Anda di halaman 1dari 19

III.

PROSES PRODUKSI EKSTRAK JAHE

3.1 Bahan

Bahan yang diperlukan dalam proses produksi ekstrak jahe di PT Tripper

Nature Bali yaitu jahe dan alkohol.

3.1.1 Jahe

Tanaman jahe termasuk keluarga Zingiberaceae yaitu suatu tanaman

rumput- rumputan tegak dengan ketinggian 30-75 cm, berdaun sempit memanjang

menyerupai pita, dengan panjang 15 23 cm, lebar lebih kurang 2,5 cm, tersusun

teratur dua baris berseling, berwarna hijau, bunganya kuning kehijauan dengan

bibir bunga ungu gelap berbintik-bintik putih kekuningan dan kepala sarinya

berwarna ungu. Akar tanaman jahe bercabang-cabang dan berbau harum, berwarna

kuning atau jingga dan berserat (Paimin, 2008). Tanaman jahe membentuk rimpang

yang ukurannya tergantung pada jenisnya. Bentuk rimpang pada umumnya gemuk

agak pipih dan tampak berbuku-buku. Rimpang jahe berkulit agak tebal yang

membungkus daging rimpang, yang kulitnya mudah dikelupas (Rismunandar,

1988).

Berdasarkan taksonomi tanaman, jahe (Zingiber officinale) termasuk dalam

divisi Spermatophyta, subdivisi Angiospermae, kelas Monocotyledonae, ordo

Zingiberales, famili Zingiberaceae, subfamili Zingiberoidae, genus Zingiber,

spesies Zingiber officinale Roxb (Rukmana, 2004).

Berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpang, jahe dibedakan menjadi

tiga jenis yaitu jahe gajah atau jahe badak, jahe emprit dan jahe merah.

18
1. Jahe gajah atau jahe badak

Jahe ini ditandai dengan ukuran rimpang yang besar dan gemuk, warna kuning

muda atau kuning, berserat halus dan sedikit. Pada umumnya dimanfaatkan

sebagai bahan baku makanan dan minuman.

2. Jahe emprit

Jahe ini ditandai dengan ukuran rimpang sedang, dengan bentuk agak pipih,

berwarna putih, berserat lembut, dan beraroma serta berasa tajam. Kandungan

minyak atsirinya lebih besar dari jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas. Jahe

ini cocok untuk ramuan obat- obatan, atau diekstrak oleoresin dan minyak

atsirinya.

3. Jahe merah

Jahe ini ditandai dengan ukuran rimpang yang kecil, berwarna merah jingga,

berserat kasar, beraroma serta berasa tajam (pedas). Dipanen setelah tua dan

memiliki minyak atsiri yang sama dengan jahe kecil sehingga jahe merah pada

umumnya dimanfaatkan sebagai bahan baku obat-obatan.

Jenis-jenis jahe ditunjukkan pada Gambar 6.

Gambar 6. Jenis Jahe Berdasarkan Ukuran, Bentuk dan Warna Rimpang


(Anonim, 2015)

19
PT Tripper Nature Bali menggunakan jahe gajah yang didapatkan dari petani

jahe yang dibina oleh perusahaan di daerah Kediri, Jawa Timur. PT Tripper Nature

Bali memilih jahe gajah sebagai bahan ekstraksi karena harganya lebih murah dan

ketersediaan bahan baku juga mudah didapatkan. Standar mutu jahe kering yang

digunakan perusahaan dalam proses produksi ekstrak jahe merupakan rahasia

perusahaan.

3.1.2 Alkohol

Dalam proses ekstraksi, PT Tripper Nature Bali menggunakan alkohol dan

alkohol recycle. Alkohol recycle adalah alkohol yang sudah terpakai yang

dihasilkan dari proses evaporasi sebelumnya. PT Tripper Nature Bali menggunakan

pelarut alkohol (etanol) dengan konsentrasi 96%. Etanol disebut juga etil alkohol

dengan rumus kimia C2H5OH atau CH3CH2OH dengan titik didihnya 78,4C.

Etanol memiliki sifat tidak berwarna, volatil dan dapat bercampur dengan air

(Kartika dkk., 1997). Terdapat 2 supplier etanol yang bekerja sama dengan PT

Tripper Nature Bali yaitu PT Karsavicta Satya dan PT Molindo Raya Industrial.

3.2 Peralatan Produksi

Dalam proses produksi ekstrak jahe, PT Tripper Nature Bali menggunakan

media untuk mengolah bahan menjadi produk dengan bantuan pekerja. Media

tersebut berupa alat produksi langsung seperti mesin, perkakas, peralatan, perkakas

bantu dan sebagainya. (Chan, 2011). Adapun alat-alat produksi yang digunakan PT

Tripper Nature Bali dalam proses produksi ekstrak jahe sebagai berikut:

20
3.2.1 Separator

PT Tripper Nature Bali menggunakan separator untuk memisahkan material

asing seperti paku dan pasir yang terdapat pada bahan baku. Di bagian output

terdapat magnet yang dipasang untuk menarik material asing tersebut. Separator

disajikan pada Gambar 7 dan magnet disajikan pada Gambar 8.

Gambar 7. Separator

Gambar 8. Magnet yang terdapat di separator


MagnetyMa

21
3.2.2 Belt Conveyor

PT Tripper Nature Bali menggunakan belt conveyor sebagai alat untuk

memindahkan bahan baku yang akan melalui proses sortasi. Belt conveyor disajikan

pada Gambar 9.

Gambar 9. Belt Conveyor

3.2.3 Grinder (mesin penggiling)

Grinder merupakan alat yang digunakan untuk menggiling bahan baku

menjadi ukuran yang lebih kecil. Grinder ditunjukkan pada Gambar 10.

Gambar 10. Proses Grinding Menggunakan Grinder

22
3.2.4 Mesin pengayak

Mesin pengayak digunakan untuk menyeragamkan ukuran bahan baku yang

akan diproses selanjutnya. Untuk jahe, terdapat ukuran 06 mesh, 18 mesh dan 30

mesh. Ayakan yang terdapat di dalam mesin dapat diganti menyesuaikan dengan

proses selanjutnya atau menyesuaikan dengan pesanan konsumen. Mesin pengayak

disajikan pada Gambar 11.

Gambar 11. Mesin Pengayak

3.2.5 Derek kait

PT Tripper Nature Bali menggunakan derek kait sebagai alat pembantu untuk

menaikkan bahan baku ke platform tanki ekstraksi. Kapasitas pengangkutan dengan

berat maksimal 1 Ton. Derek kait ditunjukkan pada Gambar 12.

23
Gambar 12. Derek Kait
3.2.6 Ekstraktor

Ekstraksi merupakan proses pemisahan satu atau lebih komponen dari suatu

campuran homogen menggunakan pelarut cair (solven) sebagai separating agen.

PT Tripper Nature Bali menggunakan tanki ekstraktor dengan kapasitas 1300 liter.

Ekstraktor yang digunakan PT Tripper Nature Bali disajikan pada Gambar 13.

Gambar 13. Ekstraktor

24
3.2.7 Evaporator

Evaporator digunakan untuk melakukan proses evaporasi yaitu proses

penguapan dari bentuk cair menjadi gas. PT Tripper Nature Bali menggunakan

tanki evaporator dengan kapasitas 1300 liter. Evaporator yang digunakan PT

Tripper Nature Bali ditunjukkan pada Gambar 14.

Gambar 14. Evaporator

3.3 Proses Produksi

Proses produksi ekstrak jahe di PT Tripper Nature Bali terdiri dari beberapa

tahapan yang berawal dari penerimaan bahan baku sampai proses pengemasan dan

penyimpanan produk. PT Tripper Nature Bali menggunakan konsep First In First

Out (FIFO) yaitu barang-barang yang pertama kali masuk akan dikeluarkan terlebih

dahulu sehingga dapat mempertahankan mutu barang yang disimpan serta terhindar

dari kerusakan akibat lamanya penyimpanan maupun masa kadaluarsanya.

25
3.3.1 Penanganan bahan baku

a. Fumigasi

Bahan baku yang diterima di PT Tripper Nature Bali harus melalui tahap

fumigasi. Fumigasi merupakan metode pengendalian hama dengan cara

memasukkan atau melepaskan fumigan ke dalam ruangan tertutup atau kedap

udara selama beberapa waktu yang diperlukan dengan dosis dan konsentrasi

tertentu, dapat mematikan hama di gudang, bangunan, pesawat udara dan kapal

laut (Siswanto, 2003).

Fumigasi di PT Tripper Nature Bali dilakukan di gudang selatan dengan

menggunakan fumigan khusus untuk pangan yaitu Hydrogen Phosfin (PH3).

Sebelum fumigasi dilakukan, bagian Quality Control akan mengambil sampel

bahan baku terlebih dahulu untuk dilakukan pengecekan di laboratorium terhadap

kadar minyak atsiri, kadar air dan material asing yang akan dibandingkan dengan

standar yang telah ditetapkan perusahaan.

Setelah fumigasi dan analisis laboratorium selesai dilakukan, bagian

Quality Control akan mengambil keputusan untuk menerima atau menolak bahan

baku. Jika bahan baku telah memenuhi standar, maka bagian Quality Control akan

merelease bahan baku sehingga dapat diproses lebih lanjut.

Bahan baku yang telah dirilis oleh Quality Control diletakkan di rak.

Sebelum diletakkan di rak, bahan baku terlebih dahulu dialasi pallet yang

bertujuan untuk mencegah kontaminasi yang terdapat pada lantai gudang dan

mempermudah pengangkutan barang menggunakan forklift. Pallet yang

digunakan PT Tripper Nature Bali ada 2 jenis, yaitu pallet plastik dan pallet kayu.

Rak penyimpanan bahan baku dan produk disajikan pada Gambar 15.

26
Gambar 15. Rak Penyimpanan Bahan Baku dan Produk yang Siap Diekspor

b. Magneting

Proses magneting ini bertujuan untuk mengetahui material-material asing

berbahan logam yang terdapat didalam bahan baku seperti paku. Jahe yang telah

lolos dari proses magneting akan jatuh diatas belt conveyor dan kemudian di

sortasi secara manual. Proses magneting ditunjukkan pada Gambar 16.

Gambar 16. Proses Magneting Bahan Baku


c. Sortasi

Sortasi dilakukan secara manual dengan memisahkan antara jahe kering,

jahe kering yang berjamur dan sampah yang berupa kulit jahe, ranting pohon, dan

27
rambut. Jahe kering yang berjamur harus dipisahkan dari jahe kering yang bagus

karena jamur tersebut dapat mengeluarkan racun. Jahe yang berjamur (Gambar

18) akan dicuci dan dijemur kembali sehingga jahe berjamur tersebut dapat

digunakan ke dalam proses ekstraksi. Proses sortasi ditunjukkan pada Gambar 17.

Gambar 17. Proses Sortasi Jahe

Gambar 18. Jahe Berjamur

28
d. Penggilingan (Grinding)

Grinding merupakan proses penggilingan yang bertujuan untuk

menggiling simplisia jahe menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Jahe yang akan

diekstrak harus digiling selanjutnya diayak.

e. Pengayakan

Pengayakan dilakukan untuk menyeragamkan ukuran bahan baku yang akan

diekstraksi. PT Tripper Nature Bali menggunakan ukuran 30 mesh untuk mengayak

jahe yang akan diekstrak.

3.3.2 Ekstraksi

Perusahaan PT Tripper Nature Bali melakukan ekstraksi jahe sebanyak 2

kali yaitu ekstraksi I dan ekstraksi II. Ekstraksi I yaitu dengan cara memasukkan

jahe kering dan etanol 96% dengan perbandingan 1:2 ke dalam ekstraktor. Untuk

proses ekstraksi I dilakukan selama 8 jam pada suhu 48-50C. Setelah proses

ekstraksi I selesai dilakukan proses filtrasi dengan memasang kain saring pada

output drain extractor untuk mendapatkan filtrat I. Proses selanjutnya adalah proses

ekstraksi II. Proses ekstraksi II dilakukan dengan cara menambahkan etanol 96%

dan alkohol recycle dengan perbandingan 1:1 ke dalam tanki ekstraktor yang berisi

residu jahe hasil proses ekstraksi I sebelumnya. Ekstraksi II dilakukan selama 7

jam. Ketika proses ekstraksi II telah berjalan 5 jam, maka dilakukan proses

selanjutnya yaitu evaporasi.

3.3.3 Evaporasi

Proses evaporasi adalah proses penguapan alkohol yang terdapat pada filtrat

jahe. Proses evaporasi dilakukan dengan memasukkan filtrat jahe I dari drum ke

29
dalam evaporator menggunakan mesin vakum. Tanki evaporator maksimal berisi

1 bagian. Evaporasi dilakukan pada suhu 50C dan cooling tower pada suhu 30C.
2

Setiap 2 jam sekali dilakukan pengambilan sampel produk untuk di analisis berat

jenis (SG), indeks bias (RI) dan total padatan terlarut (Brix) kemudian

dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan oleh perusahaam. Jika sudah

sesuai standar perusahaan, maka evaporasi dapat dihentikan tetapi jika belum

mencapai standar perusahaan maka evaporasi akan tetap berjalan. Dalam proses

evaporasi ini dihasilkan ekstrak jahe dan alkohol recycle. Ekstrak jahe yang

dihasilkan dikeluarkan melalui pipa ouput yang telah dilapisi kain saring dan

dimasukkan kedalam drum untuk menunggu proses filling.

Dari 400 kg jahe kering dapat dihasilkan produk akhir sebanyak 60 kg.

Sehingga rendemen yang dihasilkan yaitu:

Berat produk akhir


Rendemen= x 100%
Berat bahan baku

60 kg
= x 100%
400 kg

= 15%

Ekstrak jahe yang dihasilkan dianalisis SG, RI dan Brix yang nilainya

merupakan rahasia perusahaan.

3.3.4 Pengemasan

Untuk ekstrak jahe, filling dilakukan pada kemasan jerigen 5 kg. Ekstrak

jahe yang berada di dalam drum dialirkan masuk ke dalam jerigen menggunakan

mesin vakum. Setelah dilakukan proses filling maka akan dilakukan proses sealing

yang bertujuan untuk menyegel barang. Ditahap sealing ini juga dilakukan

30
pengecekan oleh QC yang berupa tes kebocoran produk, Apabila QC menyatakan

lolos, maka proses selanjutnya yaitu packaging menggunakan kardus dan labelling.

Labelling menggunakan kertas sticker yang berisi barcode, kode produk, tanggal

expired, sertifikasi produk, dan nomor LOT barang.

Setelah proses labeling, proses selanjutnya yaitu meletakkan kardus-kardus

tersebut diatas pallet dan dibungkus dengan wrap plastic. Kemudian barang

diletakkan di gudang untuk menunggu proses ekspor. Diagram alir proses produksi

ekstrak jahe disajikan pada Gambar 19.

31
Jahe Kering

Magneting

Sortasi

Grinding

Etanol 96% Ekstraksi I

Filtrasi I Filtrat I

Residu

Etanol 96% Ekstraksi II

Filtrasi II Residu

Filtrat II

Evaporasi

Etanol
Ekstrak Jahe
96%

Jerigen 5 kg Filling

Tutup Jerigen Sealing

Kardus Packaging

32
A

Label Labeling

Wrap Plastic Wrapping

Penyimpanan

Gambar 19. Diagram Alir Proses Ekstraksi Jahe

3.4 Sanitasi

Sanitasi adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi

kebersihan lingkungan dari subjeknya, misalnya menyediakan air bersih untuk

keperluan mencuci tangan, menyediakan tempat sampah agar tidak dibuang

sembarangan (Depkes RI, 2004). Lingkungan kerja yang sehat sangat menentukan

kenyamanan, produktivitas dan prestasi kerja. Selain itu, pada kegiatan industri

yang memproduksi produk tertentu seperti makanan, minuman, dan bahan

tambahan pangan menuntut kualitas sanitasi yang baik pada lingkungan kerja, area

produksi dan proses produksi. Dalam praktek di industri pangan tindakan sanitasi

pangan meliputi pengendalian pencemaran, pembersihan dan tindakan aseptik. PT

Tripper Nature Bali melakukan beberapa jenis sanitasi yaitu sanitasi bahan baku,

sanitasi proses produksi, sanitasi lingkungan produksi, sanitasi peralatan produksi,

dan sanitasi karyawan.

Perusahaan PT Tripper Nature Bali memperoleh sebagian besar bahan baku

dari supplier. Akan tetapi bahan baku yang berasal dari supplier masih perlu

dilakukan proses pasca panen seperti sortasi dan grinding. Untuk menjamin kualitas

produk, selain menerima bahan baku dari petani binaan, PT Tripper Nature Bali

33
hanya menerima pasokan bahan baku yang mempunyai kualitas tinggi diantaranya

bahan baku harus bebas dari cemaran mikroorganisme seperti jamur.

Sanitasi proses produksi juga sangat diperlukan dalam setiap proses

pengolahan pangan. Apabila sanitasi dalam pengolahan tidak terjaga, maka akan

berdampak pada kualitas produk yang dihasilkan. Karyawan PT Tripper Nature

Bali selalu memperhatikan aspek sanitasi dalam proses produksi seperti

menggunakan sanitizer setiap 1 jam sekali selama proses produksi.

Kebersihan lingkungan produksi selalu diperhatikan setiap harinya.

Pembersihan lingkungan produksi terdiri dari dua sistem yaitu daily cleaning dan

general cleaning. Daily cleaning adalah pembersihan lingkungan produksi serta

peralatan produksi secara manual. Pembersihan lingkungan produksi dilakukan

dengan menggunakan sapu dan juga dilakukan pengepelan dengan menggunakan

karbol. Pembersihan lingkungan produksi dilakukan sebelum, selama dan setelah

jam kerja selesai. Hal ini dilakukan agar ruangan produksi tetap terjaga

kebersihannya. Sedangkan untuk general cleaning yaitu pembersihan secara

menyeluruh yang dilakukan seminggu sekali.

Semua peralatan produksi yang digunakan di PT Tripper Nature Bali harus

dirawat dan diijaga kebersihannya. Setelah selesai digunakan, mesin harus

dibersihkan menggunakan vakum karena alat produksi juga merupakan salah satu

sumber kontaminasi apabila masih terdapat kotoran yang menempel. Pencucian alat

produksi dilakukan oleh bagian maintenance dengan menggunakan metode CIP

(Cleaned in Place) yaitu pencucian yang dilakukan ditempat alat tersebut berada.

Setelah dicuci peralatan segera dikeringkan dengan cara dijemur atau dilap dengan

34
kain kering. Salah satu contoh sanitasi peralatan produksi adalah proses

pembersihan belt conveyor yang disajikan pada Gambar 20.

Gambar 20. Proses Pembersihan Belt Conveyor Setelah Proses Ekstraksi

Sanitasi karyawan sangat diperlukan dalam suatu proses produksi. Sanitasi

karyawan meliputi kebersihan tubuh pekerja yang dapat mempengaruhi kualitas

produk yang dihasilkan. Sumber kontaminan tersebut misalkan rambut pekerja

yang rontok. Untuk menanggulangi kejadian tersebut, maka PT Tripper Nature Bali

mewajibkan para karyawan untuk menggunakan hairnet apabila ingin masuk ke

dalam pabrik. Selain itu, masing-masing karyawan juga diwajibkan untuk

mengenakan masker, seragam perusahaan dan sepatu khusus yang sudah diberikan

oleh perusahaan. Sebelum karyawan memulai aktivitas, pekerja harus

membiasakan mencuci tangan dan menyemprotkan sanitizer sebelum dan setelah

bekerja, setelah dari toilet atau kapanpun diperlukan. Karyawan dilarang

menggunakan anting, cincin, dan jam tangan ketika bekerja karena barang tersebut

biasanya mengandung banyak mikroba.

35
3.5 Penanganan Limbah

Limbah dari proses produksi yang dihasilkan PT Tripper Nature Bali

berupa limbah padat dan limbah cair.

a. Limbah Padat

Limbah padat yang terdapat di PT Tripper Nature Bali berupa ampas sisa

ekstraksi dan sampah kemasan. Biasanya limbah padat tersebut langsung

dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) yang terdapat di kabupaten

Gianyar.

b. Limbah Cair

Limbah cair seperti air buangan sisa pencucian alat dan sebagainya

langsung dibuang ke selokan karena kandungannya tidak membahayakan

lingkungan sekitar pabrik.

36