Anda di halaman 1dari 8

SULING (Super Limbah To Paving) Pemanfaatan Limbah Industri

Peleburan Logam Menjadi Paving Block Guna mengurangi


Pencemaran Limbah B3 di desa Pesarean Tegal

PENDAHULUAN

Lingkungan adalah keadaan sekitar yang mempengaruhi perkembangan dan


tingkah laku makhluk hidup [Kamus Besar Bahasa Indonesia]. Lingkungan hidup
merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk diperhatikan sebelum
suatu usaha itu dijalankan. Sudah tentu pemeriksaan yang dilakukan untuk
mengetahui dampak yang ditimbulkan jika suatu usaha itu dijalankan, baik
dampak negatif maupun dampak positif nya. Dampak yang timbulkan itu ada
yang langsung mempengaruhi pada saat kegiatan usaha itu dilakukan atau baru
terlihat beberapa waktu kemudian di masa yang akan datang. Dampak lingkungan
yang terjadi adalah berubahnya bentuk lingkungan dari bentuk aslinya seperti
perubahn fisik kimia, biologi atau sosial. Hal ini tentu menyebabkan penurunan
kualitas lingkungan hidup. Penurunan lingkungan ini jika tidak di antisipasi dari
awal akan merusak tatanan ekosistem yang sudah ada, baik terhadap flora, fauna
maupun manusia itu sendiri.

Pencemaran logam merupakan salah satu kasus pencemaran lingkungan


yang terjadi di Indonesia. Selain dari proses industri dan pertambangan, ternyata
pencemaran logam berat yang berasal dari alami pun bisa terjadi. Misalnya logam
yang dibebaskan dari proses kimiawi dan aktifitas gunung berapi, logam yang
ditransportasi oleh ikan dari atmosfer berupa partikel debu, serta dari abrasi
pantai.

Beberapa jenis logam berat antara lain sebagai berikut : Al (aluminium), Hg


(merkuri), Pb (plumbun), Zn (zinc), Cr. (chromium), Cu (cufrum), Cd (Cadmium),
Co (cobalt), dan lain sebagainya. Beberapa dari logam berat berdampak negatif
terhadap tubuh manusia misalnya timbulnya beberapa penyakit berbahaya.
Gambar 1. Pencemaran air dari limbah industri
[Sumber : Google, 2017]

Logam berat akan lebih berbahaya apabila telah tercemar kelingkungan,


misalnya pencemaran logam berat terhadap air. Jenis logam berat yang bisa
mencemari air itu salah satunya Cd (Cadnium), Cadnium tercemar dalam air
akibat dari proses pertambangan, buangan industri, dan pengelasan logam. Air
menjadi tidak layak dikonsumsi lagi karena sudah tercemar oleh logam berat,
apabila dikonsumsi akan berakibat fatal terhadap tubuh misalnya timbul tekanan
darah tinggi, kerusakan jaringan ginjal testibuler, dan kerusakan sel-sel darah
merah. Sedangkan untuk kerusakan lingkungan akan berdampak terhadap
kehidupan air.

Salah satu kasus pencemaran lingkungan yang terjadi adalah kasus


pencemaran limbah industri peleburan logam yang terjadi di Desa Pesarean,
Kecamatan Adiwerna-Kabupaten Tegal. Industri ini menghasilkan limbah padat
yang mencemari lingkungan bahkan berdampak buruk bagi kesehatan warga
sekitar. Selain berdampak pada manusia, makhluk hidup lain seperti halnya
tumbuhan juga terkena dampak tersebut, banyak tumbuhan yang mati akibat
terkena limbah logam.

Oleh sebab itu, penulis mencoba menggagas strategi untuk memberikan


kontribusi terhadap meminimalisir pencemaran lingkungan oleh limbah insutri
peleburan logam dengan memanfaatkan limbah tersebut menjadi paving block.

PEMBAHASAN

LIMBAH INDUSTRI PELEBURAN LOGAM DESA PESAREAN


Pesatnya aktivitas industri logam di Desa Pesarean, Kecamatan Adiwerna,
Kabupaten Tegal, tidak hanya menghasilkan dampak positif terhadap tingkat
kehidupan masyarakat desa tersebut, tetapi ternyata tidak luput dari dampak
negatif yang ditimbulkannya. Limbah industri logam yang berupa limbah gas dan
limbah padat yang mengandung unsur kimia Tembaga (Cu), Seng (Zn), dan Timah
hitam (Pb) dibuang pada tempat yang tidak semestinya seperti pada lahan, sawah
dan saluran air sekitar tempat kegiatan. Selama bertahun-tahun, unsur sisa
aktivitas industri tersebut terakumulasi dan terserap ke dalam tanah oleh air hujan.
Peresapan unsur- unsur yang berbahaya tersebut lalu tercampur dengan airtanah
dan mencemari airtanah yang mengalir di Desa Pesarean yang digunakan oleh
masyarakat untuk keperluan sehari-hari.

Hasil penelitian terhadap 11 sampel air sumur di Desa Pesarean


menunjukkan bahwa kandungan Cu, Zn dan tingkat pH, kesemuanya sudah
melewati ambang batas baku mutu air minum sesuai Peraturan Pemerintah Nomor
82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran
Air. Kandungan Cu dalam dalam tiap sampel air sumur sudah diatas 0,02
miligram per liter, kandungan Zn dalam tiap sampel air sumur sudah diatas 0,05
miligram per liter, sedangkan tingkat pH untuk tiap sampel kesemuanya di bawah
6 yang berarti bersifat asam. Adapun dari 11 sampel air sumur yang diambil,
kandungan Pb nya masih berada dibawah ambang batas baku mutu air minum
yaitu di bawah 0,03 miligram per liter.

Kegiatan peleburan dan pengecoran logam didesa Pesarean juga


menimbulkan pencemaran udara, beberapa parameter telah menunjukan kadar
udara tinggi yakni tingkat pencemaran debu di wilayah tersebut telah jauh
melebihi ambang batas yakni 5.429.969 ug per meter kubik sedangkan ambang
batas udara 230 ug per meter kubik. Selain itu, kadar timbal mencapai 128.672 ug
per meter kubik di lokasi peleburan, padahal ambang batasnya 12 ug per meter
kubik, dan 2.317 ug per meter kubik di lokasi yang tidak ada proses produksi.
Tingkat kebisingan pada lokasi 80,3 dBA sedangkan batas ambang 70 dBA,
sehingga masuk kategori dampak kebisingan dengan getaran adalah negatif
penting yang disebabkan oleh beradunya logam dengan logam, mesin generator
dengan mesin generator atau genset. Bahkan, limbah padat yang menumpuk di
sekitar permukiman antara lain berupa debu dan butiran logam saat ini telah
mencapai 10.000 ton dengan kandungan logam di bawah 17 persen tidak layak
diolah lagi. Sifat limbah padat tersebut masuk kategori sangat potensial
mencemari lingkungan, mencemari kandungan air, dan tanah di Desa Pesarean.

Udara yang telah tercemar tersebut juga berbahaya bagi kesehatan manusia.
Hasil penelitian Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan
Puskesmas, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), dan Medical Emergency
Rescue Committee (MER-C) Indonesia menunjukkan kandungan timbal (Pb)
melebihi ambang batas, sehingga membahayakan kesehatan. Penelitian ini
dilakukan dengan mengambil sampel darah warga sebanyak 50 orang yang
bermukim di wilayah tersebut. Hasilnya tercatat 46 orang tercemar timbal dan 12
orang di antaranya dalam kondisi bahaya.

Direktur Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Derry


Pantjadarma (Suara Pantura edisi 23 November 2011) mengungkapkan bahwa
saat ini sudah mulai terlihat adanya gejala-gejala yang ditimbulkan dari
pencemaran tersebut, seperti kulit gatal-gatal, kerusakan genetika, terjadinya
kelumpuhan dan adanya infeksi saluran pernapasan. Adapun untuk kerusakan
lingkungan sudah sangat terlihat dari tercemarnya air di sumur, sehingga sudah
tidak layak dikonsumsi, dan lahan pembuangan limbah sudah tidak bisa ditanami
tanaman. Bahkan tumbuhan juga sudah banyak yang mati.

SULING (Super Limbah To Paving)

Salah satu cara pengolahan lumpur limbah B-3 adalah pengolahan kimia
yaitu dengan proses solidifikasi / stabilisasi (SS) dengan sementasi yang
memanfaatkan lumpur limbah tersebut sebagai bahan baku tambahan pembuatan
bahan bangunan. Berbagai penelitian telah melakukan pemanfaatan berbagai jenis
lumpur sebagai bahan baku tambahan pembuatan bahan bangunan diantaranya S
Bambang dan Widarti, (2003) melakukan pemanfaatan lumpur sungai sebagai
bahan baku pembuatan paving block dengan hasil lumpur sungai tersebut dapat
dijadikan paving block dengan penambahan 20-30 % lumpur sungai dalam
agregat halus. Herlistiatuti,(2001) mel akukan pemanfaatan lumpur hasil
sedimentasi Instalasi Pengolahan Air Minum sebagai batu bata. Suparno, et al.
(2003) melakukan kajian terhadap lumpur bekas pemboran untuk bahan
pembuatan keramik dan Suwarno, et al (2003) melakukan pemanfaatan padatan
sludge minyak sebagai pencampur pembuatan bata merah.

SULING (Super Limbah To Paving) merupakan metode pengelolaan limbah


industri peleburan logam menjadi paving block. Dalam hal ini, limbah logam
beruba Pb dan Cr dijadikan sebagai bahan baku pembuatan paving Block,
sehingga mengurangi komposisi penggunaan semen dan pasir. variabel bebas
dalam pembuatan paving block terdiri dari persentase lumpur dalam agregat halus
(pasir) dan variabel tergantung berupa kuat tekan, daya serap air paving block,
konsentrasi logam berat Pb dan Cr dan laju perlindian logam berat Pb dan Cr pada
paving block.

Pembuatan SULING menggunakan metode solidifikasi/stabilisasi dengan


bahan pengikat semen untuk mengikat limbah B-3 yang terbagi menjadi 3 Tahap.
Tahap pertama adalah tahap persiapan yaitu melakukan analisis pendahuluan
terhadap lumpur limbah cair untuk mengetahui komposisi yang terkandung dalam
lumpur tersebut, dan melakukan pemeriksaan material bahan pembuat paving
block diantaranya pasir, semen dan lumpur. Tahap kedua adalah tahap
pelaksanaan penelitian dengan pembuatan paving block. Tahap ketiga adalah
tahap pengujian dengan melakukan uji kualitas paving block dan uji perlindian.

Adapun diagram alir tahapan pembuatan SULING adalah sebagai berikut :


Gambar. Diagram Alur Tahapan Pembuatan SULING
[Sumber : dokumen pribadi, 2017]

Tahapan pengujian dalam proses pembuatan SULING terbagi menjadi 4


yaitu: pemeriksaan limbah, pengujian kuat tekan, pengujian penyerapan air, dan
pengujian perlindian. Pemeriksaan limbah meliputi pemeriksaan kehalusan
limbah, tingkat kehalusan ditentukan dengan persamaan sebagai berikut :

Keterangan :
KT = Kuat Tekan (kg/cm2)
P = Besarnya beban tekan (kg)
A = Luas bidang tekan (cm2)
Pengujian yang kedua yaitu pengujian kuat tekan paving block. Kuat tekan pada
Paving block yang digunakan dalam proses pemanfaatan lumpur limbah cair
dirumuskan sebagai berikut : (SNI 03-0691-1996)

Pengujian berikutnya yaitu pengujian penyerapan air paving block. Uji


penyerapan air dilakukan dengan cara benda uji direndam dalam air hingga jenuh
(24 jam), ditimbang beratnya dalam keadaan basah. Kemudian kurang lebih 105
oC. Persamaan yang digunakan adalah: (SNI 03-0691-1996)

Keterangan :
A = Berat bata beton basah (gr)
B = Berat bata beton kering (gr)

Pengujian yang terakhir berupa pengujian perlindian dengan analisis AAS


(Atomic Adsorption Spectrofotometer) logam berat Pb dan Cr. Persamaan yang
digunakan dalam menentukan laju perlindian pada uji lindi adalah : (IAEA,1983)

Keterangan :
Xt = Konsentrasi setelah pengolahan (ppm)
Xo = Konsentrasi awal limbah (ppm)
W = Berat monolit limbah (gr)
S = Luas permukaan monolit yang terendam akuades (cm2)
T = Waktu pengambilan cuplikan lindi (hari)
R = Laju Perlindian (gr/cm2.hari)

GAMBAR SULING

Gambar. SULING (Super Limbah To Paving)


[Sumber : dokumen pribadi, 2017]
Berdasarkan standar baku mutu yang diizinkan (Keputusan Kepala Badan
Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor: KEP-04/BAPEDAL/09/1995 tentang
Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun kadar
maksimum Cr total dan Pb yang diperbolehkan terhadap lingkungan (air tanah
dan air permukaan) masing-masing sebesar 0,5 ppm dan 0,1 ppm. Oleh karena itu
limbah dari peleburan logam harus di kelola dengan bijak supaya tidak
menyebabkan pencemaran lingkungan.

PENUTUP

Kepadatan penduduk yang terus meningkat utamanya di wilayah


perkotaan akan mempengaruhi kualitas kota yaitu pada penghasil limbah serta
pencemaran lingkungan akibat ulah mereka sendiri. Hal ini karena pola hidup
masyararakat yang cenderung tidak memperhatikan dampak terhadap lingkungan
yang kemudian akan mengancam kesehatan serta keberlanjutan lingkungan itu
sendiri. SULING (Super Limbah To Paving) merupakan strategi mengurangi
dampak pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh industri peleburan logam,
khususnya di desa Pesarean Tegal. Untuk memenuhi kualitas paving block seperti
yang disyaratkan SNI 03-0691-1996., pembuatan paving block dalam SULING
melalui 4 tahap pengujian yaitu pemeriksaan limbah, pengujian kuat tekan,
pengujian penyerapan air, dan pengujian perlindian. Sehingga dihasilkan Paving
Block yang mempunyai kuat tekan tinggi dan daya serap air yang rendah