Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

HIV

Disusun untuk Memenuhi Tugas Laporan Akhir Profesi Ners Departemen


Medikal
Di Ruang 23 Infeksi RSUD dr. Saiful Anwar Malang

Disusun Oleh:
OKI NUR FITRIANA
150070300011072

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
HIV
DI RUANG 23 INFEKSI

Oleh :
Oki Nur Fitriana
NIM. 150070300011072

Telah diperiksa dan disetujui pada :


Hari :
Tanggal :

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

NIP. NIP.

1. Definisi HIV
AIDS (Acquired Immune Deficiency Sindrome) adalah sekumpulan gejala
penyakit karena menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi HIV.
Dalam bahasa indonesia dapat dikatakan sebagai sindrom cacat kekebalan tubuh
dapatan.
Acquired: Didapat, bukan penyakit keturunan
Immune: Sistem kekebalan tubuh
Deficiency: Kekurangan
Syndrome: Kumpulan gejala-gejala penyakit
AIDS adalah kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human
Immunodeficiency Virus) yang mengakibatkan rusaknya/menurunnya sistem kekebalan
tubuh terhadap berbagai penyakit. Apabila HIV ini masuk ke dalam peredaran darah
seseorang, maka HIV tersebut menyerap sel-sel darah putih. Sel-sel darah putih ini
adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh yang berfungsi melindungi tubuh dari
serangan penyakit. HIV secara berangsur-angsur merusak sel darah putih hingga tidak
bisa berfungsi dengan baik.
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sebuah retrovirus yang
menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia terutama CD4+ T cell. HIV terdapat di
dalam cairan tubuh seseorang yang telah terinfeksi seperti di dalam darah, air mani atau
cairan vagina. Sebelum HIV berubah menjadi AIDS, penderitanya akan tampak sehat
dalam waktu kira-kira 5 sampai 10 tahun. Walaupun tampak sehat, mereka dapat
menularkan HIV pada orang lain melalui hubungan seks yang tidak aman, tranfusi darah
atau pemakaian jarum suntik secara bergantian.
Centers for Disease Control (CDC) merekomendasikan bahwa diagnosa AIDS
ditujukan pada orang yang mengalami infeksi opportunistik, dimana orang tersebut
mengalami penurunan sistem imun yang mendasar (sel T < 200) dan memiliki antibodi
positif terhadap HIV. Kondisi lain yang sering digambarkan meliputi kondisi demensia
progresif, wasting syndrome, atau sarkoma kaposi (pada pasien berusia > 60 tahun),
kanker-kanker khusus lainnya (yaitu kanker serviks invasif) atau diseminasi dari penyakit
yang umumnya mengalami lokalisasi (misalnya, TB).

2. Klasifikasi HIV
Menurut WHO, stadium klinis HIV/AIDS dibedakan menjadi 4 stadium yaitu :
a. Stadium 1 : Periode Jendela
HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuknya antibodi terhadap HIV dalam darah
Tidak ada tanda2 khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
Test HIV belum dapat mendeteksi keberadaan virus ini
Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 1-6 bulan.
b. Stadium 2 : HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun:
HIV berkembang biak dalam tubuh
Tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang, karena telah terbentuk
antibodi terhadap HIV
Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan tubuhnya
(rata-rata 8 tahun (di negara berkembang lebih pendek).
c. Stadium 3 : HIV Positif (muncul gejala)
Sistem kekebalan tubuh semakin turun
Mulai muncul gejala infeksi opportunistik, misalnya: pembengkakan kelenjar limfa di
seluruh tubuh, diare terus menerus, flu, dll
Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan, tergantung daya tahan tubuhnya

d. Stadium 4 : AIDS
Kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah
Berbagai penyakit lain (infeksi opportunistik) semakin parah
Wasting (kehilangan berat badan secara drastis)
Diare kronis.

Kelas Kriteria
Stadium Klinis 1 -asimtomatik
Asimtomatik.Total -limfadenopati generalisata persisten
CD4>500
Stadium klinis II.Sakit -Penurunan berat badan 10%
ringan.Total CD4:200- -ISPA berulang (sinusitis,tonsillitis,otitis media dan
499 faringitis)
-herpes zoster
-Kelitis angularis
Stadium klinis III (sakit -penurunan berat badan >10%
sedang) -Diare kronis >1 bulan
-Kandidiasis oral
-TB paru
-limfadenopathy generalisata persisten
Stadium klinis IV.Sakit -HIV wasting syndrome
berat (AIDS).Total CD4 -Pneumonia
<200 -Herpes simpleks > 1 bulan
-Kandidiasis esophagus
-Sarkoma Kaposi
-Toksoplasmosis
-Ensefalopathy HIV
-Meningitis kriptokus
-Mikosis profunda
-Limfoma
-Karsinoma
-isoprosiasis kronis
-Neropathy dan kardiomegalu terkait HIV

3. Etiologi HIV
Penyebabnya adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency
virus (HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai retrovirus dan disebut
HIV-1. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2.
HIV-2 dianggap sebagai virus kurang pathogen dibandingkaan dengan HIV-1. Maka
untuk memudahkan keduanya disebut HIV.
AIDS dapat menyerang semua golongan umur, termasuk bayi, pria maupun wanita.
Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah :
a. Lelaki homoseksual atau biseks.
b. Partner seks dari penderita HIV/AIDS.
c. Penerima darah atau produk darah (transfusi) yang tercemar HIV.
d. Penggunaan jarum suntik, tindik, tattoo, pisau cukur, dll yang dapat menimbulkan
luka yang tidak disterilkan secara bersama-sama dipergunakan dan sebelumnya
telah dipakai orang yang terinfeksi HIV. Cara-cara tersebut dapat menularkan HIV
karena terjadi kontak darah.
e. Ibu positif HIV kepada bayi yang dikandungnya. Cara penularan ini dapat terjadi
saat:
1) Antenatal, yaitu melalui plasenta selama bayi dalam kandungan.
2) Intranatal, yaitu saat proses persalinan, dimana bayi terpapar oleh darah ibu
atau cairan vagina
3) Postnatal, yaitu melalui air susu ibu.

4. Patofisologi HIV
a. Struktur Genomik HIV
Acquired immune defficiency syndrome (AIDS) dapat diartikan sebagai
kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh
akibat infeksi oleh virus HIV (Human Immmunodeficiency Virus) yang termasuk famili
retroviridae, AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV (Djoerban, 2007). HIV
adalah retrovirus, anggota genus Lentivirus, dan menunjukkan banyak gambaran
fisikomia yang merupakan ciri khas famili. Genom RNA lentivirus lebih kompleks
daripada genom RNA Retrovirus yang bertransformasi. Virus mengandung tiga gen
yang dibutuhkan untuk replikasi retrovirus gag, pol, dan env (Brooks, 2004).
b. Patogenesis HIV
Awalnya terjadi perlekatan antara gp120 dan reseptor sel CD4, yang memicu
perubahan konformasi pada gp120 sehingga memungkinkan pengikatan dengan
koreseptor kemokin (biasanya CCR5 atau CXCR4). Setelah itu terjadi penyatuan pori
yang dimediasi oleh gp41 Setelah berada di dalam sel CD4, salinan DNA ditranskripsi
dari genom RNA oleh enzim reverse transcriptase (RT) yang dibawa oleh virus. Ini
merupakan proses yang sangar berpotensi mengalami kesalahan. Selanjutnya DNA ini
ditranspor ke dalam nukleus dan terintegrasi secara acak di dalam genom sel pejamu.
Virus yang terintegrasi diketahui sebagai DNA provirus. Pada aktivasi sel pejamu, RNA
ditranskripsi dari cetakan DNA ini dan selanjutnya di translasi menyebabkan produksi
protein virus. Poliprotein prekursor dipecah oleh protease virus menjadi enzim
(misalnya reverse transcriptase dan protease) dan protein struktural. Hasil pecahan ini
kemudian digunakan untuk menghasilkan partikel virus infeksius yang keluar dari
permukaan sel dan bersatu dengan membran sel pejamu. Virus infeksius baru (virion)
selanjutnya dapat menginfeksi sel yang belum terinfeksi dan mengulang proses
tersebut. Terdapat tiga grup (hampir semua infeksi adalah grup M) dan subtipe (grup B
domina di Eropa) untuk HIV-1.

c. Siklus Hidup HIV dan Internalisasi HIV ke sel target


HIV merupakan retrovirus obligat intraselular dengan replikasi sepenuhnya di
dalam sel host. Perjalanan infeksi HIV di dalam tubuh manusia diawali dari interaksi
gp120 pada selubung HIV berikatan dengan reseptor spesifik CD4 yang terdapat pada
permukaan membran sel target (kebanyakan limfosit T-CD4+. Sel target utama adalah
sel yang mempu mengekspresikan reseptor CD4 (astrosit, mikroglia, monosit-
makrofag,limfosit,Langerhans,dendritik).

d. Patofisiologi HIV
Karena peran penting sel T dalam menyalakan semua kekuatan limfosit dan
makrofag, sel T penolong dapat dianggap sebagai tombol utama sistem imun. Virus
AIDS secara selektif menginvasi sel T penolong, menghancurkan atau melumpuhkan
sel-sel yang biasanya megatur sebagian besar respon imun. Virus ini juga menyerang
makrofag, yang semakin melumpuhkan sistem imun, dan kadang-kadang juga masuk
ke sel-sel otak, sehingga timbul demensia (gangguan kapasitas intelektual yang
parah) yang dijumpai pada sebagian pasien AIDS.
Dalam tubuh ODHA, partikel virus bergabung dengan DNA sel pasien, sehingga
satu kali seseorang terinfeksi HIV, seumur hidup ia akan tetap terinfeksi. Dari semua
orang yang terinfeksi HIV, sebagian berkembang masuk tahap AIDS pada tahun
pertama, 50% berkembang menjadi AIDS sesudah 10 tahun, dan sesudah 13 tahun
hampir semua orang yang terinfeksi HIV menunjukkan gejala AIDS, dan kemudian
meninggal. Gejala yang terjadi adalah demam, nyeri menelan, pembengkakan kelenjar
getah bening, ruam, diare, atau batuk. Setelah infeksi akut, dimulailah infeksi HIV
asimptomatik (tanpa gejala). Masa tanpa gejala ini umumnya berlangsung selama 8-
10 tahun.

Gambar waktu CD4 T-cell dan perubahan perkembangan virus


berkesinambungan pada infeksi HIV yang tidak diterapi.

Pada waktu orang dengan infeksi HIV masih merasa sehat, klinis tidak
menunjukkan gejala, pada waktu itu terjadi replikasi HIV yang tinggi, 10 partikel setiap
hari. Bersamaan dengan replikasi HIV, terjadi kehancuran limfosit CD4 yang tinggi,
untungnya tubuh masih bisa mengkompensasi dengan memproduksi limfosit CD4
sekitar 109 setiap hari.

e. Transmisi Infeksi HIV


1) Transmisi melalui kontak seksual
Kontak seksual merupakan salah satu cara utama transmisi HIV di berbagai
belahan dunia. Virus ini dapat ditemukan dalam cairan semen, cairan vagian,
cairan serviks. Transmisi infeksi HIV melalui hubungan seksual lewat anus lebih
mudah karena hanya terdapat membran mukosa rektum yang tipis dan mudah
robek, anus sering terjadi lesi.
2) Transmisi melalui darah atau produk darah
Transmisi dapat melalui hubungan seksual (terutama homseksual) dan dari
suntikan darah yang terinfeksi atau produk darah (Asj, 2002). Diperkirakan
bahwa 90 sampai 100% orang yang mendapat transfusi darah yang tercemar
HIVakan mengalami infeksi. Suatu penelitian di Amerika Serikat melaporkan risiko
infeksi HIV-1 melaluI transfusi darah dari donor yang terinfeksi HIV berkisar antara
1 per 750.000 hingga 1 per 835.000 (Nasronudin, 2007). Pemeriksaan antibodi
HIV pada donor darah sangat mengurangi transmisi melalui transfusi darah dan
produk darah (contoh, konsentrasi faktor VIII yang digunakan untuk perawatan
hemofIlia) (Lange, 2001)
3) Transmisi secara vertikal
Transmisi secara vertikal dapat terjadi dari ibu yang terinfeksi HIV kepada
janinnya sewaktu hamil , persalinan, dan setelah melahirkan melalui pemberian
Air Susu Ibu (ASI). Angka penularan selama kehamilan sekitar 5-10%, sewaktu
persalinan 10-20%, dan saat pemberian ASI 10-20% (Nasronudin, 2007). Di
mana alternatif yang layak tersedia, ibu-ibu positif HIV-1 tidak boleh menyusui
bayinya karena ia dapaT menambah penularan perinatal (Parks, 1996). Selama
beberapa tahun terakhir, ditemukan bahwa penularan HIV perinatal dapat
dikaitkan lebih akurat dengan pengukuran jumlah RNA-virus di dalam plasma.
Penularan vertikal lebih sering terjadi pada kelahiran preterm, terutama yang
berkaitan dengan ketuban pecah dini (Cunningham, 2004).
4) Potensi transmisi melalui cairan tubuh lain
Walaupun air liur pernah ditemukan dalam air liur pada sebagian kecil orang yang
terinfeksi, tidak ada bukti yang menyakinkan bahwa air liur dapat menularkan
infeksi HIV baik melalui ciuman biasa maupun paparan lain misalnya sewaktu
bekerja bagi petugas kesehatan. Selain itu, air liur dibuktikan mengandung
inhibitor terhadap aktivitas HIV. Demikian juga belum ada bukti bahwa cairan
tubuh lain misalnya air mata, keringat dan urin dapat merupakan media transmisi
HIV (Nasronudin, 2007).
5) Transmisi pada petugas kesehatan dan petugas laboratorium
Berbagai penelitian multi institusi menyatakan bahwa risiko penularan HIV setelah
kulit tertusuk jarum atau benda tajam lainnya yang tercemar oleh darah seseorang
yang terinfeksi HIV adalah sekitar 0,3% sedangkan risiko penularan HIV ke
membran mukosa atau kulit yang mengalami erosi adalah sekitara 0,09%.
.
5. Manifestasi Klinis HIV
Ditinjau dari stadium perkembangan virus, manifestasi klinis HIV dibagi menjadi
empat fase, yaitu:
a. Fase I: Periode Jendela
Individu sudah terpapar dan terinfeksi. Tetapi ciri-ciri terinfeksi belum terlihat meskipun
ia melakukan tes darah. Pada fase ini antibodi terhadap HIV belum terbentuk. Fase ini
akan berlangsung sekitar 1-6 bulan dari waktu individu terpapar.
b. Fase II: HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun
Berlangsung lebih lama, yaitu sekitar 2-10 tahun setelah terinfeksi HIV. Pada fase
kedua ini individu sudah positif HIV dan belum menampakkan gejala sakit, tetapi
sudah dapat menularkan pada orang lain.
c. Fase III: HIV Positif (muncul gejala)
Mulai muncul gejala-gejala awal penyakit yang disebut dengan penyakit terkait dengan
HIV. Tahap ini belum dapat disebut sebagai gejala AIDS. Gejala-gejala yang berkaitan
antara lain keringat yang berlebihan pada waktu malam, diare terus menerus,
pembengkakan kelenjar getah bening, flu yang tidak sembuh-sembuh, nafsu makan
berkurang dan badan menjadi lemah, serta berat badan terus berkurang. Pada fase
ketiga ini sistem kekebalan tubuh mulai berkurang.
d. Fase IV: AIDS
AIDS baru dapat terdiagnosa setelah kekebalan tubuh sangat berkurang dilihat dari
jumlah sel-T nya. Timbul penyakit tertentu yang disebut dengan infeksi opportunistik
yaitu kanker, khususnya sariawan, kanker kulit atau sarcoma kaposi, infeksi paru-paru
yang menyebabkan radang paru-paru dan kesulitan bernafas, infeksi usus yang
menyebabkan diare parah berminggu-minggu, dan infeksi otak yang menyebabkan
kekacauan mental dan sakit kepala.
Sedangkan dari kriteria mayor dan minor, manifestasi HIV adalah sebagai
berikut:
a. Gejala mayor :
Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan.
Diare kronik yang berlangsung lebih dari 1 bulan.
Demam berkepanjangan lebih dari satu bulan.
Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis.
Demensia/ensefalopati HIV.
b. Gejala minor:
Batuk menetap lebih dari 1 bulan.
Dermatitis generalisata yang gatal.
Herpes Zoster multisegmental dan atau berulang.
Kandidiasis orofaringeal.
Herpes simpleks kronis progresif.
Limfadenopati generalisata.
Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita.

6. Pemeriksaan Diagnostik HIV


a. Tes Serologis
1) Rapid test dengan menggunakan reagen SD HIV, Determent, dan Oncoprobe.
Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan pengamatan visual. Klien dinyatakan
positif HIV apabila hasil dari ketiga tes tersebut reaktif. Tes ini paling sering
digunakan karena paling efektif dan efisien waktu.
2) ELISA (The Enzyme-Linked Immunosorbent Assay) mengidentifikasi antibodi yang
secara spesifik ditunjukkan kepada virus HIV. Tes ELISA tidak menegakkan
diagnosis penyakit AIDS tetapi lebih menunjukkan seseorang pernah terinfeksi
oleh HIV. Orang yang darahnya mengandung antibodi untuk HIV disebut dengan
orang yang seropositif.
3) Western blot
Digunakan untuk memastikan seropositivitas seperti yang teridentifikasi lewat
ELISA.
4) PCR (Polymerase Chain Reaction)
Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler.
5) P24 ( Protein Pembungkus Human ImmunodeficiencyVirus (HIV))
Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi.
b. Tes untuk deteksi gangguan sistem imun:
1) Limfosit plasma menurun <1200.
2) Leukosit bisa normal atau menurun.
3) CD4 menurun <200
4) Rasio CD4/CD8
Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper ( CD8
ke CD4 ) mengindikasikan supresi imun.
5) Albumin
Beberapa tes laboratorium yang digunakan menentukan presentase infeksi HIV

Tes Tujuan Tes Kisaran Normal Interpretasi Hasil, Implikasi


laboratorium Keperawatan
Jumlah dan Mengukur tingkat 500-1500/ml <200 atau 14% dari limfosit
prosentase kesehatan sistem >25% limfosit mengindikasikan infeksi
CD4+ imun. Perhitungan (jumlah atau AIDS.
ini menentukan prosentase CD4+ Prosentase lebih akurat dari
jumlah CD4+ (sel T yang kurang dari pada jumlah, karena jumlah
helper) di dalam jumlah normal, memiliki variasi yang tinggi.
darah. Sel ini akan Hasil mungkin dipengaruhi
bekerja untuk meningkatkan waktu, tingkat kelelahan dan
mempertahankan resiko terjadinya stress, tes seharusnya
respon imun infeksi). dilakukan dalam waktu yang
melawan infeksi. sama (dengan tes yang
Jumlah prosentase sebelumnya) dan dalam
limfosit kondisi terbebas dari infeksi
menggambarkan yang sedang atau baru saja
jumlah sel CD4+. terjadi. Sering dimonitoring
setiap tiga bulan.
Tes Antibodi Pemeriksaan darah Negatif Dalam 18 bulan pertama dari
HIV (ELISA) untuk mengetahui kehidupan mungkin positif,
prosentase dari karena antibodi dari ibu.
antibodi HIV. Penggunaannya jarang
digunakan dibandingkan tes
viral. Tidak digunakan untuk
memonitor perkembangan
penyakit. Hasil positif palsu
dapat terjadi.
DNA HIV Pemeriksaan darah Tidak terdeteksi Paling sering digunakan untuk
Polymerase untuk mengetahui mendeteksi infeksi HIV
Chain Reaction prosentase dari neonatal. Mungkin memiliki hasil
(PCR) Assay DNA HIV di dalam positif palsu sehingga perlu
darah. dilakukan pengulangan tes
selama masa infant guna
mengkonfirmai diagnosa.

Viral Load Test Mengukur jumlah Tidak terdeteksi Jumlah yang lebih tinggi
jumlah HIV di menunjukkan jumlah HIV di
darah tepi. dalam darah lebih banyak.
Dilaporkan dalam Treatmen yang efektif
satuan jumlah per seharusnya dapat menurunkan
milliliter darah. jumlah HIV atau menunjukkan
hasil yang tidak terdeteksi.

7. Penatalaksanaan Medis HIV


Sampai saat ini belum ada obat-obatan yang dapat menghilangkan HIV dari
dalam tubuh individu. Ada beberapa kasus yang menyatakan bahwa HIV/AIDS dapat
disembuhkan. Setelah diteliti lebih lanjut, pengobatannya tidak dilakukan dengan standar
medis, tetapi dengan pengobatan alternatif atau pengobatan lainnya. Obat-obat yang
digunakan adalah untuk menahan penyebaran HIV dalam tubuh tetapi tidak
menghilangkan HIV dari dalam tubuh.
Untuk menahan lajunya tahap perkembangan virus beberapa obat yang ada
adalah antiretroviral dan infeksi opportunistik.
a. Obat antiretroviral untuk retrovirus seperti HIV guna menghambat perkembangbiakan
virus. Penatalaksanaan HIV/AIDS termasuk terapi ARV dimaksudkan untuk
menghambat replikasi virus. Prinsip pengobatan antiretroviral adalah sebagai berikut:
1) Menurunkan angka kesakitan dan kematian yang berhubungan dengan HIV.
2) Memperbaiki kualitas hidup orang yang hidup dengan HIV/AIDS.
3) Memulihkan dan/atau memelihara fungsi kekebalan tubuh.
4) Menekan replikasi secara maksimal dan selama mungkin.
Obat-obat antiretrovirus yang digunakan adalah:
1) Golongan obat anti-HIV pertama adalah nucleoside reverse transcriptase inhibitor
atau NRTI, juga disebut analog nukleosida. Obat golongan ini menghambat bahan
genetik HIV dipakai untuk membuat DNA dari RNA. Obat dalam golongan ini yang
disetujui di AS dan masih dibuat adalah:
- 3TC (lamivudine) - Abacavir (ABC)
- AZT (ZDV, Zidovudine) - d4T (Stavudine)
- Tenofovir (TDF, analog nukleutida)
- dd1 (didanosine), Emtricicitabine (FTC)
2) Golongan obat lain menghambat langkah yang sama dalam siklus hidup HIV,
tetapi dengan cara lain. Obat ini disebut non-nucleoside reverse transcriptase
inhibitor atau NNRTI. Empat NNRTI disetujui di AS:
- Delavirdine (DLV) - Etravirine (ETV)
- Efavirenz (EFV) - Nevirapine (NVP)
3) Golongan ketiga ARV adalah protease inhibitor (PI). Obat golongan ini
menghambat langkah kesepuluh, yaitu virus baru dipotong menjadi potongan
khusus. Sembilan PI disetujui dan masih dibuat di AS:
- Atanavir (ATV) - Lopinavir (LPV)
- Darunavir (DRV) - Nelfinavir (NFV)
- Fosamprenafir (FPV) - Ritonavir (RTV)
- Indinavir (IDV) - saquinavir (SQV)
4) Golongan ARV keempat adalah entry inhibitor. Obat golongan ini mencegah
pemasukan HIV ke dalam sel dengan menghambat langkah kedua dari siklus
hidupnya. Dua obat golongan ini sudah disetujui di AS:
- Enfuvirtide (T-20)
- Maraviroc (MVC)
- Golongan ARV terbaru adalah integrase inhibitor (INI). Obat golongan
ini mencegah pemaduan kode genetik HIV dengan kode genetik sel dengan
menghambat langkah kelima dari siklus hidupnya. Obat INI pertama adalah:
- Raltegravir (RGV)
- Obat infeksi opportunistik adalah obat yang digunakan untuk penyakit
yang mungkin didapat karena sistem kekebalan tubuh sudah rusak atau lemah.
Sedangkan obat yang bersifat infeksi opportunistik adalah Aerosol Pentamidine,
Ganciclovir, Foscamet.

8. Pecegahan
Secara garis besar untuk mencegah penularan HIV/AIDS, dapat diingat
menggunakan ABCDE, yang terdiri dari:
a. Abstinence, tidak melakukan hubungan seksual di luar pernikahan (abstinansia).
b. Be faithful, yaitu tetap setia pada pasangannya, untuk yang sudah menikah.
c. Condom, gunakan kondom saat melakukan hubungan seksual (melindungi diri).
d. Don't do drugs, tidak melakukan penyalahgunaan Napza sama sekali.
e. Equipment, berhati-hati terhadap peralatan yang beresiko membuat luka dan
digunakan secara bergantian (bersamaan), misalnya jarum suntik, pisau cukur,
dll.
PENULARAN LEWAT SUNTIKAN

Gunakan selalu jarum suntik yang steril dan baru setiap kali akan melakukan
penyuntikan atau proses lain yang mengakibatkan terjadinya luka.
Ada dua hal yang perlu diperhatikan:
1. Semua alat yang menembus kulit dan darah (jarum suntik, jarum tato, atau pisau
cukur) harus disterilisasi dengan benar
2. Jangan memakai jarum suntik atau alat yang menembus kulit bergantian dengan
orang lain

PENULARAN LEWAT HUBUNGAN SEKS


Selalu menerapkan kewaspadaan mengenai seks aman (artinya : hubungan seks
yang tidak memungkinkan tercampurnya cairan kelamin, karena hal ini memungkinkan
penularan HIV)
Ada tiga cara:
1. Abstinensi (atau puasa, tidak melakukan hubungan seks)
2. Melakukan prinsip monogami yaitu tidak berganti-ganti pasangan dan saling
setia kepada pasangannya
3. Untuk yang melakukan hubungan seksual yang mengandung risiko,
dianjurkan melakukan seks aman termasuk menggunakan kondom

PENULARAN LEWAT ASI


Bila ibu hamil dalam keadaan HIV positif sebaiknya diberitahu tentang semua
resiko dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada sendiri dan bayinya,
sehingga keputusan untuk menyusui bayi dengan ASI sendiri bisa dipertimbangkan.

PENULARAN DARI IBU KE BAYI


1. Pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi
2. Pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV positif
3. Pencegahan penularan HIV dari ibu hamil HIV positif ke bayi yang dikandungnya.
4. )emberian dukugan psikologis, social dan perawatan kepada ibu HIV positif berserta
bayi dan keluarganya.
Strategi yang digunakan untuk emncegah penularan disaat kehamilan, persalinan
dan penyusuan adalah.
1. Penggunaan terapi ARV pada ibu dan bayi.
2. Seksio sesaria sebelum terjadinya pecah selaput ketuban.
3. Pemberian susu formula.
Pemberian terapi arv pada bayi yang lahir denga ibu HIV
AZT 2X/hari sejak lahir hingga usia 4-6 minggu dosis 4 mg/kgBB/kali
PEMBERIAN ARV PROFILAKSIS PADA BAYI YANG LAHIR DARI IBU HIV
Status HIV dari wanita hamil

Tes HIV (+)


Sudah didiagnosis HIV sebelumnya dan Tes HIV (-)
sudah mendapatkan terapi ARV

AZT + 3TC + NVP atau


TDF + 3TC (atau FTC) + NVP
Atau AZT + 3TC + EFV atau
ANTENATAL TDF + 3TC (atau FTC) + EFV
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
PERSALINAN

Lanjutkan terapi ARV

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
POSTPARTUM
ASI eksklusif atau susu formula
Ibu:lanjutkan ARV
Bayi: AZT, 2x/hari, dari lahir
hingga usia 4-6 minggu (tidak
melihat cara pemberian makanan
pada bayi)

PENCEGAHAN AIDS PADA PETUGAS KESEHATAN


Jenis pajanan: Perlukaan kulit, pajanan pada selaput mukosa, pajanan
melalui kulit yang luka dan gigitan yang berdarah.
Bahan Pajanan: Darah, cairan bercampur darah yang kasat mata, cairan
yang potensial terinfeksi: semen, cairan vagina, cairan serebrospinal, c.
sinovia, c. pleura, c peritoneal, c. perickardial, c. amnion dan virus yang
terkonsentrasi.
Prinsip penanganan: Jangan Panik! tapi selesaikan dalam <4 jam.
SEGERA
Luka tusuk : bilas dengan air mengalir dan sabun atau antiseptik.
Pajanan mukosa mulut: ludahkan dan kumur.
Pajanan mukosa mata: irigasi dengan air atau garam fisiologis.
Pajanan mukosa hidung: hembuskan keluar dan bersihkan dengan air.
Jangan dihisap dengan mulut, jangan ditekan.
Desinfeksi luka dan daerah sekitar kulit dengan salah satu: (1) betadine (povidone
iodine 2,5%) selama 5 menit atau (2) alkohol 70% selama 3 menit. Chlorhexidine
cetrimide bekerja melawan HIV tetapi tidak HBV
LAPORKAN
Catat dan laporkan kepada: (1) panitia PIN, (2) panitia K3, (3) atasan langsung, agar
secepat mungkin diberi PPP (profilaksis pasca pajanan).
Perlakukan sebagai keadaan darurat, dimana obat PPP harus diberikan sesegera
mungkin (dalam 1-2 jam).
PPP setelah 72 jam tidak efektif.
Tetap berikan PPP bila pajanan risiko tinggi meski maksimal hingga satu minggu
setelahnya.
Pantau sesuai denga protokol pengobatan ART.
Hitung sel darah, LFT, kepatuhan dan beri dukungan.
Pertimbangan profilaksis didasarkan pada derajat pajanan, status infeksi dari sumber
pajanan dan ketersediaan obat PPP.
Alur PPP pada pajanan
1. Menentukan kategori pajanan (KP)

Kategori Pajanan (KP) HIV

2. Menentukan Kategori / status HIV sumber pajanan (KS-HIV)

Kategori Status (KS) HIV Sumber Pajanan


3. Menentukan Pengobatan Profilaksis Pasca Pajanan
9. Komplikasi HIV
a. Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis
Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral,nutrisi,dehidrasi,penurunan
berat badan, keletihan dan cacat.
b. Neurologik
1) Kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus
(HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan
motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi sosial.
2) Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia,
ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala,
malaise, demam, paralise, total / parsial.
3) Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik
endokarditis.
4) Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci
Virus (HIV).
c. Gastrointestinal
1) Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan
sarcoma kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia, demam,
malabsorbsi, dan dehidrasi.
2) Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma kaposi, obat illegal, alkoholik.
Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
3) Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang
sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal
dan diare.
d. Respirasi
1) Pneumonia Pneumocystis (PCP)
Pada umumnya 85% infeksi opportunistik pada AIDS merupakan infeksi paru-paru
PCP dengan gejala sesak nafas, batuk kering, sakit bernafas dalam dan demam.
2) Cytomegalo Virus (CMV)
Pada manusia virus ini 50% hidup sebagai komensial pada paru-paru tetapi dapat
menyebabkan pneumocystis. CMV merupakan penyebab kematian pada 30%
penderita AIDS.
3) Mycobacterium Avilum
Menimbulkan pneumoni difus, timbul pada stadium akhir dan sulit disembuhkan.
4) Mycobacterium Tuberculosis
Biasanya timbul lebih dini, penyakit cepat menjadi miliar dan cepat menyebar ke
organ lain diluar paru.
e. Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis,
reaksi otot, lesi scabies, dan dekubitus dengan efek nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi
skunder dan sepsis.
f. Sensorik
1) Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan
2) Pendengaran : otitis eksternal akut & otitis media, kehilangan pendengaran dengan
efek nyeri.
ASUHAN KEPERAWATAN HIV
a. Pengkajian
1) Identitas
Menyajikan data identitas diri pasien secara lengkap dengan tujuan menghindari
kesalahan dalam memberikan terapi dan patokan untuk memberikan asuhan
keperawatan yang sesuai. Data identitas meliputi Nama, Tgl. MRS, Umur,
Diagnosa, Jenis kelamin, Suku/bangsa, Agama, Pekerjaan, Pendidikan,dan
Alamat.
2) Riwayat kesehatan dan keperawatan
Untuk mengetahui riwayat kesehatan dan keperawatan pasien, maka dikakukan
anamnesis. Anamnesis pada pasien dengan gangguan sistem vaskular meliputi
keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat
penyakit keluarga, dan pengkajian psikososiospiritual.
3) Keluhan utama
Hal yang sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan
biasanya berhubungan dengan gangguan pernafasan yang terjadi selama
beberapa minggu, batuk yang tidak kunjung sembuh, dan nyeri dada yang
menurunkan kemampuan ekspansi dada selama proses respirasi.
4) Riwayat penyakit sekarang
Pengkajian mengenai riwayat penyakit yang sedang diderita pasien. Mulai dari
pasien merasakan gejala awal penyakit hingga saat pengkajian berlangsung.
5) Riwayat penyakit dahulu
Kaji adanya penyakit terdahulu yang pernah terjadi pada pasien yang
berhubungan dengan penyakit pasien saat ini, misalnya AIDS, pneumonia. Kaji
riwayat penggunaan obat yang pernah dikonsumsi oleh klien. Pengkajian riwayat
ini dapat mendukung pengkajian dari riwayat penyakit sekarang dan merupakan
data dasar untuk mengkaji lebih jauh dan untuk memberikan tindakan selanjutnya.
6) Riwayat penyakit keluarga
Kaji tingkat kesehatan pada keluarga akan adanya penyakit yang sama atau mirip
pada keluarga terdahulu, atau merupakan penyakit bawaan.
7) Pengkajian psikososiospiritual
Menunjukkan interaksi inter dan intra personal pasien. Kemungkinan akan adanya
kelainan psikologis dan gangguuan interaksi sosial. Tentang bagaimana hubungan
antara pasien dengan lingkungannya dan aspek spiritual pasien.
8) Pengkajian lingkungan
Menunjukkan linglungan dimana klien tinggal. Keadaan lingkungan klien dapat
memberikan gambaran untuk menegakkan diagnosa dan program asuhan
keperawatan yang akan diberikan pada klien nantinya.
b. Observasi dan Pemeriksaan Fisik
1) Aktivitas/istirahat
Gejala : mudah lelah, berkurangnya toleransi terhadap aktifitas, kelelahan.
Tanda : kelemahan otot, nyeri otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi
terhadap aktifitas.
2) Sirkulasi
Gejala : demam, proses penyembuhan luka lambat, perdarahan lama bila cedera
Tanda : suhu tubuh meningkat, berkeringat, takikardia, mata cekung, anemis,
perubahan tekanan darah postural, volume nadi perifer menurun, pengisian
kapiler memanjang.
3) Integritas ego
Gejala : merasa tidak berdaya, putus asa, rasa bersalah, kehilangan kontrol diri,
dan depresi.
Tanda : mengingkari, cemas, depresi, takut, menarik diri, marah, menangis,
kontak mata kurang.
4) Eliminasi
Gejala : diare, nyeri pinggul, rasa terbakar saat berkemih.
Tanda : feces encer disertai mucus atau darah, nyeri tekan abdominal, lesi pada
rectal, ikterus, perubahan dalam jumlah warna urin.
5) Makanan/cairan
Gejala : tidak ada nafsu makan, mual, muntah, sakit tenggorokan.
Tanda : penurunan BB yang cepat, bising usus yang hiperaktif, turgor kulit jelek,
lesi pada rongga mulut, adanya selaput putih/perubahan warna mukosa mulut
6) Hygiene
Tanda : tidak dapat menyelesaikan ADL, penampilan yang tidak rapi.
7) Neurosensorik
Gejala : pusing, sakit kepala, photofobia.
Tanda : perubahan status mental, kerusakan mental, kerusakan sensasi,
kelemahan otot, tremor, penurunan visus, bebal, kesemutan pada ekstrimitas.
8) Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri umum atau lokal, sakit, nyeri otot, sakit tenggorokan, sakit kepala,
nyeri dada pleuritis, nyeri abdomen.
Tanda : pembengkakan pada sendi, hepatomegali, nyeri tekan, penurunan
ROM, pincang.
9) Pernapasan
Tanda : terjadi ISPA, napas pendek yang progresif, batuk produktif/non, sesak
pada dada, takipneu, bunyi napas tambahan, sputum kuning.
10) Keamanan
Gejala : riwayat jatuh, terbakar, pingsan, luka lambat proses penyembuhan.
Tanda : demam berulang
11) Seksualitas
Tanda : riwayat perilaku seksual resiko tinggi, penurunan libido, penggunaan
kondom yang tdk konsisten, lesi pada genitalia, keputihan.
12) Interaksi social
Tanda : isolasi, kesepian, perubahan interaksi keluarga, aktifitas yang tidak
terorganisir
Pemeriksaan Diagnostik
1) Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan antibodi spesifik toksoplasma,
yaitu IgG, IgM dan IgG affinity.
IgM adalah antibodi yang pertama kali meningkat di darah bila terjadi infeksi
toksoplasma.
IgG adalah antibodi yang muncul setelah IgM dan biasanya akan menetap
seumur hidup pada orang yang terinfeksi atau pernah terinfeksi.
IgG affinity adalah kekuatan ikatan antara antibodi IgG dengan organisme
penyebab infeksi. Manfaat IgG affinity yang dilakukan pada wanita yang hamil
atau akan hamil karena pada keadaan IgG dan IgM positif diperlukan
pemeriksaan IgG affinity untuk memperkirakan kapan infeksi terjadi, apakah
sebelum atau pada saat hamil. Infeksi yang terjadi sebelum kehamilan tidak
perlu dirisaukan, hanya infeksi primer yang terjadi pada saat ibu hamil yang
berbahaya, khususnya pada trimester I.
Bila IgG (-) dan IgM (+)
Kasus ini jarang terjadi, kemungkinan merupakan awal infeksi. Harus
diperiksa kembali 3 minggu kemudian dilihat apakah IgG berubah jadi (+).
Bila tidak berubah, maka IgM tidak spesifik, yang bersangkutan tidak
terinfeksi toksoplasma.
Bila IgG (-) dan IgM (-)
Belum pernah terinfeksi dan beresiko untuk terinfeksi. Bila sedang hamil,
perlu dipantau setiap 3 bulan pada sisa kehamilan (dokter mengetahui kondisi
dan kebutuhan pemeriksaan anda). Lakukan tindakan pencegahan agar tidak
terjadi infeksi.
Bila IgG (+) dan IgM (+)
Kemungkinan mengalami infeksi primer baru atau mungkin juga infeksi
lampau tapi IgM nya masih terdeteksi. Oleh sebab itu perlu dilakukan tes
IgG affinity langsung pada serum yang sama untuk memperkirakan kapan
infeksinya terjadi, apakah sebelum atau sesudah hamil.
Bila IgG (+) dan IgM (-)
Pernah terinfeksi sebelumnya. Bila pemeriksaan dilakukan pada awal
kehamilan, berarti infeksinya terjadi sudah lama (sebelum hamil) dan
sekarang telah memiliki kekebalan, untuk selanjutnya tidak perlu diperiksa
lagi.
2) Pemeriksaan cairan serebrospinal
Menunjukkan adanya pleositosis ringan dari mononuklear predominan dan
elevasi protein.
3) Pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR)
Digunakan untuk mendeteksi DNA Toxoplasmosis gondii. Polymerase Chain
Reaction (PCR) untuk Toxoplasmosis gondii dapat juga positif pada cairan
bronkoalveolar dan cairan vitreus atau aquos humor dari penderita
toksoplasmosis yang terinfeksi HIV. Adanya PCR yang positif pada jaringan otak
tidak berarti terdapat infeksi aktif karena tissue cystdapat bertahan lama berada
di otak setelah infeksi akut.
4) CT scan
Menunjukkan fokal edema dengan bercak-bercak hiperdens multiple
dan biasanya ditemukan lesi berbentuk cincin atau penyengatan homogen dan
disertai edema vasogenik pada jaringan sekitarnya. Ensefalitis toksoplasma
jarang muncul dengan lesi tunggal atau tanpa lesi.
c. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri kronik berhubungan dengan adanya proses infeksi atau inflamasi
2) Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme dan penyakit, ditandai
dengan peningkatan suhu tubuh, tubuh menggigil
3) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan tidak adekuat masukan
makanan dan cairan
4) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan tidak
adekuat masukan makanan dan cairan.
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

a. Nyeri kronik berhubungan dengan adanya proses infeksi atau inflamasi


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam nyeri
dapat berkurang, pasien dapat tenang dan keadaan umum cukup baik.
Kriteria Hasil:
Klien mengungkapakan nyeri yang dirasakan berkurang dan terkontrol
Klien tidak menyeringai kesakitan
TTV dalam batas normal
Intensitas nyeri berkurang (skala nyeri berkurang)
Klien menunjukkan rileks, istirahat tidur, peningkatan aktivitas dengan
cepat.

NOC (Pain level)


No Indikator 1 2 3 4 5

1. Reported pain

2 Length of pain episodes

3. Respiratory rate

4. Radial pulse rate

5. Blood presssure

Indikator 1 2 3 4 5

Reported pain Skala Skala nyeri Skala nyeri Skala nyeri Skala nyeri
nyeri 10 7-9 4-6 1-3 0

Length of pain >30 menit 25-30 15-20 5-10 menit Tidak ada
episodes menit menit

Respiratory >30 30-35 26-30 21-25 16-20


rate x/menit x/menit x/menit x/menit x/menit

Radial pulse >115 111-115 106-110 101-105 60-


rate x/menit x/menit x/menit x/menit 100x/menit

Blood 140/110 140/100 130/100 130/90 120/90


presssure mmHg mmHg mmHg mmHg mmHg
NIC (Pain Management)
1) Kaji nyeri secara komprehensif meliputi lokasi,karakteristik,
onset/durasi/frequency, kulaitas/keparahan nyeri, dan faktor presipitasi
2) Observasi tanda non verbal dari ketidaknyamanan/nyeri
3) Gunakan komunikasi terapeutik untuk mengetahui respon klien terhadap
nyeri
4) Eksplorasi dampak nyeri terhadap kualiatas hidup (tidur, nafsu makan,
aktifitas, mood, hubungan, pekerjaan)
5) Eksplorasi klien faktor yang dapat meningkatkan/mengurangi nyeri
6) Edukasi pasien tentang nyeri (penyebab, berapa lama itu terjadi)
7) Kontrol lingkungan yang mungkin mempengaruhi faktor
ketidaknyamanan/nyeri
8) Ajarin klien terapi non-farmakologi dalam mengontrol nyeri (relaksasi,
guided imagery, music terapi, distraksi, therapy aktifitas)
9) Kolaborasi pemebrian analgesic
10) Dukung istirahat/tidur yang adekuat untuk memfasilitasi pengurangan nyeri
11) Monitoring TTV klien sebelum dan sesuadah terapi pengontrolan nyeri
b. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme dan penyakit,
ditandai dengan peningkatan suhu tubuh, tubuh menggigil
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam suhu tubuh dapat
dipertahankan dalam batas normal
Kriteria Hasil:
Suhu antara 36o-37o
RR dan nadi dalam batas normal
NOC (Thermoregulation, Hydration, Immune status)
No Indikator 1 2 3 4 5

1. Body temperature

2 Increased skin
temperature

3. Moist mucous membrane

4. Headache

Indikator 1 2 3 4 5

Body >39 38,6-39 38,1-38,5 37,6-38 36,5-37,5


temperature

Increased skin Sangat Panas Sedang Sedikit Hangat


temperature panas panas

Moist mucous Sangat Kering Sedang Sedikit Lembab


membrane kering kering

Headache Sangat Selalu Sering Kadang- Tidak sakit


sakit sakit sakit kadang kepala
kepala dan kepala kepala sakit
tidak kepala
tertahan

NIC (Fever Management)


1) Monitor suhu secara continue
2) Monitor kemungkinan kekurangan cairan
3) Monitor penurunan level kesadaran
4) Observasi adanya sakit kepala
5) Monitor nilai WBC, Hgb, Hct
6) Berikan obat antypiretik
7) Berikan pengobatan yang dapat menyembuhakan peneybab demam
8) Dukung intake oral fluids
9) Gunakan ice bag dan handuk untuk mengompres pada axilla dan dahi
10) Gunakan seilmut hipotermi (jika ada)

c. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan tidak adekuat masukan


makanan dan cairan.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, asupan
cairan adekuat
Kriteria hasil:
Memiliki keseimbangan asupan dan haluaran yang seimbang dalam 24
jam.
Tanda-tanda vita, dalam batas normal
Membran mukosa lembab
Nadi perifer teraba
Menampilkan hidrasi yang baik misalnya membran mukosa yang lembab.
Memiliki asupan cairan oral dan atau intravena yang adekuat.
NOC : Fluid balance dan Hydration
No Indikator 1 2 3 4 5
1. Serum sodium (Na)

2. Tekanan darah

3. Urin output

4. Fluid intake

Indikator 1 2 3 4 5

Serum sodium 95-105 105-115 115-125 125-135 135-145


(Na) mEq/L mEq/L mEq/L mEq/L mEq/L

Tekanan darah 140/110 140/100 130/100 130/90 120/90


mmHg mmHg mmHg mmHg mmHg

Urin Output 600-799 cc 800-999 1000-1199 1200-1399 1400-1500


cc cc cc cc

Fluid Intake 200-599 cc 600-899 900-1199 1500-1899 1800-2500


cc cc cc cc
NIC : Fluid Management
1) Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
2) Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat,
tekanan darah ortostatik ), jika diperlukan
3) Monitor hasil lab yang sesuai dengan retensi cairan (BUN , Hmt ,
osmolalitas urin, albumin, total protein )
4) Monitor vital sign
5) Kolaborasi pemberian cairan IV
6) Monitor status nutrisi
7) Berikan cairan oral
8) Berikan penggantian nasogatrik sesuai output (50 100cc/jam)
9) Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
10) Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk
11) Pasang kateter jika perlu
12) Monitor intake dan urin output setiap 8 jam

d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan tidak


adekuat masukan makanan dan cairan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, Pasien
mempunyai intake kalori dan protein yang adekuat untuk memenuhi
kebutuhan metaboliknya
Kriteria Hasil : mual dan muntah terkontrol, pasien makan TKTP, serum
albumin dan protein dalam batas normal, BB mendekati seperti sebelum
sakit.
NOC (Appetite, Nutritional Status, Nausea and Vomiting Saverity)
No Indikator 1 2 3 4 5
1. Food intake

2 Fluid intake

3. Height ratio/weight

4. Frequency of nausea

5. Frequency of vomiting

Indikator 1 2 3 4 5
Food intake Tidak sekitar 3 sekitar 5 sekitar 7 Normal
mau sendok sendok sendok (menghabiskan
makan makan makan makan porsi yang
sama ada)
sekali
Fluid intake tidak gelas 1 gelas 2 gelas Normal
mau (menghabiskan
minum porsi yang
sama ada)
sekali
Height Turun 5 Turun 4 kg Turun 3 kg Turun 2 kg Sama dengan
ratio/weight kg BB sebelum
sakit
Frequency of Sangat Sering Sedang Jarang Tidak pernah
nausea sering
Frequency of Sangat Sering Sedang Jarang Tidak pernah
vomiting sering

NIC (Nutrition Management, Nutrition Therapy, Nausea management,


Vomiting management)
1) Anjurkan makanan yang pasien sukai
2) Kolaborasi dengan ahli gizi menegnai jumlah kalori dan jenis nutrisi yang
dibutuhkan sesuai kebutuhan nutrisi klien
3) Dukung peningkatan nintake protein, dan vitamin c
4) Dukung pemberian diet yang tinggi serat untuk mencegah konstipasi
5) Timbang BB klien secara continue
6) Monitor intake cairan dan makaanan dan hitung intake kalori
7) Berikan supplement nutrisi
8) Lakuakn oral hygiene sebelum makan
9) Pantau nausea termasuk frekuensi, durasi, dan faktor presipitasi (hal
yang dapat meningkatkan/menurunkan mual)
10) Ajarkan terapi non farmakologi untuk mengontrol nausea (teknik distraksi,
relaksasi nafas dalam)
11) Pastikan keefektifan dari pemberian antiemesis
DAFTAR PUSTAKA

Djuanda, adhi. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI
Doengoes, Marilynn, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih
bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made S.Jakarta: EGC.
Handoko AV. 2012. Hubungan Antara Hitung Sel CD4 dengan Kejadian Retinitis
pada Pasien HIV di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Skripsi. Program
Pendidikan Sarjana Kedokteran. Universitas Dipenogoro.
HIV Discussion. HIVwebstudy. Available at:
http://depts.washington.edu/hivaids/initial/case1/discussion.html. Accessed
on 2 march.
Lan, Virginia M. Human Immunodeficiency Virus (HIV) and Acquired
Immunodeficiency Syndrome (AIDS). In: Hartanto H, editor. Patofisiologi:
Konsep Klinis proses-proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta: ECG 2006. Hal .
224.
M. Leng see. Penanganan pajanan hiv bagi petugas kesehatan. Kesehatan
kedokteran. 2 disember 2010. Available at:
http://mlengsee.wordpress.com/2010/12/02/penanganan-pajanan-hiv-bagi-
petugas-kesehatan/. Acessesed on 2 march 2013.
Mandal,dkk. 2008. Penyakit Infeksi. Jakarta: Erlangga Medical Series.
Mansjoer, Arif M. Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). In Triyanti
Kuspuji, editor. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jakarta: Media
Aesculapius FKUI; 2000. Hal162-163
Merati, Tuti P.Respon Imun Infeksi HIV. In : Sudoyo Aru W: editor. Buku ajar ilmu
penyalit dalam. Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam FKUI: 2006. Hal 545-6
Mitchell. H. Katz, MD, Andrew R. Zolopa, MD. HIV Infection and Aids. 2009
Current Medical Diagnosis dan Treatment. McGaw Hill, 48th ed. Hal. 1176-
1205.
Prof. Dr. Sofyan Ismael, Sp. A (K). Antiretroviral. Pedoman nasional pelayanan
kedokteran. Tatalaksanan hiv/aids. 2011. Hal 47-67.
Quinn TC, Wawer MJ, Sewankambo N and others. Hiv. Scribd. Available at:
http://www.scribd.com/doc/40951928/Hiv. Accessed on 2 march.
Widoyono. 2005. Penyakit Tropis: Epidomologi, penularan, pencegahan, dan
pemberantasannya.Jakarta: Erlangga Medical Series.
Z. Djoerban, S. Djauri. Infeksi tropical. Hiv aids. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam
FKUI. Edisi IV. Jilid III. Hal. 1803-1807.