Anda di halaman 1dari 24

Case Report Session Rotasi II

Pneumonia pada Anak

Oleh :

Vita Marliana Lubis 1010313057

Preseptor :
dr. Eva Chundrayetti, Sp.A(K)

KEPANITERAAN KLINIK ROTASI II


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2017

0
BAB I
PENDAHULUAN

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang


sering terjadi pada anak. Kasus terbanyak terjadi di India (43 juta), China (21
juta) dan Pakistan (10juta) dan Bangladesh, Indonesia, Nigeria masing-masing
6 juta episode. Dari semua kasus yang terjadi di masyarakat, 7-13% kasus
berat dan memerlukan perawatan rumah sakit. Episode batuk-pilek pada Balita
di Indonesia diperkirakan 2-3 kali per tahun. ISPA merupakan salah satu
penyebab utama kunjungan pasien di Puskesmas (40%-60%) dan rumah sakit
(15%-30%).1
Pneumonia adalah penyebab mortalitas utama balita di dunia, lebih banyak
dibanding dengan gabungan penyakit AIDS, malaria dan campak. Di negara
berkembang 60% kasus pneumonia disebabkan oleh bakteri, menurut hasil
Riskesdas 2007 proporsi kematian Balita karena pneumonia menempati urutan
kedua (13,2%) setelah diare.1
Pneumonia berdasarkan keterlibatan anatomi paru pada anak terbagi
menjadi 3 (tiga), yaitu pneumonia lobaris, pneumonia lobularis
(bronkopneumonia), pneumonia interstisial (bronkiolitis). Tidak ada definisi
tunggal untuk pneumonia. Ini adalah penyakit klinis didefinisikan dalam hal
gejala dan tanda-tanda, dan tentu saja yang ditemukan. WHO mendefinisikan
pneumonia dalam hal penyakit demam dengan takipnea yang tidak ada penyebab
yang jelas.2

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi

1
Ada dua definisi klinis pneumonia:2
1. Bronkopneumonia yang merupakan penyakit demam dengan batuk,
gangguan pernapasan dengan bukti lokal atau umum infiltrat merata di
dada x ray
2. Lobar pneumonia yang mirip dengan bronkopneumonia kecuali bahwa
temuan fisik dan radiografi menunjukkan konsolidasi lobar.

2.2 Etiologi
Berbagai mikroorganisme dapat menyebabkan pneumonia, antara lain virus, jamur, dan
bakteri S. pneumonia merupakan penyebab tersering pneumonia bakterial pada
semua kelompok umur. Virus lebih sering ditemukan pada anak kurang dari 5 tahun.
Respiratory Syncytial Virus (RSV ) merupakan virus penyebab tersering pada anak
kurang dari 3 tahun. Pada umur yang lebih muda, adenovirus, parainfluenza virus, dan
influenza virus juga ditemukan. Mycoplasma pneumonia dan Chlamydia
pneumonia lebih sering ditemukan pada anak-anak, dan biasanya merupakan penyebab
tersering yang ditemukan pada anak lebih dari 10 tahun. Penelitian di Bandung menunjukkan
bahwa Streptococcus pneumonia dan Staphylococcus epidermidis merupakan
bakteri yang paling sering ditemukan pada apusan tenggorok pasien pneumonia umur 2-
59 bulan.3

2.3 Klasifikasi
Berdasarkan klinis dan epidemiologi
a) Pneumonia komuniti (community-acquired pneumonia)
b) Pneumonia nosokomial (hospital-acqiured pneumonia / nosocomial
pneumonia)
c) Pneumonia aspirasi
d) Pneumonia pada penderita Immunocompromised

Berdasarkan bakteri penyebab


a) Pneumonia bakterial / tipikal. Dapat terjadi pada semua usia. Beberapa
bakteri mempunyai tendensi menyerang sesorang yang peka, misalnya
Klebsiella pada penderita alkoholik, Staphyllococcus pada penderita pasca
infeksi influenza.

2
b) Pneumonia atipikal, disebabkan Mycoplasma, Legionella dan Chlamydia
c) Pneumonia virus
d) Pneumonia jamur sering merupakan infeksi sekunder. Predileksi terutama
pada penderita dengan daya tahan lemah (immunocompromised)
Berdasarkan predileksi infeksi
a) Pneumonia lobaris. Sering pada pneumania bakterial, jarang pada bayi dan
orang tua. Pneumonia yang terjadi pada satu lobus atau segmen
kemungkinan sekunder disebabkan oleh obstruksi bronkus misalnya : pada
aspirasi benda asing atau proses keganasan.
b) Bronkopneumonia. Ditandai dengan bercak-bercak infiltrat pada lapangan
paru. Dapat disebabkan oleh bakteria maupun virus. Sering pada bayi dan
orang tua. Jarang dihubungkan dengan obstruksi bronkus
c) Pneumonia interstisial

WHO merekomendasikan penggunaan peningkatan frekuensi napas dan


retraksi subkosta untuk mengklasifikasikan pneumonia di negara berkembang. Namun
demikian, kriteria tersebut mempunyai sensitivitas yang buruk untuk anak
malnutrisi dan sering overlapping dengan gejala malaria.5
Klasifikasi pneumonia (berdasarkan WHO):3
1) Bayi kurang dari 2 bulan
- Pneumonia berat : nafas cepat atau retraksi yang berat
- Pneumonia sangat berat : tidak mau menetek/minum, kejang, letargis,
demam atau hipotermia bradipnea atau pernafasan iregular.
2) Anak umur 2 bulan 5 tahun
- Pneumonia ringan : nafas cepat
- Pneumonia berat : retraksi
- Pneumonia sangat berat : tidak dapat minum/makan, kejang, letargis,
malnutrisi

2.4 Faktor Risiko


Beberapa faktor meningkatkan risiko kejadian dan derajat pneumonia, antara
lain defek anatomi bawaan, defisit imunologi, polusi, GER (gastroesophageal
reflux ), aspirasi, gizi buruk, berat badan lahir rendah, tidak mendapatkan air susu ibu

3
(ASI), imunisasi tidak lengkap, adanya saudara serumah yang menderita batuk, dan
kamar tidur yang terlalu padat penghuninya.3

2.5 Patogenesis
Umumnya mikroorganisme penyebab terhisap ke paru bagian perifer
melalui saluran respiratori. Mula-mula terjadi edema akibat reaksi jaringan yang
mempermudah profilerasi dan penyebaran kuman ke jaringan sekitarnya. Bagian
paru yang terkena mengalami konsolidasi, yaitu terjadi serbukan sel PMN, fibrin,
eritrosit, cairan edema, dan ditemukan bakteri di alveoli. Stadium ini disebut
stadium hepatisasi merah. Selanjutnya, deposisi fibrin semakin bertambah,
terdapat fibrin dan leukosit PMN di alveoli dan terjadi proses fagositosis yang
cepat. Stadium ini disebut stadium hepatisasi kelabu. Selanjutnya, fibrin menipis,
kuman dan debris menghilang. Stadium ini disebut stadium resolusi. Sistem
bronkopulmoner jaringan paru yang tidak terkena akan tetap normal.5

2.6 Manifestasi Klinis


Sebagian besar gambaran klinis pneumonia pada anak berkisar antara
ringan hingga sedang, sehingga dapat berobat jalan saja. Hanya sebagian kecil
yang berat, mengancam jiwa dan mungkin terdapat komplikasi sehingga
memerlukan perawatan di Rumah sakit.5
Beberapa faktor yang mempengaruhi gambaran klinis pneumonia pada
anak adalah imaturitas anatomik dan imunologik, mikroorganisme penyebab yang
luas, gejala klinis yang kadang-kadang tidak khas terutama pada bayi, terbatasnya
penggunaan prosedur diagnostik invasif, etiologi noninfeksi yang realtif sering,
dan faktor patogenesis. Disamping itu kelompok usia pada anak merupakan faktor
penting yang menyebabkan karakteristik penyakit berbeda-beda, sehingga perlu
dipertimbangkan dalam tatalaksana pneumonia.5
Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak tergantung pada berat-
ringannya infeksi, tetapi secara umum adalah sebagai berikut:5
- Gejala infeksi umum, yaitu demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan
nafsu makan, keluhan gastrointestinal seperti mual, muntah atau diare dan
terkadang ditemukan gejala infeksi ekstrapulmoner.

4
- Gejala gangguan respiratorik, yaitu batuk, sesak nafas, retraksi dada, takipnea,
nafas cuping hidung, air hunger, merintih dan sianosis`
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan pekak atau redup pada perkusi,
suara nafas melemah, dan ronki. Perlu diingat pada neonatus dan bayi kecil, gejala
dan tanda pneumonia umumnya lebih beragam dan tidak selalu terlihat jelas.

2.7 Diagnosis
Diagnosis etiologik berdasarkan pemeriksaan mikrobiologis dan/atau
serologis merupakan dasar terapi yang optimal. Akan tetapi, penemuan bakteri
penyebab tidak selalu mudah karena memerlukan laboratorium penunjang yang
memadai. Oleh karena itu pneumonia pada anak umumnya
didiagnosis berdasarkan gambaran klinis yang menunjukkan keterlibatan sistem
respiratorius serta gambaran radiologis. Prediktor paling kuat adanya pneumonia
adalah demam, sianosis disertai satu atau lebih gejala respiratori berupa: takipnea,
batuk, nafas cuping hidung, retraksi, ronki dan suara nafas melemah.3
Anamnesis
Pada buku pedoman pelayanan medis jilid 1, untuk mendiagnosis pasien
ditemukan keluhan berikut pada saat anamnesis :3
- Batuk yang awalnya kering, kemudian menjadi produktif dengan dahak
purulen bahkan bisa berdarah
- Sesak nafas
- Demam
- Kesulitan makan/minum
- Tampak lemah
- Serangan pertama atau berulang untuk membedakan dengan kondisi
imunokompromais
- Kelainan anatomi bronkus, atau asma

Pemeriksaan Fisik
- Penilaian keadaan umum anak, frekuensi napas, dan nadi harus dilakukan
pada saat awal pemeriksaan sebelum pemeriksaan lain yang dapat
menyebabkan anak gelisah atau rewel.

5
- Penilaian keadaan umum antara lain meliputi kesadaran dan kemampuan
makan/minum.
- Gejala distres pernapasan seperti takipnea, retraksi subkostal, batuk, krepitasi,
dan penurunan suara paru.
- Demam dan sianosis
- Anak di bawah 5 tahun mungkin tidak menunjukkan gejala pneumonia yang
klasik.
- Pada anak yang demam dan sakit akut, terdapat gejala nyeri yang
diproyeksikan ke abdomen.
- Pada bayi muda, terdapat gejala pernapasan tak teratur dan hypopnea.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Radiologi
- Pemeriksaan foto dada tidak direkomendasikan secara rutin pada anak
dengan infeksi saluran napas bawah akut ringan tanpa komplikasi.
- Pemeriksaan foto dada direkomendasikan pada penderita pneumonia yang
dirawat inap atau bila tanda klinis yang ditemukan membingungkan.
- Pemeriksaan foto dada follow up hanya dilakukan bila didapatkan
adanya kolaps lobus, kecurigaan terjadinya komplikasi, pneumonia berat,
gejala yang menetap atau memburuk, atau tidak respons terhadap
antibiotik.
- Pemeriksaan foto dada tidak dapat mengidentifikasi agen penyebab
Pemeriksaan Laboratorium
- Pemeriksaan jumlah leukosit dan hitung jenis leukosit perlu
dilakukan untuk membantu menentukan pemberian antibiotik
- Pemeriksaan kultur dan pewarnaan Gram sputum dengan kualitas
yang baik direkomendasikan dalam tata laksana anak dengan pneumonia
yang berat
- Kultur darah tidak direkomendasikan secara rutin pada pasien rawat
jalan, tetapi direkomendasikan pada pasien rawat inap dengan kondisi
berat dan pada setiap anak yang dicurigai menderita pneumonia bakterial
- Pada anak kurang dari 18 bulan, dilakukan pemeriksaan untuk mendeteksi
antigen virus dengan atau tanpa kultur virus jika fasilitas tersedia

6
- Jika ada efusi pleura, dilakukan pungsi cairan pleura dan dilakukan
pemeriksaan mikroskopis, kultur, serta deteksi antigen bakteri (jika
fasilitas tersedia) untuk penegakkan diagnosis dan menentukan mulainya
pemberian antibiotik.
- Pemeriksaan C-reactive protein (CRP), LED, dan pemeriksaan fase
akut lain tidak dapat membedakan infeksi viral dan bakterial dan tidak
direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin.
- Pemeriksaan uji tuberkulin selalu dipertimbangkan pada anak dengan
riwayat kontak dengan penderita TBC dewasa.

2.8 Penatalaksanaan
Beri antibiotik oral pilihan pertama (Kotrimoksazol) bila tersedia. Ini
dipilih sangat efektif, cara pemberiannya mudah dan murah. Antibiotik pilihan
kedua Amoksisilin (hanya diberikan apabila obat pilihan pertama tidak tersedia
atau apabila dengan pemberian obat pilihan pertama tidak.memberi hasil yang
baik).6
Untuk menentukan dosis antibiotik yang tepat : 6
- Antibiotik diberikan selama 3 hari dengan jumah pemberian 2 kali per hari
- Jangan memberikan antibiotik bila anak atau bayi memiliki riwayat anafilaksis
atau alergi sebelumnya terhadap jenis obat tersebut. Gunakan jenis antibiotik
lain. Kalau tidak mempunyai antibiotik yag lain maka rujuklah.

Tabel 1. Pemberian Antibiotika Oral6

7
Pada bayi berumur <2 bulan pemberian atibiotik oral merupakan tindakan
pra rujukan dan diberikan jika bayi masih bisa minum. Jika bayi tidak bisa minum
maka diberikan dengan injeksi intra muskular. 6

Pengobatan Demam
Demam sangat umum terjadi pada infeksi aluran pernapasan akut.
Penatalaksanaan demam tergantung dari apakah demam itu tinggi atau rendah.

Tabel 2. Pemberian Paracetamol6

Jika Demam Tidak Tinggi (<38,5oC)


Nasihati ibunya untuk memberi cairan lebih banyak. Tidak diperlukan
pemberian paracetamol. 6

Jika Demam Tinggi (>38,50)

8
Anak dengan demam tinggi bias diturunkan dengan paracetamol sehingga
anak akan merasa lebih enak dan makan leih banyak. Anak dengan pneumonia
akan lebih sulit bernapas bila mengalami demam tinggi. Beritahukan ibunya untuk
memberikan paracetamol tiap 6 jam dengan dosis yang sesuai sampai demam
mereda. Berikan paracetamol kepada ibu untuk 3 hari. 6
Beritahukan ibunya untuk anak yang demam berilah pakaian yang ringan.
Tak perlu dibungkus terlalu rapat atau pakaian yang berlapis, sebab justru akan
menyebabkan tidak enak dan menambah demam. 6
Demam itu sendiri bukan indikasi untuk pemberian antibiotika, kecuali
pada bayi kurang dari 2 bulan. Pada bayi kurang dari 2 bulan kalau ada demam
harus dirujuk; jangan berikan paracetamol untuk demamnya. 6

Tabel 3. Dosis Paracetamol6

Pengobatan Wheezing
Pada bayi berumur <2 bulan : wheezing merupakan tanda bahaya dan
harus dirujuk segera. 6 Pada kelompok umur 2 bulan - <5 bulan : penatalaksanaan
wheezing dengan bronkodilator tergantung dari apakah wheezing itu merupakan
episode pertama atau berulang. 6

9
Skema 1. Wheezing pada anak 2 bulan-<5 tahun6

Jika wheezing Episode Pertama


Sebelum memberikan bronkodilator carilah apakan ada tanda distress pernapasan.
Tanda distress pernapasan :
Anak tampak gelisah karena paru tidak mendapat udara yang cukup
Bila terjadi gangguan/kesulitan sewaktu makan dan bicara
Keadaan ini bias dikenali dengan mudah. Tetapi sebagian besar anak dengan
wheezing tidak disertai distress.6

10
Bila Anak Mengalami Distress Pernapasan :
Berilah bronkodilator kerja cepat (rapid acting) sehingga pernapasan anak
sudah membaik sebelum dirujuk. Kalau di Puskesmas tidak tersedia bronkodilator
kerja cepat, berilah satu dosis bronkodilator oral. 6
Rujuk segera untuk rawat inap

Bila Anak Tidak Mengalami Distress Pernapasan :


-
Berilah bronkodilator oral (sebaiknya salbutamol) dengan dosis yang tepat
untuk 3 hari dengan pemberian 3 kali sehari, dan ajarkan pada ibu bagaimana
cara pemberiannya
-
Rujuk segera
-
Berilah pengobatan sesuai tanda-tanda ain yang tampak (misalnya napas cepat
atau demam), atau mingkin cukup dengan perawatan di rumah. 6

Tabel 4. Salbutamol Oral6

Pengobatan Pra Rujukan


Untuk pemberian antibiotika oral pra rujukan untuk kelompok umur <2 bulan
ikutlah dosis pada table 5 sedangkan untuk kelompok umur 2 bulan - <5 bulan
lihatlah tabel 6.

Tabel 5. Antibiotik Oral Pra Rujukan Untuk Kelompok Umur < 2 Bulan6

11
Berikan suntikan antibiotika intramuscular bila kondisi anak/bayi tidak
memungkinkan untuk minum obat. Pemberian Antibiotika Untuk Rawat Inap6
Jelaskan kepada orang tua keadaan bayi yang sedang sakit berat. Minta
persetujuan orang tua (infirmed consent) untuk tindakan/pengobatan yang
akan dilakukan.
Jika anak masih bisa minum berikan amoksisilin 2 kali sehari dengan dosis
45mg/kgBB/kali selama 10 hari
Jika pasien tidak bias minum maka berikan antibiotic intra muscular selama 5
hari
Untuk kelompok umur 2 bulan 5 tahun beri ampicillin (50mg/kgBB/intra
muscular/intravena setiap 6 jam) dan Gentamicin (7,5mg/kgBB
intramuscular/intravena setiap 24 jam).
Untuk kelompok umur <2 bulan Ampicilin intramuscular/intravena
(100mg/kgBB/24 jam diberikan tiap 12 jam dan Gentamicin (2,5
mg/kgBB/intramuscular/intravena setiap 12 jam).
Bila anak memberikan respon yang baik maka lanjutan pemberian injeksi
selama 5 hari.
Jika di antara waktu tersebut telah memungkinkan untuk dirujuk, rujuk segera
Selanjutnya terapi bias dilanjutkan di rumah dengan amoksisilin oral (15
mg/kgBB tiga kali sehari) dan gentamicin IM sekali/hari selama 5 hari untuk
melengkapi keseluruhan pengobatan 10 hari.

Tabel 6. Antibiotik Intramuskular Untuk Kelompok Umur 2 bulan - <5 bulan

12
Beri dosis pertama Ampicillin kemudian Rujuk Segera

Tabel 7. Antibiotik Intramuskular Untuk Kelompok Umur <2 bulan

Pemberian Oksigen
Pada anak dengan pneumonia berat atau pneumonia sangat berat yang
dapat meninggal karena kekurangan oksigen sangat tepat untuk memberikan
oksigen. Pemberian oksigen dapat mempertahankan agar pasien tetap hidup
sehingga daya tahan tubuh dan antibiotic mendapatkan cukup waktu untuk
membunuh kuman penyebab penyakit.

13
Gambar 1. Nasal prong
Indikasi pengobatan oksigen :
- Sianosis sentral (kebiruan pada wajah di sekitar mulut dan hidung) merupakan
gejala klink yang terpenting sebagai tanda hipoksemia (kekurangan oksigen
dalam darah). Tetapi sianosis muncul lambat sehingga relative kurang sensitif.
- Tidak dapat minum
- Tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam yang kuat
- Frekuensi napas lebih dari 70 kali/menit pada anak 2 bulan - <5tahun
- Merintih/grunting pada bayi berumur <2 bulan
- Kegelisahan (yang membaik dengan pemberian oksigen)
Pemberian Oksigen
- Alat yang direkomendasikan untuk pemberian oksigen pada bayi/anal adalah
melalui selang hidung (nasal prong).
- Sesuaikan aliran oksigen dengan umur bayi/anak berdasarkan tabel dibawah
ini

Tabel 8. Pemberian Oksigen

Bayi berumur <2 bulan dengan pneumonia lebih mudah meninggal dibanding
bayi yang lebih tua sehingga pemberian oksigen secara tepat merupakan hal

14
penting. Jagalah sungguh-sungguh pada bayi premature untuk menghindari
pemberian oksigen terlalu banyak karena dapat mengakibatkan kebutaan.
Nutrisi
Pada anak dengan distres pernapasan berat, pemberian makanan per oral harus dihindari.
Makanan dapat diberikan lewat nasogastric tube (NGT) atau intravena. Tetapi harus diingat
bahwa pemasangan NGT dapat menekan pernapasan, khususnya pada bayi/anak dengan
ukuran lubang hidung kecil. Jika memang dibutuhkan, sebaiknya menggunakan ukuran yang
terkecil. Perlu dilakukan pemantauan balans cairan ketat agar anak tidak mengalami
overhidrasi -karena pada pneumonia berat terjadi peningkatan sekresi hormon antidiuretik.3
Kriteria pulang
Gejala dan tanda pneumonia menghilang, asupan per oral adekuat, pemberian
antibiotik dapat diteruskan di rumah (per oral). Keluarga mengerti dan setuju untuk
pemberian terapi dan rencana kontrol-Kondisi rumah memungkinkan untuk perawatan lanjutan
di rumah.3

BAB III

LAPORAN KASUS

STATUS PASIEN

1. Identitas Pasien

a. Nama/ Kelamin/ Umur : By.K/ Perempuan / 5 bulan

b. Pekerjaan/Pendidikan :-/-

c. Alamat : Jl. Jamal Jamil No 7 Siteba

2. Latar Belakang Sosio-Ekonomi-Demografi-Lingkungan Keluarga

a. Status Perkawinan : Belum menikah

b. Jumlah Anak/Saudara : 5 bersaudara

c. Status Ekonomi Keluarga : kurang mampu, pekerjaan orangtua kuli

bangunan dengan penghasilan Rp 1.500.000,00/

bulan

15
d. KB : Ada

e. Kondisi Rumah :

- Rumah permanen dengan pekarangan sempit, terdiri dari 2 kamar tidur,

1 kamar mandi dan 1 dapur dengan lantai semen.Ventilasi kurang,

setiap kamar memiliki ventilasi pencahayaan yang kurang, banyak

pakaian yang digantung, Listrik ada.


- Sumber air dari sumur, sumber air minum air galon.
- Ayah pasien merokok didalam rumah
- Sampah di buang di TPS.
Kesan: higiene dan sanitasi rumah tidak baik.

f. Kondisi Lingkungan Keluarga :

- Pasien tinggal bersama ayah, ibu, empat kakak.


- Pasien tinggal di lingkungan yang cukup padat.

3. Aspek Psikologis di Keluarga

- Hubungan pasien dengan keluarga baik.


4. Riwayat Penyakit Sekarang
Keluhan Utama: batuk sejak 2 hari yang lalu

Demam sejak 2 hari yang lalu, tidak tinggi, tidak terus menerus, tidak

menggigil, dan tidak disertai kejang

Batuk sejak 2 hari yang lalu, batuk berdahak, pilek jernih

Sesak nafas sejak 1 hari yang lalu, tidak berbunyi menciut, tidak

dipengaruhi oleh makanan, cuaca dan aktivitas dan terlihat gelisah.

Anak saat ini mendapatkan ASI saja

Riwayat tersedak sebelumnya disangkal

Riwayat atopi atau biring susus tidak ada

Riwayat kontak dengan penderita batuk-batuk lama tidak ada

Riwayat kontak dengan unggas mati mendadak tidak ada

16
BAK jumlah dan warna biasa

BAB warna dan konsistensi biasa

Pasien belum pernah berobat sebelumnya.

5. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat menderita penyakit seperti ini sebelumnya tidak ada.
Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini.

6. Riwayat Penyakit Keluarga/ Atopi/ Alergi :


Pasien dan keluarga tidak ada riwayat bersin bersin di pagi hari dan

bersin bersin bila terpapar debu.


Pasien dan keluarga tidak ada riwayat nafas menciut.
Pasien dan keluarga tidak ada riwayat alergi makanan sebelumnya.
Pasien dan keluarga tidak ada riwayat alergi obat sebelumnya.
Pasien dan keluarga tidak ada riwayat alergi serbuk bunga.
Pasien dan keluarga tidak ada riwayat mata merah berair.
Pasien dan keluarga tidak ada riwayat hidung berair.
Pasien dan keluarga tidak ada yang menderita galigato.
7. Riwayat Kehamilan/Kelahiran/Imunisasi :
Selama hamil ibu tidak pernah menderita penyakit berat, ibu tidak pernah

mengonsumsi obat obatan, tidak pernah mendapat penyinaran selama

hamil, tidak ada kebiasaan merokok dan minum alkohol, kontrol ke

puskesmas tidak teratur. Suntikan imunisasi TT 2x, hamil cukup bulan.


Riwayat Kelahiran :
Lahir spontan ditolong oleh dokter, cukup bulan, langsung menangis kuat,

berat badan lahir 3300 gram, panjang badan 49 cm.


Riwayat Makanan dan Minuman :
Bayi : ASI eksklusif : sejak lahir - sekarang
Riwayat Imunisasi :
BCG : 1x , usia 2 bulan, scar ada
DPT : 3x, usia 2,3,4 bulan
Polio : 3x, usia 2,3,4 bulan
Hepatitis B : 3x, usia 2,3,4 bulan
Campak :-
Kesan : Imunisasi dasar sesuai umur di posyandu.
Riwayat Tumbuh Kembang :
Perkembangan Fisik
Tengkurap : 4 bulan
Duduk :-

17
Berdiri :-
Berjalan :-

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : sakit sedang
Kesadaran : sadar
Frekuensi nadi : 89 x / menit
Frekuensi nafas : 60 x / menit
Suhu : 39,3 C
Berat badan : 8,2 kg
Tinggi badan : 67 cm
Statu gizi : baik

PEMERIKSAAN SISTEMIK
Kulit : Teraba hangat, turgor baik , sianosis (-), ikterik (-), pucat (-)
Kepala : Bentuk simetris, rambut hitam, tidak mudah dicabut, ubun-ubun tidak

cekung.
Mata : konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik
Telinga : Tidak ada kelainan
Hidung : Nafas cuping hidung (-)
Mulut : Mulut tidak kering, sianosis (-)
Thorak
Paru Inspeksi : normochest, retraksi dinding dada (-)
Palpasi : fremitus sukar dinilai
Perkusi : sonor kiri = kanan
Auskultasi : bronkovesikuler, rhonki +/+, wheezing -/-
Jantung Inspeksi : iktus tidak terlihat
Palpasi : iktus terapa pada LMCS RIC V
Perkusi : batas jantung sukar dinilai
Auskultasi : irama teratur, bising tidak ada.
Abdomen
Inspeksi : perut tidak membuncit, distensi tidak ada
Palpasi : hepar teraba 1/3 , lien tidak teraba.
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus (+) normal
Alat kelamin : tidak ada kelainan
Extremitas : akral teraba hangat, refilling kapiler baik.

8. Laboratorium Anjuran
- Darah rutin
- Foto torak
9. Diagnosis Kerja
Bronkopneumonia
10. Diagnosis Banding
Bronkiolitis
11. Manajemen
a. Preventif
- Hindari faktor paparan asap rokok, debu, dan polusi udara.

- Menghindarkan bayi/anak dari kontak dengan penderita ISPA.

18
- Menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

- Melanjutkan pemberian ASI.

- Menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh.

b. Promotif

- Memberi edukasi kepada keluarga tentang penyakit, penatalaksanaan

penyakit dan komplikasi.

- Edukasi kepada keluarga agar tidak merokok di dekat pasien maupun

didalam rumah.

- Edukasi pada keluarga bahwa ventilasi dirumah kurang dan jendela harus

dibuka sehingga pertukaran udara baik

c. Kuratif

Umum:
- Istirahat cukup
- Minum obat sesuai anjuran
Khusus:
- Kotrimoksazol syr 2 x cth 1 (PO)
- Paracetamol 100 mg 3 x 1 tablet (PO)
- Ambroxol 3 x 4 mg (PO)

d. Rehabilitatif
- Bila gejala semakin berat (sesak nafas hebat, ada tarikan dinding dada saat

bernafas) segera bawa Pelayanan Kesehatan ke Puskesmas atau RS.


12. Prognosis

Quo ad Vitam : Bonam

Quo ad Functionam : Bonam

Quo ad Sanam : Bonam

19
20
Dinas Kesehatan Kota Padang

Puskesmas Nanggalo

Dokter : Vita Marliana Lubis

SIP No: 1010313057/2016/80

Padang, 23 Desember 2016

R/ kotrimoksazol syr fls No. I

S. 2 dd Cth 1

R/ Paracetamol Tab 100 mg No. X

S 3 dd tab 1

R/ ambroxol 4 mg

mf.pulv.dtd. No. X

S. 3 dd pulv 1

Pro : By. K
21
Umur : 5 Bulan

Alamat: jl. Jamal Jamil Siteba


DAFTAR PUSTAKA

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pengendalian Infeksi


Saluran Pernapasan Akut. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan. Jakarta, 2012. hal.1-2
2. Omar A, Zainudin NM, et al. Clinical Practice Guidelines on Pneumonia and
Respiratory Tract Infections in Children. Kuala Lumpur, 2010
3. Pudjiadi AH, Hegar B. Pedoman Pelayanan Medis, Ikatan Dokter Anak
Indonesia. Ed.1. dalam : Setyanto DB; Pneumonia: Badan Penerbit Ikatan
Dokter Anak Indonesia. Jakarta, 2009. hal 250-55.
4. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pneumonia Komuniti: Pedoman
Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;
2003.
5. Rahajoe N, Supriyanto B. Buku Ajar Respirologi Anak. Ed 1. Dalam : Said M;
Pneumonia. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta, 2010. hal 350-365
6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Modul tatalaksana standar
pneumonia. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan. Jakarta, 2012. hal. 31-42

22
23