Anda di halaman 1dari 23

ACARA IV

PEMBUATAN TEH CELUP MANIS RENDAH KALORI KAYA


ANTIOKSIDAN

A. TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan dari praktikum acara IV Pembuatan Teh Celup Manis Rendah
Kalori Kaya Antioksidan ini adalah Mahasiswa mengetahui proses
pembuatan teh celup manis rendah kalori kaya antioksidan.

B. TINJAUAN PUSTAKA
1. Tinjauan Bahan
Teh hijau adalah teh yang dalam proses pembuatannya tidak
mengalami fermentasi. Teh hijau dapat diperoleh melalui pemanasan
(udara panas) dan penguapan. Kedua metode itu berguna untuk mencegah
terjadinya oksidasi enzimatis katekin. Teh oolong adalah teh yang
mengalami semi fermentasi yaitu diproses melalui pemanasan daun dalam
waktu singkat setelah penggulungan. Sedangkan teh hitam adalah teh yang
pada proses pembuatannya dengan atau mengalami fermentasi penuh.
Dalam proses fermentasi ini katekin teh berubah menjadi molekul yang
lebih kompleks dan pekat sehingga memberi ciri khas teh hitam yaitu
berwarna, kuat, dan berasa tajam. Perbedaan pengolahan menimbulkan
adanya perbedaan yang cukup berarti dalam kandungan zat aktifnya ter-
utama polifenol. Daun teh hijau memiliki kandungan polifenol tertinggi,
lalu teh oolong kemudian teh hitam (Widyaningrum, 2013).
Teh hitam (Camellia sinensis ) merupakan salah satu minuman
yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Jenis teh ini dibuat melalui
fermentasi oleh enzim polifenol oksidase yang dapat mengoksidasi
enzimatis katekin dalam daun segar, sehingga memberi ciri khas teh hitam
yaitu berwarna dan berasa tajam. Theaflavin dan thearubigin merupakan
hasil oksidasi katekin akibat proses oksimatis pada pengolahan teh hitam.
Polifenol utama dalam teh hitam adalah tanin dan flavonoid. Senyawa
tersebut memiliki banyak gugus hidroksi (OH) yang dapat berfungsi
sebagai antiradikal bebas atau antioksidan. Tanin dalam teh sebagian besar
tersusun atas katekin, epikatekin, epikatekin galat, epigalo katekin, epigalo
katekin galat dan, galokatekin. Sedangkan flavonoid dalam teh hitam
terutama berupa flavonol yaitu quercetin, kempferol dan myricetin
(Utomo dkk, 2012).
Salah satu pilihan pemanis alami rendah kalori yang banyak
direkomendasikan oleh ahli gizi dan kesehatan adalah stevia (Stevia
rebaudiana Botani). Ekstarak stevia memiliki kemanisan sekitar 300 kali
kemanisan gula (sukrosa). Senyawa ang bertanggung jawab atas
kemanisan stevia adalah senyawa glikosida, terutama steviosida dan
rebaudiosida yang memiliki kemanisan 250-300 kali sukrosa (gula dapur),
tahan panas, tahan asam dan tidak dapat mengalami fermentasi. Selain
digunakan sebagai pemanis rendah kalori pengganti gula, stevia juga telah
terbukti sangat baik bagi kesehatan, terutama untuk mengatasi kondisi
kegemukan, hipertensi dan diabetes (Subroto, 2011).
Stevia rebaudiana Bertoni merupakan tumbuhan perdu asli dari
Paraguay. Daun stevia mengandung pemanis alami non kalori dan mampu
menghasilkan rasa manis 70-400 kali dari manisnya gula tebu. Daun stevia
mengandung: apigenin, austroinulin, avicularin, beta-sitosterol, caffeic
acid, kampesterol, kariofilen, sentaureidin, asam klorogenik, klorofil,
kosmosiin, sinarosid, daukosterol, glikosida diterpene, dulkosid A-B,
funikulin, formic acid, gibberellic acid, giberelin, indol-3-asetonitril,
isokuersitrin, isosteviol, jihanol, kaempferol, kaurene, lupeol, luteolin,
polistakosid, kuersetin, kuersitrin, rebaudiosid A-F, skopoletin, sterebin A-
H, steviol, steviolbiosid, steviolmonosida, steviosid, steviosid a-3,
stigmasterol, umbelliferon, dan santofil (5). Kandungan utama daun stevia
adalah derivat steviol terutama steviosid (4-15%) ,rebausid A (2-4%) dan
C (1-2%) serta dulkosida A (0,4-0,7%). Stevia menawarkan banyak
keuntungan bagi kesehatan yang telah dibuktikan oleh lebih dari 500
penelitian, diantaranya: Tidak mempengaruhi kadar gula darah, aman bagi
penderita diabetes, mencegah kerusakan gigi dengan menghambat
pertumbuhan bakteri di mulut, membantu memperbaiki pencernaan dan
meredakan sakit perut. Baik untuk mengatur berat badan, untuk membatasi
makanan manis berkalori tinggi (Raini dan Isnawati, 2011).
Cengkeh adalah salah satu jenis tanaman rempah-rempah yang
memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi karena adanya kandungan
eugenol yang cukup tinggi. Minyak esensial pada kuncup bunga cengkeh
(Eugenia caryophylus) digunakan sebagai anastesia lokal. Cengkeh
mengandung beberapa komponen fenol, yaitu eugenol (C18H12O3), asetil
eugenol, a dan b kariofelin, eugenia (isomer eugenol), vanillin, dan asam
galotanin. Eugenol memiliki aktivitas antioksidan yang efeknya sama
dengan -tokoferol dalam menghambat lipid peroksidasi, oksidasi LDL,
dan lipoprotein berkepadatan sangat rendah (VLDL). Golongan fenol dari
jenis rempah-rempah berperan penting terhadap aktivitas antioksidan di
antaranya adalah daun teh hitam (Camelia sinensis.), jahe (Zingiber
officinale), lada (Piper cubeba ), dan kuncup bunga cengkeh (E.
caryophylus) (Munisa dkk, 2012).
Kayu manis (Cinnamomum burmanii) dapat menurunkan kadar
glukosa darah, total kolestrol, dan kadar trigliserida, serta disisi lain dapat
meningkatkan kadar HDL. Kandungan kulit kayu manis adalah alkaloid,
flavonoid, tanin, dan minyak atsiri yang terdiri dari kamfer, safrol,
eugenol, sinamaldehid, sinamilasetat, terpen, sineol, sitral, sitronelal,
polifenol dan benzaldehid. Penurunan kadar kolesterol disebabkan oleh
adanya berbagai kandungan zat aktif di dalam bubuk kayu manis.
Diantaranya adalah proanthocyanidin dan metil hydroychalcone polymer
(MHCP) (Vanessa dkk, 2012).
Daun teh serta minuman teh yang dihasilkan diketahui memiliki
jumlah tinggi dari polifenol, khususnya flavanols, yang disebut catechin.
Banyak in vitro dan in vivo efek polifenol teh telah dilaporkan termasuk
antioksidan, anti kanker dan sifat hipolipidemik. Dalam membuat teh
hijau, daun teh dipanaskan untuk menonaktifkan enzim dan dikeringkan.
Jadi konstituen dari daun teh yang diawetkan di daun teh kering. Ketika
daun teh diseduh, misalnya 2,5 g dalam 250 ml air panas selama 3 menit,
sekitar 30% dari bahan padat diekstrak ke dalam air. Daun teh segar kaya
akan polifenol yang larut air, khususnya flavonoid, gallate flavonol dan
flavonol glikosida. Katekin teh utama: -epigallocatechin-3-gallate
(EGCG), -epigallocatechin (EGC), - epicatechin-3-gallate (ECG), -
epicatechin (EC), -epicatechin-3-gallate (ECG), -epicatechin (EC), -
gallo catechin dan catechin; merupakan 30% sampai 42% dari padatan
teh hijau. Caffeine menyumbang 3% sampai 6%. (Sharma et al., 2007).
2. Tinjauan Teori
Obat herbal telah digunakan untuk mengobati infeksi, penyakit dan
penyakit. Mereka sering dikonsumsi dalam bentuk teh, yakni infus
tanaman kering bagian (daun, bunga, biji, akar dan kulit kayu) direndam
dalam air mendidih. Teh herbal telah telah mendapatkan popularitas dalam
beberapa tahun terakhir dan berbagai dijual di toko makanan kesehatan.
Mereka populer karena aroma, sifat antioksidan dan aplikasi terapi.
Banyak konsumen percaya bahwa herbal teh alami dan aman karena
herbal dapat meningkatkan kesehatan dan meredakan sakit. Dianggap
alternatif sumber penting dari antioksidan, teh herbal sering
diklasifikasikan berdasarkan tindakan terapi mereka. Namun, penggunaan
obat herbal tidak secara luas dianjurkan oleh kedokteran modern sebagai
mekanisme aksi mereka dan efektivitas bahan aktif yang tidak atau
scientificallyproven berbasis bukti. Dengan pengecualian dari tumbuh
tumbuhan dari keluarga Labiatae, kimia dan farmakologi dari banyak
tanaman teh herbal masih kurang dipelajari (Chan et al., 2012).
Teh hijau dikonsumsi sebagai minuman populer di seluruh dunia,
terutama di negara-negara Asia seperti China, Korea dan Jepang. Teh ijau,
teh oolong dan teh hitam semua berasal dari daun tanaman Camellia
sinensis. Apa yang membuat teh hijau terpisah adalah cara diproses. Daun
teh hijau kukus, yang mencegah senyawa EGCG dari yang teroksidasi.
Sebaliknya, hitam dan teh oolong terbuat dari daun difermentasi, yang
menghasilkan EGCG yang sedang dikonversi menjadi senyawa lain yang
tidak hampir sama efektif dalam mencegah dan memerangi berbagai
penyakit. Secara umum, teh hijau telah ditemukan untuk menjadi lebih
unggul untuk teh hitam dalam hal aktivitas antioksidan, karena kandungan
tinggi dari EGCG. Proses yang digunakan dalam pembuatan teh hitam
dikenal untuk mengurangi kadar catechin monomer dalam tingkat yang
jauh lebih besar dari kondisi kurang parah diterapkan teh lainnya. Produksi
dan konsumsi teh oolong dioroses dengan fermentasi sebagian (Sinija dan
Mishra, 2008).
Teh (Camellia sinensis) saat ini dibedakan berdasarkan lokasi
tumbuhnya. Teh hijau, seperti juga teh hitam, berasal dari tumbuhan yang
sama. Nama dan wujudnya berbeda karena popses persiapan yang dijalani
berbeda. Teh hijau doproses dengan cara khusus. Setelah di petik, daun teh
akan mengalami pengasapan. Proses ini akan mengeingkan daun teh,
namun tidak sampai mengubah warna daun. Kondisi inilah yang
menyebabkan air seduhan daun teh tetap terlihat bewarna hijau muda.
Proses ini kemudian terbukti dapat mempertahankan berbagai kandugan
nutrisi, antara lain zat antioksidan polyphenols pada daun teh. Kandungan
dalam teh hijau adalah polyphenol yang mampu mengurangi resiko
penyakit jantung, membunuh sel tumor dan menghambat pertumbuhan sel
kanker paru-paru dan kanker usus terutama sel kanker kulit
(Harmanto,2007).
Teh yang dikemas dalam pyramid tea sekarang menjadi alternatif
bagi para pecinta teh yang ingin kepraktisan dari teh celup, tetapi dari daun
teh pilihan yang masih berbentuk daun. Bentuk kantong yang seperti
piramida memberikan ruang yang cukup bagi daun teh untuk mengembang
saat diseduh. Bahan yang digunakan biasanya lebih tebal daripada kertas
dan tidak mudah hancur ketika diseduh dengan air dalam waktu yang lebih
lama, seperti nilon atau sutra (Wongso, 2011).
Dalam rangka menghasilkan teh yang bermutu tinggi, penanganan
pucuk teh yang dipanen sebagai bahan baku perlu ditangani sebaik
mungkin sebelum diproses dari kebun sampai ke pabrik. Saat ini pucuk teh
sesuai dengan pasaran ada yang dibuat teh hitam, teh hijau, teh oolong dan
teh wangi. Kualitas produk teh dilihat dari kandungan seyawa
fitokimianya khususnya asam galat, kafein dan epigalokatekin galat.
Dengan menetapkan kadar senyawa tersebut, maka standar kualitas produk
dapat dijaga dan ditingkatkan supaya memiliki daya saing. Selain itu cita
rasa teh juga disajikan dalam berbagai produk kemasan dan minuman
langsung di dalam restauran dengan cara mencampur dengan bahan yang
membuat rasa teh bertambah enak. Kegiatan pengelolaan dan
pemeliharaan tanaman semuanya bertujuan untuk menghasilkan kualitas
catechin dan caffein yang tinggi karena senyawa ini berperan dalam rasa,
warna, dan aroma (Effendi dkk., 2010).
Daun stevia memiliki sifat sensori dan fungsional unggul daripada
pemanis lainnya dan kemungkinan akan menjadi sumber utama pemanis
alami untuk pasar makanan tumbuh. Hal ini secara komersial dikenal
memberi efek menguntungkan pada kesehatan manusia dan telah menjadi
sebuah wilayah yang menarik dari penelitian hari ini. Daun S. rebaudiana
memiliki banyak aplikasi medis seperti antimikroba, antivirus, antijamur,
anti-hipertensi, antihyperglycemic, antitumor, anti-inflamasi, anti-diare,
diuretik, kegiatan rota-virus anti-manusia, anti-HIV, dan hepatoprotektif.
Daun stevia juga dikenal sebagai ramuan manis, daun manis, daun madu,
daun permen dan madu yerba. Berasal di alam liar Amerika Selatan, itu
bisa ditemukan tumbuh di habitat semi-kering mulai dari padang rumput
ke hutan scrub untuk daerah pegunungan. Ketika dibudidayakan atau
tumbuh secara alami di tanah yang subur, tanaman Stevia dewasa tumbuh
hingga 65 cm (26 inci) untuk setinggi 180 cm (72 inci). Ini adalah tanaman
pendek hari dan berbunga dari Januari sampai Maret di belahan bumi
selatan. Bunganya berwarna putih dengan tenggorokan ungu pucat.
Mereka dalam ukuran kecil dan disusun dalam bentuk corymbs kecil. Ini
lebih menyukai tanah berpasir, membutuhkan posisi cerah hangat. Iklim
alami cocok adalah subtropis lembab setengah dengan suhu ekstrem 21-43
C dan rata-rata 24 C (Gupta et al., 2013).
Saat yang tepat untuk melakukan panen pertama tanaman stevia
adalah pada saat kandungan steviosida maksimal, yaitu pada saat tanaman
berumur 40-60 hari, tinggi tanaman mencapai 40 cm - 60 cm, berdaun
rimbun, dan menjelang staduim berbunga. Dengan demikia, dalam satu
tahun tanaman stevia dapat dipanen 5-7 kali atau tergantung pada tingkat
kesuburan tanah. Waktu panen yang paling baik adalah pada pagi hari
pukul 06.00. Produksi setiap tanaman berkisar 10-30 gram daunbasah atau
3-9 gram daun kering (Rukmana, 2003).

C. METODOLOGI
1. Alat
a. Ayakan
b. Kantung teh celup
c. Sealer
d. Sendok
e. Timbangan
2. Bahan
a. Air
b. Daun Stevia kering
c. Teh
d. Jahe bubuk
e. Kayu manis bubuk
f. Cengkeh

6 gram daun 2 gram bubuk


teh + 4 gram jahe + 2 gram
3. Cara Kerja
stevia bubuk kayu manis

Diambil 8,5 gram teh + stevia dan


1,5 gram bubuk jahe +bubuk kayu
manis

Pemindahan campuran kedalam


kantong teh

Penutupan dengan sealer

500 ml air
Penyeduhan
panas + 2
gram cengkeh

Teh
celup

Organoleptik
D. PEMBAHASAN
Tabel 4.1 Formulasi Teh dan Daun Stevia dengan Formula Herba pada
Pembuatan Teh Celup Manis Rendah Kalori Kaya Antioksidan
Kel Teh dengan daun stevia Perbandingan Herba
(Jahe : Cengkeh : Kayu manis)

7, 10 9,5 gr 0,25 : 2: 0,25


8, 11 8,5 gr 0,75: 2: 0,75
9, 12 7 gr 1,5 :2 :1,5
Sumber: Laporan Sementara
Teh hijau adalah teh yang dalam proses pembuatannya tidak mengalami
fermentasi. Teh hijau dapat diperoleh melalui pemanasan (udara panas) dan
penguapan. Kedua metode itu berguna untuk mencegah terjadinya oksidasi
enzimatis katekin. Teh oolong adalah teh yang mengalami semi fermentasi
yaitu diproses melalui pemanasan daun dalam waktu singkat setelah
penggulungan. Sedangkan teh hitam adalah teh yang pada proses
pembuatannya dengan atau mengalami fermentasi penuh. Dalam proses
fermentasi ini katekin teh berubah menjadi molekul yang lebih kompleks dan
pekat sehingga memberi ciri khas teh hitam yaitu berwarna, kuat, dan berasa
tajam. Perbedaan pengolahan menimbulkan adanya perbedaan yang cukup
berarti dalam kandungan zat aktifnya terutama polifenol. Daun teh hijau
memiliki kandungan polifenol tertinggi, lalu teh oolong kemudian teh hitam.
Teh hijau memiliki berbagai khasiat, antara lain mengurangi resiko kanker
(kanker perut, kanker payudara, kanker kandungan, kanker prostat, kanker
rongga mulut), menurunkan kadar koleste-rol darah, mencegah tekanan darah
tinggi, membunuh bakteri, membunuh virus-virus influenza, mengurangi stres,
melangsingkan badan, meningkatkan kemampuan belajar, menurunkan kadar
gula darah, mencegah pengeroposan gigi, antioksidan dan mencegah penuaan
dini, mengatasi penyakit jantung koroner, menurunkan resiko terjadinya
penyakit kardiovaskuler, meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah penyakit
ginjal, mencegah penyakit parkinson, mencegah nafas tidak sedap, dan
antiosteoporosis (Widyaningrum, 2013).
Teh hitam memiliki khasiat untuk menjaga sistem pertahanan tubuh yaitu
mempunyai efek meningkatkan proliferasi limfosit, meningkatkan produksi
IL-12 dan meningkatkan fagositosis. Selain itu teh hitam juga dengan kuat
melawan hampir semua jenis bakteri, termasuk kolera, salmonela, dan tifiod.
Tidak seperti antibiotika, teh hitam memiliki sifat selektif dalam memilih
bakteri yang dibunuhnya, dengan meninggalkan bakteri yang baik dan
membunuh bakteri yang menyebabkan kerusakan. Senyawa-senyawa dalam
teh juga mampu melawan kegiatan bakteri tertentu yang menyebabkan
kerusakan jaringan gusi dan tanggalnya gusi. Bakteri tersebut adalah
streptokokus mutans yang menyebabkan pembusukan gigi. Teh hitam juga
dapat mencegah dan mengatasi resiko penyakit jantung koroner. Sedangkan
teh oolong memiliki manfaat untuk menurunkan resiko tekanan darah tinggi,
dapat memperbaiki iritasi kulit seperti eksim, dapat membakar lemak dalam
tubuh (pelangsing) dan sebagai sumber antioksidan yang kuat (Yudana
dan Luize, 2009).
Kandungan terbesar dalam pucuk daun teh hijau adalah katekin atau
epigallocatechin-3-gallate (EGCG). EGCG merupakan senyawa polifenol
yang memiliki 15 atom karbon dalam inti dasarnya yang tersusun dalam
konfigurasi C6-C3-C6 yaitu 2 cincin aromatik yang dihubungkan oleh satuan
3 karbon yang dapat atau tidak dapat mem-bentuk cincin. Ketiga cincin
tersebut diberi tanda A, B, dan C, atom carbonnya diberi nomor menurut
sistem penomoran yang menggunakan angka biasa untuk cincin A dan C serta
angka beraksen untuk cincin B. Penggolongan flavonoid berdasarkan pada
subtituen cincin heterosiklik yang mengandung oksigen dan perbedaan
distribusi gugus hidroksil. Perbedaan di bagian rantai C3 akan menentukan
senyawa flavonoid yaitu flavon, flavonal, flavanon, isoflavon, auron dan
chalkon. Identifikasi adanya flavon dan flavonol dapat digunakan uap
amoniak. Flavon dan flavanol berwarna kuning sedangkan chalkon dan auron
akan berubah warna dari kuning menjadi merah. daun teh hijau sangat kaya
antioksidan terutama katekin atau EGCG dengan aktivitas antioksidan 200
kali lebih kuat dibanding vitamin E dalam melawan radikal bebas,
Widyaningrum (2013). Menurut Tuminah (2004), selain flavonoid teh hitam
mengandung berbagai macam zat aktif yaitu kafein, theobromin, theofilin,
epicatechin, epicatechin gallat, epigallocatechin, epigallocatechin gallat,
theaflavin, thearubigen, asam gallat, asam klorogenat, pektin, polisakarida,
asam oksalat, asam malonat, asam suksinat, asam malat, asam akonitat, asam
sitrat.
Manfaat dari mengkonsumsi teh yaitu dapat memperkuat gigi, melawan
bakteri dalam mulut, mencegah terbentuknya plak gigi, serta mencegah
osteoporosis. Dalam saluran pencernaan, teh juga membantu melawan
keracunan makanan dan penyakit seperti kolera, tipus dan desentri,
menurunkan kadar kolesterol, glukosa darah, mengurangi kerusakan hati dan
mengurangi pertumbuhan jaringan kanker kelenjar mamae. Beragam manfaat
teh tadi tidak lepas dari keberadaan senyawa-senyawa dan sifat-sifat yang ada
pada daun teh. Komposisi kimia daun teh segar (dalam % berat kering)
adalah : serat kasar, selulosa, lignin 22%; protein dan asam amino 23%; lemak
8%; polifenol 30%; kafein 4%; pektin 4%.3'4 Daun teh mengandung tiga
komponen penting yang mempengaruhi mutu minuman yaitu kafein, tanin dan
polifenol. Kefein memberikan efek stimulan, tannin yang kandungannya
sekitar 7-15% merupakan astringen kuat yang memberi rasa sepat atau khas
(ketir) dan dapat mengendapkan protein pada permukaan sel; dan polifenol
yang mempunyai banyak khasiat kesehatan.3'4 Senyawa polifenol adalah
antioksidan yang kekuatannya 100 kali lebih efektif dibandingkan vitamin C
dan 25 kali lebih tinggi dibandingkan vitamin E.3'4 Polifenol bermanfaat
untuk mencegah radikal bebas yang merusak DNA dan menghentikan
perkembangbiakan sel-sel liar (kanker). Polifenol juga memberi efek positif
berupa pencegahan penyakit jantung dan stroke. Senyawa antioksidan tersebut
dapat pula memperlancar sistem sirkulasi, menguatkan pembuluh darah dan
menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Dengan polifenol teh membantu
pula dalam penambahan jumlah sel darah putih yang bertanggung jawab
melawan (Sundari dkk, 2009).
Fungsi penambahan stevia (Stevia rebaudiana Botani) pada teh celup yaitu
sebagai salah satu pilihan pemanis alami rendah kalori yang banyak
direkomendasikan oleh ahli gizi dan kesehatan adalah. Ekstarak stevia
memiliki kemanisan sekitar 300 kali kemanisan gula (sukrosa). Senyawa ang
bertanggung jawab atas kemanisan stevia adalah senyawa glikosida, terutama
steviosida dan rebaudiosida yang memiliki kemanisan 250-300 kali sukrosa
(gula dapur), tahan panas, tahan asam dan tidak dapat mengalami fermentasi.
Selain digunakan sebagai pemanis rendah kalori pengganti gula, stevia juga
telah terbukti sangat baik bagi kesehatan, terutama untuk mengatasi kondisi
kegemukan, hipertensi dan diabetes (Subroto, 2011).
Menurut Chan et al (2012) banyak konsumen percaya bahwa teh herbal
alami aman karena herbal dapat meningkatkan kesehatan dan meredakan sakit.
Khasiat yang dimiliki setiap teh herbal berbeda-beda, tergantung bahan bakunya.
Campuran bahan baku yang digunakan merupakan herbal atau tanaman obat yang
secara alami memiliki khasiat untuk membantu mengobati jenis penyakit tertentu.
Pada umumnya herba mengandung antioksidan yang berguna bagi tubuh, selain
itu herba juga berfungsi sebagai penambah aroma dan cita rasa pada teh.
Stevia rebaudiana Bertoni merupakan tumbuhan perdu asli dari Paraguay.
Daun stevia mengandung pemanis alami non kalori dan mampu menghasilkan
rasa manis 70-400 kali dari manisnya gula tebu. Daun stevia mengandung:
apigenin, austroinulin, avicularin, beta-sitosterol, caffeic acid, kampesterol,
kariofilen, sentaureidin, asam klorogenik, klorofil, kosmosiin, sinarosid,
daukosterol, glikosida diterpene, dulkosid A-B, funikulin, formic acid,
gibberellic acid, giberelin, indol-3-asetonitril, isokuersitrin, isosteviol,
jihanol, kaempferol, kaurene, lupeol, luteolin, polistakosid, kuersetin,
kuersitrin, rebaudiosid A-F, skopoletin, sterebin A-H, steviol, steviolbiosid,
steviolmonosida, steviosid, steviosid a-3, stigmasterol, umbelliferon, dan
santofil (5). Kandungan utama daun stevia adalah derivat steviol terutama
steviosid (4-15%) ,rebausid A (2-4%) dan C (1-2%) serta dulkosida A (0,4-
0,7%). Stevia menawarkan banyak keuntungan bagi kesehatan yang telah
dibuktikan oleh lebih dari 500 penelitian, diantaranya: Tidak mempengaruhi
kadar gula darah, aman bagi penderita diabetes, mencegah kerusakan gigi
dengan menghambat pertumbuhan bakteri di mulut, membantu memperbaiki
pencernaan dan meredakan sakit perut. Baik untuk mengatur berat badan,
untuk membatasi makanan manis berkalori tinggi (Raini dan Isnawati, 2011).
Kandungan dari cengkeh yaitu senyawa eugenol yang mempunyai flavor
rempah cengkeh dengan rasa yang pedas dan panas, sehingga banyak
dipergunakan sebagai penambah flavor rajangan bunga cengkeh pada rokok
keretek. Senyawa turunan eugenol yaitu senyawa isoeugenol dan isoeugenol
asetat yang memiliki aroma wangi floral yang enak dan lebih lembut dari
eugenol tetapi masih memiliki aroma cengkeh yang lembut, sehingga cocok
sebagai flavor pada sejumlah produk rokok filter. Senyawa eugenol
mempunyai aktivitas farmakologi sebagai analgesik, antiinflamasi,
antimikroba, antiviral, antifungal, antiseptik, antispamosdik, antiemetik,
stimulan, anastetik lokal sehingga senyawa ini banyak dimanfaatkan dalam
industri farmasi, Pramod et al (2010). Begitupun dengan salah satu turunan
senyawa eugenol, yaitu isoeugenol yang dapat dipergunakan sebagai bahan
baku obat antiseptik dan analgesik, Sharma et al (2006). Aktivitas eugenol
sebagai antimikroba dan antiseptik banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku
obat kumur (mouthwash), pasta gigi, toilet water, cairan antiseptik, tisue
antiseptik dan spray antiseptik (Jirovets, 2010). Nurdjannah (2004)
mengemukakan bahwa obat kumur yang mengandung eugenol cengkeh dapat
menghambat tumbuhnya bakteri Streptococcus mutans dan Streptococcus
viridans yang dapat menyebabkan terjadinya plaque gigi. Disamping itu
hampir semua mikroba mulut dapat ditumpas oleh senyawa eugenol, Rochyani
et al (2007). Dikarenakan aktivitas analgesiknya, senyawa eugenol juga
banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat gosok balsam yang dapat
dipakai untuk mengurangi rasa sakit karena rhematik, serta sebagai bahan
baku obat sakit gigi, cologne, dan produk aroma terapi. Manfaat lain dari
senyawa eugenol dan turunannya adalah sebagai senyawa antioksidan.
Penggunaan antioksidan nabati seperti eugenol dan turunannya pada produk
makanan merupakan alternatif yang sangat aman bagi kesehatan, seperti pada
makanan yang mengandung lemak atau minyak, diantaranya minyak goreng,
keju, margarine, saus tomat, roti, daging olahan dan sereal. Selain itu,
antioksidan eugenol dan turunannya biasa juga dipergunakan pada produk
kosmetik dan obat-obatan serta pada industri plastik maupun karet,
Sharma et al (2006).
Kayu manis (Cinnamomum burmanii) dapat menurunkan kadar glukosa
darah, total kolestrol, dan kadar trigliserida, serta disisi lain dapat
meningkatkan kadar HDL. Kandungan kulit kayu manis adalah alkaloid,
flavonoid, tanin, dan minyak atsiri yang terdiri dari kamfer, safrol, eugenol,
sinamaldehid, sinamilasetat, terpen, sineol, sitral, sitronelal, polifenol dan
benzaldehid. Penurunan kadar kolesterol disebabkan oleh adanya berbagai
kandungan zat aktif di dalam bubuk kayu manis. Diantaranya adalah
proanthocyanidin dan metil hydroychalcone polymer (MHCP) (Vanessa
dkk, 2012).
Teh celup yang dihasilkan pada praktikum ini merupakan teh celup yang
manis, rendah kalori dan kaya antioksidan. Hal ini karena stevia adalah jenis
herba yang memiliki kandungan zat pemanis alami yang bernama stevioside.
Zat pemanis alami/natural yang terkandung dalam tanaman stevia ini
mempunyai tingkat kemanisan mencapai 70-400 kali gula biasa dan zero-
calorie atau bebas kalori. Sehingga oleh karena inilah daun stevia sering
digunakan sebagai pemanis yang cocok bagi penderita diabetes. Adanya
antioksidan pada teh celup berasal dari senyawa polifenol yang berasal dari
teh itu sendiri. Menurut Widyaningrum (2013) polifenol tergolong dalam
antioksidan jenis bioflavonoid yang memiliki kekuatan 100 kali lebih efektif
dari vitamin C dan 25 kali lebih efektif dari vitamin E. Senyawa ini mampu
menetralisir radikal bebas yang menjadi penyebab kanker payudara,
menurunkan resiko kanker lambung, paru-paru, usus besar, hati dan pancreas
serta membantu menurunk tingkat kadar gula dalam darah. Polifenol efektif
mengurangi penumpukan kolesterol jahat (LDL) di dalam darah, karena anti
oksidan mampu mencegah oksidasi kolesterol dalam pembuluh arteri yang
menyebabkan pembekuan trombosit abnormal penyebab terjadinya serangan
jantung dan stroke.
Kebanyakan kantong teh celup terbuat dari keras dan teh yang digunakan
berbentuk serbuk bukan daun teh utuh. Karena jika menggunakan daun teh,
ketika diseduh dengan air panas daun akan mengambang, sehingga
membutuhkan ruang yang cukup untuk membesarnta volume daun teh yang
telah terkena air panas. Sementara kantong teh celup yang terbuat dari kertas
tidak bisa menyediakan ruang yang cukup. Karena itu, dipakailah serbuk teh
tidak akan mengembang sebesar dain teh. Penggunaan serbuk teh juga
mempercepat waktu yang diperlukan untuk menyeduh teh celup. Jika
dibandingkan menggunakan teh utuh, menyeduh teh celup memerlukkan
waktu yang lebih singkat untuk membuat seduhan menjadi pekat warnanya.
Teh yang dikemas dalam pyramid tea sekarang menjadi alternatif bagi para
pecinta teh yang ingin kepraktisan dari teh celup, tetapi dari daun teh pilihan
yang masih berbentuk daun. Bentuk kantong yang seperti pirmida
memberikan ruang yang cukup bagi daun teh untuk mengembang saat
diseduh. Bahan yang digunakan biasanya lebih tebal daripada kertas dan tidak
mudah hancur kettika diseduh dengan air dalam waktu yang lebih lama,
seperti nilon atau sutra. Teh yang dikemas dalam pyramid tea sekarang
menjadi alternatif bagi para pecinta teh yang ingin kepraktisan dari teh celup,
tetapi dari daun teh pilihan yang masih berbentuk daun. Bentuk kantong yang
seperti piramida memberikan ruang yang cukup bagi daun teh untuk
mengembang saat diseduh. Bahan yang digunakan biasanya lebih tebal
daripada kertas dan tidak mudah hancur ketika diseduh dengan air dalam
waktu yang lebih lama, seperti nilon atau sutra (Wongso, 2011).
Kantong kertas teh celup mengandung zat klorin. Zat ini fungsinya untuk
disinfektan kertas sehingga kertas akan terbebas dari bakteri pembusuk dan
tahan lama. Kertas dengan klorin tampak lebih bersih. Karena disinfektan,
klorin dalam jumlah besar tentu berbahaya. Kertas biasanya dibuat dari bahan
pulp atau bubur kertas yang terbuat dari kayu, bahan pulp ini bewarna coklat
tua. Untuk membuat pulp itu menjadi bewarna putih dibutuhkan bahan kimia
pemutih yang terbuat dari senyawa klorin yang cukup pekat (Mulyana, 2014).
Bagian tanaman teh yang dapat digunakan untuk pembuatan teh celup
yaitu bagian daunnya. Menurut Yoga (2011), secara umum terdapat tiga jenis
petikan yang berlaku, yaitu petikan halus, sedang dan kasar. Makin halus
sistem petikan maka akan semakin baik pula mutu teh yang dihasilkan.
Petikan halus terdiri dari peko dan satu helai daun muda, petikan sedang
terdiri dari peko dan dua atau tiga helai daun muda, sedangkan petikan kasar
terdiri dari peko dan tiga helai daun tua atau lebih. Pemetikan dalam jangka
waktu yang singkat memang dalam periode pendek akan memberikan
produksi pucuk dengan mutu yang baik, tetapi hal ini kurang ekonomis
mengingat jumlah yang dapat dipetik hanya sedikit. Hal ini juga berefek
samping terhadap semakin jarangnya jumlah daun dan tanaman menjadi rusak.
Menurut Dedi Soleh Effendi dkk (2010) hasil pengolahan pucuk teh
menjadi teh hitam, teh hijau, teh oolong dan teh wangi, dapat dibuat dalam
bentuk teh celup atau teh langsung seduh. Pemetikan teh adalah pengambilan
pucuk meliputi: 1 kuncup + 2-3 daun muda. Akibat pucuk dipetik maka
pembuatan zat pati berkurang untuk pertumbukan tanaman. Pemetikan pucuk
akan menghilangkan zat pati sekitar 7,5%, semakin kasar pemetikan semakin
tinggi kehilangan zat pati. Kehilangan zat pati akibat pemetikan pucuk tidak
akan mengganggu pertumbuhan tanaman asalkan lapisan daun pemeliharaan
cukup untuk melakukan proses asimilasi. Jenis petikan yaitu macam pucuk
yang dihasilkan dari pelaksanaan pemetikan. Berdasarkan jumlah helaian
daun, jenis petikan terdiri atas beberapa kategori yaitu:
1. Petikan halus, pucuk peko (p) dengan satu daun, atau pucuk burung (b)
dengan satu daun muda (m), rumus p+1 atau b+1m.
2. Petikan medium, pucuk peko dengan dua atau tiga daun muda, serta pucuk
burung dengan satu, dua atau tiga daun muda (p+2, p+3, b+1m, b+2m,
b+3m).
3. Petikan kasar, pucuk peko dengan lebih empat daun dan pucuk burung
dengan beberapa daun tua (t) { (p+4 atau lebih, b+(1-4t)}.
Faktor-faktor yang menentukan mutu teh selain proses pengolahannya,
antara lain letak (tinggi) kebun teh, sistem pemetikan, giliran (rotasi)
pemetikan dan sistem pemangkasan pada kebun teh tersebut. Letak (tinggi)
kebun teh mempengaruhi kualitas dari daun teh itu sendiri, terutama dari
kadar polifenol dan ukuran serat daun teh. Pertumbuhan teh di dataran rendah
memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat daripada di dataran tinggi. Hal
ini berhubungan dengan kebutuhan tanaman akan air dan cuaca yang
mempengaruhi. Pertumbuhan yang lebih cepat inilah yang menyebabkan
ukuran serat daun pada teh yang ditanam di dataran rendah lebih panjang dari
perkebunan dataran tinggi. Hal ini akan mengakibatkan terjadi
ketidakkompakan pada sistem pemetikan serta rotasi pemetikanpun akan
lebih cepat. Sistem pemetikan mempengaruhi kandungan polifenol dan kafein
dari daun teh. Semakin halus sistem pemetikan maka akan semakin tinggi
pula kandungan polifenol dan kafein yang terdapat dalam petikan tersebut.
Hal ini disebabkan karena kandungan polifenol daun teh terbesar terletak
pada pucuk peko. Peko sendiri merupakan pucuk daun teh yang masih
tergulung dan masih aktif bertumbuh. Secara umum terdapat tiga jenis
petikan yang berlaku, yaitu petikan halus, sedang, dan kasar. Makin halus
sistem petikan maka akan semakin baik pula mutu teh yang dihasilkan.
Petikan halus terdiri dari peko dan satu helai daun muda, petikan sedang
terdiri dari peko dan dua atau tiga helai daun muda, sedangkan petikan kasar
terdiri dari peko dan tiga helai daun tua atau lebih. Pemetikan dalam jangka
waktu yang singkat memang dalam periode pendek akan memberikan
produksi pucuk dengan mutu yang baik, tetapi hal ini kurang ekonomis
mengingat jumlah yang dapat dipetik hanya sedikit. Hal ini juga berefek
samping terhadap semakin jarangnya jumlah daun dan tanaman menjadi
rusak. Waktu pergiliran pemetikan ini dipengaruhi oleh musim, perbedaan
letak (tinggi) kebun, dan sistem pemetikan yang dikehendaki. Pada musim
hujan dan kebun teh terletak pada dataran rendah, pucuk tumbuh dengan
sangat cepat yang mengakibatkan rotasi pemetikanpun akan dipercepat pula
dan begitu pula sebaliknya. Sedangkan apabila dikehendaki pemetikan
dengan sistem halus, maka rotasi pemetikan dapat dipersingkat dan begitu
sebaliknya. Untuk mencegah tanaman teh tumbuh terlalu tinggi maka
dilakukan pemangkasan pada kebun teh. Adapun tujuan lain dari
pemangkasan adalah memperbanyak jumlah ranting pada tanaman yang
membentuk pucuk-pucuk baru, merawat tanaman sehingga fase vegetatifnya
tetap dan untuk membentuk tanaman sehingga seragam untuk seluruh kebun.
Adapun beberapa jenis pemangkasan, yaitu pemangkasan induk, bentuk,
produksi, pemangkasan dalam dan lain sebagainya (Yoga, 2011).
Menurut Dedi Soleh Effendi dkk (2010) dalam rangka menghasilkan teh
yang bermutu tinggi, penanganan pucuk teh yang dipanen sebagai bahan baku
perlu ditangani sebaik mungkin sebelum diproses dari kebun sampai ke
pabrik. Saat ini pucuk teh sesuai dengan pasaran ada yang dibuat teh hitam,
teh hijau, teh oolong dan teh wangi. Kualitas produk teh dilihat dari
kandungan seyawa fitokimianya khususnya asam galat, kafein dan
epigalokatekin galat. Dengan menetapkan kadar senyawa tersebut, maka
standar kualitas produk dapat dijaga dan ditingkatkan supaya memiliki daya
saing. Selain itu cita rasa teh juga disajikan dalam berbagai produk kemasan
dan minuman langsung di dalam restauran dengan cara mencampur dengan
bahan yang membuat rasa teh bertambah enak. Kegiatan pengelolaan dan
pemeliharaan tanaman semuanya bertujuan untuk menghasilkan kualitas
catechin dan caffein yang tinggi karena senyawa ini berperan dalam rasa,
warna, dan aroma.
Untuk mendapatkan daun stevia yang bermutu baik perlu diperhatikan
hal-hal berikut. Penanganan pascapanen daun stevia perlu diperhatikan secara
khusus dan teliti agar roduksi daun kering optomal. Saat yang tepat untuk
pemetikan panen pertama tanaman stevia adalah pada saat kandungan
steviosida maksimal, yaitu pada saat tanaman berumur 40-60 hari, tinggi
tanaman mencapai 40 cm - 60 cm, berdaun rimbun, dan menjelang staduim
berbunga. Dengan demikian, dalam satu tahun tanaman stevia dapat dipanen
5-7 kali atau tergantung pada tingkat kesuburan tanah. Waktu panen yang
paling baik adalah pada pagi hari pukul 06.00. Produksi setiap tanaman
berkisar 10-30 gram daunbasah atau 3-9 gram daun kering (Rukmana, 2003).
Herbal sering dikonsumsi dalam bentuk teh, yakni tanaman kering bagian
(daun, bunga, biji, akar dan kulit kayu) direndam dalam air mendidih. Teh
herbal telah telah mendapatkan popularitas dalam beberapa tahun terakhir dan
berbagai dijual di toko makanan kesehatan. Mereka populer karena aroma,
sifat antioksidan dan aplikasi terapi. Banyak konsumen percaya bahwa herbal
teh alami dan aman karena herbal dapat meningkatkan kesehatan dan
meredakan sakit. Herbal dianggap sebagai sumber antioksidan, Chan et al.,
(2012). Untuk mendapatkan mutu herba yang baik dalam pembuatan teh
celup yaitu, pada pembuatan sediaan teh, jumlah dinyatakan dalam takaran
gram dan air dalam takaran mililiter. Derajat kehalusan untuk beberapa herba
sesuai dengan yang tertera berikut ini, untuk daun, bunga dan herba dirajang
kasar dengan ukuran lebih kurang 4 mm. Kayu, kulit dan akar dirajang agak
kasar dengan ukuran lebih kurang 2,5 mm. Buah dan biji digerus atau
diserbuk kasar dengan ukuran lebih kurang 2 mm.
Tabel 4.2 Hasil Uji Organoleptik Teh Celup Manis Rendah Kalori Kaya
Antioksidan
Kode
Warna Aroma Rasa Kenampakan overall
Sampel
246 2,40 a 2,25 a 3,35 a 2,70 a 2,40a
b a a a
135 3,40 2,10 2,45 3,20 2,60 a
357 3,40 b 2,35 a 2,80 a 3,10 a 3,05 b
Sumber: Laporan Sementara
Pada saat praktikum, teh yang sudah jadi akan diuji organoleptik dengan
uji kesukaan. Pengujian dilakukan oleh 20 orang panelis dengan 3 kode sampel
yang berbeda yaitu sampel 246, 135 dan 357. Untuk parameter warna
didapatkan hasil bahwa sampel 246 berbeda nyata dengan sampel 135 dan 357.
Sedangkan sampel 135 tidak berbeda nyata dengan sampel 357. Urutan dari
sampel yang paling disukai sampai yang tidak disukai yaitu sampel 357, 135
dan 246.
Pada parameter aroma didapatkan hasil sampel 246, 135 dan 357 tidak
berbeda nyata satu dengan yang lainnya. Dengan urutan yang paling disukai
sampai yang tidak disukai yaitu sampel 357, 246 dan 135. Dari hasil tersebut
diketahui bahwa ketiga sampel tidak memiliki perbedaan meskipun formulasi
dari ketiganya berbeda. Hal tersebut bisa terjadi karena kesukaan aroma teh
untuk tiap panelis berbeda-beda. Tiap formulasi yang dibuat akan memiliki
keunggulan dan kelemahan masing-masing dan hal tersebut juga
mempengaruhi tingkat kesukaan panelis yang berbeda-beda.
Pada parameter rasa didapatkan hasil sampel 246, 135 dan 357 tidak
berbeda nyata satu dengan yang lainnya. Dengan urutan yang paling disukai
sampai yang tidak disukai yaitu formulasi 357, 246 dan 135. Dari hasil tersebut
diketahui bahwa 3 sampel tidak memiliki perbedaan meskipun formulasi dari
ketiganya berbeda.
Pada parameter kenampakan didapatkan hasil bahwa ketiga sampel tidak
berbeda nyata. Urutan sampel yang disukai sampai yang tidak disukai yaitu
sampel 135, 357 dan 246. Hasil dari kenampakan tersebut dipengaruhi oleh
hasil seduhan yang sama
Pada hasil parameter overall didapatkan hasil bahwa sampel 246 tidak
berbeda nyata dengan sampel 135 tetapi berbeda nyata dengan 357. Hal
tersebut bisa terjadi karena tingkat kesukaan panelis dari tiap formulasi
berbeda. Dari hasil uji organoleptik didapatkan urutan sampel yang paling
disukai sampai sampel yang tidak disukai yaitu sampel 357, 135 dan 246.
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil uji kesukaan teh celup yaitu rasa,
aroma, kenampakan, warna dan overall.
Dari ketiga formulasi teh celup, formulasi yang parameter warna paling
baik yaitu sampel 135 dan 357. Parameter aroma yang paling baik yaitu sampel
357. Parameter rasa yang paling baik yaitu formulasi 246. Parameter
kenampakan yang paling baik yaitu formulasi 135. Parameter overall yang
paling baik yaitu formulasi 357.

E. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil pada praktikum acara IV Pembuatan Teh
Celup Manis Rendah Kalori Kaya Antioksidan adalah :
1. Proses pembuatan teh celup manis adalah teh, jahe, cengkeh, daun stevia,
kayu manis dicampur kemudian dibungkus menggunakan kantung teh
celup kemudian di sealer. Setelah itu teh siap untuk diseduh.
2. Terdapat 4 jenis yang telah dikenal di Indonesia yaitu: Teh hitam, teh hijau,
teh oolong, dan teh wangi.
3. Teh mempunyai banyak manfaat diantaranya sebagai obat diet, anti stress
dan anti kecemasan, melindungi kesehatan liver, mencegah kanker, baik
untu pendrita diabetes dan sebagainya.
4. Kandungan kimia pada teh adalah katekin, flavanol, karbohidrat, protein,
pektin, alkaloid, klorofil, asam organic, vitamin, resin, mineral dan
senyawa-senyawa aromatis.
5. Kandungan utama daun stevia adalah derivat steviol terutama steviosid (4-
15%) ,rebausid A (2-4%) dan C (1-2%) serta dulkosida A (0,4-0,7%).
6. Urutan dari sampel yang paling disukai sampai yang tidak disukai untuk
parameter warna yaitu sampel 135, 357, dan 246
7. Urutan sampel untuk parameter rasa yang paling disukai sampai yang tidak
disukai yaitu sampel 246 , 357, dan 135
8. Urutan sampel yang disukai sampai yang tidak disukai untuk parameter
kenampakan seduhan yaitu sampel 135, 357, dan 246
9. Urutan teh yang disukai secara keseluruhan yaitu sampel 357, 135, 246
10. Fungsi penmabahan jahe dan cengkeh pada teh adalah untuk menimbulkan
rasa dan aroma yang berbeda dari teh biasanya. Selain itu dengan
ditambahnya 2 bahan tersebut manfaat dalam teh tersebut semakin banyak.

DAFTAR PUSTAKA

Chan, Eric Wei Chiang. 2012. Antioxidant and Sensory Properties of Thai Herbal
Teas with Emphasis on Thunbergia laurifolia Lindl. Journal Chiang Mai J.
Sci. Vol.39. No. 4.
Effendi, Dedi Soleh, dkk. 2010. Budidaya Dan Pasca Panen Teh. Pusat Penelitian
dan Pengembangan Perkebunan. Jakarta.
Gupta, Ena. 2013. Nutritional And Therapeutic Values Of Stevia Rebaudiana: A
Review. Journal Of Medicinal Plant Research Vol. 7. No. 46. Hal.3343-
3353.
Harmanto, Ning. 2007. Jus Herbal segar dan menyehatkan. Elex Media
Komputindo. Jakarta.
Jirovetz, L. 2010. Medicinal Value of Clove. University of Vienna, Departement
Pharmacy and Diagnostics, Austria. (1 Sptember 2010).
Mulyana. 2014. Bahaya Teh Celup Bagi Kesehatan. Jurnal Kesehatan. Vol. 5 No.
4: 347-348. ISSN : 1543 1574.
Munisa, Andi; Tutik Wresdiyati; Nastiti Kusumorini dan Wasmen Manalu. 2012.
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Cengkeh. Jurnal Veteriner September
2012 Vol. 13 No. 3: 272-277. ISSN : 1411 8327.
Nurdjannah, N. 2004. Diversifikasi Penggunaan Cengkeh. Perspektif 3(2) : 61-70.
Pramod, K., S.H. Ansari and J. Ali. 2010. Eugenol: a natural compound with
versatile pharmacological actions. Natural Product Communications 5(12) :
1999-2006.
Raini, Mariana dan Ani Isnawati. 2011. Khasiat dan Keamanan Stevia Sebagai
Pemanis Pengganti Gula. Jurnal Media Litbang Kesehatan Volume 21
Nomor 4 Tahun 2011.
Rukmana, Rahmat. 2003. Budidaya Stevia. Kanisius. Yogyakarta.
Sharma, S.K., V.K. Srivastava and R.V. Jasra. 2006. Selective Double Bond
Isomerization of Allyl Phenylmethers Catalyzed by Ruthenium Metal
Complexes. Journal of Molecular Catalysis A : Chemical 245 : 200-209.
Sharma, VK et al.2007. Review Article Health Benefits of Tea Consumption.
Tropical Journal of Pharmaceutical Research Vol.6.No. 3. Hal. 785-792.
Sinija, V. R dan H. N. Mishra. 2008. Green Tea: Health Benefits. Journal of
Nutritional & Environmental Medicine Vol. 17. No. 4. Hal. 232242.
Subroto, Muhammad Ahkam. 2011. Real Food True Health Makanan Sehat Untuk
Hidup Lebig Sehat. Agromedia. Jakarta.
Sundari, Dian; Budi Nuratmi dan M. Wien Winarno. 2009. Toksisitas Akut (Ld50)
dan Uji Gelagat Ekstrak Daun Teh Hijau (Camellia Sinensis (Linn.) Kunze)
Pada Mencit. Media Penelit. dan. Pengembang. Kesehat. Volume XIX
Nomor 4 Tahun 2009.
Tuminah, S. 2004. Teh (Camellia sinensis O.K. var. Assamica (Mast)) sebagai
Salah Satu Sumber Antioksidan. Cermin Dunia Kedokteran No.144.
Utomo, Anang Budi; Agus Suprijono dan Ardan Risdianto. 2012. Uji Aktivitas
Antioksidan Kombinasi Ekstrak Sarang Semut (Myrmecodia Pendans) &
Ekstrak Teh Hitam (Camellia Sinensis O.K.Var.Assamica (Mast.)) dengan
Metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi
Yayasan Pharmasi Semarang.
Vanessa, Rebecca; Lorensia Maria Ekawati Purwijantiningsih, Yuniarti Aida.
2012. Pemanfaatan Minuman Serbuk Instan Kayu Manis (Cinnamomum
Burmanii Bi.) untuk Menurunkan Kadar Kolesterol Total Darah pada Tikus
Putih (Rattus Norvegicus). Jurnal Teknobiologi, Universitas Atma Jaya
Yogyakarta.
Widyaningrum, Naniek. 2013. Epigallocatechin-3-Gallate (Egcg) Pada Daun Teh
Hijau Sebagai Anti Jerawat. Vol. 17, No.3 November 2013, Hlm. 95 98
(Issn : 1410-7031).
Wongso, William W. 2011. Kisah Dan Khasiat Teh. Gramedia. Jakarta.
Yoga, Dharma. 2011. Penentu Mutu Daun Teh. Jurnal Pertanian. Vol. 25 Nomor
17.
Yudana A dan Luize A. 2009. Mengenal ragam dan manfaat Teh. Jurnal manfaat
teh hitam Vol. 21 No. 5.

Lampiran Gambar
Gambar 4.1 Proses Peramuan Teh dan Stevia

Gambar 4.2 Proses Penyeduhan Teh