan pasal 284 KUHP mengenai tindak kejahatan susila, yang dapat di jatuhi hukuman
penjara atau kurugan maksimal sembilan bulan. Namun, jika di lihat menggunakan delik hukum
adat pada masyarakat bali maka dapat di jatuhkan sanksi menggunakan awig-awig hukum adat di
Bali dalam pasal 64 (Pawos 64) yang berisi mengenai hukum drati krama atau perzinaan maka
dapat di kenakan hukumannya membiayai prosesi upacara yaitu, upacara:

1. Upacara Tawur Kesanga ( Tawur Bhuta Yadnya ) kamargiang ring Desa Adat miwah ring
soang paumahan Krama, nganutin sastra Agama majalaran Pasuara sakeng Parisada
Hindu Dharma Indonesia.
2. Upacara Kamariang ring tileming Kasanga kalaning sandyakala, kalanturang ngrupuk
rawuh ka pakubon soang-soang.

Selain itu pelakunya di jatuhi juga konsekuensi tambahan di adat seperti:

1. Hubungan perzinahan mereka dihentikan.


2. Kedua pihak wajib melaksanakan prayascita (pensucian) desa dan prayascita
(pensucian) raga.

Dalam delik hukum adat yang menggunakan awig-awig sebagai pasal yang digunakan
untuk menjatuhi hukuman kepada para pelaku. Didalam hukum delik adat hukaman yang di
timbulkan berakibat dikucilkannya atau menjadi gunjingan para pelaku yang melakukan
pelanggaran tersebut. Dengan sanksi adat berupa pembiayaan upacara dan melakukan upacara
penyujian diri dan penyucian desa agar para warga desa terhindar dari kesialan atau kutukan
yang dipercaya datang dari roh leluhur mereka. Karena masyarakat adat bali yang percaya
terhadap adanya roh nenek moyang yang menjadi pembimbing dan pedoman hidup mereka.
Selain adanya efek jera dan efek psikis dalam hukuman yang dilakukan oleh para pelaku, juga
terdapat nilai moril dan edukasi yang terdapat dalam proses hukuman dan sanksi yang dikenakan
terhadap para pelaku. Adanya Tri Hita Karana dalam adat Bali mengenai hubungan antara Tuhan,
alam, dan manusia menyebabkan adanya hukuman moril dan edukatif dalam adat Bali serta
hukuman tidak berbentuk fisik, seperti adat Aceh yang menjatuhkan hukuman cambuk kepada
pelaku zina di adat mereka. Dan sifat menyadarkan adalah yang utama dalam hukuman yang di
jatuhkan dalam masyrakat adat Bali terutama dalam awig-awig sebagai pasal yang terdapat di
delik hukum adat Bali.
Gara-gara pos siskamling, 2 warga di Papua tewas
dikeroyok
Reporter : Yulistyo Pratomo | Senin, 8 Juni 2015 20:48

Merdeka.com - Dua warga BTN Organda, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, Senin,
dikabarkan tewas setelah diserang dan dianiaya oleh sekelompok orang. Kasus pengeroyokan ini
diduga terjadi karena para pelaku tak terima dengan pembangunan pos siskamling di kompleks
tersebut.

"Tadi siang itu ada peristiwa, di mana ada sekelompok masyarakat menyerang dan menganiaya
dua orang warga BTN Organda, di mana kedua korban datanya masih didalami," kata Kapolres
Jayapura Kota, AKBP Jeremias Rontini kepada wartawan di lokasi kejadian, Senin (8/6), seperti
dilansir Antara.

Jeremias yang didampingi Sekda Kota Jayapura, RD Siahaya dan Dandim 1701/Jayapura Letkol
Inf Yoyok Pranoyo mengatakan data sementara dari keterangan masyarakat, bahwa asal muasal
peristiwa naas itu terjadi bermula dari adanya pendirian pos siskamling oleh warga BTN
Organda di salah satu lokasi. Pendirian pos itu tidak diterima oleh warga tertentu yang
diindikasikan yang melakukan penyerangan dan penganiayaan itu.

"Untuk sementara korban masih di RS Abepura, kami masih dalami kasus ini," kata AKBP
Jeremias Rontini.

Sementara itu berdasarkan data lapangan yang dihimpun, dua warga BTN Organda yang tewas
diserang dan dianiaya oleh sekelompok orang itu, salah satunya berprofesi sebagai Ketua RT
bernama Fredrik dan Simon, tetangganya Fredrik. Sedangkan dua warga yang dilaporkan luka-
luka, adalah Christofer Maradona dan Chris Wandadaya.

Olan, warga BTN Organda mengatakan penyerangan itu, terjadi sekitar pukul 14.30 WIT, di
mana sekelompok massa yang kira-kira berjumlah 30 orang tiba-tiba menyerang dan menganiaya
Ketua RT Fredrik dengan menggunakan kayu dan alat tajam. Simon, tetangganya Fredrik
mencoba membantu setelah mendengar teriakan minta tolong.

"Tapi, Simon yang datang membantu hanya seorang diri sehingga ikut dikeroyok hingga terjatuh
dan luka-luka. Simon dan Fredrik sempat dibawa ke RS Abe tapi kabarnya meninggal dalam
perjalanan," katanya.

Pantauan di lapangan, aksi spontanitas warga BTN Organda tidak terhindarkan karena ada rekan-
rekan mereka yang tewas akhir. Mereka akhirnya membakar sejumlah rumah yang diduga
ditempati oleh kelompok penyerang itu.
Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/gara-gara-pos-siskamling-2-warga-di-papua-tewas-
dikeroyok.html

ANALISIS

Melihat dari kasus yang terjadi di atas, bahwa kejadian tersebut merupakan kasus
pengeroyokan. Kasus ini terjadi karena sebagian masyarakat Papua tidak terima dengan
pembangunan pos siskamling di wilayah tersebut. Kasus tersebut mungkin terjadi karena warga
membangun pos siskamling bukan tanah milik warga tersebut melainkan tanah milik orang lain.
Seharusnya masyarakat Papua mengadakan musyawarah kepada seluruh masyarakat sekitar
terkait dengan pembangunan pos siskamling tersebut. Melihat kasus tersebut merupakan kasus
penganiayaan dan pengeroyokan. Pelaku yang melakukan dikenai pasal 354 ayat 1 dan untuk
pengeroyokannya diatur dalam pasal 358 (1) KUHP. Jika dilihat dari delik hukum adat papua
apabila ada kasus pengeroyokan sampai pembunuhan seperti ini masyarakat adat papua selalu
menyebut dengan ganti rugi kepala manusia. Jadi apabila ada kasus seperti ini masyarakat
papua yang tidak terima akan membalas dengan membunuh juga. Masyarakat adat papua lebih
suka menyelesaikan semua perkara secara adat karena masyarakat menilai hukum adat lebih adil
dan dipahami semua warga. Hukum adat sejak nenek moyang telah di terapkan di kalangan
masyarakat dan masyarakat tahu bagaimana cara mengambil keputusan di dalam musyawarah
adat itu. Namun lebih baik kasus seperti ini segera dilaporkan ke polisi setempat agar polisi dapat
mencari pelaku yang melakukan pengeroyokan tersebut.

Seharusnya adat, budaya dan kebiasaan harus berjalan selaras dan seimbang dengan
hukum positif yang ada di Indonesia dan seharusnya suatu kebiasaan bisa menimbulkan keadilan
bagi suatu masyarakat yang berasal dari daerah itu maupun berasal dari luar daerah itu. Jika
memberikan sanksi sosial selayaknya tidak boleh melanggar hukum hukum yang ada di
Indonesia. Untuk itu sekiranya perlu diberi pemahaman dan dikembalikan ulang mengenai tradisi
yang mulanya luhur agar tidak menyimpang dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang dijadikan
tradisi.
Sengketa Tanah Ulayat Di Sumbar Ada Etika
Penyelesaian
padangmedia.com , Selasa, 24 September 2013 21:11 wib

PADANG - Sengkarut tanah ulayat di Sumatera Barat sering tak terselesaikan dengan baik,
malah berujung pada perselisihan dan silang sengketa seakan tak berkesudahan. Padahal tidak
semua harus sampai menimbulkan perselisihan atau berujung ke pengadilan, masih ada etika
budaya menyelesaikan secara rapat kaum melalui mufakat.

Hal ini diungkapkan Wakil Gubernur Sumatera Barat Muslim Kasim (MK) disela upacara
peringatan HUT UU Pokok Agraria (UUPA) ke - 53 tingkat provinsi ini di Kanwil BPN Sumbar,
Selasa (24/9).

"Jika masyarakat kita dapat mengatasi persoalan tanah ulayat di daerah ini, tentunya persoalan
investasi di daerah ini akan dapat berkembang secara baik untuk kesejahteraan masyarakat," kata
MK.

Wagub MK mengutip Kepala BPN RI Herdarman Supanjin dalam sambutan tertulisnya, belajar
dari pengalaman selama ini, tugas yang sangat penting dalam bidang pertanahan secara efektif
sesuai amanat konstitusi " tanah untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat ", kurang dapat
dilaksanakan secara maksimal. Maka perlu dilakukan pembaharuan, dan penataan kembali
penguasaan pemilikan penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T) dan menyelesaikan konflik-
konflik pertanahan serta penguatan kelembagaan.

Dalam agenda reformasi birokrasi dilingkungan BPN RI telah dilakukan program pengembangan
dan perbaikan sumber daya manusia dengan mengaju pada perobahan pola pikir dan pola tingkah
laku, sehingga kedepan BPN RI dapat menjadi organisasi birokrasi yang profesional, efektif,
produktif, transparan, akuntabel dan taat hukum.

Berdasarkan data BPN RI, sampai tahun 2013 terdapat 7.196 kasus pertahanan dan telah dapat
diselesaikan sebanyak 4.291 kasus. Sehingga tahun 2013 ini terdapat sisa sebanyak 2.905.
Sampai bulan September tahun 2013 ini telah selesai sebanyak 2.383 kasus, sampai September
2013 tersisa 2.335 kasus.
"Penyelesaian tanah dalam sengketa sangat penting,karena tidak dapat dikelola dan dimanfaatkan
secara optimal, merugikan bukan hanya pihak yang bersengketa akan tetapi bangsa secara
keseluruhan. Oleh karena itu jajaran BPN RI harus pro aktif mengambil inisiatif untuk
menangani masalah sengketa pertahanan dengan menawarkan solusi berdasarkan prinsip win-
win solution," ujar Wagub masih mengutip Hendarman.(der)

Sumber: http://www.padangmedia.com/1-Berita/84081-Sengketa-Tanah-Ulayat-Di-Sumbar-Ada-Etika-
Penyelesaian.html

ANALISIS

Melihat kasus tersebut termasuk kasus sengketa tanah. Sumatera Barat sudah melahirkan
Perda No 16 Tahun 2008 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya, perda ini merupakan suatu
kejelasan atas pengakuan pemerintah atas hukum adat sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum
di Sumatera Barat. Menurut Pasal 1 Perda Nomor 16 Tahun 2008 tentang Tanah Ulayat dan
Pemanfaatannya, hak ulayat adalah hak penguasaan dan hak milik atas bidang tanah beserta
kekayaan alam yang ada di atas dan di dalamnya, dikuasai secara kolektif oleh masyarakat
hukum adat di Sumbar. Tanah ulayat adalah bidang tanah pusaka beserta sumber daya alam yang
ada di atasnya dan di dalamnya diperoleh secara turun menurun, merupakan hak masyarakat
hukum adat di Sumatera Barat. Tanah ulayat dapat diklasifikasikan dalam: (a) tanah ulayat kaum,
di bawah pengawasan mamak kepala waris; (b) tanah ulayat suku, terpegang pada penghulu
suku; (c) tanah ulayat nagari, di bawah pengawasan penghulu-penghulu yang bernaung dalam
kerapatan nagari.

Sengketa tanah ulayat yang terjadi di Sumatera Barat umumnya berkenaan dengan
penguasaan dan pemanfaatan hak ulayat. Seharusnya upaya penyelesaian sengketa yang
ditempuh oleh para pihak adalah; melalui proses negosiasi dengan pihak terkait dengan
dilakukan melalui proses mediasi dengan bantuan pihak ketiga (mediator). Dalam hal ini, para
pihak berusaha menyelesaikan sengketa yang sedang mereka hadapi dengan meminta bantuan
pihak ketiga sebagai penengah, yaitu pemerintah daerah. Apabila proses penyelesaian sengketa
dengan bantuan pihak ketiga ini tetap tidak membuahkan hasil sesuai keinginan para pihak,
masyarakat sebagai salah satu pihak yang bersengketa menempuh jalan terakhir dengan
mengajukan kasus tersebut ke pengadilan. Pihak yang bersengketa juga bisa menyelesaikan
sengketa yang terjadi adalah melalui musyawarah langsung (negosiasi) dengan pihak yang
bersengketa. Dan, keputusan musyawarah yang dihasilkan harus punya kekuatan mengikat di
antara para pihak yang bersengketa dengan mendaftarkannya ke kantor notaris dan pengadilan
sehingga memiliki kekuatan eksekutorial.