Anda di halaman 1dari 6

Nama Anggota Kelompok : Delky Sahat Simamora

Sri Mutiara E. Simatupang


Bonanza Marbun
Chandra Sihombing
Daniel Sinaga

Mata Kuliah : Etika I


Dosen : Pdt. Mixon A. Simarmata, M.Th

PERAN KOMUNITAS DALAM ETIKA

I. Data
a. Peschke
Lingkungan Masyarakat dimana ia hidup/tinggal memiliki faktor hakiki/peranan penting
dalam proses pembentukan karakter dan moral seseorang. Maka kita harus mampu untuk memilih
norma-norma dan nilai-nilai mana yang baik dan menghidupinya. Karena kita sendiri yang akan
bertanggungjawab atas apa yang telah kita pilih untuk dijalani. Bahkan, menurut Peschke, faktor ini
perlu kita cermati secara khusus terutama dalam terang Iman Kristiani.
Peschke melihat bahwa di dalam Masyarakat itu adanya suatu Jati Diri Moral yang
terbentuk melalui kebudayaan masyarakat itu. Perjumpaan dengan kebudayaan-kebudayaan yang
lain memperlihatkan bahwa kebaikan dan kejahatan adalah konsep yang bertautan erat dengan
masyarakat. Nilai-nilai dan konsep-konsep itu berkaitan dengan nilai yang berlaku di dalam
masyarakat dan bergantung dari pemahaman masyarakat yang terkondisi secara historis dan
kultural. Oleh karena itu, menurut Peschke, dibutuhkan visi Moral untuk mempertahankan kultur
bersama dan kewajiban bersama atas nilai-nalai moral. Visi Moral, kultur dan kewajiban bersama
tersebut pertama-tama berakar di dalam masyarakat, dan baru pada tempat kedua di dalam individu.
Mereka harus memiliki suatu sumber di dalam persekutuan-persekutuan dan dikembangkan oleh
persekutuan itu. Visi, kebudayaan dan kewajiban tersebut harus dipelajari dan diwariskan dari satu
generasi ke generasi yang lain, karena hal-hal itu tidak terkondisi secara genetis tetapi melalui
sosialisasi. Kematangan hati nurani dan visi moral adalah ungkapan jati diri moral yang terbina,
dan jati diri moral yang terbina itu berpijak pada persekutuan hidup yang terus menerus. Disinilah,
bagi Peschke, menyebutnya sebagai Gereja. Jati diri moral Gereja, sumbernya adalah Alkitab
sebagai Sumber Utama Jati Diri Kristiani. Alkitab (baik itu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru)
adalah sumber utama bagi nilai-nilai dasar, kebajikan-kebajikan dan visi yang memberikan jati diri
khusus bagi orang Kristen dan persekutuan iman.
Selain daripada itu, Peschke juga melihat Persekutuan Iman sebagai Acuan Jati diri Moral.
Manusia modern melihat persekutuan dari perspektif atomistis dan menganggapnya sebagai suatu
forum untuk menyeimbangkan kebutuhan, keinginan tuntutan dari pelbagai kelompok, sementara
manusia modern itu sendiri memfokuskan diri secara intensif pada kebebasan dan hak-hak individu.
Gambaran masyarakat yang demikian, menurut Peschke memperkuat adanya Individualisme. Oleh
karena itu Semua hal yang diperoleh terkait dengan etika dan kehidupan moral tidak terlepas dari
adanya sebuah persekutuan.

1
b. Brownlee
Brownlee membagi dalam dua bagian besar, yaitu:
1. Pengaruh masyarakat atas kehidupan moral
1) Manusia dalam masyarakat. Masyarakat terdiri atas nilai, norma, system hukum dan
aturan-aturan yang akan digunakan untuk mengatur, mengendalikan, dan memberikan
arah kepada manusia dalam hidup bermasyarakat. Jika seseorang dianggap menyimpang,
maka ia akan diberikan sanksi yang berupa hukuman, kekerasan, dan tekanan ekonomis.
Tetapi jika ini terjadi dalam kelompok-kelompok yang karib, biasanya mereka lebih
memakai metode penertiban yang halus namun kuat seperti menasehati dan
menganjurkan, mengejek dan mencemarkan nama, dan mengeluarkan dari kelompok.
(manusia menyesuaikan diri dengan masyarakat (aturan yang ada)).
2) Masyarakat dalam manusia. Pengaruh masyarakat yang terpenting bukanlah kontrol yang
diberikan dari luar, melainkan yang mengarahkan kehidupan kita dari batin kita. Karena
norma-norma dan nilai-nilai itu sudah tertanam dalam hati kita. Dan kita mengikuti
pandangan masyarakat bukan karena terpaksa tetapi karena kita telah menyetujuinya dan
menganggap pandangan itu sebagai pandangan kita sendiri. Ini dapat terjadi karena kita
mendapatkan proses pembelajaran sejak kita masih anak-anak. Dimana masyarakat
berusaha untuk memasukkan pandangan itu kedalam akal dan tabiat kita. Sehingga kita
mulai untuk belajar dari pandangan yang diajarkan dan diakui dengan kata-kata, kita juga
belajar dari kelakuan orang-orang di sekitar kita.
3) Pengaruh lingkungan sebagai karunia Allah. Kita harus bersyukur dengan keadaan
bahwa kita hidup dalam masyarakat dan persekutuan kita, karena dengan adanya itu kita
dapat hidup dengan cara tolong-menolong. Kita harus menganggap semua hubungan
yang kita jalani baik itu dengan orangtua, tetangga, teman, ataupun masyarakat lainnya
adalah sebagai hubungan sukacita. Jika kita mampu mengatakan bahwa hubungan yang
kita jalani itu adalah hubungan sukacita, maka kita juga mampu untuk mengambil
keputusan dengan memperhatikan dasar pemikiran ataupun hukum alam, ataupun hukum
etika yang disediakan oleh lingkungan sosial.
4) Unsur dosa dalam pengaruh lingkungan. Setiap lingkungan memiliki aturannya sendiri.
Akan sulit jika dalam sebuah kelompok dimunculkan kecenderungan sifat menuntut
kesetiaan, melarang adanya perkembangan, dan menganggap yang lain adalah salah.
Bahkan jika sampai ada orang yang menganggap bahwa kalau kebanyakan orang
berbuat demikian, maka saya juga harus berbuat demikian.
5) Lingkungan. Dalam hidup bermasyarakat, yang dilihat bukanlah siapa yang
mempengaruhi siapa, tetapi lebih mengarah ke toleransi. Karena dalam lingkungan
bermasyarakat kita akan diperhadapkan dengan beragaman jenis karakter, budaya, dan
pendapat. Kita tidak diminta untuk mengabaikan ataupun menerima begitu saja. Kita
harus mendengarkan mereka dengan sungguh-sungguh dan memilih apa yang baik
untuk kita pelajari dari mereka. Sebagai orang Kristen, kita juga harus mengingat bahwa
kita memiliki Gereja sebagai lingkungan kita. Karena Gereja merupakan persekutuan
yang dapat membimbing pemikiran kita dan mendukung kesetiaan kita pada Allah di
tengah-tengah pengaruh-pengaruh lain.
6) Hubungan antara lingkungan sosial dan tabiat. Sejak awal mula kehidupan, manusia
memiliki kekuatan dalam dirinya, yaitu kekuatan (hasrat) untuk memperoleh keamanan
dan kasih, dan kekuatan (hasrat) untuk memperoleh kebebasan. Keduanya harus berjalan
dengan selaras. Kita juga harus memiliki tabiat yang kuat untuk terbuka terhadap
pandangan yang berbeda. Secara khusus bagi orang-orang yang tinggal di kota modern.
2
Karena bisa saja kelakuan seseorang di dekat rumahnya sangat berbeda dengan
kelakuannya di tempat yang jauh dari rumahnya.

2. Gereja sebagai lingkungan Kristen


Brownlee mengatakan bahwa Gereja harus menjadi persaudaraan yang memberi anggotanya
pertolongan dalam mengambil keputusan etis dan kekuatan dalam berbuat sesuai dengan
keyakinannya. Dalam gereja setiap orang yang beriman bertanggungjawab sebagai imam bagi
orang lain. Itu sebabnya, setiap orang yang percaya harus saling menolong dalam usaha kita
bersama untuk mengerti dan mematuhi kehendak Allah. Untuk itu Brownlee memaparkan beberapa
fungsi Gereja yang menyangkut keputusan etis.
1) Gereja sebagai jemaat pertanggungan-jawab etis. Di dalam Gereja, setiap orang akan
diingatkan kembali tentang dosa-dosa yang telah dilakukannya dan penghakiman dari
Allah. Gereja menolong kita untuk bertobat dari dosa dan kembali kepada Allah, karena
dosa dianggap sebagai pemberontakan melawan Allah. Maka setiap orang wajib
menyesali dosanya sendiri serta bertobat dan menolong saudaranya untuk bertobat.
2) Gereja sebagai jemaat pengampunan. Keanggotaan kita dalam persekutuan Kristen
berdasar atas kasih karunia Allah, bukan kebaikan kita sendiri. Moralitas Kristen hidup
dari hubungan manusia dengan Tuhan. Maka, meyakinkan orang tentang kasih Allah
kepadanya meskipun ia berdosa adalah lebih penting daripada menganjurkan orang itu
untuk berbuat baik dan tidak berdosa. Dengan adanya kasih, maka akan muncul rasa
untuk saling mengampuni sebagai wujud nyata dari kasih karunia Allah. Dalam
persekutuan Kristen kita harus mendukung saudara kita di tengah perkara yang berat.
Dengan cara kita mendukung mereka dalam keadaan yang sulit itu akan membuktikan
bahwa kita sebagai anggota gereja memiliki rasa keterbukaan terhadap anggota yang lain.
Baik atau buruknya seseorang, harus bisa kita terima. Karena diterima oleh Allah dan
sekelompok orang merupakan kebutuhan pokok bagi manusia.
3) Gereja sebagai jemaat pendidikan moral. Ada dua cara Gereja dalam mengajarkan etika.
Pertama dengan cara menyampaikan ajaran-ajaran etis, yaitu dengan hukum-hukum
(Dasah Titah dan Khotbah Di Bukit), cerita-cerita perumpamaan, nyanyian dan lambang,
yang semuanya bersumber dari Alkitab. Dan proses pengajarannya dapat terjadi melalui
khotbah, sekolah minggu, pertemuan pemuda, pemahaman Alkitab dan sebagainya.
Kedua, pola kehidupan Gereja merupakan alat pengajaran moral. Ajaran-ajaran yang
disampaikan dengan kata-kata juga diwujudkan dalam corak kelakuan Gereja karena
kedua hal ini saling menguatkan.
4) Gereja sebagai pembentuk tabiat moral. Norma-norma dan nilai-nilai yang diajarkan dan
dipraktekkan oleh gereja ikut dalam proses pembentukan tabiat orang Kristen. Tabiat kita
juga dibina oleh sikap-sikap dan hubungan-hubungan yang kita alami dalam gereja.
Orang-orang yang mengalami kasih dalam persekutuan gereja lebih mampu mengasihi.
Kepekaan kita kepada kebutuhan sesama kita akan berkembang kalau kita menjadi
anggota kelompok orang-orang yang peka kepada sesamanya.
5) Gereja sebagai jemaat dukungan moral. Anggota-anggota gereja dipersatukan dalam satu
tubuh dengan satu kepala. Mereka dijiawi oleh satu Roh. Tiap anggota melayani anggota-
anggota yang lain. Persekutuan berarti dukungan jiwa dan semangat. Persekutuan juga
berarti dukungan tenaga. Kecakapan kita adalah karunia Allah untuk dipakai bagi
saudara-saudara kita bukan untuk kepentingan diri sendiri saja. Setiap anggota jemaat
harus tolong menolong.
3
6) Gereja sebagai jemaat diskusi moral. Dalam gereja pokok-pokok etis dapat dibicarakan
bersama-sama. Orang-orang Kristen perlu bertukar pikiran tentang apa yang dikehendaki
oleh Allah dalam masalah-masalah etis yang nyata masa kini. Kita membutuhkan
pertolongan dari orang-orang lain dalam pengambilan keputusan. Mereka bisa
memberikan informasi yang belum kita ketahui atau memperingatkan kita tentang hal
yang kita abaikan. Karena itu persekutuan Kristen member kesempatan yang baik untuk
membicarakan pandangan-pandangan yang berbeda.
7) Gereja sebagai jemaat perbuatan moral. Dua macam perbuatan gereja, yaitu perbuatan
gereja dalam konteks keluarganya, pekerjaannya, dan masyarakat, serta gereja bertindak
sebagai badan. Perbuatan gereja dalam konteks keluarga, pekerjaan, dan masyarakat
dianggap sebagai pekerjaan gereja meskipun dilakukan di luar gedung gereja dan tidak
dibahas dalam pertemuan gereja dan tidak dibahas dalam pertemuan gereja. Karena
gereja terdiri atas orang-orang yang dipanggil oleh Tuhan, bukan terdiri dari gedung. Dan
gereja bertindak sebagai badan berarti bahwa dalam gereja orang-orang Kristen dapat
bekerjasama untuk mencapai tujuan etis. Suara gereja sebagai badan lebih kuat daripada
suara orang-orang Kristen yang terpisah. Gereja tidak hanya bersuara demi kepentingan
orang-orang yang lemah. Tetapi gereja juga membantu dengan cara yang nyata berupa
uang, pendidikan, pembinaan, penguatan, dan sebagainya.

II. Analisa
Dalam pengambilan keputusan/penilaian etis, seseorang pasti dipengaruhi oleh lingkungan
yang didalamnya terdapat keluarga, teman, masyarakat, media massa, dan bahkan juga Gereja.
Kelompok melihat ini berdasarkan pemahaman Peschke bahwa Lingkungan Masyarakat dimana ia
hidup/tinggal memiliki faktor hakiki/peranan penting dalam proses pembentukan karakter dan
moral seseorang, termasuk cara orang bertindak yang mempengaruhi keyakinannya mengenai apa
yang baik dan yang jahat. Manusia sebagai makhluk individual, hidup di dalam sebuah komunitas
yang mempengaruhi pola pikir dan perilakunya. Kita senantiasa diperhadapkan dalam berbagai
situasi yang membuat kita harus memilih bagaimana kita harus bersikap dan berhubungan dengan
sesama.
Maka dari itu seseorang dituntut untuk Beradaptasi dengan mampu memilih dan memutuskan
manakah nilai-nilai yang baik/yang dapat dilakukan dan manakah yang tidak baik, dan tentu saja di
dalam terang Iman Kristiani (Etika Kristen). Etika Kristen adalah norma yang diterapkan yang
bersumber dari Alkitab dan dari situlah (setelah melewati tahapan-tahapan/proses) dapat diambil
suatu keputusan etis. Pada masa sekarang sangat banyak pengaruh kemajuan teknologi informasi
dan komunikasi yang mengubah tatanan kehidupan dalam masyarakat yang juga memengaruhi
generasi masa kini dan juga telah mempengaruhi komunitas gereja. Sehingga etika dan penerapan
iman Kristen tergantikan dengan akal atau intelektualitas manusia dalam menyelesaikan masalah.
Selain daripada itu, penting juga melihat bagaimana model suatu komunitas kekristenan yang
dapat mempengaruhi (atau setidaknya) mencerminkan komunitas Gereja (umat percaya). Kami
mengutip pandangan Stanly Hauerwas (yang juga sependapat dengan Peschke) yang memberikan
wawasan bagaimana keinginan Tuhan terhadap orang percaya.
It suggests that what God wants is for his people to worship him, to be his friends, and
to eat with him: in short, to be his companions. The Eucharist offers a model of this
companionship. Disciple gather and greet: are reconciled with God and one another;
hear and share their common story; offer their needs and resources; remember Jesus
and invoke his Spirit; and then share communion, before being sent out. Through
4
worship preparation, performance, repetition God gives his people the resources
they need to live in his presence.1
Komunitas orang percaya dibangun mencerminkan relasi antara Tuhan dengan manusia dan
manusia dengan manusia. Ketika manusia sudah ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus maka akan
membentuk persekutuan orang percaya yang diikat oleh kasih Tuhan. Maka worldview yang
dibangun di dalam komunitas orang percaya adalah berdasarkan Yesus Kristus dan Alkitab. Satu
konsep komunitas yang baik, yaitu komunitas bukan sekedar konsep namun manifestasi umat
Tuhan di dalam masyarakat yang mencerminkan penebusan Tuhan terhadap dunia dan karakter
umat Tuhan.2 Jika komunitas Kristen merefleksikan Kristus di segala aspek maka bukan tidak
mungkin memberikan satu dampak yang cukup besar.

III. Rencana Aksi


Perlunya suatu Pembinaan Warga Gereja di dalam komunitas tersebut yang mendaratkan
Karakter/Perilaku Hidup Kristiani yang sesuai dan berlandaskan Alkitab.

Sumber Bacaan:
Peschke, Karl-Heinz, Etika Kristiani Jilid I Pendasaran Teologi Moral, Maumere: Penerbit
Ledalero, 2003
Brownlee, Malcolm, Pengambilan Keputusan Etis dan Faktor-Faktor di Dalamnya, Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2006
Literature Tambahan:
Hauerwas, Stanley dan Samuel Wells (eds.), In The Blackwell Companion to Christian Ethics,
Victoria: Blackwell, 2004

1 Lih. Tulisan Stanley Hauerwas, The Gift of the Church and the Gifts God Gives it
dalam buku Stanley Hauerwas dan Samuel Wells (eds.) In The Blackwell Companion
to Christian Ethics ( Victoria: Blackwell, 2004), 13.

2 Richard B. Hays, The Moral Vision of the New Testament (New York: Harper San
Fransisco, 1996), 196.

5
Hays, Richard B., The Moral Vision of the New Testament, New York: Harper San Fransisco,
1996