Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

PERAN KOMUNIKASI KESEHATAN DALAM PROMOSI


KESEHATAN GUNA MENGATASI ANGKA KEMATIAN BAYI DI
PROBOLINGGO

(Disusun guna memenuhi tugas Matakuliah Komunikasi Kesehatan Kelas C)

Dosen Pembimbing
Mury Ririanty, S.KM., M.Kes.

Disusun Oleh Kelompok 3:


Rio Sugiarto Pratama (142110101140)
Safira Diah Ayu N (162110101044)
Daning Ayu Lestari (162110101053)
Nia Andriana (162110101072)
Indra Oktafia (162110101078)
Sri Ayu Putri H. M. (162110101172)
Safitri Dian Novita (162110101187)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS JEMBER
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas taufik dan hidayah-Nya yang
telah dilimpahkan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah tentang
Komunikasi Dalam Perubahan Perilaku (Ilmu Komunikasi Dalam Memahami
Isu Perilaku Dan Promosi Kesehatan). Penyusunan makalah ini merupakan
tugas mata kuliah Komunikasi Kesehatan Semester Genap Fakultas Kesehatan
Masyarakat.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini dapat
terselesaikan dengan baik berkat bantuan dan sumbangan pemkiran dalam
berbagai pihak. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini kami mengucapkan terima
kasih pada semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis telah melakukan yang terbaik dan melakukan usaha yang
maksimal untuk menyelesaikan makalah ini, namun tidak dapat dipungkiri
bahwa masih ada kekurangan dan ketidaksempurnaan dalam penyelesaiannya.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan oleh
penulis. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Jember, 14 Maret 2017

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................i

DAFTAR ISI..................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN.........................................................................1

1.1 Latar Belakang...............................................................................1

1.2 Rumusan Masalah..........................................................................1

1.3 Tujuan.............................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN...............................................................................3

2.1 Komunikasi Kesehatan...................................................................3

2.2 Peran Komunikasi dalam Promosi Kesehatan................................3

2.3 Perubahan Perilaku.........................................................................4

2.3.1 Bentuk-bentuk perubahan perilaku.............................................4

2.4 Promosi Kesehatan.........................................................................7

2.4.1 Strategi Promosi Kesehatan........................................................7

2.4.2 Sasaran promosi kesehatan.......................................................10

2.4.3 Pendekatan Promosi Kesehatan................................................11

2.4.4 Peran Promosi Kesehatan Dalam Perubahan Perilaku.............14

2.5 Analisis Studi Kasus.....................................................................16

BAB III PENUTUP.....................................................................................20

Kesimpulan...............................................................................................20

Saran.........................................................................................................20

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................21

LAMPIRAN.................................................................................................22

2
3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide,
gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi di
antara keduanya. Dalam bidang kesehatan, komunikasi diperlukan untuk
meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam pelayanan kesehatan.
Komunikasi kesehatan merupakan upaya sistematis yang secara positif
mempengaruhi individu dan komunitas masyarakat dengan menggunakan
berbagai prinsip dan metode komunikasi baik komunikasi interpersonal
maupun komunikasi massa.
Komunikasi kesehatan mencakup pemanfaatan jasa komunikasi untuk
menyampaikan pesan dan mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang
berhubungan dengan upaya peningkatan dan pengelolaan kesehatan oleh
individu maupun komunitas masyarakat. Selain itu, komunikasi kesehatan juga
meliputi kegiatan menyebarluaskan informasi tentang kesehatan kepada
masyarakat agar tercapai perilaku hidup sehat, menciptakan kesadaran,
mengubah sikap dan memberikan motivasi pada individu untuk mengadopsi
perilaku sehat yang direkomendasikan menjadi tujuan utama komunikasi
kesehatan.
Komunikasi berkaitan erat dalam promosi kesehatan, karena promosi
kesehatan merupakan upaya pemberdayaan masyarakat untuk memelihara,
meningkatkan, dan melindungi kesehatan diri dan lingkungannya dalam
membangun dialog dengan komunitas, termasuk di dalamnya kelompok
minoritas, atau kelompok yamg memiliki keterbatasan. Promosi kesehatan
berperan penting dalam perubahan perilaku masyarakat dengan tujuan untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana peran komunikasi dalam promosi kesehatan?
2. Bagaimana peran promosi kesehatan dalam perubahan perilaku?

1
1.3 Tujuan
1. Mengetahui peran komunikasi dalam promosi kesehatan.
2. Mengetahui peran promosi kesehatan dalam perubahan perilaku.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Komunikasi Kesehatan


Komunikasi adalah proses pengoperasian rangsangan (stimulus) dalam
bentuk lambang atau simbol bahasa atau gerak (non verbal), untuk
mempengaruhi perilaku orang lain. Stimulus atau rangsangan ini dapat berupa
suara/bunyi atau bahasa lisan, maupun berupa gerakan, tindakan atau simbol-
simbol yang diharapkan dapat dimengerti oleh pihak lain, dan pihak lain
merespon atau bereaksi sesuai dengan maksud pihak yang memberikan
stimulus. Contohnya, pada saat guru mengajak murid-muridnya untuk
melakukan kegiatan fisik seperti olahraga lari, sepak bola, berenang, dan lain-
lain. Guru harus melakukan komunikasi terhadap para murid mengenai
riwayat penyakit mereka sehingga kejadian yang tidak diinginkan seperti tidak
sadarkan diri atau penyakit yang diderita kambuh akan dapat dihindari.
(Rahmadiana, 2012 dalam Herman).

2.2 Peran Komunikasi dalam Promosi Kesehatan


Komunikasi memegang peran penting dalam kegiatan promosi
masalah kesehatan, karena memiliki peran dalam hal :
a Membangun dialog dengan komunitas, termasuk di dalamnya
kelompok minoritas, atau kelompok yamg memiliki keterbatasan.

b Mempengaruhi pemerintah dan jajarannya untuk membuat kebijakan


dan/atau undang-undang mengenai promosi kesehatan.
c Meningkatkan kepedulian pemerintah dan jajarannya mengenai
kemiskinan, Hak Asasi Manusia (HAM), pemerataan dan isu
lingkungan.
d Mendorong hubungan masyarakat/publik terhadap kebijakan yang
telah dikeluarkan pemerintah serta jajarannya.
e Menginformasikan kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah
kepada masyarakat luas.

3
f Meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai isu kesehatan, agar
turut berpartisipasi secara aktif.
g Mendorong perilaku masyarakat mengenai isu kesehatan masyarakat.
Beberapa ahli komunikasi berpendapat, bahwa daripada menggunakan
pendekatan persuasif atau bahkan memaksa, lebih baik menggunakan
pendekatan yang bekerja sama dengan masyarakat untuk mencari
pemecahan masalah mereka sendiri, sembari memberikan informasi yang
mereka perlukan dalam membuat keputusan tersebut. Tetapi dalam kondisi
darurat, seperti penyebaran epidemi yang memerlukan aksi sesegera
mungkin, perlu dipertimbangkan untuk menggunakan pendekatan persuasif
untuk merubah sikap dan perilaku masyarakatnya. (Herman dkk, 2013 )

2.3 Perubahan Perilaku


Perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang terhadap stimulus
yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistim pelayanan kesehatan,
makanan, serta lingkungan. Dalam proses pembentukan atau perubahan pada
perilaku, dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam maupun
dari luar individu seperti susunan syaraf pusat, persepsi, motivasi, emosi,
proses belajar, dan sebagainya. Perubahan perilaku kesehatan sangat
berpengaruh terhadap kualitas kesehatan individu. Untuk meningkatkan
derajat kesehatan individu maka diperlukan proses perubahan perilaku,
contohnya bila dalam sebuah keluarga ada anggota keluarga yang menderita
sakit diabetes. Sebagai seorang penderita, ia harus mengubah perilaku yang
awalnya sering mengkonsumsi makanan dengan kadar gula tinggi menjadi
tidak sama sekali. Ia juga harus memperhatikan dengan baik asupan makanan
serta pola makannya sehari-hari. (Notoatmodjo, 2003)

2.3.1 Bentuk-bentuk perubahan perilaku


Bentuk perubahan perilaku sangat bervariasi, sesuai dengan
konsep yang digunakan oleh para ahli dalam pemahamannya
terhadap perilaku. Di bawah ini perubahan perilaku dikelompokkan
menjadi 3, yakni :

4
1 Perubahan Alamiah (Natural Change)
Perilaku manusia selalu berubah, dimana sebagian
perubahan itu disebabkan karena kejadian alamiah. Apabila
dalam masyarakat sekitar terjadi suatu perubahan lingkungan
fisik atau sosial budaya dan ekonomi, maka anggota-anggota
masyarakat di dalamnya juga akan mengalami perubahan.
Misalnya : Bu Ani apabila sakit kepala (pusing) membuat
ramuan daun-daunan yang ada di kebunnya, lalu meminumnya.
Tetapi karena intensifikasi kebunnya, maka daun-daunan untuk
obat tersebut terbabat habis diganti dengan tanaman-tanaman
untuk bahan makanan. Maka dengan tidak berpikir panjang lebar
lagi Bu Ani berganti minum jamu cap jago yang dapat dibeli di
warung.

2 Perubahan Rencana (Planned Change)


Perubahan perilaku ini terjadi karena memang
direncanakan sendiri oleh subjek. Misalnya Pak Anwar adalah
perokok berat. Tetapi karena pada suatu saat ia terserang batuk-
batuk yang sangat mengganggu, maka ia memutuskan untuk
mengurangi merokok sedikit demi sedikit, dan akhirnya ia
berhenti merokok.

3 Kesediaan untuk Berubah (Readiness to Change)


Apabila terjadi suatu inovasi atau program-program
pembangunan di dalam masyarakat, maka yang sering terjadi
adalah sebagian orang sangat cepat untuk menerima inovasi atau
perubahan tersebut (berubah perilakunya). Tetapi sebagian orang
lagi sangat lambat untuk menerima inovasi atau perubahan
tersebut. Hal ini disebabkan karena pada setiap orang
mempunyai kesediaan untuk berubah (readiness of change) yang
berbeda-beda. Setiap orang di dalam suatu masyarakat

5
mempunyai kesediaan untuk berubah yang berbeda-beda,
meskipun kondisinya yang sama.

Di dalam program-program kesehatan, agar diperoleh perubahan


perilaku yang sesuai dengan norma-norma kesehatan, sangat diperlukan
usaha-usaha konkret dan positif. Beberapa strategi untuk memperoleh
perubahan perilaku tersebut dikelompokkan menjadi 3 yakni :
1 Menggunakan kekuatan / kekuasaan atau dorongan.
Dalam hal ini perubahan perilaku dipaksakan kepada sasaran
atau masyarakat sehingga ia mau melakukan (berperilaku) seperti
yang diharapkan. Cara ini dapat ditempuh misalnya dengan adanya
peraturan-peraturan / perundang-undangan yang harus dipatuhi oleh
anggota masyarakat. Cara ini akan menghasilkan perubahan perilaku
yang cepat, akan tetapi perubahan tersebut belum tentu akan
berlangsung lama, karena perubahan perilaku yang terjadi tidak atau
belum berdasarkan kesadaran diri.

2 Pemberian informasi
Dengan memberikan informasi-informasi tentang cara-cara
mencapai hidup sehat, cara pemeliharaan kesehatan, cara-cara
menghindari penyakit, dan sebagainya akan meningkatkan
pengetahuan masyarakat tentang hal tersebut. Selanjutnya dengan
pengetahuan-pengetahuan itu akan menimbulkan kesadaran
mereka, dan akhirnya akan menyebabkan orang berperilaku sesuai
dengan pengetahuan yang dimilikinya itu. Hasil atau perubahan
perilaku dengan cara ini akan memakan waktu lama, tetapi
perubahan yang dicapai akan bersifat langgeng karena didasari
pada kesadaran mereka sendiri (bukan karena paksaan).

3 Diskusi dan Partisipasi


Cara ini adalah sebagai peningkatan cara yang kedua tersebut
di atas. Dimana dalam memberikan informasi-informasi tentang
kesehatan tidak bersifat searah saja, tetapi dua arah. Hal ini berarti
bahwa masyarakat tidak hanya pasif menerima informasi, tetapi
juga harus aktif berpartisipasi melalui diskusi-diskusi tentang

6
informasi yang diterimanya. Dengan demikian maka pengetahuan-
pengetahuan kesehatan sebagai dasar perilaku mereka diperoleh
secara mantap dan lebih mendalam, dan akhirnya perilaku yang
dilakukan akan lebih mantap juga, bahkan merupakan referensi
perilaku orang lain. Sudah barang tentu cara ini akan memakan
waktu yang lebih lama dari cara yang kedua tersebut, dan jauh
lebih baik dengan cara yang pertama. Diskusi partisipasi adalah
salah satu cara yang baik dalam rangka memberikan informasi-
informasi dan pesan-pesan kesehatan. (Notoatmodjo, 2003)

2.4 Promosi Kesehatan


Perubahan perilaku tersebut sangat berkaitan dengan promosi kesehatan.
Promosi kesehatan adalah segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatan dan
intervensi yang terkait dengan ekonomi, politik, dan organisasi, yang dirancang
untuk memudahkan perubahan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi
kesehatan. (Notoatmodjo, 2003)

2.4.1 Strategi Promosi Kesehatan


Untuk mewujudkan visi dan misi promosi kesehatan maka
diperlukan cara pendekatan yang strategis agar tercapai secara
efektif dan efisien. Cara ini sering disebut strategi. Jadi strategi
adalah carauntuk memperoleh atau mencapai visi dan misi promosi
kesehatan secara efektif dan efisien. (Notoatmodjo, 2012)
Strategi Global (Promosi Kesehatan), sebagai berikut :
a Advokasi (advocacy)
Kegiatan yang ditujukan kepada pembuat keputusan
(scision makers) atau penentu kebijakan (policy makers) baik
dibidang kesehatan maupun sektor lain diluar kesehatan, yang
mempunyai pengaruh terhadap publik. Tujuannya adalah agar
para pembuat keputusan mengeluarkan kebijakan-kebijakan,
antara lain dalam bentuk peraturan, undang-undang, intruksi,
dan sebagainya yang menguntungkan kesehatan publik. Bentuk

7
kegiatan advokasi ini antara lain lobying, pendekatan atau
pembicaraan-pembicaraan formal atau informal terhadap para
pembuat keputusan, penyajian isu-isu atau masalah-masalah
kesehatan atau yang mempengaruhi kesehatan masyarakat
setempat, seminar-seminar masalah kesehatan, dan sebaganya.
Output kegiata advokasi adalah undang-undang,
peraturan-peraturan daerah, intruksi-intruksi yang mengikat
masyarakat dan instansi-instansi yang terkait dengan masalah
kesehatan. Oleh sebab itu, sasaran advokasi adalah para pejabat
eksekutif, dan legeslatif, para pemimoin dan pengusaha, serta
prganisasi politik dan organisasi masyarakat, baik tingkat pusat,
provinsi, kabupaten, kecamatan maupun desa atau kelurahan.

b Dukungan Sosial (social support)


Kegiatan yang ditujukan kepada para tokoh masyarakat,
baik formal (guru, lurah, camat petugas kesehatan dan
sebagainya) maupun informal (tokoh agama, dan sebagainya)
yang mempunyai pengaruh dimasyarakat. Tujuan kegiatan ini
adalah agar kegiatan atau program kesehatan tersebut
memperoleh dukungan dari para tokoh masyarakat dan tokoh
agama. Sehingga, dapat menjembatani antara pengelola
program kesehatan dan masyarakat.
Pada masyarakat yang masih paternalistik seperti indonesia,
tokoh masyarakat dan tokok agama merupakan panutan
perilaku masyarakat yang sangat segnifikan. Oleh sebab itu,
jika tokoh masyarakat dan tokoh agama sudah menerapkan
perilaku sehat, maka akan mudah diterima oleh anggota
msyarakat lain. Bentuk kegiatan mencari dukungan sosial ini
antara lain pelatihan-pelatihan para tokoh masyarakat dan tokoh
agama, seminar, lokakarya, penyuluhan dan lain sebagainya.

c Pemberdayaan Masyarakat (empowerment)

8
Pemberdayaan ini ditujukan kepada masyarakat langsung,
sebagai sasaran primer atau utama promosi kesehatan.
Tujuannya adalah agar masyarakat memiliki kemampuan dalam
memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri.
Pemberdayaan masyarakat ini dapat diwujudkan dengan
berbagai kegiatan antara lain, penyuluhan kesehatan,
pengorganisasian dan pembangunan masyarakat dalam bentuk
misalnya, koperasi dan pelatihan ketrampilan dalam rangka
meningkatkan pendapatan keluarga (latihan menjahit,
pertukangan, pertenakan, dan sebagainya). Melalui kegiatan-
kegiatan tersebut diharapkan masyarakat memiliki kemampuan
untuk memelihara dan meningkatakan kesehatan mereka
sendiri. oleh karena itu bentuk kegiatan penggerakan
masyarakat untuk kesehatan misalnya, adanya dana sehat,
adanya pos obat desa, adanya gotong royong kesehatan, dan
sebagainya. Maka kegiatan ini, sering disebut gerakan
masyarakat untuk kesehatan. Meskipun demikian, tidak semua
pemberdayaan masyarakat itu berupa kegiatan gerakan
masyarakat.
Strategi promosi kesehatan diarahkan untuk
mengembangkan kebijakan guna mewujudkan masyarakat yang
sehat membina suasana, iklim, dan lingkungan yang
mendukung memperkuat dan mendorong kegiatan masyarakat
meningkatkan kemampuan dan ketrampilan perorangan,
mengupayakan pembangunan kesehatan yang lebih dapat
memberdayakan masyarakat. (Kholid, 2012)

2.4.2 Sasaran promosi kesehatan


Tujuan akhir atau visi akhir dari promosi kesehatan adalah
kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan
kesejahteraan mereka sendiri. dan visi ini jelas bahwa yang menjadi
sasaran utama promosi kesehatan adalah masyarakat, khususnya

9
perilaku masyarakat. Namun, dengan keterbatasan sumber daya,
akan tidak efektif apabila upaya atau kegiatan promosi kesehatan,
baik yang diselenggarakan oleh pemerintah atau swasta, langsung
ditujakan kepada masyarakat. Oleh sebab itu, perlu dilakukan
pentahapan sasaran promosi kesehatan. Sasaran promosi kesehatan
dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok sasaran.
a Sasaran Primer (Primary Target)
Masyarakat pada umunya menjadi sasaran langsung segala
upaya pendidikan atau promosi kesehatan. Sesuai dengan
permasalahan kesehatan maka sasaran ini dapat dikelompokkan
menjadi : kepala keluarga untuk masalah kesehatan umum, ibu
hamil dan menyusui untuk masalah KTA (Kesehatan ibu, dan
anak), anak sekolah untuk kesehatan remaja, dan
sebagainya.Upaya promosi yang dilakukan terhadap sasaran
primer ini sejalan dengan strategi pemberdayaan masyarakat
(empowerment).
b Sasaran Sekunder (Secondary Target)
Para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan
sebagainya. Disebut dengan sasaran sekunder karena dengan
meberikan pendidikan kesehatan kepada kelompok ini
diharapkan untuk selanjutnya kelompok ini akan memberikan
pendidikan kesehatan kepada masyarakat disekitarnya. Di
samping itu, dengan perilaku sehat para tokoh masyarakat
sebagai hasil pendidikan kesehatan yang diterima, maka para
tokoh masyarakat ini akan memberikan contoh atau acuan
perilaku sehat bagi masyarakat sekitarnya. Upaya promosi
kesehatan ditujukan kepada sasaran sekunder ini adalah sejalan
dengan strategi dukungan sosial (social support).
c Sasaran Tertier (Tertiary Target)
Para pembuat keputusan atau penentu kebijakan baik
ditingkat pusat, maupun daerah adalah sasaran tertier promosi
kesehatan. Dengan kebijakan-kebijakan atau keputusan yang
dikeluarkan oleh kelompok ini akan mempunyai dampak
terhadap perilaku para tokoh masyarakat, (sasaran sekunder), dan

10
juga kepada masyarakat umum (sasaran primer). Upaya promosi
kesehatan yang ditujukan kepada sasaran tertier ini sejalan
dengan strategi advokasi (advocacy). (Notoatmodjo, 2012)

2.4.3 Pendekatan Promosi Kesehatan


Dalam beraneka ragam model promosi kesehatan dan
pendidikan kesehatan adalah alat analisis yang berguna, yang dapat
membantu memperjelas tujuan dan nilai promosi kesehatan. Suatu
kerangkat yang terdiri dari 5 pendekatan bagi promosi kesehatan
yang menunjukkan nilai yang melekat pada masing-masing
pendekatan. (Fitriani, 2010)
1 Pendekatan Medic
Tujuan dari pendekatan ini adalah kebebasan dari
penyakit dan kecacatan yang didefinisikan secara medic,
seperti penyakit infeksi, kanker, dan penyakit jantung.
Pendekatan ini melibatkan kedokteran untuk mencegah atau
meringankan kesakitan, mungkin dengan metode persuasive
maupun paternalistic. Sebagai contoh, memberitahu orang tua
agar membawa anak mereka untuk imunisasi, wanita untuk
memanfaatkan klinik keluarga berencana dan pria umur
pertengahan untuk dilakukan screening takanan darah.
Pendekatan ini memberikan arti penting dari tindakan
pencegahan medic dan tanggung jawab profesi kedokteran
untuk membuat kepastian bahwa pasien patuh pada prosedur
yang dianjurkan. Kegiatan untuk mengembangkan pendekatan
ini meliputi penyebaran kampanye melalui media atau
pendidikan. Fokusnya adalah taktik persuasive serta
menempatkan tanggung jawab individu untuk membuat
pilihan dan pencegahan penyakit.

2 Pendekatan Perubahan Perilaku


Pendekatan ini dilakukan dengan cara mendorong
seseorang untuk menjalankan perilaku kesehatan dan

11
menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan dari
pendekatan ini adalah mengubah sikap dan perilaku individu
masyarakat, sehingga mereka mengambil gaya hidup sehat.
Contohnya antara lain mengajarkan orang bagaimana
menghentikan merokok, pendidikan tentang minum alcohol
wajar, mendorong orang untuk melakukan latihan olahraga,
memelihara gigi, makan-makanan yang baik dan seterusnya.
Orang-orang yang menerapkan pendekatan ini akan merasa
yakin bahwa gaya hidup sehat merupakan hal paling baik
bagi kliennya dan akan melihatnya sebagai tanggung jawab
mereka untuk mendorong sebanyak mungkin orang untuk
mengadopsi gaya hidup sehat yang menguntungkan.
Pendekatan yang dibutuhkan adalah komunikasi,
konseling, pendidikan, pemberdayaan, membuat kebijakan
serta peran serta masyarakat dan membangun jaringan
dukungan sosial.

3 Pendekatan Educational
Tahap pendekatan ini melalui cara memfasilitasi
individu untuk proses pembelajaran dan cara memfasilitasi
penunjang dalam proses belajar melalui dialog terbuka atau
diskusi.
Tujuan dari pendekatan ini adalah memberikan
informasi dan memastikan pengetahuan dan pemahaman
tentang perihal kesehatan dan membuat keputusan yang
ditetapkan atas dasar informasi yang ada. Informasi tentang
kesehatan disajikan dan dua orang dibantu untuk menggali
nilai dan sikap, dan membuat keputusan mereka sendiri.
Bantuan dalam pelaksanaan keputusan-keputusan itu
dan mengadopsi praktik kesehatan baru dapat pula
ditawarkan, program pendidikan kesehatan sekolah, misalnya
menekankan membantu murid dalam mempelajari berbagai
ketrampilan hidup yang sehat, tidak hanya memperoleh

12
pengetahuannya. Orang-orang yang mendukung pendekatan
ini akan memberi arti tinggi bagi proses pendidikan, akan
menghargai hal individu untuk memilih perilaku mereka
sendiri, dan akan melihatnya sebagai tanggung jawab mereka
mengangkat bersama persoalan-persoalan kesehatan yang
mereka anggap menjadi hal paling baik bagi klien mereka.

4 Pendekatan Yang Berpusat Pada Klien


Pendekatan ini didasarkan pada persamaan atatus
antara tenaga kesehtan dan klien. Yaitu memberikan
bimbingan, support dan mendorong klien untuk mengambil
keputusan.
Tujuan dari pendekatan ni adalah bekerja dengan klien
agar dapat membantu mereka mengidentifikasi apa yang ingin
mereka ketahui dan lakukan, dan membuat keputusan dan
pilihan mereka sendiri sesuai dengan kepentingan dan nilai
mereka. Peran promokator kesehatan adalah bertindak sebagai
fasilitator, membantu orang mengidentifikasi kepedulian-
kepedulian mereka dan memperoleh pengetahuan agar
memungkinkan terjadi perubahan. Pemberdayaan diri sendiri
klien dilihat sebagai central dari tujuan ini. Klien dihargai
sama yang mempunyai pengetahuan, ketrampilan dan
kemampuan berkontribusi dan siapa yang mempunyai hak
absolute untuk mengontrol tujuan kesehatan sendiri.

5 Pendekatan Perubahan Social


Tujuan dari pendekatan ini adalah melakukan
perubahan-perubahan pada lingkungan fisik, social, dan
ekonomi, supaya dapat membuatnya lebih mendukung untuk
keadaan yang sehat. Contohnya adalah mengubah masyarakat,
bukan pada pengubahan perilaku individu-individunya.
Orang-orang yang menerapkan pendekatan ini memberikan
nilai penting bagi hak demokrasi mereka mengubah

13
masyarakat, mempunyai komitmen pada penempatan
kesehatan dalam agenda politik di berbagai tingkat dan pada
pentingnya pembentukan lingkungan yang sehat daripada
pembentukan kehidupan individu-individu orang yang tinggal
di tempat itu. (Fitriani, 2010)

2.4.4 Peran Promosi Kesehatan Dalam Perubahan Perilaku


Promosi kesehatan dalam arti pendidikan, secara umum adalah
segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain, baik
individu, kelompok, atau masyarakat, sehingga mereka melakukan apa
yang mereka harapkan oleh pelaku pendidikan atau promosi
kesehatan. Dan batasan ini tersirat beberapa unsur :
a Input adalah sasaran pendidikan (Individu, kelompok,
masyarakat), dan pendidik pelaku pendidikan,
b Proses adalah (upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi
orang lain),
c Output adalah (melakukan apa yang diharapkan atau perilaku)

Hasil output yang diharapkan dari suatu promosi atau


pendidikan kesehatan adalah perilaku kesehatan, atau perilaku untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan yang kondusif. Perubahan
perilaku yang belum atau tidak kondusif ke perilaku yang kondusif ini
mengandung berbagai dimensi perubahan perubahan perilaku,
pembinaan perilaku, dan pengembangan perilaku. (Notoatmodjo,
2012)

14
2.5 Analisis Studi Kasus
Analisis dari studi kasus menggunakan 5W+1H yaitu what(apa), when(kapan),
where(dimana), who(siapa), why(mengapa), dan how(bagaimana). Berikut
penjelasan dari analisis studi kasus.
a Permasalahan apa yang terjadi : Angka Kematian Bayi di Probolinggo
Dari Januari sampai September 2016 Capai 145 Kasus

b Siapa yang mengalami masalah tersebut:Ibu-ibu yang mengandung dan


melahirkan

c Dimana terjadinya masalah tersebut : Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur

d Kapan masalah tersebut terjadi:Januari September 2016

e Mengapa permasalahan tersebut bisa terjadi : faktor yang berkontribusi


terhadap kematian ibu secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi
penyebab langsung dan penyebab tidak langsung yakni penyebab langsung
kematian ibu adalah faktor yang berhubungan dengan komplikasi
kehamilan,persalinan dan nifas seperti perdarahan, preeklampsia/eklamsia,
infeksi, persalinan macet dan abortus. Sedangkan penyebab tidak langsung
kematian ibu karena faktor-faktor yang memperberat keadaan ibu hamil
seperti kesulitan proses penanganan kedaruratan kehamilan, persalinan dan
nifas yang terlambat mengenali tanda bahaya dan mengambil keputusan,
terlambat mencapai fasilitas kesehatan, serta terlambat penanganan
kegawatdaruratan.

f Bagaimana solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut: Untuk


mengatasi permasalahan tersebut, maka pelayanan antenatal perlu
dilaksanakan secara komprehensif dan terpadu, mencakup upaya promotif,
preventif sekaligus kuratif dan rehabilitatif meliputi pelayanan kesehatan
ibu dan anak, gizi, serta pengendalian penyakit menular.

Menurut kelompok kami, solusi yang tepat dalam menangani kasus


Angka Kematian Bayi yang terus meningkat dapat dilakukan dengan
promosi kesehatan. Strategi promosi kesehatan yang sesuai yakni strategi

15
Pemberdayaan Masyarakat (empowerment). Pemberdayaan ini ditujukan
kepada masyarakat langsung yakni ibu-ibu yang mengandung dan
melahirkan di Kota Probolinggo sebagai sasaran primer. Pemberdayaan
masyarakat ini dapat diwujudkan dengan melakukan penyuluhan
kesehatan kepada sang ibu mengenai informasi-informasi penting terkait
kehamilan dan proses melahirkan. Informasi tersebut dapat berupa
pentingnya mengkonsumsi makanan bergizi pada masa kehamilan,
perlakuan-perlakuan khusus saat mengandung agar calon bayi yang ada
tetap terjaga keberadaannya, penguatan mental sang ibu terkait kesiapan
untuk melahirkan, serta anjuran persalinan melalui pelayanan kesehatan
profesional (dokter, bidan). Dengan adanya penyuluhan mengenai hal-hal
penting yang harus dilakukan saat mengandung dan melahirkan, maka
dapat menambah pengetahuan sang ibu sehingga akan melakukan
perilaku-perilaku yang dapat mendukung kesehatan sang bayi sehingga
terjadinya kematian bayi saat melahirkan dapat diminimalisir.

Selain itu, solusi untuk mengatasi kasus ini juga dapat dilakukan
dengan menggunakan pendekatan medic: Pendekatan ini melibatkan
kedokteran untuk mencegah atau meringankan kesakitan, mungkin dengan
metode persuasive. Metode persuasif atau metode mempengaruhi dapat
dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan cara memberitahu para ibu
mengenai penting nya check up kondisi kehamilan untuk mengetahui
kondisi janin saat berada di dalam kandungan. Dengan metode ini, ibu-ibu
hamil akan terpengaruh untuk merubah perilaku yang awalnya jarang atau
tidak pernah melakukan check up menjadi rutin check up di waktu tertentu
sehingga keadaan janin dapat terkontrol. Keadaan janin yang terkontrol
dapat meminimalisir angka kematian bayi saat proses melahirkan karena
segala perkembangan janin saat masa kehamilan mendapatkan
pengawasan oleh dokter sehingga jika terjadi hal-hal yang membahayakan
dapat segera diatasi.

Pendekatan Perubahan Perilaku : Dalam promosi kesehatan yang


diperlukan yaitu perubahan perilaku kepada ibu hamil dengan melakukan

16
pendekatan ini dapat mendorong ibu hamil dapat menerapkan kesehatan
bayi yang ada dalam kandungannya, dengan mengajarkan ibu hamil
tentang bagaimana menjaga bayi dalam kandungan agar tetap sehat dan
selamat jika dilahirkan seperti, memakan makanan yang bergizi, menjaga
kesehatan bayi dan lain-lain. Dengan hal tersebut memicu ibu hamil dapat
menerapkan hidup sehat, dapat merubah perilaku yang sebelumnya tidak
baik akan mendorong perilaku yang seharusnya dilakukan dalam
kehidupan sehari-hari serta terhindar dengan penyakit-penyakit yang
menular seperti HIV dan lain-lain. Sehingga, dengan pendekatan ini dapat
mempengaruhi perilaku ibu hamil.

Pendekatan Educational : Pendekatan ini adalah memberikan


informasi dan memastikan pengetahuan dan pemahaman tentang perihal
kesehatan dan membuat keputusan yang ditetapkan. Pendekatan ini tidak
hanya dilakukan kepada ibu hamil saja tetapi diperlukan orang terdekat
atau keluarga dalam pemberian informasi. Keluarga dapat berperan
penting dalam mengambil keputusan seperti halnya pada memutuskan
persalinan yang baik yang akan dilakukan. Dengan pendekatan ini
pemahaman dan pengetahuan dapat menjadi dasar dalam menghindari
angka kematian ibu dan bayi.

Pendekatan Perubahan Social : dilakukan perubahan ini yaitu


dengan merubah lingkungan fisik masyarakat yang tinggal pada suatu
wilayah tersebut. Dengan melakukan perubahan pada suatu wilayah
masyarakat individu pasti dapat mempunyai komitmen dalam penempatan
kesehatan dalam agenda politik di berbagai tingkat dan pada pentingnya
pembentukan lingkungan yang sehat daripada pembentukan kehidupan
individu-individu orang yang tinggal di tempat itu. Dengan ini
mempengaruhi wilayah probolinggo dalam menerapkan hal hal yang
berkaitan dengan kesehatan ibu hamil. Dengan hal ini jika suatu
masyarakat menerapkan hal ini, setiap individu pasti akan berkomitmen
dalam menerapkan kesehatan. Dari kasus ini peran komunikasi dan
promosi kesehatan memilik peran penting untuk memberikan

17
pengetahuan, perubahan perilaku serta dalam menurunkan angka kematian
ibu dan anak.

18
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Komunikasi kesehatan berperan penting dalam meningkatkan kesadaran
individu tentang isu-isu kesehatan, masalah kesehatan, resiko kesehatan serta
solusi kesehatan. Peningkatan kesadaran individu dapat mempengaruhi
berbagai macam perilaku yang berada pada luang lingkup keluarga, masyarakat
dan lingkungan. Komunikasi kesehatan menjadi komponen utama dalam
melakukan promosi kesehatan, dengan promosi kesehatan perubahan perilaku
dapat dicapai dengan baik serta komunikasi dapat menemukan solusi kesehatan
yang tepat sehubungan dengan kasus kesehatan yang dihadapi ataupun kasus
kesehatan lain, seperti kasus kesehatan penyakit genetik.
Berkomunikasi dalam bentuk promosi kesehatan, dapat mewujudkan
pendekatan yang bekerja sama dengan masyarakat untuk mencari pemecahan
masalah mereka sendiri, seperti memberikan informasi yang mereka perlukan
dalam membuat keputusan terkait kesehatan. Dengan adanya promosi
kesehatan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Saran
Komunikasi kesehatan sangat berperan dalam proses perubahan perilaku
seseorang. Komunikasi tersebut diwujudkan dalam bentuk promosi kesehatan.
Dalam melakukan promosi kesehatan, komunikator dapat menyampaikan
informasi dengan baik sehingga komunikan dapat terpengaruh dan berdampak
pada perubahan perilaku mereka.

19
DAFTAR PUSTAKA

Fitriani, S. (2011). Promosi Kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu.


Herman., F. A. (2013). Komunikasi Kesehatan untuk Mahasiswa Institusi
Kesehatan. Jakarta: IN MEDIA.
Kholid, A. (2012). Promosi Kesehatan Dengan Pendekatan Teori
Perilaku, Media, dan Aplikasinya. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Notoadmodjo, S. (2012). Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Notoatmodjo, P. D. (2003). Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip
Dasar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

20
LAMPIRAN

Rawat Bayi ()
Untuk tahun 2016 hingga September tercatat jumlah AKI mencapai 15
kasus dan AKB mencapai 145 kasus,
Probolinggo (Antara Jatim) - Data Dinas Kesehatan Kabupaten
Probolinggo, Jawa Timur mencatat angka kematian bayi (AKB) sejak Januari
hingga September 2016 tercatat sebanyak 145 kasus dan angka kematian ibu
(AKI) sebanyak 15 kasus.

"Untuk tahun 2016 hingga September tercatat jumlah AKI mencapai 15


kasus dan AKB mencapai 145 kasus," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes)
Kabupaten Probolinggo dr. Shodiq Tjahjono di Probolinggo, Jumat.

Menurutnya, AKI pada tahun 2014 sebesar 130,51 per 100.000 Kelahiran
Hidup (KH) dan AKB sebesar 12,50 per 1.000 KH, sedangkan tahun 2015
tercatat AKI sebesar 140,62 per 100.000 KH dan AKB sebesar 13,09 per 1.000
KH.

"AKB dan AKI cenderung naik, sehingga Dinkes menggelar beberapa


kegiatan dengan melibatkan dokter puskesmas dan bidan untuk mendorong
komitmen menurunkan AKI dan AKB tersebut di Kabupaten Probolinggo,"
tuturnya.

Ia mengatakan faktor yang berkontribusi terhadap kematian ibu secara


garis besar dapat dikelompokkan menjadi penyebab langsung dan penyebab
tidak langsung yakni penyebab langsung kematian ibu adalah faktor yang
berhubungan dengan komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas seperti
perdarahan, pre eklampsia/eklamsia, infeksi, persalinan macet dan abortus.

"Sedangkan penyebab tidak langsung kematian ibu karena faktor-faktor


yang memperberat keadaan ibu hamil seperti kesulitan proses penanganan

21
kedaruratan kehamilan, persalinan dan nifas yang terlambat mengenali tanda
bahaya dan mengambil keputusan, terlambat mencapai fasilitas kesehatan, serta
terlambat penanganan kegawatdaruratan," katanya.

Faktor lain, lanjut dia, penyakit menular seperti HIV-AIDS dan TBC,
serta penyakit yang tidak menular seperti hipertensi dan jantung.

"Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka pelayanan antenatal perlu


dilaksanakan secara komprehensif dan terpadu, mencakup upaya promotif,
preventif sekaligus kuratif dan rehabilitatif meliputi pelayanan kesehatan ibu
dan anak, gizi, serta pengendalian penyakit menular," ujarnya.

Sementara Kasi Kesehatan Ibu, Bayi dan Reproduksi Dinkes Probolinggo


Sutilah mengatakan Dinkes sudah melakukan kegiatan untuk menekan AKI
dan AKB dengan melakukan pertemuan Dinkes bersama RSUD Waluyo Jati,
IDI, IBI, kepala puskesmas, dokter puskesmas, serta bidan koordinator
puskesmas dari Besuk, Lumbang, Wangkal, Krejengan, Banyuanyar, Maron
dan Gending.

"Kegiatan itu bertujuan untuk menurunkan jumlah kematian ibu dan bayi
di Kabupaten Probolinggo dan mengingat kompleksnya penyebab kematian
ibu, maka diperlukan kerja sama dari semua pihak, serta turut berperan aktif
memberikan kontribusi positif," katanya.(*)

Editor: Chandra Hamdani Noe

22