Anda di halaman 1dari 20

A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Manusia merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Antara manusia juga dituntut untuk salaing bekerjasama dan saling menghargai dan menghormati untuk mempertahankan hidupnya dimuak bumi ini. Manusia sebagai makhluk sosial menjadi salah satu dorongan utnuk membentuk suatu perkumpulan yang biasa di sebut “ organisasi “ .organisasi ini dibutuhkan untuk mewujudkan setiap cita-cita yang disepakati oleh anggota organisasi sebagai tujuan bersaman. Oleh karena itu, organisasi marak berkembang di tengah-tengah masyarakat. Organisasi juga dibentuk dalam berbagai asfek kehidupan, seperti pemerintahan, perusahaan, politik, hukum, ekonomi dan termasuj bidang pendidikan. Adapun desain organisasi dikaitkan dengan pengambilan keputusan manajerial yang menentukan struktur dan proses yang mengkoordinasikan dan mengendalikan pekerjaan organisasi. Hasil keputusan desain organisasi adalah suatu sistem pekerjaan dan pengelompokkan kerja termasuk proses yang melingkarinya. Proses yang berhubungan ini termasuk hubungan wewenang dan jaringan komunikasi dalam kaitannya pada perencanaan spesifik dan teknik pengendalian. Sebagai akibat, desain organisasi akan berpengaruh pada pembentukan suatu superstruktur di dalam kerja dari organisasi tersebut. Desain organisasi telah menjadi inti kerja manajerial karena usaha-uasaha sebelumnya untuk mengembangkan teori manajemen. Kepentingan keputusan desain telah menstimulasi minat yang besar atas topik bahasan. Manajer dan pakar teori perilaku organisasi dan peneliti telah berkontribusi terhadap apa yang disebut sebagai badan bacaan yang dapat dipertimbangkan. Manajer yang menghadapi perlunya mendesain struktur organisasi adalah pada posisi tidak kehilangan ide. Sangat berbeda, bahan desain organisasi telah mempunyai sejumlah ide yang menimbulkan konflik yakni bagaiaman suatu organisasi didesain mengoptimalkan efektifitas. Cara manajemen mendesain organisasi harus mengingat dimensi struktur organisasi ini. Bagaiamana kombinasinya mempunyai dampak langsung atas efektivitas individual, kelompok dan organisasi itu sendiri. Manajer harus mempertimbangkan sejumlah faktor ketika mendesain organisasi, diantaranya satu yang sangat penting adalah teknologi, sifat kerja itu sendiri, karakteristik orang yang melakukan kerja, tuntutan lingkungan organisasi,

1

keperluan untuk menerima dan memproses informasi dari lingkungan tersebut, dan keseluruhan strategi yang dipilih organisasi untuk berhubungan dengan lingkungan. Untuk memahami hal yang dirasakan kompleks, harus menjelaskan mengenai dua model umum desain umum organisasi yakni model mekanistik dan organik.

2

BAB II PEMBAHASAN

A. Stuktur Organisasi Sekolah

1. Pengertian struktur organisasi sekolah

Organisasi ( organisazation ) dan pengorganisasion (organizing) memiliki hubungan

yang erat dengan manajemen. Ada dua batasan yang perlu dikemukakan di sini, yaitu

organization sebagai kata benda, dan organizing sebagai kata kerja , yang menunjuk pada

serangkaian kegiatan yang dilakukan secara sistematis 1

Dalam dunia pendidikan, Struktur organisasi sekolah adalah struktur yang mendasari

keputusan para Pembina atau Pendiri sekolah untuk mengawali suatu proses perencanaan

sekolah yang strategis. Organisasi sekolah juga dapat dikatakan sebagai seperangkat hukum

yang mengatur formasi dan administrasi atau tata laksana organisasi-organisasi sekolah di

Indonesia. Struktur Organisasi pendidikan yang pokok ada dua macam yaitu sentralisasi dan

desentralisasi. Di antara kedua struktur tersebut terdapat beberapa struktur campuran yakni

yang lebih cenderung ke arah sentralisasi mutlak dan yang lebih mendekati disentralisasi

tetapi beberapa bagian masih diselenggarakan secara sentral. Pada umumnya, struktur

campuran inilah yang berlaku dikebanyakan negara dalam menyelenggarakan pendidikan dan

pengajaran bagi bangsanya.

  • a) Struktur Sentralisasi

Di negara-negara yang organisasi pendidikannya di jalankan secara sentral, yakni

yang kekuasaan dan tanggung jawabnya dipusatkan pada suatu badan di pusat pemerintahan

maka pemerintah daerah kurang sekali atau sama sekali tidak mengambil bagian dalam

administrasi apapun.Segala sesuatu yang mengenai urusan-urusan pendidikan, dari

1 Marno & Tryo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam, Bandung, : Refika Aditama, 2008, hal. 16

3

menentukan kebijakan (poliey) dan perencanaan, penentuan struktur dan syarat-syarat

personel, urusan kepegawaian, sampai kepada penyelenggaraan bangunan-bangunan sekolah,

penentuan kurikulum, alat-alat pelajaran, soal-soal dan penyelenggaraan ujian-ujian, dan

sebagainya. Semuanya ditentukan dan ditetapkan oleh dan dari pusat. Sedangkan bawahan

dan sekolah-sekolah hanya merupakan pelaksana-pelaksanapasifdantradisionalsemata-

mata.Sesuai dengan sistem sentralisasi dalam organisasi pendidikan ini, kepala sekolah dan

guru-guru dalam kekuasaan dan tanggung jawabnya, serta dalam prosedur-prosedur

pelaksanaan tugasnya sangat dibatasi oleh peraturan-peraturan dan instruksi-instruksi dari

pusat yang diterimanya melalui hierarchi atasannya. Dalam sistem sentralisasi semacam

ini, ciri-ciri pokok yang sangat menonjol adalah keharusan adanya uniformitas (keseragaman)

yang sempurna bagi seluruh daerah di lingkungan Negara itu.

Adapun keburukan/keberatan yang prinsipal ialah :

  • a) Bahwa administrasi yang demikian cenderung kepada sifat-sifat otoriter dan birokratis. Menyebabkan para pelaksana pendidikan, baik para pengawas maupun kepala sekolah serta guru-guru menjadi orang-orang yang pasif dan bekerja secara rutin dan tradisional belaka.

  • b) Organisasi dan administrasi berjalan sangat kaku dan seret, disebabkan oleh garis-garis komunikasi antara sekolah dan pusat sangat panjang dan berbelit- belit, sehingga kelancaran penyelesaian persoalan-persoalan kurang dapat terjamin.

  • c) Karena terlalu banyak kekuasaan dan pengawasan sentral, timbul penghalang- penghalang bagi inisiatif setempat, dan mengakibatkan uniformalitas yang mekanis dalam administrasi pendidikan, yang biasanya hanya mampu untuk

sekedar hanya membawa hasil-hasil pendidikan yang sedang atau sedikit saja. b) Struktur Desentralisasi

Di negara-negara yang organisasi pendidikannya di-desentralisasi, pendidikan bukan

urusan pemerintah pusat, melainkan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah dan rakyat

4

setempat. Penyelenggaraan dan pengawasan sekolah-sekolah pun berada sepenuhnya dalam

tanganpenguasadaerah.

Kemudian pemerintah daerah membagi-bagikan lagi kekuasaannya kepada daerah

yang lebih kecil lagi, seperti kabupaten/kotapraja, distrik, kecamatan dan seterusnya dalam

penyelengaraan dan pembangunan sekolah, sesuai dengan kemampuan, kondisi-kondisi, dan

kebutuhan masing-msing. Tiap daerah atau wilayah diberi otonomi yang sangat luas yang

meliputi penentuan anggaran biaya, rencana-rencana pendidikan, penentuan personel/guru,

gaji guru-guru pegawai sekolah, buku-buku pelajaran, juga tentang pembangunan, pemakaian

serta pemeliharaan gedung sekolah.

Dengan struktur organisasi pendidikan yang dijalankan secara desentralisasi seperti

ini, kepala sekolah tidak semata-mata merupakan seorang guru kepala, tetapi seorang

pemimpin, profesional dengan tanggung jawab yang luas dan langsung terhadap hasil-hasil

yang dicapai oleh sekolahnya. Ia bertanggung jawab langsung terhadap pemerintahan dan

masyarakat awasan dan sosial-control yang langsung dari pemerintahan dan masyarakat

setempat. Hal ini disebabkab karena kepala sekolah dan guru-guru adalah petugas-petugas

atau karyawan-karyawan pendidik yang dipilih, diangkat, dan diberhentikan oleh pemerintah

daerah setempat.Tentu saja, sistem desentralisasi yang ekstrim seperti ini ada kebaikan dan

keburukannya. Beberapa kebaikan yang mungkin terjadi ialah :

  • a) Pendidkan dan pengajaran dapat disesuaikan dengan memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.

  • b) Kemungkinan adanya persaingan yang sehat diantara daerah atau wilayah sehingga masing-masing berlomba-lomba untuk menyelenggarakan sekolah dan pendidikan yang baik.

  • c) Kepala sekolah, guru-guru, dan petugas-petugas pendidikan yang lain akan bekerja dengan baik dan bersungguh-sungguh karena dibiayai dan dijamin hidupnya oleh pemerintah da masyarakat setempat.

5

Adapun keburukannya adalah sebagai berikut :

  • a) Karena otonomi yang sangat luas, kemungkinan program pendidikan diseluruh negara akan berbeda-beda. Hal ini akan menimbulkan perpecahan bangsa

  • b) Hasil pendidikan dan pengajaran tiap-tiap daerah atau wilayah sangat berbeda- beda, baik mutu, sifat maupun jenisnya, sehngga menyulitkan bagi pribadi murid dalam mempraktekkan pengetahuan atau kecakapannya dikemudian hari di dalam masyarakat yang lebih luas

  • c) Kepala sekolah, guru-guru, dan petugas pendidikan lainnya cenderung untuk menjadi karyawan-karyawan yang materialistis, sedangkan tugas dan kewajiban guru pada umumnya lain dari pada karyawan-karyawan yang bukan guru

  • d) Penyelenggaraan dan pembiayaan pendidikan yang diserahkan kepada daerah atau wilayah itu mungkin akan sangat memberatkan beban mayarakat setemp 2

B. Pengertian Desain Organisasi sekolah

Organisasi secara umum dapat diartikan memberi struktur atau susunan yakni dalam

penyusunan penempatan orang-orang dalam suatu kelompok kerja sama, dengan maksud

menempatkan hubungan antara orang-orang dalam kewajiban-kewajiban, hak-hak dan

tanggung jawab masing-masing. Dalam suatu susunan atau struktur organisasi dapat dilihat

bidang, tugas dan fungsi masing-masing kesatuan serta hubungan vertikal horizontal antara

kesatuan-kestuan tersebut.

2 Robbins, Stephen P.; Judge, Timothy A. (2008). Perilaku Organisasi Buku 2, Jakarta: Salemba Empat. Hal 55

6

Dalam penyelenggaraan pendidikan lembaga pendidikan tidak dapat lepas dari

organisasi negara. Untuk organisasi ini Mulyani A Nurhadi mmbedakan menjadi dua yaitu

organisasi makro dan mikro. Organisasi pendidikan makro adalah organisasi pendidikan

dilihat dari segi organisasi secara luas. Dalam struktur organisasi, organisasi pendidikan pada

tingkat makro dibedakan atas: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tingkat Pusat, Kantor

Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kantor Pendidikan Dan Kebudayaan di

Kabupaten/Kotamadya dan Kantor Pendidikan dan Kebudayaan tingkat Kecamatan.

Organisasi pendidikan mikro adalah organisasi pendidikan dilihat dengan titik tolak dengan

unit-unit yang ada pada suatu sekolah atau lembaga pendidikan penyelenggara langsung

proses belajar mengajar. Struktur disetiap sekolah atau lembaga tidak seluruhnya sama.

Mungkin disuatu sekolah terdapat sesuatu unit sekolah yang disekolah lain tidak terdapat

karena disebabkan kekurangan tenaga atau sarana lain.

Organisasi sekolah adalah sistem yang bergerak dan berperan dalam merumuskan

tujuan pendewasaan manusia sebagai mahluk sosial agar mampu berinteraksi dengan

lingkungan. Dengan begitu disana kita bisa belajar bagaimana cara menyikapi diri kita ketika

berhadapan dengan suatu masalah sehingga kita bisa menyelesaikannya. Dengan

pendewasaan maka kita dapat menyikapi masalah kita dengan baik dan kita juga mampu

berinteraksi sebagai mana peran kita didalam suatu lingkungan.

Dari uraian di atas kita dapat menyimpulkan bahwa organisasi adalah sebuah bentuk

atau sistem yang terdiri dari sekelompok manusia yang berkerjasama untuk mencapai tujuan

bersama. Oleh sebab itu sekolah dikatakan sebagai sebuah organisasi karena sekolah

didirikan untuk mencapai tujuan bersama khususnya di bidang pendidikan.

  • C. Bentuk-Bentuk Organisasi Sekolah

7

Setiap unit kerja dipimpin oleh seorang kepala/pimpinan yang menduduki posisi

menurut tingkat unit kerjanya di dalam keseluruhan organisasi. Posisi, tanggung jawab dan

wewenang di dalam suatu kelompok formal terikat pada struktur dan dibatasi oleh peraturan-

peraturan yang mendasari pembentukan organisasi kerja tersebut. Hubungan kerja yang

didasari wewenang dan tanggung jawab, baik secara vertikal maupun horizontal dan diagonal

akan menunjukan pola tertentu sebagai mekanisme kerja. Dengan kata lain pembagian tugas,

pelimpahan wewenang dan tanggung jawab serta arus perwujudan tugas, akan

menggambarkan tipe atau bentuk organisasi kerja. Tipe-tipe organisasi itu antara lain:

1. Organisasi Lini (Line Organization)

Dalam tipe ini semua hak dan kekuasaan berada pada pimpinan tertinggi. Personal yang lain

disebut bawahan tidak mempunyai hak dan kekuasaan sekecil apa pun karena hanya

berkedudukan sebagai pelaksana tugas dari atasan. Tidak dibenarkan adanya inisiatif dan

kreativitas, semua tugas harus dilaksanakan sebagaimana diperintahkan. Saluran perintah dan

penyampaian tanggung jawab dalam organisasi tipe ini dilakukan melalui prosedur dari atas

kebawah dan sebaliknya

2. Organisasi Staf (Staff Organization)

.

Dalam tipe ini semua hak, kekuasaan dan tanggung jawab dibagi habis pada unit

kerja yang ada secara bertingkat. Setiap unit memperoleh sebagian hak dalam menentukan

kebijakan sepanjang tidak bertentangan dengan kebijaksanaan umum dari pimpinan tertinggi.

Wewenang dan tanggung jawab dilimpahkan secara luas, sehingga pimpinan berkedudukan

sebagai koordinator. Tanggung jawab disampaikan secara bertingkat sesuai dengan hak dan

kekuasaan yang dilimpahkan.

3. Bentuk Gabungan (Line and Staff Organization)

8

Tipe ini sebagai gabungan dari kedua tipe di atas, menempatkan pimpinan tertinggi

sebagai pemegang hak dan kekuasaan tertinggi dan terakhir. Tidak semua hak, kekuasaan dan

tanggung jawab dibagi habis pada unit kerja yang ada, tugas yang bersifat prinsipil tetap

berada pada atasan/pimpinan tetinggi. Pimpinan unit kerja sebagai staf memperoleh

wewenang dalam bidang kerja masing-masing sepanjang tidak berhubungan dengan tugas

yang menjadi wewenang atau kekuasaan pimpinan tertinggi.

4. Organisasi Fungsional (Fungsional Organization)

Dalam tipe ini pembagian hak dan kekuasaan dilakukan berdasar fungsi yang

diemban oleh unit kerja dan terbatas pada tugas-tugas yang memerlukan keahlian khusus.

Sehingga personal yang diangkat dan menerima wewenang untuk menjalankan kekuasaan

diserahkan pada orang yang mempunyai keahlian dalam bidang kerja masing-masing.

Wewenang yang dilimpahkan dibatasi mengenai bidang teknis yang memerlukan keahlian 3

  • D. Faktor-faktor dalam Menyusun Organisasi Sekolah

    • a. Tingkat Sekolah

Berdasarkan tingkatnya sekolah yang ada di Indonesia dapat dibedakan atas :

Sekolah Dasar (SD) , Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), Sekolah Lanjutan Tingkat

Atas (SLTA), Perguruan Tinggi . Keadaan fisik dan perkembangan jiwa anak jelas berbeda

antara anak tingkat yang satu dengan tingka berikutnya. Contohnya : di sekolah dasar

biasanya tidak ada seksi bimbingan penyuluhan (Guidance and Conseling) sebab masalah ini

merupakan tugas rangkapan dari kepala sekolah, dan hingga saat ini yang memegang adalah

3 Aditya Media.Nawawi, Hadari. 1989. Organisasi Kelas sebagai Lembaga Pendidikan. Jakarta: Haji Masagung hal 60

9

pemerintah dan Departemen P dan K tidak atau belum mengangkat seorang pembimbing

khusus bagi sekolah dasar.Lain halnya dengan sekolah lanjutan, biasanya tersedia satu orang

tenaga konselor atau pembimbing dengan tugas pokoknya sebagai pembimbing. Karena itu

biasanya di sekolah lanjutan dalan struktur organisasinya kita dapati seksi GC (Guidance and

Conseling/ seksi bimbingan penyuluhan). Masih banyak bidang-bidang lain yang ditangani

secara khusus pada sekolah lanjutan tetapi tidak demikian pada sekolah dasar, misalnya

masalah Organisasi Intara Sekolah (OSIS), penggarapan majalah dinding, pengelolaan

perpustakaan sekolah, dan bagian pengajaran yang menangani kelancaran dan pengembangan

kurikulum.

Pada perguruan tinggi yang kita jumpai banyak bidang tugas yang ditangani secara

khusus lebih banyak daripada tugas-tugas dari sekolah lanjutan. Ciri khas perguruan tinggi di

Indonesia yang mengemban tugas Tri Dharma perguruan tinggi yakni pendidikan, penelitian

dan pengabdian kepada masyarakat memungkinkan perguruan tinggi berkembang secara

otonom, sehingga semakin bervariasi susunan organisasinya.

b. Jenis Sekolah

Berdasarkan jenis sekolah, kita membedakan ada sekolah umum dan sekolah

kejuruan. Sekolah umum adalah sekolah-sekolah yang program pendidikannya bersifat umum

dan bertujuan utam untuk melajutkan studi ketingkat yang lebih tinggi lagi. Sedangkan yang

dimaksud sekolah kejuruan adalah sekolah-sekolah yang pendidikannya mengarah kepada

pemberian bekal kecakapan atau keterampilan khusus setelah selesai studinya, anak didik

dapat langsung memasuki dunia kerja dalam masyrakat.

10

Dengan melihat perbedaan program pendidikan (kurikulum dan tujuan) yang hendak dicapai

maka struktur organisasi sekolah yang berlainan jenis tersebut pasti berlainan pula. Perbedaan

organisasi ini mungkin dapat digambarkan antara lain sebagai berikut :

Pada sekolah kejuruan terdapat petugas (koordinator) praktikum, sedangkan pada sekolah

umum tidak.

Pada sekolah kejuruan terdapat petugas bagian ketenaga kerjaan penempatan alumni,

sedangkan pada sekolah umum tidak.

  • c. Besar Kecilnya Sekolah

Sekolah yang besar tentulah memiliki jumlah mirid, jumlah kelas, jumlah tenaga guru,

dan karyawan serta fasilitas yang memadai. Sekolah yang kecil adalah sekolah yang cukup

memenuhi syarat minimal dari ketentuan yang

berlaku. .

Tipe sekolah secara implisit

menunjukkan besar kecilnya sekolah yang bersangkutan. Dengan begitu akan mempengaruhi

penyusunan struktur organisasi sekolah karena makin besar jumlah murid tentu saja semakin

beraneka ragam kegiatan yang dapat dilakukan baik yang bersifat kurikuler maupun kegiatan-

kegiatan penunjang pendidikan.

  • d. Letak dan Lingkungan Sekolah

Letak sebuah sekolah dasar yang ada di daerah pedesaan aan mempengaruhi kegiatan

sekolah tersebut, berbeda dengan sekolah dasar yang ada di kota, demikian pula sekolah

lanjutan pertama yang kini mulai didirikan hampir di setiap daerah kecamatan, kegiatan dan

programnya tentulah berbeda dengan sekolah-sekolah lanjutan di kota apalagi di kota besar.

Ada kecenderungan yang nyata, bahwa sekolah-sekolah di pedesaan lebih berintegrasi

dengan masyarakat sekitarnya. Hal ini berakibat pula ada hubungan yang lebih akrab diantara

orang tua murid dengan sekolah.

11

Dari segi keadaan lingkungan atau masyarakat sekitar sekolah mungkin ada dalam

lingkungan masyarakat petani, masyrakat nelayan, masyarakat buruh, masyarakat pegawai

negeri, dan lain-lain. Perhatikan kelompok masyarakat yang berbeda ini terhadap dunia

pendidikan bagi anak-anak mereka di sekolah pasti menunjukkan berbagai variasi perbedaan.

Oleh karenanya dalam penyusunan struktur organisasi sekolah, hal-hal tersebut perlu

diperhatikan. 4

F. Contoh Susunan Organisasi Sekolah

Peranan dari masing-masing struktur organisasi sekolah antara lain adalah sebagai berikut :

  • 1. Kepala Sekolah,

    • a) Kepala Sekolah Sebagai Edukator

    • b) Kepala Sekolah Sebagai Manajer

    • c) Kepala Sekolah Sebagai Administrator

    • d) Kepala Sekolah Sebagai Supervisor

    • e) . Kepala Sekolah Sebagai Leader

    • f) Kepala Sekolah Sebagai Inovator

    • g) Kepala Sekolah Sebagai Motivator

    • h) Kepala Sekolah Sebagai Pejabat Formal

  • 2. Komite Sekolah, berperan dalam membina dan menghimpun potensi warga

sekola dalam rangka mendukung penyelenggaraan sekolah yang berkualitas.

  • 3. Kepala Urusan Tata Usaha, berperan dalam menyusun program tata usaha

sekolah, mengurus administrasi ketenagaan dan siswa, membina dan

pengembangan karier pegawai tata usaha sekolah, menyusun administrasi

perlengkapan sekolah, menyusun dan penyajian data/statistik sekolah, membuat

laporan kegiatan tata usaha.

4. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, berperan dalam menyusun program

pengajaran, pembagian tugas guru dan jadwal pelajaran, jadwal ulangan/evaluasi,

kriteria kenaikan/ketidaknaikan/kelulusan, mengarahkan pembuatan satpel,

membina lomba akademis, dan MGMP.

4 M.Ngalim Purwanto, administrasi dan supervise pendidikan, Bandung , Remaja Rosdakarya, 2005. Hal 161

12

5. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, berperan dalam menyusun program

pembinaan OSIS, melaksanakan pembimbingan dan pengarahan kegiatan OSIS,

pemilihan siswa teladan/penerima beasiswa, mutasi siswa, program ekstra

kurikuler, membuat laporan kegiatan kesiswaan secara berkala.

6. Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana, berperan dalam menyusun rencana

kebutuhan sarana dan prasarana, mengkoordinasikan pendayagunaan sarana dan

prasarana, pengelola pembiayaan alat-alat pengajaran, dan menyusun laporan

pelaksanaan urusan sarana dan prasarana secara berkala

7. Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, berperan dalam mengatur dan

menyelenggarakan hubungan sekolah dengan orang tua/wali siswa, membina

hubungan antar sekolah, komite sekolah, lembaga dan instansi terkait, dan

membuat laporan pelaksanaan hubungan masyarakat secara berkala.

8. Koordinator BP, berperan dalam mengatasi kesulitan belajar siswa/ siswi,

mengatasi kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik yang dilakukan siswa/ siswi pada

asaat proses belajar mengajar berlangsung, mengatasi kesulitan yang

berhubungan dengan : kesehatan jasmani, kelanjutan studi, perencanaan dan

pemilihan jenis pekerjaan setelah mereka tamat, dan masalah sosial emosional

sekolah yang bersumber dari sikap murid yang bersangkutan terhadap dirinya

sendiri, keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan yang lebih luas.

9. Dewan guru, berperan dalam mendidik, membimbing dan mengarahkan siswa dan

siswi melalui proses belajar mengajar di sekolah serta berperan dalam

pembentukan kepribadian setiap siswa dan siswi

Berikut ini adalah beberapa bentuk/format contoh dari struktur organisasi:

1. STRUKTUR ORGANISASI BENTUK SIRKULAR

13

2. STRUKTUR ORGANISASI FUNGSIONAL BENTUK PIRAMIDAL 14

2. STRUKTUR ORGANISASI FUNGSIONAL BENTUK PIRAMIDAL

2. STRUKTUR ORGANISASI FUNGSIONAL BENTUK PIRAMIDAL 14

14

3.

STRUKTUR ORGANISASI GARIS BENTUK PIRAMIDAL

3. STRUKTUR ORGANISASI GARIS BENTUK PIRAMIDAL 4. STRUKTUR ORGANISASI HORIZONTAL 5. STRUKTUR ORGANISASI MATRIX 15
  • 4. STRUKTUR ORGANISASI HORIZONTAL

3. STRUKTUR ORGANISASI GARIS BENTUK PIRAMIDAL 4. STRUKTUR ORGANISASI HORIZONTAL 5. STRUKTUR ORGANISASI MATRIX 15
  • 5. STRUKTUR ORGANISASI MATRIX

15

6. STRUKTUR ORGANISASI VERTIKAL 16
  • 6. STRUKTUR ORGANISASI VERTIKAL

6. STRUKTUR ORGANISASI VERTIKAL 16

16

BAB IV

LAporan Hasil Penelitian

Adapun penelitian ini mnegambil tempat di MTsn Muara Teweh dan MAN Muara Teweh

yang penulis anggap mewakili daripada rtugas makalah yang di berikan .

  • A. Struktur Organisasi Sekolah MTsN Muara Teweh

Adapun struktur organisasi sekolah MTsN Muara Teweh dapat di lihat di bawah ini

Kepala Sekolah
Kepala Sekolah
  • B. Struktur Organisasi Sekolah MAN Muara Teweh

17

Adapun struktur organisasi sekolah MTsN Muara Teweh dapat di lihat di bawah ini

18

BAB III

Kesimpulan

Organisasi sekolah adalah sistem yang bergerak dan berperan dalam merumuskan

tujuan pendewasaan manusia sebagai mahluk sosial agar mampu berinteraksi dengan

lingkungan. Begitu pula dengan struktur organisasi sekolah, sebagai acuan untuk mengawali

suatu proses perencanaan sekolah yang strategis. Struktur oganisasi juga tidak lepas dengan

wewenang dan tanggung jawab. Selain itu ada juga pendekatan-pendekatannya dalam

meningkatkan mutu pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan nasional .

19

DAFTAR PUSTAKA

Aditya Media.Nawawi, Hadari. 1989. Organisasi Kelas sebagai Lembaga Pendidikan.

Jakarta: Haji Masagung.

Robbins, Stephen P.; Judge, Timothy A. (2008). Perilaku Organisasi Buku 2, Jakarta:

Salemba Empat.

M.Ngalim Purwanto, 2005. Administrasi Dan Supervise Pendidikan, Bandung , Remaja

Rosdakarya

Marno & Tryo Supriyatno, 2008Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam, Bandung,

: Refika Aditama

20