Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keanekaragaman Fauna dalam kingdom animalia yang berada
diwilayah Indonesia masih tergolong dalam tingkat kestabilan. Baik fauna
yang memiliki tulang belakang (Vertebrata) maupun yang tak bertulang
belakang (Invertebrata). Berbagai jenis spesies yang mewakili setiap fhylum
bahkan setiap kelas dari kelompok vertebrata maupun invertebrata cukup
menjadi bukti bahwa kondisi alam Indonesia masih dalam keadaan stabil.
Salah satu diantara keanekaragaman fauna yang masih tergolong
dalam populasi yang stabil ialah spesies serangga yang tergolong dalam
fhylum arthtropoda.
Arthopoda berasal dari bahasa Yunani yaitu arthos, sendi dan
podos,kaki oleh karena itu cir-ciri utama hewan yang termasuk dalam filum
ini adalah kaki yang tersusun atas ruas-ruas. Jumlah spesies anggota filum ini
adalah terbanyak dibandingkan dengan filum lainnya yaitu lebih dari 800.000
spesies. Contoh anggota filum ini antara lain kepiting, udang, serangga, laba-
laba, kalajengking, kelabang, dan kaki seribu, serta spesies-spesies lain yang
dikenal hanya berdasarkan fosil. Habitat hewan anggota filum arthopoda di air
dan di darat.
Meskipun beragam spesies arthropoda yang luar biasa, semua aspek
berbagi dari satu rencana dasar tubuh. Semua arthropoda memiliki
exoskeleton kaku (kerangka eksternal) yang terutama terdiri dari kitin. Pada
beberapa spesies, lipid, protein, dan kalsium karbonat juga dapat
menyebabkan exoskeleton. Kerangka eksternal menawarkan perlindungan
organisme serta dukungan bagi tubuh. Dindingnya menyediakan jangkar
untuk menempel otot. Exoskeleton tidak mampu tumbuh, dan dilunakkan
(ditumpahkan) berulang kali selama pertumbuhan hewan. Proses ini disebut
ecdysis. Molting memungkinkan pertumbuhan yang cepat sampai exoskeleton
yang baru dikeluarkan mengeras.
Badan arthropoda dibagi menjadi beberapa segmen. Namun, sejumlah
segmen terkadang menyatu membentuk bagian bodi terpadu yang dikenal
dengan tagmata. Proses fusi ini disebut tagmosis. Kepala, thoraks, dan perut
adalah contoh tagmata. Arthropoda juga memiliki pelengkap dengan
persendian (kata "arthropoda" berarti "kaki bersendi"). Pada awalnya,
antropoda primitif, masing-masing segmen tubuh dikaitkan dengan satu
pasang pelengkap (lampiran). Namun, pada sebagian besar spesies, beberapa
pelengkap telah dimodifikasi untuk membentuk struktur lain, seperti mulut,
antena, atau organ reproduksi. Pelengkap arthropoda bisa berupa biramous
(bercabang) atau tidak dikenal (tidak bercabang).
Beberapa arthropoda memiliki organ indra yang sangat berkembang.
Sebagian besar spesies telah memasangkan mata majemuk, dan banyak juga
memiliki sejumlah mata sederhana yang disebut ocelli. Arthropoda memiliki
sistem peredaran darah terbuka (tanpa pembuluh darah) yang terdiri dari
tabung yang merupakan jantung dan hemocoel terbuka, coelom hewan, di
mana kolam darah. Arthropoda juga memiliki usus lengkap dengan dua
bukaan, mulut dan anus.
Pertukaran gas dalam filum terjadi dalam berbagai cara. Beberapa
spesies memiliki insang, sementara yang lain menggunakan trakea, atau
memesan paru-paru. Sistem pernapasan trakea terdiri dari bukaan eksternal
yang disebut spiracles yang terkait dengan sistem tubulus bercabang yang
memungkinkan gas pernapasan mencapai jaringan internal. Arthropoda
ditandai oleh otak dan juga cincin saraf di sekitar area faring, di rongga mulut.
Tali saraf ganda melebar ke belakang sepanjang permukaan ventral tubuh, dan
setiap segmen tubuh dikaitkan dengan ganglionnya sendiri, atau massa sel
saraf. Pada kebanyakan spesies arthropoda, jenis kelamin terpisah.
Pemupukan biasanya terjadi secara internal, dan kebanyakan spesies bertelur.
Sementara beberapa spesies menunjukkan perkembangan langsung, di mana
telur menetas sebagai versi miniatur orang dewasa, spesies lain melewati
tahap larva yang belum matang dan menjalani metamorfosis dramatis sebelum
mencapai bentuk dewasa.
B. Tujuan
Agar mahasiswa dapat mengenal struktur morfologi bebragai jenis
hewan yang termasuk Arthtropoda.
C. Manfaat
Agar mahasiswa mengetahui struktur morfologi dan penyusun tubuh
jenis hewan dari fhylum Arthtropoda.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Morfologi dan Anatomi


Kata Arthropoda dari bahasa Yunani yaitu Arthros berarti sendi (ruas)
danPodos berarti kaki. Jadi arthropoda adalah hewan yang mempunyai kaki
bersendi-sendi (beruas-ruas). Hewan ini banyak ditemukan di darat, air tawar,
dan laut, serta didalam tanah. Hewan ini juga merupakan hewan yang paling
banyak jenis atau macam spesiesnya, lebih kurang 75% dari jumlah
keseluruhan spesies hewan di dunia yang telah diketahui (Setiati, 2007).
Filum Arthropoda umumnya dibagi menjadi empat subphyla bentuk
yang masih ada: Chelicerata, Crustacea, Hexapoda, dan Myriapoda. Beberapa
ahli zoologi percaya bahwa arthropoda yang hanya memiliki pelengkap
bercabang tunggal, terutama serangga, kelabang, dan kaki seribu, berevolusi
dari nenek moyang yang terpisah dan oleh karena itu mengelompokkannya
dalam filum terpisah - Uniramia, atau Atelocerata; Namun, dalam perlakuan
ini bentuk-bentuk ini tersebar di antara beberapa subphyla. Selain itu, filum
Arthropoda berisi subfila Trilobitomorpha yang telah punah. Kelompok ini
terdiri dari trilobita, arthropoda dominan di laut Paleozoik awal (542 juta
sampai 251 juta tahun yang lalu). Trilobita punah selama Periode Permian
(299 juta sampai 251 juta tahun yang lalu) pada akhir Era Paleozoikum
(Barnes, 2016).
Filum Arthropoda saat ini yang paling spesies- beragam filum dalam
kerajaan hewan, terdiri dari lebih tigaperempat dari semua spesies yang
dikenal. Approximatelly 1.100.000 spesies Arthropoda telah direkam, dan
kemungkinan bahwa lebih banyak tetap harus diklasifikasikan. Pada
kenyataannya, berdasarkan survei fauna serangga di kanopi hutan hujan,
banyak perkiraan spesies belum terdekskripsikan jauh lebih tinggi.Arthropoda
termasuk laba-laba, kalajengking, kutu, tungau, krustasea, kaki seribu, lipan,
serangga, dan lainnya kurang baikkelompok terkenal. Selain itu, ada catatan
fosil yang kaya meluas ke masa prakambium sangat terlambat. Arthropoda
adalah prostomes eskolomate dengan baik sitem organ di kembangkan, dan
mereka berbagi dengan Annelidamiliki segmentasi mencolok. Namun, analisis
molekuler terbaru komparatif menunjukkan bahwa Annelida, dan arthropoda
berevolusi dari nenek moyang yang berbeda (Roberts, 2006).
Tubuh Arthropoda merupakan simetri bilateral dan tergolong
triplobastik selomata. Ukuran dan bentuk tubuh sangat beragam, beberapa
diantaranya memiliki panjang lebih dari 60 cm, namun kebanyakan berukuran
kecil. Begitu pula dengan bentuk Arthropoda pun beragam. Tubuh Arthropoda
bersegmen dengan jumlah segmen yang bervariasi. Pada tiap segmen tubuh
tersebut terdapat sepasang kaki yang beruas. Segmen bergabung membentuk
bagian tubuh, yaitu kaput (kepala), toraks (dada), dan abdomen (perut).
Atrhropoda ditemukan adanya kutikula keras yang membentuk rangka luar
(eksoskeleton). Eksoskeleton tersusun dari kitin yang disekresikan oleh sel
kulit. eksoskeleton melekat pada kulit membentuk perlindungan tubuh yang
kuat. Eksoskeleton terdiri dari lempengan yang dihubungkan oleh ligamen
yang fleksibel dan lunak. Eksoskeleton tidak dapat membesar mengikti
pertumbuhan tubuh. Oleh karena itu, tahap pertumbuhan. Arthropoda selalu di
ikuti dengan pengelupasan eksoskeleton lama dan pembentukan eksoskeleton
baru. Tahap pelepasan eksoskeleton disebut dengan molting atau ekdisis.
Hewan yang biasanya melakukan ekdisis misalnya kepiting, udang, dan laba-
laba (Erwin, 2011).
Serangga (disebut pula Insecta) adalah kelompok utama dari
hewan beruas (Arthropoda) yang bertungkai enam (tiga pasang) karena
itulah mereka disebut pula Hexapoda (dari bahasa Yunani yang berarti
berkaki enam). Serangga termasuk kedalam kelas insekta (subfilum
Uniramia) yang dibagi lagi menjadi 29 ordo, antara lain Diptera (misalnya
lalat), Coleoptera (misalnya kumbang), Hymenoptera (misalnya semut, lebah
dan tabuhan) dan memiliki sayap. Serangga merupakan hewan beruas
dengan tingkat adaptasi yang sangat tinggi. ukuran serangga relatif kecil
dan pertama kali sukses berkolonisasi di bumi (Pracaya, 2004).
Orthoptera merupakan salah satu ordo dari kelas serangga (Insecta).
Jenis-jenisnya mudah dikenal karena memiliki empat pasang sayap, dimana
sepasang sayap depan kaku yang disebut tegmina dan pasangan sayap
belakang membraneous , dengan tungkai belakang (femur) membesar yang
teradaptasi untuk meloncat , misalnya belalang, kecoa dan jangkrik.
Kelompok ini hidup pada berbagai tipe habitat , seperti hutan, semak belukar,
sekitar rumah dan lahan pertanian. Di alam, jenis-jenis dari Orthoptera
berperan sebagai pemangsa, pemakan bangkai, pengurai material organik
nabati dan hewani, pemakan bagian tumbuhan hidup, musuh alami dari jenis
serangga lainnya, dansumber pakan bagi satwa liar seperti burung, primata
dan mamalia (Erawati, 2004).

BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Sabtu, 29 April 2017
Waktu : Pukul 15.00-17.30 WITA
Tempat: Laboraturium Biologi Unismuh Makassar
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Adapun alat yang digunakan:
1. Papan bedah : 1 buah
2. Pinset bedah : 1 buah
3. Pisau bedah : 1 buah
4. Gunting bedah : 1 buah
5. Scalpel : 1 buah
6. Kertas tissue : 1 buah
2. Bahan
Adapun alat yang digunakan:
1. Kecoa ( Blabarus giganteus ) : 1 ekor
2. Udang ( Cambarus viridis ) : 1 ekor
C. Prosedur Kerja
Adapun cara kerja pada percobaan ini yaitu:
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Meletakkan Kecoa (Blabarus giganteus) dan Udang (Cambarus viridis)
diatas papan bedah (disceting pan).
3. Mengamati struktur morfologi tubuh Kecoa (Blabarus giganteus), dan
Udang (Cambarus viridis) satu persatu.
4. Membedah hewan satu persatu dengan menggunakan gunting bedah atau
scalpel dengan hati-hati agar tidak ada bagian tubuh yang rusak.
5. Mengamati struktur anatomi tubuh hewan dengan seksama, kemudian
menggambar dan beri keterangan.
6. Setelah melakukan pengamatan bersihkan semua alat yang telah digunkan
dan membersihkan laboratorium.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
1. Morfologi dan anatomi

Gambar Morfologi Dorsal Keterangan


Nama Spesies : Blabarus Giganteus 1. Kepala
2. Antena
3. Protorax
4. Mesothorax
5. Metathorax
6. Kaki tengah
7. Abdomen
8. Kaki belakang
9. Anal cercus
10. Sayap
11. Kaki depan
12. Sepasang mata

Gambar Anatomi Keterangan


Nama Spesies : Blabarus Giganteus 1. Esofagus
2. Midgut
3. Usus besar
4. Tubulus Malpighi
5. Caecea lambung
6. Crop
7.

Gambar Morfologi Keterangan


Nama Spesies : Cambarus viridis 1. Rustrun
2. Mata
3. Carapace
4. Ruas perus ke-1
5. Ruas perut ke-2
6. Ruas perut ke-3
7. Ruas perut ke-4
8. Ruas perut ke-5
9. Ruas perut ke-6
10. Telson
11. Uropods
12. Kaki berenang (5 pasang)
13. Kaki berjalan (5 pasang)

Gambar Anatomi Keterangan


Nama Spesies : Cambarus viridis 1. Mulut
2. Otak
3. Mata
4. Lambung
5. Jantung
6. Usus
7. Anus
8. Ekor
9. Sistem syaraf
10. Ovary
11. Kelenjar malpighian
12. Gigi
13. Rahang

2. Pembahasan
1. Berdasarkan pengamatan morfologi pada kecoa yag telah dilakukan dapat
diketahui bahwa kecoa memiliki bentuk tubuh oval, pipih dorso-ventral.
Kecoa yang merupakan kelas dari insekta memiliki ciri khas tersendiri
yakni bentuk tubuhnya yang pipih, dengan kepala yang tersembunyi di
bawah pronotum, dilengkapi dengan sepasang mata majemuk dan satu
mata tunggal, antena panjang, sayap dua pasang, dan tiga pasang kaki.
Pronotum dan sayap licin, tidak berambut dan tidak bersisik, berwarna
coklat sampai coklat tua. Panjang tubuhnya antara beberapa milimeter
sampai hampir 100-an milimeter. Kecoa biasanya dianggap sebagai hewan
yang menjijikkan karena tempat hidupnya yang selalu berada ditempat
sampah dan lembab, ini disebabkan karena kecoa merupakan salah satu
hewan yang suka memecah beberapa bahan organik.
2. Udang yang memiliki nama ilmiah Cambarus viridis tergolong dalam
kelas crustacea yang memiliki bentuk tubuh bilatral simetris yang terdiri
atas Cephalotoraks dan abdomen. Cephalotoraks (kepala dada) merupakan
penyatuan bagian kepala dan badan. Udang memiliki rangka luar dari kitin
yang keras. Rangka luar yang keras ini mengandung zat kapur. Dibagian
kepala terdapat sepasang mandibula dan dua pasang maksila. Pada setiap
segmen abdomen terdapat kaki renang. Pada ujung abdomen terdapat kaki
daun (uropod). Udang air tawar (Cambarus viridis) memiliki bentuk
tubuh yang bersegmen keras, pada saat pengamatan terlihat bagian mata,
antena, rostum, mulut, telson, uropod, kaki renang, kaki jalan dan
cheliped. Cambarus viridis memiliki kaki renang sebanyak 5 pasang,
memiliki kaki jalan 5 pasang, antennula 2 pasang, antena 1 pasang uropod
2 pasang dan maxiliped 2 pasang.
Sedangkan pada pengamatan anatomi udang, diperoleh bahwa mulut
terletak pada bagian ujung karapaks bagian tengah, bagian bawah terdapat
rahang dan gigi serta bagian atas mulut terdapat mata yang berhubungan
langsung dengan otak. Kemudian, pada bagian karapaks juga ditemukan
lambung, jantung, ovary,dan kelenjar malpighian. Sedangkan pada bagian
abdomen, terdapat usus yang membantu dalam proses mencerna makanan,
sistem syaraf udang yang berbentuk tangga tali. Ganglion otak
berhubungan dengan alat indera yaitu antena (alat peraba), statocyst (alat
keseimbangan) dan mata majemuk (facet) yang bertangkai.
3. Klasifikasi
Klasifikasi kecoa
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Blattodea
Famili : Blattidae
Genus : Blabarus
Spesies : Blabarus giganteus
Klasifikasi udang
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Crustace
Ordo : Decapoda
Famili : Penapide
Genus : Cambarus
Spesies : Cambarus viridis

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan pada praktikum ini adalah pada kecoa ( Blabarus
giganteus) bagian morfologinya adalah bentuk tubuh oval, pipih dorso-
ventral, sepasang mata majemuk dan satu mata tunggal, antena panjang, sayap
dua pasang, dan tiga pasang kaki. Pada udang ( Cambarus viridis) ,
morfologinya adalah bentuk tubuh yang bersegmen keras, mata, antena,
rostum, mulut, telson, uropod, kaki renang, kaki jalan dan cheliped.
Cambarus viridis memiliki kaki renang sebanyak 5 pasang, memiliki kaki
jalan 5 pasang, antennula 2 pasang, antena 1 pasang uropod 2 pasang dan
maxiliped 2 pasang.
B. Saran
Sebelum praktikum dimulai siapkan alat dan bahan yang akan
digunakan demi menunjang kelancaran dalam pelaksanaan praktikum.
Kemudian, pada saat praktikum, ketika menggunakan peralatan bedah
sebaiknya tetap berhati-hati. Terutama ketika melakukan pembedahan
terhadap spesies hewan untuk mengetahui sisi anatominya, agar terhindar dari
cidera dan terjadinya kerusakan pada spesies yang dibedah.

DAFTAR PUSTAKA

Barnes, D.Robert.2016.Arthropod Animal Phylum. (Diakses pada 01 Mei 2017)


https://www.britannica.com/animal/arthropod.
Erawati, Nety Virgo,dkk. 2004. Keanekaragaman Dan Kelimpahan Orthoptera
(Insecta) Di Gunung Kendeng Dan Gunung Botol, Taman Nasional Gunung
Halimun, Jawa Barat, Indonesia. Jurnal Berita Biologi, Volume 7, Nomor 1
dan 2.
Erwin, Mulyo. 2011. Binatang serangga. Jakarta: UIP .
Pracaya. 2004. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya. Jakarta.
Roberts, dkk. 2009. Zoology. San fransisco, California: thriteend edition.
Setiati. Arthropoda. Jakarta: Lusdt, 2007.