Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KASUS ANESTESI

Pembimbing :

dr. Riza M. Farid, Sp.An

dr. Asep Hendradiana, Sp.An, KIC, M.Kes

dr. Sonny Tresnadi, Sp.An

dr. Muhammad Naufal, Sp.An

Disusun oleh :

Rinto Nugroho Putra Daya 1102010125

Mohammad Syarif H 1102010170

Yenni Permatasari 1102008323

KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANESTESI

Rumah Sakit Bhayangkara Tk. I Raden Said Sukanto

Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Periode 9 januari 11 Februari 2017

1
BAB I
Laporan Kasus

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. J
Umur : 4 tahun
Agama : Hindu
Pendidikan : -
Suku : Indonesia
Pekerjaan :-
Alamat : Jl. Asrama Gegana Depok
Tanggal masuk rumah sakit : 22 Januari 2017

IV. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan dengan autoanamnesa pada tanggal 22 Januari 2017 di
Ruang Pamen 3 RS POLRI Raden Sukanto Jakarta Timur.
Keluhan Utama : Terdapat benjolan di bawah kelopak mata sejak 4
minggu SMRS
Keluhan Tambahan : -
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke ruang PAMEN III RS POLRI R. Said Sukanto pada tanggal
22 januari 2017. Pasien datang dengan keluhan terdapat benjolan di bawah
kelopak mata kanan. Rencana operasi pada benjolan di bawah kelopak mata
sebelah kanan pada tanggal 23 januari 2017.

Riwayat Penyakit Dahulu :


- Hipertensi (-)
- DM (-)
- Asma (-)

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak memiliki riwayat penyakit keluarga

2
Riwayat Alergi:
Pasien tidak memiliki riwayat alergi obat

Riwayat Operasi :
Riwayat operasi sebelumnya disangkal

III. PEMERIKSAAN FISIK


Diperoleh dari rekam medik :
- Keadaan umum : Tampak Sakit Sedang
- Status Kesadaran : Compos Mentis
- Kesadaran : GCS:15 (E :4 M: 6 V:5 )
- Tekanan darah : 100/70 mmHg
- Nadi : 80x / menit
- Suhu : 36,5 C
- RR : 21 x/menit
- Berat badan : -
- Tinggi badan : -
KEPALA
- Tidak terdapat deformitas
- Penyebaran rambut pasien merata,tidak terdapat kebotakan
- Kekuatan rambut pasien kuat,tidak mudah rontok
MATA : - Konjungtiva tidak pucat
- Sklera tidak ikterik
- Gerakan bola mata mengikuti arah cahaya
- Terdapat benjolan pada kelopak mata bawah
sebelah kanan
HIDUNG : - Hidung simetris kiri-kanan
- Lubang hidung tidak tampak ada sekret
TELINGA : - Daun telinga simetris kiri-kanan
- Fungsi pendengaran normal
- Liang telinga bersih, tidak terdapat serumen
MULUT : - Mukosa tidak tampak kering

3
- Tidak terlihat adanya pembesaran pada tonsil
LEHER : - Tidak teraba pembesaran kelenjar limfe dan
kelenjar tiroid
- Tidak terlihat deviasi trakea

THORAX
INSPEKSI : - Bentuk thorax normal,tidak tampak kelainan
- Gerakan dada kanan-kiri simetris
PALPASI : - Tidak teraba pelebaran sela iga
- Tidak teraba deviasi trakea
- Ekspansi paru normal
- Vocal fremitus kanan-kiri sama normal
PERKUSI : - Perkusi pada paru didapatkan sonor pada
semua lapangan paru
AUSKULTASI : - Suara nafas: vesiculer di seluruh lapang paru
- Suara jantung : normal, tidak terdengar bunyi
murmur atau suara jantung tambahan

ABDOMEN
INSPEKSI : - Permukaan abdomen rata.
PALPASI : - Tidak teraba pembesaran hati dan spleen
PERKUSI : - Bunyi timpani pada seluruh lapang abdomen
AUSKULTASI : - Bising usus (+) normal,4x/min

4
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
19 januari 2017
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
Hematokrit 35 % 40-48%
Hemoglobin 11,9 12-14 gr/dl
Leukosit 8200 /uL 5.000-10.000/uL
Trombosit 377.000/uL 150.000-400.000/uL
Masa Perdarahan 1 1-6 menit
Masa Pembekuan 10 10-15 menit

V. Laporan Anestesi
- Dokter ahli bedah: dr. Henry Sp M
- Asisten: Zr. Astuti
- Ahli anestesi: dr. Asep Sp.An
- Perawat: Br. Agus
- Jenis anestesi: GA
- Diagnosis pre-op: Kalazion
- Tanggal operasi: 23 januari 2017
- Jam mulai: 10.30
- Jam selesai: 11.00
- Lama operasi: 1/2 jam

Secondary Survey :
Breathing : Vesikuler, Rhonki (+/-)
Wheezing (-/-)
Brain : E4 V:5 M 6

5
Persiapan Operasi
- Surat izin Operasi
- Puasa 6-8 jam sebelum operasi
- Tidak memakai perhiasan/kosmetik
- Tidak ada gigi palsu
- Memakai baju khusus kamar bedah.

VI. Laporan Anestesi


Anastesi: General anestesi
Medikasi:
- Profopol 40 ml
- Dexametasone 5 mg
- Tramadol 50 mg
Teknik pemasangan lma :
1. Sebelum pemasangan, posisi pasien dalam keadaan air sniffing dengan
cara menekan kepala dari belakang dengan menggunakan tangan yang
tidak dominan. Buka mulut dengan cara menekan mandibula kebawah
atau dengan jari ketiga tangan yang dominan.
2. Masukkan LMA
3. LMA dimasukkan sedalam-dalamnya sampai rongga hipofaring.
Tahanan akan terasa bila sudah sampai hipofaring.
4. Kaf dikembangkan sesuai posisinya.
5. LMA dihubungkan dengan alat pernafasan dan dilakukan pernafasan
bantu. Bila ventilasi tidak adekuat, LMA dilepas dan dilakukan
pemasangan kembali.
6. Pasang bite block untuk melindungi pipa LMA dari gigitan, setelah itu
lakukan fiksasi.

6
VII. DIAGNOSIS
Kalazion

VIII. PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad Bonam
Quo ad functionam : dubia ad Bonam
Quo ad sanantionam : dubia ad Bonam

7
LANDASAN TEORI

Kalazion
Definisi
Kalazion adalah peradangan granulomatosa kelenjar meibom yang tersumbat, sehingga
mengakibatkan pembengkakan yang tidak sakit pada mata. Pada kalazion terjadi
penyumbatan kelenjar meibom dengan infeksi ringan yang mengakibatkan peradangan
kronis. Awalnya dapat berupa radang ringan disertai nyeri tekan yang mirip hordeolum,
dibedakan dengan hordeolum karena tidak adanya tanda- tanda radang akut (Ilyas,
2009).

a b
Gambar 2. Kalazion palpebra superior (a) dan kalazion palpebra inferior (b)

Epidemiologi

Kalazion bisa terjadi pada semua umur, kasus pada anak- anak mungkin juga bisa
terjadi. Pengaruh hormonal terhadap sekresi sabaseous dan viskositas mungkin
menjelaskan terjadinya penumpukan pada masa pubertas dan selama kehamilan
(Wessels, 2010).

Etiologi

Beberapa literatur menyebutkan bahwa penyebab kalazion adalah idiopatik, tetapi ada
yang menyebutkan bahwa penyebabnya adalah berhubungan dengan blefaritis kronik.
Blefaritis adalah peradangan palpebra dengan gejala utama tepi kelopak meradang yang
disebabkan oleh infeksi dan alergi yang berjalan kronis atau menahun. (Ilyas, 2009)

Kalazion mungkin timbul spontan disebabkan oleh sumbatan pada saluran kelenjar atau
sekunder dari hordeolum internum. Kalazion dihubungkan dengan seborrhea, chronic
blepharitis, dan acne rosacea.

8
Patofisiologi

Kalazion memiliki gejala adanya benjolan pada kelopak mata, tidak hiperemi, tidak ada
nyeri tekan, dan adanya pseudoptosis. Kelenjar preaurikuler tidak membesar. Kadang-
kadang mengakibatkan perubahan bentuk bola mata akibat tekanan dari kalazion
tersebut sehingga terjadi kelainan refraksi pada mata.(Ilyas, 2009)

Kerusakan lipid yang mengakibatkan tertahannya sekresi kelenjar, kemungkinan karena


enzim dari bakteri, membentuk jaringan granulasi dan mengakibatkan inflamasi. Proses
granulomatous ini yang membedakan antara kalazion dengan hordeolum internal atau
eksternal (terutama proses piogenik yang menimbulkan pustul), walaupun kalazion
dapat menyebabkan hordeolum, begitupun sebaliknya. Secara klinik, nodul tunggal
(jarang multipel) yang agak keras berlokasi jauh di dalam palpebra atau pada tarsal
(Wessels, 2010).

Gejala Klinis

Pasien biasanya datang dengan riwayat singkat adanya keluhan pada palpebra baru-baru
ini, diikuti dengan peradangan akut (misalnya merah, pembengkakan, perlunakan).
Seringkali terdapat riwayat keluhan yang sama pada waktu yang lampau, karena
kalazion memiliki kecenderungan kambuh pada individu-individu tertentu (Kanski JJ,
2009).

Kalazion lebih sering timbul pada palpebra superior, di mana jumlah kelenjar Meibom
terdapat lebih banyak daripada palpebra inferior. Penebalan dari saluran kelenjar
Meibom juga dapat menimbulkan disfungsi dari kelenjar Meibom. Kondisi ini tampak
dengan penekanan pada kelopak mata yang akan menyebabkan keluarnya cairan putih
seperti pasta gigi, yang seharusnya hanya sejumlah kecil cairan jernih berminyak.

Gejala klinis dari kalazion menurut Prof. Sidharta Ilyas (2009) adalah:

- benjolan pada kelopak mata

- tidak hiperemi

- tidak ada nyeri tekan

- pseudoptosis

- tidak ada pembesaran kelenjar preaurikuler

- kadang- kadang terjadi kelainan refraksi pada mata, karena penekanan yang
mengakibatkan perubahan bentuk bola mata

- pada anak muda : diabsorbsi spontan

9
Diagnosa

Diagnosa kalazion yaitu dengan melakukan anamnesa identitas, keluhan dari kalazion
yang disebutkan sebelumnya, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit sebelumnya,
riwayat penyakit keluarga, riwayat pengobatan, dan riwayat kebiasaan. Setelah
dilakukan anamnesa dilakukan pemeriksaan mata seperti visus, tekanan intra ocular,
kedudukan bola mata, pergerakan, palpebra, konjungtiva, sclera, kornea, camera okuli
anterior, iris, pupil, serta lensa (Sahni, 2004) (Kanski JJ, 2009).

Kadang saluran kelenjar Meibom bisa tersumbat oleh suatu kanker kulit, untuk
memastikan hal ini maka perlu dilakukan pemeriksaan biopsi. Pemeriksaan
histopatologi dilakukan bila kalazion terjadi berulang kali sehingga dicurigai
keganasan.

a.Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan yang umum dilakukan pada pasien dengan kalazion adalah pemeriksaan
fisik pada kelopak mata pasien.

Inpeksi : pada pemeriksaan secra inspeksi dapat dilihat adanya nodul pada kelopak mata
atas atau bawah, dimana nodul menonjol ke arah konjungtiva dan tampak adanya
daerah berwarna kemerahan pada palpebra bagian dalam.

Palpasi : pada pemeriksaan secara palpasi dapat ditemukan adanya masa yang keras dan
terfiksasi pada tarsus.

b. Pemeriksaan Histopatologi

pemeriksaan histopatologi dilakukan bila kalazion terjadi berulang kali sehingga


dicurigai keganasan.

c. Pemeriksaan Tonografi

Untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan tekanan intra okuler (TIO) pada mata.
Biasanya tidak terjadi peningkatan, namun pemeriksaan tetap dilakukan untuk
memperkuat diagnosis

d. Pemeriksaan Darah Lengkap

Kadang kalazion dapat diikuti infeksi pada mata.Selain itu juga untuk membedakan
antara kalazion dan herdeolum.

e. Pemeriksaan Lipid Serum

Digunakan untuk memperkuat diagnosis.

10
Diagnosis Banding

HORDEOLUM

1. Pengertian

Hordeolum merupakan peradangan supuratif kelenjar kelopak mata. Hordeolum


biasanya merupakan infeksi staphylococcus pada kelenjar sabasea kelopak mata.
Biasanya sembuh sendiri dan dapat diobati dengan hanya kompres hangat. Hordeolum
secara histopatologik gambarannya seperti abses.(Ilyas, 2009)

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan dari kalazion Menurut Prof. Sidharta Ilyas (2009) adalah:

1. Penanganan konservatif kalazion adalah dengan kompres air hangat 15 menit


(4 kali sehari). Lebih dari 50% kalazion sembuh dengan pengobatan
konservatif.

2. Obat tetes mata atau salep mata jika infeksi diperkirakan sebagai
penyebabnya.

3. Injeksi steroid ke dalam kalazion untuk mengurangi inflamasi, jika tidak ada
bukti infeksi

4. Steroid menghentikan inflamasi dan sering menyebabkan regresi dari kalazion


dalam beberapa minggu kemudian.

Eksisi kalazion

1. Jika perlu, buatlah insisi vertikal pada permukaan konjungtiva palpebra.

2. Untuk kalazion yang kecil, lakukan kuretase pada granuloma inflamasi pada
kelopak mata.

3. Untuk kalazion yang besar, iris granuloma untuk dibuang seluruhnya

4. Cauter atau pembuangan kelenjar meibom (yang biasa dilakukan)

5. Untuk kalazion yang menonjol ke kulit, insisi permukaan kulit secara


horisontal lebih sering dilakukan daripada lewat konjungtiva untuk
pembuangan seluruh jaringan yang mengalami inflamasi.

11
Eskokleasi Kalazion

Terlebih dahulu mata ditetes dengan anestesi topikal pentokain. Obat anestesia
infiltratif disuntikkan di bawah kulit di depan kalazion. Kalazion dijepit dengan klem
kalazion dan kemudian klem dibalik sehingga konjungitva tarsal dan kalazion terlihat.
Dilakukan insisi tegak lurus margo palpebra dan kemudian isi kalazion dikuret sampai
bersih. Klem kalazion dilepas dan diberi salep mata.(Ilyas, 2009) (Leonid SJ, 2014)
(Wessels, 2002).

ANESTESI UMUM
Anestesi umum adalah tindakan untuk menghilangkan nyeri secara sentral disertai
dengan hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali atau reversible. Anestesi
memungkinkan pasien untuk mentoleransi prosedur bedah yang akan menimbulkan
sakit yang tak tertahankan, mempotensiasi eksaserbasi fisiologis yang ekstrim, dan
menghasilkan kenangan yang tidak menyenangkan.
Anestesi memiliki tujuan-tujuan sebagai berikut:
1. Hipnotik/sedasi: hilangnya kesadaran
2. Analgesia: hilangnya respon terhadap nyeri
3. Muscle relaxant: relaksasi otot rangka
Pilhan cara anestesi
Umur
o Bayi dan anak paling baik dengan anestesi umum
o Pada orang dewasa untuk tindakan singkat dan hanya dipermudahkan
dilakukan dengan anestesi local atau umum
Status fisik
o Riwayat penyakit dan anestesia terdahulu. Untuk mengetahui apakah
pernah dioperasi dan anestesi. Dengan itu dapat mengetahui apakah ada
komplikasi anestesia dan pasca bedah.
o Gangguan fungsi kardiorespirasi berat sedapat mungkin dihindari
penggunaan anestesia umum.
o Pasien gelisah, tidak kooperatif, disorientasi dengan gangguan jiwa
sebaikmya dilakukan dengan anestesia umum.
o Pasien obesitas, bila disertai leher pendek dan besar, sering timbul
gangguan sumbatan jalan napas atas sesudah dilakukan induksi
anestesia. Pilihan anestesia adalah regional, spinal, atau anestesi umum
endotrakeal.

12
Posisi pembedahan
o Posisi seperti miring, tungkurap, duduk, atau litotomi memerlukan
anestesis umum endotrakea untuk menjamin ventilasi selama
pembedahan.demikian juga pembedahan yang berlangsung lama.
Keterampilan dan kebutuhan dokter pembedah
o Memilih obat dan teknik anestesi juga disesuaikan dengan keterampilan
dan kebutuhan dokter bedah antara lain teknik hipotensif untuk
mengurangi perdarahan, relaksasi otot pada laparotomi, pemakaian
adrenalin pada bedah plastik dan lain-lain.
Keterampilan dan pengalaman dokter anestesiologi
Keinginan pasien
Bahaya kebakaran dan ledakan
o Pemakaian obat anestesia yang tidak terbakar dan tidak eksplosif adalah
pilah utama pada pembedahan dengan alat elektrokauter.
Faktor-faktor yang mempengaruhi anestesi umum:
Faktor respirasi
Pada setiap inspirasi sejumlah zat anestesika akan masuk ke dalam paru-paru
(alveolus). Dalam alveolus akan dicapai suatu tekanan parsial tertentu. Kemudian
zat anestesika akan berdifusi melalui membrane alveolus. Epitel alveolus bukan
penghambat disfusi zat anestesika, sehingga tekanan parsial dalam alveolus sama
dengan tekanan parsial dalam arteri pulmonarsi. Hal- hal yang mempengaruhi hal
tersebut adalah:
Konsentrasi zat anestesika yang dihirup/ diinhalasi; makin tinggi
konsentrasinya, makin cepat naik tekanan parsial zat anestesika dalam
alveolus.
Ventilasi alveolus; makin tinggi ventilasi alveolus, makin cepat
meningginya tekanan parsial alveolus dan keadaan sebaliknya pada
hipoventilasi.

13
Faktor sirkulasi
Terdiri dari sirkulasi arterial dan sirkulasi vena
Factor-faktor yang mempengaruhi:
1. Perubahan tekanan parsial zat anestesika yang jenuh dalam alveolus dan
darah vena. Dalam sirkulasi, sebagian zat anestesika diserap jaringan dan
sebagian kembali melalui vena.
2. Koefisien partisi darah/ gas yaitu rasio konsentrasi zat anestesika dalam
darah terhadap konsentrasi dalam gas setelah keduanya dalam keadaan
seimbang.
3. Aliran darah, yaitu aliran darah paru dan curah jantung. Makin banyak
aliran darah yang melalui paru makin banyak zat anestesika yang
diambil dari alveolus, konsentrasi alveolus turun sehingga induksi
lambat dan makin lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat
anesthesia yang adekuat.

Faktor jaringan
1. Perbedaan tekanan parsial obat anestesika antara darah arteri dan
jaringan.
2. Koefisien partisi jaringan/darah: kira-kira 1,0 untuk sebagian besar zat
anestesika, kecuali halotan.
3. Aliran darah terdapat dalam 4 kelompok jaringan:
a) Jaringan kaya pembuluh darah (JKPD) : otak, jantung, hepar,
ginjal. Organ-organ ini menerima 70-75% curah jantung hingga
tekanan parsial zat anestesika ini meninggi dengan cepat dalam
organ-organ ini. Otak menerima 14% curah jantung.
b) Kelompok intermediate : otot skelet dan kulit.
c) Lemak : jaringan lemak
d) Jaringan sedikit pembuluh darah (JSPD) : relative tidak ada
aliran darah : ligament dan tendon.
Faktor zat anestesika
Bermacam-macam zat anestesika mempunyai potensi yang berbeda-beda. Untuk
menentukan derajata potensi ini dikenal adanya MAC (minimal alveolar
concentration atau konsentrasi alveolar minimal) yaitu konsentrasi terendah zat

14
anestesika dalam udara alveolus yang mampu mencegah terjadinya tanggapan
(respon) terhadap rangsang rasa sakit. Makin rendah nilai MAC, makin tinggi
potensi zat anestesika tersebut.

TAHAPAN TINDAKAN ANESTESI UMUM


I. Penilaian dan persiapan pra anestesia
Persiapan prabedah yang kurang memadai merupakan faktor terjadinya kecelakaan
dalam anestesia. Sebelum pasien dibedah sebaiknya dilakukan kunjungan pasien
terlebih dahulu sehingga pada waktu pasien dibedah pasien dalam keadaan bugar.
Tujuan dari kunjungan tersebut adalah untuk mengurangi angka kesakitan operasi,
mengurangi biaya operasi dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

I.1 Penilaian pra bedah


Anamnesis
Riwayat tentang apakah pasien pernah mendapat anestesia sebelumnya
sangatlah penting untuk mengetahui apakah ada hal-hal yang perlu mendapat
perhatian khusus,misalnya alergi, mual-muntah, nyeri otot, gatal-gatal atau sesak
nafas pasca bedah, sehingga dapat dirancang anestesia berikutnya dengan lebih
baik. Beberapa penelitit menganjurkan obat yang kiranya menimbulkan masalah
dimasa lampau sebaiknya jangan digunakan ulang, misalnya halotan jangan
digunakan ulang dalam waktu tiga bulan, suksinilkolin yang menimbulkan apnoe
berkepanjangan juga jangan diulang. Kebiasaan merokok sebaiknya dihentikan 1-2
hari sebelumnya
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan gigi-geligi, tindakan buka mulut, lidah relatif besar sangat penting
untuk diketahui apakah akan menyulitkan tindakan laringoskopi intubasi. Leher
pendek dan kaku juga akan menyulitkan laringoskopi intubasi.
Pemeriksaan rutin secara sistemik tentang keadaan umum tentu tidak boleh
dilewatkan seperti inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi semua system organ
tubuh pasien.
Pemeriksaan laboratorium
Uji laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai dengan dugaan
penyakit yang sedang dicurigai. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan

15
darah kecil (Hb, lekosit, masa perdarahan dan masa pembekuan) dan urinalisis.
Pada usia pasien diatas 50 tahun ada anjuran pemeriksaan EKG dan foto thoraks.
Kebugaran untuk anestesia
Pembedahan elektif boleh ditunda tanpa batas waktu untuk menyiapkan agar
pasien dalam keadaan bugar, sebaliknya pada operasi sito penundaan yang tidak
perlu harus dihindari.
Klasifikasi status fisik
Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik seseorang
adalah yang berasal dari The American Society of Anesthesiologists (ASA).
Klasifikasi fisik ini bukan alat prakiraan resiko anestesia, karena dampaksamping
anestesia tidak dapat dipisahkan dari dampak samping pembedahan.
ASA I : Pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, biokimia.
ASA II : Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang.
ASA III : Pasien dengan penyakit sistemik berat, sehingga aktivitas rutin terbatas.
ASA IV : Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat melakukan aktivitas
rutin dan penyakitnya merupakan ancaman kehidupannya setiap saat.
ASA V : Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa pembedahan
hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam.
Masukan oral
Refleks laring mengalami penurunan selama anestesia. Regurgitasi isi lambung dan
kotoran yang terdapat dalam jalan napas merupakan risiko utama pada pasien-
pasien yang menjalani anestesia. Untuk meminimalkan risiko tersebut, semua
pasien yang dijadwalkan untuk operasi elektif dengan anestesia harus dipantangkan
dari masukan oral (puasa) selamaperiode tertentu sebelum induksi anestesia.
Pada pasien dewasa umumnya puasa 6-8 jam, anak kecil 4-6 jam dan pada bayi 3-4
jam. Makanan tak berlemak diperbolehkan 5 jam sebeluminduksi anestesia.
Minuman bening, air putih teh manis sampai 3 jam dan untuk keperluan minumobat
air putih dalam jumlah terbatas boleh 1 jam sebelum induksi anestesia.
I.2 Premedikasi
Sebelum pasien diberi obat anestesia, langkah selanjutnya adalah dilakukan
premedikasi yaitu pemberian obat sebelum induksi anestesia diberi dengan tujuan
untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anestesi diantaranya:
1. Menimbulkan rasa nyaman bagi pasien
a. Menghilangkan rasa khawatir melalui:

16
i. Kunjungan pre anestesi
ii. Pengertian masalah yang dihadapi
iii. Keyakinan akan keberhasilan operasi
b. Memberikan ketenangan (sedative)
c. Membuat amnesia
d. Mengurangi rasa sakit (analgesic non/narkotik)
e. Mencegah mual dan muntah
2. Memudahkan atau memperlancar induksi
a. Pemberian hipnotik sedative atau narkotik
3. Mengurangi jumlah obat-obat anestesi
a. Pemberian hipnotik sedative atau narkotik
4. Menekan refleks-refleks yang tidak diinginkan (muntah/liur)
5. Mengurangi sekresi kelenjar saliva dan lambung
a. Pemberian antikolinergik atropine, primperan, rantin, H2
antagonis
6. Mengurangi rasa sakit
Waktu dan cara pemberian premedikasi:
Pemberian obat secara subkutan tidak akan efektif dalam1 jam, secara intramuscular
minimum harus ditunggu 40 menit. Pada kasus yang sangat darurat dengan waktu
tindakan pembedahan yang tidak pasti obat-obat dapat diberikan secara intravena.
Obat akan sangat efektif sebelum induksi. Bila pembedahan belum dimulai dalam
waktu 1 jam dianjurkan pemberian premedikasi intramuscular, subkutan tidak
dianjurkan. Semua obat premedikasi bila diberikan secara intravena dapat
menyebabkan sedikit hipotensi kecuali atropine dan hiosin. Hal ini dapat dikurangi
dengan pemberian secara perlahan-lahan dan diencerkan.
Obat-obat yang sering digunakan:
1. Analgesik narkotik
a. Petidin ( amp 2cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB
b. Morfin ( amp 2cc = 10 mg), dosis 0,1 mg/kgBB
c. Fentanyl ( fl 10cc = 500 mg), dosis 1-3gr/kgBB
2. Analgesik non narkotik
a. Ponstan
b. Tramol
c. Toradon

17
3. Hipnotik
a. Ketamin ( fl 10cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB
b. Pentotal (amp 1cc = 1000 mg), dosis 4-6 mg/kgBB
4. Sedatif
a. Diazepam/valium/stesolid ( amp 2cc = 10mg), dosis 0,1
mg/kgBB
b. Midazolam/dormicum (amp 5cc/3cc = 15 mg),dosis 0,1mg/kgBB
c. Propofol/recofol/diprivan (amp 20cc = 200 mg), dosis 2,5
mg/kgBB
d. Dehydrobenzperidon/DBP (amp 2cc = 5 mg), dosis 0,1 mg/kgBB
5. Anti emetic
a. Sulfas atropine (anti kolinergik) (amp 1cc = 0,25 mg),dosis 0,001
mg/kgBB
b. DBP
c. Narfoz, rantin, primperan.

II. INDUKSI ANASTESI


Merupakan tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi tidak sadar,
sehingga memungkinkan dimulainya anestesi dan pembedahan. Induksi dapat
dikerjakan secara intravena, inhalasi, intramuscular atau rectal. Setelah pasien tidur
akibat induksi anestesia langsung dilanjutkan dengan pemeliharaan anestesia sampai
tindakan pembedahan selesai.
Untuk persiapan induksi anestesi diperlukan STATICS:
S : Scope Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung. Laringo-
Scope, pilih bilah atau daun (blade) yang sesuai dengan usia pasien. Lampu harus
cukup terang.
T : Tube Pipa trakea.pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun tanpa balon (cuffed) dan
> 5 tahun dengan balon (cuffed).
A : Airway Pipa mulut faring (Guedel, orotracheal airway) atau pipa hidung-
faring (naso-tracheal airway). Pipa ini untuk menahan lidah saat pasien tidak sadar
untuk menjaga supaya lidah tidak menyumbat jalan napas.
T : Tape Plester untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau tercabut.
I : Introducer Mandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastic (kabel) yang
mudah dibengkokan untuk pemandu supaya pipa trakea mudah dimasukkan.

18
C : Connector Penyambung antara pipa dan peralatan anestesia
S : Suction penyedot lender, ludah danlain-lainnya.
Induksi intravena
o Paling banyak dikerjakan dan digemari. Indksi intravena dikerjakan
dengan hati-hati, perlahan-lahan, lembut dan terkendali. Obat induksi
bolus disuntikan dalam kecepatan antara 30-60 detik. Selama induksi
anestesi, pernapasan pasien, nadi dan tekanan darah harsu diawasi
dan selalu diberikan oksigen. Dikerjakan pada pasien yang
kooperatif.
o Obat-obat induksi intravena:
Tiopental (pentotal, tiopenton) amp 500 mg atau 1000
mg
sebelum digunakan dilarutkan dalam akuades steril sampai kepekatan 2,5% ( 1ml =
25mg). hanya boleh digunakan untuk intravena dengan dosis 3-7 mg/kg disuntikan
perlahan-lahan dihabiskan dalam 30-60 detik.
Bergantung dosis dan kecepatan suntikan tiopental akan menyebabkan pasien
berada dalam keadaan sedasi, hypnosis, anestesia atau depresi napas. Tiopental
menurunkan aliran darah otak, tekanan likuor, tekanan intracranial dan diguda dapat
melindungi otak akibat kekurangan O2 . Dosis rendah bersifat anti-analgesi.
Propofol (diprivan, recofol)
Dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu bersifat isotonic dengan
kepekatan 1% (1ml = 1o mg). suntikan intravena sering menyebabkan nyeri,
sehingga beberapa detik sebelumnya dapat diberikan lidokain 1-2 mg/kg intravena.
Dosis bolus untuk induksi 2-2,5 mg/kg, dosis rumatan untuk anestesia intravena
total 4-12 mg/kg/jam dan dosis sedasi untuk perawatan intensif 0.2 mg/kg.
pengenceran hanya boleh dengan dekstrosa 5%. Tidak dianjurkan untuk anak < 3
tahun dan pada wanita hamil.

Ketamin (ketalar)
Kurang digemari karena sering menimbulkan takikardia, hipertensi, hipersalivasi,
nyeri kepala, pasca anestesia dapat menimbulkan mual-muntah, pandangan kabur
dan mimpi buruk. Sebelum pemberian sebaiknya diberikan sedasi midazolam
(dormikum) atau diazepam (valium) dengan dosis0,1 mg/kg intravena dan untuk
mengurangi salvias diberikan sulfas atropin 0,01 mg/kg.
19
Dosis bolus 1-2 mg/kg dan untuk intramuscular 3-10 mg. ketamin dikemas dalam
cairan bening kepekatan 1% (1ml = 10mg), 5% (1 ml = 50 mg), 10% ( 1ml = 100
mg).

Opioid (morfin, petidin, fentanil, sufentanil)


Diberikan dosis tinggi. Tidak menggaggu kardiovaskular, sehingga banyak
digunakan untuk induksi pasien dengan kelianan jantung. Untuk anestesia opioid
digunakan fentanil dosis 20-50 mg/kg dilanjutkan dosis rumatan 0,3-1 mg/kg/menit.

Induksi intramuscular
Sampai sekarang hanya ketamin (ketalar) yang dapat diberikan secara
intramuskulardengan dosis 5-7 mg/kgBB dan setelah 3-5 menit pasien tidur.

Induksi inhalasi
o N2O (gas gelak, laughing gas, nitrous oxide, dinitrogen
monoksida) berbentuk gas, tak berwarna, bau manis, tak iritasi, tak
terbakar dan beratnya 1,5 kali berat udara. Pemberian harus disertai
O2 minimal 25%. Bersifat anastetik lemah, analgesinya kuat,
sehingga sering digunakan untuk mengurangi nyeri menjelang
persalinan. Pada anestesi inhalasi jarang digunakan sendirian, tapi
dikombinasi dengan salah satu cairan anastetik lain seperti halotan.

Halotan (fluotan)
Sebagai induksi juga untuk laringoskop intubasi, asalkan anestesinya cukup dalam,
stabil dan sebelum tindakan diberikan analgesi semprot lidokain 4% atau 10%
sekitar faring laring.
Kelebihan dosis menyebabkan depresi napas, menurunnya tonus simpatis, terjadi
hipotensi, bradikardi, vasodilatasi perifer, depresi vasomotor, depresi miokard, dan
inhibisi refleks baroreseptor. Merupakan analgesi lemah, anestesi kuat. Halotan
menghambat pelepasan insulin sehingga mininggikan kadar gula darah.

Enfluran (etran, aliran)

20
Efek depresi napas lebih kuat dibanding halotan dan enfluran lebih iritatif
disbanding halotan. Depresi terhadap sirkulasi lebih kuat dibanding halotan, tetapi
lebih jarang menimbulkan aritmia. Efek relaksasi terhadap otot lurik lebih baik
disbanding halotan.

Isofluran (foran, aeran)


Meninggikan aliran darah otak dan tekanan intracranial. Peninggian aliran darah
otak dan tekanan intracranial dapat dikurangi dengan teknik anestesi hiperventilasi,
sehingga isofluran banyak digunakan untuk bedah otak.
Efek terhadap depresi jantung dan curah jantung minimal, sehingga digemari untuk
anestesi teknik hipotensi dan banyak digunakan pada pasien dengan gangguan
koroner.

Desfluran (suprane)
Sangat mudah menguap. Potensinya rendah (MAC 6.0%), bersifat simpatomimetik
menyebabkan takikardi dan hipertensi. Efek depresi napasnya seperti isofluran dan
etran. Merangsang jalan napas atas sehingga tidak digunakan untuk induksi anestesi.
Sevofluran (ultane)
Induksi dan pulih dari anestesi lebih cepat dibandingkan isofluran. Baunya tidak
menyengat dan tidak merangsang jalan napas, sehingga digemari untuk induksi
anestesi inhalasi disamping halotan.
Induksi per rectal
Cara ini hanya untuk anak atau bayi menggunakan thiopental atau midazolam.

Induksi mencuri
Dilakukan pada anak atau bayi yang sedang tidur. Induksi inhalasi biasa hanya
sungkup muka tidak kita tempelkan pada muka pasien, tetapi kita berikan jarak
beberapa sentimeter, sampai pasien tertidur baru sungkup muka kita tempelkan.
Pelumpuh otot nondepolarisasi Tracurium 20 mg (Antracurium)
o Berikatan dengan reseptor nikotinik-kolinergik, tetapi tidak
menyebabkna depolarisasi, hanya menghalangi asetilkolin
menempatinya, sehingga asetilkolin tidak dapat bekerja.

21
o Dosis awal 0,5-0,6 mg/kgBB, dosis rumatan 0,1 mg/kgBB, durasi
selama 20-45 menit, kecepatan efek kerjanya -2 menit.
o Tanda-tanda kekurangan pelumpuh otot:
Cegukan (hiccup)
Dinding perut kaku
Ada tahanan pada inflasi paru

22
BAB II
KESIMPULAN

Anestesi umum adalah tindakan untuk menghilangkan nyeri secara sentral disertai
dengan hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali atau reversible. Anestesi
memungkinkan pasien untuk mentoleransi prosedur bedah yang akan menimbulkan
sakit yang tak tertahankan, mempotensiasi eksaserbasi fisiologis yang ekstrim, dan
menghasilkan kenangan yang tidak menyenangkan.
Obat anestesi yang baik harus memenuhi trias anestesi yaitu, efek hipnotik, efek
analgesia dan efek relaksasi otot. Akan tetapi, dari berbagai obat anestesi hanya eter
yang memiliki trias anestesia. Karena anestesi modern saat ini menggunakan obat-obat
selain eter, maka anestesi diperoleh dengan menggabungkan berbagai macam obat.
Pada pasien ini digunakan anestesi umum, di khawatirkan jika menggunakan anestesi
lokal (pentokain) pasien tidak kooperatif.

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Edisi
kedua. Jakarta: FKUI.2012
2. General Anesthesia. Accessed on March 29 2013. Available at
http://www.mayoclinic.com/health/anesthesia/MY00100
3. Muhiman M, Latief SA, Basuki G. Anestesiologi. Jakarta: Bagian Anestesiologi
dan terapi Intensif FKUI.
4. Anestesi Umum. Accessed on July 29 2015. Available at
http://www.scribd.com/doc/94016793/ANESTESI-UMUM.
5. Ilyas Sidarta H: Ikhtisar Ilmu Penyakit Mata. Balai Penerbit FKUI.
Jakarta.2009. Hal 28-29.
6. Kanski JJ. 2009. Clinical Ophthalmology A Synopsis. Butterworth-Heinemann,
Boston.
7. Santen S. Chalazion. Available at : www.emedicine.com. 2010. Diakses 31
januari 2013
8. Wessels IF. Chalazion. Available at : www.emedicine.com. Last Updated : 23
September 2002. Diakses 6 November 2015

24