Anda di halaman 1dari 20

CONTOH PEMIMPIN DENGAN GAYA

KEPEMIMPINAN DEMOKRATIS, OTOKRATIS, DAN


LAISSEZ FAIRE

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengetahui kesuksesan pemimpin
ialah mempelajari gayanya, yang akan melahirkan berbagai tipe kepemimpinan yang dikenal
seperti tipe Demokratis, Laissez Faire, dan Otokratis bahkan ada lagi yang dikenal sebagai
manipulasi demokratis.
Dalam mempersoalkan gaya kepemimpinan boleh beranggapan bahwa individu
(pemimpin) harus mempertahankan yang konsisten dalam semua aktivitasnya, tapi harus
bersifat fleksibel menyesuaikan gaya tersebut dengan situasi yang spesifik dan orang-orang
yang dipimpin. Dengan demikian berarti elemen yang harus diperhatikan adalah pemimpin,
orang yang dipimpin, dan situasi.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan teori gaya kepemimpinan?
1.2.2 Apa saja macam-macam gaya kepemimpinan?
1.2.3 Siapa saja contoh pemimpin bergaya otokratis?
1.2.4 Siapa saja contoh pemimpin bergaya demokratis?
1.2.5 Siapa saja contoh pemimpin bergaya Laissez Faire?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian dari teori gaya kepemimpinan.
1.3.2 Untuk mengetahui macam-macam gaya kepemimpinan.
1.3.3 Untuk mengetahui siapa saja contoh pemimpin bergaya otokratis.
1.3.4 Untuk mengetahui siapa saja contoh pemimpin bergaya demokratis.
1.3.5 Untuk mengetahui siapa saja contoh pemimpin bergaya Laissez Faire.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 TEORI GAYA KEPEMIMPINAN


Secara harfiah kata leadership berarti adalah sifat, kapasitas dan kemampuan seseorang
dalam memimpin. Arti dari kepemimpinan sendiri sangat luas dan bervariasi berdasarkan
pendapat darii para ilmuwan. Menurut Charteris-Black (2007), definisi dari kepemimpinan
adalah leadership is process whereby an individual influence a group of individuals to
achieve a common goal. Kepemimpinan adalah sifat dan nilai yang dimiliki oleh seorang
leader.
Menurut Prasetyo (p.28), gaya kepemimpinan adalah cara yang digunakan dalam proses
kepemimpinan yang diimplementasikan dalam perilaku kepemimpinan seseorang untuk
mempengaruhi orang lain untuk bertindak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Selain itu
menurut Flippo (1987), gaya kepemimpinan juga dapat didefinisikan sebagai pola tingkah
laku yang dirancang untuk mengintegrasikan tujuan organisasi dengan tujuan individu untuk
mencapai suatu tujuan tertentu (p.394).
Teori kepemimpinan telah berkembang sejak puluhan tahun yang lalu dan sudah banyak
berbagai referensi dalam bentuk beraneka macam mengenai topik ini yang dihasilkan dari
berbagai penelitian. Fungsi kepemimpinan dalam sebuah organisasi atau kelompok sangat
penting karena fungsi kepemimpinanlah sebuah organisasi dapat mencapai tujuannya melalui
jalan dan cara yang benar. Memahami dengan baik mengenai konsep kepemimpinan sangat
membantu seseorang dan organisasi bekerja lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuan
dan kondisi yang diinginkan.
2.2 MACAM-MACAM GAYA KEPEMIMPINAN
Pembagian konsep kepemimpinan dalam berbagai aspek telah banyak dilakukan oleh para
peneliti dan ahli. Pembagian style kepemimpinan yang paling dasar dan sekaligus mendasari
perkembangan klasifikasi kepemimpinan sampai saat ini adalah berdasarkan hasil penelitian
Lewin (1939). Beliau membagi style kepemimpinan menjadi 3 kategori utama yaitu
autocratic leadership, democratic leadership, dan delegative leadership atau biasa disebut
Laissez-Faire. Masing-masing kategori ini mempunyai karakteristik dan ciri khas yang
membedakan antara satu dengan yang lainnya.
1. Autocratic Leadership (Gaya Kepemimpinan Otokratis)
Autocratic berasal dari bahasa yunani yang dapat diterjemahkan sebagai one who rules
by himself (Wikipedia, 2009). Autocratic leadership adalah style kepemimpinan yang
menuntut adanya kepatuhan penuh dari bawahannya tanpa meminta adanya pembangkangan
atau keraguan. Style kepemimpinan seperti ini seringnya menentukan keputusan berdasarkan
pemikiran sendiri dan jarang sekali mau menerima masukan orang lain.
Autocratic leadership bersifat absolute dan mengontrol total bawahannya (Lewin, 1939).
Pemimpin dengan gaya seperti ini umumnya menentukan kebijakan, prosedur, peraturan dan
tujuan organisasi berdasarkan idenya sendiri. Keputusan yang diambilnya langsung dan final.
Pemimpin dengan style autocratic leadership menganggap bahwa semua bawahannya tidak
mempunyai kemampuan dan keahlian serta selalu membutuhkan pendampingan dan control
agar memastikan bawahan selalu patuh kepada pimpinan.
Gaya kepemimpinan Otokratis mendeskripsikan pemimpin yang cenderung memusatkan
kekuasaan kepada dirinya sendiri, mendikte bagaimana tugas harus diselesaikan, membuat
keputusan secara sepihak, dan membatasi inisiatif maupun daya pikir tidak diberi
kesempatan untuk mengeluarkan pendapat mereka. Segala pembagian tugas dan tanggung
jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut, sedangkan para bawahan hanya
melaksanakan tugas yang telah diberikan.
Ciri-ciri gaya kepemimpinan otokratis sebagai berikut:
a. Semua kebijakan ditentukan oleh pemimpin
b. Teknik dan langkah-langkah kegiatannya didikte oleh atasan setiap waktu, sehingga langkah-
langkah yang akan datang selalu tidak pasti untuk tingkatan yang luas
c. Pemimpin biasanya membagi tugas kerja bagian dan kerjasama setiap anggota
d. Pemimpin kurang memperhatikan kebutuhan bawahan
e. Komunikasi hanya satu arah yaitu kebawah saja
f. Pemimpin cenderung menjadi pribadi dalam pujian dan kecamannya terhadap kerja setiap
anggota
g. Pemimpin mengambil jarak dari partisipasi kelompok aktif kecuali bila menunjukan
keahliannya.
Banyak akibat negatif jika kepemimpinan otokratis ini dijalankan, diantaranya adalah:
a. Perasaan takut dan ketegangan selalu terdapat pada orang-orang yang dipimpin karena selalu
dibayangi oleh ancaman dan hukuman.
b. Akibat rasa takut maka orang yang dipimpin tidak berani mengambil inisiatif dan keputusan
maka kreatif akan tidak pernah tersalurkan dan berkembang.
c. Timbul sikap apatis, menunggu perintah baru bekerja.
d. Kegiatan yang berlangsung adalah kegiatan teknis dan rutin, sifatnya statis karena
mengulangi sesuatu yang dianggap sudah benar.
Dalam praktek walaupun sudah diketahui kelemahan gaya kepemimpinan otokratis ini,
tapi orang masih menerima dan tunduk kepada kepemimpinan itu. Hal itu disebabkan oleh:
a. Orang yang dipimpin percaya bahwa tujuan yang digariskan oleh pimpinan adalah untuk
kepemimpinan umum dan kepentingan bersama.
b. Ada kepercayaan akan kecakapan dan kemampuan pemimpin dalam mencapai tujuan yang
telah digariskan itu.
c. Orang yang dipimpin tidak banyak mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang
berhubungan dengan keputusan yang diambil oleh pimpinan.
d. Takut terhadap sanksi-sanksi yang setiap saat dapat dijatuhkan oleh pimpinan.
Autocratic leadership berkembang dan umumnya dilestarikan di beberapa organisasi yang
mempunyai budaya rantai hierarki yang ketat, seperti militer, polisi, dan very bureaucratic
organizations. Beberapa orang menganggap kepemimpinan seperti ini sangat efisien, namun
sayangnya tipe ini sedikit atau tidak sama sekali menghasilkan inovasi, perubahan personal
atau organisasi, maupun pertumbuhan dan pekembangan organisasi (MacGrefor, 2004).
Style ini dianggap bukan sebagai metode terbaik, namun demikian pada kondisi tertentu
dimana diperlukan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan yang sangat cepat, style
ini sangat bermanfaat. Selain itu autocratic leadership sangat bermanfaat jika bawahan tidak
mengerti dengan tugas-tugasnya sedangkan keputusan harus segera diambil.
2. Democratic Leadership (Gaya Kepemimpinan Demokratis)
Pemimpin dengan style Democratic Leadership sering disebut sebagai Enlightened
Leader karena menghargai dan menganggap orang lain. Democratic Leadership adalah style
kepemimpinan yang melibatkan partisipasi bawahan dalam pengambilan keputusan
organisasi.
Pemimpin dengan style ini bertindak berdasarkan kepercayaan, integrity, kejujuran,
equality, openness dan mutual respect. Democratic Leadership menunjukan pengakuan dan
perhatian kepada orang lain dengan mendengarkan dan memahami dengan empathetic.
Mereka memotivasi bawahan agar terus mencapai kemampuan dan hasrat tertingginya.
Democratic Leadership mempunyai penekanan akan pentingnya kerjasama tim sementara
dirinya memposisikan sebagai fasilitator untuk membangun sinergi antara individu di dalam
kelompok. Democratic Leadership mengharapkan adanya feedback dari bawahan sehingga
dia mengetahui kondisi dan kebutuhan organasisasi. Democratic Leadership sangat
memahami kesalahan dan lebih memilih reward dibandingkan dengan punishment
(MacGrefor, 2004).
Ciri-ciri gaya kepemimpinan demokratis:
a. Semua kebijaksanaan terjadi pada kelompok diskusi dan keputusan diambil dengan dorongan
dan bantuan dari pemimpin.
b. Kegiatan-kegiatan didiskusikan, langkah-langkah umum untuk tujuan kelompok dibuat, dan
jika dibutuhkan petunjuk-petunjuk teknis pemimpin menyarankan dua atau lebih alternatif
prosedur yang dapat dipilih.
c. Para anggota bebas bekerja dengan siapa saja yang mereka pilih dan pembagian tugas
ditentukan oleh kelompok.
d. Lebih memperhatikan bawahan untuk mencapai tujuan organisasi.
e. Menekankan dua hal yaitu bawahan dan tugas.
f. Pemimpin adalah obyektif atau fact-minded dalam pujian dan kecamannya dan mencoba
menjadi seorang anggota kelompok biasa dalam jiwa dan semangat tanpa melakukan banyak
pekerjaan.
Peneliti menemukan bahwa style Democratic Leadership merupakan salah satu yang
paling efektif dan mempunyai tingkat produkstivitas serta moral kelompok yang tinggi. Style
kepemimpinan seperti ini mempunyai tingkat partisipasi anggota yang sangat tinggi dan tepat
diterapkan pada kondisi dimana orang dialam kelompok tersebut mempunyai kapasitas tinggi
dan keinginan saling memberi. Namun demikian, pada kondisi tertentu yang membutuhkan
waktu penyelesaikan singkat, Democratic Leadership dapat menyebabkan kegagalan
komunikasi dan proyek (Lewin, 1939).
3. Delegative Leadership/Laissez-Faire (Gaya Kepemimpinan Laissez-Faire)
Delegative Leadership atau disebut juga Laissez-Faire. Laissez-Faire berasal dari Bahasa
Prancis yang berhubungan dengan mercantilism dan dipakai dalam bidang ekonomi dan
politik sebagai sistem ekonomi yang berfungsi dengan baik saat tidak ada intervensi
pemerintah.
Delegative Leadership adalah seseorang yang percaya akan kebebasan memilih kepada
bawahannya. Membiarkan bawahannya sendiri sehingga mereka dapat melakukan apa yang
mereka mau. Dasar dari style ini adalah yang pertama, dia sangat yakin bawahannya sangat
paham dengan pekerjaannya dan yang kedua adalah dia mungkin berada dalam lingkungan
politik, dimana dia tidak dapat melakukan apapun karena ketakutan tidak dipilh kembali oleh
pendukungnya.
Delegative Leadership dicirikan dengan jarangnya pemimpin memberikan arahan,
keputusan diserahkan kepada bawahan, dan diharapkan anggota organisasi dapat
menyelesaikan permasalahannya sendiri (MacGrefor, 2004). Pemimpin dengan gaya seperti
ini jarang mendapatkan informasi dan sumber daya karena tidak ada komunikasi partisipatif
dan keterlibatan pemimpin dalam workforce. Berdasarkan penilitian para ahli, style
kepemimpinan ini mempunyai tingkat produktivitas yang paling rendah.
Ciri-ciri gaya kepemimpinan Laissez-Faire:
a. Kebebasan penuh bagi keputusan kelompok atau individu dengan partisipasi minimal dari
pemimpin.
b. Bahan-bahan yang bermacam-macam disediakan oleh pemimpin yang membuat orang selalu
siap bila dia akan memberi informasi pada saat ditanya.
c. Sama sekali tidak ada partisipasi dari pemimpin dalam penentuan tugas.
d. Kadang-kadang memberi komentar spontan terhadap kegiatan anggota atau pertanyaan dan
tidak bermaksud menilai atau mengatur suatu kejadian.
e. Pemimpin membiarkan bawahannya untuk mengatur dirinya sendiri.
f. Pemimpin hanya menentukan kebijaksanaan dan tujuan umum.
g. Bawahan dapat mengambil keputusan yang relevan untuk mencapai tujuan dalam segala hal
yang mereka anggap cocok.
Pimpinan dengan gaya situasi ini berpendapat bahwa tugasnya adalah menjaga dan
menjamin kebebasan tersebut serta menyediakan segala kebutuhan dan fasilitas yang
dibutuhkan organisasi, atau orang yang dipimpinnya guna menyelenggarakan organisasinya.
Suasana kerja seperti ini akan menimbulkan berbagai hal yang negatif diantaranya adalah:
a. Timbulnya kekacauan dalam pelaksanaan tugas.
b. Timbul kesimpangsiuran kerja dan wewenang.
c. Banyak ide-ide yang tidak terlaksanakan.
d. Hasil kerja sulit dicapai secara maksimal.
Munculnya gaya kepemimpinan ini disebabkan karena:
a. Pimpinan kurang memiliki kemampuan atau kecakapan memimpin lebih-lebih bila ada
anggota yang dianggap lebih mampu dari dirinya.
b. Pimpinan tidak memiliki semangat kerja.
c. Komunikasi yang tidak mementingkan upaya, letak tempat yang berjauhan.
Delegative Leadership sangat tepat diaplikasikan pada organisasi yang diisikan orang
dengan keahlian tinggi dan dan mampu bekerja sendiri. Delegative Leadership tidak cocok
diterapkan pada kelompok organisasi yang kurang berpengalaman dalam menyelesaikan
tugasnya (Lewin, 1939).

2.3 CONTOH PEMIMPIN GAYA OTOKRATIS


1. Soeharto
Soeharto yang memiliki rutinitas memberi komando pada kerbau saat membajak
sawah, merupakan awal Soeharto dalam belajar kepemimpinan. Haji Muhammad Soeharto
lahir di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta pada
tanggal 8 Juni 1921. Presiden Indonesia yang kedua ini memulai berkuasa pada tahun 1968,
menggantikan presiden RI pertama, Soekarno. Ia terpilih dalam memimpin Negara Republik
Indonesia selama hampir tujuh periode berturut-turut, pada tahun 1968, 1973, 1978, 1983,
1988, 1993, 1998.
Namun pada tahun 1998 melalui aksi demo besar-besaran pada Mei 1998, ia
ditumbangkan oleh kekuatan rakyat. Sejumlah aktivis dari kalangan mahasiswa turun ke jalan
meminta agar ia turun dari jabatannya. Puncak kemarahan mahasiswa adalah pada tanggal 12
Mei 1998, yaitu terbunuhnya 4 mahasiswa Universitas Trisakt, sehingga memicu demo yang
lebih besar lagi. Pada tanggal 21 Mei 1998, presiden Soeharto mengundurkan diri dari
jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia untuk menghindari perpecahan dan
meletusnya ketidakstabilan di Indonesia.
Kepemimpinan Soeharto membuat Indonesia dijuluki sebagai macan Asia karena
pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat, dan hubungan baik dengan negara-negara di PBB
sehingga membuat Indonesia terangkat dari daftar salah satu negara miskin di dunia, menjadi
negara berkembang. Namun selama 32 tahun berkuasa, setelah pada posisi pucuk Presiden
Soeharto mulai menunjukkan taringnya. kepemimpinannya dinilai bersifat otoriter, tidak
semua orang bisa mengkritisi pola kepemimpinannya.
Pada 20 Januari 1978, Presiden Soeharto melarang terbit tujuh surat kabar, yaitu Kompas,
Sinar Harapan, Merdeka, Pelita, The Indonesian Times, Sinar Pagi, Pos Hari. Pers masyarakat
tidak memiliki kesempatan untuk mengemukakan opini. Selama presiden ini berkuasa, cukup
banyak aktivis yang hilang karena mengkritik pola pemerintahannya. Kepemimpinan
Soeharto juga dinilai dengan banyaknya penyimpangan tindakan korupsi, sehingga
kemakmuran hanya dinikmati oleh orang-orang disekitarnya, tidak merata kepada masyarakat
miskin, angka pengangguran sangat tinggi. Menurut Tranparency International, Soeharto
menggelapkan uang dengan jumlah terbanyak dibandingkan pemimpin dunia lain dalam
sejarah dengan perkiraan 15-35 miliar dolar A.S. selama 32 tahun masa pemerintahannya.
2. Husni Mubarak
Kepemimpinan Husni Mubarak adalah pada saat Presiden Anwar Sadat terbunuh pada
6 Oktober 1981 oleh kelompok radikal. Presiden Mesir yang keempat ini lahir di Kafr-El
Meselha, Al Monufiyah pada tanggal 4 Mei 1928. Ia memerintah selama lebih kurang 30
tahun. Dia adalah presiden terlama mesir.
Pola pemerintahannya dinilai bersifat diktator, kejam, dan korup. Kepemimpinan
mubarok dinilai penuh dengan skandal dan penyiksaan. Menurut Kemlu AS, tekanan dan
penyiksaan oleh pemerintah Mesir dialamatkan kepada para aktivis politik. Terutama
diantaranya adalah gerakan Ikhwanul Muslimin (IM).
Pada usianya yang telah memasuki angka delapan, Mubarak dipaksa mundur oleh
rakyatnya. Rakyat Mesir nampaknya sudah lelah dengan gaya kepemimpinan mubarak, dan
dinilai Mubarak sudah tidak peka lagi dengan krisis ekonomi yang terjadi di Mesir.
Demonstrasi besar-besaran yang terjadi di seluruh Mesir menuntut agar Presiden Hosni
Mubarak yang telah berkuasa selama 30 tahun untuk melepaskan jabatannya. Setelah
demonstrasi berlangsung selama 18 hari, akhirnya Presiden Mubarak mundur pada tanggal 11
Februari 2011. Kemundurannya merupakan awal Revolusi Mesir pada tahun 2011.
3. Ferdinand Marcos
Ferdinand Edralin Marcos lahir di Sarrat, Ilocos Norte, Filipina, pada 11 September
1917. Ia merupakan Presiden Philipinan ke-10. Kepemimpinannya dimulai pada tanggal 30
Desember 1965 sampai 25 Februari. People Power Revolution mendesak ia untuk turun
dari jabatannya. Hal ini karena rakyat sudah tak tahan lagi dengan gaya kepemimpinannya
yang diktator, otoriter, dan syarat dengan berbagai kecurangan. ia dianggap sebagai
pemimpin yang korup dan melakukan pelanggaran Ham Aksasi Manusia.
Pemerhati HAM menyatakan Presiden ini bertanggung jawab atas kehilangan 759
orang, 3.257 pembunuhan, 35.000 penyiksaan dan 70.000 penahanan. Saking berkuasanya
dia bisa meletakan istrinya menjadi Menteri Pemukiman (1972-1986). Setelah terjadinya
People Power Revolution, Marcos dan istrinya, Imelda Marcos, kabur ke Hawai, dan dia
meninggal dunia di tempat pelariannya pada tanggal 28 September 1989 akibat penyakit
ginjal, jantung, dan paru-paru.
4. Ali Abdullah Saleh
Ali Abdullah Saleh adalah Presiden Yaman yang pada periode 1990-2012. Ali
Abdullah Saleh lahir pada tanggal 21 Maret 1942. Ali Abdullah Saleh telah memerintah
Yaman Selama 33 tahun. Ia mengundurkan diri pada Februari 2012 seteleh digoyang
demontrasi besar-besaran anti-Saleh. Tak kurang dari 20.000 pengunjuk rasa anti pemerintah
Yaman meminta pergantian pemerintah dan menolak tawaran Presiden Saleh untuk mundur
pada tahun 2013. Rakyat menginginkan pergantian rezim.
Ali Abdullah Saleh dinilai pemimpin yang korup, dan diktator. Rakyat mengeluhkan
soal peningkatan kemiskinan di kalangan rakyat berusia produktif yang terus bertambah, dan
kurangnya kebebasan berpolitik. Angka pengangguran di Yaman mencapai 40%, sementara
harga pangan terus meningkat dan tingkat kurang gizi mencapai titik yang parah. Pada saat
kepemimpinanya pula masyarakat diresahkan dengan masalah keamanan seperti gerakan
separatis di selatan dan perlawanan para pemberontak Shai Houthi di wilayah utara.
5. Zine Abidine Ben Ali
Zine Abidine Ben Ali adalah Presiden Republik Tunisia. Ia lahir pada tanggal 3
September 1936. Berawal pada saat terjadinya kudeta berdarah untuk menggulingkan
Presiden Habib Bourguiba, ia mulai menjabat sebagai presiden pada tanggal 7 November
1987.
Pola kepemimpinan Ben dianggap otoriter dan tidak mau mendengarkan rakyatnya
sendiri, lawan politiknya yang memberikan opini tentang pola kepemimpinannya banyak
yang dianaya, angka pengangguran dan kemiskinan pun sangat tinggi. Kemarahan rakyat
terhadap presiden ini memuncak setelah seorang tukang sayur berusia 26 tahun, Mohamed
Bouazizi, melakukan aksi bakar diri karena barang dangannya disita polisi di kota Sidi
Bouzid pada tanggal 17 Desember 2010.
Rakyat yang sudah geram dengan pola kepemimpinanya yang diktator, dan otoriter
selama 23 berkuasa memicu penolakan terhadap dirinya. Hal ini ditandai dengan aksi demo
besar-besaran di seantero negeri yang menimbulkan korban jiwa sekitar 100 orang. Pada
tanggal 14 Januari 2011 Ben menyatakan mundur melepaskan bangku jabatannya.
6. Joseph Estrada
Joseph Estrada merupakan Presiden Filipina yang ke-13. Ia lahir di Tondo, Manila
pada tanggal 19 April 1937. Ia mulai berkuasa pada tanggal 30 Juni 1998. Kasus skandal
korupsi membuat karis Joseph hancur. Kemarahan pun terjadinya sehingga pada tanggal 20
Januari 2001, Joseph digulingkan rakyatnya melalui revolusi ADSA.
7. Muammar Abu Minyar al-Qaddafi
Muammar Gaddafi adalah pemimpin Libia. Ia lahir pada tanggal 7 Juni 1942 di Surt,
Tripolitania. Ia telah memipin Libya selama lebih kurang 41 tahun, dari tahun 1969 sampai
dengan tahun 2011.
Ghadaffi dianggap merupakan pemimpin yang kejam, dan diktator. Kehidupan warga
Libya dibatasi semenjak ia mencapai puncak tertinggi pemerintahan Libya. Keluarga Gaddafi
mengambil alif sebagian besar perekonomian Libya. Gaddafi menggunakan miliaran
pendapatan minyak untuk proyek-proyek internasional. Menurut informasi, ia
mengalokasikan pendapatan negara untuk mensponsori teror dan kegiatan politik lainnya di
seluruh dunia.
Kelelahan masyarakat akan kepemimpinannya memicu demo besar-besaran menuntut
dirinya turun dari jabatan tertinggi pemerintahan Libya. Pemberontakan terhadap rezim
kolonel Gaddafi yang mulai berkuasa lebih kurang 41 tahun mulai pecah pertengahan bulan
Februari setelah rakyat Tunisi dan Mesir bangkit dan melengserkan pemimpin masing-
masing.
8. Mobutu Sese Seko (Presiden Zaire 1965-1997)
Joseph Desire Mobutu lahir 14 Oktober 1930 di Kota Lisala, Republik Demokratik
Kongo (sebelumnya dikenal sebagai Kongo Belgia) sebagai bagian dari suku Ngbandi. Nama
ini kemudian ia ganti menjadi Mobutu atau Joseph Mobutu-Sese Seko, Makna dari nama
barunya adalah sangat agung. Itu karena ia menganggap dirinya ksatria kukuh yang
dikaruniai keterampilan, kecerdikan, dan sanggup memenangkan segala macam pertempuran.
Namun, citra namanya jauh sekali dengan perangainya semasa 30 tahun
pemerintahannya. Buktinya, hanya empat tahun setelah bergabung dengan pergerakan
nasionalis (1956), ia sudah berani mengkudeta pemerintahan nasionalis Patrice Lumumba,
dan menyatakan diri sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata Kongo.
Pada tahun 1956 letjen Mobutu lagi-lagi mengkudeta Presiden Kasavubu. Hal ini di
lakukan karena ia tidak senang ada ketegangan antara Presiden Kasavubu dan Perdana
Menteri Moise Tschombe. Mobutu lalu mendeklarasikan diri sebagai penguasa Kongo hingga
lima tahun kedepan. Sejak saat itu ia menjadi orang yang paling berkuasa di Kongo hingga
dipilih secara resmi pada tahun1970.
Satu tahun kemudian Mobutu mengganti nama Zaire menjadi Republik Zaire (1971).
Ia lalu melancarkan kampanye anti-Eropa dan gencar mengkampanyekan budaya Afrika. Dari
peristiwa inilah Mobutu mengganti namanya dari Dari Joseph Desire Mobutu menjadi
Mobutu Sese Seko.
Pada tahun 1977 ia ditekan untuk memperbolehkan perusahaan-perusahaan Eropa
berbisnis kembali di Zaire. Sadar bahwa pemerintahannya nyaris lumpuh, ia kemudian
meminta bantuan Belgia untuk memerangi pemberontak di Provinsi Katanga. Beruntung,
Mobutu masih bisa memepertahankan posisinya. Ia terpilih lagi menjadi presiden Republik
Zaire.
Tapi kedudukan inilah yang membuat Mobutu melakukan kleptokrasi atau sebuah
bentuk administrasi publik yang menggunakan uang yang berasal dari publik untuk
memperkaya diri sendiri. Tidak hanya itu Mobutu juga melakukan nepotisme, dimana ia
memberikan jabatan pemerintah dan militer kepada kerabat dekatnya dan sesama suku
Ngbandi. Ia juga menjadikan puteranya, Nyiwa, menjadi "putra mahkota" untuk
menggantikan beliau sebagai presiden, namun, rencana ini berantakan akibat kematian Nyiwa
akibat penyakit AIDS tahun 1994.
Awal tahun 1990-an ekonomi Zaire tak kunjung membaik dan sejumlah perlawanan
diarahkan kepadanya. Salah satu kelompok anti-Mobutu dari kalangan pemerintahan
dipimpin oleh Laurent Monsengwo dan Etienne Tshisekedi Kelompok Tutsi berhasil
menguasai wilayah timur Zaire.. Kelompok Tutsi tak lain adalah oposan lama Mobutu.
Perlawanan dilakukan karena Mobutu pernah memberi keleluasaan pada etnis Hutu utnuk
melakukan genosida (pembunuhan massal) di Rwanda tahun 1994.
Tanggal 16 Mei 1997, kelompok pemberontak Tutsi dan kelompok lain anti-Mobutu
berkoalisi membentuk Kelompok Pembebasan Demokrasi Kongo-Zaire. Mereka berhasil
menguasai Kinshasha. Laurent Desire Kabila muncul sebagai presiden baru. Nama Zaire
dikembalikan lagi menjadi Kongo atau Republik Demokrasi Kongo. Mobutu mengungsi ke
Togo. Setelah itu tinggal di Rabat, Maroko. Pada tahun yang sama (1997) ia meninggal
karena penyakit kanker prostat yang merupakan salah satu penyakit yang ia derita.
9. Fidel Castro (Mantan Presiden Kuba)
Fidel Alejandro Castro Ruz (lahir 13 Agustus 1926) adalah Presiden Kuba sejak 1976
hingga 2008. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Perdana Menteri atas penunjukannya pada
Februari 1959 setelah tampil sebagai komandan revolusi yang gagal Presiden Dewan Negara
merangkap jabatan sebagai Dewan Menteri Fulgencio Batista pada tahun 1976. Castro tampil
sebagai sekretaris pertama Partai Komunis Kuba (Communist Party of Cuba) pada tahun
1965 dan mentransformasikan Kuba ke dalam republik sosialis satu-partai.
Setelah tampil sebagai presiden, ia tampil sebagai komandan Militer Kuba. Pada 31 Juli
2006, Castro menyerahkan jabatan kepresidenannya kepada adiknya, Ral untuk beberapa
waktu. Pada tahun 1947, ia ikut dalam upaya kudeta diktator Republik Dominika Rafael
Trujillo dan lari ke New York (Amerika Serikat) karena adanya ancaman akan dihabisi lawan
politiknya. Setelah meraih doktor di bidang hukum pada 1950, ia memprotes dan memimpin
gerakan bawah tanah anti-pemerintah atas pengambil-alihan kekuasaan lewat kudeta oleh
Fulgencio Batista pada 1952. Tahun 1953, ia memimpin serangan ke barak militer Moncada
Santiago de Cuba, namun gagal. Setelah mendapatkan pengampunan dan dibebaskan pada 15
Mei 1955, ia langsung memimpin upaya penggulingan diktator Batista. Perlawanan ini
kemudian dikenal dengan Gerakan 26 Juli. Pada 7 Juli 1955, ia lari ke Meksiko dan bertemu
dengan pejuang revolusioner Che Guevara. Bersama 81 orang lainnya, ia kembali ke Kuba
pada 2 Desember 1956 dan melakukan perlawanan gerilya selama 25 bulan di Pegunungan
Sierra Maestra.
Patria o Muerte! Tanah Air atau Mati! Pekik itu yang kerap dikumandangkan oleh Fidel
Castro dalam setiap pidatonya yang panjang dan menggelora. Hidupnya seperti hendak ia
berikan seluruhnya untuk tanah air yang begitu ia banggakan:Kuba. Jika ada pemimpin
sebuah Negara yang berkali-kali mengalami percobaan pembunuhan dan lebih dari empat
dekade menjadi musuh bagi negara lain, tentunya pemimpin itu adalah pemimpin yang
menarik. Awal kiprah Fidel Castro di dunia politik bermula dari perlawanannya kepada rezim
diktator Fulgencio Batista. Ia dan beberapa orang kawan seperjuangannya bergerilya dari
pegunungan Sierra Maestra dan mendapatkan simpati dari rakyat Kuba. Itu bukan perjuangan
yang mulus-mulus saja, membutuhkan beberapa tahun bagi Fidel Castro sampai ia benar-
benar berhasil menggulingkan Fulgencio Batista (Usman, 2006).
Semasa memerintah Fidel Castro dikenal sebagai sesosok pemimpin yang diktator. Ia
dikenal sebagai figur pemimpin yang tegas, keras, bahkan angkuh. Jules Archer (dalam
Natamarga, 2005) mendefinisikan diktator sebagai seorang penguasa yang mencari dan
mendapatkan kekuasaan mutlak pemerintahan tanpa (biasanya) memperhatikan keinginan-
keinginan nyata rakyatnya. Kekuasaan mutlak itu dapat diperolehnya baik dengan jalan sah
(misalnya lewat pemilihan umum) ataupun tidak sah (misalnya kudeta). Dalam hal ini Fidel
Castro mendapatkan tampuk kekuasaannya melalui jalan yang tidak sah yaitu seperti yang
disebutkan di atas bahwa ia mengkudeta pemimpin Kuba sebelumnya yaitu Fulgencio
Batista.
Popularitas adalah hal penting bagi seorang diktator. Menjadi sangat wajar bagi seorang
diktator untuk meneriakkan perang pada negara lain atau mempengaruhi rakyat agar
menentang kekuasaan dunia. Hal ini terlihat jelas sesaat setelah merebut kekuasaan, Castro
mulai mendirikan sistem intelijen dan keamanan yang amat ketat. Sebagai menteri
pertahanan, adik Castro mendirikan kembali pengadilan militer, organisasi keamanan seksi
pertama disebut Keamanan Negara (DGCI), dijuluki Gestapo merah. Tugasnya adalah
meresap dan menghancurkan kelompok anti Castro, membasmi dengan kejam gerakan
gerilya Escambrat, mengendalikan kamp kerja paksa dan penjara, juga ada bagian khusus
mengawasi seluruh pejabat pemerintah. Seksi ketiga bertanggung jawab atas pengawasan
terhadap semua anasir kebudayaan, olahraga, kesenian, pengarang dan bioskop. Seksi
keenam bertanggung jawab atas penyadapan telepon, seluruh personelnya mencapai 1.000
orang, memiliki kekuasaan istimewa yang amat besar. Seksi ketiga DSMI departemen dalam
negeri bertanggung jawab mengawasi agama dan merembes kedalam organisasi keagamaan.
Kepemimpinan otoriter atau biasa di sebut kepemimpinan otokratis atau kepemimpinan
diktator adalah suatu kepemimpinan dimana seorang pemimpin bertindak sebagai diktator,
pemimpin adalah penguasa, semua kendali ada di tangan pemimpin. Seorang diktator jelas
tidak menyukai adanya meeting, rapat apalagi musyawarah karena bagi seorang diktator tidak
menghendaki adanya perbedaan dan pastinya suka dengan memaksakan kehendaknya.
Dengan kepemimpinan diktator semua kebijakan ada di tangan pemimpin, semua keputusan
ada di tangan pemimpin, semua bentuk hukuman, larangan peraturan dapat juga berubah
sesuai dengan suasana hati pemimpin.
Dalam hal ini, di Kuba kebijakan k-ebijakan publik yang dibangun bersifat elitis dengan
bertumpu pada sosok Fidel Castro. Fidel Castro lebih menekankan mobilisasi massa rakyat
dan menghalangi setiap oposisi yang dijalankan oleh kelompok-kelompok yang berusaha
menentang Castro. Dari sini dapat kita lihat bahwa banyak kebijakan publik lebih
mencerminkan padangan- pandangan elit Castro dibandingkan dengan pandangan-pandangan
rakyat (Winarno, 2008). Pada September 1960, Castro mendirikan Komite Pembela Revolusi,
bertugas mengawasi aktivitas kaum anti revolusi, sehingga tercapailah pengendalian yang
amat ketat terhadap masyarakat. Pada tahun ini juga semua surat kabar oposisi ditutup dan
semua stasiun radio dan televisi berada dalam kontrol negara. Castro jelas-jelas mengontrol
dan membatasi semua aspek kehidupan negara. Pada 1975 telah lolos sebuah UU pencegahan
kejahatan, maka barang siapa tidak sejalan dengan ideologi rezim Castro yang dianggap
mungkin akan membahayakan pemerintah, maka bisa ditangkap sebagai tersangka. Sejak
1996 hingga akhir 1990, lebih dari 100 ribu orang pernah dipenjara, sebanyak 15 ribu-17 ribu
orang telah dihukum mati. Kuba seperti halnya Korea Utara, sama sekali tidak mempunyai
kebebasan berideologi, berbicara, kebebasan pers, penerbitan buku serta berorganisasi. Pada
2008 dinilai sebagai negara paling tidak bebas berinternet di seluruh dunia (Guoding, 2010).
Hal ini mengindikasikan adanya ketidakpercayaan Castro pada bawahan dan rakyatnya
sehingga muncul peraturan tersebut.
Gaya kepemimpinan Fidel Castro inilah yang membuatnya dibenci sekaligus dicintai
warganya. Meskipun ia sangat diktator tetapi tidak dapat dipungkiri ia mampu membangun
Kuba menjadi lebih baik, misalnya dengan melakukan pendidikan gratis, kebijakan agraria
dengan sistem pembagian tanah, peningkatan penghasilan pertanian, dan peningkatan
kesehatan. Pun ternyata Castro juga merupakan seorang pemimpin yang bertanggung jawab
dan berjiwa besar. Di masa pemerintahannya, ia pernah menelantarkan kaum homoseksual,
tetapi baru baru ini ia mengakui kesalahannya dan berupaya bersama pemerintah Kuba
untuk terus mengupayakan keberadaan bahkan pernikahan di antara kaum homoseksual
disahkan berdasarkan hukum Kuba.
10. Adolf Hitler
Sosok kepemimpinan Hitler dimata rakyat Jerman dan Dunia Internasional dikenal
sebagai pemimpin yang bergaya otokratis dan diktator. Hitler menggunakan suatu pendekatan
dengan cara memanfaatkan keadaan ekonomi yang buruk (karena inflasi yang besar-besaran
sehingga mengakibatkan adanya hutang terhadap Amerika, dalam kredit jangka pendek).
Yang membuat kebijakan adanya kredit jangka pendek Amerika adalah Pemerintahan
Weimar, yang disebut sebagai kemerosotan Weimar. Dengan adanya hutang tersebut sudah
dibayar lunas, maka masyarakat kembali hidup mewah, tetapi disisi lain banyak warga yang
merasakan kesengsaraan. Dengan adanya kejadian ini maka banyak rakyat yang tidak setuju
dengan kemrosotan Weimar ini, dan ingin kembali hidup lama yang sederhana, (bergabung
dengan masuk Ke NAZI kecil), ini terjadi pada tahun 1920 an.
Hitler meyakini adanya hukum seleksi alam atau hukum rimba. Yang kuat memaksakan
kehendaknya itu adalah hukum alam. Obsesi Hitler adalah keunggulan pihak yang paling
kuat. Hitler mengatakan bahwa Dia Seorang yang kuat. Dia dapat menyelesaikan krisis
ekonomi di puncak sebuah partai dinamis yang berjanji menghancurkan musuh dalam negeri
jerman dan membangun kembali negara jerman dalam persatuan nasional. Perjalanan Hitler
sudah mengalami jatuh bangun berkali-kali tetapi dia masih tetap bertahan dengan cara
berkampanye baru dan orisinil, (Dia menggunakan tema dalam kampanye Pilpres pada tahun
1932 dengan Semboyan Hitler di atas Jerman, dia berkeliling dengan pesawat ke 20 kota
dalam waktu 7 hari.). Meskipun seorang Hitter kalah, tetapi Hitler tetap menganggap dirinya
adalah seorang pemimpin alternative Jerman.
Di mata Internasional, kekuasaan Hitler diraih bukan melalui kemenangan besar dalam
pemilihan umum. Namun ia takkan menjadi Kanselir Reich seandainya pada bulan Januari
1933 ia tidak memimpin partai terkuat. Pada pemilihan umum untuk Reichstag yang terakhir
di era Republik Weimar pada tanggal 6 November 1932, partai Nazi kehilangan dua juta
suara dibandingkan dengan hasil pemilu pada tanggal 31 Juli 1932. Sebaliknya partai
komunis berhasil mendapat tambahan 600.000 suara, sehingga mencapai angka magis 100
kursi Reichstag. Sukses Partai Komunis Jerman (KPD) itu memperbesar kekhawatiran akan
perang saudara. Rasa takut itulah sekutu terkuat Hitler, terutama di kalangan elite kekuasaan
yang konservatif. Berkat rekomendasi kalangan tersebut kepada Hindenburg pada tanggal 30
Januari 1930, Hitler diangkat oleh Presiden Reich itu sebagai kanselir yang memimpin
kabinet yang mayoritas anggotanya berhaluan konservatif.
Untuk tetap mempertahankan kekuasaan selama dua belas tahun pemerintahan Reich
Ketiga, tidak cukup menjalankan teror terhadap semua pihak yang berbeda pendapat. Hitler
memperoleh dukungan dari sebagian besar kaum buruh, sebab ia berhasil menghapus
pengangguran masal dalam waktu beberapa tahun saja. Sukses itu terutama didasarkan atas
konyungtur industri persenjataan. Dukungan pekerja dapat dipertahankan oleh Hitler selama
Perang Dunia II. Caranya dengan memeras tenaga kerja dan sumber daya di daerah-daerah
pendudukan secara kejam, sehingga massa rakyat Jerman tidak mengalami kekurangan yang
parah seperti pada Perang Dunia I. Sukses besar di bidang politik luar negeri dalam tahun-
tahun menjelang perang, terutama pendudukan daerah Rheinland yang semula zone bebas
militer serta aneksasi Austria pada bulan Maret 1938, membuat kepopuleran Hitler meroket
di segala lapisan masyarakat. Mitos mengenai Reich dan misi historisnya, yang diperalat
dengan cekatan oleh Hitler, terutama mempengaruhi orang Jerman yang terpelajar. Dukungan
mereka dibutuhkan oleh pemimpin atau Fhrer yang karismatik itu, kalau ia ingin membuat
Jerman menjadi kekuatan penata di Eropa secara lestari. Sebaliknya, kalangan terpelajar itu
memerlukan Hitler, karena di mata mereka tidak ada tokoh lain yang mampu mewujudkan
impian mengenai negara yang besar orang Jerman.
Dalam berbagai kampanye pemilu pada awal tahun 1930-an, Hitler tidak menutupi
sikapnya yang memusuhi orang Yahudi, tetapi juga tidak menonjolkannya. Di kalangan
buruh, yang hendak dirangkul oleh semua pihak, sikap itu memang takkan disambut. Di
kalangan warga terpelajar dan berada, begitu juga di antara tukang, pengusaha kecil dan
petani, prasangka anti-Yahudi tersebar luas, tetapi mereka tidak menyukai antisemitisme
yang ribut. Peristiwa pencabutan hak orang Yahudi di Jerman melalui Undang-Undang Ras
yang disahkan di Nrnberg pada bulan September 1935 tidak menimbulkan protes, karena
tidak melanggar formalitas hukum. Kekerasan dan kerusuhan pada malam 9 November 1938
(Reichskristallnacht) tidaklah populer, berbeda dengan peng-Arya-an harta benda Yahudi,
suatu aksi pengalihan harta secara besar-besaran yang dampaknya terasa hingga kini. Kabar
mengenai holocaust, pemusnahan sistematis kaum Yahudi di Eropa pada masa Perang Dunia
II, tersebar lebih luas daripada yang diinginkan oleh rezim Nazi. Namun agar sesuatu dapat
diketahui perlu ada rasa ingin tahu, dan menyangkut nasib warga Yahudi, hal terakhir ini
kurang di Jerman pada saat Reich Ketiga.
Dalam sejarah Jerman, jatuhnya Reich Jerman yang besar pimpinan Hitler pada bulan
Mei 1945 berarti titik balik yang jauh lebih besar dampaknya daripada runtuhnya kekaisaran
pada bulan November 1918. Keutuhan Reich itu sendiri tidak tersentuh seusai Perang Dunia
I. Setelah kapitulasi tanpa syarat pada akhir Perang Dunia Kedua, selain kekuasaan
pemerintah, wewenang menentukan masa depan Jerman juga berpindah ke tangan keempat
negara pendudukan, yaitu Amerika Serikat, Uni Soviet, Inggris dan Perancis. Berbeda dengan
tahun 1918, pada tahun 1945 kuasa pimpinan politik dan militer Jerman dicabut. Para pejabat
yang masih hidup diadili oleh Mahkamah Militer Internasional di Nrnberg (Perkara-Perkara
Nrnberg). Para bangsawan pemilik latifundium di sebelah timur Sungai Elbe, yaitu
kelompok yang lebih banyak berperan dalam proses penghancuran Republik Weimar dan
pengalihan kekuasaan kepada Hitler daripada kelompok elite kekuasaan lainnya, kehilangan
tanah dan harta. Ada yang harus meninggalkan daerah asalnya akibat dipisahkannya kawasan
di sebelah timur Sungai Oder dan Sungai Neie dekat Grlitz dari wilayah Jerman, kemudian
ditempatkan di bawah administrasi Polandia atau, dalam hal Ostpreuen bagian utara, di
bawah administrasi Uni Soviet. Tanah milik sebagian lain dari kelompok tuan tanah tersebut
disita dalam rangka land reform di zona pendudukan Uni Soviet.
Hitler mengangkat Jerman dari kegagalan ekonomi. Pertumbuhan industri Jerman sangat
cepat dan memangkas jumlah pengangguran secara signifikan. Pekerjaan sipil seperti
pembangunan transportasi dan infrastruktur , puluhan bendungan , industri otomotif
Volkswagen untuk menyediakan kendaraan murah bagi rakyat Jerman. Menurunnya angka
pengangguran ini menjadi wajar , karena disaat bersamaan, Hitler juga melakukan
pembangunan militer besar-besaran dan merobek Perjanjian Versailles yang mengebiri militer
Jerman.
Secara keseluruhan Hitler berhasil mengangkat kepercayaan diri bangsa Jerman yang
terpuruk karena kalah Perang Dunia I. Oleh karena itu , rakyat Jerman masih mendukung
Hitler , walau Hitler mulai melakukan praktek kekerasan terhadap lawan politiknya dan juga
permulaan didirikannya kamp konsentrasi.
Hitler menawarkan sebuah jam tangan emas bagi para bawahannya yang bisa
menghentikan kebiasaan merokok mereka. Ketika Hitler bunuh diri, sebagian besar perwira
militer di bunkernya langsung menyalakan rokok dan menghisap rokok untuk meredakan
ketegangan, karena saat itu Berlin sudah dikepung tentara merah Uni Soviet.
Walaupun orang menganggapnya Diktator yg bisa berbuat apa saja, tetapi Hitler hanya
memiliki uang sejumlah 180,000 Reichmark saja di dalam tabungannya. Itu semua
didapatkannya dari penjualan buku dan gajinya sebagai Reichchancelor selama 12 tahun. Dia
tidak pernah mengambil sepeser pun uang negara dan menkontribusikan apapun yang dia
punya untuk Reich Ketiganya.
Sebenarnya pengelolaan hitler sangat baik dalam memegang tampu kekuasaan jerman
dengan bukti ia mampu mengentaskan jerman dari kebobrokan, dalam hal ini tidak akan
terjadi jika ia salah memilih bawahannya dan ia selalu menjaga hubungan terhadap anak
buahnya dengan baik. Ada sebuah contoh, Hitler pernah berkunjung ke rumah jendral
bawahanya hanya untuk menonton video koleksinya. Dampak dari hubungan antara Hitler
dengan bawahannya tersebut membuat ia semakin kharismatik dan loyalitas bawahan
terhadap fuhrer-nya semakin tinggi dan dapat dilihat dari saat akhir kehancuran Jerrman saat
Hitler melakukan bunuh diri di tempat persembunyiannya dan berita itu tersebar hingga
pasukanya mengetahuinya, banyak pasukanya yang ikut melakukan bunuh diri sehingga saat
itu banyak terjadi bunuh diri massal. Dalam segi ekonomi yang membuat negaranya hancur
adalah sifat megalomania yang ingin menguasai seluruh daratan eropa karena perlawanan
dari negara-negara yang melawannya. Andai sifat itu tidak ada, mungkin Jerman yang dulu
hingga kini bisa menjadi Negara Super Power dengan kekuatan ekonomi dan militernya.
2.4 CONTOH PEMIMPIN GAYA DEMOKRATIS
1. Presiden John F. Kennedy
John Fitzgerald Kennedy (lahir di Brookline, Massachusetts, 29 Mei 1917 meninggal di
Dallas, Texas, Amerika Serikat, 22 November 1963 pada umur 46 tahun), sering disebut John
F. Kennedy, Kennedy, John Kennedy, Jack Kennedy, atau JFK adalah Presiden Amerika
Serikat yang ke-35. Pada 1960, ia menjadi president Amerika Serikat kedua yang termuda
setelah Theodore Roosevelt . Kennedy menjadi presiden setelah dilantik pada 20 Januari
1961. Jabatan kepresidennya terhenti setelah terjadi pembunuhan terhadap dirinya pada 1963.
Ia tewas oleh terjangan peluru saat melakukan kunjungan ke Dallas (Texas) pada 22
November 1963.
Presiden John F. Kennedy adalah pemimpin demokratis yang terkenal. Seseorang tidak
salah ketika mengatakan Presiden Kennedy adalah seorang Demokrat dan tentunya ia akan
dikenang sebagai seorang pemimpin besar. Ia adalah salah satu pemimpin demokratis yang
terkenal. Selain seorang pemimpin yang demokratis, John F.Kenedy juga pemimpin paling
karismatik di Amerika Serikat. John F. Kennedy berasal dari keluarga yang kuat, dan
diberkati dengan penampilan yang baik di samping kharisma pribadinya.
Kepemimpinan JFK memang terlihat sejak Perang Dunia ke 2 sebagai seorang Letnan
memimpin sebuah kapal torpedo (Torpedo Patrol Boat) PT 109 di Samudera Pacific yang saat
itu diserang oleh tentara Jepang dan kapalnya tenggelam. John yang terluka parah pada
bagian punggungnya masih mampu memotivasi anak buahnya untuk menyelamatkan dirinya
bahkan meminta bantuan. Tindakan kepahlawanannya membawanya mendapatkan
penghargaan dari Angkatan Laut dan Marinir AS.
Presiden yang hanya memimpin AS dalam 1036 hari ini mempunyai
banyak legacy (warisan) dari pemerintahan singkatnya antara lain rencana pendaratan
astronot di bulan, penegakan hak-hak kaum sipil, peredaan ketegangan dan konfrontasi di
Teluk Babi dengan Uni Soviet pada era perang dingin dan lainnya.
2. Dwight D. Eisenhower
Dwight David Eisenhower, terlahir David Dwight Eisenhower (lahir diDenison, Texas, 14
Oktober 1890 meninggal di Washington, D.C., 28 Maret1969 pada umur 78 tahun), atau
juga dikenal dengan nama panggilan "Ike", tentara dan politikus Amerika. Ia
menjabat Presiden Amerika Serikat ke-34 (19531961).
Pada Perang Dunia II, ia adalah Panglima Tertinggi Sekutu di Eropa dengan pangkat
Jenderal Angkatan Darat . Pada 3 Januari 1959, ia meresmikan penetapan Alaska sebagai
negara bagian yang ke-49 yang merupakan wilayah terluas di Amerika. Eisenhower adalah
satu-satunya presiden yang pernah berdinas dalam Perang Dunia I maupun Perang Dunia II.
Sesudah perang, Dwight Eisenhower berturut-turut menjadi Kepala Staf Angkatan Darat
Amerika, Presiden Universitas Columbia di New York, dan Panglima Tertinggi pasukan
Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO, di Paris. Pada saat itu, baik Partai
Demokrat maupun Partai Republikmembujuknya supaya bersedia menjadi calon Presiden
masing masing. Akhirnya ia terpilih menjadi Presiden dengan perbedaan suara yang banyak
sekali.
Dengan berunding berdasarkan kekuatan militer Presiden Dwight Eisenhower berusaha
meredakan ketegangan akibat perang dingin. la antara lain berhasil mengadakan penghentian
tembak menembak sepanjang perbatasan Korea Selatan, dan menutup perjanjian perdamaian
yang menjadikan Austria sebuah negara netral.
Presiden Dwight Eisenhower, yang dua kali berturut-turut menjadi presiden sampai 1960,
menyebutkan dirinya seorang moderat.
a. la berpegang pada sistem pasar bebas.
b. Menentang pengawasan pemerintah atas harga-harga barang-barang dan kenaikan gaji.
c. Mencegah keterlibatan pemerintah dalam pertentangan antara kaum buruh dan pihak
majikan.
d. Mendorong program-program peluru kendali dan melanjutkan bantuan luar negeri.
Dalam awal masa pemerintahannya, Mahkamah Agung Amerika
Serikatmemerintahkan desegregasi sekolah di seluruh Amerika. Untuk menjamin agar
sekolah-sekolah di kota Little Rock di negara bagian Arkansas taat pada keputusan sebuah
mahkamah federal untuk mengadakan desegregasi, Presiden Dwight Eisenhower mengirim
pasukan tentara ke kota tersebut. la juga memerintahkan desegregasi dijalankan sepenuhnya
di kalangan angkatan bersenjata Amerika. Ia berkata:
Di Amerika tidak boleh ada warga Negara kelas dua
Presiden Dwight Eisenhower memusatkan perhatiannya pada usaha memelihara
perdamaian dunia. Ia mengadakan program rakyat ke rakyat yang mengajurkan agar rakyat
biasa dari semua negara saling bertemu dan berbicara untuk memupuk saling pengertian dan
persahabatan. Dari program ini timbullah program hubungan persaudaraan antara kota-kota
Amerika dan kota-kota negara-negara lain. Kini lebih dari 100 kota Amerika mempunyai
hubungan semacam itu dengan kota-kota di seluruh dunia. Program ini dinamakan sister city.
Presiden Eisenhower dengan gembira menyaksikan perkembangan programnya "atom untuk
perdamaian." Dalam program itu, Amerika menyumbangkan uranium kepada negara-negara
berkembang demi kesejahteraan manusia. Pada 1964, Indonesia mendapat bantuan sebanyak
$ 350.000 sebagai sumbangan untuk pembangunan reaktor atom di Bandung.
Einshower terkenal dengan gaya kepeimpinanya sebagai berikut
1. Gaya Kepemimpinan Demokratis, yakni gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara
luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan
sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis, pemimpin memberikan
banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya. Dan gaya
kepemimpinan ini ada dalam diri Einshower.
2. Gaya Kepemimpinan Karismatis, kelebihan dari gaya kepemimpinan ini adalah mampu
menarik orang, dan orang akan terpesona dengan cara bicaranya yang dapat membangkitkan
semangat dan membangkitkan harapan, biasanya pemimpin dengan gaya kepribadian ini
visionaris. Pemimpin seperti ini sangat menyenangi perubahan dan tantangan. Dan Einshower
melakukan gembrakan pada AS untuk tidak memandang masyarakat AS dengan kelas kelas
sebuah perubahan yang di impikan oleh masyarakat AS.
3. Gaya Kepemimpinan Moralis, gaya kepemimpinan seperti ini adalah orangnya hangat dan
sopan kepada semua orang. Gaya kepemimpinan ini memiliki empati yang tinggi terhadap
permasalahan para bawahannya, juga sabar, murah hati, segala bentuk kebajikan ada dalam
diri pemimpin ini. Orangorang yang datang karena kehangatannya terlepas dari segala
kekurangannya.

2.5 CONTOH PEMIMPIN GAYA LAISSEZ FAIRE


1. George Herbert Walker Bush
George Herbert Walker Bush (lahir 12 Juni 1924) adalah seorang politikus Amerika yang
menjabat sebagai 41 Presiden Amerika Serikat (1989-1993). Dia sebelumnya menjabat
sebagai ke-43 Wakil Presiden Amerika Serikat (1981-1989), seorang anggota Kongres, duta
besar, dan Direktur Central Intelligence.
Bush lahir di Milton, Massachusetts, untuk Senator Prescott Bush dan Dorothy Walker
Bush. Menyusul serangan terhadap Pearl Harbor pada tahun 1941, pada usia 18, Bush ditunda
untuk kuliah dan menjadi yang termuda penerbang di Angkatan Laut AS pada saat itu. Ia
menjabat sampai akhir perang, kemudian dihadiri Yale University. Lulus pada 1948, ia
pindah keluarganya ke Texas Barat dan memasuki bisnis minyak, menjadi jutawan pada usia
40.
Ia menjadi terlibat dalam politik segera setelah mendirikan perusahaan minyak sendiri,
dan melayani sebagai anggota DPR. Dia berlari gagal sebagai presiden Amerika Serikat
pada 1980 , tetapi dipilih oleh calon partai Ronald Reagan menjadi calon wakil presiden, dan
mereka berdua kemudian terpilih. Selama masa jabatannya, Bush dipimpin pasukan
administrasi tugas pada deregulasi dan penyalahgunaan narkoba pertempuran.
Pada tahun 1988, Bush meluncurkan kampanye sukses untuk berhasil Reagan sebagai
presiden, mengalahkan Demokrat lawan Michael Dukakis. Kebijakan luar
negeri kepresidenan Bush mengemudikanoperasi militer dilakukan di Panama dan Teluk
Persia pada masa perubahan dunia; di Tembok Berlin runtuh tahun 1989 danUni
Soviet dibubarkan dua tahun kemudian. Di dalam negeri, Bush mengingkari janji kampanye
1988dan setelah perjuangan dengan Kongres, menandatangani kenaikan pajak bahwa
Kongres telah berlalu. Dalam bangun dari keprihatinan ekonomi, ia kehilangan pemilihan
presiden tahun 1992 untuk Partai DemokratBill Clinton .
Salah satu kesalahpahaman merusak sebagian besar waktu kami adalah bahwa
pemerintahan Bush mewakili sebuah era kapitalisme pasar bebas. Dengan salah menyalahkan
krisis keuangan dan kesengsaraan ekonomi yang terkait dengan dugaan Bush pada
pengabdian untuklaissez-faire, banyak di pers mainstream, akademisi dan kehidupan politik
misdiagnosing masalah dan solusi yang salah resep: Pemerintah Lebih, yang akan pada
kenyataannya hanya membuat hal-hal buruk.
Pemerintah besar Partai Republik seperti Bush telah melakukan lebih dari bagian mereka
untuk mendorong kebingungan. Dengan mencap diri mereka sebagai teman-teman dari pasar
bebas, elang anggaran, pajak pemotong, deregulators dan juara pemerintahan konstitusional
yang terbatas, sambil mendorong agenda sebaliknya, mereka telah membantu menciptakan
kesan bahwa bencana yang dihasilkan dari campur tangan intervensionis mereka adalah
konsekuensi dari bebas perusahaan.
2. Adam Smith
John Adam Smith adalah seorang filsuf berkebangsaan Skotlandia yang menjadi pelopor
ilmu ekonomi modern. Dia juga dikenal sebagai "Bapak Ekonomi" versi barat. Karyanya
yang terkenal adalah buku An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of
Nations (disingkat The Wealth of Nations) adalah buku pertama yang menggambarkan sejarah
perkembangan industri dan perdagangan di Eropa serta dasar-dasar perkembangan
perdagangan bebas dan kapitalisme. Adam Smith adalah salah satu pelopor sistem ekonomi
Kapitalisme. Sistem ekonomi ini muncul pada abad 18 di Eropa Barat dan pada abad 19
mulai terkenal disana.
Smith percaya bahwa buruh merupakan proritas tinggi, dan pembagian buruh akan
berakibat pada kenaikan signifikan pada produksi. Smith memakai contoh dengan pembuatan
jepitan. Satu pekerja bisa membuat duapuluh pin sehari. Tapi jika sepuluh orang dibagi
menjadi delapanbelas langkah yang diperlukan membuat sebuah jepitan, mereka bisa
membuat 48.000 jepitan dalam sehari. Smith memberi solusi pada kenaikan upah dengan
kenaikan produksi, pandangan yang dianggap lebih akurat sekarang ini.
Jika sebuah kelangkaan produk terjadi, misalnya, maka harganya naik, membuat marjin
keuntungan yang membuat insentif bagi yang lain untuk masuk ke produksi tersebut, dan
mengatasi kelangkaan. Jika terlalu banyak produsen yang masuk ke pasar, kompetisi yang
meningkat di antara para manufaktur dan kenaikan penawaran akan menurunkan harga di
produk tersebut sampai titik dimana harga produksinya, harga natural. Bahkan jika
keuntungan sampai kosong pada "harga natural", maka akan ada insentif untuk memproduksi
barang dan jasa, dan semua ongkos produksi, termasuk kompensasi untuk buruh pemilik,
juga dimasukkan dalam harga barang jual. Jika harga jatuh dibawah keuntungan kosong,
produsen akan keluar dari pasar, jika mereka berada diatas keuntungan kosong, produsen
akan masuk ke pasar. Smith percaya kalau motif manusia seringkali egois dan tamak,
kompetisi dalam pasar bebas akan bertujuan menguntungkan masyarakat seluruhnya dengan
memaksa harga tetap rendah, dimana tetap membangun dalam insentif untuk bermacam
barang dan jasa. Selain itu, dia cemas akan pebisnis dan melawan formasimonopoli.
Smith dengan keras menyerang pembatasan antik oleh pemerintah dimana dia pikir
batasan tersebut memundurkan ekspansi industri. Faktanya, dia menyerang hampir semua
bentuk intervensi pemerintah dalam proses ekonomi, termasuk tarif, berpendapat bahwa hal
tersebut membuat inefisiensi dan harga tinggi pada jangka panjang. Teori ini kemudian
dikenal dengan "laissez-faire", yang berarti "biarkan mereka lakukan", memengaruhi
legislastif pemerintah pada tahun-tahun berikutnya, khususnya selama abad ke 19.
(Bagaimanapun dia tidak melawan pada pemerintahan. Smith menganjurkan edukasi publik
bagi orang dewasa miskin, sistem institusional yang tidak non laba untuk industri swasta,
judisiari, dan pasukan berdiri.)
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Kepemimpinan yang efektif harus memberikan pengarahan terhadap usaha-usaha semua
pekerja dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi. Tanpa kepemimpinan atau bimbingan,
hubungan antara tujuan perseorangan dan tujuan organisasi mungkin menjadi renggang
(lemah). Keadaan ini menimbulkan situasi dimana perseorangan bekerja untuk mencapai tujuan
pribadinya, sementara itu keseleruhan organisasi menjadi tidak efisien, dalam pencapaian
sasarannya

Dari beberapa gaya kepemimpinan yang telah disebutkan di atas akan mempunyai tingkat
efektivitas yang berbeda-beda, tergantung pada faktor yang mempengaruhi perilaku pemimpin.
Seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya sangat dipengaruhi oleh faktor, baik
yang berasal dari dalam diri pribadinya maupun faktor yang berasal dari luar individu pemimpin
tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Adi, Helmanila. (2013). Democrazy Terhadap Pola Kepemimpinan Diktator. Diperoleh pada
2 November 2014 darihttp://helmanilaadi.wordpress.com/2013/01/01/democrazy-terhadap-
pola-kepemimpinan-diktator/

Fitri. (2012). Macam-Macam Gaya Kepemimpinan. Diperoleh pada 2 November 2014 dari
http://nurriasf.blogspot.com/2012/02/macam-macam-gaya-kepemimpinan.html

Lestari, Sonia Febriyani. (2011). Pemimpin Laissez Faire. Diperoleh pada 2 November 2014
dari http://soniafebriyani.blogspot.com/2011/11/pemimpin-laissez-faire.html

Nabila, Bella. (2013). Tokoh Kepemimpinan. Diperoleh pada 2 November 2014


darihttp://belamy19.blogspot.com/2013/01/tokoh-kepemimpinan_24.html

NN. (2011). Klasifikasi Gaya-Gaya Kepemimpinan. Diperoleh pada 2 November 2014


darihttp://beruangkaki5.blogspot.com/2012/06/klasifikasi-gaya-gaya-kepemimpinan.html

Rizky, Pia. (2013). Analisis Kepemimpinan Fidel Castro. Diperoleh pada 2 November 2014
darihttp://piipiiodd.wordpress.com/2013/10/19/analisis-kepemimpinan-fidel-castro/

Sempati, Sano. (2013). Tokoh Perdamaian Dunia "Einshower". Diperoleh pada 2 November
2014 darihttp://sanosempati.blogspot.com/2013/01/tokoh-perdamaian-dunia-einshower.html
Tio, Amrosius. (2011). Tokoh Pemimpin Otokratis. Diperoleh pada 2 November 2014
darihttp://ambrosiusnurhadiprasetyo.blogspot.com/2011/10/nama-ambrosius-nurhadi-
prasetyo-npm.html

Triyudanto, Amrizal. (2012). Kepemimpinan dan Contoh Pemimpin Diktator. Diperoleh pada
2 November 2014 darihttp://pemalasbahagia.blogspot.com/2012/11/kepemimpinan-dan-
contoh-pemimpin.html

Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas. (2013). Dwight D. Eisenhower. Diperoleh


pada 2 November 2014 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Dwight_D._Eisenhower