Anda di halaman 1dari 82

Upaya Peningkatan Anak

dari Bahaya Kekerasan,


Pelecehan dan Eksploitasi

Erlinda, M.Pd
Komisioner KPAI
Erlinda, M.Pd

Sekretaris Komisioner
Komisi Perlindungan Anak Indonesia
(KPAI)
Pendidik & Aktivis Anak
Pendidikan:
Magister Pendidikan
Universitas Negeri Jakarta
Kontak
elinebhi@gmail.com
081318015631
081808194833

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 2


Anak Korban
Kekerasan
Anak dalam Anak
Lingkungan Berhadapan
Buruk dng Hukum
(ABH)
PERSOALAN
Anak
ANAK
Terlantar Anak
(ekonomi, Korban
pendidikan Perceraian
dll)
Anak Salah
Pola Asuh
Pelanggaran Hak Anak yang Meningkat
Berdasarkan Data KPAI dan Media
(2011 - 2013)

3000

2500

2000

1500 KPAI
Media
1000

500

0
2011 2012 2013
Pemberitaan Media
sangat intensif ttg Pelanggaran Hak Anak

350000 330000

300000

250000

200000
163000
150000

100000 86000
74000

50000 36200

0
2009 2010 2011 2012 2013
Pelanggaran Hak Anak
(Berdasarkan Pengaduan ke KPAI)
Januari 2011- September 2014

2011 2012 2013 Sep 2014


JUMLAH PENGADUAN
546 1.400 1.538 1.408

Klaster Pengaduan 2011 2012 2013 Sep 2014


ABH dan Kekerasan 261 487 508 456
Keluarga dan Pengasuhan Alternatif 146 517 497 455
Pendidikan 53 185 133 123
Kesehatan 13 39 120 65
Agama dan Budaya 16 75 78 49
Traficking dan Ekploitasi 26 22 73 95
Pornografi dan Napza 10 44 51 100
Sosial dan Bencana 13 14 48 24
Hak Sipil dan Kebebasan 8 17 30 41
Pengaduan ke KPAI

ABH dan Kekerasan

Keluarga dan Pengasuhan Alt

Pendidikan

Kesehatan

Agama dan Budaya

Traficking dan Ekploitasi

Pornografi dan Napza Sep 2014


Sosial dan Bencana Total = 1.439 Kasus

Hak Sipil dan Kebebasan

0 100 200 300 400 500 600


Sep 2014 2013 2012 2011
Kekerasan pada Anak dan ABH

Pengaduan Masyarakat
(Januari Sep 2014)

Anak sebagai Saksi Anak dlm Proses


2% Peradilan
2%

Anak
sebagai
Anak
Pelaku
Sebagai
43%
Korban
53%
Lokus Kekerasan terhadap Anak

Pengaduan 2013
Kekerasan Seksual
Eksploitasi
(Pemerkosaan, Asusila,
Pencabulan, Sodomi) Penelantaran
Kekerasan Fisik
Seksual
Kekerasan Psikis
Penculikan Emosional
Pembunuhan Fisik
Bunuh Diri
0 100 200

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 9


Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

Pengaduan Masyarakat (Januari Sep 2014)

Perebutan Hak Kuasa Asuh


Akses Bertemu Anak
Penelantaran Anak / Ekonomi (Hak Nafkah)
Pengasuhan Anak Bermasalah
Anak Kabur Dari Rumah / Melarikan Anak
Pengangkatan Anak (Adopsi) Domestik
Anak Hilang
Pengakuan Anak Temuan
Pengangkatan Anak (Adopsi) Mancanegara
Anak Nakal
0 20 40 60 80 100 120 140
Pendidikan

Pengaduan Masyarakat (Januari Sep 2014)


35
30
25
20
15
10
5
0
Pornografi

Pengaduan Masyarakat (Januari Sep 2014)

Korban dari Korban dari Sumber lain


Perilaku Orang
Lain
9%
Kepemilikan
Korban Video
Konten
Porno
Pornografi
12%
38%

Korban dari
Internet Korban Media
12% Cetak
23%
Pornografi dan Kekerasan Seksual
Data dari YKBH: pada tahun 2013, 95% siswa kelas 4-
6 SD di Jakarta pernah melihat konten pornografi.
Data dari ECPAT: terjadi peningkatan 450% tindak
kriminal seksual online dalam 4 tahun. Sampai 2012
tercatat ada 18.000 kasus.
Pada 2014 KPAI mencatat: 90% dari pelaku
kekerasan seksual thd anak di Flores didorong
akibat konten pornografi.

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 13


Traficking dan Eksploitasi Anak

Pengaduan Masyarakat (Januari Sep 2014)

Eksploitasi Seks
Komersil Anak
(ESKA)
15%

Eksplotasi
Prostitusi Anak
Ekonomi dan
Online
Pekerja Anak
40%
22%
Trafficking
23%
Kekerasan Seksual pada Anak

Kekerasan Seksual pada Anak (2011 - 2013)


1380
1500
Jumlah Kejahatan Seksual

1000 746
525
329
500

0
2011 2012 2013 Proyeksi
2014

DARURAT KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP ANAK!!

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 15


Lingkup Kekerasan Seksual pada Anak

Hubungan seksual, incest, perkosaan, sodomi


Eksploitasi seksual dalam prostitusi atau
pornografi
Stimulasi seksual, perabaan (molestation,
fondling)
Memperlihatkan kemaluan kepada anak untuk
tujuan kepuasan seksual
Memaksa anak untuk memegang kemaluan
orang lain
Memaksa anak untuk melihat kegiatan seksual

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 16


1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 17
TINJAUAN KASUS ...
Kekerasan di Sekolah, 2014

27 Maret 2014 Makasar: anak


kelas 1 SD (Ahmad Syukur)
meninggal karena dikeroyok
oleh 3 temannya
3 Mei 2014 Jakarta Timur:
Siswa SD (Renggo Khadapi)
meninggal akibat dianiaya
oleh siswa kelas 5 SD
5 Mei 2014 Muara Enim:
siswi kelas 4 SD meninggal
dengan luka lebam akibat
kekerasan oleh teman
sekelasnya

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 19


Oktober 2014
Siswi SD di Bukit
Tinggi Sumbar
dikeroyok oleh
teman-teman
sekelasnya
Kasus AAL, 2012
Januari 2012, kasus
kekerasan dan
perlindungan anak
yang dialami AAL
yang dituduh mencuri
sendal seorang polisi
di Sulawesi. Terjadi
pro-kontra.
Nabila disetrika oleh Neneknya, 2012

Oktober 2012 di
Jakarta Timur, muncul
kasus kekerasan
terhadap anak, N 9 thn
yang disetrika bagian
paha dan wajah oleh
ibu dan nenek tirinya.
Kekerasan Seksual
Kekerasan Seksual
Anak TK di JIS, 2014
2014 April: mencuat kasus
kekerasan seksual thd anak
TK oleh petugas cleaning
service di JIS
Dilakukan bersama,
termasuk Afrisca (prp) dan
Agun.
Korban: satu orang siswa
JIS, disusul korban lain yg
mengaku belakangan
Anwar bunuh diri dlm
proses pemeriksaan

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 24


William Vahey

Predator internasional
DPO FBI
Pernah bekerja 10 thn
di JIS Jakarta
Berpindah-pindah
negara
Korban: sekitar 70
Bunuh diri setelah
kasusnya terbongkar

25
Emon, Sukabumi (2014)
2014 Mei: di Sukabumi ada
120 anak menjadi korban
kekerasan seksual/ sodomi
oleh Emon

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 26


Siswanto (Robot Gedek): 1996

Gelandangan
Korban: 17 anak laki-laki
jalanan, Umur: 11-15 th,
semua dibunuh.
TKP: Jakarta, Kroya,
Pekalongan
Dihukum mati tetapi
meninggal di penjara
sebelum dieksekusi

5/29/14 27
Baekuni (Babe): 1993-2010

Penyayang anak
14 korban anak laki-laki,
4-14 th, semuanya dicekik
sblm penetrasi, dan
dimutilasi untuk hilangan
barang bukti.
TKP: Magelang, Indramayu,
Jakarta.
Terbongkar rahasianya
karena orangtua korban
mencari anaknya.
Hukuman mati

28
Marc Dutrox (Belgia, 1980-1990)

Punya isteri dan anak-anak


Bisnis jual beli mobil curian
dan rumah (utk
menyembunyikan korban)
dan perdagangan anak-
anak
Korban: anak Perempuan
Berkali-kali lolos karena
kelalaian polisi.

29
Faktor Penyebab
terjadinya
Kekerasan
Terhadap Anak

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 30


Faktor Penyebab terjadinya tindakan
kekerasan
Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap hak anak
Pola Asuh/ pendidikan karakter dirumah
Kemiskinan dan Lemahnya pengetahuan masyarakat
Belum mempunyai Sistem database tentang kekerasan
terhadap anak di tingkat provinsi/ kabupaten/kota untuk
menscreening potensi tindakan kekerasan di suatu wilayah
Penyebaran perilaku jahat antar generasi (efek dari duplikasi/
mencontoh/ meniru)
Ketegangan Sosial ( Pengangguran, sakit, ukuran keluarga
yang besar, kehadiran seorang yg cacat mental dalam
rumah, penggunaan alkohol dan obat-obatan.
Isolasi Sosial
Lemahnya Penegakan Hukum

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 31


Kekerasan di Sekolah
(mengatasnamakan pendidikan)
Tawuran pelajar
Kekerasan di Keluarga

AYO CEPAT,
pergi ke
sekolah..!!
Bunuh Diri
(Dampak thd Korban,
Upaya Menyelamatkan, dan
Melindungi Anak dari Kekerasan)
Dampak pada Korban Kekerasan

Gangguan
Gangguan Fisik
Psikologis
Dampak
Kekerasan pada
Anak

Masalah Sosial Masalah Perilaku


Faktor-faktor yang berpengaruh pada Dampak

Frekuensi dan
lamanya
Usia dan
Jenis
perkembangan
kekerasan
anak

Dampak Hubungan
Beratnya
kekerasan
Kekerasan pelaku dan
pada Anak korban

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 38


Dampak kekerasan tidak hanya dialami oleh
korban tetapi juga keluarganya
Dampak psikologis lebih besar dan membutuhkan
pemulihan yang lama dibandingkan dengan
pemulihan gangguan fisik
Bisa menimbulkan dampak jangka panjang

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 39


PENANGANAN dan
PENCEGAHAN

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 40


Bagaimana Penanganan Korban?
Bagaimana Upaya Pencegahannya?

Program Selamatkan dan Lindungi Anak dari


Kekerasan Seksual (SELARAS)
(Pendidikan Seksual berbasis Komunitas)
Mensosialisasikan bahaya kekerasan pada anak;
Membangun daya tangkal dan daya tanggap masyarakat thd
kekerasan seksual pada anak;
Menstimulasi kemitraan masyarakat dan lembaga penegakan
hukum dlm pemberantasan kekerasan seksual pada anak;
Membangun kapasitas guru dalam pendidikan seksual anak

Sistem Perlindungan Anak Terintegrasi


Membangun Kota Layak Anak (KLA)
Penanganan

Rehabilitasi
Medis

Rehabilitasi
Psikis

Rehabilitasi
Sosial

Rehabilitasi
Hukum
Alur Bantuan Hukum thd Korban Kekerasan

INSTANSI LAIN
Rumah
Sakit

Korban UPPA KEJAKSAAN PENGADILAN

LSM
Upaya Pencegahan

Rehabilitasi
Persiapan kembali ke
Tersier komunitasnya

Deteksi dini kasus


Sekunder Konseling keluarga
Penanganan korban

Edukasi dan

Primer layanan pro-


teksi sesuai
usia anak

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 44


Upaya Pencegahan

Membangun Defend Mechanism (mekanisme pertahanan)


dalam rangka penanaman pengetahuan dan penghargaan
bagian tubuh melalui pendidikan seksualitas sejak dini
Membangun Komunikasi Efektif dua arah
Menanamkan rasa percaya kepada orangtua
Membangun keberanian dan ketangguhan diri

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 45


Memberikan Pengetahuan tentang
Pendidikan Kesehatan dan
Reproduksi

Berikan pengetahuan yang dibutuhkan oleh


anak, termasuk tentang seks. Artinya, ketika
anak bertanya maka jawablah.
Bagaimana cara menjawabnya?
Karena di awal usia 3 tahun anak-anak
berada pada tahap pra-operasional
secara kognitif. Karena itu kurangi
banyak penjelasan. Tujukkan secara
langsung atau menggunakan peraga

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 46


Menanamkan budi pekerti dengan
memberi contoh keteladanan

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 47


Membangun
hubungan yang
berkualitas
antara orangtua
dan anak

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 48


Menanamkan Rasa Kasih

Membangun
kewaspadaan
dengan tidak
membiasakan
berbicara pada
orang asing

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 49


Memberi Rasa
Empati

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 50


Sistem Informasi
Perlindungan Anak

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 51


Sistem Informasi Perlindungan Anak
(SIPA)
Tujuan Pengembangan SIPA
1. Mendukung proses dan operasional kegiatan
2. Mendukung pengambilan keputusan (decision
making) berbasis data
3. Mendukung pengembangan strategi KPAI dalam
meningkatkan layanan

2014 Dr. B. Heru Iswanto - Universitas


1/17/2014 53
Negeri Jakarta
1. Mendukung Operasional dan Proses
Mendukung operasional di KPAI, misalnya
Untuk mendata kasus yang ditangani KPAI
Memperluas akses pengaduan masyarakat melalui
layanan online

Mendukung proses di KPAI, misalnya


SIPA bisa digunakan untuk memantau perkembangan
kasus.
KPAI bisa melacak pelaku apakah pernah melakukan
kejahatan sebelumnya, atau mereka juga korban
sebelumnya.

2014 Dr. B. Heru Iswanto - Universitas


1/17/2014 54
Negeri Jakarta
2. Mendukung Pengambilan Keputusan
Misalnya
KPAI bisa memberikan rekomendasi suatu tindakan
khusus atau hukuman yang lebih berat bagi pelaku
yang ternyata memiliki rekam jejak (track record)
kejahatan sebelumnya berdasarkan hasil pelacakan
SIPA.

2014 Dr. B. Heru Iswanto - Universitas


1/17/2014 55
Negeri Jakarta
3. Mendukung Pengembangan Strategi
Dengan SIPA kita bisa membuat pemetaan wilayah
berdasarkan eskalasi kasus, sehingga KPAI bisa
merekomendasikan wilayah mana saja yang
berstatus darurat dan strategi apa yang perlu
dikembangkan
Dengan SIPA kita bisa melacak mata rantai suatu
kasus sehingga KPAI memiliki data keterkaitan yang
memudahkan dalam menyusun strategi
penanganan.

2014 Dr. B. Heru Iswanto - Universitas


1/17/2014 56
Negeri Jakarta
Selamatkan dan
Lindungi Anak dari
Kekerasan
(SELARAS)

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 57


Tujuan Program

Program Selamatkan dan Lindungi Anak dari


Kekerasan Seksual (SELARAS)
(Pendidikan Seksual berbasis Komunitas)

Fokus Kegiatan:
Mensosialisasikan bahaya kekerasan pada anak;
Membangun daya tangkal dan daya tanggap
masyarakat thd kekerasan seksual pada anak;
Menstimulasi kemitraan masyarakat dan lembaga
penegakan hukum dlm pemberantasan kekerasan seksual
pada anak;
Membangun kapasitas guru dalam pendidikan seksual
anak
Keluaran Umum

1. Terbangunnya jejaring yang padu dengan individu dan


organisasi mitra yang potensial untuk kerjasama jangka
panjang di bidang pemberdayaan masyarakat
Diknas, Polri, lembaga kemanusiaan, aktivis

2. Terbangunnya penguasaan para guru akan teknik


penyusunan modul dan metode pengajaran

Modul pembelajaran dan keterampilan mengajar

3. Public exposure akan eksistensi organisasi


penyelenggara

Liputan media massa


Keluaran

2. Terbentuknya komunitas yang


dinamis dan mandiri serta
1. Terselenggaranya aktivitas edukasi
berkelanjutan yang menfokuskan
dan pencegahan kekerasan
diri pada aktivitas edukasi dan
seksual terhadap anak;
pencegahan kekerasan seksual
terhadap anak

1200 partisipan di 12 titik di Website, social media, SMS blast.


Indonesia Database peserta

3. Tersusunnya modul-modul
4. Tersusunnya instrumen kampanye
pendidikan seks yang dapat
pencegahan kekerasan seksual
diterapkan pada tingkat sekolah
terhadap anak
dasar dan menengah pertama
12 set modul yang sesuai dengan 3 buku, poster, std banner, brosur,
konteks sosial masing-masing wilayah Kaos, rompi, gelang tangan
Menjadi konten pend. seksual di sekolah

Pengalaman: Sebelumnya Program Selaras telah diadakan di beberapa


wilayah di Indonesia bersama lembaga-lembaga mitra dan sponsor di Parung,
Ciputat, Banjarmasin, Timika, Muna, dan Klaten.
Kelebihan
Kelebihan

Terbentuknya komunitas guru, masyarakat dan penegak hukum


yang memiliki pengetahuan pendidikan seksual dan pencegahan
kekerasan seksual terhadap anak di sekola/wilayah masing-masing
Terbentuknya jaringan komunitas Selaras dengan Artha Graha yang
bisa dikembangkan dalam bentuk kegiatan yang lain sebagai follow
up kegiatan;
Database peserta
Tersebarnya poster kampanye anti kekerasan terhadap anak di
setiap sekolah peserta (dengan logo Artha Graha Peduli)
Tersedianya referensi berupa modul dan buku-buku referensi bagi
para guru, pendidik, dan penegak hukum dalam upaya
pencegahan kekerasan seksual thd anak
Modul
Selamatkan dan Lindungi Anak dari
Training set

Kekerasan Seksual
Buku
"Mendidik Anak dengan Cinta" (Kak Seto &
B. Heru Iswanto)
"Anakku adalah Guru Terbaikku" (Reza
Indragiri Amriel)
Poster, CD anak-anak, dll

Menyelamatkan
Kami berarti
Menyelamatkan
Dunia
Workshop

Presentasi Materi (Parung)

Relawan dalam Diskusi (Muna)


Workshop

Role Play Session (Banjarbaru)

Pembicara Mitra (Ungaran)

Diskusi Kelompok (Timika)


Mitra Kerja

Individu mitra dan organisasi mitra adalah figur dan lembaga


kemanusiaan nirlaba yang berkhidmat pada penghimpunan potensi
dan partisipasi dari berbagai unsur masyarakat yang kemudian
diaktualisasikan melalui berbagai program pemberdayaan. Organisasi
dimaksud memiliki wilayah operasi di berbagai pelosok Nusantara
dengan konsentrasi pada seluruh maupun sebagian area di atas.
Sistem Perlindungan
Anak menuju
Kota Layak Anak
(KLA)

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 66


Perlindungan Terhadap Anak

adalah segala kegiatan untuk menjamin dan


melindungi anak dan hak-haknya agar dapat
hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi
secara optimal sesuai dengan harkat dan
martabat kemanusian serta mendapat
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Sistem Perlindungan Anak

Diperlukan pendekatan berbasis sistem dalam


upaya memberikan perlindungan terhadap anak
secara optimal dari segala bentuk kekerasan,
perlakuan salah, eksploitasi dan penelantaran.
(bukan berbasis isu yang sempit dan berfokus
hanya pada kelompok anak tertentu).
Untuk bisa mengetahui akar permasalahan secara
lebih baik.
Memberikan masukan dalam mengidentifikasi
berbagai tindakan yang diperlukan dalam aksi
perlindungan anak.
Perlindungan anak harus bergeser dari
pendekatan reaktif menjadi berbasis institusi.

Diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif


bagi pelayanan kesejahteraan anak dan
keluarga, yang menghubungkan pelayanan
tersier dengan pelayanan primer dan sekunder
dalam sebuah rangkaian kesatuan perlindungan
bagi anak-anak.
Pendekatan ini melibatkan aksi-aksi dalam
beberapa bidang:

Kerangka hukum dan peraturan perlu ditingkatkan

Penguatan dan pemberian pelayanan


kesejahteraan dan perlindungan anak memerlukan
gambaran yang jelas tentang tugas, tanggung
jawab dan proses kelembagaan di setiap tingkat.

Kapasitas pekerja sosial provinsi, kabupaten, dan


masyarakat perlu diperkuat
Membangun
Kota Layak Anak
(KLA)

1/17/2014 2014 Erlinda, M.Pd 71


KOTA LAYAK ANAK (KLA)

KLA adalah
sistem pembangunan kabupaten/kota yang
mengintegrasikan komitmen dan sumber daya pemerintah,
masyarakat dan dunia usaha yang terencana secara
menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program
dan kegiatan untuk pemenuhan hak-hak anak.

Tujuan
membangun inisiatif pemerintahan Kab/Kota yang
mengarah pada upaya transformasi Konvensi Hak-hak Anak
dari kerangka hukum ke dalam definisi, strategi, dan
intervensi pembangunan, dalam bentuk: kebijakan,
program dan kegiatan pembangunan, dalam upaya
pemenuhan hak-hak anak, pada suatu dimensi wilayah
Kab/kota.

72
Prinsip dalam KLA:
Non diskriminasi
Kepentingan yang terbaik untuk anak
Hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan
perkembangan anak
Penghargaan terhadap pendapat anak

Inti dari KLA


KABUPATEN/KOTA dimana anak dapat tumbuh dan
berkembang secara optimal serta terlindungi
dari kekerasan dan diskriminasi
Strategi

Pengarusutamaan Hak Anak (PUHA)

Mengintegrasikan hak-hak anak ke dalam:


Setiap proses penyusunan: kebijakan, program dan
kegiatan pembangunan
Setiap tahapan pembangunan di semua tingkatan
wilayah (nasional, provinsi, kabupaten/kota) dalam:
o Menyusun Perencanaan dan Penganggaran;
o Pelaksanaan Program;
o Pemantauan dan Evaluasi.
Langkah Pengembangan

Pemantauan &
Tahap 6
Evaluasi

Mobilisasi Sumber
Tahap 5
Daya

Tahap 4 Penyusunan Rencana


Aksi Daerah

Tahap 3 Pengumpulan
Basis Data

Tahap 2 Pembentukan Gugus


Tugas

Tahap 1
Komitmen
Pengembangan KLA
Dunia Layak Anak
(World Fit for Children)

Indonesia Layak Anak (IDOLA)

Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA)

2010: 2011: 2012: 2013: 2014:


10 Prov 15 Prov 20 Prov 33 Prov 33 Prov
20 Kab/Kota 35 Kab/Kota 60 Kab/Kota 90 Kab/Kota 100 Kab/Kota

Catatan:
Model KLA dimulai sejak tahun 2006 di 5 kabupaten/kota dan tahun 2007 di 10 kabupaten/kota

76
Stop Kekerasan Terhadap Anak!!

2014 Erlinda, M.Pd 1/17/2014


Kesehatan

Pengaduan Masyarakat (Januari Sep 2014)


Chart Title Anak
Kematian Anak Keracunan
Di RS 5%
8%

Gizi Buruk
Mal Praktek
10%
22%

Penahanan
Anak di RS
15% Anak
Fasilitas dan
Pelayanan Penyandang
Kesehatan yg Cacat/Kelainan
Buruk 22%
18%
Agama dan Budaya

Pengaduan Masyarakat (Januari Sep 2014)

Perkawinan Sirih / di Bawah Umur

Layanan Keagamaan Anak (Keluarga, Panti,

Konflik Antar Agama (Kawin Campur,

Ajaran Menyimpang

Seks Bebas

Sarana Rekreasi dan Budaya Bermasalah

Tayangan Tidak Layak Anak

0 2 4 6 8 10 12
Hak Sipil dan Kebebasan

Pengaduan Masyarakat (Januari Sep 2014)


Hak Akses
Hak Memperoleh
Informasi yang
Nama dan
Layak
Kewarganegaraan
4%
7%

Denda
Pembuatan
Akta Kelahiran
15%
Akta Kelahiran
59%

Hak Atas
Kebebasan /
Berpendapat
15%
NAPZA

Pengaduan Masyarakat (Januari Sep 2014)

10
16 9
14 8
12 7
10 6
8 5
6 4
3
4
2
2
1
0 0
Anak Pengguna Anak Pengedar Anak Korban Anak Korban Anak Jalanan /
NAPZA NAPZA Bencana Alam Kerusuhan Anak Terlantar