Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Y.M.E. Atas berkat dan rahmatnya
makalah tentang gagal nafas ini dapat terselesaikan dengan baik dan lancar.Tak lupa kami
ucapkan terima kasih kepada pembaca yang budiman dan harapan kami atas selesainya
makalah ini tak lain adalah agar para pembaca mendapatkan pengetahuan yang baru dan
informasi yang lebih luas khususnya tentang gagal nafas.
kami menyadari walaupun sudah berusaha sekuat kemampuan yang kami miliki
dalam menyusun makalah ini, masih banyak kekurangan, kelemahan, dan ketidak
sempurnaannya, baik dari segi bahasa, pengolahan, maupun dalam penyusunan. Untuk itu
kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca demi
tercapainya kesempurnaan dalam makalah ini.

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ..
Daftar Isi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..
B. Tujuan Penulisan ..
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Gagal Nafas.....
B. Etiologi Gagal Nafas.
C. Tanda dan Gejala Gagal Nafas .....
D. Fatofisiologi Gagal Nafas .
E. Pemeriksaan Penunjang Gagal Nafas ..
F. Penatalaksanaan Gagal Nafas ...
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIE GAGAL NAFAS
A. Pengkajian.
B. Diagnosa Keperawatan.
C. Intervensi Keperawatan
D. Implementasi Keperawatan..
E. Evaluasi.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan ..
B. Saran
Daftar pustaka ...

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Oksigen merupakan kebutuhan dasar manusia menurut Hierarki Maslow. Kekurangan
oksigen dalam hitungan menit saja dapat mengancam jiwa seseorang, oleh karena itu masalah
kesehatan yang berpengaruh terhadap system pernapasan (respiratori) menuntut asuhan
keperawatan yang serius.
Gagal nafas adalah kegagalan sistem pernafasan untuk mempertahankan pertukaran oksigen
dan karbondioksida dalam jumlah yang dapat mengakibatkan gangguan pada kehidupan (RS
Jantung Harapan Kita, 2001). Indikator gagal nafas adalah frekuensi pernafasan dan
kapasitas vital, frekuensi penapasan normal ialah 16-20 x/mnt. Bila lebih dari 20x/mnt
tindakan yang dilakukan memberi bantuan ventilator karena kerja pernafasan menjadi
tinggi sehingga timbul kelelahan. Kapasitasvital adalah ukuran ventilasi (normal 10-20
ml/kg). Gagal nafas penyebab terpenting adalah ventilasi yang tidak adekuat dimana terjadi
obstruksi jalan nafas atas.
Agar dapat memberikan asuhan keperawatan sebaik-baiknya, perlu mengetahui gejala-gejala
dini penyebab serta permasalahannya. Kita ketahui bahwa peran perawat yang paling utama
adalah melakukan promosi dan pencegahan terjadinya gangguan pada system pernapasan,
sehingga dalam hal ini masyarakat perlu diberikan pendidikan kesehatan yang efektif guna
meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
B. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui lebih jelas penyebab, gejala, dan asuhan keperawatan pada pasien gagal
nafas.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Gagal nafas adalah pertukaran gas yang tidak adekuat sehingga terjadi hipoksemia,
hiperkapnea (peningkatan konsentrasi karbondioksida arteri), dan asidosis. (Arif Muttaqin,
2008)
Gagal nafas adalah kegagalan sistem pernafasan untuk mempertahankan pertukaran oksigen
dan karbondioksida dalam jumlah yang dapat mengakibatkan gangguan pada kehidupan (RS
Jantung Harapan Kita, 2001)
Gagal nafas terjadi bilamana pertukaran oksigen terhadap karbondioksida dalam paru-paru
tidak dapat memelihara laju komsumsi oksigen dan pembentukan karbon dioksida dalam sel-
sel tubuh. Sehingga menyebabkan tegangan oksigen kurang dari 50 mmHg (Hipoksemia) dan
peningkatan tekanan karbondioksida lebih besar dari 45 mmHg (hiperkapnia). (Brunner &
Sudarth, 2001).
Sedangkan menurut Susan Martin (1997), gagal napas adalah ketidakmampuan sistem
pernafasan untuk mempertahankan oksigenasi darah normal, eliminasi karbondioksida, dan
pH yang adekuat disebabkan oleh masalah ventilasi, difusi, atau perfusi.
B. Etiologi
a. Depresi Sistem saraf pusat
Takar lajak obat, anastesi, opioid, cedera kepala, stroke, tumor otak, ensefalitis, meningitis,
hipoksia, dan hiperkapnia mempunyai kemampuaan dalam menekan pusat pernafasan. Pada
pasien ini pernafasan, pernafasan menjadi lambat dan dangkal. Henti nafas dapat terjadi pada
kasus-kasus berat.

b. Kelainan neurologis primer


Akan memperngaruhi fungsi pernapasan. Impuls yang timbul dalam pusat pernafasan
menjalar melalui saraf yang membentang dari batang otak terus ke saraf spinal ke reseptor
pada otot-otot pernafasan. Penyakit pada saraf seperti gangguan medulla spinalis, otot-otot
pernapasan atau pertemuan neuromuslular yang terjadi pada pernapasan akan sangat
mempengaruhi ventilasi. Sindrom Guillanial-Barre, miastenia gravis, kerusakan pada segmen
servikal medulla spinalis, lesi yang akut pada batang otak dalam multiple sklerosis dan
poliomyelitis adalah contoh-contoh penyakit seperti ini.

c. Efusi pleura, hemotoraks dan pneumothoraks


Merupakan kondisi yang mengganggu ventilasi melalui penghambatan ekspansi paru.
Kondisi ini biasanya diakibatkan penyakti paru yang mendasari, penyakit pleura atau trauma
dan cedera dan dapat menyebabkan gagal nafas.

d. Trauma
Kecelakaan yang mengakibatkan cidera kepala, ketidaksadaran dan perdarahan dari hidung
dan mulut dapat mnegarah pada obstruksi jalan nafas atas dan depresi pernapasan.
Hemothoraks, pnemothoraks dan fraktur tulang iga dapat terjadi dan mungkin meyebabkan
gagal nafas. Flail chest dapat terjadi dan dapat mengarah pada gagal nafas. Pengobatannya
adalah untuk memperbaiki patologi yang mendasar.

e. Penyakit akut paru


Pnemonia disebabkan oleh bakteri dan virus. Pnemonia kimiawi atau pnemonia diakibatkan
oleh mengaspirasi uap yang mengritasi dan materi lambung yang bersifat asam. Asma
bronkial, atelektasis, embolisme paru dan edema paru adalah beberapa kondisi lain yang
menyababkan gagal nafas.
C. Tanda dan gejala
Tanda :
Gagal nafas total
Aliran udara di mulut, hidung tidak dapat didengar/dirasakan.
Pada gerakan nafas spontan terlihat retraksi supra klavikula dan sela iga serta tidak ada
pengembangan dada pada inspirasi
Adanya kesulitasn inflasi parudalam usaha memberikan ventilasi buatan
Gagal nafas parsial
Terdenganr suara nafas tambahan gargling, snoring, Growing dan whizing.
Ada retraksi dada.
Gejala :
Hiperkapnia yaitu penurunan kesadaran (PCO2)
Hipoksemia yaitu t./,akikardia, gelisah, berkeringat atau sianosis (PO2 menurun).
Klasifikasi
1) Klasifikasi gagal napas berdasarkan hasil analisa gas darah :
a. Gagal napas hiperkapneu
Hasil analisa gas darah pada gagal napas hiperkapneu menunjukkkan kadar PCO2 arteri
(PaCO2) yang tinggi, yaitu PaCO2>50mmHg. Hal ini disebabkan karena kadar CO2
meningkat dalam ruang alveolus, O2 yang tersisih di alveolar dan PaO2 arterial menurun.
Oleh karena itu biasanya diperoleh hiperkapneu dan hipoksemia secara bersama-sama,
kecuali udara inspirasi diberi tambahan oksigen. Sedangkan nilai pH tergantung pada level
dari bikarbonat dan juga lamanya kondisi hiperkapneu.
b. Gagal napas hipoksemia
Pada gagal napas hipoksemia, nilai PO2 arterial yang rendah tetapi nilai PaCO2 normal atau
rendah. Kadar PaCO2 tersebut yang membedakannya dengan gagal napas hiperkapneu, yang
masalah utamanya pada hipoventilasi alveolar. Gagal napas hipoksemia lebih sering dijumpai
daripada gagal napas hiperkapneu.
2) Klasifikasi gagal napas berdasarkan lama terjadinya :
a. Gagal napas akut
Gagal napas akut terjadi dalam hitungan menit hingga jam, yang ditandai dengan perubahan
hasil analisa gas darah yang mengancam jiwa. Terjadi peningkatan kadar PaCO2. Gagal
napas akut timbul pada pasien yang keadaan parunya normal secara struktural maupun
fungsional sebelum awitan penyakit timbul.
b. Gagal napas kronik
Gagal napas kronik terjadi dalam beberapa hari. Biasanya terjadi pada pasien dengan
penyakit paru kronik, seperti bronkhitis kronik dan emfisema. Pasien akan mengalami
toleransi terhadap hipoksia dan hiperkapneu yang memburuk secara bertahap.
3) Klasifikasi gagal napas berdasarkan penyebab organ :
a. Kardiak
Gagal napas dapat terjadi karena penurunan PaO2 dan peningkatan PaCO2 akibat
menjauhnya jarak difusi akibat oedema paru. Oedema paru ini terjadi akibat kegagalan
jantung untuk melakukan fungsinya sehingga terjadi peningkatan perpindahan aliran dari
vaskuler ke interstisial dan alveoli paru.

b. Nonkardiak
Terjadi gangguan di bagian saluran pernapasan atas dan bawah maupun di pusat pernapasan,
serta proses difusi. Hal ini dapat disebabkan oleh obstruksi, emfisema, atelektasis,
pneumothorak, dan ARDS.
D. Patofisiologi
Terdapat 2 mekanisme dasar yang mengakibatkan kegagalan pernafasan yaitu obstruksi
saluran nafas dan konsolidasi atau kolaps alveolus. Apabila seorang anak menderita infeksi
saluran nafas maka akan terjadi :
1.Sekresi trakeobronkial bertambah
2.Proses peradangan dan sumbatan jalan nafas
3.aliran darah pulmonal bertambah
4.metabolic rate bertambah
Akibat edema mukosa, lendir yang tebal dan spasme otot polos maka lumen saluran nafas
berkurang dengan hebat. Hal ini mengakibatkan terperangkapnya udara dibagian distal
sumbatan yang akan menyebabkan gangguan oksigenasi dan ventilasi. Gangguan difusi dan
retensi CO2 menimbulkan hipoksemia dan hipercapnea, kedua hal ini disertai kerja
pernafasan yang bertambah sehingga menimbulkan kelelahan dan timbulnya asidosis.
Hipoksia dan hipercapnea akan menyebabkan ventilasi alveolus terganggu sehingga terjadi
depresi pernafasan, bila berlanjut akan menyebabkan kegagalan pernafasan dan akirnya
kematian.
Hipoksemia akan menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah pulmonal yang menyebabkan
tahanan alveolus bertambah, akibatnya jantung akan bekerja lebih berat, beban jantung
bertambah dan akirnya menyebabkan gagal jantung.
Akibat bertambahnya aliran darah paru, hipoksemia yang mengakibatkan permiabilitas
kapiler bertambah, retensi CO2 yang mengakibatkan bronkokontriksi dan metabolic rate
yang bertambah, terjadinya edema paru. Dengan terjadinya edema paru juga terjadinya
gangguan ventilasi dan oksigenisasi yang akhirnya dapat menimbulkan gagal nafas.

Obstruksi saluran nafas dan


Kolaps alveolus
Infeksi saluran nafas

Infeksi paru edema mukosa

Peradangan dan sumbatan jalan nafas


Eksudat intra alveolus

Retensi mucus gangguan oksigenasi dan ventilasi

Gangguan difusi dan retensi CO2


Gangguan kebersihan gangguan pertukaran

gas hipoksemia dan hiperkapnea


jalan nafas

oksigen berkurang

hiperventilasi ventilasi alveolus


terganggu
gangguan keseimbangan
cairan dan elektrolit defresi
pernapasan kelelahan
dan timbulnya

kegagalan nafas asidosis

kemaatian

E. Pemeriksaan penunjang
a. Pemerikasan gas-gas darah arteri: pentinguntuk menentukan adanya asidosis respiratorik dan
alkalosis respiratorik, serta untuk mmengetahui apakah klien mengalami asidosis metabolic,
alkalosis metabolic atau keduanya.
Hipoksemia:
Ringan : PaO2 < 80 mmHg Sedang : PaO2 < 60 mmHg Berat : PaO2 < 40 mmHg
b. Pemeriksaan rontgen dada: Melihat keadaan patologik dan atau kemajuan proses penyakit
yang tidak diketahui
c. Hemodinamik: Tipe I : peningkatan PCWP
d. EKG: adanya hipertensi pulmonal dapat dilihat pada EKG yang ditandai dengan perubahan
gelombang P meninggi di sadapan II, III, aVF, serta jantung yang mengalami hipertrofi
ventrikel kanan.
e. Pemeriksaan sputum: yang di perhatikan ialah bau, warna dan kekentalan. Jika perlu
lakukan kultur dan uji kepekatan terhadap kuman penyebab.
f. Pengukuran fungsi paru: penggunaan respirometer untuk menggetahui ada tidaknya
gangguan obstruksi dan retraksi paru. FEV1 normal > 83%.
F. Penatalaksanaan medis
Terapi oksigen: Pemberian oksigen kecepatan rendah, masker Venturi atau nasal prong.
Ventilator mekanik dengan tekanan jalan nafas positif kontinu (CPAP) atau PEEP.
Inhalasi nebulizer.
Fisioterapi dada.
Pemantauan hemodinamik/jantung
Pengobatan: bronkodilator, steroid
Dukungan nutrisi sesuai kebutuhan
Steroid
Dukungan nutrisi sesuai kebutuhan.
Obat-obatan:
- Antibiotic: diberikan setelah dilakukan uji kultur sputum dan uji kepekaan terhadap kuman
penyebab.
- Bronkodilatator, kartikosteroid, diuretic, digitalis

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
a. Anamnesis
Keluhan utama yang sering muncul adalah gejala sesak nafas atau peningkatan frekuensi
nafas. Secara umum perlu dikaji tentang gambaran secara menyeluruh apakah klien tampak
takut, mengalami sianosis, dan apakah tampak mengalami kesukaran bernafas.
Perlu diperhatikan juga apakah klien berubah menjadi sensitif dan cepat marah (iritability),
tanpak binggung (confusion), atau mengantuk (somnolent). Yang tak kalah penting ialah
kemampuan orientasi klien terhadap tempat dan waktu. Hal ini perlu diperhatikan karena
gangguan funngsi paru akut dan berat sering direfeksikan dalam bentuk perubahan status
mental. Selain itu, gangguan keadaan sering pula dihubungkan dengan hipoksemia,
hiperkapnea, dan asidemia karena gas beracun. Selain itu kaji riwayat penyakit masa lalu,
riwayat penyakit keluarga, lingkungan serta habits/ kebiasaan.
b. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum
Kaji tentang kesadara klien, kecemasan, kegelisahan, kelemahan suara bicara. Denyut nadi,
frekuensi nafas yang meingkat, penggunaan otot-otot bantu pernafasan, sianosis.
1. B1 (Breathing)
Inspeksi
Kesulitan bernafas tampak dalam perubahan irama dan frekuensi pernafasan. Keadaan
normal frekuensi pernafasan 16-20x/menit dengan amplitude yang cukup besar. Jika
seseorang bernafas lambat dan dangkal, itu menunjukan adanya depresi pusat pernafasan.
Penyakit akut paru sering menunjukan frekuensi pernafasan > 20x/menit atau karena penyakit
sistemik seperti sepsis, perdarahan, syok, dan gangguan metabolic seperti diabetes militus.
Palpasi
Perawat harus memerhatikan pelebaran ICS dan penurunan taktil fremitus yang menjadi
penyebab utama gagal nafas.
Perkusi
Perkusi yang dilakukan dengan saksama dan cermat dapat ditemukan daerah redup- sampai
daerah dengan daerah nafas melemah yang disebabkkan oleh peneballan pleura, efusi pleura
yang cukup banyak, dan hipersonor, bila ditemukan pneumothoraks atau emfisema paru.
Auskultasi
Auskultasi untuk menilai apakah ada bunyi nafas tambahan seperti wheezing dan ronki serta
untuk menentukan dengan tepat lokasi yang didapat dari kelainan yang ada.
2. B2 (Blood)
Monitor dampak gagal nafas pada status kardovaskuler meliputi keadaan hemodinamik
seperti nadi, tekanan darah dan CRT.
3. B3 (Brain)
Pengkajian perubahan status mental penting dilakukan perawat karena merupakan gejala
sekunder yang terjadi akibat gangguan pertukaran gas. Diperlukanan pemeriksaan GCS unruk
menentukan tiingkat kesadaran.
4. B4 (Bladder)
Pengukuran volume output urin perlu dilakukan karena berkaitan dengan intake cairan. Oleh
karena itu, perlu memonitor adanya oliguria, karena hal tersebut merupaka tanda awal dari
syok.
5. B5 (Boowel)
Pengkajian terhadap status nutrisi klien meliputi jumlah, frekuensi dan kesulitan-kesulitan
dalam memenuhi kebutuhanya. Pada klien sesak nafas potensial terjadi kekurangan
pemenuhan nutrisi, hal ini karena terjadi dipnea saat makan, laju metabolism, serta
kecemasan yang dialami klien.
6. B6 (Bone)
Dikaji adanya edema ekstermitas, tremor, tanda-tanda infeksi pada ekstermitas, turgon kulit,
kelembaban, pengelupasan atau bersik pada dermis/ integument.
B. Diagnosa keperawatan

1) Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan gangguan aliran udara ke alveoli atau
kebagian utama paru
2) Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi
secret/mucus, keterbatasan gerakan dada, nyeri, kelemahan dan kelelahan.
3) Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan kelelahan, penurunan ekspansi paru,
pengesetan ventilator yang tidak tepat.
4) Pemenuhan kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
yang tidak adekuat
C. Intevensi
Diagnose 1:
Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan gangguan aliran udara ke alveoli atau
kebagian utama paru
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan dalam waktu 1x24 jam pertukaran gas
membaik.
Kriteria evaluasi :
- Frekuensi napas 18-20/menit
- Frekuensi nadi 75-100/menit
- Warna kulit normal, tidak ada dipnea, dan gas darah arteri (GDA) dalam batas normal.
- Dapat mendemonstrasikan batuk efektif
- Hasil analisa gas darah normal :
PH (7,35 7,45)
PO2 (80 100 mmHg)
PCO2 ( 35 45 mmHg)

Rencana Intervensi Rasional


Pantau status pernapasan tiap 4 jam, hasil GDA, intake, dan output. Untuk mengidentifikasi
indikasi ke arah kemajuan.
Tempatkan klien pada posisi semifowler. Posisi tegak memungkinkan ekspansi paru lebih
baik.
Berikan terapi intravena sesuai anjuran. Untuk memungkinkan rehidrasi yang cepat dan dapat
mengkaji keadaan vaskuler untuk pemberian obat-obat darurat.
Berikan oksigen melalui kanula nasal 4 L/menit selanjutnya sesuaikan dengan hasil PaO2.
Pemberian oksigen mengurangi beban otot-otot pernapasan.
Kolaborasi dengan tim medis dalam memberikan pengobatan yang telah tepat serta amati bila
ada tanda-tanda toksisitas. Pengobatan untuk mengembalikan kondisi bronkhus seperti
kondisi sebelumnya.

Diagnosa 2:
Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi
secret/mucus, keterbatasan gerakan dada, nyeri, kelemahan dan kelelahan.
Tujuan: Dalam waktu 1x24 jam setelah diberikan intervensi kebersihan jalan napas kembali
efektif, klien akan memperlihatkan kemampuan meningkatkan dan mempertahankan
keefektifan jalan nafas.
Kriteria hasil :
- Tidak ada suara napas tambahan dan wheezing/ronchi (-)
- Pernapasan klien normal (16-20x/menit) tanpa ada penggunaan otot bantu napas.
- Dapat medemonstrasikan batuk efektif
- Dapat menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi
Rencana Intervensi Rasional
Kaji warna, kekentalan, dan jumlah sputum Karakteristik sputum dapat menunjukkan berat
ringannya obstruksi
Atur posisi semifowler Meningkatkan ekspansi dada
Ajarkan cara batuk efektif Batuk yang terkontrol dan efektif dapat memudahkan pengeluaran
sekret yang melekat dijalan napas
Kolaborasi pembetian obat
Bronkodilator golongan B2
Nebulizer (via inhalasi) dengan golongan terbutaline 0,25 mg, fenoterol HBr 0,1% Solution,
orciprenaline sulfur 0,75 mg
Intravena dengan golongan theophyline ethilenediamine (Aminofilin) bolusb IV 5-6
mg/kgBB
Pemberian bronkodilator via inhalasi akan langnsung menuju area bronkhus yang mengalami
spasme sehingga lebih cepat berdilatasi
Pemberian secara intravena merupakan usaha pemeliharaan agar dilatasi jalan napas dapat
optimal.
Agen mukolitik dan ekspetoran Agen mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan
sekret peru untuk memudahkan pembersihan.
Agen ekspetoran akan memudahkan sekret lepas dari perlengketan jalan napas.
Kortikosteroid Kortikosteroid berguna pada keterlibatan luas dengan hipoksemia dan
menurunkan reaksi inflamasi akibat edema mukosa dan dinding bronkhus.

Diagnosa 3:
Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan kelelahan, penurunan ekspansi paru,
pengesetan ventilator yang tidak tepat.
Tujuan: setelah dilakukan asukan keperawatan 1x24 jam klien akan mempertahankan pola
nafas yang efektif.

Kriteria hasil :
- Nafas sesuai dengan irama ventilator
- Volume nafas adekuat
- Tidak nampak adanya cheynes stoke, biot, bradipnea, hiper/hipoventilasi.
- Pernapasan klien normal (16-20x/menit) tanpa ada penggunaan otot bantu napas.
Intervensi: Rasional
Kaji RR, auskultasi bunyi napas sebagai sumber data adanya pewrubahan sebelum dan
sesudah perawatan diberikan
Beri posisi high fowler atau semi-fowler Rasional : mengembangkan ekspansi paru
Dorong anak untuk latihan napas dalam dan batuk efektif. membantu membersihkan mucus
dari p[aru dan napas dalam memperbaiki oksigenasi
Lakukan fisioterapi
membantu pengeluaransekresi, menmingkatkan ekspansi paru.
Berikan oksigen sesuai program memperbaiki oksigenasi dan mengurangi sekresi
Monitor peningkatan dan pengeluaran sputum sebagai indikasi adanya kegagalan pada paru.
Berikan bronchodilator sesuai indikasi otot pernapasan menjadi relaks dan steroid
mengurangi inflamasi

Diagnosa 4
Pemenuhan kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang
tidak adekuat
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperwatan 1x24 jam terjadi penurunan distress GI, tidak
terjadi anoreksia/intake adekuat.

Kriteria evaluasi:
- Adanya perbaikan nutrisi / intake
- Dapat mendemonstrasikan intake makanan yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
- Intake makanan meningkat, tidak ada penurunan BB lebih lanjut, menyatakan perasaan
sejahtera.
Rencana Intervensi Rasional
Berikan porsi makan kecil tapi sering 5 6 kali sehari dengan makanan yang disukainya.
Makanan kecil tapi sering menyediakan energi yang dibutuhkan , lambung tidak terlalu
penuh, sehingga memberikan kesempatan untuk penyerapan makanan.
Makanan yang disukai mendorong anak untuk makan dan meningkatkan intake.
Berikan perawatan mulut tiap 4 jam. Pertahankan kesegaran ruangan. Bau yang tidak
menyenangkan dapat mempengaruhi nafsu makan.
Rujuk kepada ahli diet untuk membantu memilih makanan yang dapat memenuhi kebutuhan
gizi. Ahli diet adalah spesialisasi dalam ilmu gizi
yang dapat membantu klien memilih makanan yang dapat memenuhi kebutuhan kalori dan
kebutuhan gizi sesuai dengan keadaan sakitnya, usia, tinggi, dan berat badan klien.

D. Pelaksanaan /Implementasi
Pelaksanaan tindakan keperawatan gagal nafas didasarkan pada rencana yang telah
ditentukan dengan prinsip :
DRABCD (dengger, respon, airway, breathing, circulation, disability)
Mempertahankan ventilasi yang adekuat.
Menjaga bersihan jalan nafas
Mengatasi perubahan proses keluarga dan antisipasi berduka/ cemas.
E. Evaluasi
Setelah tindakan keperawatan dilaksanakan evaluasi proses dan hasil mengacu pada kriteria
evaluasi yang telah ditentukan pada masing-masing diagnosa keperawatan sehingga :
Masalah teratasi atau tujuan tercapai (intervensi di hentikan)
Masalah teratasi atau tercapai sebagian (intervensi dilanjutkan)
Masalah tidak teratasi / tujuan tidak tercapai (perlu dilakukan pengkajian ulang & intervensi
dirubah).
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Gagal nafas terjadi bilamana pertukaran oksigen terhadap karbondioksida dalam paru-paru
tidak dapat memelihara laju komsumsi oksigen dan pembentukan karbon dioksida dalam sel-
sel tubuh. Gagal nafas penyebab terpenting adalah ventilasi yang tidak adekuat dimana terjadi
obstruksi jalan nafas atas.
Gagal nafas adalah kegagalan sistem pernafasan untuk mempertahankan pertukaran oksigen
dankarbondioksida dalam jumlah yang dapat mengakibatkan gangguan pada kehidupan.
Gagal nafas ada dua macam yaitu gagal nafas akut dan gagal nafas kronik dimana masing
masing mempunyai pengertian yang berbeda.

Indikator gagal nafas telah frekuensi pernafasan dan kapasitas vital, frekuensi penapasan
normal ialah 16-20 x/mnt. Bila lebih dari20x/mnt tindakan yang dilakukan memberi bantuan
ventilator karena kerja pernafasan menjadi tinggi sehingga timbul kelelahan. Kapasitasvital
adalah ukuran ventilasi (normal 10-20 ml/kg).

B. SARAN
Semoga makalah yang kami susun dapat dimanfaatkan secara maksimal, sehingga dapat
membantu proses pembelajaran, dan dapat mengefektifkan kemandirian dan kreatifitas
mahasiswa. Selain itu, diperlukan lebih banyak referensi untuk menunjang proses
pembelajaran.