Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN DAN RESUME KEPERAWATAN GAWAT

DARURAT PADA PASIEN DENGAN CHEST PAIN DI INSTALASI GAWAT


DARURAT RSUD dr. SOEHADI PRIJONEGORO SRAGEN

Disusun Guna Memenuhi Tugas Stase Keperawatan Gawat Darurat

Di Susun Oleh :

Millatul Khoiriyah

24.16.0918

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

SURYA GLOBAL YOGYAKARTA

2017

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

SURYA GLOBAL YOGYAKARTA

HALAMAN PENGESAHAN
Telah disahkan Laporan Pendahuluan dan Resume Keperawatan Gawat Darurat
Pada Pasien Dengan Chest Pain Di Instalasi Gawat Darurat RSUD dr. Soehadi
Prijonegoro Sragen Guna Memenuhi Tugas Stase Keperawatan Gawat Darurat
Program Pendidikan Profesi Ners STIKES Surya Global Yogyakarta tahun 2017.

Sragen, Mei 2017

Mahasiswa

Millatul Khoiriyah

Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

Suib, S. Kep., Ns., CWCS., M. Kep Untung Budi Sudono, S. ST

LAPORAN PENDAHULUAN CHEST PAIN

A; Pengertian
Nyeri dada adalah perasaan nyeri / tidak enak yang mengganggu
daerah dada dan seringkali merupakan rasa nyeri yang diproyeksikan pada
dinding dada (referred pain).
Nyeri Coroner adalah rasa sakit akibat terjadinya iskemik miokard
karena suplai aliran darah koroner yang pada suatu saat tidak mencukupi
untuk kebutuhan metabolisme miokard.
Nyeri dada akibat penyakit paru misalnya radang pleura (pleuritis)
karena lapisan paru saja yang bisa merupakan sumber rasa sakit, sedang
pleura viseralis dan parenkim paru tidak menimbulkan rasa sakit (Himawan,
1996)

B; Etiologi
Nyeri dada dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu :
1; Nyeri dada pleuritik
Nyeri dada pleuritik biasanya lokasinya posterior atau lateral. Sifatnya
tajam dan seperti ditusuk. Bertambahnya nyeri bila batuk atau bernafas
dalam dan berkurang bila menahan nafas atau sisi dada yang di gerakan.
Nyeri berasal dari dinding dada, otot, iga, pleura perietalis, saluran nafas
besar, diafragma, mediastinum dan saraf interkostal. Nyeri dada pleuritik
dapat di sebabkan oleh difusi pleura akibat infeksi paru, emboli paru,
keganasan atau radang sub diafragmatik peneumotoraks dan
penumomediastinum.
2; Nyeri dada non pleuretik
Nyeri dada non pleuretik biasanya lokasinya sentral, menetap atau dapat
menyebar ke tempat lain. Paling sering disebabkan oleh kelainan di luar
paru :
a; Kardial
1; Iskemik miokard akan menimbulkan rasa tertekan atau nyeri
subternal yang menjalar ke aksila dan turun ke bawah ke bagian
dalam lengan terutama lebih sering ke lengan kiri. Rasa nyeri juga
dapat menjalar ke epigasterium, leher, rahang, lidah, gigi, mastoid
dengan atau tanpa nyeri dada subternal. Nyeri disebabkan karena
saraf eferan viseral akan terangsang selama iskemik miokard, akan
tetapi korteks serebral tidak dapat menentukan apakah nyeri
berasal dari miokard. Karena rangsangan saraf melalui spedula
spinalis T1-T4 yang juga merupakan jalannya rangsangan saraf
sensoris dari sistem somatis yang lain. Iskemik miokard terjadi bila
kebutuhan O2 miokard tidak dapat dipenuhi oleh aliran darah
koroner. Pada penyakit jantung koroner aliran darah ke jantung
akan berkurang karena ada pemyempitan pembuluh darah koroner.
Ada 3 sindrom iskemik yaitu :
a; Angina stabil (angina klasik, angina of effort)
Serangan nyeri dada khas yang timbul waktu bekerja.
Berlangsung hanya beberapa menit dan menghilang dengan
nitrogliserin atau istirahat. Nyeri dada dapat timbul setelah
makan, pada udara dingin, reaksi simfatis yang berlebihan atau
gangguan emosi.
b; Angina tak stabil (angina preinfard, insufisiensi koroner akut)
Jenis angina ini dicurigai bila penderita sering kali mengeluh
rasa nyeri di dada yang timbul waktu istirahat atau saat kerja
ringan dan berlangsung lebih lama.
c; Infark miokard
Iskemik miokard yang berlangsung lebih dari 20-30 menit
dapat menyebabkan infark miokard. Nyeri dada berlangsung
lebih lama, menjalar ke bahu kiri, lengan dan rahang. Berbeda
dengan angina pektoris, timbulnya nyeri dada tidak ada
hubungannya dengan aktivitas fisik dan bila tidak diobati
berlangsung dalam beberapa jam. Disamping itu juga penderita
mengeluh dispea, pelpitasi dan berkeringat. Diagnosa
ditegakan berdasarkan serioal EKG dan pemeriksa enzim
jantung.
2; Prolaps katup mitral dapat menyebabkan nyeri dada prekordinal
atau substernal yang dapat berlangsung sebentar maupun lama.
Adapun mumur akhir sistolik dan midsistolik-click dengan
gambaran echokardiogram dapat membantu menegakan diagnosa.
3; Stenosis Aorta Berat atau substenosis aorta hipertrofi yang
idiopatik juga dapat menimbulkan nyeri dada iskemik.
b; Perikardial
Saraf sensori untuk nyeri terdapat pada perikardium parietalis diatas
diafragma. Nyeri perikardial lokasinya didaerah sternal dan diarea
preokardinal, tetapi dapat menyebar ke epigastrium, leher, bahu, dan
punggung. Nyeri biasanya seperti ditusuk-tusuk dan timbul pada aktu
menarik nafas dalam, menelan, miring atau bergerak.

C; Manifestasi Klinik
Tanda dan gejala yang biasa menyertai nyeri dada adalah :
1; Nyeri ulu hati
2; Sakit kepala
3; Nyeri yang diproyeksikan ke lengan, leher, punggung
4; Diaforesis / keringat dingin
5; Sesak nafas
6; Takikardi
7; Kulit pucat
8; Sulit tidur (insomnia)
9; Mual, Muntah, Anoreksia
10; Cemas, gelisah, fokus pada diri sendiri
11; Kelemahan
12; Wajah tegang, merintih, menangis
13; Perubahan kesadaran

D; Patofisiologi
Terjadi penonjolan sistolik atau diskinesia dengan akibat penurunan ejection
fraction isi sekuncup atau stroke volume akhir distolik ventrikel kiri. Tekanan
akhir diastolic ventrikel kiri naik dengan akibat tekanan atrium kiri juga naik
peningkatan tekanan atrium kiri diatas 25mmHg yang lama yang akan
menyebabkan transfudasi cairan ke jaringan intersitisium paru (gagal jantung)
pemburukan hemodinamik ini bukan saja disebabkan karena daerah infark,
tapi juga daerah iskemik di sekitarnya. Miokard yang masih relative baik akan
mengadakan konspensasi khusunya dengan bantuan rangsangan andrenergae
untuk mempertahankan curah jantung tetapi dengan akibat peningkatan
kebutuhan oksigen miokard konpensasi ini jelas tidak akan memadai bila
daerah yang bersangkutan juga mengalami iskemia atau bahkan sudah fibritik.
Bila infark kecil dan miokard yang harus berkompensasi masih normal,
pemburukan hemodinamik akan minimal sebaliknya bila infark luas dan
miokard yang harus berkompensasi sudah buruk akibat iskemia atau infark
lama. Tekanan akhir diastolic ventrikel kiri akan naik dan gagal jantung terjadi
sebagai akibat sering terjadi perubahan bentuk serta ukuran ventrikel kiri dan
tebal jantung ventrikel baik yang terkena infark maupun non infark.
Perubahan tersebut menyebabkan remodeling ventrikel yang nantinya akan
mempengaruhi fungsi ventrikel dan timbulnya aritmia.
Perubahan-perubahan hemodinamik ini tidak setatis bila makin tenang
fungsi jantung akan membaik walaupun tidak di obati. Hal ini di sebabkan
karena daerah-daerah yang tadinya iskemik mengalami perbaikan daerah
diskinetik akan menjadi akinetik karena terbentuk jaringan parut yang kaku.
Miokard sehat dapat pula mengalami hipertropi sebaliknya perburukan
himodinamik akan terjadi iskemia berkepanjangan atau infark meluas.
Terjadinya penyulit mekanis seperti rupture septum ventrikel, regurgitasi
mitral akut dan anorisma ventrikel akan memperburuk vaal hemodinamik
jantung.
Aritmia merupakan penyulit tersering dan terjadi terutama pada menit-
menit atau jam-jam pertama setelah serangan. Hal ini disebabkan oleh
perubahan-perubahan masa refakter, daya hantar dan kepekaan terhadap
rangsangan.
E; Path Way

Terjadi penonjolan sistolik atau dyskinesia

Stroke volume akhir distolik ventrikel kiri

Transfudasi cairan ke jaringan interstisium paru (gagal jantung)

Peningkatan kebutuhan
O2 miokard Iskemia

Penurunan aliran darah


Kompensasi miokard buruk

Intoleransi aktivitas Iskemia berkepanjangan


Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer

Infark miokard meluas

F; Pemeriksaan penunjang
1; EKG 12 lead selama episode
Nyerinyeri
akut
a; Kaki kardi atau disritmia
b; Rekam EKG lengkap: T inverted, ST elevasi/depresi, Q patologi
c; Pemeriksaan darah rutin, kadar glukosa, lipit dan EKG waktu istirahat
perlu di lalukan. Hasilnya mungkinsaja normal walaupun ada penyakit
jantung koroner yang berat. EKG bisa di dapatkan gambaran iskemik
dengan infakmiokard lama atau depresi ST dan T yang terbalik pada
penyakit yang lanjut.
2; Laboratorium
a; Kadar enzim jantung : CK, CKMB
b; Fungsi hati : SGOT, SGPT
c; Fungsi ginjal : ureum, kreatinin
d; Profilipid : LDL, HDL
e; Kateterisasi jantung
3; Foto thorax
4; Ecocardiogram

G; Penatalaksanaan
1; Nitrat
Nitrat meningkatkan pemberian D2 miokard dengan dilatasi arteri
epikardial tanpa mempengaruhi, resistensi arteriol arteri intramiokard.
2; Beta Bloker
Beta bloker tetap merupakan pengobatan utama karena pada sebagian
besar penderita akan mengurangi keluhan angina
3; Ca-antagonis
Kerjanya mengurangi beban jantung dan menghilangkan spasme koroner,
penderita akan mengurangi keluhan angina.
4; Antipletelet dan antikoagulen
Segi lain dari pengobatan angina adalah pemberian antipletelet dan anti
koagulan.

H; Pengkajian
1; Pengkajian Primer
a; Airway
1; Bagaimana kepatenan jalan nafas
2; Apakah ada sumbatan / penumpukan sekret di jalan nafas?
3; Bagaimana bunyi nafasnya, apakah ada bunyi nafas tambahan
b; Breathing
1; Bagaimana pola nafasnya ? Frekuensinya? Kedalaman dan
iramanya?
2; Apakah menggunakan otot bantu pernafasan?
3; Apakah ada bunyi nafas tambahan?
c; Circulation
1; Bagaimana dengan nadi perifer dan nadi karotis? Kualitas (isi dan
tegangan).
2; Bagaimana Capillary refillnya, apakah ada akral dingin, sianosis
atau oliguri?
3; Apakah ada penurunan kesadaran?
4; Bagaimana tanda-tanda vitalnya ? T, S, N, RR, HR
2; Pengkajian Sekunder
Hal-hal penting yang perlu dikaji lebih jauh pada nyeri dada (koroner) :
a; Lokasi nyeri
Dimana tempat mulainya, penjalarannya (nyeri dada koroner : mulai
dari sternal menjalar ke leher, dagu atau bahu sampai lengan kiri
bagian ulna)
b; Sifat nyeri
Perasaan penuh, rasa berat seperti kejang, meremas, menusuk,
mencekik/rasa terbakar, dll.
c; Ciri rasa nyeri
Derajat nyeri, lamanya, berapa kali timbul dalam jangka waktu
tertentu.
d; Kronologis nyeri
Awal timbul nyeri serta perkembangannya secara berurutan
e; Keadaan pada waktu serangan
Apakah timbul pada saat-saat / kondisi tertentu
f; Faktor yang memperkuat / meringankan rasa nyeri misalnya
sikap/posisi tubuh, pergerakan, tekanan, dll.
g; Gejala lain yang mungkin ada atau tidaknya hubungan dengan nyeri
dada.
3; Diagnosa Keperawatan
1; Nyeri akut
2; Ketidakefektifan perfusi jaringan
3; Intoleransi aktivitas

4; Intervensi Keperawatan

No Diagnosa NOC NIC

1. Ketidakefektifan Perfusi jaringan: perifer (0407) Perawatan gawat darurat (6200)


perfusi jaringan 1; Pantau tanda-tanda vital
Setelah dilakukan tindakan 2; Periksa tanda dan gejala
perifer
keperawatan selama 1x60 menit serangan jantung
3; Pantau tingkat kesadaran
diharapkan ketidakefektifan
4; Berikan obat sesuai kebutuhan
perfusi jaringan perifer teratasi
dengan kriteria hasil :
040727 - tekanan darah sistolik
040727 - tekanan darah
diastolic
040741 - mati rasa
040744 kelemahan otot
040748 - parestesia

2. Nyeri akut Kontrol nyeri (1605) Manajemen nyeri (1400)


Setelah dilakukan tindakan 1; Lakukan pengkajian nyeri
keperawatan selama 1x60 menit komprehensif.
2; Observasi adanya petunjuk
diharapkan nyeri akut teratasi
nonverbal mengenai
dengan kriteria hasil :
160507 melaporkan gejala ketidaknyamanan
3; Ajarkan prinsip-prinsip
yang tidak terkontrol pada
manajemen nyeri.
professional kesehatan
4; Berikan analgetik sesuai
160511 melaporkan nyeri
indikasi
yang terkontrol
160505 menggunakan
analgetik yang
direkomendasikan

3. Intoleransi Toleransi terhadap aktivitasPerawatan jantung: rehabilitasi (4046)


1; Monitor toleransi pasien
aktivitas (0005)
Setelah dilakukan tindakan terhadap aktivitas
2; Koordinasikan rujukan pasien
keperawatan diharapkan
3; Berikan dukungan yang
intoleransi aktivitas teratasi
realistis pada pasien dan
dengan kriteria hasil :
keluarga
000506 temuan/hasil EKG
4; Instruksikan pasien dan
(elektrokardiogram).
keluarga mengenai resep yang
000507 warna kulit
tepat

DAFTAR PUSTAKA

Butcher, Bulechek. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC) Edisi 6. Elsevier


Global Rights
HudaK & Gallo. 1995. Keperawatan Kritis. cetakan I. EGC, Jakarta
Johnson, Moerhead. 2013. Nursing Outcome Classification (NOC) Edisi 5. Elsevier
Global Rights
Musliha, Keperawatan Gawat Darurat Plus Contoh Askep dengan pendekatan Nanda,
NIC, NOC, 2010. Nuha Medika. Yogyakarta
Nanda International. 2015. Diagnosis Keperawatan Edisi 10. Penerbit buku
kedokteran Jakarta : EGC
Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4,
EGC, Jakarta
Soeparman & Waspadji (1990), Ilmu Penyakit Dalam, BP FKUI, Jakarta