Anda di halaman 1dari 12

KELUARGA TAK UTUH, BUKAN

AKHIR DARI SEGALANYA

ARTIKEL

OLEH:
KARINA DWI DAMAYANTI
NIS: 148667

SMA NEGERI 6 MALANG


PROGRAM ILMUPENGETAHUAN SOSIAL
FEBRUARI 2017
KELUARGA TAK UTUH, BUKAN AKHIR
DARI SEGALANYA

ARTIKEL

Diajukan kepada SMA Negeri 6 Malang untuk memenuhi salah satu


persyaratan dalam mengikuti ujian sekolah

OLEH
KARINA DWI DAMAYANTI
NIS: 148667

SMA NEGERI 6 MALANG

PROGRAM ILMUPENGETAHUAN SOSIAL

FEBRUARI 2017
Daftar Isi

Lembaran Persetujuan...................................................................................i

Kata Pengantar.............................................................................................ii

Daftar Isi.....................................................................................................iii

Bab 1 Pendahuluan......................................................................................1

Bab 2 Pembahasan.......................................................................................2

Faktor-faktor....................................................................................3

Dampak............................................................................................4

Cara mengatasi.................................................................................4

Bab 3 Penutup..............................................................................................6

Daftar Rujukan.............................................................................................7

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa


melimpahkan rahmat, taufiq, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul Keluarga tak utuh, bukan akhir
dari segalanya dengan tepat waktu.

. Dan harapan kami semoga artikel ini dapat menambah pengetahuan bagi
para pembaca. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan
ucapan terima kasih kepada:

1. Guru Pembimbing Drs. Ichsan Ghozali. M.Pd selaku pembimbing.


2. Teman-teman serta siswa-siswi SMAN 6 Malang.
3. Semua pihak yang mendukung dan membantu penyelesaian Karya Tulis
Ilmiah ini.

Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan artikel ini.

Malang, Februari 2016

Penulis

ii

Lembaran Persetujuan
Artikel berjudul Keluarga tak utuh, bukan akhir dari segalanya ini telah diperiksa
dan disetujui pada tanggal.......................................

Pembimbing

Drs. Ichsan Ghozali. M.Pd

NIP.19591115. 198403. 1.007

KELUARGA TAK UTUH BUKAN AKHIR DARI SEGALANYA


1. Pendahuluan

Broken home adalah kurangnya perhatian dari keluarga atau kurangnya


kasih sayang dari orang tua sehingga membuat mental seorang anak menjadi
frustasi, brutal dan susah diatur. Broken home dapat dilihat dari dua aspek yaitu
(1) keluarga itu terpecah karena strukturnya tidak utuh sebab orang tua bercerai,
(2) orang tua tidak bercerai akan tetapi struktur keluarga itu tidak utuh lagi karena
ayah atau ibu sering tidak di rumah, atau tidak memperlihatkan kasih sayang lagi.
Misalnya orang tua sering bertengkar sehingga keluarga itu tidak sehat secara
psikologis.

Istilah broken home biasanya digunakan untuk menggambarkan keluarga


yang berantakan akibat orang tua tidak lagi peduli dengan situasi dan keadaan
keluarga di rumah. Orang tua tidak lagi perhatian terhadap anak-anaknya, baik
masalah di rumah, sekolah, sampai pada perkembangan pergaulan anak-anaknya
di masyarakat.

2. Pembahasan
Broken home sangat berpengaruh besar pada mental seorang pelajar.
Karena keluarga yang sudah tidak utuh lagi, akan lahir anak-anak yang
mengalami krisis kepribadian sehingga perilakunya sering tidak sesuai. Mereka
mungkin mengalami beberapa masalah sebagai berikut:

- Masalah emosional:

Setelah bercerai, anak-anak dari pra-sekolah hingga akhir masa remaja


dapat mengalami defisit dalam perkembangan emosional. Anak-anak dari segala
usia mungkin merasakan kesedihan dan depresi, yang merupakan keadaan
emosional jangka panjang (dapat bertahan hingga beberapa tahun setelah
perceraian orangtua), jelas psikolog Lori Rappaport.

Selain itu, beberapa anak yang lebih tua mungkin menunjukkan reaksi
emosional yang sangat sedikit terhadap perpisahan orangtua mereka. Rappaport
menjelaskan bahwa hal ini bukanlah tahapan perkembangan yang baik untuk
anak. Beberapa anak yang menunjukkan sedikit respon emosional sebenarnya
memendam perasaan negatif mereka. Penekanan emosional ini justru dapat
membuat orangtua, guru, dan terapis kesulitan untuk membantu anak memproses
perasaannya dengan cara yang tepat.

- Masalah pendidikan:

Perkembangan akademik yang melambat adalah masalah lain pada anak


broken home yang umum dipengaruhi oleh perceraian orangtua. Stres secara
emosional saja sudah dapat menghambat kemajuan akademis anak Anda, tetapi
perubahan gaya hidup dan ketidakstabilan keluarga yang hancur dapat
berkontribusi pada hasil pendidikan yang buruk. Kemajuan akademik yang buruk
ini dapat berasal dari sejumlah faktor, termasuk ketidakstabilan di lingkungan
rumah, sumber daya keuangan yang tidak memadai, dan rutinitas yang tidak
konsisten.

- Masalah sosial
Perceraian mempengaruhi hubungan sosial anak untuk beberapa hal.
Akibat perceraian, beberapa anak melepaskan kegelisahan mereka dengan
bertindak agresif dan terlibat dalam perilaku bullying, yang keduanya merupakan
hal negatif dan dapat mempengaruhi hubungan teman sebaya mereka. Anak-anak
lain mungkin mengalami kecemasan, yang dapat membuat mereka sulit untuk
mencari interaksi sosial yang positif dan terlibat dalam kegiatan perkembangan
yang bermanfaat seperti olahraga. Remaja broken home mungkin
mengembangkan sikap sinis dan ketidakpercayaan terhadap hubungan, baik
terhadap orangtua dan pasangan potensial mereka, jelas psikolog Carl Pickhardt.

Adapun terjadinya broken home bisa dikarenakan beberapa faktor


penyebab sebagai berikut:

A. Faktor penyebab broken home:

1. Faktor internal

Orang tua yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri

Keadaan dimana orang tua sama-sama sibuk dengan pekerjaan setiap


harinya dapat memicu terjadi broken home apabila tidak diimbangi dengan
komunikasi antar anggota keluarga.

Orang tua tidak dewasa dalam berpikir

Selalu mengedepankan ego masing-masing dan selalu menganggap


pendapatnyalah yang paling benar.

Rumah tangga dengan landasan keimanan yang tidak kuat

Semua yang terjadi adalah sebuah cobaan. Tidak sedikit orang yang
depresi lalu melakukan hal-hal diluar dugaan karena tidak punya iman yang kuat.

Masalah keuangan dalam keluarga

3
Tidak bisa kita pungkiri keuangan dalam rumah tangga menjadi hal yang
sangat vital. Satu keluarga bisa bercerai berai hanya karena system keuangan yang
buruk, misal suami bekerja keras untuk nafkah keluarga sementara istri boros
dalam penggunaan atau penghasilan istri yang lebih tinggi dari suami.

2. Faktor eksternal

Hadirnya orang ketiga dalam pernikahan

Godaan pasangan yang sudah menikah biasanya adalah orang ketiga yang
hadir diantara mereka, bila tidak bisa menghindari masalah ini bisa berakibat
hilangnya kepercayaan karena ketidak setiaan pasangan.

Ada campur tangan orang lain dalam pernikahan

Misal ada kasus orang tua yang ikut ambil bagian dalam kehidupan rumah
tangga anaknya, setiap masalah yang ada bukannya mencari cara mendamaikan
keluarga yang bertengkar tetapi bertambah runyam karena ada pihak yang
terpojokkan.

2. Dampak Terjadinya Broken Home

Broken home bukan hanya terjadi pada keluarga yang bercerai saja tapi
juga bisa terjadi pada keluarga utuh tapi tidak bisa menemukan kecocokan satu
sama lain sehingga berujung pertengkaran. Imbas dari masalah ini pasti anak.
Anak yang berasal dari keluarga broken biasanya rentan terjerumus kedalam hal-
hal yang tidak baik seperti kekurangan kasih sayang, membenci orang tua, rentan
menderita gangguan psikis, permasalahan moral, mudah mendapat pengaruh
buruk lingkungan, tidak mudah bergaul, tidak berprestasi.

3. Cara Mengatasi Kelurga Yang Broken Home

-Berpikir positif

4
-Jangan terjebak dengan situasi dan kondisi

-Mencoba hal-hal baru

-Cari tempat untuk berbagi

-Perbanyak Ibadah

5
Kesimpulan:

Broken home bukanlah akhir dari segalanya bagi kehidupan kita. Jalan
kita masih panjang untuk menjalani hidup kita sendiri. Pergunakanlah situasi ini
sebagai sarana dan media pembelajaran guna menuju kedewasaan. Ingat, kita
tidak sendiri dan bukanlah orang yang gagal. Kita masih bisa berbuat banyak serta
melakukan hal positif. Menjadi manusia yang lebih baik belum tentu kita
dapatkan apabila ini semua tidak terjadi. Mungkin saja ini merupakan sebuah
jalan baru menuju pematangan sikap dan pola berpikir kita.

Saran

1. Jangan menatap masa lalu, berorientasilah ke masa depan. Masalah


perceraian bukan milik Anda, melainkan milik orang tuan Anda.

2. Tetap berhubungan baik dengan kedua orang tua, meskipun mereka telah
berpisah. Harus tetap menghomati keduanya dengan segala kondisi yang ada,
sekalipun mereka telah gagal dam menjalankan sebuah rumah tangga

3. Harus pandai dan selektif memilih teman atau lingkungan pergaulan. Jangan
terjebak pada hal-hal yang memperburuk kondisi Anda sebagai seorang anak
broken home.

6
Daftar Rujukan:

http://ariefrachamanhakim.blogspot.co.id/2015/11/pengertian-broken-home.html

https://rahayuismaio.wordpress.com/2011/12/12/faktor-faktor-penyebab-
terjadinya-broken-home/

http://cintalia.com/kehidupan/keluarga/penyebab-broken-home-dalam-keluarga