Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ANALITIK
KOMPLEKSOMETRI

Oleh:
KELOMPOK 10

1. Ferrari Julian M (H0916034)


2. Gerald Isaac C (H0916038)
3. Herdina Dwi R (H0916044)
4. Monika Vania D (H0916055)
5. Alfian Nurdin (H1916003)
6. Moh. Luthfi I (H1916018)

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2017
ACARA II
KOMPLEKSOMETRI

A. Tujuan
Tujuan dari praktikum Acara II Kompleksometri adalah sebagai berikut :
1. Mahasiswa mampu melakukan titrasi dengan cara kompleksometri.
2. Mahasiswa mampu menghitung besar dan tingkat kesadahan air dari suatu
sampel air dengan larutan Na2EDTA dan indikator EBT.
B. Tinjauan Pustaka
Air merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi semua
mahluk hidup. Manusia dalam kehidupan sehari-hari memerlukan air untuk
berbagai keperluan mulai dari air minum, mencuci, mandi, dan kegiatan-
kegiatan vital lainnya. Sehingga pengelolaan air menjadi pertimbangan yang
utama untuk menentukan apakah sumber air yang telah diolah menjadi
sumber air yang dapat digunakan atau tidak. Kualitas air yang baik
ditentukan dari beberapa parameter diantaranya parameter fisika, kimia, dan
biologi. Salah satu parameter kimia yang menentukan kualitas air yang baik
adalah kandungan garam mineral. Kandungan garam mineral dalam air tanah
berbeda-beda dari satu daerah dengan daerah lainnya. Hal ini disebabkan
karena lapisan tanah yang berbeda pada setiap daerah. Salah satu contohnya,
air tanah di daerah tanah berkapur memiliki kandungan garam mineral
Ca(HCO3)2 dan Mg(HCO3)2 yang tinggi. Akibat tingginya kandungan garam
mineral Ca(HCO3)2 dan Mg(HCO3)2 sehingga menyebabkan kesadahan air.
Kesadahan air digunakan untuk menunjukkan kandungan garam kalsium dan
magnesium yang terlarut dalam air yang dinyatakan dalam (mg/L) kalsium
karbonat (Megawati, 2013).
Pelunakan air adalah proses pengambilan atau pengurangan
kandungan mineral penyebab kesadahan. Seperti telah disebutkan
sebelumnya, bahwa mineral-mineral adalah penyebab kesadahan air terutama
garam-garam kalsium atau magnesium bikarbonat, kalsium atau magnesium
sulfat, serta kalsium atau magnesium klorida. Berbagai cara pelunakan air
dapat dilakukan seperti proses kapur soda abu (lime soda ash softening),
proses zeolit, dan proses resin organic. Bikarbonat yang larut dan garam
sulfat dapat dipisahkan dengan mngubahnya menjadi bentuk yang tidak larut
dengan cara proses kapur soda abu. Pada proses zeolit ion kalsium dan
magnesium diganti dengan ion natrium sehingga terbentuk garam yang tidak
dapat menyebabkan kesadahan air. Dan dengan proses resin organik, garam-
garam terlarut praktis seluruhnya dapat dihilangkan (Winarno, 1986).
Ligan adalah spesies yang memiliki atom (atau atom-atom) yang
dapat menyumbangkan sepasang elektron pada ion logam pusat pada tempat
tertentu dalam lengkung koordinasi. Sehingga ligan merupakan basa Lewis
dan ion logam adalah asam Lewis. Jika ligan ini hanya dapat
menyumbangkan sepasang elektron (misalnya NH3 melalui atom N) disebut
ligan unidentat. Ligan ini mungkin merupakan anion monoatomik (tetapi
bukan atom netral) seperti ion halida, anion poliatomik seperti NO2-, molekul
sederhana seperti NH3, atau molekul kompleks seperti piridin C H N
(Petrucci, 2002).
Salah satu metode yang di pakai untuk penetapan kadar logam adalah
kompleksometri. Metode ini didasarkan atas pembentukan senyawa komplek
antara logam dengan zat pembentuk komplek. Sebagai zat pembentuk
kompleks yang banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah
garam dinatrium etilen diamina tetra asetat (dinatrium EDTA). Kestabilan
dari senyawa komplek yang terbentuk tergantung dari sifat kation dan pH
dari larutan, sehingga titrasi harus dilakukan pada pH tertentu. Untuk
menetapkan titik akhir titrasi (TAT) digunakan indikator logam, yaitu
indikator yang dapat membentuk senyawa kompleks dengan ion logam
(Triwahyuni, 2008).
Beberapa pereaksi pembentuk khelat yang mengandung oksigen
maupun nitrogen terutama efektif dalam pembentukan kompleks stabil
dengan berbagai logam. Dari ini yang terkenal ialah asam etilen diamin tetra
asetat, kadang-kadang dinyatakan asam (etilen dinitrilo) tetra asetat, dan
sering disingkat EDTA. Istilah chelon telah disarankan sebagai nama umum
untuk seluruh golongan pereaksi, termasuk poliamin seperti trien, asam
poliamino karboksilat seperti EDTA, dan senyawa sejenis yang membentuk
kompleks 1 : 1 dengan ion logam., larut dalam air dan karenanya dapat
dipergunakan sebagai titran logam. Kompleksnya suatu golongan khelat yang
istimewa, disebut kilonat logam dan titrasinya disebut titrasi khelometrik.
EDTA merupakan ligan seksidentat yang berpotensi yang dapat berkoordinasi
dengan ion logam dengan pertolongan kedua nitrogen dan empat gugus
karboksil (Day dan Underwood, 1980).
Titrasi kompleksometri digunakan untuk menentukan secara
kuantitatif gugus karboksilat yang ada dalam protein guna resin (GPR).
Metode ini cukup sensitif untuk mendeteksi perubahan kecil dalam jumlah
kelompok fungsional protein. Berbagai konsentrasi sampel yang digunakan
menunjukkan bahwa mereka mengandung mayoritas tetra fungsional konten
karboksilat. Variasi hasil berasal dari peningkatan konsentrasi sampel dalam
penyelidikan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan dengan jelas bahwa
titrasi kompleksometri adalah alat yang sangat baik untuk penentuan kadar
karboksilat sampel protein. Perubahan kecil dalam isi karboksilat juga
terdeteksi (Hamidu, 2012).
Kompleksometri adalah metode yang sangat berguna untuk penentuan
dalam banyak logam hadir dalam berbagai kombinasi. Literatur
menunjukkan bahwa analisis bahan tersebut didasarkan pada pemisahan.
Kompleksometri biasa menggunakan EDTA, kolorimetri atau pendekatan
polarographic. Dalam sebuah penelitian kompleksasi logam dengan EDTA
dilakukan pada pH yang lebih tinggi dan pada suhu yang lebih rendah
(Kayal, 2008).
EBT adalah indikator metallochromic yang banyak digunakan dalam
titrasi kompleksometri. Adalah jenis elektroaktif dengan kelompok azo
(N=N-) dalam struktur molekul yang ditunjukkan. Kelompok azo mudah
direduksi pada elektroda pasta karbon dengan voltametri siklik.
Voltamogram siklik dari 2x10-3 M EBT tercatat di 80X10-3. Berbagai siklus
diterapkan, yang menghasilkan penurunan puncak sangat reduktif saat ini
dengan peningkatan pemindaian siklus. Ini adalah karakteristik adsorpsi
yang kuat perilaku EBT pada elektroda pasta karbon (Chandra, et.al., 2008).
Eriochrome Black T (EBT) dari larutan air adalah biosorben murah,
alami dan ramah lingkungan, Scolymus hispanicus L., sebagai alternatif
metode untuk menghapus pewarna dari air limbah. Penelitian ini dilakukan
di bawah berbagai parameter, seperti ukuran rata-rata partikel biosorben,
pH, dosis, biosorben, waktu kontak, konsentrasi pewarna awal dan suhu.
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa persentase biosorpsi meningkat
dengan peningkatan dosis biosorben dan penurunan ukuran partikel.
Biosorpsi maksimum terjadi pada nilai pH untuk 3 untuk Eriochrome Black
T (Barka, 2011).
Kesadahan pada air dapat dibagi menjadi kesadahan tetap dan
kesadahan sementara.Kesadahan tetap disebabkan oleh adanya kalsium atau
magnesium sulfat sedangkan kesadahan sementara disebabkan oleh adanya
ionion kalsium dan bikarbonat dalam air. Kadar kesadahan air ini berbeda
beda di masingmasing tempat tergantung pada kondisi tanah daerah
tersebut.Kesadahan dalam air menunjukkan bahwa terjadi kontak antara
formasi geologi dengan badan air tersebut. Kadar maksimum kesadahan air
yang sesuai dengan Permenkes RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang
syarat-syarat pengawasan kualitas air bersih adalah 500 mg/L. Apabila
kadar kesadahan air melewati batas maksimum, maka perlu diturunkan
kadarnya yang biasa disebut dengan pelunakan air (water softening)
(Ningtyas dkk, 2014).
C. Metodologi
1. Alat
a. Beker glass
b. Corong
c. Erlenmeyer
d. Pipet tetes
e. Pipet volume
2. Bahan
a. Indikator EBT
b. Larutan buffer pH 10
c. Larutan Na2EDTA

d. Sampel air sumur


3. Cara Kerja

25 ml contoh air

Dimasukkan dalam erlenmeyer

2,5 ml larutan buffer pH 10


Dihomogenkan

2-3 tetes indikator EBT Ditambahkan hingga warna larutan menjadi merah anggur (warna awal)

Dititrasi menggunakan larutan Na2EDTA 0,05 M hingga berwarna biru

Dihitung tingkat kesadahan airnya dengan rumus:


Kesadahan Air = x (ml x M) Na2EDTA x 2,8 DH
D. Hasil dan Pembahasan
Tabel 2.1 Hasil Pengujian Kesadahan Air pada Sampel Air dari Beberapa
Daerah
Vol. M Vol Kesadahan
Ke Perubahan Tingkat
Wilayah Sampel Na2 Na2 Air
l Warna Kesadahan
(ml) EDTA EDTA (DH)
Sangat
1 Masjid FP 25 0,05 25 140 Tidak berubah
keras
Sangat
2 Kp. Sewu 25 0,05 30 168 Ungu keruh
keras
Sangat
3 Sekarpace 25 0,05 25 140 Tidak berubah
keras
Sangat
4 Gang tejo 25 0,05 25 140 Tidak berubah
keras
Karang Sangat
5 25 0,05 19,5 109,2 Ungu muda
lojo keras
6 Ngoresan 25 0,05 1,4 7,84 Semburat biru Lunak
Pucang Sangat
7 25 0,05 25 140 Tidak berubah
sawit keras
Pucang Sangat
8 25 0,05 25 140 Tidak berubah
sawit keras
Sangat
9 Sukaharjo 25 0,05 25 140 Tidak berubah
keras
Sangat
10 FP UNS 25 0,05 24,5 137,2 Semburat biru
keras
Sangat
11 FP UNS 25 0,05 8,5 47,6 Semburat biru
keras
SPAM Sangat
12 25 0,05 25 140 Tidak berubah
Gd. E keras
13 Boyolali 25 0,05 0,8 4,48 Biru Lunak
Air Semburat Sangat
14 25 0,05 25 140
Ngoresan ungu keras
Air Semburat Sangat
15 25 0,05 25 140
ILTAN ungu keras
16 Kantin FP 25 0,05 1 5,6 Biru Lunak
Pucang
17 25 0,05 1,6 8,96 Semburat biru Agak keras
sawit
Beningu Sangat
18 MBM FP 25 0,05 25 140
keunguan keras
Praktikum kali ini berprinsip pada titrasi kompleksometri. Menurut
Triwahyuni (2008), kompleksometri adalah jenis titrasi dimana titran dan
titrat saling mengkompleks, membentuk hasil berupa senyawa kompleks.
Reaksi kompleks yang terbentuk dianggap sebagai reaksi asam basa Lewis
dengan ligan bertindak sebagai basa, dengan menyumbangkan sepasang
elektronnya kepada kation yang merupakan asamnya. Ikatan atom yang
terbentuk antara atom logam pusat dan ligan sering disebut kovalen. Titrasi
harus dilakukan pada pH diatas minimum dan harus dengan campuran
penahan agar pH tidak turun selama titrasi belangsung. Titrasi harus
dilakukan pada pH yang memungkinkan ion logam membentuk endapan
oksida basa atau bahkan hidroksida.
Berdasarkan jenis anion yang diikat oleh kation (Ca2+ atau Mg2+), air
sadah digolongkan menjadi dua jenis, yaitu air sadah sementara dan air
sadah tetap. Air sadah sementara adalah air sadah yang mengandung ion
bikarbonat (Ca(HCO3)2) dan atau magnesium bikarbonat (Mg(HCO3)2).
Disebut air sadah sementara karena kesadahannya dapat dihilangkan dengan
pemanasan air yang dapat membebaskan ion Ca 2+ dan atau Mg2+. Air sadah
tetap adalah air sadah yang mengandung anion selain ion bikarbonat,
misalnya dapat berupa ion Cl-, No3-, dan SO42-. Senyawa yang terlarut
berupa kalsium klorida (CaCl2), kalsium nitrat (Ca(NO3)2), kalsium sulfat
(CaSO4), magnesium klorida (MgCl2), magnesium nitrat (Mg(NO3)2), dan
magnesium sulfat (MgSO4). Air yang mengandung senyawa-senyawa
tersebut disebut air sadah tetap, karena kesadahannya tidak bsa dihilangkan
hanya dengan cara pemanasan (Sulistyani dkk, 2012). Tingkat kesadahan air
biasanya digolongkan seperti ditunjukkan pada tabel berikut ini:
Mg/l Ca CO3 Tingkat Kesadahan
0 75 Lunak (soft)
75 - 150 Sedang (moderately hard)
150 - 300 Tinggi (hard)
>300 Tinggi sekali (very hard)
Tingkat kesadahan air dapat dinyatakan dalam satuan mg/l CaCO 3 atau ppm

CaCO3 atau dalam satuan Grain atau derajat (Marsidi, 2001).

Kesadahan merupakan salah satu parameter kualitas air sehat, karena


kesadahan menunjukkan ukuran pencemaran air oleh mineral-mineral
terlarut seperti Ca2+ dan Mg2+ (Sulistyani dkk, 2012). Kesadahan air adalah
adanya kandungan unsur Ca2+ dan Mg2+ dalam air. Kesadahan dalam air
sangat tidak dikehendaki baik untuk penggunaan rumah tangga maupun
umtuk penggunaan industri.
Penetapan kesadahan total menggunakan metode kompleksometri
yaitu pembentukan kompleks berwarna oleh logam. Titrasi kompleksometri
dapat melibatkan reaksi pembentukan kompleks atau reaksi substitusi ligan,
dimana ligan pada ion pusat atau logam digantikan dengan ligan lain dengan
menggunakan larutan baku Na2EDTA dan indikator EBT. Bila penambahan
indikator EBT pada larutan yang mengandung ion Ca2+ dan Mg2+ pada pH
10 0,1 larutan akan menjadi merah anggur. Bila kemudian dititrasi dengan
Na2EDTA, ion Ca2+ dan Mg2+ sudah terikat, larutan yang berwarna merah
anggur berubah menjadi biru sebagai titik akhir titrasi (Astuti dkk, 2015).
Kompleksometri atau pengelatan merupakan proses pengikatan logam
dalam suatu cairan oleh suatu senyawa yang memiliki lebih dari satu pasang
elektron bebas. Pengikatan ion logam tersebut menyerupai penjepitan
(pengkelatan), senyawa yang menjepit disebut senyawa pengelat (chelating
agent) dan ion logam dinamakan ion pusat, karena berada di titik pusat.
Mekanisme pengelatan ini terjadi karena adanya penggunaan elektron
bersama (sharing electron) antara ion logam dan ion bahan pengkelat.
Sehingga terbentuk senyawa kompleks antara logam dengan bahan pengelat
(Septiana dkk., 2012).
Fungsi Na2EDTA adalah untuk menetapkan kesadahan total air.
Pentitrasian dengan menggunakan larutan EDTA merubah warna air dari
merah anggur ke biru murni. EDTA merupakan ligan seksidentat yang dapat
berkoordinasi dengan ion logam dengan pertolongan kedua nitrogen dan
empat gugus karboksil. Dalam titrasi kompleksometri juga terdapat larutan
buffer pH 10 yang ditambahkan. Larutan buffer merupakan suatu larutan
yang tahan terhadap perubahan pH yang besar bila ditambahi ion hidrogen
atau hidroksida atau bila larutan diencerkan. Sehingga larutan buffer penting
dalam sains kimia dan biologi karena banyak proses kimia dan biologi yang
sangat peka terhadap perubahan pH suatu larutan dan untuk menjaga agar
pH konstan. Larutan buffer pH 10 merupakan suatu campuran Mg Y2- dan
Y-4. Dengan ditambahkan titran tersebut ke dalam larutan yang mengandung
Ca2+, terbentuklah Ca Y2- yang lebih stabil, dengan membebaskan Mg2+
untuk bereaksi dengan indikator itu dan membentuk MgIn- yang berwarna
merah. Setelah kalsium habis terpakai, titran tambahan mengubah MgIn -
Menjadi MgY2- dan indikator berubah ke bentuk Hin2- yang berwarna biru
(Day dan Underwood, 1980).
Menurut American Chemical Society Spesification (1993), Erichrome
Black T (EBT), rumus kimianya adalah C20H12N3NaO7S. EBT adalah sebuah
indikator yang digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi. Menurut
Dave (2011), EBT memiliki range pH 7-11. EBT merupakan indikator yang
berwarna biru lalu berubah berwarna merah muda bila berada dalam larutan
yang mengandung ion kalsium dan ion magnesium dengan pH 10,0 + 0,1.
Tujuan diberi indikator ini adalah karena indikator tersebut peka terhadap
kadar logam dan pH larutan, sehingga titik akhir titrasinya pun dapat
diketahui.
Berdasarkan Tabel 2.1 dari hasil praktikum, diperoleh data besarnya
kesadahan air di Masjid FP (Kel. 1), Kampung Sewu (Kel.2), Sekarpace
(Kel.3), Gang Tejo (Kel. 4), Karang lojo (Kel. 5), Ngoresan (Kel. 6), Pucang
sawit (Kel. 7), Pucang sawit (Kel. 8), Sukoharjo (Kel. 9), FP UNS (Kel. 10),
FP UNS (Kel. 11), SPAM Gd. E (Kel. 12), Boyolali (Kel. 13), Air Ngoresan
(Kel. 14), Air ILTAN (Kel. 15), Kantin FP (Kel. 16), Pucang Sawit (Kel.
17), dan MBM FP (Kel. 18) berturut-turut adalah 140 DH, 168 DH, 140
DH, 140 DH, 109,2 DH, 7,84 DH, 140 DH, 140 DH, 140 DH, 137,2 DH,
47,6 DH, 140 DH, 4,48 DH, 140 DH, 140 DH dan 5,6 DH, 8,96 DH, dan
140 DH. Tingkat kesadahan dari 18 daerah tersebut berturut-turut adalah
sangat keras, sangat keras, sangat keras, sangat keras, sangat keras, lunak,
sangat keras, sangat keras, sangat keras, sangat keras, sangat keras, sangat
keras, lunak, sangat keras, sangat keras, lunak, agak keras, dan sangat keras.
Adapun daerah dengan kesadahan paling rendah adalah air dari daerah
Boyolali. Sedangkan daerah dengan kesadahan paling tinggi adalah air dari
daerah Kampung Sewu.
Kesadahan air dari hasil praktikum berbedabeda karena tergantung
pada kondisi tanah di daerah tersebut. Menurut Marsidi (2001), Kesadahan
dalam air menunjukkan bahwa terjadi kontak antara formasi geologi dengan
badan air tersebut. Tingkat kesadahan di berbagai tempat perairan berbeda-
beda, pada umumnya air tanah mempunyai tingkat kesadahan yang tinggi,
hal ini terjadi, karena air tanah mengalami kontak dengan batuan kapur yang
ada pada lapisan tanah yang dilalui air. Air permukaan tingkat kesadahannya
rendah (air lunak), kesadahan non karbonat dalam air permukaan bersumber
dari kalsium sulfat yang terdapat dalam tanah liat dan endapan lainnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesadahan air adalah banyaknya
kation-kation penyebab kesadahan yang terkandung dalam air, umumnya
kation yang bervalensi 2, seperti Fe, Sr, Mn, Ca dan Mg. Perbedaan ini
dikarenakan beberapa faktor diantaranya pengaruh dari geologi tanah di tiap
daerah. Keadaan geologi tanah ini misalnya kandungan logamnya semakin
tinggi, maka kesadahan airnya juga akan semakin tinggi. Selain keadaan
geologi tingkat kesadahan air juga dapat disebabkan oleh limbah industri.
Menurut Mifbakhuddin (2010) air yang bersifat sadah akan
menimbulkan beberapa dampak sebagai berikut :
1. Terhadap kesehatan dapat menyebabkan cardiovascular desease
(penyumbatan pembuluh darah jantung) dan urolithiasis (batu ginjal).
2. Menyebabkan pengerakan pada peralatan logam untuk memasak
sehingga penggunaan energi menjadi boros.
3. Penyumbatan pada pipa logam karena endapan CaO3.
4. Pemakaian sabun menjadi lebih boros karena buih yang dihasilkan
sedikit.
Menurut Mifbakhuddin (2010), upaya penanggulangan kesadahan air
dapat dilakukan dengan cara:
a. Pemanasan
Pemanasan dilakukan untuk mengatasi kesadahan yang bersifat
sementara (kesadahan bikarbonat).
b. Proses pertukaran Ion Ca2+, Mg2+ dengan ion Na+, K+ atau H+
Proses ini sangat cepat (20-30 menit), tidak dapat berlangsung
dengan reaksi lain dan air baku tidak boleh keruh, instalasi dan operasi
rumit, efisiensi tinggi, harga relatif cukup mahal (cocok untuk industri).
Proses ini dapat digunakan untuk pengolahan kesadahan tetap dan
sementara dengan cara pemisahan ion-ion yang tidak dikehendaki yang
terdapat didalam air sadah. Bahan yang digunakan dalam proses ini
berupa karbon aktif dan atau resin sintentik yang dimasukkan ke dalam
kolom dimana air sudah dapat dialirkan melalui senyawa-senyawa
tersebut.
c. Proses pengendapan senyawa Ca2+ dan Mg2+
Ion Ca2+ dan Mg2+ akan mengendap sebagai CaCO3 dan Mg(OH)2, Ion
CO32- berasal dari karbon dioksida (CO2) dan bikarbonat (HCO3). Sifat
proses pengendapan senyawa Ca2+ dan Mg2+ yaitu reaksi cepat (1-1 jam),
dapat bersamaan dengan flokulasi (penggumpalan), cara sederhana dan
mudah, efesiensi cukup tinggi dan harga relatif murah.
d. Pertukaran ion (ion exchange)
Pertukaran ion dapat digunakan untuk pengolahan kesadahan tetap dan
sementara dengan cara pemisahan ion-ion yang tidak dikehendaki
yang terdapat di dalam air sadah. Bahan yang digunakan terdiri dari
karbon aktif dan atau resin sentetik yang dimasukkan kedalam suatu
kolom dimana air sadah dapat dialirkan melalui senyawa-senyawa
tersebut.
e. Proses kontak air dengan pasir, batu, atau kapur.
Sifat proses ini adalah reaksi lambat (lebih dari 1 jam), tidak bisa
bersamaan dengan proses lain, cara sederhana, efisiensi dan harga tidak
terlalu mahal. Sedangkan syarat mutu air minum menurut SNI dapat
dilihat pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Persyaratan Mutu Air Minum Sesuai Syarat Mutu SNI 01-3553-
2006
E. Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut :
a. Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan
persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion).
b. Sampel air sumur yang memiliki tingkat kesadahan paling tinggi adalah
sampel dari daerah Kampung Sewu pada kelompok 2 dengan kesadahan
sebesar 168 DH dengan tingkat kesadahan sangat keras. Sedangkan sampel
air yang memiliki tingkat kesadahan paling rendah adalah sampel dari
daerah Boyolali pada kelompok 13 dengan tingkat kesadahan sebesar 4,48
DH dengan tingkat kesadahan lunak.
DAFTAR PUSTAKA

American Chemical Society Specifications. 1993. Reagent Chemicals Eighth


Edition. Washington. American Chemical Society.
Astuti, Dian Wuri., Muji Rahayu., dan Dewi Sri Rahayu. 2015. Penetapan
Kesadahan Total (CaCO3) Air Sumur di Dusun Cekelan Kemusu Boyolali
dengan Metode Kompleksometri. Kesmas Vol. 9., No. 2., Hal:119-124.
Badan Standarisasi Nasional. 2006. SNI 01-3553-2006 Persyaratan Mutu Air
Minum. Dewan Standarisasi Indonesia. Jakarta.
Barka, Noureddine. 2011. Removal of Methylene Blue and Eriochrome Black T
From Aqueous Solutions by Biosorption on Scolymus Hispanicus L.:
Kinetics, Equilibrium and Thermodynamics. Journal of the Taiwan Institute of
Chemical Engineers Vol 42: 320326.
Chandra, Umesh, et.al. 2008. Electrochemical Studies of Eriochrome Black T at
Carbon Paste Electrode and Immobilized by SDS Surfactant: A Cyclic
Voltammetric Study. International Journal of Electhrochemical Science
Vol.3., No. 5., Hal: 1044-1054.
Day R.A. dan A.L. Underwood. 1980. Analisa Kimia Analitik Kuantitatif.
Erlangga: Jakarta.
Hamidu, Abu Bakar Ahmed, B.A. Aliyu. 2012. Quantitative Determination of the
Carboxylic Groups in Guna Protein (Citrillus Vulgaris) Using
Complexometric Titration Method. IJPBS Vol.2., No.2., Hal: 280-283.
Kayal, Nijhuma dan Nahar Singh. 2008. Selective masking and demasking for the
stepwise complexometric determination of aluminium, lead and zinc from the
same solution. Chemistry Central Journal Vol.2. No.4: 1-2.
Marsidi, Ruliasih. 2001. Zeolit Untuk Mengurangi Kesadahan Air. Jurnal
Teknologi Lingkungan Vol. 2., No. 1., Hal:1-10.
Mifbakhuddin. 2010. Pengaruh Ketebalan Karbon Aktif Sebagai Media Filter
Terhadap Penurunan Kesadahan Air Sumur Artetis. Jurnal Eksplanasi Vol.5,
No.2: 1-5.
Megawati, Ni Made Shinta., Anak Agung Bawa Putra., dan James Sibarani. 2013.
Pemanfaatan Arang Batang Pisang (Musa paradisiacal) untuk Menurunkan
Kesadahan Air. Jurnal Kimia Vol. 7., No. 2., Hal: 153-162.
Ningtyas, Ike Yohanita., M. Fairuz Abadi., dan I. A. Maik Partha Sutema. 2014.
Analisis Kesadahan Air Sumur Pompa dengn Metode Titrasi Kompleksometri
di Banjar Tuban Griya Kelurahan Tuban. Chemistry Laboratory Vo. 1., No.2.
Petrucci, Ralph H. 2002. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Edisi
Keempat. Erlangga: Jakarta.
Septiana A., Arkie, Frans Arienata H., dan Andri Cahyono Kumoro. 2012. Potensi
Jus Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia) Sebagai Bahan Pengkelat dalam Proses
Pemurnian Minyak Nilam (Patchouli Oil) dengan Metode Kompleksometri.
Jurnal Teknologi Kimia dan Industri Vol.1., No.1., Hal: 21-28.
Sulistyani., Sunarto., dan Annisa Fillaeli. 2012. Uji Kesadahan Air Tanah Sekitar
Pantai Kecamatan Rembang Propinsi Jawa Tengah. Jurnal Sains Dasar Vol.
1., No. 1., hal: 33-39.
Triwahyuni M., Endang, Yusrin. 2008. Penggunaan Metode Kompleksometri
pada Penetapan Kadar Seng Sulfat dalam Campuran Seng Sulfat dengan
Vitamin C. Jurnal Unimus Vol.3., No.2., Hal: 1-3.
Winarno, F.G. 1986. Air Untuk Industri Pangan. PT Gramedia: Jakarta.
LAMPIRAN

Perhitungan kesadahan air

1000
Kesadahan Air = x (ml x M) Na2EDTA X 2,8 DH
ml yang dipipet

Kelompok 10 (FP UNS)


1000
Kesadahan Air = x (24,5 x 0,05) Na2EDTA X 2,8 DH
25

= 137,2 DH
LAMPIRAN DOKUMENTASI

Gambar 2.1 Penambahan Indikator Gambar 2.2 Proses Titrasi dengan


EBT Larutan Na2EDTA

Gambar 2.3 Contoh Sampel sebelum Gambar 2.4 Contoh sampel sesudah
di titrasi menggunakan larutan dititrasi menggunakan larutan
Na2EDTA Na2EDTA