Anda di halaman 1dari 8

Laporan Kerja Praktek

I Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya


PT SIER - PIER

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Proses IPAL PIER

Metode pengolahan limbah yang digunakan di IPAL PIER adalah secara


fisika-biologi, karena pada pengolahan limbah ini hanya menerima buangan limbah
dengan golongan III, jadi sebelum limbah pabrik diproses pada IPAL ini pihak
pabrik harus melakukan pre-treatment pada buangan limbahnya terlebih dahulu
sebelum dialirkan ke dalam IPAL. Di kawasan industri PIER limbah buangan
bukan hanya limbah buangan industri saja tapi juga limbah domestik dari kegiatan
domestic para pekerja pabrik dan perkantoran di kawasan PIER. Adapun garis
bersar proses pengolahan air limbah di PIER dapat dilihat Gambar 4.1

Bak Ekualisasi
Air Limbah (Bak Pengendapan Grit Chamber
Pertama)

Bak Pengendapan
Oxidation Ditch I/II Distribution Box I
Kedua

Lumpur Lumpur

Bak Pengering
Distribution Box II Lumpur
Lumpur

Lumpur

Bak Pengendapan
Kolam Indikator Lumpur Kering
Akhir

Gudang
Badan Air Penyimpanan
Sementara

Gambar 4.1 Diagram Alir Pengolahan di IPAL PIER

Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri 22


Institut Teknologi Adhi Tama
Laporan Kerja Praktek
I Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
PT SIER - PIER

4.1.1 Bak Kontrol Pabrik

Limbah buangan sebelum memasuki IPAL terlebih dahulu ditampung bak


kontrol yang berada di depan masing-masing perusahaan/pabrik. Bak kontrol ini
berfungsi untuk tempat penampungan dan pengambilan sampel limbah cair pabrik
untuk di analisis kandungan limbahnya jika dibutuhkan.

4.1.2 Rumah Pompa

Setelah dari bak kontrol limbah-limbah cair perusahaan yang berada pada
dataran yang lebih rendah dari IPAL akan dikumpulkan terlebih dahulu di rumah
pompa, pada bagian ini limbah dikumpulkan untuk mengatur debitnya agar tidak
terjadi air limbah yang memasuki bak ekualisasi tidak berlebihan.

4.1.3 Bak Ekualisasi

Bak ekualisasi adalah tempat awal limbah masuk ke IPAL PIER, pada bagian
ini limbah diendapkan untuk memisahkan pengotor yang berupa padatan dengan
cara mengendapakan zat pengotor yang memiliki massa jenis yang lebih besar dan
memisahkan zat yang memiliki massa rendah yang berada di permukaan. Lalu
untuk limbah yang mengapung akan dipisahkan dengan mengalirkan sisi atas kolam
ke aliran samping bak equalisasi. Untuk waktu tinggal limbah cair pada bak
equalisasi kurang lebih 2-5 jam karena pengendapannya dengan gaya gravitasi dan
jika terlalu lama maka akan terjadi pembusukan pada bagian ini dan menimbulkan
bau busuk.

4.1.4 Grit Chamber

Air limbah yang lolos dari Bak Ekualisasi akan menuju Grit Chamber. Grit
Chamber memiliki fungsi yang sama dengan sedimentasi tapi pada bagian ini
mengendapkan partikel-partikel kecil yang tidak mengendap pada proses
sebelumnya seperti pasir pasir yang masih ada di dalam air limbah tersebut.

4.1.5 Bak Pengendapan

Dari Grit Chamber air limbah di alirkan ke bak pengendapan, alat yang
digunakan pada bak pengendapan kedua adalah clarifier. Prinsip kerja alat ini
adalah dengan mengendapkan pengotor berupa padatan seperti lumpur atau pasir

Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri 23


Institut Teknologi Adhi Tama
Laporan Kerja Praktek
I Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
PT SIER - PIER

yang masih terbawa dengan gaya gravitasi dan endapan tersebut dikumpulkan ke
tengah clarifier oleh scrapper bridge yang terus berputar. Lumpur dan pasir yang
mengendap di bawah clarifier akan dialirkan ke bak pengering lumpur untuk
mengurangi kadar air lumpur. Kecepatan putar scrapper bridge adalah 45 menit
untuk satu putaran penuh.

4.1.6 Distribution Box I

Air limbah yang telah di pisahkan lumpur dan pasirnya oleh Bak Pengendap
Kedua akan dialirkan ke Oxidation Ditch I dan II namun sebelum dialirkan ke
Oxidation Ditch air limbah harus melalui Distribution Box I terlebih dahulu untuk
menyesuaikan debit air limbah karena tiap Oxidation Ditch memiliki batas debit
tertentu.

4.1.7 Oxidation Ditch I/II

Oxidation Ditch adalah tempat penyuplai oksigen kedalam air limbah dan
tempat penguraian kandungan limbah oleh lumpur aktif, di dalam lumpur aktif ini
terdapat banyak sekali mikroorganisme. Mikroorganisme ini berfungsi untuk
mengurai kandungan limbah/bahan kimia yang ada pada air limbah.
IPAL PIER memiliki 4 kolam Oxidation Ditch, tetapi hanya 2 Oxidation
Ditch saja yang digunakan untuk mengolah limbah di kawasan PIER karena
kapasitas air limbah yang diproses dirasa masih cukup dengan hanya menggunakan
2 Oxiddation Ditch. Pada Oxidation Ditch ini air limbah akan di beri asupan oksigen
dengan 4 buah Mammoth Rotor dan waktu tinggal air limbah biasanya sekitar 20-
24 jam.

4.1.8 Distribution Box II

Setelah dari Oxidation Ditch air limbah yang telah tercampur dan terurai oleh
lumpur aktif langsung dialirkan ke Distribution Box II untuk mengatur debit air
limbah yang masuk ke Bak Pengendapan Terakhir.
Selain berfungsi untuk mengatur debit air limbah ke pengendapan akhir,
Distribution Box II juga digunakan untuk mengumpulkan lumpur-lumpur yang
telah dipisahkan dari air limbah yang telah diendapkan di bak pengendapan akhir.
Distribution box ini juga sangat penting untuk mengatur jumlah lumpur yang

Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri 24


Institut Teknologi Adhi Tama
Laporan Kerja Praktek
I Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
PT SIER - PIER

digunakan dan untuk memisahkan lumpur aktif yang telah mati atau tidak bisa
digunakan lagi. Lumpur aktif yang masih bisa digunakan akan dialirkan kembali ke
oxidation ditch I/II untuk mengurai air limbah yang masuk ke IPAL PIER dan untuk
lumpur aktif yang telah mati akan dibawa ke bak pengering lumpur untuk
mengurangi kadar airnya.

4.1.9 Bak Pengendapan Akhir

Air limbah yang telah melalui Distribution Box II di alirkan ke bak


pengendapan akhir. Cara kerja bak pengandapan akhir sama dengan bak
pengendapan kedua, tapi pada bak pengendapan akhir air limbah sudah cukup
bening karena kandungan limbah pada air limbah sudah menurun drastis dan
lumpur juga di endapkan untuk digunakan kembali dengan dialirkan menuju
Distribution Box II. Setelah keluar dari bak pengendapan ini air limbah akan
langsung menuju kolam indikator

4.1.10 Kolam Indikator

Sebelum air limbah dibuang ke badan air, terlebih dahulu air di alirkan ke
kolam indikator untuk mengetahui bagaimana dampak air limbah terhadap biota air.
Oleh karena itu indikator yang di gunakan pada kolam ini adalah ikan, agar kita
bisa dengan mudah mengetahui air buangan kita berbahaya atau tidak dengan
melihat ikan akan mati atau tidak jika berada pada air yang telah di proses tersebut.

4.1.11 Bak Pengering Lumpur

Bak Pengering Lumpur adalah tujuan akhir lumpur atau pengotor yang tidak
digunakan. Di sini lumpur akan di keringkan beberapa hari dengan cara
membiarkan lumpur terkena sinar matahari beberapa hari hingga kering. Setelah
lumpur cukup kering lumpur akan di pindahkan ke Gudang Penyimpanan Lumpur

4.1.12 Gudang Penyimpanan Lumpur

Gudang ini adalah tempat semua lumpur kering dikumpulkan, semua lumpur
yang ada disini tidak bisa dibuang langsung ke alam karena lumpur yang telah di
gunakan dalam proses masih mengandung bahan-bahan berbahaya dan termasuk
limbah B3, oleh karena itu lumpur ini nantinya akan di kirimkan ke PPLI Bogor

Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri 25


Institut Teknologi Adhi Tama
Laporan Kerja Praktek
I Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
PT SIER - PIER

untuk di proses oleh pihak PPLI agar tidak mencemari lingkungan. Jadwal
pengirimannya bergantung jumlah lumpur yang telah dikumpulkan, jika sudah
cukup banyak maka akan dikirim ke PPLI Bogor, namun biasanya bisa 1-2kali
dalam seminggu.

4.2 Hasil dan Pembahasan Analisa Harian

4.2.1 Hasil Analisa Harian

Dari kegiatan harian yang kami lakukan di lokasi KP kami ada beberapa
analisa yang kita lakukan dan mendapat hasil yang dapat dilihat pada Tabel 4.1,
hasil analisa ini merupakan hasil analisa pada 13 september 2016

Tabel 4.1 Hasil Analisa Harian


No Parameter Hasil Analisa
1 PH 7
2 COD (mg/L) 91,96
3 BOD (mg/L) 41,157
4 Analisa NH4 (mg/L) 4,143
5 Analisa CN (mg/L) 0,002
6 Analisa PO4 (mg/L) 6,295
7 Analisa NO3 (mg/L) 24,37

4.2.2 Pembahasan

Dari hasil analisa di atas ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu
kandungan air limbah yang akan dibuang harus memenuhi baku mutu yang
ditetapkan oleh PIER agar tidak menyebabkan kerusakan ekosistem di sekitar
daerah pembuangan limbah tersebut.
Tabel 4.2 Parameter Standar Buangan Air Limbah

Parameter Standar Buangan

Suhu 40o C
Jumlah padatan
2000 mg/L
terlarut
Jumlah padatan
400 mg/L
tersuspensi

Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri 26


Institut Teknologi Adhi Tama
Laporan Kerja Praktek
I Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
PT SIER - PIER

Parameter Standar Buangan

Warna 300 skala Pt.CO.


pH 69
Besi (Fe) 30 mg/L
Mangan (Mn) 10 mg/L
Barium (Ba) 5 mg/L
Tembaga (Cu) 5 mg/L
Seng (Zn) 5 mg/L
Kadmium (Cd) 1 mg/L
Merkuri/raksa (Hg) 0,005 mg/L
Timbal putih (Sn) 2 mg/L
Timbal (Pb) 3 mg/L
Arsen (As) 1 mg/L
Nikel (Ni) 2 mg/L
Kobalt (Co) 1 mg/L
Sianida (CN) 1 mg/L
Sulfida (S) 1 mg/L
Flourida (F) 30 mg/L
Amoniak bebas (NH3) 20 mg/L
Nitrat (NO3) 50 mg/L
Nitrit (NO2) 5 mg/L
Phospat (PO4) 20 mg/L
Sulfat (SO4) 500 mg/L
COD (O2) 3000 mg/L
BOD (O2) 1500 mg/L
Detergen (EMBAS) 5 mg/L
Phenol (C3H6OH) 2 mg/L
Amonium (NH4) 15 mg/L
Klorida (Cl) 500 mg/L
Sumber: PERGUB JATIM No. 72 Tahun 2013

Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri 27


Institut Teknologi Adhi Tama
Laporan Kerja Praktek
I Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
PT SIER - PIER

Dari parameter kandungan air limbah yang sudah ditentukan di Tabel 4.2
adapun beberapa dampak akibat kandungan limbah yang melebihi parameter,
antara lain:

Dampak kandungan pH yang tidak sesuai parameter

Ketidaksesuaian pH dengan baku mutu yang ditetapkan akan


menyebabkan matinya mikroorganisme dan beberapa biota air, hal ini
dikarenakan keadaan atau lingkungan hidupnya tidak sesuai dengan pH
optimum (pH 7-9), selain itu pH yang terlalu tinggi atau rendah
menyebabkan pencemaran bagi badan air penerima

Dampak Kandungan COD Berlebih

Kadar COD yang tinggi menunjukan bahwa tingginya pencemaran


pada air tersebut sehingga jumlah oksigen pada air itu sangat sedikit dan
tingginya kadar COD. Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa
tingginya kadar COD menyebabkan biota air dan manusia tidak dapat
menggunakan air tersebut karena mengandung bahan anorganik tinggi dan
oksigen yang sangat rendah sehingga dapat membahayakan dan merusak
ekosistem.

Dampak Kandungan BOD Berlebih

Kadar BOD bertujuan untuk melihat kebutuhan mikroba terhadap


oksigen dalam menguraikan bahan-bahan organik, sehingga jika BOD
tinggi menunjukan banyaknya mikroba yang ada dalam air tersebut dan
tingginya kadar BOD berarti kurangnya atau rendahnya kadar oksigen pada
air sehingga biota air lain seperti ikan tidak dapat hidup di sana karena tidak
ada oksigen yang cukup.

Dampak Kandungan NH4 Berlebih

NH4 atau ammonia adalah bahan kimia yang bersifat racun bagi
mahkluk hidup, oleh karena itu jika dalam kandungan tinggi bahan ini dapat
menyebabkan sesak nafas bagi manusia dan hewan karena ammonia mudah
menguap dalam suhu ruang, tetapi untuk kadar rendah ammonia jika dalam

Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri 28


Institut Teknologi Adhi Tama
Laporan Kerja Praktek
I Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
PT SIER - PIER

air dapat teroksidasi menjadi NO3 yang bertindak sebagai nutrient untuk
pertumbuhan ganggang secara eksesif, namun oksidasi ammonia
membutuhkan oksigen terlarut yang tinggi.

Dampak Kandungan CN Berlebih

CN merupakan bahan kimia yang sangat beracun, seperti ammonia


CN dapat menyebab sesak nafas, tetapi dalam kadar yang sangat rendah
sekali CN tidak menyebabkan efek samping seperti halnya CN yang
terdapat pada buah-buahan yang memiliki biji dan rongga seperti ceri,
apricot, almond pahit, umbi umbian dan sebagainya.

Dampak Kandungan PO4 dan NO3 Berlebih

PO4 atau Fosfor dan NO3 atau Nitrat merupakan nutrient bagi
mikrobiologi dan tumbuhan air, karena kedua unsur tersebut biasanya
digunakan untuk fotosintesis tumbuhan dan nutrient utama mikrobiologi
yang membantu perkembangan mereka. Tetapi tingginya kadar Fosfor dan
Nitrat dapat merusak ekosistem secara tidak langsung, karena jika
kandungan Fosfor dan Nitrat maka akan terjadi pertumbuhan dan
perkembangan mikroorganisme dan tumbuhan air yang tidak terkendali
yang dapat menyebabkan hewan air keracunan yang diakibatkan oleh zat
toksin yang dihasilkan fitoplankton( genus Dinoflagelata) dan menurunnya
kadar oksigen terlarut akibat meledaknya jumlah mikroorganisme dan
tumbuhan air.

Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri 29


Institut Teknologi Adhi Tama