Anda di halaman 1dari 11

A.

Pengertian studi islam


Studi islam dikenal dengan islamic studies, secara sederhana dapat dikatakan
sebagai usaha untuk mempelajarai hal-hal yang berhubungan dengan agama islam.
Dengan perkataan lain usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memahami
serta membahas secara mendalam tentang seluk-beluk atau hal-hal yang berhubungan
dengan agama islam, baik berupa ajaran, sejarah maupun praktik-praktik
pelaksanaanya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, sepanjang sejarahnya.
Usaha mempelajari agama islam tersebut dilaksanakan bukan hanya dari
kalangan umat islam, namunj kalangan luar islam (kaum orientalis) juga mempelajari
studi islam. Umat islam mempelajarai studi islam bertujuan untuk memahami dan
mendalami serta membahas ajaran-ajaran islam agar mereka dapat melaksanakan dan
mengamalkannya dengan benar. Sedangkan kaum orientalis mempelajari studi islam
bertujuan untuk mempelajari seluk-beluk agama dan praktik-praktik keagamaan yang
berlaku di kalangan umat islam, yang semata-mata sebagai ilmu pengetahuan.
Kaum orientalis pada awalnya lebih mengarahkan dan menekankan pada
pengetahuan tentang kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan ajaran islam
dan praktik-praktik pengalaman ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari umat
islam,namun demikian pada masa akhir-akhir ini banyak juga di antara para orientalis
yang memberikan pandangan-pandangan yang objektif dan bersifat ilmiah terhadap
agama islam dan umatnya.

Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa pendekatan studi keislaman yang


mendominasi kalangan ulama islam lebih cenderung bersifat bersifat subjektif,
apologi dan doktriner serta menutup diri terhadap pendekatan yang dilakukan kaum
orientalis yang bersifat objektif dan rasional. Dengan pendekatan subjektif apologi
dan doktrin tersebut, ajaran agama islam yang bersumber dari al-quran dan hadits
yang pada dasarnya bersifat rasional dan adaptif terhadap tuntutan perkembangan
zaman telah berkembang menjadi ajaran-ajaran yang baku dan kaku serta tabu
terhadap sentuhan-sentuhan rasional, tuntutan perubahan dan perkembangan zaman.

B. Obyek kajian MSI


Obyek kajian metodologi studi islam adalah ajaran islam dari berbagai
aspeknya dan berbagai mazhab/alirannya. Ajaran islam ini tidaklah hanya sebatas
ibadah saja, akan tetapi meliputi berbagai aspek dalam ajaran islam termasuk
interaksi social kemasyarakatan. Semula umat islam menduga bahwa aspek atau
ajaran islam hanyalah salat, puasa, zakat haji dan dzikir. Padahal objek kajian msi,
ajaran islam melingkupi semua aspek yang terdapat dalam islam.

Pemetaan ajaran islam di bagi ke dalam beberapa kategori, antara lain 2


wilayah ajaran islam yang absolut-mutlak (sacral) dan nisby-zhanniy (profan). Islam
sebagai the origin text bersifat mutlak dan absolut, sedangkan islam yang berupa hasil
pemikiran dan praktek umat islam sehari-hari bersifat relative-temporal, berubah
sesuai dengan perubahan konteks zaman dan konteks social.

Dengan demikian yang menjadi obyek kajian metodologi studi islam adalah
semua hal yang membicarakan tentang islam, mulai dari level nash/teks (wahyu),
hasil pemikiran ulama hingga level praktek yang dilakukan masyarakat islam.
Nasution dalam khoiriyah menyebutkan bahwa objek kajian islam dibagi menjadi
beberapa aspek yaitu meliputi:

1. Sumber ajaran islam: al-quran dan hadis


2. Pemikiran dasar islam, yang meliputi kalam, filsafat dan tasawuf
3. Fikih dan pranata social
4. Sejarah kebudayaan islam
5. Dakwah
6. Pendidikan islam
7. Bahasa dan sastra arab
8. Pembaruan pemikiran dalam islam
C. Urgensi studi islam

Pada saat ini, ketika umat islam mengalami tantangan kehidupan dunia dan
budaya modern, studi islam menjadi sangat urgen. Urgensi islam tersebut dapat
diuraikan dan dipahami sebagai berikut.

1. Alternatif dalam mengatasi problem yang dihadapi umat islam.


Umat islam saat ini dalam kondisi problematis, yaitu dalam posisi
termaginalkan (pinggir) dan lemah dalam aspek kehidupan sosial budaya yang
harus berhadapan dengan kehidupan modern yang maju dan canggih. Dengan
demikian, umat islam harus melakukan gerakan pemikiran yang menghasilkan
konsep yang cemerlang dan operasional untuk mengantisipasi perkembangan
tersebut. Jika hanya berpegang pada ajaran islam dan penafsiran ulama islam
terdahulu yang merupakan warisan trurun temurun yang dianggap paling benar,
umat islam akan mengalami kemandekan intelektual. Oleh karaena itu, melalui
pendekatan yang bersifat objektif rasional, studi islam mampu memberikan
alternatif dari kondisi tersebut.
Probelm lainnya dalah pesatnya perkembangan IPTEK telah membuka era
baru dalam perkembangan budaya dan peradaban umat manusia yang dikenal
dengan era global. Pada era ini, jarak hubungan serta komunikasi antar bangsa
dan budaya umat manusia semakin dekat. Dalam suasana tersebut, umat manusia
membutuhkan aturan, nilai, norma serta pedoman dan pegangan hidup yang
universal yang semuanya dapat diperoleh dari agama, filsafat, ilmu pengetahuan
dan teknologi. Akan tetapi agama telah ditinggalkan oleh perkembangan filsafat,
ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan semua itu tidak dapat memberi
pedoman bagi umat manusia.
Harord H. Titus (1976) dan yang lainnya menjelaslkan situasi problematis
tersebut, bahwa filsafat telah mencapai kekuatan yang besar, tetapi tanpa
kebijaksanaan. Saat ini manusia mempunyai kemampuan yang sangat besar
untuk menguasai alam semesta, tetapi kemajuan yang sangat menakjubkan
tersebut justru membuat pikiran resah dan gelisah. Pengetahuan menjadi terpisah
dari nilai, dan kekuatan besar telah tercapai tanpa kebijaksanaan. Karena manusia
menggunakan perkembangan tersebut untuk maksud destruktif.

2. Meluruskan arah menuju masa depan.


Roger garaudi (1989) mengemukakan bahwa perkembangan filsafat dan
peradaban modern saat ini telah mendorong manusia pada hidup tanpa tujuan dan
membawa kematian. Hal ini merupakan akibat dari perkembangan filsafat barat
modern yang salah arah, yang berpegang pada hal-hal berikut.

a. Konsep yang keliru tentang alam, dengan menganggapnya sebagai milik


manusia, sehingga mereka berhak mengeksploitasinya sesuka mereka.
b. Konsep yang tidak mengenal belas kasih tentang hubungan manusia yang
didasarkan atas individualisme, tanpa kembali dan hanya menghasilkan
persaingan pasar.
c. Konsep yang menyebabkan rasa putus asa terhadap masa depan.
3. Menggali kembali ajaran islam yang asli dan murni serta bersifat manusiawi dan
universal
Di sinilah urgensi studi islam untuk menggali kembali ajaran islam yang asli dan
murni serta bersifat manusiawi dan universal, yang mempunyai daya untuk
mewujudkan dirinya sebagai rahmatan lil alamiin. Hal tersebut harus
ditransformasikan kepada generasi penerusnya agar dengan peradaban budaya
modern, mereka mampu berhadapan dan beradaptasi sepenuhnya.
D. Paradigm studi islam
Paradigma srtudi islama terbagai menjadi beberapa kelompok, antara lain.
1. Islam normatif

Islam normatif yaitu sebuah pendekatan yang lebih menekankan aspek


normatif dalam ajaran islam sebagaimana dalam Alquran dan Sunnah. Dalam
pandangan islam normatif, kemurnian islam dipandang secara tekstual
berdasarkan Alquran dan Hadist, selain itu dikatakan bidah. Kajian nislam
normatif islam, melahirkan tradisi teks, tafsir, teologi, fiqh, tasawuf, filsafat.

a. Tafsir, tradisi penjelasan dan pemaknaan kitab suci.


b. Teologi, tradisi tentang persoalan ketuhanan.
c. Fiqh, tradisi dalam oemikiran dalam bidang tata hukum.
d. Tasawuf, tradisi pemikiran dalam pendekatan diri kepada tuhan.
e. Filsafat, tradisi pemikirat dalam bidang hakikat kenyataan, kebenaran
dan kebaikan.
2. Islam historis

Dalam pemahan kajian islam historis, tidak ada konsep atau hukum islam
yang bersifat tetap, semua bisa berubah sesuai dengan kondisi. Kaum historis
memiliki pemahaman tentang hukum islam yang mana hukum islam itu adalah
produk dari pemikiran ulama yang muncul karena konstruk sosial tertentu. Dalam
kajian islam historis ditelkankan aspek relitivitas pemahaman keagamaan.

Pemahaman manusia terhadap ajaran agamanya adalah bersifat relatif dan


terkait dengan konteks budaya sosial tertentu. Kajian islam historis melahirkan tradisi
atau disiplin studi empiris, antropologi agama, sosiologi agama, psikologi agama dan
sebagainya.

a. Antropologi agama, disiplin yang mempelajari tingkah laku manusia


beragama dalam hubungannya dengan kebudayaan.
b. Sosiologi agama, disiplin yang mempelajari sistem relasi sosial masyarakat
dalam hubungannya dengan agama.
c. Psikologi agama, disiplin yang mempelajari aspek-aspek kejiwaan manusia
dalam hubungannya dengan agama.
E. Studi Islam di Dunia Islam
Studi Islam di Dunia Islam, pada dasarnya berbicara tentang studi Islam di
kalangan Muslimin sendiri. Pada Permulaan Islam pendidikan Islam dilakukan di
Masjid-masjid atau di rumah- rumah. Metode yang dipakai dalam fase ini adalah
hafalan. Pada permulaan islam perkembangan Ilmu Pengetahuan dibagi menjadi 3.
Pertama Gerakan Agama, menyangkut pembahasan tentang tafsir Quran, hadis, fiqh,
akhlaq. Kedua Gerakan tarikh, merupakan Gerakan untuk mengumpulkan data-data
sejarah, kisah dan riwayat hidup. Ketiga Gerakan Filsafat, merupakan gerakan dalam
bidang mantiq, kimia, kedokteran dan ilmu lain yang berhubungan. Gerakan filsafat
ini pada permulaan Islam tidak begitu meluas perkembangannya. Ilmu-ilmu dalam
bidang ini berasal dari bangsa-bangsa lain [Romawi, Persia, Qaldan dan lain-lain].
Pada akhirnya ketiga gerakan ini saling berhubungan dan saling
membutuhkan, ahli tafsir akan membutuhkan ahli sejarah untuk mengetahui
kehidupan nabi dalan menafsirkan hadis serta untuk mengetahui sebab turunnya ayat
begitu juga dengan ilmu lainnya. Pada awal perkembangan Islam ini ilmu
pengetahuan berpusat di Makkah, Madinah, Basrah dan Kaufah [Irak], Damaskus
[Syam], dan Fusthat [Mesir]. Satu hal yang penting pada masa ini untuk mengawali
studi tentang Islam yang intensif adalah dengan dibukukannya Al Quran pada masa
Khalifah Abu Bakar. Atas desakan Umar ibn Khattab maka Abu Bakar
memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk untuk membukukan Al Quran. Upaya ini
berlanjut sampai dengan kekhalifahan Usman bin Affan., yang kemudian terbentuk
musyaf Al Imam sejumlah 6 naskah yang ada di Kuffah. Basrah, Makkah, Syam,
Madinah dan 1 naskah ada pada Khalifah Usman sendiri.
Dalam ilmu tafsir, beberapa sahabat seperti Ali bin Abu Thalib, Abdullah ibn
Abbas, Abdullah ibn Masud dan Ubay bin Kaab menafsirkan Quran menurut apa
yang mereka dengar dari Rosullullah saw. Para sahabat inilah yang dianggab sebagai
pembina tafsir pertama dalam Islam, kemudian diikuti oleh tabiin seperti Said bin
Jubair.
F. Studi islam di dunia barat
Studi islam di negara-negara non islam juga diselenggarakan, antara
lain di India, Chicago, Los Angles, London dan Kanada. Di Aligarch
Univercity India, studi islam dibagi menjadi dua, yaitu islam sebagai
doktrin dikaji di Fakultas Ushuluddin yang mempunyai dua jurusan Madzab
Ahli Sunah dan Madzab Syiah. Sementara islam dari aspek sejarah dikaji
di Fakultas Humaniora dalam jurusan Islamic studies.
Di Jamiah Millia Islamia, New Delhi, Islamic Studi Program dikaji di
fakultas Humaniora yang membawahi juga Arabic Studies, Persian
Studies, Political Science.
Di Chicago, kajian islam diselenggarakan di Chicago University.
Secara organisatoris, studi islam berada dibawah Pusat Studi Timur
Tengah dan Jurusan Bahasa, dan Kebudayaan Timur Dekat. Di lembaga ini,
kajian ini lebih mengutamakan kajian tentang pemikiran islam, Bahasa
Arab, naskah-naskah klasik, dan bahasa-bahasa non-arab.
Di Amerika, studi islam pada umumnya mengutamakan studi
sejarah islam, bahasa islam selain bahasa arab, sastra dan ilmu-ilmu
sosial. Studi islam di Amerika dibawah naungan Pusat Studi Timur Tegah
dan Timur Dekat.
Di UCLA, studi islam dibagi menjadi beberapa komponen. Pertama,
doktrin dan sejarah islam, kedua: Bahasa Arab, ketiga: ilmu-ilmu sosial
sejarah dan sosiologi. Di London, studi islam digabungkan dalam school pf
oriental and african studies (fakultas strudi ketimuran dan Afrika) yang
memiliki berbagai jurusan bahasa dan kebudayaan di Asia dan Afrika
(Atang A. Hakim dkk., 2008).
Dengan demikian, objek studi islam dapat dikelompokkan menjadi
beberapa bagian, yaitu sumber islam, ritual dan institusi islam, sejarah
islam, aliran dan pemikiran tokoh, studi kawasan dan bahasa yang semua
itu telah menjadi objek pembelajaran di perguruan tinggi di Eropa.

G. Studi islam di Indonesia


Pendidikan agama di Indonesia di bagi menjadi 2 yaitu pendidikan agama di sekolah
umum dan lembaga-lembaga yang khusus menyelenggarakan pendidikan keagamaan.
Lembaga pendidikan islam di Indonesia terdiri atas lembaga pendidikan formal dan
nono formal. Lembaga-lembaga pendidikan islam formal mempunyai jenjang mulai
dari madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, madrasah aliyah, sampai perguruan
tinggi (STAIN, IAIN, UIN).
a. Pesantren
Pesantren atau pondok adalah lembaga yang bisa dikatakan merupakan wujud
proses wajar pekembangan system pendidikan. Dari segi historis, pesantren
tidak hanya identic dengan akna keislaman, tetapi juga mengandung makna
keaslian Indonesia. Zmakhsyari dalam koiriyah berpendapat bahwa lima
elemen dasar dari tradisi pesantren adalah, pondok, masjid, santri, pengajaran
kitab-kitab islam klasik dan kyai
b. Madrasah
Madrasah adalah sekolah agama, tempat di mana anak-anak didik
memperoleh pembelajaran hal-ihwal atau seluk-beluk agama dan keagamaan
(agama islam) (khoiriyah, 2013:27). Tingkatan madrasah meliputi MI, MTS
dan MA. Komponen mata pelajaran agama melipuri al-quran, hadis, fiqh,
akidah, akhlak, sejarah kebudayaan islam dan bahasa arab. Madrasah sebagai
lembaga pendidikan islam mempunyai misi penting yaitu mempersiapkan
generasi muda umat islam untuk ikut berperan bagi pembangunan umat dan
bangsa di masa depan.
c. Perguruan tinggi
Perguruan tinggi merupakan lembaga studi islam yang lebih komprehensif.
Perguruan tinggi islam seperti stain, iain, uin dapat dijadikan rujukan
pengembangan studi islam.

H. Model berpikir umum.


1. Rasional.
Secara etimologis menurut Bagus (2002), rasionalisme berasal dari kata bahasa
Inggris rationalims, dan menurut Edwards (1967) kata ini berakar dari bahasa Latin
ratio yang berarti akal, Lacey (2000) menambahkan bahwa berdasarkan akar
katanya rasionalisme adalah sebuah pandangan yang berpegang bahwa akal
merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran.
Kaum Rasionalisme mulai dengan sebuah pernyataan aksioma dasar yang dipakai
membangun sistem pemikirannya diturunkan dari ide yang menurut anggapannya
adalah jelas, tegas, dan pasti dalam pikiran manusia. Pikiran manusia mempunyai
kemampuan untuk mengetahui ide tersebut, namun manusia tidak menciptakannya,
tetapi mempelajari lewat pengalaman. Ide tersebut kiranya sudah ada di sana
sebagai bagian dari kenyataan dasar dan pikiran manusia.
Kaum rasionalis berdalil bahwa karena pikiran dapat memahami prinsip,
maka prinsip itu harus ada, artinya prinsip harus benar dan nyata. Jika prinsip itu
tidak ada, orang tidak mungkinkan dapat menggambarkannya. Prinsip dianggap
sebagai sesuatu yang a priori, dan karenanya prinsip tidak dikembangkan dari
pengalaman, bahkan sebaliknya pengalaman hanya dapat dimengerti bila ditinjau dari
prinsip tersebut. Dalam perkembangannya Rasionalisme diusung oleh banyak tokoh,
masing-masingnya dengan ajaran-ajaran yang khas, namun tetap dalam satu koridor
yang sama.
Pada abad ke-17 terdapat beberapa tokoh kenamaan rasionalis seperti Plato sebagai
pelopornya yang disebut juga sebagai rasionalisme atau platonisme , Ren
Descartes (1590 1650) yang juga dinyatakan sebagai bapak filsafat modern.
Semboyannya yang terkenal adalah cotigo ergo sum (saya bepikir, jadi saya ada).
Tokoh-tokoh lainnya adalah J.J. Roseau (1712 1778) dan Basedow (1723 1790),
Gottfried Wilhelm von Leibniz, Christian Wolff dan Baruch Spinoza. Perkembangan
pengetahuan mulai pesat pada abad ke 18 nama-nama seperti Voltaire, Diderot dan
DAlembert adalah para pengusungnya.
2. Empiris.
Empirisme secara etimologis menurut Bagus (2002) berasal dari kata bahasa
Inggris empiricism dan experience. Kata-kata ini berakar dari kata bahasa Yunani
(empeiria) dan dari kata experietia yang berarti berpengalaman
dalam,berkenalan dengan, terampil untuk. Sementara menurut Lacey (2000)
berdasarkan akar katanya Empirisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan
bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkan kepada pengalaman
yang menggunakan indera.
Selanjutnya secara terminologis terdapat beberapa definisi mengenai
empirisme, di antaranya: doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus dicari
dalam pengalaman, pandangan bahwa semua ide merupakan abstraksi yang dibentuk
dengan menggabungkan apa yang dialami, pengalaman inderawi adalah satu-satunya
sumber pengetahuan, dan bukan akal.
Berdasarkan Honer and Hunt (2003) aliran ini adalah tidak mungkin untuk
mencari pengetahuan mutlak dan mencakup semua segi, apalagi bila di dekat kita
terdapat kekuatan yang dapat dikuasai untuk meningkatkan pengetahuan manusia,
yang meskipun bersifat lebih lambat namun lebih dapat diandalkan. Kaum empiris
cukup puas dengan mengembangkan sebuah sistem pengetahuan yang mempunyai
peluang besar untuk benar, meskipun kepastian mutlak tidak akan pernah dapat
dijamin. Kaum empiris memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan manusia dapat
diperoleh lewat pengalaman. Jika kita sedang berusaha untuk meyakinkan seorang
empiris bahwa sesuatu itu ada, dia akan berkata tunjukkan hal itu kepada saya.
Dalam persoalan mengenai fakta maka dia harus diyakinkan oleh pengalamannya
sendiri. Tokoh yang dianggap sebagai benih dari empisisme adalah Aristoteles,
seperti juga pada rasionalisme, maka pada empirisme pun terdapat banyak tokoh
pendukungnya yang tidak kalah populernya. Tokoh-tokoh dimaksud di antarnya
adalah David Hume, John Locke dan Bishop Berkley.

3. Irrasional
Model berfikir irrasional beranggapan bahwa kebenaran dapat digapai melalui
perimbangan-pertimbangan emosional. Objek kajiannya adalah hal-hal yang abstrak,
dan mempunyai paradigma mistik atau ghaib. Adapun metodenya adalah latihan terus
menerus atau mengasah secara berulang-ulang. Adapun yang menjadi ukuran adalah
kepuasan hati. Karena itu, perbedaan ketiga pemikiran ini terletak padea paradigma,
metode dan ukuran.

I. Model berpikir kajian islam.


1. bayani

Model berfikir islam secara bayani adalah pendekatan dengan cara


menganalisis teks. Sumbernya adalah teks nash (al-quran dan sunnah) dan teks non
nash (karya ulama). Objek kajian dengan pendekatan ini adalah gramatika dan sastra
(nahwu dan blaghah), hokum dan teori hokum (fikih dan usul fiqh), filologi, teologi,
dan dalam beberapa kasus dibidang ilmu-ilmu al-quran dan hadist.
2. burhani
Model berfikir islam secara adalah, bahwa untuk mengukur benar atau
tidaknya sesuatu adalah dengan berdasarkan komponen kemampuan alamiah manusia
berupa pengalaman dan akal tanpa dasar teks wahyu suci, yang memunculkan
peripatik. Ilmu diperoleh sebagai hasil penelitian, hasil percobaan, hasil eksperimen,
baik dilaboratorium maupun dialam nyata, baik yang bersifat social maupun alam.
Untuk menyelesaikan problem-problem sosial dan dalam studi islam untuk
memadukan keduanya yaitu bayani dan burhani.
3. irfani
Model berfikir islami secara irfani adalah pendekatan yang bersumber pada
intuisi. Langkah-langkah penelitian irfaniah adalah takhliyah, tahliyah, dan tajliyah.
Tiga teknik penelitian irfaniah adalah riadah, tariqoh, dan ijazah.
Alasan mengapa ajaran islam perlu bagi kita penganut islam di Indonesia.
Dapat dipastikan bahwa sejak ada kehidupan manusia lebih dari satu orang, sudah
ada hokum yang mengatur kehidupan mereka, demikian juga sejalan dengan itu, pada
masyarakat yang paling tertinggal sekalipun pasti ada hokum yang mengatur
kehidupan mereka.
Hukum yang digunakan kelompok masyarakat tertinggal biasanya apa yang
dikenal dengan hokum adat (hokum yang mereka akui / sepakati bersama, tertulis
atau tidak tertulis). Terbentuknya hokum dimasyarakat ini adalah atas dasar
kesepakatan, lepas dari proses mencapai kesepakatannya demokratis atau tidak. Dari
fakta ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa hukum tertulis muncul setelah mengalami
perkembangan dari hokum tidak tertulis.
Dengan begitu sebelum adanya tradisi tulis menulis, hokum sudah ada, yang
disebut hokum tidak tertulis. Sejalan dengan adanya tradisitulis inilah munculnya
konsep hokum tertulis.