Anda di halaman 1dari 76

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DALAM

KONTEKS PERAWATAN KESEHATAN UTAMA DI DESA


BAKUNGLOR KECAMATAN JAMBLANG
KABUPATEN CIREBON TAHUN 2013

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna menyelesaikan


Program Pendidikan Ners STIKes Cirebon

Disusun Oleh :
1. Andy Kurniawan Eko Saputro
2. Aan Nurhasanah 14. Liza Azizah Tusyadiah
3. Ade Sudarsono 15. Novi Yusliani
4. Ade Teti Suhaeti 16. Nani Carnani
5. Deasy Andiyanti 17. Pipit Agustika
6. Dewi Nurmaya 18. Pipin Vinalia
7. Eni Rohayati 19. Rini Abriyani
8. Engkus Kusliah 20. Rika Hernawati
9. Endin Wahyudin 21. Sujana
10. Heriyana 22. Sri Hastuti Meilani
11. Iis Indra Yuniasih 23. Sumarno
12. Jaja Sutarja 24. Tatang
13. Jajang Suteja 25. Ujang Haerudin

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) CIREBON
CIREBON
2013

27
28

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DALAM


KONTEKS PERAWATAN KESEHATAN UTAMA DI DESA
BAKUNGLOR KECAMATAN JAMBLANG
KABUPATEN CIREBON TAHUN 2013

Disusun Oleh :

1. Andy Kurniawan Eko Saputro


2. Aan Nurhasanah 14. Liza Azizah Tusyadiah
3. Ade Sudarsono 15. Novi Yusliani
4. Ade Teti Suhaeti 16. Nani Carnani
5. Deasy Andiyanti 17. Pipit Agustika
6. Dewi Nurmaya 18. Pipin Vinalia
7. Eni Rohayati 19. Rini Abriyani
8. Engkus Kusliah 20. Rika Hernawati
9. Endin Wahyudin 21. Sujana
10. Heriyana 22. Sri Hastuti Meilani
11. Iis Indra Yuniasih 23. Sumarno
12. Jaja Sutarja 24. Tatang
13. Jajang Suteja 25. Ujang Haerudin

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) CIREBON
CIREBON
2013
29

LEMBAR PERSETUJUAN

SATUAN MATA AJAR KEPERAWATAN KOMUNITAS

Cirebon, Nopember 2013


Disahkan Oleh :

Ketua Program Profesi Ners Pembimbing Akademik

Supriatin, S.Kep, Ns Awaludin Jahid Abdilah, S.Kp


30

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan

rahmat dan hidayahnya-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan

Kegiatan Praktek Belajar Lapangan dengan judul Laporan Asuhan Keperawatan

Komunitas Dalam Konteks Perawatan Kesehatan Utama Di Desa Bakunglor

Kecamatan Jamblang Kabupaten Cirebon Tahun 2013.

Adapun tujuan penulisan laporan ini untuk memenuhi salah satu syarat dalam

menempuh pendidikan Profesi Ners Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes)

Cirebon.

Penulis telah berupaya seoptimal mungkin untuk dapat menyelesaikan laporan

kegiatan praktek belajar lapangan ini dengan sebaik-baiknya, namun penulis

menyadari banyak kekurangan dan jauh dari sempurna, untuk itu penulis

mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak.

Penulis berharap semoga laporan kegiatan praktek belajar lapangan ini

bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Dalam penyusunan

laporan ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak,

oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih

kepada yang terhormat :

1. Drs. H. E. Djumhana Cholil, MM, selaku Ketua Yayasan RISE Cirebon.

2. H. Firman Ismana, S.Kom, MMKes, selaku Ketua STIKes Cirebon

3. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, yang telah memberikan kesempatan

kepada kami untuk melaksanakan PBL di desa Bakunglor Kec. Jamblang


31

4. Kepala Kecamatan Jamblang, yang telah memberikan kesempatan kepada kami

untuk melaksanakan PBL di Desa Bakunglor Kec. Jamblang

5. Supriatin, S.Kep, Ners, selaku Ketua Program Studi Peofesi Ners STIKes

Cirebon.

6. Awaludin Jahid Abdilah, S.Kp, selaku Pembimbing Akademik

7. Kepala Puskesmas Wangunharja yang telah memberikan bimbingan dan arahan

8. Semua pihak yang telah membantu yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

Mudah-mudahan bantuan, bimbingan dan budi baik yang telah diberikan

pada penulis mendapat balasan dengan limpahan berkat dan anugrah dari Allah SWT.

Amin...

Cirebon, Nopember 2013

Penulis
32

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN
KATA PENGANTAR.................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL........................................................................................... iv
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... vi

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................


1
1.1 Latar Belakang........................................................................ 1
1.2 Tujuan Penulisan..................................................................... 3
1.3 Manfaat Penulisan................................................................... 3
1.4 Metode Penulisan.................................................................... 3
1.5 Sistematika Penulisan.............................................................. 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................. 5


2.1 Definisi Keperawatan Komunitas........................................... 5
2.2 Tujuan dan Fungsi Keperawatan Komunitas........................... 6
2.3 Strategi Intervensi Keperawatan Komunitas........................... 7
2.4 Pusat Kesehatan Komunitas.................................................... 8
2.5 Bentuk Pendekatan dan Partisipasi Masyarakat...................... 10
2.6 Model Konseptual Keperawatan Komunitas........................... 13
2.7 Hubungan Konsep Keperawatan Komunitas Dengan ............ 15
Pelayanan Kesehatan Utama................................................... 15
2.8 Proses Pelaksanaan Keperawatan komunitas.......................... 20

BAB IIIASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS..............................


27
3.1 Pengkajian Keperawatan Komunitas...................................... 27
3.2 Analisa Data Komunitas.......................................................... 46
3.3 Diagnosa Keperawatan Komunitas......................................... 50
3.4 Rencana Keperawatan Komunitas.......................................... 51
3.5 Implementasi Keperawatan Komunitas.................................. 54
3.6 Evaluasi Keperawatan Komunitas.......................................... 55
BAB IVPEMBAHASAN...........................................................................
56

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.....................................................


60
5.1 Kesimpulan............................................................................. 60
5.2 Saran....................................................................................... 61
33

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 62


LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Tabel Halaman


34

3.1 Distribusi Proporsi Sampel Pada Setiap Dusun Di Desa 28


Bakunglor Kec. Jamblang Kab. Cirebon

3.2 Distribusi Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur 30

3.3 Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin 31

3.4 Distribusi Kelas Sosial Berdasarkan Tingkat Penghasilan 32

3.5 Distribusi Kelas Sosial Berdasarkan Tingkat Pendidikan 33

3.6 Distribusi Kelas Sosial Berdasarkan Pekerjaan 33

3.7 Distribusi Jenis Penyakit Yang Diderita Oleh Penduduk 35


Desa Bakunglor Tahun 2013

3.8 Distribusi Jenis Kontrasepsi Yang Digunakan PUS 36

3.9 Distribusi Jenis Bangunan Rumah Penduduk 37

3.10 Distribusi Rumah Berdasarkan Kebersihan 37

3.11 Distribusi Rumah Berdasarkan Ventilasi 37

3.12 Distribusi Rumah Berdasarkan Pencahayaan 38

3.13 Distribusi Rumah Berdasarkan Jamban Keluarga 38

3.14 Distribusi Rumah Berdasarkan Jarak Sumber Air Dengan 38


Septiktank

3.15 Distribusi Rumah Berdasarkan Keberadaan Jentik 39

3.16 Distribusi Rumah Berdasarkan Pengolahan Sampah 39

3.17 Distribusi Keluarga Berdasaran Tipe Keluarga 39

3.18 Distribusi Keluarga Berdasarkan Pengeolaan Sayuran 40


Sebelum Dimasak

3.19 Distribusi Keluarga Berdasarkan Penyajian Makanan 40


35

Setelah Dimasak
3.20 Distribusi Keluarga Berdasarkan Kebiasaan Menggantung 40
Pakaian

3.21 Distribusi Keluarga Berdasarkan Kebiasaan Menggunakan 41


Handuk

3.22 Distribusi Kebiasaan Anak Melakukan Kebersihan Diri 41

3.23 Distribusi Kebiasaan Anak Melakukan Cuci Tangan Pakai 41


Sabun

3.24 Distribusi Kebiasaan Anak Memakai Alas Kaki Saat 42


Bermain

3.25 Distribusi Keluarga Berdasakan Kebiasaan Buang Air 42


Besar

3.26 Distribusi Keluarga Berdasarkan Penggunaan Air Bersih 42

3.27 Distribusi Keluarga Berdasarkan Penghasilan 43


36

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Lampiran

Lampiran 1 Planning Of Action (POA) Hasil MMD di Desa


Bakunglor Kecamatan Jamblang Kabupaten Cirebon

Lampiran 2 Rencana Kegiatan Pra Musyawarah Masyarakat Desa


(MMD)

Lampiran 3 Rencana Kegiatan Pelatihan dan Refresing Kader


Posbindu di Desa Bakunglor Kec. Jamblang Kab.
Cirebon

Lampiran 4 Rencana Kegiatan Pemeriksaan Kesehatan dan


Konseling Pada Lansia di Desa Bakunglor Kec.
Jamblang Kab. Cierbon

Lampiran 5 Rencana Kegiatan Refresing Kader Posyandu di Desa


Bakunglor

Lampiran 6 Laporan Hasil Kegiatan Pra Musyawarah Masyarakat


Desa (MMD)

Lampiran 7 Laporan Hasil Kegiatan Musyawarah Masyarakat Desa


(MMD)

Lampiran 8 Laporan Hasil Kegiatan Refresing Kader Posbindu di


Desa Bakunglor Kec. Jamblang Kab. Cirebon

Lampiran 9 Laporan Hasil Kegiatan Pemeriksaan Kesehatan dan


Konseling Pada Lansia di Desa Bakunglor Kec.
Jamblang Kab. Cirebon

Lampiran 10 Laporan Hasil Kegiatan Refresing Kader Posyandu di


37

Desa Bakunglor Kec. Jamblang Kab. Cirebon

Lampiran 11 Format Pengkajian Komunitas

Lampiran 12 Foto Kegiatan PBL Komunitas di Desa Bakunglor


Kecamatan Jamblang Kabupaten Cirebon Tahun 2013

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan

kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang

optimal. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan upaya dari seluruh potensi

bangsa baik masyarakat, swasta maupun pemerintah pusat dan daerah. Pembangunan

kesehatan untuk mencapai Indonesia Sehat 2015 bertujuan untuk meningkatkan

kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud

derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dan perubahan paradigma sehat yaitu

upaya untuk meningkatkan kesehatan bangsa Indonesia agar mampu mendorong

masyarakat untuk bersikap mandiri dalam menjaga kesehatan sendiri melalui

kesadaran yang tinggi yang mengutamakan upaya promotif dan preventif. (Depkes

RI, 2006)

Guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal tersebut,

berbagai upaya kesehatan telah diselenggarakan. Salah satunya adalah upaya

perawatan kesehatan masyarakat yang lebih dikenal dengan upaya keperawatan

komunitas.
38

Keperawatan komunitas merupakan bentuk pelayanan atau asuhan langsung

yang berfokus kepada kebutuhan dasar komunitas, yang berkaitan dengan kebiasaan

atau pola perilaku masyarakat yang tidak sehat, ketidakmampuan masyarakat untuk

beradaptasi dengan lingkungan (bio, psiko, sosial, kultural, maupun spiritual).

Intervensi keperawatan komunitas yang dilakukan difokuskan pada tiga level

prevensi atau pencegahan yaitu : prevensi primer yang pelaksanaan difokuskan pada

pendidikan kesehatan konseling, prevensi sekunder dan prevensi tersier.

Sebagai tenaga profesional, maka perencanaan dalam memberikan asuhan

keperawatan komunitas merupakan hal yang teramat penting disusun oleh perawat.

Rencana asuhan keperawatan disusun dengan memperhatikan banyak faktor,

terutama sekali faktor masyarakat itu sendiri, karena pada hakekatnya masyarakatlah

yang memiliki rencana tersebut, dan perawat sebaiknya hanyalah sebagai fasilitator

dan motivator dalam menggerakkan dinamika masyarakat untuk dapat menolong

dirinya sendiri. (Sutarna Agus, 2003)

Tidak hanya perencanaan tentunya ners harus mampu pula memastikan bahwa

rencana tersebut merupakan upaya yang paling maksimal, artinya ners tidak saja

dituntut berperan dilevel pelaksana dimasyarakat saja (grassroat), namun pula harus

merambah kepada level pengambil keputusan (decision maker), dengan aktif

melakukan lobi, negosiasi, serta advokasi terhadap apa yang telah direncanakan

untuk dapat diwujudkan. Hal ini akan memaksa ners untuk mampu bekerja sama

dengan berbagai pihak baik dari kalangan birokrat pemerintahan, lembaga swadaya

masyarakat, maupun kalangan bisnis. Oleh karena itu penting dilakukan pendekatan

strategi yang mantap dengan memanfaatkan berbagai data primer, sekunder dan

tersier sebagai bukti (evidence base). ( Sutarna Agus, 2003)


39

Melihat fenomena tersebut diatas, mahasiswa Program Studi Profesi Ners

merasa perlu untuk praktek keperawatan komunitas, yang dilaksanakan dari tanggal

08 Oktober 2013 s.d 02 Nopember 2013 di Desa Bakung Lor Kecamatan Jamblang

Kabupaten Cirebon. Sebagai out put dari praktek keperawatan komunitas tersebut

mahasiswa menyusun laporan Asuhan Keperawatan Komunitas di Desa Bakung Lor

Kecamatan Jamblang Kabupaten Cirebon Tahun 2013.

1.2 Tujuan Penulisan

Laporan Asuhan Keperawatan Ini dapat menggambarkan asuhan keperawatan

komunitas di Desa Bakunglor Kecamatan Jamblang Kabupaten Cirebon.

1.3 Manfaat Penulisan


1. Manfaat Teoritis
Sebagai sumber informasi khususnya bagi mahasiswa program

profesi ners dalam melaksanakan kegiatan praktek belajar klinik

keperawatan komunitas melalui kegiatan pembangunan kesehatan

masyarakat desa (PKMD).


2. Manfaat Praktis
Sebagai bahan masukan bagi program Perkesmas untuk

meningkatkan kualitas pelayanan asuhan keperawatan komunitas.

1.4 Metode Penulisan

Data-data yang diperlukan diperoleh dengan menggunakan teknik

pengumpulan data yang meliputi :

1. Studi kepustakaan yaitu usaha memperoleh data secara

teori yang berhubungan dengan konsep dan asuhan keperawatan komunitas.

2. Studi kasus secara langsung pada kegiatan dilapangan

dan berpartisipasi aktif dalam memberikan asuhan keperawatan komunitas.


40

1.5 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam penyusunan laporan praktek keperawatan

komunitas ini adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN TEORI


BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
BAB IV PEMBAHASAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
41

2.1 Definisi Keperawatan Komunitas

Komunitas (community) adalah sekelompok masyarakat yang mempunyai

persamaan nilai (values), perhatian (interest) yang merupakan kelompok khusus

dengan batas-batas geografi yang jelas, dengan norma dan nilai yang telah

melembaga (Sumijatun dkk, 2006). Misalnya di dalam kesehatan di kenal kelompok

ibu hamil, kelompok ibu menyusui, kelompok anak balita, kelompok lansia,

kelompok masyarakat dalam suatu wilayah desa binaan dan lain sebagainya.

Sedangkan dalam kelompok masyarakat ada masyarakat petani, masyarakat

pedagang, masyarakat pekerja, masyarakat terasing dan sebagainya. (Mubarak, 2006)

Keperawatan komunitas sebagai suatu bidang keperawatan yang merupakan

perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat (public health) dengan

dukungan peran serta masyarakat secara aktif serta mengutamakan pelayanan

promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan perawatan

kuratif dan rehabilitatif secara menyeluruh dan terpadu yang ditujukan kepada

individu, keluarga, kelompok serta masyarakat sebagai kesatuan utuh melalui proses

keperawatan (nursing process) untuk meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara

optimal, sehingga mampu mandiri dalam upaya kesehatan. (Mubarak, 2006)

Proses keperawatan komunitas merupakan metode asuhan keperawatan yang

bersifat alamiah, sistematis, dinamis, kontiniu, dan berkesinambungan dalam rangka

memecahkan masalah kesehatan klien, keluarga, kelompok serta masyarakat melalui

langkah-langkah seperti pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi

keperawatan. (Wahyudi, 2010)

2.2 Tujuan dan Fungsi Keperawatan Komunitas


Tujuan dan fungsi keperawatan komunitas adalah sebagai berikut :
42

1. Tujuan keperawatan komunitas


Tujuan proses keperawatan dalam komunitas adalah untuk pencegahan dan

peningkatan kesehatan masyarakat melalui upaya-upaya sebagai berikut :

1) Pelayanan keperawatan secara langsung (direct care) terhadap individu,

keluarga, dan keluarga dan kelompok dalam konteks komunitas.

2) Perhatian langsung terhadap kesehatan seluruh masyarakat (health general

community) dengan mempertimbangkan permasalahan atau isu kesehatan

masyarakat yang dapat memengaruhi keluarga, individu, dan kelompok.

Selanjutnya, secara spesifik diharapkan individu, keluarga, kelompok, dan

masyarakat mempunyai kemampuan untuk :

1) Mengidentifikasi masalah kesehatan yang dialami

2) Menetapkan masalah kesehatan dan memprioritaskan masalah tersebut

3) Merumuskan serta memecahkan masalah kesehatan

4) Menanggulangi masalah kesehatan yang mereka hadapi

5) Mengevaluasi sejauh mana pemecahan masalah yang mereka hadapi, yang


akhirnya dapat meningkatkan kemampuan dalam memelihara kesehatan
secara mandiri (self care).
2. Fungsi Keperawatan Komunitas

1) Memberikan pedoman dan bimbingan yang sistematis dan ilmiah bagi

kesehatan masyarakat dan keperawatan dalam memecahkan masalah klien.

2) Agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang optimal sesuai dengan

kebutuhannya dibidang kesehatan.

3) Memberikan asuhan keperawatan melalui pendekatan pemecahan masalah,

komunikasi yang efektif dan efisien serta melibatkan peran serta masyarakat.

4) Agar masyarakat bebas mengemukakan pendapat berkaitan dengan

permasalahan atau kebutuhannya sehingga mendapatkan penanganan dan


43

pelayanan yang cepat dan pada akhirnya dapat mempercepat proses

penyembuhan. (Mubarak, 2006)

2.3 Strategi Intervensi Keperawatan Komunitas

Strategi intervensi keperawatan komunitas adalah sebagai berikut :

1. Proses kelompok (group process)

Seseorang dapat mengenal dan mencegah penyakit, tentunya setelah

belajar dari pengalaman sebelumnya, selain faktor pendidikan/pengetahuan

individu, media masa, Televisi, penyuluhan yang dilakukan petugas kesehatan

dan sebagainya. Begitu juga dengan masalah kesehatan di lingkungan sekitar

masyarakat, tentunya gambaran penyakit yang paling sering mereka temukan

sebelumnya sangat mempengaruhi upaya penangan atau pencegahan penyakit

yang mereka lakukan. Jika masyarakat sadar bahwa penangan yang bersifat

individual tidak akan mampu mencegah, apalagi memberantas penyakit tertentu,

maka mereka telah melakukan pemecahan-pemecahan masalah kesehatan

melalui proses kelompok.

2. Pendidikan Kesehatan (Health Promotion)

Pendidikan kesehatan adalah proses perubahan perilaku yang dinamis,

dimana perubahan tersebut bukan hanya sekedar proses transfer materi/teori dari

seseorang ke orang lain dan bukan pula seperangkat prosedur. Akan tetapi,

perubahan tersebut terjadi adanya kesadaran dari dalam diri individu, kelompok

atau masyarakat sendiri. Sedangkan tujuan dari pendidikan kesehatan menurut

Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992 maupun WHO yaitu

meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan


44

derajat kesehatan; baik fisik, mental dan sosialnya, sehingga produktif secara

ekonomi maupun secara sosial.

3. Kerjasama (Partnership)
Berbagai persoalan kesehatan yang terjadi dalam lingkungan masyarakat

jika tidak ditangani dengan baik akan menjadi ancaman bagi lingkungan

masyarakat luas. Oleh karena itu, kerja sama sangat dibutuhkan dalam upaya

mencapai tujuan asuhan keperawatan komunitas melalui upaya ini berbagai

persoalan di dalam lingkungan masyarakat akan dapat diatasi dengan lebih

cepat.

2.4 Pusat Kesehatan Komunitas

Penyelenggaraan pelayanan kesehatan komunitas dapat dilakukan sebagai

berikut :

1. Sekolah atau Kampus


Pelayanan keperawatan yang diselenggarakan meliputi pendidikan

pencegahan penyakit, peningkatan derajat kesehatan dan pendidikan seks. Selain

itu perawata yang bekerja di sekolah dapat memberikan perawatan untuk peserta

didik pada kasus penyakit akut yang bukan kasus kedaruratan misalnya penyakit

influensa, batu dll. Perawat juga dapat memberikan rujukan pada peserta didik

dan keluarganya bila dibutuhkan perawatan kesehatan yang lebih spesifik.

2. Lingkungan kesehatan kerja

Beberapa perusahaan besar memberikan pelayanan kesehatan bagi

pekerjanya yang berlokasi di gedung perusahaan tersebut. Asuhan keperawatan

di tempat ini meliputi lima bidang. Perawata menjalankan program yang

bertujuan untuk :
45

1) Meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja dengan mengurangi jumlah

kejadian kecelakaan kerja

2) Menurunkan resiko penyakit akibat kerja

3) Mengurangi transmisi penyakit menular anatar pekerja

4) Memberikan program peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, dan

pendidikan kesehatan.

5) Mengintervensi kasus-kasus lanjutan non kedaruratan dan memberikan

pertolongan pertama pada kecelakaan. (Mubarak, 2006)

3. Lembaga perawatan kesehatan di rumah

Klien sering kali membutuhkan asuhan keperawatan khusus yang dapat

diberikan secara efisien di rumah. Perawat di bidang komunitas juga dapat

memberikan perawatan kesehatan di rumah misalnya: perawata melakukan

kunjungan rumah, hospice care, home care dll. Perawat yang bekerja di rumah

harus memiliki kemampuan mendidik, fleksibel, berkemampuan, kreatif dan

percaya diri, sekaligus memiliki kemampuan klinik yang kompeten.

4. Lingkungan kesehatan kerja lain

Terdapat sejumlah tempat lain dimana perawat juga dapat bekerja dan

memiliki peran serta tanggungjawab yang bervariasi. Seorang perawat dapat

mendirikan praktek sendiri, bekerja sama dengan perawata lain, bekerja di

bidang pendididkan, penelitian, di wilayah binaan, puskesmas dan lain

sebagainya. Selain itu, dimanapun lingkungan tempat kerjanya, perawat

ditantang untuk memberikan perawatan yang berkualitas. (Mubarak, 2006)

2.5 Bentuk-Bentuk Pendekatan dan Partisipasi Masyarakat


Bentuk-bentuk pendekatan dan partisipasi masyarakat yaitu sebagai berikut :

1. Posyandu
46

Pos pelayanan terpadu atau yang lebih dikenal dengan posyandu. Secara

sederhana dapat diartikan sebagai pusat kegiatan dimana masyarakat dapat

sekaligus memperoleh pelayanan KB dan Kesehatan. Selain itu posyandu juga

dapat diartikan sebagai wahana kegiatan keterpaduan KB dan kesehatan

ditingkat kelurahan atau desa, yang melakukan kegiatan-kegiatan seperti :

a. Kesehatan ibu dan anak

b. KB

c. Imunisasi

d. Peningkatan gizi

e. Penanggulangan diare

f. Sanitasi dasar

g. Penyediaan obat esensial, (Zulkifli, 2003).

Pelayanan yang diberikan di posyandu bersifat terpadu, hal ini

bertujuan untuk memberikan kemudahan dan keuntungan bagi masyarakat

karena di posyandu tersebut masyarakat dapat memperolah pelayanan

lengkap pada waktu dan tempat yang sama. Posyandu dipandang sangat

bermanfaat bagi masyarakat namun keberadaannya di masyarakat kurang

berjalan dengan baik, oleh karena itu pemerintah mengadakan revitalisasi

posyandu. Revitalisasi posyandu merupakan upaya pemberdayaan posyandu

untuk mengurangi dampak dari krisis ekonomi terhadap penurunan status gizi

dan kesehatan ibu dan anak. Kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan

pemberdayaan masyarakat dalam menunjang upaya mempertahankan dan

meningkatkan status gizi serta kesehatan ibu dan anak melalui peningkatan

kemampuan kader, manajemen dan fungsi posyandu. (Zulkifli, 2003)


47

Tujuan pokok penyelenggaraan Posyandu adalah untuk :

a. Mempercepat penurunan angka kematian ibu dan anak


b. Meningkatkan pelayanan kesehatan ibu untuk menurunkan IMR
c. Mempercepat penerimaan NKKBS
d. Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan

kesehatan dan kegiatan lain yang menunjang peningkatan kemampuan

hidup sehat
e. Pendekatan dan pemerataan pelayanan kesehatan pada penduduk

berdasarkan letak geografi


f. Meningkatkan dan pembinaan peran serta masyarakat dalam rangka alih

teknologi untuk swakelola usaha kesehatan masyarakat.

Menurut Nasru effendi (2000), untuk menjalankan kegiatan Posyandu

dilakukan dengan system 5 meja, yaitu :

1) Meja I
a. Pendaftaran
b. Pencacatan bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan PUS (Pasangan

Usia Subur)

2) Meja II

Penimbangan Balita dan ibu hamil

3) Meja III

Pengisian KMS

4) Meja IV

a. Diketahui BB anak yang naik/tidak naik, ibu hamil dengan resiko

tinggi, PUS yang belum mengikuti KB

b. Penyuluhan kesehatan

c. Pelayanan PMT, oralit, Vit. A, Tablet zat besi, Pil ulangan, Kondom

5) Meja V

a. Pemberian iminisasi
48

b. Pemeriksaan Kehamilan

c. Pemeriksaan kesehatan dan pengobatan

d. Pelayanan kontrasepsi IUD, suntikan.

Peserta Posyandu mendapat pelayanan meliputi :

1) Kesehatan ibu dan anak :


a.Pemberian pil tambah darah (ibu hamil)
b.Pemberian vitamin A dosis tinggi ( bulan vitamin A pada bulan

Februarii dan Agustus)


c.PMT
d.Imunisasi.
e.Penimbangan balita rutin perbulan sebagai pemantau kesehatan balita

melalui pertambahan berat badan setiap bulan. Keberhasilan program

terlihat melalui grafik pada kartu KMS setiap bulan.


2) Keluarga berencana, pembagian Pil KB dan Kondom.
3) Pemberian Oralit dan pengobatan.
4) Penyuluhan kesehatan lingkungan dan penyuluhan pribadi sesuai

permasalahan dilaksanakan oleh kader PKK melalui meja IV dengan

materi dasar dari KMS baita dan ibu hamil. Keberhasilan Posyandu

tergambar melalui cakupan SKDN.


Menurut Nasrul effendi (2000), untuk meja I sampai meja IV

dilaksanakan oleh kader kesehatan dan untuk meja V dilaksanakan oleh

petugas kesehatan seperti dokter, bidan, perawat, juru imunisasi. Tetapi

dilapangan yang kita temukan dari meja 1 sampai meja 5 dilakukan oleh

semua perawat puskesmas, hanya di beberapa posyandu yang kader

kesehatannya berperan aktif. Pendidikan dan pelatihan kader selama ini hanya

sebatas wacana saja di masyarakat. Kader seharusnya lebih aktif berpatisipasi

dalam kegiatan Posyandu. Keadaan seperti ini masih perlu perhatian khusus

untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

2.6 Model Konseptual Dalam Keperawatan Komunitas


49

Model adalah sebuah gambaran deskriptif dari sebuah praktik yang bermutu

yang mewakili sesuatu yang nyata atau gambaran yang mendekati kenyataan dari

konsep. Model praktik keperawatan didasarkan pada isi dari sebuah teori dan konsep

praktik. (Riehl & Roy, 1980 dalam Sumijatun, 2006)

Salah satu model keperawatan kesehatan komunitas yaitu Model Health Care

System (Betty Neuman, 1972). Model konsep ini merupakan model konsep yang

menggambarkan aktivitas keperawatan, yang ditujukan kepada penekanan penurunan

stress dengan cara memperkuat garis pertahanan diri, baik yang bersifat fleksibel,

normal, maupun resisten dengan sasaran pelayanan adalah komunitas. (Mubarak &

Chayatin, 2009)

Menurut Sumijatun (2006), teori Neuman berpijak pada metaparadigma

keperawatan yang terdiri dari yang terdiri dari klien, lingkungan, kesehatan dan

keperawatan.Asumsi Betty Neuman tentang empat konsep utama yang terkait dengan

keperawatan komunitas adalah :

1. Manusia, merupakan suatu sistem terbuka yang selalu mencari keseimbangan

dari harmoni dan merupakan suatu kesatuan dari variabel yang utuh, yaitu:

fisiologi, psikologi, sosiokultural, perkembangan dan spiritual


2. Lingkungan, meliputi semua faktor internal dan eksternal atau pengaruh-

pengaruh dari sekitar atau sistem klien


3. Sehat, merupakan kondisi terbebas dari gangguan pemenuhan kebutuhan. Sehat

merupakan keseimbangan yang dinamis sebagai dampak dari keberhasilan

menghindari atau mengatasi stresor.

Model ini menganalisi interaksi anatara empat variabel yang menunjang

keperawatan komunitas, yaitu aspek fisik atau fisiologis, aspek psikologis, aspek

sosial dan kultural, serta aspek spiritual.


50

Sehat menurut Neuman adalah suatu keseimbangan bio, psiko, cultural dan

spiritual pada tiga garis pertahanan klien, yaitu garis pertahanan fleksibel, normal

dan resisten. Sehat dapat diklasifikasikan dalam delapan tahapan, yaitu :

1. Normally well, yaitu sehat secara psikologis, medis dan social


2. Pessimistic, yaitu bersikap atau berpandangan tidak mengandung harapan baik

(misalnya khawatir sakit, ragu akan kesehatannya, dan lain-lain)


3. Socially ill, yaitu secara psikologis dan medis baik, tetapi kurang mampu secara

social, baik ekonomi maupun interaksi social dengan masyarakat


4. Hypochondriacal, yaitu penyakit bersedih hati dan kesedihan tanpa alasan
5. Medically ill, yaitu sakit secara medis yang dapat diperiksa dan diukur
6. Martyr, yaitu orang yang rela menderita atau meninggal dari pada menyerah

karena mempertahankan agama/kepercayaan. Dalam kesehatan, seseorang yang

tidak memperdulikan kesehatannya, dia tetap berjuang untuk

kesehatan/keselamatan orang lain


7. Optimistic, yaitu meskipun secara medis dan social sakit, tetapi mempunyai

harapan baik. Keadaan ini sering kali sangat membantu dalam penyembuhan

sakit medisnya
8. Seriously ill, yaitu benar-benar sakit, baik secara psikologis, medis dan sosial.

2.7 Hubungan Konsep Keperawatan Komunitas Dengan Pelayanan

Kesehatan Utama
Keperawatan komunitas adalah suatu dalam keperawatan yang merupakan

perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran

serta aktif masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan dan memelihara

kesehatan masyarakat dengan menekankan kepada peningkatan peran serta

masyarakat dalam melakukan upaya promotif dan perventif dengan tidak melupakan

tindakan kuratif dan rehabilitatif sehingga diharapkan masyarakat mampu mengenal,

mengambil keputusan dalam memelihara kesehatannya. (Mubarak, 2009)


Selain menjadi subjek, masyarakat juga menjadi objek yaitu sebagai klien yang

menjadi sasaran dari keperawatan kesehatan komunitas terdiri dari individu dan
51

masyarakat. Berdasarkan pada model pendekatan totalitas individu dari Neuman

(1972 dalam Anderson, 2006) untuk melihat masalah pasien, model komunitas

sebagai klien dikembangkan untuk menggambarkan batasan keperawatan kesehatan

masyarakat sebagai sintesis kesehatan masyarakat dan keperawatan. Model tersebut

telah diganti namanya menjadi model komunitas sebagai mitra, untuk menekankan

filosofi pelayanan kesehatan primer yang menjadi landasannya.

Secara lebih rinci dijabarkan sebagai berikut :

1. Tingkat individu

Individu adalah bagian dari anggota keluarga. Apabila individu tersebut

mempunyai masalah kesehatan maka perawat akan memberikan asuhan

keperawatan pada individu tersebut. Pelayanan pada tingkat individu dapat

dilaksanakan pada rumah atau puskesmas, meliputi penderita yang memerlukan

pelayanan tindak lanjut yang tidak mungkin dilakukan asuhan keperawatan di

rumah dan perlu kepuskesmas, penderita resiko tinggi seperti penderita penyakit

demam darah dan diare. Kemudian individu yang memerlukan pengawasan dan

perawatan berkelanjutan seperti ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita.

2. Tingkat keluarga

Keperawatan kesehatan komunitas melalui pendekatan keperawatan

keluarga memberikan asuhan keperawatan kepada keluarga yang mempunyai

masalah kesehatan terutama keluarga dengan resiko tinggi diantaranya keluarga

dengan sosial ekonomi rendah dan keluarga yang anggota keluarganya menderita

penyakit menular dan kronis. Hal ini dikarenakan keluarga merupakan unit utama

masyarakat dan lembaga yang menyakut kehidupan masyarakat. Dalam


52

pelaksanaannya, keluarga tetap juaga berperan sebagai pengambil keputusan

dalam memelihara kesehatan anggotanya.

3. Tingkat komunitas
Keperawatan kesehatan komunitas di tingkat masyarakat dilakukan dalam

lingkup kecil sampai dengan lingkup yang luas didalam suatu wilayah kerja

puskesmas. Pelayanan ditingkat masyarakat dibatasi oleh wilayah atau masyarakat

yang mempunyai ciri-ciri tertentu misalnya kebudayaan, pekerjaan, pendidikan

dan sebagainya.
Asuhan keperawatan komunitas diberikan dengan memandang komunitas

sebagai klien dengan strategi intervensi keperawatan komunitas yang mencakup tiga

aspek yaitu primer, sekunder dan tertier melalui proses individu dan kelompok

dengan kerja sama lintas sektoral dan lintas program. Pelayanan yang diberikan oleh

keperawatan komunitas mencakup kesehatan komunitas yang luas dan berfokus pada

pencegahan yang terdiri dari tiga tingkat yaitu :


1. Pencegahan primer

Pelayanan pencegahan primer ditunjukkan kepada penghentian penyakit

sebelum terjadi karena itu pencegahan primer mencakup peningkatan derajat

kesehatan secara umum dan perlindungan spesifik. Promosi kesehatan secara

umum mencakup pendidikan kesehatan baik pada individu maupun kelompok.

Pencegahan primer juga mencakup tindakan spesifik yang melindungi individu

melawan agen-agen spesifik misalnya tindakan perlindungan yang paling umum

yaitu memberikan imunisasi pada bayi, anak balita dan ibu hamil, penyuluhan gizi

bayi dan balita.

2. Pencegahan sekunder

Pelayanan pencegahan sekunder dibuat untuk menditeksi penyakit lebih

awal dengan mengobati secara tepat. Kegiatan-kegiatan yang mengurangi faktor


53

resiko diklasifikasikan sebagai pencegahan sekunder misalnya memotivasi

keluarga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala melalui

posyandu dan puskesmas.

3. Pencegahan tertier

Yang mencakup pembatasan kecacatan kelemahan pada seseorang dengan

stadium dini dan rehabilitasi pada orang yang mengalami kecacatan agar dapat

secara optimal berfungsi sesuai dengan kemampuannya, misalnya mengajarkan

latihan fisik pada penderita patah tulang.

Selanjutnya agar dapat memberikan arahan pelaksanaan kegiatan, berikut ini

diuraikan falsafah keperawatan komunitas dan pengorganisasian masyarakat

(Mubarak, 2009) :

1. Falsafah Keperawatan Kesehatan Komunitas

Keperawatan kesehatan komunitas merupakan pelayanan yang memberikan

perhatian terhadap pengaruh lingkungan (bio-psiko-sosio-kultural-spiritual)

terhadap kesehatan masyarakat dan memberikan prioritas pada strategi pada

pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan. Falsafah yang melandasi yang

mengacu pada paradigma keperawatan secar umum dengan empat komponen

dasar yaitu manusia, kesehatan, lingkungan dan keperawatan.

2. Pengorganisasian masyarakat

Tiga model pengorganisasian masyarakat menurut Rothman (1998) meliputi

peran serta masyarakat (localiti developmen), perencanaan sosial melalui

birokrasi pemerintah (social developmant) dan aksi sosial berdasarkan kejadian

saat itu (social action). (Mubarak, 2009)


54

Pelaksanaan pengorganisasian masyarakat dilakukan melalui tahapan berikut :

1. Tahap persiapan

Dilakukan dengan memilih area atau daerah yang menjadi prioritas,

menentukan cara untuk berhubungan dengan masyarakat, mempelajari dan

bekerjasama dengan masyarakat.

2. Tahap pengorganisasian

Dengan persiapan pembentukan kelompok dan penyesuaian dengan pola

yang ada dimasyarakat dengan pembentukan kelompok kerja kesehatan.

3. Tahap pendidikan dan pelatihan

Melalui kegiatan pertemuan teratur dengan kelompok masyarakat melalui

pengkajian, membuat pelayanan keperawatan langsung pada individu, keluarga

dan masyarakat.

4. Tahap formasi kepemimpinan

Memberikan dukungan latihan dan mengembangkan keterampialan yang

mengikuti perencanaan, pengorganisasian, pergerakan dan pengawasan kegiatan

pendidikan kesehatan.

5. Tahap koordinasi

Kerjasama dengan sektor terkait dalam upaya memandirikan masyarakat.

6. Tahap akhir

Suverpisi bertahap dan diakhiri dengan evaluasi dan pemberian umpan balik

dan masing-masing evaluasi untuk perbaikan untuk kegiatan kelompok kesehatan

kerja selanjutnya.

2.8 Proses Pelaksanaan Keperawatan Komunitas


55

Keperawatan komunitas merupakan suatu bidang khusus keperawatan yang

merupakan gabungan dari ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan ilmu

sosial yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang diberikan

kepada individu, keluarga, kelompok khusus dan masyarakat baik yang sehat

maupun yang sakit (mempunyai masalah kesehatan/keperawatan), secara

komprehensif melalui upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif dan

resosialitatif dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat secara terorganisir

bersama tim kesehatan lainnya untuk dapat mengenal masalah kesehatan dan

keperawatan yang dihadapi serta memecahkan masalah-masalah yang mereka miliki

dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan sesuai dengan hidup sehat

sehingga dapat meningkatkan fungsi kehidupan dan derajat kesehatan seoptimal

mungkin dan dapat diharapkan dapat mandiri dalam memelihara kesehatannya

(Chayatin, 2009). Menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan

dan melibatkan klien sebagai mitra kerja dalam perencanaan, pelaksanaan, dan

evaluasi pelayanan kesehatan. Pelayanan keperawatan profesional yang merupakan

perpaduan antara konsep kesehatan masyarakat dan konsep keperawatan yang

ditujukan pada seluruh masyarakat dengan penekanan pada kelompok resiko tinggi.

Perawatan komunitas merupakan Pelaksanaan keperawatan komunitas

dilakukan melalui beberapa fase yang tercakup dalam proses keperawatan komunitas

dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah yang dinamis. Fase-fase pada

proses keperawatan komunitas secara langsung melibatkan komunitas sebagai klien

yang dimulai dengan pembuatan kontrak/partner ship dan meliputi pengkajian,

diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi. (Efendi, 2009)


56

Asuhan keperawatan yang diberikan kepada komunitas atau kelompok adalah

(Mubarak, 2005) :

1. Pengkajian

Pengkajian merupakan upaya pengumpulan data secara lengkap dan

sistematis terhadap mesyarakat untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah

kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat baik individu, keluarga atau kelompok

yang menyangkut permasalah pada fisiologis, psikologis, sosial ekonomi, maupun

spiritual dapat ditentukan.

1) Pengumpulan data

Hal yang perlu dikaji pada komunitas atau kelompok antara lain :

a. Inti (Core) meliputi : Data demografi kelompok atau komunitas yang terdiri

atas usia yang beresiko, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan, agama, nilai-

nilai, keyakinan, serta riwayat timbulnya kelompok atau komunitas.


b. Mengkaji 8 subsistem yang mempengaruhi komunitas, antara lain:
Perumahan, bagaimana penerangannya, sirkulasi, bagaimana

kepadatannya karena dapat menjadi stresor bagi penduduk


Pendidikan komunitas, apakah ada sarana pendidikan yang dapat

digunakan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat


Keamanan dan keselamatan, bagaimana keselamatan dan keamanan

tempat tinggal, apakah masyarakat merasa nyaman atau tidak, apakag

sering mengalami stres akibat keamanan dan keselamatan yang tidak

terjamin
Kualiti dan kebijakan pemerintah terkait kesehatan, apakah cukup

menunjang, sehingga memudahkan masyarakat mendapatkan pelayanan

di berbagai bidang termasuk kesehatan


Pelayanan kesehatan yang tesedia, untuk diteksi dini atau memantau

gangguan yang terjadi


57

Pelayanan kesehatan yang tersedia, untuk melakukan deteksi dini dan

merawat atau memantau gangguan yang terjadi


Sistem komunikasi, serta komunikasi apa saja yang dapat dimanfaatkan

masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan yang terkait dengan

gangguan penyakit
Sistem ekonomi, tingkat sosial ekonomi masyarakat secara keseluruhan,

apakah pendapatan yang terima sesuai dengan Upah Minimum Registrasi

(UMR) atau sebaliknya


Rekreasi, apakah tersedia sarana rekreasi, kapan saja dibuka, apakah

biayanya dapat dijangkau masyarakat

2) Jenis data

Jenis data secara umum dapat diperoleh dari data subjektif dan data

objektif (Mubarak, 2005):

a. Data subjektif

Yaitu data yang diperoleh dari keluhan atau masalah yang dirasakan

oleh individu, keluarga, kelompok, dan komunitas, yang diungkapkan

secara langsung melalui lisan.

b. Data objektif

Data yang diperoleh melalui suatu pemeriksaan, pengamatan dan

pengukuran.

c. Sumber data

Data primer

Data yang dikumpulkan oleh pengkaji dari individu, keluarga,

kelompok, masyarakat berdasarkan hasil pemeriksaan atau pengkajian.


58

Data sekunder

Data yang diperoleh dari sumber lain yang dapat dipercaya,

misalnya : kelurahan, catatan riwayat kesehatan pasien atau medical

record.

3) Cara pengumpulan data

a. Wawancara yaitu: kegiatan timbale balik berupa Tanya jawab

b. Pengamatan yaitu: melakukan observasi dengan panca indra

c. Pemeriksaan fisik: melakukan pemeriksaan pada tubuh individu

4) Pengelolaan data

a. Klasifikasi data atau kategorisasi data

b. Perhitungan presentase cakupan dengan menggunakan telly

c. Tabulasi data

d. Interpretasi data

5) Analisa data

Kemampuan untuk mengkaitkan data dan menghubungkan data dengan

kemampuan kognitif yang dimiliki sehingga dapat diketahui tentang

kesenjangan atau masalah yang dihadapi oleh masyarakat apakah itu masalah

kesehatan atau masalah keperawatan.

6) Penentuan masalah atau perumusan masalah kesehatan

Berdasarkan analisa data dapat diketahui masalah kesehatan dan masalah

keperawatan yang dihadapi oleh masyarakat sehingga dapat dirumuskan

masalah kesehatan.

7) Prioritas Masalah
59

Prioritas masalah dapat ditentukan berdasarkan hierarki kebutuhan

Abraham H Maslow :

a.Keadaan yang mengancam kehidupan

b. Keadaan yang mengancam kesehatan

c.Persepsi tentang kesehatan dan keperawatan

2. Diagnosa keperawatan

Diagnosis keperawatan ialah respon individu pada masalah kesehatan baik

yang actual maupun potensial. Diagnose keperawatan komunitas akan

memeberikan gambaran tentang masalah dan status kesehatan masyarakat baik

yang nyata dan yang mungkin terjadi. Diagnosa ditegakkan berdasarkan tingkat

rekreasi komunitas terhadap stresor yang ada. Selanjutnya dirumuskan dalam tiga

komponen, yaitu problem/masalah (P), etiology atau penyebab (E), dan symptom

atau manifestasi/data penunjang (S). (Mubarak, 2005)

Problem : merupakan kesenjangan atau penyimpangan dari keadaan normal yang

seharusnya terjadi.

Etiologi : penyebab masalah kesehatan atau keperawatan yang dapat memeberikan

arah terhadap intervensi keperawatan.

Symptom : tanda atau gejala yang tampak menunjang masalah yang terjadi.

3. Perencanaan/ Intervensi

Perencanaan keperawatan merupakan penyusunan rencana tindakan

keperawatan yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah sesuai dengan

diagnosis keprawatan yang sudah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya

kebutuhan pasien. Perencanaan intervensi yang dapat dilakukan berkaitan dengan

diagnosa keperawatan komunitas yang muncul diatas adalah (Mubarak, 2005) :


a. Lakukan pendidikan kesehatan tentang penyakit
60

b. Lakukan demonstrasi ketrampilan cara menangani penyakit


c. Lakukan deteksi dini tanda-tanda gangguan penyakit
d. Lakukan kerja sama dengan ahli gizi dalam mennetukan diet yang tepat
e. Lakukan olahraga secara rutin
f. Lakukan kerja sama dengan pemerintah atau aparat setempat untuk

memperbaiki lingkungan komunitas


g. Lakukan rujukan ke rumah sakit bila diperlukan

4. Pelaksanaan/Implementasi

Pelaksanaan merupakan tahap realisasi dari rencana asuhan keperawatan

yang telah disusun. Dalam pelaksanaannya tindakan asuhen keperawatan harus

bekerjasama dengan angoota tim kesehatan lain dalam hal melibatkan pihak

puskesmas, bidan desa, dan anggota masyarakat (Mubarak, 2005). Perawat

bertanggung jawab dalam melaksanakan tindakan yang telah direncanakan yang

bersifat (Efendi, 2009), yaitu :

a. Bantuan untuk mengatasi masalah gangguan penyakit

b. Mempertahankan kondisi yang seimbang dalam hal ini perilaku hidup sehat

dan melaksanakan upaya peningkatan kesehatan

c. Mendidik komunitas tentang perilaku sehat untuk mencegah gangguan

penyakit

d. Advocat komunitas yang sekaligus memfasilitasi terpenuhinya kebutuhan

komunitas

5. Penilaian/Evaluasi

Evaluasi memuat keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan

keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan membandingkan antara

proses dengan dengan pedoman atau rencana proses tersebut. Sedangkan

keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan membandingkan tingkat kemandirian

masyarakat dalam perilaku kehidupan sehari-hari dan tingkat kemajuan


61

masyarakat komunitas dengan tujuan yang sudah ditentukan atau dirumuskan

sebelumnya (Mubarak, 2005). Adapun tindakan dalam melakukan evaluasi adalah

sebagai berikut :

a. Menilai respon verbal dan nonverbal komunitas setelah dilakukan intervens

b. Menilai kemajuan oleh komunitas setelah dilakukan intervensi keperawata

c. Mencatat adanya kasus baru yang dirujuk ke rumah sakit

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

3.1 Pengkajian Keperawatan Komunitas

Pengumpulan data dalam asuhan keperawatan komunitas ini dilakukan dengan

cara observasi langsung, wawancara dan studi dokumentasi di Desa Bakunglor

Kecamatan Jamblang Kabupaten Cirebon. Pengumpulan data dilakukan melalui

kegiatan Survey Mawas Diri (SMD) pada sampel dari populasi penduduk Desa

Bakunglor yang berjumlah 1947 KK dengan teknik sampling sebagai berikut :

N
n =
1 + N (d2)
62

Keterangan :
N = Besarnya populasi
n = Besar sampel
d = Tingkat kepercayaan
Maka jumlah sampel pada Survey Mawas Diri (SMD) di Desa Bakunglor

adalah sebagai berikut :


1947 1947
n = =
1 + 1947 (0.052) 5,9

= 330 KK

Sedangkan proporsi sampel pada setiap dusun Desa Bakunglor Kecamatan

Jamblang Kabupaten Cirebon, yaitu sebagai berikut :

Tabel 3.1 Distribusi Proporsi Sampel Pada Setiap Dusun Di Desa Bakunglor
Kecamatan Jamblang Kabupaten Cirebon

Dusun N Rumus n
n dusun 330
Gempol 576 98
populasi
n dusun
Jatimulya 664 330 112
populasi
n dusun
Sidapurna 267 330 45
populasi
n dusun
Jatisura 264 330 45
populasi
n dusun
Jatiwaluya 176 330 30
populasi
Jumlah 1947 330

Hasil Survey Mawas Diri (SMD) yang telah dilaksanakan pada tanggal

11 Oktober 2013 sampai dengan tanggal 16 Oktober 2013 dengan cara pendataan

door to door, yaitu sebagai berikut :


63

1. Dimensi Lokasi

a. Batasan Komunitas

Desa Bakunglor termasuk kategori Desa Swakarya yang secara

administrasi merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Jamblang

Kabupaten Cirebon, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Suranenggala Kulon

Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Bakungkidul

Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Suranenggala Kulon dan Desa

Bakungkidul

Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Bakungkidul dan Desa Kreyo

b. Lokasi Pelayanan Kesehatan

Sarana pelayanan kesehatan terdekat adalah Puskesmas

Pembantu Desa Bakunglor yang terletak 1 km dari pusat

desa yang dapat dicapai dengan jalan kaki, kendaraan roda

dua dan roda empat. Sedangkan Puskesmas induk adalah

Puskesmas Wangunharja yang terletak dekat ibukota

Kecamatan Jamblang yang berjarak 10 km.

c. Gambaran Geografis

Desa Bakunglor adalah daerah pemukiman penduduk

yang padat, merupakan daerah dataran rendah dengan luas

wilayah 295,529 hektar, yang terdiri dari 248,281 hektar

tanah sawah dan 13,049 hektar tanah darat.


64

d. Flora dan Fauna

Keadaan tanah di Desa Bakunglor sangat subur, seluruh

jenis tumbuhan bisa tumbuh dengan baik seperti jambu,

mangga, sayuran, kunyit, jahe, kencur dan bunga-bungaan.

Sebagian besar penduduk tidak memanfaatkan pekarangan

yang ada untuk ditanami tanaman yang bermanfaat untuk

obat keluarga (Toga). Binatang ternak yang banyak dipelihara

adalah ayam, sedangkan kambing diternak jauh dari

pemukiman terletak dikebun.

e. Lingkungan Buatan

Terdapat sarana olah raga seperti lapangan badminton

dan volly ball, yang terltak di pusat desa Bakunglor.

2. Dimensi Populasi

a. Ukuran

Jumlah penduduk Desa Bakunglor adalah sebanyak 6.305 jiwa, yang

terdiri laki-laki 3.202 jiwa dan perempuan 3.103 jiwa. Sedangkan jumlah

kepala keluarga (KK) adalah 1947 KK dan jumlah pasangan usia subur

(PUS) berdasarkan hasil survey mawas diri (SMD) sebanyak 261 pasang.

b. Kepadatan

Perbandingan jumlah penduduk dengan luas wilayah desa Bakunglor

Kecamatan Jamblang Kabupaten Cirebon adalah :


Luas wilayah : Jumlah Penduduk
2.955.290 m 2
: 6.303 jiwa
469 m /jiwa
2
65

c. Komposisi Penduduk

Komposisi penduduk dapat dilihat dari berbagai indikator, antara lain

berdasarkan kelompok umur dan berdasarkan jenis kelamin.

1) Komposisi Penduduk Berdasarkan kelompok Umur

Dari hasil survey mawas diri (SMD) pada penduduk Desa

Bakunglor yang dilakukan pada tanggal 11 16 Oktober 2013

didapat hasil yang dapat disampaikan dalam bentuk tabel

dibawah ini

Tabel 3.2 Distribusi Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur

No. Kelompok Umur (Tahun) Jumlah Persentase (%)


1. 0 1 15 1.39
2. 15 69 6,42
3. 5 12 119 11,07
4. 12 18 96 8,93
5. 18 55 671 62,42
6. > 55 th 105 9,77
Jumlah 1075 100
Sumber : Data primer pendataan Oktober 2013

Berdasarkan tabel 3.2 diatas, sebagian besar penduduk (62,42%)

adalah kelompok umur 18 55 tahun yang merupakan potensi sebagai

sumber daya manusia yang menunjang kesehatan keluarga, kelompok

dan masyarakat.

2) Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis kelamin

Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin hasil survey

mawas diri (SMD) dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 3.3 Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

No. Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)


1. Pria 564 52,46
2. Wanita 511 47,54
66

Jumlah 1075 100


Sumber : Data primer pendataan Oktober 2013

Berdasarkan tabel 3.3 di atas, sebagian besar

penduduk (52,46%) adalah berjenis kelamin wanita.

d. Pertumbuhan Penduduk

Kelahiran pada satu tahun terakhir ada 11 bayi lahir hidup, sedangkan

kematian bayi tidak ada, baik infant mortality rate maupun maternal

mortality rate tidak ada. Kematian balita (3-5 tahun) 1 orang pada periode 6

bulan terakhir tahun 2013 karena sakit.

e. Budaya Penduduk

Mayarakat Desa Bakunglor hampir seluruhnya bersuku jawa, sehingga

tidak ada perbedaan budaya maupun kebiasaan, sehingga tidak ada konflik

etnis maupun sara karena homogen.

f. Mobilitas Penduduk

1) Jenis Kependudukan

Penduduk desa Bakunglor adalah penduduk tetap, tidak ada

penduduk sementara atau penduduk musiman.

2) Pemanfaatan Waktu oleh Penduduk

Karena mayoritas penduduk adalah petani maka waktu lebih

banyak dipergunakan bekerja di sawah, pergi jam 06.00 WIB dan

pulang kadang-kadang jam 18.00 WIB. Waktu istirahat malam rata-rata

jam 21.00 WIB sudah tidur malam dan bangun pagi jam 04.00WIB.
67

Sedangkan para lansia mereka rata-rata Katz indeknya A dan mereka

masih mampu untuk bekerja disawah.

g. Kelas Sosial Penduduk

Kelas sosial penduduk berdasarkan tingkatan kesejahteraan keluarga

dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 3.4 Distribusi Kelas Sosial Berdasarkan Tingkat Penghasilan

No. Penghasilan Jumlah Persentase (%)


1. Keluarga Pra-sejahtera 757 38,89
2. Keluarga Sejahtera I 450 23,11
3. Keluarga Sejahtera II 390 20,03
4. Keluarga Sejahtera III 250 12,84
5. Keluarga Sejahtera III plus 100 5,13
Jumlah 1947 100
Sumber : Data Sekunder

Berdasarkan tabel 3.4 diatas, sebagian besar keluarga (38,89%) adalah

keluarga Pra-sejahtera.

h. Kelas Sosial Penduduk Berdasaarkan Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan penduduk berdasarkan hasil survey mawas diri

(SMD), dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 3.5 Distribusi Kelas Sosial Berdasarkan Kategori Tingkat Pendidikan

No. Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase (%)


1. Belum Sekolah 85 7,91
2. TK/PA/PAUD 26 2,42
3. SD/MI 519 48,28
4. SMP/MTs 167 15,53
5. SMA 154 14,32
68

6. PT 26 2,42
7. Tidak Sekolah 98 9,12
Jumlah 1075 100

Sumber data primer Pendataan Oktober 2013

Berdasarkan tabel 3.5 di atas sebagian besar penduduk (48,28%)

berpendidikan SD, hal ini sangat berpengaruh terhadap pengetahuan dan

prilaku hidup sehat. Karena pada masyarakat yang berpendidikan rendah

biasanya akan menimbulkan dua masalah yaitu perasaan apatis dan

ketidaktegasan keluarga dalam mengambil keputusan terutama tentang

kesehatan. Namun tidak demikian halnya, mereka cukup kooferatif dan

antusias serta semangat kegotongroyongan yang tinggi dan ini merupakan

sumber daya atau kekuatan untuk mengatasi masallah kesehatan.

i. Kelas Sosial Berdasarkan Jenis Pekerjaan

Jenis pekerjaan penduduk berdasarkan hasil survey mawas diri

(SMD), dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 3.6 Distribusi Kelas Sosial Berdasarkan Pekerjaan

No. Jenis Pekerjaan Jumlah Persentase (%)


1. PNS 5 1,52
2. ABRI 0 0
3. Karyawan 13 3,94
4. Wiraswasta 77 23,33
5. Buruh / petani 214 64,85
6. Pensiunan 7 2,12
7. Tidak Bekerja 14 4,24
Jumlah 330 100
Sumber : Data Primer Pendataan Oktober 2013

Berdasarkan tabel 3.6 di atas, sebagian besar penduduk (64,85)

bekerja sebagai petani. Dari hasil wawancara didapat data bahwa petani

bekerja jam 06.00 dan pulang jam 18.00. Dilihat dari jam kerja para petani
69

hampir seharian penuh (12 jam) bekerja di sawah atau ladang, maka

kemungkinan terjadi kelelahan akibat kerja dan hal ini akan menurunkan

daya tahan tubuh dan mudah terserang penyakit, sehingga produktivitas

kerja menurun.

3. Dimensi Sistem Sosial

a. Sistem Kesehatan

1) Jenis pelayanan kesehatan yang tersedia di puskesmas pembantu

Terdapat Puskesmas Pembantu Desa Bakunglor yang terletak

didusun Gempol, dengan jenis pelayanan sebagai berikut :

a) Konsultasi dan pemeriksaan kesehatan KIA dan KB


b) Pertolongan persalinan
c) Pemeriksaan dan pengobatan penyakit
d) Pelayanan umum
e) Kegawat daruratan medis.

Di Desa Bakunglor juga terdapat 1 bidan desa, 7 unit posyandu

yang tersebar di tiap dusun dengan kader kesehatan berjumlah 35

orang dan kader desa siaga.

2) Jenis pembiayaan kesehatan

Ada Askeskin, Belum ada dana sehat hasil swadaya masyarakat.

3) Jenis penyakit penduduk desa Bakunglor

Tabel 3.7 Distribusi Jenis Penyakit Yang Diderita Penduduk Desa


Bakunglor Tahun 2013

No. Jenis Penyakit Jumlah Persentase (%)


1. ISPA 16 23,19
2. Rematik 15 21,74
70

3. Hipertensi 9 13,04
4. Carries Dentist 7 10,14
5. Myalgian 7 10,14
6. Diare 4 5,79
7. Katarak 4 5,79
8. Dermatitis 3 4,35
9. Gastritis 2 2,89
10. Kecacingan 2 2,89
Jumlah 69 100
Sumber : Data primer pendataan Oktober 2013

Berdasarkan tabel 3.7 diatas, bahwa penyakit ISPA 23,19%

merupakan urutan pertama penyakit yang banyak diderita oleh

masyarakat, ini kemungkinan disebabkan oleh faktor sanitasi

lingkungan yang kurang baik. Sedangkan urutan kedua adalah Rematik

21,74% yang mayoritas diderita oleh lansia.

4) Kondisi kesehatan penduduk desa Bakunglor

Terdapat 261 Pasangan Usia Subur (PUS), 260 orang (99,62%) dalam

keadaan sehat dan 1 orang (0,38%) sakit kista.


Terdapat 4 ibu hamil, 100% frekuensi makan 3 kali makanan pokok +

selingan, 100% melakukan pemeriksaan kehamilan ke petugas kesehatan

(bidan/dokter), 100% mendapatkan imunisasi TT 2 kali, masalah

kesehatan : tidak ada.

Terdapat 17 ibu menyusui, 70,59% (12) memberikan ASI eksklusif

selama 6 bulan, masalah kesehatan : tidak ada

Terdapat 84 balita, 100% berat badan balita normal, 60 balita

(71,43%) telah mendapatkan imunisasi lengkap dan 24 balita

(28,57%) imunisasi belum lengkap. 8 balita (9,52%)) kondisi balita

saat ini sakit yaitu : 6 balita (75%) ISPA dan 2 balita (25%) diare.
71

Terdapat 119 anak usia pra sekolah dan sekolah, 24 orang (20,17%)

kondisi anak saat ini sakit, yaitu : ISPA 10 orang (41,7%), carries 7

orang (21,2%), penyakit kulit 3 orang (12,5%), diare 2 orang

(8,3%) dan cacingan 2 orang (8,3%).

Terdapat 96 usia remaja, 76 orang (79,17%) kegiatan remaja

setelah pulang sekolah adalah bermain, masalah kesehatan : tidak

ada.

Terdapat 671 usia dewasa, 10 orang (1,5 %) kondisi saat ini sakit,

yaitu : 7 orang (70%) myalgia, 2 orang (20%) gastritis, dan 1

orang (10%) kecelakaan.

Terdapat 101 usia lansia, 28 orang (27,7%) kondisi lansia saat ini

sakit, yaitu : 15 orang (55,57%) rematik, 9 orang (32,15%)

hipertensi dan 4 orang (14,28) katarak, 78,22% (79) tidak tahu

tentang posbindu.

5) Pelayanan keluarga berencana

Tabel 3.8 Distribusi Jenis Kontrasepsi Yang Digunakan PUS

No. Jenis Kontrasepsi Jumlah Persentase (%)


1. IUD 3 1,40
2. Pil 48 22,43
3. Suntik 120 56,07
4. Implan 37 17,29
5. Lain-lain 6 2,81
Jumlah 214 100
Sumber : Data Primer Pendataan Oktober 2013

Berdasarkan tabel 3.8 di atas, sebagian besar (56,07%) PUS

menggunakan jenis kontrasepsi suntikan.

6) Kondisi kesehatan lingkungan


72

a) Pemukiman

Tabel 3.9 Distribusi Jenis Bangunan Rumah

Penduduk

No. Jenis bangunan Jumlah Persentase (%)


1. Permanen 325 98,48
2. Semi permanen 5 11,52
Jumlah 330 100
Sumber : Data Primer Pendataan Oktober 2013

Berdasarkan tabel 3.9 di atas, sebagian besar (98,48%) jenis

bangunan rumah penduduk adalah permanen.

b) Kondisi Rumah

Tabel 3.10 Distribusi Rumah Berdasarkan Kebersihan

No. Kriteria Jumlah Persentase (%)


1. Bersih 232 70,30
2 Tidak Bersih 98 29,70
Jumlah 330 100
Sumber : Data Primer Pendataan 2013

Berdasarkan tabel 3.10 di atas, sebagian besar rumah (70,30%)

dalam keadaan bersih.

c) Ventilasi Rumah

Tabel 3.11 Distribusi Rumah Berdasarkan Ventilasi

No. Kriteria Jumlah Persentase (%)


1. Baik 258 78,18
2. Kurang 72 21,82
Jumlah 330 100
Sumber : Data Primer Pendataan 2013

Berdasarkan tabel 3.11 di atas, 21,82% rumah memiliki

ventilasi yang kurang.


73

d) Pencahayaan Rumah

Tabel 3.12 Distribusi Rumah Berdasarkan Pencahayaan

No. Kriteria Jumlah Persentase (%)


1. Terang 209 63,33
2. Kurang Terang 121 36,67
Jumlah 330 100

Berdasarkan tabel 3.12 di atas, 36,67% rumah memiliki

pencahayaan yang kurang.

e) Jamban Keluarga

Tabel 3.13 Distribusi Rumah Berdasarkan Jamban Keluarga

No. Kriteria Jumlah Persentase (%)


1. Punya WC 134 40,61
2. Tidak Punya WC 196 59,39
Jumlah 330 100
Sumber : Data Primer Pendataan Oktober 2013

Berdasarkan tabel 3.13 di atas, sebagian besar rumah (59,39%)

tidak memiliki jamban keluarga.

f) Jarak Sumber Air dengan Septiktank

Tabel 3.14 Distribusi Rumah Berdasarkan Jarak Sumber Air dengan


Septiktank

No. Kriteria Jumlah Persentase (%)


1. < 10 meter 76 56,72
2. > 10 meter 58 43,28
Jumlah 134 100
Sumber : Data Primer Pendataan Oktober 2013

Berdasarkan tabel 3.14 di atas, sebagian besar rumah (56,72%)

memiliki jarak sumber air dengan setiktank < 10 meter.


74

g) Keberadaan Jentik Nyamuk

Tabel 3.15 Distribusi Rumah Berdasarkan Keberadan Jentik


Nyamuk

No. Kriteria Jumlah Persentase (%)


1. Ada Jentik 15 4,54
2. Tidak Ada Jentik 315 95,46
Jumlah 330 100
Sumber : Data Primer Pendataan Oktober 2013

Berdasarkan tabel 3.15 di atas, 4,54% rumah ditemukan jentik

nyamuk.

h) Pengolahan Sampah

Tabel 3.16 Distribusi Pengolahan Sampah

No. Pembuangan Limbah Jumlah %


1. Ditumpuk 7 2,12
2. Dikubur 2 0,61
3. Dibakar 35 10,61
4. Diambil petugas 286 86,66
Total 330 100
Sumber : Data Primer Pendataan Oktober 2013

Berdasarkan tabel 3.16 di atas, sebagian besar (86,66%)

pengelolaan sampahnya diambil oleh petugas sampah.

4. Sistem Keluarga

a. Type Keluarga

Tabel 3.17 Distribusi Keluarga Berdasarkan Type Keluarga

No. Type Keluarga Jumlah Persentase (%)


1. Extended family 91 27,57
2. Nuclear family 236 71,51
75

3. Lansia sendirian 3 0,92


Jumlah 330 100
Sumber : Data Primer Pendataan Oktober 2013

Berdasarkan tabel 3.17 di atas, sebagian besar keluarga (71,51%)

merupakan keluarga inti.

b. Pola Hidup Sehat

a) Pengelolaan sayuran sebelum dimasak

Tabel 3.18 Distribusi Keluarga Berdasarkan Pengelolaan Sayuran


Sebelum Dimasak

No. Pengolahan Makanan Jumlah Persentase (%)


1. Dicuci baru dipotong 172 52,12
2. Dipotong baru dicuci 158 47,88
Total 330 100
Sumber : Data Primer Pendataan Oktober 2013

Berdasarkan tabel 3.18 di atas, sebagian besar keluarga (52,12%)

melakukan pengelolaan sayuran dicuci baru dipotong.

b) Penyajian makanan yang telah dimasak

Tabel 3.19 Distribusi Keluarga Berdasarkan Penyajian Makanan Setelah


Dimasak

No. Penyajian Makanan Jumlah Persentase (%)


1. Tertutup 290 87,89
2. Terbuka 40 12,11
Total 330 100
Sumber : Data Primer Pendataan Oktober 2013
Berdasarkan tabel 3.19 di atas, sebagian besar keluarga (87,89%)

melakukan penyajian makanan setelah dimasak secara tertutup.


c) Kebiasaan menggantung pakaian

Tabel 3.20 Distribusi Keluarga Berdasarkan Kebiasaan Menggantung


Pakaian

No. Kebiasaan Menggantung Pakaian Jumlah Persentase (%)


1. Ya 199 60,30
2. Tidak 131 39,70
Total 330 100
Sumber : Data Primer Pendataan Oktober 2013
76

Berdasarkan tabel 3.20 di atas, sebagian besar keluarga (60,30%)

mempunyai kebiasaan menggantung pakaian.

d) Kebiasaan keluarga menggunakan handuk

Tabel 3.21 Distribusi Keluarga Berdasarkan Kebiasaan Menggunakan


Handuk

No. Menggunakan Handuk Jumlah Persentase (%)


1. Sendiri 255 77,27
2. Bersama sama 75 22,73
Total 330 100
Sumber : Data Primer Pendataan Oktober 2013

Berdasarkan tabel 3.21 di atas, sebagian keluarga (22,73%)

mempunyai kebiasaan menggunakan handuk secara bersama-sama.

e) Kebiasaan anak melakukan kebersihan diri

Tabel 3.22 Distribusi Kebiasaan Anak Melakukan Kebersihan Diri

No. Kebiasaan Mandi Jumlah Persentase (%)


1. 1x 10 8,40
2. 2x 100 84,03
3. 3x 9 7,57
Total 119 100
Sumber : Data Primer Pendataan Oktober 2013

Berdasarkan tabel 3.22 di atas, sebagian anak (8,40%) mempunyai

kebiasaan membersihkan diri (mandi) 1 kali/hari.

f) Kebiasaan anak mencuci tangan pakaian sabun

Tabel 3.23 Distribusi Kebiasaan Anak Melakukan Cuci Tangan Pakai


Sabun

No. Kebiasaan Cuci Tangan Jumlah Persentase (%)


1. Ya 105 88,23
2. Tidak 14 11,77
Total 119 100
Sumber : Data Primer Pendataan Oktober 2013
77

Berdasarkan tabel 3.23 di atas, sebagian anak (11,77%) mempunyai

kebiasaan tidak cuci tangan pakai sabun.

g) Kebiasaan anak memakai alas kaki saat bermain

Tabel 3.24 Distribusi Kebiasaan Anak Memakai Alas Kaki Saat Bermain

No. Kebiasaan Memakai Alas Kaki Jumlah Persentase (%)


1. Ya 106 89,07
2. Tidak 13 10,93
Total 119 100
Sumber : Data Primer Pendataan Oktober 2013

Berdasarkan tabel 3.24 di atas, sebagian anak (10,93%) mempunyai

kebiasaan tidak memakai alas kaki saat bermain.

h) Kebiasaan keluarga buang air besar

Tabel 3.25 Distribusi Keluarga Berdasarkan Kebiasaan Buang Air Besar

No. Kebiasaan Buang Air Besar Jumlah Persentase (%)


1. Dijamban 134 40,61
2. Sembarangan (kebun, sawah, sungai, dll) 196 59,39
Total
Sumber : Data Primer Pendataan Oktober 2013

Berdasarkan tabel 3.25 di atas, sebagian besar keluarga (59,39%)

mempunyai kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS).

i) Penggunaan air bersih dalam keluarga

Tabel 3.26 Distribusi Keluarga Berdasarkan Penggunaan Air Bersih

No. Sumber Air Jumlah %


1. PAM/Ledeng 0 0
2. Sumur 94 28,48
3. Sungai 0 0
4. Pompa air/listrik 236 71,52
Total 330 100
Sumber : Data Primer Pendataan Oktober 2013
78

Berdasarkan tabel 3.26 di atas, 100% keluarga telah menggunakan air

bersih.

5. Sistem Kesejahteraan

Program pengentasan kemiskinan yang berjalan di masyarakat diantaranya

adalah Raskin (beras miskin), Jamkesmas/Askeskin untuk jaminan pelayaan

kesehatan masyarakat miskin, bantuan langsung tunai (BLT) untuk

kompensensasi kenaikan BBM bagi masyarakat miskin. Disamping itu juga

terdapat lembaga perekonomian desa yang dapat mendorong peningkatan

kesejahteraan masyarakat desa Bakunglor, yaitu koperasi simpan pinjam,

lumbung desa dan gabungan kelompok tani (Gapoktan).

Kegiatan gotong royong antar warga desa Bakunglor masih kuat, seperti

pada kegiatan hajatan, pembangunan sarana umum, pembangun rumah warga.

6. Sistem Ekonomi

Mayoritas penduduk desa Bakunglor bermata pencaharian dari hasil

pertanian padi. Hal ini sesuai dengan sumberdaya alam utama yang dimiliki

oleh desa bakunglor adalah lahan pesawahan yang subur, disamping padi hasil

pertanian lainya yang menjadi andalan desa bakunglor adalah jambu biji.

Tabel 3.27 Distribusi Keluarga Berdasarkan Penghasilan

No. Sifat Kesejahteraan Jumlah Persentase (%)


1. < Rp 500.000 5 1,52
2. Rp 500.000 1000.000 123 37,27
3. > Rp 1000.000 202 61,21
Jumlah 330 100
79

Berdasarkan tabel 3.27 di atas, sebagian besar keluarga (61,21%) memiliki

tingkat penghasilan > Rp. 1000.000, hal ini menunjukan bahwa dari segi

ekonomi sudah dapat dikatakan cukup memadai dan ini merupakan kekuatan

untuk menunjang hidup sehat.

7. Sistem Politik

Cara pemilihan tokoh masyarakat formal seperti Ketua RT dan

RW dilakukan dengan cara musyawarah mufakat. Sedangkan dalam

bidang non formal seperti bidang agama, misalnya imam dan bilal di

masjid dipilih berdasarkan keahliannya.

Peraturan tak tertulis berdasarkan aturan-aturan yang terdapat

dalam budaya jawa dan hasil kesepakatan bersama warga.

Struktur pemerintahan formal : Kepala desa membawahi

Kepala dusun, Kepala dusun membawahai beberapa RW dan RW

membawahi beberapa RT.

8. Sistem Rekreasi

Warga Desa Bakunglor hampir rata-rata tidak mempunyai jadwal

rekreasi, mereka hanya melakukan rekreasi pada saat-saat tertentu saja,

seperti pada saat tahun baru dan pada hari raya idul fitri.sesekali.
Desa Bakunglor tidak mempunyai sarana/tempat rekreasi, untuk rekreasi

warga harus keluar wilayah seperti ke kota cirebon, kuningan, majalengka,

dan lain-lain. Satu-satunya sarana hiburan bagi keluarga pada waktu luang

adalah televisi dan radio.


80

9. Sistem Komunikasi

Komunikasi dalam masyarakat terbentuk secara vertikal dan horisontal.

Komunikasi horisontal yaitu komunikasi yang terbentuk antar warga

masyarakat Desa Bakunglor. Sedangkan komunikasi vertikal yaitu

komunikasi antara warga masyarakat Desa Bakunglor dengan Pemerintahan

Desa Bakunglor, yaitu dari warga masyarakat ke ketua RT, kemudian ke

ketua RW, kemudian ke kepala dusun, kemudian ke kepala desa/kuwu dan

sebaliknya.

Media komunikasi yang sering digunakan biasanya adalah masjid atau

musollah sebagai pusat penyampaian informasi disamping telepon.

10. Sistem Keagamaan

Seluruh penduduk desa Bakunglor beragama islam,

kegiatan ibadah khususnya Sholat dilaksanakan di Masjid

atau Musolah, disamping itu terdapat kegiatan pengajian

rutin mingguan yang dilaksanakan di Masjid Desa Bakunglor

setiap malam minggu jam 18.00 WIB. Selain itu juga selalu

dilaksanakan kegiatan keagamaan yang berhubungan dengan

peringatan tahun baru islam, maulid nabi, isra miraj, dan lain-

lain.

Organisasi keagamaan yang mengatur kegiatan yang

berhubungan pelaksanaan syariat agama diantaranya adalah

majelis ulama tingkat desa dan organisasi remaja masjid.


81

11. Sistem Legal

Peraturan atau ketentuan tentang kependudukan yang berlaku adalah

peraturan perundang-undangan negara RI yang berhubungan dengan

pemerintahan desa, peraturan yang bersumber pada hukum agama dan

norma/nilai-nilai yang bersumber pada adat istiadat/budaya dan atas

kesepakatan bersama warga masyarakat.

Sistem keamanan desa diantaranya terdapat Linmas yang unsur utamanya

adalah petugas hansip yang pembinanya dari unsur TNI/Polri (Babinsa).

3.2 Analisa Data Komunitas


Analisa data yang dilakukan meliputi tahapan sebagai berikut :
1. Klasifikasi Data

No. Klasifikasi Distribusi Frekuensi Persentase


(%)
1 Distribusi penduduk Balita (0-5 tahun)
menurut kelompok 84 7,81
umur Usia pra dan sekolah (5-12 tahun)
119 11,07
Usia remaja (12-18 tahun)
96 8,93

Usia Dewasa (18-55 Tahun) 671 62,42

Usia Lansia (>55 Tahun) 105 9,77


2 Distribusi tingkat Keluarga Pra-sejahtera 757 38,89
kesejahteraan Keluarga Sejahtera I 450 23,11
keluarga Keluarga Sejahtera II 390 20,03
Keluarga Sejahtera III 250 12,84
Keluarga Sejahtera III plus 100 5,13
3 Distribusi penduduk Tidak Sekolah 98 9,12
menurut tingkat Belum Sekolah 85 7,91
pendidikan TK/PA/PAUD 26 2,42
SD/MI 519 48,28
SMP/MTs 167 15,53
SMA 154 14,32
PT 26 2,42
4 Distribusi penduduk PNS 5 1,52
menurut pekerjaan ABRI 0 0
kepala keluarga Karyawan 13 3,94
Wiraswasta 77 23,33
Buruh / petani 214 64,85
Pensiunan 7 2,12
82

Tidak Bekerja 14 4,24


5 Distribusi jenis ISPA 16 23,19
penyakit Rematik 15 21,74
Hipertensi 9 13,04
Carries Dentist 7 10,14
Myalgian 7 10,14
Diare 4 5,79
Katarak 4 5,79
Dermatitis 3 4,35
Gastritis 2 2,89
Kecacingan 2 2,89

6 Distribusi jenis Permanen 325 98,48


bangunan rumah Semi permanen 5 11,52
7 Distribusi kebersihan Bersih 232 70,30
rumah Tidak Bersih 98 29,70
8 Distribusi ventilasi Baik 258 78,18
rumah Kurang 72 21,82
9 Distribusi Terang 209 63,33
pencahayaan rumah Kurang Terang 121 36,67
10 Distribusi jamban Punya WC 134 40,61
keluarga Tidak Punya WC 196 59,39
11 jarak sumber air dan < 10 meter 76 56,72
septiktank > 10 meter 58 43,28
No. Klasifikasi Distribusi Frekuensi Persentase
(%)
12 Distribusi keberadaan Ada Jentik 15 4,54
jentik nyamuk Tidak Ada Jentik 315 95,46
13 Distribusi Pengolahan Ditumpuk 7 2,12
sampah Dikubur 2 0,61
Dibakar 35 10,61
Diambil petugas 286 86,66
14 Distribusi tipe Extended family 91 27,57
keluarga Nuclear family 236 71,51
Lansia sendirian 3 0,92
15 Distribusi pengolahan Dicuci baru dipotong 172 52,12
sayuran Dipotong baru dicuci 158 47,88
16 Distribusi penyajian Tertutup 290 87,89
makanan Terbuka 40 12,11
17 Distribusi kebiasaan Ya 199 60,30
menggantung pakaian Tidak 131 39,70
18 Distribusi kebiaasaan Sendiri 255 77,27
memakai handuk Bersama sama 75 22,73
19 Distribusi kebiasaan 1x 10 8,40
anak membersihkan 2x 100 84,03
diri (mandi) 3x 9 7,57
20 Distribusi kebiasaan Ya 105 88,23
anak cuci tangan Tidak 14 11,77
21 Distribusi kebiasaan Ya 106 89,07
anak memakai sandal Tidak 13 10,93
22 Distribusi kebiasaan Dijamban 134 40,61
buang air besar Sembarangan (kebun, sungai, dll) 196 59,39
23 Distribusi PAM/Ledeng 0 0
Sumur 94 28,48
83

penggunaan air bersih Sungai 0 0


Pompa air/listrik 236 71,52
24 Distribusi tingkat < Rp 500.000 5 1,52
penghasilan keluarga Rp 500.000 1000.000 123 37,27
> Rp 1000.000 202 61,21

2. Interpretasi Data

No. Data Masalah kesehatan


1 11,77% anak tidak melakukan Resiko terjadinya penyakit
kebiasan cuci tangan pakai sabun yang disebabkan oleh karena
10,93% anak tidak memakai alas sanitasi lingkungan yang
kaki saat bermain kurang baik
60,30% memiliki kebiasaan
menggantung pakaian
59,39% tidak memiliki jamban
keluarga
59,39% melakukan perilaku buang
air besar sembarangan (BABS)
56, 72% jarak sumber air dengan
septiktank <10 meter
22,73% mempunyai kebiasaan
menggunakan handuk bersama-sama
21,28% kondisi ventilasi rumah
kurang
36,67% kondisi pencahayaan rumah
kurang
4,54% ditemukan keberadaan jentik
nyamuk
2 Berdasarkan kelompok umur lansia Resiko tinggi terjadinya
berada pada peringkat 3 yaitu 9,77% peningkatan angka kejadian
Masalah kesehatan : Rematik penyakit degeneratif pada
55,57%, Hipertensi 32,15% dan lansia. (reumatik, Hipertensi,
Katarak 14,28% dan Katarak)
78,22% tidak tahu tentang Posbindu
84

3. Prioritas Masalah

Ketersediaan Keahlian yang


Kemampuan Perawat

Konsekuensi Jika Masalah

Percepatan penyelesaian
Kesadaran Masyarakat

Motivasi Masyarakat

8.

11.
10.
9.
6.

7.
Masalah Kesehatan

Pembenaran
Mempengaruhi Penyelesaian

12.

13.

14.
4.

5.

masalah yang dapat dicapai


Relevan

Tidak Terselesaikan
17. B 18. B 19. B 20. B 21. B 22. B
obot 5 obot 10 obot 5 obot 7 obot 8 obot 8
28. K 29. K 30. K 31. K 32. K 33. K

Masalah
riteria : riteria : riteria : riteria : riteria : riteria :
39. Ti 40. Ti 41. Ti 42. Ti 43. Ti 44. Ti
nggi 3 nggi 3 nggi 3 nggi 3 nggi 3 nggi 3
50. S 51. S 52. S 53. S 54. S 55. S
edang 2 edang 2 edang 2 edang 2 edang 2 edang 2
61. R 62. R 63. R 64. R 65. R 66. R
endah 1 endah 1 endah 1 endah 1 endah 1 endah 1
70. 71. Resiko terjadinya 80. Masyarakat
1 penyakit yang disebabkan oleh menyadari namun
78.
karena sanitasi lingkungan yang 72. 3, 73. 3, 74. 3, 75. 2, 77. 2, 79. membutuhkan biaya
76. 8 22,
kurang baik 3 3 3 3 6 II dan waktu yang lama
8
karena masalahnya
yang kompleks
81. 82. Resiko tinggi 83. 5 84. 3, 85. 5 86. 4, 87. 8 88. 5, 89. 90. 91. Masyarakat
2 terjadinya peningkatan angka 3 6 3 31, I menyadari & masalah
85

kejadian penyakit degeneratif dapat diatasi dengan


pada lansia. (reumatik, memberikan Penkes
2
Hipertensi, dan Katarak) dan pembinaan pada
lansia
86

3.3 Diagnosa Keperawatan Komunitas


92. Diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas masalah adalah sebagai

berikut :
1. Resiko tinggi terjadinya peningkatan angka kejadian penyakit degeneratif pada

lansia (Reumatik, Hipertensi dan Katarak) berhubungan dengan : Kurangnya

pengetahuan keluarga tentang proses menua, ketidak mampuan masyarakat

mengenal masalah penyakit hipertensi, rematik dan katarak, serta kurangnya

pemantauan dan pelayanan kesehatan pada lansia, yang ditandai dengan :


9,77% penduduk adalah lansia
Penyakit yang sering dialami lansia adalah reumatik, hypertensi dan

katarak
78,22% lansia tidak tahu tentang Posbindu
2. Resiko terjadinya penyakit yang disebabkan oleh karena sanitasi lingkungan

yang kurang baik berhubungan dengan kurangnya pengetahuan masyarakat

mengenai dampak yang di timbulkan dari sanitasi lingkungan yang kurang baik,

yang ditandai dengan :


11,77% anak tidak melakukan kebiasan cuci tangan pakai sabun
10,93% anak tidak memakai alas kaki saat bermain
60,30% memiliki kebiasaan menggantung pakaian
59,39% tidak memiliki jamban keluarga dan melakukan perilaku buang air

besar sembarangan (BABS)


56, 72% jarak sumber air dengan septiktank <10 meter
22,73% mempunyai kebiasaan menggunakan handuk bersama-sama
21,28% kondisi ventilasi rumah kurang
36,67% kondisi pencahayaan rumah kurang
4,54% ditemukan keberadaan jentik nyamuk
87

3.4 Rencana Keperawatan Komunitas

3.16
- Mengadaka - Mengada - Masyarakat 3.65
- Sampai akhir n pelatihan kader kan pelatihan dan tokoh
Nopember 2013 posbindu kader Posbindu masyarakat hadir
tidak terjadi - Sosialisasi 3.23 pada pelatihan kader
peningkatan masalah lansia 3.24 posbindu
penyakit pada masyarakat , 3.25 - Minimal 50%
degeneratif pada tokoh masyarakat, - Kerjasam lansia hadir dalam
lansia puskesmas a dengan tokoh pendidikan kesehatan
3.17 - Sosialisasi masyarakat dan dan latihan fisik pada
3.18 jenis kegiatan : puskesmas lansia
- Perkumpul jenis, persiapan, untuk - Lansia mau
an lansia yang dan bentuk pelaksanaan mengikuti latihan
telah terbentuk partisipasi yang pendidikan dan mau
mampu menjadi diharapkan kesehatan pada mempraktekkannya
wadah - Kerjasama lansia tentang : dirumah
pemantauan lintas program Hipertensi, - Tokoh
kesehatan Lansia dan lintas sektoral Rematik dan masyarakat,
- Lansia bila diperlukan Katarak : Puskesmas,
mampu pengertian, mendukung adanya
memanfaatkan penyebab, dan pendidikan kesehatan
fasilitas faktor yang pada lansia
pelayanan yang mempengaruhi - Puskesmas
ada nya, tanda dan berperan aktif dalam
- Lansia gejala, upaya follow up case dan
tidak mengeluh pencegahan pembinaan keluarga
kondisi patologis dan - Keluarga
kecuali yang penanganannya memberikan
berkaitan dengan Pentingnya perhatian dan
proses menua latihan fisik membantu lansia
fisiologis bagi lansia : dalam pemenuhan
3.19 Pengertian, kebutuhan dasarnya
88

- Keluarga manfaat dan - Adanya


mau merawat bentuk latihan perhatian dari warga
lansia baik fisik yang sekitar terhadap
lansia yang dapat pemenuhan
tinggal serumah dilakukan oleh kebutuhan dasar
maupun lansia lansia lansia yang hidup
yang terdekat Tingkatkan sendiri.
3.20 upaya - Penurunan angka
pengembangan penyakit degeneratif:
3.21 kelompok Hipertensi, Rematik
senam lansia dan katarak sampai
3.22 dengan
10% dari angka
meningkatkan
partisipasi kejadian
lansia dalam
latihan fisik
secara tepat
dan teratur
Anjurkan
lansia dan
keluarga
segera
memeriksa diri
kepelayanan
kesehatan bila
ada masalah
kesehatan
Bina
keluarga dan
follow up case
3.26
89

3.77
-Penyegaran dan - Mengada - Kader 3.130
- Sampai akhir pelatihan kader kan penyegaran mengerti apa yang
Nopember 2013 kesehatan dan pelatihan disampaikan oleh
tidak terjadi kader kesehatan pemberi materi
tentang PHBS
penyakit akibat tentang PHBS - Seluruh Kader
sanitasi tatanan rumah tatanan rumah hadir pada kegiatan
lingkungan yang tangga tangga dan pelatihan kader
kurang baik STBM 3.125
seperti ISPA & -Sosialisasi 3.81 3.126
diare. kegiatan : 3.82 3.127
3.78 3.80 Jenis, - Kerja 3.128
3.79 persiapan, dan sama dengan - Masyarakat
- Adanya bentuk tokoh yang diundang dapat
peningkatan partisipasi yang masyarakat, hadir dalam
pengetahuan diharapkan Puskesmas pendidikan kesehatan
masyarakat untuk - Masyarakat
tentang sanitasi - Kerja sama lintas pelaksanaan mengatakan bahwa ia
lingkungan yang program dan pendidikan mampu dan akan
memenuhi syarat lintas sektoral kesehatan berusaha untuk
kesehatan tentang sanitasi menata lingkungan
- Masyaraka lingkungan yang yang sesuai dengan
t mampu sehat serta kesehatan
meningkatkan dampak negatif - Tidak terjadi
pengetahuan dari kondisi peningkatan angka
tentang PHBS lingkungan yang kejadian ISPA
tatanan rumah tidak sehat bagi ataupun diare
tangga kesehatan - Puskesmas
- Masyaraka 3.83 berperan aktif dalam
t mampu - Bina follow up case dan
mempertahankan keluarga dan pembinaan keluarga
pola hidup sehat follow up case 3.129
90

3.131 Implementasi Keperawatan Komunitas

3.132 Untuk merealisasikan rencana asuhan keperawatan yang telah dibuat

maka dilakukan implementasi keperawatan sebagai berikut :

3.149 3.155 3.158

3.138
Mensosialisasikan pada kepala desa Negosiasi ke Puskesmas
3.139 dan tokoh masyarakat tentang Wangunharja tentang
masalah kesehatan pada lansia hasil akan dilaksanakanya
3.140
dari hasil MMD dan sekaligus kegiatan pelatihan kader
3.141 musyawarah untuk mengatasi Posbindu, pemantauan
masalah dengan hasil kesepakatan kesehatan dan konseling
3.142 mengadakan pelatihan kader pada lansia
posbindu, pemantauan kesehatan
3.143 lansia dan konseling pada lansia 3.156
3.157
3.144
3.150
3.145
3.151 Melaksanakan pelatihan
kader posbindu tentang
3.146
3.152 proses menua dan
3.147 penyakit degeneratif
3.153
bertempat di Balai Desa
3.148
3.154 Bakunglor jam 09.00 WIB
Mengadakan kegiatan
pemeriksaan kesehatan
dan konseling pada lansia
bertempat di Balai Desa
Bakunglor jam 11.00 WIB

3.160 3.161 3.165

Mensosialisasikan pada kepala desa Negosiasi ke Puskesmas


dan tokoh masyarakat tentang Wangunharja tentang
masalah kesehatan pada pola hidup akan dilaksanakanya
dan sanitasi lingkungan yang kurang kegiatan pelatihan kader
baik dari hasil MMD dan sekaligus tentang PHBS tatanan
musyawarah untuk mengatasi rumah tangga dan STBM
masalah dengan hasil kesepakatan 3.162
mengadakan pelatihan kader tentang 3.163 Tanggal 29 Oktober
PHBS tatanan rumah tangga dan 2013
3.164
nantinya kader yang akan
Melaksanakan kegiatan
menyampaikan ke masyarakat
pelatihan kader tentang
PHBS tatanan rumah
tangga dan STBM
91

bertempat di Balai Desa


Bakunglor jam 10.00 WIB
92

3.166 Evaluasi Keperawatan Komunitas

3.167 3.168 Dx. 3.169 Tang


3.170 Implementasi 3.171 Evaluasi 3.172 Modifikasi 3.173 Paraf
No Kep gal
3.174 3.175 1 3.176 28/10 Pelatihan kader posbindu Kader dapat memahami materi Bekerjasama dengan 3.178
1 /2013 tentang proses menua dan yang disampaikan dan bersedia majelis talim dalam
penyakit degeneratif (rematik, untuk menginformasikan pembinaan dan
hipertensi dan katarak) kepada masyarakat pemantauan kesehatan
Pemeriksaan kesehatan dan Pemeriksaan kesehatan dan lansia
konseling pada lansia konseling dilakukan terhadap
28 lansia dengan masalah
kesehatan yang didapat pada
saat survey mawas diri (SMD)
3.177
3.179 3.180 2 3.181 29/10 Penyegaran dan Pelatihan Kader posyandu dapat Memberikan suport 3.182
2 /2013 kader posyandu tentang memahami materi yang terhadap PMPN Mandiri
PHBS tatanan rumah tangga disampaikan dan bersedia untuk yang berencana
dan STBM menginformasikan kepada membangun jamban
masyarakat (WC) umum di 3
35 orang kader posyandu dapat musola, yaitu :
hadir pada saat pelatihan - Jatiwaluya
- Sidapurna
- Jatimulya
3.183

3.184

3.185

3.186
93

3.187

3.188 BAB IV

3.189 PEMBAHASAN

3.190

3.191 Pembahasan dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT, yaitu identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk

merumuskan strategi suatu perusahaan atau orgainisasi. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strength)

dan peluang (opportunity), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threat). Analisis SWOT

membandingkan antara faktor eksternal peluang dan ancaman dengan faktor internal kekuatan dan kelemahan. (Rangkuti, 2002)

3.192 Berdasarkan hasil kegiatan PKMD di Desa Bakunglor Kecamatan Jamblang Kabupaten Cirebon, maka analisis SWOT nya

dapat disampaikan sebagai berikut :

1. Identifikasi Faktor Internal


1. Kekuatan (Strength)
a. Adanya dukungan kepala desa untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakan desa bakunglor.
b. Adanya forum masyarakat desa siaga dan kader desa siaga
c. Adanya majelis talim ditiap dusun
d. Adanya semangat gotong royong yang tinggi
e. Sebagian besar keluarga (61,12%) adalah keluarga sejahtera
f. Sebagian besar (62,42%) penduduk adalah usia produktif
g. Sebagian besar keluarga (71,51%) adalah keluarga inti
57

h. Sebagian besar keluarga (61,21%) mempunyai tingkat penghasilan >1000.000/bulan.


2. Kelemahan (Weaknesses)
a. Sebagian besar penduduk (48,28%) memiliki tingkat pendidikan SD
b. Kader kesehatan kurang aktif
c. Kegiatan Posbindu kurang aktif
d. Meningkatnya angka penyakit degeneratif pada lansia
e. Sanitasi lingkungan yang tidak sehat
f. Pola hidup yang tidak sesuai dengan PHBS
3.193
2. Identifikasi Faktor Ekstrnal
1. Peluang (Opportunity)
a. Adanya kebijakan pemerintah melalui program PMPN Mandiri
b. Adanya sarana pelayanan kesehatan di desa : Pustu, bidan desa dan praktek dokter swasta
c. Program puskesmas untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat, seperti : Promkes, Kesling, Perkesmas, dll.
d. Institusi pendidikan kesehatan yang melaksanakan kegiatan pembangunan kesehatan masyarakat desa (PKMD)
2. Ancaman (Threat)
a. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempengaruhi perilaku masyarakat termasuk dalam PHBS
b. Era globalisasi mempengaruhi pola konsumtif masyarakat
3.194
3.195
3.196
3. Matriks TOWS

3.197 3.223 Strength (S) 3.224 Weakneses (W)


3.198 I 1. Adanya dukungan kepala 1. Sebagian besar
FAS desa untuk peningkatan penduduk (48,28%)
3.199 derajat kesehatan memiliki tingkat
3.200 masyarakan desa pendidikan SD
3.201 2. Kader kesehatan
bakunglor.
3.202
2. Adanya forum masyarakat kurang aktif
58

3.203 desa siaga dan kader desa 3. Kegiatan Posbindu


3.204 siaga kurang aktif
3.205 3. Adanya majelis talim 4. Meningkatnya angka
3.206 ditiap dusun penyakit degeneratif
3.207 4. Adanya semangat gotong pada lansia
3.208
royong yang tinggi 5. Sanitasi lingkungan
3.209
5. Ada 7 unit Posyandu yang tidak sehat
3.210
6. Sebagian besar keluarga 6. Pola hidup yang tidak
3.211
3.212 (61,12%) adalah keluarga sesuai dengan PHBS
3.213 sejahtera 3.225
3.214 7. Sebagian besar (62,42%)
3.215 penduduk adalah usia
3.216 produktif
3.217 8. Sebagian besar keluarga
3.218 (71,51%) adalah keluarga
3.219 inti
3.220 9. Sebagian besar keluarga
3.221
(61,21%) mempunyai
3.222 EFAS
tingkat penghasilan
>1000.000/bulan.
3.226 Opportunities (O) 3.227 Kwd 4 3.229 Kwd 2
1. Adanya kebijakan pemerintah Strategi SO Strategi WO
melalui program PMPN 1. Mempertahankan 1. Mengadakan kegiatan
Mandiri komitmen penyegaran dan
2. Adanya sarana pelayanan 2. Meningkatkan kerjasama pelatihan kader
kesehatan di desa : Pustu, bidan dengan program Posyandu dan
desa dan praktek dokter swasta puskesmas, pustu dan Posbindu
3. Program puskesmas untuk institusi pendidikan. 2. Mengadakan
peningkatan derajat kesehatan 3. Mengoptimalkan penyuluhan kepada
masyarakat, seperti : Promkes, pemanfaatan Posyandu masyarakat tentang
Kesling, Perkesmas, dll. sebagai pusat penyuluhan PHBS tatanan rumah
4. Institusi pendidikan yang kesehatan pada tangga dan STBM
59

melaksanakan kegiatan masyarakat 3. Pemantauan dan


pembangunan kesehatan 4. Memanfaatkan majelis konseling kesehatan
masyarakat desa (PKMD) dan talim sebagai pusat pada lansia
KNM pembinaan, pemantauan 4. Advokasi ke Program
dan penyuluhan kesehatan PMPN Mandiri untuk
pada lansia pengadaan WC umum
3.228
3.230 Threats (T) 3.231 Kwd 3 Strategi 3.232 Kwd 1
1. Perkembangan ilmu ST Strategi WT
pengetahuan dan teknologi 1. Kerjasama lintas sektor 1. Meningkatkan
mempengaruhi perilaku 2. Meningkatkan peran pelatihan kader
masyarakat termasuk dalam tokoh masyarakat dan kesehatan
PHBS tokoh agama untuk 2. Meningkatkan
2. Era globalisasi mempengaruhi memberikan penyuluhan pemantauan dan
pola konsumtif masyarakat kepada masyarakat konseling kesehatan
pada lansia
3.233

4. Rencana Penyusunan Tindak Lanjut Hasil Analisis SWOT

3.234
3.235 Kegiatan Pokok 3.236 Jenis Kegiatan
No.
3.237 3.238 Meningkatkan derajat kesehatan 1. Melakukan advokasi ke Program
1. lansia Kesehatan Lansia Puskesmas
Wangunharja untuk mengaktifkan
kegiatan Posbindu
2. Meningkatkan pelatihan bagi kader
Posbindu
3. Memanfaatkan sarana yang ada di
masyarakat, seperti majelis talim
60

menjadi alternatif sebagai pusat


pembinaan, pemantauan dan
penyuluhan kesehatan bagi lansia
3.239
3.240 3.241 Meningkatkan perilaku hidup 1. Melakukan advokasi ke Program
2. bersih dan sehat (PHBS) dan sanitasi Promkes dan Kesling Puskesmas
lingkungan yang sehat Wangunharja untuk meningkatkan
kegiatan penyuluhan pada masyarakat
2. Meningkatkan pelatihan kader
Posyandu
3. Melakukan advokasi pada Program
PMPN Mandiri untuk pembangunan
fasilitas sanitasi dasar, seperti wc umum
percontohan.
3.242

3.243

3.244

3.245

3.246

3.247

3.248

3.249
61

3.250

3.251 BAB V

3.252 KESIMPULAN DAN SARAN

3.253

3.254 Setelah melaksanakan asuhan keperawatan komunitas secara langsung selama 4 minggu dapatlah

disimpulkan dan disarankan sebagai berikut :

3.255

5.1 Kesimpulan

1. Tidaklah mudah untuk melaksanakan pengkajian komunitas dan rumusan diagnosa keperawatan sebab

diagnosa keperawatan adalah gambaran kebutuhan komunitas bukan ners yang mewakilinya.

2. Ternyata tidaklah gampang menyusun perencanaan keperawatan komunitas sebab kita harus memperhatikan

semua faktor untuk terjadinya dinamisasi.

3. Dalam pelaksanaannya/implementasi keperawatan ternyata tidaklah mudah sebab banyak pihak dan pihak

yang harus digerakkan agar tercipta kegiatan yang terintegrai untuk mencapai tujuan.
62

4. Walaupun tingkat pendidikan warga masyarakat desa Bakunglor mayoritas SD ternyata antusiasnya terhadap

kesehatan cukup baik yang mereka butuhkan adalah fasilisator, motivator dan koordinator dalam masalah

kesehatan.

5. Masalah-masalah kesehatan dan keperawatan yang berhasil diidentifikasi di Desa Bakunglor tidaklah mudah

untuk diselesaikan secara bersamaan dalam waktu yang terbatas

3.256

3.257

5.2 Saran

1. Untuk memudahkan pengkajian komunitas sebaiknya bentuk dahulu sukarelawan untuk membantu pengkajian

yang nantinya direkrut untuk Pokjakes

2. Agar tercapainya rencana yang ditetapkan dibutuhkan keahlian yang sama untuknya negosiasi, lobi dan

advokasi pada semua level baik grassroot maupun decision maker, dan ini membutuhkan seni dalam

berkomunikasi.

3. Untuk menindaklanjuti permasalah di Desa Bakunglor perlu follow up dari fihak puskesmas Wangunharja.
63

4. Sebaiknya program kesling yang ada di Puskesmas Wangunharja turun ke Desa Bakunglor dan desa-desa lainya

yang permasalahan kesehatan sudah diintervensi.

3.258

3.259
3.260

3.261

3.262

3.263

3.264

3.265

3.266

3.267

3.268

3.269

3.270
64

3.271 DAFTAR PUSTAKA


3.272

3.273

3.274 Agus Sutarna. Buku Pedoman Kepemilikan Komunitas. Bandung : PSIK FK Unpad. 2003.
3.275

3.276 Depkes RI. Pedoman Kerja Puskesmas Jilid IV. Jakarta : Depkes
RI. 1992.

3.277

3.278 Dainur. Materi-Materi Pokok Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Widya Medika. 1995.

3.279

3.280 Freddy Rangkuti. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. 2002.

3.281

3.282Heri Purwanto. Ilmu Perilaku Manusia. Jakarta : EGC. 2001.

3.283

3.284 Knollmueler. Buku Saku Keperawatan Komunitas Kesehatan Rumah. Jakarta : EGC. 1988.

3.285
65

3.286 MPR RI. GBHN 1999 2004. Jakarta. 1999.

3.287

3.288

3.289

3.290

3.291

3.292

3.293

3.294

3.295

3.296

3.297
3.298