Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan pondasi pokok dalam kelangsungan hidup suatu

bangsa. Pendidikan dapat dijadikan sebagai alat ukur keberhasilan suatu

bangsa dalam hal pemeliharaan dan perbaikan kehidupan masyarakat. Hal ini

karena pendidikan memegang peranan penting untuk meningkatkan dan

mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM). Sistem pendidikan yang baik

pada suatu negara akan mampu menghasilkan SDM yang berkualitas, dapat

diandalkan, kompeten, dan profesional dalam bidangnya, serta memiliki

kemandirian sebagai modal untuk bersaing dengan dunia luar.

Dalam arti sederhana, pendidikan sering diartikan sebagai usaha

manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam

masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan

atau pedagogie berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan

sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Selanjutnya, berdasarkan

Sudirman, dkk. (1992: 4), pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan

oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai

tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Nomor 20

Tahun 2003 pasal 1 ayat (1) (Hasbullah, 2005: 147) menyebutkan bahwa

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana

belajar dalam proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan

spiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, serta

keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Oleh


karena itu peningkatan mutu pendidikan harus diikuti peningkatan mutu

peserta didik yang menjadi subjek didik.

Subjek didik merupakan salah satu komponen manusiawi yang menempati


posisi sentral dalam proses belajar mengajar. Peserta didik sebagai pihak
yang ingin meraih cita-cita di dalam proses belajar mengajar, memiliki
tujuan dan kemudian ingin mencapainya secara optimal. Siswa atau
peserta didik itu akan menjadi faktor penentu, sehingga menuntut dan
dapat mempengaruhi segala sesuatu yang diperlukan untuk mencapai
tujuan belajarnya (Sardiman, 2007: 111).

Peningkatan mutu pendidikan pada dasarnya tidak hanya melibatkan

peserta didik sebagai subjek didik saja, namun memerlukan peran pendidik

sebagai orang yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan

pendidikan dengan sasaran peserta didik. Guru sebagai pendidik di lingkungan

sekolah yang memiliki peran yang besar dalam menuntun peserta didik untuk

mampu mencapai tujuan belajarnya. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005

tentang guru dan dosen menyebutkan bahwa guru adalah pendi dik

professional dengan tugas utama mendidik, mengajar,

membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta

didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar,

dan pendidikan menengah. Paradigma pendidikan lama mengkonsep bahwa

peningkatan mutu pendidikan di Indonesia dilakukan melalui peran aktif guru di

kelas. Guru sebagai tenaga pendidik merupakan center of

learning, segala aktivitas

belajar mengajar berpusat pada guru, sehingga memunculkan pemahaman

bahwa faktor penentu utama keberhasilan peserta didik adalah guru. Paradigma ini

memunculkan berbagai tanggapan terhadap proses pembelajaran peserta didik

yang pasif, seharusnya dalam proses pembelajaran


Menurut Djamarah (1996:6) salah satu strategi dasar penting sebagai

pedoman melaksanakan strategi pembelajaran agar berhasil sesuai dengan yang

diharapkan, diperlukan strategi pemilihan metode dan model pengajaran yang

sesuai dengan kondisi siswa.

Adapun strategi pembelajaran yang dapat mendorong semangat belajar

siswa, agar siswa tidak bosan dan memperhitungkan karakteristik siswa sehingga

mampu meningkatkan hasil belajar siswa yaitu dengan menerapkan metode

pembelajaran kooperatif (Ibrahim, 2000). Metode pembelajaran kooperatif

terdapat model TGT (Team Games Turnament) dan STAD (Student Teams

Achievement Division). Model pembelajaran STAD adalah salah satu cara dalam

metode pembelajaran kooperatif yang dapat menumbuhkan kemampuan

kerjasama, berfikir kritis dan dapat membantu teman dalam memahami materi

pelajaran secara bersama-sama.

Berdasarkan pengertian model pembelajaran STAD di atas maka secara

garis besar pembelajaran STAD ini dapat mewujudkan sistem pembelajaran yang

memudahkan siswa dalam memahami dan mengingat materi pelajaran secara

bersama-sama tanpa adanya persaingan yang tidak berarti antar siswa. Harapan

yang diwujudkan jika diterapkan model pembelajaran STAD yang menekankan

pada kebersamaan dan kegotongroyongan pada pelajaran matematika adalah

meningkatkan hasil belajar dan memudahkan siswa memahami konsep

matematika. Selain itu dengan adanya pelajaran matematika yang telah ditempuh

siswa di sekolah, mereka bisa mempraktekkan konsep teori matematika dari

sekolah tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Hal tersebut merupakan pendorong peneliti untuk mencoba meneliti tentang:

Penerapan metode pembelajaran kooperatif model STAD (student teams

achievement division) dalam materi program linier dapat meningkatkan hasil

belajar siswa kelas XI I PS semester ganjil tahun ajaran 2016/2017 di SMA

Negeri 1 Kuningan . Masalah yang akan dicari solusi pemecahan dalam

penelitian ini sebagai berikut: dari latar belakang yang telah diuraikan diatas,

maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut: Apakah

penerapan metode pembelajaran kooperatif model STAD (Student Teams

Achievement Division) dalam materi Program Linier dapat meningkatkan hasil

belajar siswa kelas XI .1 IPS. semester ganjil tahun ajaran 2016/2017 di SMA

Negeri 1 Kuningan .

3. Tinjauan Mengenai Model Pembelajaran Koperatif Tipe Student Teams

Achievement Divisions (STAD)

a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang

dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik (academic skill),

sekaligus keterampilan social (social skill) termasuk interpersonal skill

(Yatim Riyanto, 2008: 271). Arends (2008), mengemukakan model

pengajaran pembelajaran kooperatif (cooperative learning), berupaya

membantu siswa untuk mempelajari isi akademis dan berbagai

keterampilan untuk mencapai berbagai sasaran dan tujuan sosial dan

hubungan antar-manusia yang penting.

Sharan dalam Isjoni dan Arif Ismail (2008: 157-158),

mengemukakan bahwa:
Siswa yang belajar dengan menggunakan jenis pembelajaran kooperatif
akan memiliki motivasi yang tinggi karena dibantu dari teman sebaya.
Pembelajaran kooperatif juga menghasilkan peningkatan kemampuan
akademik, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, membentuk hubungan
persahabatan, menerima berbagai informasi, belajar menggunakan sopan-
santun, meningkatkan motivasi siswa, meningkatkan sikap anak yang positif
terhadap sekolah dan belajar mengurangi tingkah laku yang kurang baik,
serta membantu siswa dalam menghargai pokok pikiran orang lain.

Kunci dari pembelajaran kooperatif adalah bekerjasama. Kerjasama adalah

suatu bentuk interaksi, merancang untuk memudahkan pencapaian tujuan lewat

bekerjasama dalam kelompok. Pembelajaran kooperatif didefinisikan sebagai

sekumpulan proses yang membantu siswa untuk berinteraksi dalam rangka

mencapai tujuan tertentu atau membangun hasil karya yang diinginkan.

Pembelajaran ini merupakan model pembelajaran yang mengutamakan

kerjasama di antara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model ini

memiliki ciri pokok yaitu siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif

yang dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan

rendah. Selain itu penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok daripada

perorangan. Tujuan dari pembelajaran ini adalah hasil belajar.43 akademik,

penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial.

Penjelasan lebih lanjut tentang tiga tujuan penting pembelajaran

kooperatif yaitu sebagai berikut:

1) Hasil belajar akademik

Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa

dalam tugas-tugas akademik. Banyak ahli yang berpendapat bahwa

model kooperatif unggul dalam membantu siswa untuk memahami

konsep-konsep yang sulit.

2) Penerimaan terhadap keragaman


Model kooperatif bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya

yang mempunyai berbagai macam latar belakang. Perbedaan tersebut

antara lain: perbedaan suku, agama, kemampuan akademik, dan tingkat

sosial.

3) Pengembangan keterampilan sosial

Keterampilan sosial yang dimaksud dalam pembelajaran kooperatif

antara lain: berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang

lain, memancing teman untuk bertanya, mau menjelaskan ide atau

pendapat, bekerja dalam kelompok, dan sebagainya.

b. Unsur dan Ciri Pembelajaran Kooperatif

Menurut Mohammad Nur (2005: 3) pembelajaran yang menggunakan model

cooperative learning pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi

belajarnya.

2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan

rendah.

3) Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, bangsa, suku, dan

jenis kelamin yang berbeda-beda.

4) Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok daripada

individu.
Menurut Lundgren (Sukarmin, 2002: 2), unsur-unsur dasar yang perlu

ditanamkan pada diri siswa agar cooperative learning lebih efektif adalah sebagai

berikut :

1) Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka te nggelam atau berenang

bersama.
2) Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap tiap siswa lain dalam

kelompoknya, di samping tanggung jawab terhadap diri sendiri, dalam

mempelajari materi yang dihadapi.

3) Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan

yang sama.

4) Para siswa harus membagi tugas dan berbagi tanggung jawab sama besarnya

di antara anggota kelompok.

5) Para siswa akan diberikan suatu evaluasi atau penghargaan yang akan

ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.

6) Para siswa berbagi kepemimpinan, sementara mereka memperoleh

keterampilan bekerja sama selama belajar.

7) Para siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual

materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

c. Prinsip Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif memiliki prinsip-prinsip yang

membedakan dengan model pembelajaran lainnya. Konsep utama dari belajar

kooperatif menurut Slavin (dalam Trianto, 2009: 61-62), adalah sebagai

berikut:

1) Penghargaaan kelompok, yang diberikan jika kelompok mencapai

kriteria yang ditentukan.

2) Tanggung jawab individual, bermakna bahwa suksesnya kelompok

tergantung pada belajar individual semua anggota kelompok. Tanggung

jawab ini terfokus dalam usaha untuk membantu yang lain dan

memastikan setiap anggota kelompok telah siap menghadapi evaluasi

tanpa bantuan yang lain.


3) Kesempatan yang sama untuk sukses, bermakna bahwa siswa telah

membantu kelompok dengan cara meningkatkan belajar mereka sendiri.

Hal ini memastikan bahwa siswa berkemampuan tinggi, sedang,

dan rendah sama-sama

tertantang untuk melakukan yang terbaik dan bahwa kontribusi semua

anggota kelompok sangat bernilai.

d. Keunggulan Pembelajaran Kooperatif

Keuntungan menggunakan pembelajaran kooperatif antara lain adalah

sebagai berikut:

1) Membiasakan supaya terampil dalam berpikir kritis.

2) Meningkatkan hasil belajar siswa satu kelas.

3) Model menyesuaikan siswa dalam teknik problem solving.

4) Menampilkan pembelajaran sesuai selera personal.

5) Memotivasi siswa dalam kurikulum tertentu.

6) Membangun sistem pendukung sosial dalam diri siswa.

7) Membangun variasi pemahaman diantara siswa dan guru.

8) Menetapkan lingkungan yang baik dalam memberi contoh dan

menerapkan kerjasama.

9) Membangun komunitas belajar.

10) Membangun kepercayaan diri siswa.

11) Menambah ketertarikan.

12) Mengembangkan sikap positif dalam diri seorang guru.

13) Dapat menggunakan berbagai teknik penilaian.

e. Pelaksanaan pada Model Pembelajaran Kooperatif


Terdapat variasi pendekatan pada model pembelajaran
kooperatif menurut Ibrahim, dkk (Trianto, 2009: 67-68) yaitu:

1) Students Teams Achievement Divisions (STAD).

2) Jigsaw.

3) Investigasi Kelompok (Group Investigations atau GI).

4) Pendekatan Struktural yang meliputi Think Pair Share (TPS) dan Numbered

Head Together (NHT).

Berikut ini perbandingan empat pendekatan dalam pembelajaran kooperatif

menurut Ibrahim, dkk (Trianto, 2009: 67-68) yaitu:

1) Students Teams Achievement Divisions (STAD)

Pembelajaran kooperatif dengan setiap anggota kelompok yang

heterogen saling bekerja sama dan bertanggung jawab terhadap pemahaman

suatu konsep atau informasi. Informasi yang diberikan merupakan informasi

akademik sederhana. Pemilihan topik dilakukan oleh guru. Model ini

menggunakan suatu kuis untuk mengukur pemahaman konsep dari siswa.

2) Jigsaw

Menggunakan dua kelompok yaitu kelompok asal dan kelompok ahli.

Siswa mempelajari materi dalam kel ompok ahli, kemudian membantu

anggota kelompok asal u ntuk mempelajari materi itu. Materi atau konsep

yang dipelajari berupa informasi akademik sederhana. Pemilikan topik

pelajaran

dilakukan oleh guru. Pemahaman siswa mengenai konsep yang dipelajari ini

dapat diketahui dan diukur dengan menggunakan tes mingguan.

3) Group Investigations (GI)


Merupakan teknik cooperation learning di mana para siswa bekerja di

dalam kelompok-kelompok kecil untuk menangani berbagai macam proyek

kelas. Konsep yang dipelajari berupa informasi akademik tingkat tinggi dan

keterampilan inkuiri. Pemilihan topik pelajaran biasanya dilakukan oleh siswa.

Dalam metode ini hadiah atau point tidak diberikan. Penilaian dapat dilakukan

dengan menyelesaikan proyek dan menulis laporan, dapat juga menggunakan

tes essay.

4) Think Pair and Share (TPS)

Pembelajaran ini dilakukan dengan siswa saling berdiskusi antar teman

sebelahnya (2 siswa) atau lebih, mengenai permasalahan/materi yang

sampaikan oleh guru. Informasi yang dipelajari berupa informasi akademik

sederhana. Penugasan pembelajaran ini yaitu siswa mengerjakan tugas-tugas

yang diberikan secara sosial dan kognitif. Penilaian dapat dilakukan secara

bervariasi baik berupa tugas maupun tes individu.

5) Numbered Head Together (NHT)

Pembelajaran tipe NHT hampir sama dengan tipe TPS yang merupakan suatu

pendekatan pembelajaran secara struktural. Pembelajaran dilakukan secara

berkelompok dengan anggota yang heterogen untuk mendiskusikan permasalahan

yang diberikan oleh guru. Hanya yang membedakan NHT yaitu masing-masing

siswa dalam satu kelompok memiliki nomer yang berbeda. Ketika nomer

disebutkan/dipanggil oleh guru, siswa dari masing-masing kelompok yang

memiliki nomer tersebut berdiri dan menjelaskan hasil diskusi dari kelompoknya.

Informasi yang dipelajari berupa informasi akademik sederhana. Penugasan

pembelajaran ini yaitu siswa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan secara


sosial dan kognitif. Penilaian dapat dilakukan secara bervariasi baik berupa tugas

maupun tes individu.

Fase Tingkah laku Guru


Fase-1 Guru menjelaskan tujuan-tujuan
Mengklarifikasikan pembelajaran dan establishing set.
tujuan dan
establishing set
Fase-2 Guru mempresentasikan informasi
Mempresentasikan kepada siswa secara verbal atau
informasi dengan teks.
Fase-3 Guru menjelaskan kepada siswa
Mengorganisasikan tatacara membentuk tim-tim belajar
siswa ke dalam tim- dan membantu kelompok melakukan
tim belajar transisi yang efisien.
Fase-4 Guru membantu tim-tim belajar
Membimbing kerja- selama mereka mengerjakan
tim dan belajar tugasnya.
Fase-5 Guru menguji pengetahuan siswa
Mengujikan berbagai tentang berbagai materi belajar atau
materi kelompok-kelompok
mempresentasikan hasil-hasil
kerjanya.
Fase-6 Guru mencari cara untuk mengakui
Memberikan usaha dan prestasi individual
pengakuan maupun kelompok.
Sumber: Arends (2008: 21).

f. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Berdasar Slavin (Arends, 2008: 13), STAD dikembangkan oleh Slavin

dan rekan-rekan sejawatnya di Hopkins University. Pendekatan ini

merupakan pendekatan yang paling sederhana dan paling mudah dipahami.

Guru yang menggunakan STAD menyajikan informasi akademis baru kepada

siswa setiap minggu atau secara reguler, baik melalui presentasi verbal atau

teks. Siswa di kelas tertentu dibagi menjadi beberapa kelompok atau tim
belajar dari kedua gender (laki-laki dan perempuan), dari berbagai rasial atau

etnis dan dengan prestasi rendah, rata-rata, dan tinggi. Anggota tim

menggunakan worksheets atau alat belajar lain untuk menguasai berbagai

materi akademis dan kemudian saling membantu untuk mempelajari berbagai

materi melalui tutoring, saling memberikan kuis, atau melaksanakan diskusi

tim. Secara individual, siswa diberi kuis mingguan atau dua minggu tentang

berbagai materi akademis. Kuis-kuis diskor dan masing-masing individu

diberi skor kemajuan untuk mengetahui perkembangan siswa.

Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini memiliki ciri utama yaitu

memotivasi siswa dalam satu kelompok untuk saling memberi semangat, saling

bekerja sama dan saling membantu untuk menuntaskan informasi atau

keterampilan yang sedang dipelajari untuk menghadapi kuis individu.

Pembelajaran kooperatif ini juga menekankan adanya sebuah penghargaan

sehingga siswa lebih termotivasi untuk belajar. Adanya penghargaan tersebut

dapat memotivasi siswa untuk lebih baik dalam menghadapi kuis individu yaitu

memperoleh skor terbaik.

Terdapat lima komponen utama dalam pembelajaran STAD antara lain

sebagai berikut (dalam Mohamad Nur, 2005:20):

1) Presentasi Kelas

Presentasi kelas dalam STAD berbeda dari pengajaran biasa hanya pada

presentasi tersebut harus jelas-jelas memfokuskan pada unit STAD. Dengan

cara ini, siswa menyadari bahwa mereka harus sungguh-sungguh

memperhatikan presentasi kelas tersebut, karena dengan begitu akan

membantu mereka mengerjakan kuis dengan baik, dan skor kuis mereka

menentukan skor timnya.


2) Kerja Tim

Tim atau kelompok tersusun dari 4-5 siswa yang mewakili heterogenitas

dalam kinerja akademik, jenis kelamin, dan suku. Fungsi utama tim adalah

menyiapkan anggotanya agar berhasil menghadapi kuis. Kerja tim tersebut

merupakan ciri terpenting STAD. Tim tersebut menyediakan dukungan teman

sebaya untuk kinerja akademik yang memiliki pengaruh berarti pada

pembelajaran, serta tim menunjukkan saling peduli dan hormat, hal itulah

yang memiliki pengaruh berarti pada hasil-hasil belajar.

3) Kuis

Dalam mengerjakan kuis siswa tidak dibenarkan saling membantu selama

kuis berlangsung. Hal ini menjamin agar siswa secara individual bertanggung

jawab untuk memahami bahan ajar tersebut.

4) Skor Perbaikan Individual

Setiap siswa dapat menyumbang poin maksimum kepada timnya dalam

sistem penskoran, namun tidak seorang siswa pun dapat melakukan seperti itu

tanpa menunjukkan perbaikan atas kinerja

masa lalu. Setiap siswa diberikan sebuah skor dasar, yang dihitung dari

kinerja rata-rata siswa pada kuis serupa sebelumnya. Kemudian siswa

memperoleh poin untuk timnya didasarkan pada berapa banyak skor kuis

mereka melampaui skor dasar mereka.

5) Penghargaan Tim

Tim dapat memperoleh penghargaan apabila skor rata-rata mereka melampaui

kriteria tertentu. Skor tim dihitung berdasarkan presentase nilai tes mereka

melebihi nilai tes sebelumnya.

Tabel 2. Kriteria Perhitungan Skor


Skor Tes (Kuis) Sumbangan Skor Kelompok
(Poin Perbaikan)
Lebih dari 10 poin di bawah 5
skor awal (perbaikan)
10 hingga 1 poin di bawah 10
skor awal (dasar)
Skor dasar sampai 10 poin di 20
atas skor awal (dasar)
Lebih dari 10 poin di atas 30
skor awal (dasar)
Nilai sempurna (tidak 30
berdasarkan skor awal)

Menurut Mohamad Nur (2005:36) ada tiga (3) tingkat atau kriteria untuk

penghargaan yang diberikan berdasarkan skor tim rata-rata adalah sebagai

berikut.

Tabel 3. Kriteria Rata-rata Skor Tim

Kriteria (Rata-rata Tim) Penghargaan


15 Tim baik (Good Teams)
20 Tim hebat (Great Teams)
25 Tim super (Super Teams)

Kelebihan dalam penggunaan pendekatan pembelajaran ini

adalah sebagai berikut:

1) Mengembangkan serta menggunakan keterampilan berpikir kritis dan

kerjasama kelompok.

2) Menyuburkan hubungan antara pribadi yang positif di antara siswa yang

berasal dari ras yang berbeda.

3) Menerapkan bimbingan oleh teman.

4) Menciptakan lingkungan yang menghargai nilai ilmiah. Kelemahan

penggunaan pendekatan pembelajaran ini adalah:


1) Sejumlah siswa mungkin bingung karena belum terbiasa dengan perlakuan

seperti ini.

2) Guru pada permulaan akan membuat kesalahan-kesalahan dalam

pengelolaan kelas, akan tetapi usaha yang terus menerus akan dapat terampil

menerapkan metode ini.

Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD:

1) Kelompokkan siswa dengan masing-masing kelompok terdiri dari tiga sampai

dengan lima orang. Anggota-anggota kelompok dibuat heterogen meliputi

karakteristik kecerdasan, kemampuan

awal bahasa Indonesia, motivasi belajar, jenis kelamin, ataupun latar belakang

etnis yang berbeda.

2) Kegiatan pembelajaran dimulai dengan presentasi guru dalam menjelaskan

pelajaran berupa paparan masalah, pemberian data, pemberian contoh. Tujuan

presentasi adalah untuk mengenalkan konsep dan mendorong rasa ingin tahu

siswa.

3) Pemahaman konsep dilakukan dengan cara siswa diberi tugas-tugas

kelompok. Mereka boleh mengerjakan tugas-tugas tersebut secara serentak

atau saling bergantian menanyakan kepada temannya yang lain atau

mendiskusikan masalah dalam kelompok. atau apa saja untuk menguasai

materi pelajaran tersebut. Para siswa tidak hanya dituntut untuk mengisi

lembar jawaban tetapi juga untuk mempelajari konsepnya. Anggota kelompok

diberitahu bahwa mereka dianggap belum selesai mempelajari materi sampai

semua anggota kelompok memahami materi pelajaran tersebut.


4) Siswa diberi tes atau kuis individual dan teman sekelompoknya tidak boleh

menolong satu sama lain. Tes individual ini bertujuan untuk mengetahui

tingkat penguasaan siswa terhadap suatu konsep dengan cara siswa diberikan

soal yang dapat diselesaikan dengan cara menerapkan konsep yang dimiliki

sebelumnya.

5) Hasil tes kuis selanjutnya dibandingkan dengan rata-rata

sebelumnya dan poin akan diberikan berdasarkan tingkat

keberhasilan siswa mencapai atau melebihi kinerja sebelumnya.

Poin ini selanjutnya dijumlahkan untuk membentuk skor

kelompok.

6) Setelah itu memberikan penghargaan kepada kelompok yang

terbaik presentasinya atau yang telah memenuhi kriteria tertentu.

Penghargaan dapat berupa hadiah, pujian, tambahan nilai dan

lain-lain.

B. Kerangka Berpikir

Proses pembelajaran di kelas merupakan upaya yang sangat penting agar

siswa mampu mencapai tujuan belajar yang nantinya akan terlihat dari

pencapaian hasil belajar siswa yang optimal. Namun, pembelajaran akuntansi

yang diterapkan di kelas masih menggunakan model konvensional yaitu

model ceramah, belum menerapkan variasi model pembelajaran yang

menciptakan lingkungan belajar yang memotivasi siswa untuk aktif dalam

kegiatan pembelajaran. Motivasi siswa yang rendah pada kegiatan

pembelajaran akan berpengaruh pada rendahnya pemahaman siswa terhadap

suatu materi sehingga menyebabkan hasil belajar pun siswa cenderung rendah.
Model pembelajaran akuntansi yang bervariasi akan membantu guru

menciptakan kondisi yang efektif pada saat kegiatan pembelajaran. Salah satu

model yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Pada model pembelajaran ini, siswa bekerjasama dalam satu kelompok belajar

yang bersifat heterogen, setiap kelompok bertanggungjawab terhadap pemahaman

konsep anggota kelompoknya, selanjutnya secara individual siswa akan diberikan

soal kuis untuk mengukur pemahaman konsep. STAD menekankan siswa dalam

satu kelompok dapat lebih termotivasi untuk saling membantu memahami materi

yang belum dipahami dan saling bekerjasama untuk mencapai ketuntasan materi.

Melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD diharapkan siswa lebih

termotivasi untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas, lebih mudah

memahami materi pelajaran dan mampu bekerjasama dengan anggota kelompok

untuk mencapai hasil belajar yang maksimal. Berdasarkan penjelasan tersebut.

C. Hipotesis Tindakan

Jika Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Model Stad (Student

Teams Achievement Division) dalam Materi program Linier maka dapat

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPS Semester Ganjil tahun Ajaran

2016/2017 di SMA a Negeri 1 Kuningan

BAB III

METODE PENELITIAN

Daerah penelitian adalah tempat atau lokasi yang dijadikan sebagai tempat

untuk melakukan penelitian. Hal ini sesuai dengan pendapat Hadi (1991; 61) yang
mengatakan bahwa daerah penelitian merupakan tempat atau obyek penelitian yang

dilakukan.

Metode penentuan daerah penelitian yang digunakan dalam penelitian ini

adalah purposive sampling. Dalam metode purposive sampling daerah yang

menjadi obyek penelitian ditentukan dengan sengaja dan didasarkan pada

pertimbangan tertentu. Ari Kunto (1998, 127 128) mengatakan bahwa

penggunaan teknik purposive sampling biasanya dilakukan karena terbatasnya

waktu, tenaga dan dana, sehingga tidak mengambil sampel yang besar dan

letaknya jauh. Adapun yang menjadi penelitian adalah SMA Negeri 1 Kuningan .

Pendekatan pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan

kuantitatif. Sudjana (1989; 197 200) mengemukakan bahwa pendekatan

kualitatif memiliki ciri ciri sebagai berikut:

1. Menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data langsung.

2. Bersifat deskriptif analitik, karena data yang diperoleh tidak dituangkan dalam

bentuk statistik, namun dalam bentuk kata-kata atau gambar.

3. Lebih menekan proses dari pada hasil.

4. Analisa data bersifat induktif karena penelitian tidak dimulai dari teori

deduksi, dari lapangan.

5. Menggunakan makna.

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan, maksudnya peneliti akan

bersifat secara aktif dan terlibat langsung dalam proses penelitian serta

memberikan kerangka kerja secara teratur sistimatis.

Penentuan subyek penelitian menggunakan metode populasi yaitu seluruh

siswa kelas XI.1 IPS. semester ganjil di SMA Negeri 1 Kuningan dengan siswa
laki-laki sebanyak 14 dan siswa perempuan sebanyak 22, jadi jumlah siswa

keseluruhan sebanyak 36 siswa, pemilihan subyek pada penelitian didasarkan

pada pertimbangan bahwa siswa kelas XI.1 IPS memiliki tingkat kecerdasan yang

heterogen, perhatian siswa kurang perlu ditingkatkan dan partisipasi aktif siswa

kurang.

Desain penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah model skema

spiral dari Hopkins (dalam Tim Proyek PGSM, 1999:7) dengan menggunakan

empat fase, yaitu: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Keempat fase

tersebut merupakan suatu siklus dalam sebuah penelitian tindakan kelas yang

digambarkan dengan sebuah penelitian tindakan kelas seperti ditunjukkan dalam

gambar berikut:

Rencana

Refleksi

Tindakan/
Observasi

Refleksi

Tindakan/
Observasi
Rencana
Perbaikan

Gambar 1. Spiral Penelitian Tindakan Kelas Model Hopkins


(Dalam Tim Proyek PGSM, 1997:7)
Berdasarkan gambar model spiral di atas, penelitian tindakan kelas yang

akan peneliti terapkan berupa proses pengkajian berdaur yang terdiri atas empat

fase, yaitu perencanaan, melakukan tindakan, mengamati dan merefleksikan.

Penelitian ini direncanakan akan dilakukan sebanyak dua siklus. Hal-hal yang
akan dilaksanakan pada siklus I dan siklus II, selanjutnya akan diuraikan sebagai

berikut:

Pelaksanaan pengajaran pada siklus 1 dilaksanakan dalam 2 kali

pertemuan yaitu tanggal 4 dan 8 Agustus 2016 , serta pertemuan 3 dan 4 adalah

tes 1 dan tes 2 pada siklus 1 dengan pokok bahasan Program Linier. Tahap-tahap

yang akan dilaksanakan pada siklus I dalam penelitian ini mengacu pada model

skema spiral penelitian tindakan kelas dari Hopkins (dalam Tim Proyek PGSM,

1999:7) dengan menggunakan empat fase, yaitu: perencanaan, tindakan, observasi

dan refleksi. Hal-hal yang akan dilaksanakan dalam empat fase tersebut dijelaskan

sebagai berikut:

1. Perencanaan Tindakan

Tahap perencanaan tindakan dilakukan beberapa persiapan. Persiapan

tersebut meliputi; Perencanaan Pengajaran (RPP), Pedoman observasi, Menyusun

daftar kelompok siswa, Menyusun daftar peran siswa dalam kegiatan belajar,

Penyusunan lembar tugas sebagai panduan belajar dalam kelompok, Menyiapkan

tes pendahuluan, soal tes 1 dan tes 2 serta kunci jawaban.

2. Pelaksanaan tindakan

A. Pertemuan pertama

Berdasarkan rencana yang telah disusun dan dipersiapkan, maka

pelaksanaan tindakan pertama dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 4 Agustus

2016 dikelas XI.1 IPS di SMA Negeri 1 Kuningan

Pelaksanaan tindakan pertama ini mulai diterapkan pembelajaran dengan

model STAD pada Materi Pokok Program Linier dengan KD 3.1 Mendeskripsikan

konsep sistem persamaan dan pertidaksamaan linier dua variabel dan

menerapkannya dalam pemecahan masalah program linier. Adapun langkah yang


diambil pengertian dalam menerapkan pembelajaran dengan model STAD pada

pertemuan I adalah sebagai berikut:

(1) peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran kepada siswa dan

menjelasakan sekilas tentang model pembelajaran STAD serta

meningkatkan kembali tentang model pembelajaran STAD serta

meningkatkan kembali tentang peran masng-masing siswa dalam

kelas, dimana sebelum tindakan peneliti telah mengumumkan peran

tersebut.

(2) siswa dengan bimbingan guru dibimbing untuk duduk sesuai dengan

kelompoknya masing-masing telah tersedia.

(3) peneliti mengadakan presentasi mengenai materi pokok bahasan

Program Linier dengan KD 3.1 dan memberikan motivasi agar siswa

selalu berdiskusi dan bertanya serta terbuka pada setiap anggota

kelompok. Motivasi tersebut berupa ilustrasi singkat mengenai

manfaat yang akan diperoleh setiap individu dan kelompok, setelah

materi selesai diajarkan terhadap kelompok dan siswa yang

mempunyai poin perkembangan tertinggi akan mendapat hadiah.

(4) Peneliti sebagai guru membagi lembar tugas I mengenai materi

Program Linier KD 3.1 pada masing-masing kelompok. Siswa diberi

waktu 10 menit

untuk membaca buku paket yang dimiliki, dan selanjutnya mereka

mulai mengerjakan

(5) pada akhir pembelajaran siswa mengumpulkan lembar tugas.

sebelum menutup pelajaran guru memberikan tugas merangkum materi

yang akan diajarkan. Saat belajar dalam kelas peneliti tidak lupa selalu
memberikan fasilitas kepada siswa untuk selalu bertanya kepada

peneliti apabila ada materi yang sulit untuk dipahami.

B. Pertemuan kedua

Pada pertemuan kedua langkah-langkahnya sama dengan pertemuan I

yaitu guru menyampaikan tujuan pembelajaran kepada siswa. Pertemuan ini

dilaksanakan pada hari Senin tanggal 8 Agustus 2016, dengan melaksanakan

model pembelajaran STAD tahap kedua. Adapun materinya adalah KD 3.1

(lanjutan dari pertemuan sebelumnya), dengan alokasi waktu 2 x 45 menit.

Pembelajaran materi Pembinaan yang sama dengan penerapan pada pertemuan

pertama, yaitu; model pembelajaran STAD. Akhir pembelajaran peneliti memberi

tugas kepada siswa untuk menerangkan pelajaran yang telah dipelajari mengenai

materi Menerapkan prosedur yang sesuai untuk menyelesaikan masalah program

Linier terkait masalah nyata dan menganalisis kebenaran langkah-langkahnya.

Hal ini bertujuan agar siswa mempelajari kembali materi yang telah diajarkan

peneliti. Selain itu peneliti mengumumkan kepada siswa untuk mempersiapkan

diri belajar di rumah karena pada pertemuan selanjutnya diadakan tes. Untuk

mempermudah melihat pemahaman siswa terhadap materi, peneliti mengadakan 2

kali pertemuan untuk tes, diharapkan waktu yang tersisa digunakan peneliti untuk

mengulas kembali soal tes.

C. Pertemuan ketiga

Pada tanggal 13 Agustus 2016 hari Sabtu dilakukan tes I dengan materi

pokok KD 3.1 Mendeskripsikan konsep sistem persamaan dan pertidaksamaan

linier dua variabel dan menerapkannya dalam pemecahan masalah program

linier,selama satu kali pertemuan yaitu 10.30-11.15 WIB dengan jumlah soal 5,

soal berbentuk essai. Waktu yang tersisa setelah tes I dilaksanakan, untuk satu jam
berikutnya yaitu 11.15-12.00 WIB diadakan pembahasan terhadap soal-soal yang

diberikan

D. Pertemuan keempat

Pada tanggal 20 Agustus 2016 hari Sabtu dilakukan tes 2 dengan materi

pokok KD 3.1 yang merupakan lanjutan dari materi sebelumnya.Adapun alokasi

waktu sama dengan pertemuan ketiga

Peneliti mengumumkan apabila diantara mereka apabila hasil tes II

melebihi skor hasil tes I maka mereka akan mendapatkan poin peningkatan

individu dan poin tersebut disumbangkan kepada kelompok. Sumbangan terbesar

untuk kelompok dapat menciptakan kelompok yang mendapatkan sebutan sebagai

kelompok terbaik dan mendapatkan penghargaan berupa hadiah.

3. Observasi

Kegiatan observasi ini dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan

berlangsung yang dibantu oleh guru mata pelajaran matematika dan 2 orang teman

peneliti. Adapun maksud diadakan observasi adalah untuk mengetahui perubahan

tingkah laku yang terjadi (perubahan aktivitas, kemauan, kemampuan dan

tanggung jawab siswa) pada setiap siswa, dan untuk memperjelas data apa yang

sebenarnya perlu dikumpulkan.

4. Refleksi

Kegiatan yang dilakukan pada tahap refleksi ini yaitu menganalisis,

menjelaskan dan mengumpulkan hasil-hasil dari observasi dan hasil tes siswa

yang digunakan untuk mengetahui apakah dengan pelaksanaan model

pembelajaran STAD dapat meningkatkan hasil belajar pada siklus I. Apabila

belum dicapai maka dapat digunakan untuk mempersiapkan tindakan perbaikan

yang akan dilakukan pada siklus II.


Siklus II dilaksanakan pada tanggal 27 Agustus 2016 sampai 10 September

2016 dan pelaksanaan tes ke 3 tanggal 27 Agustus 2016, dengan pokok bahasan

Program Linier yakni KD 3.2. Pelaksanaan pembelajaran siklus II merupakan

tindak lanjut dari hasil refleksi pada siklus I.

Metode Pengumpulan Data

Metode Observasi

Adapun metode observasi yang digunakan dalam penelitian ini

menggunakan metode observasi secara langsung, yaitu mengadakan pengamatan

secara langsung kepada subyek yang diteliti yaitu gejala-gejala yang terjadi dan

perubahan-perubahan aktivitas, kemauan, kemampuan dan tanggung jawab siswa

serta hasil belajar siswa selama menggunakan metode STAD.

Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data yang berasal dari

bukti tertulis yang ada pada tempat penelitian. Meliputi jumlah siswa kelas XI

.IPS 1 , data tentang prestasi belajar siswa kelas X, dan data-data yang lain yang

dapat menunjang penelitian.

Metode ini digunakan untuk memperoleh keterangan lebih lanjut

mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan metode STAD dalam materi

Program linier di kelas XI.I IPS SMA Negeri 1 Kuningan . Data yang diperoleh

metode wawancara akan digunakan untuk melengkapi dan mendukung data utama

dalam penelitian.

Adapun jenis tes yang digunakan pada umumnya digolongkan menjadi

dua yaitu tes lisan dan tes tulis. Menurut Mudjiono dan Dinyati (2000:257)

mengatakan bahwa

Tes tertuls terdiri dari tes essay dan tes obyektif.


Berdasarkan pendapat tentang jenis dan bentuk tes diatas, dalam penelitian

ini untuk mengetahui kemampuan siswa yang mengacu pada tujuan pembelajaran

umum dan tujuan pembelajaran khusus digunakan tes dalam bentuk essai. Dimana

peneliti membuat test sendiri yang mengacu pada kisi-kisi soal.

Adapun pelaksanaan tes pertama peneliti mengadakan tes pendahuluan

atau tes yang bertujuan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa sebelum

penerapan model pembelajaran STAD sebanyak 5 butir soal essai, kemudian

peneliti melakukan tes I dan tes II setelah tindakan pembelajaran pada pokok

bahasan Program Linier setelah dua kali pertemuan. Tujuan dilakukan tes I adalah

untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa atas materi dengan penerapan model

pembelajaran STAD, dengan melakukan analisis pembahasan soal secara bersama

setelah tes dengan alokasi waktu yang telah tersedia. Pengadaan tes II dilakukan

dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan skor yang dicapai siswa setelah

dilakukan pembahasan kembali atas soal tes I yang anggap siswa sulit.

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis

deskriptif kualitatif yang berusaha memaparkan data yang diperoleh dari hasl

observasi, wawancara serta menjelaskan data tentang hasil belajar siswa yang

masih bersifat kuantitatif secara lengkap, baik sebelum dilakukan tindakan dan

sesudah tindakan. Langkah pertama guru dalam menganalisis hasil penelitian

yang membuat perencanaan untuk membuat rancangan analisis data dengan

mendapatkan data tentang tingkah laku siswa, peneliti menggunakan

lembar observasi berdasarkan Djamali (2001:126) yang berisi tentang

aspek-aspek yang harus diamati pada saat penerapan model pembelajaran STAD

seperti pada tabel berikut:


LEMBAR OBSERVASI KEGIATAN PEMBELAJARAN
KOOPERATIF DENGAN TIPE STAD

KELOMPOK : ......................................
MATERI : ....................................

PERNYATAAN A B C D
a. kerjasama dalam kelompok
b. memberikan saran, gagasan
c. mengajukan pertanyaan
d. memperhatikan pertanyaan teman
e. memberikan tanggapan terhadap jawaban
teman
f. tidak memonopoli pertanyaan
g. tidak memaksakan pendapat
h. kemampuan memahami materi
i. partispasi dalam kelompok
j. kemampuan menjelaskan kepada teman
k. kemampuan menarik kesimpulan

Keterangan :
A = 75 100
B = 65 74
C = 45 64
D = 0 44
Untuk dapat mengetahui prosentase keaktifan, kemauan, kemampuan,
tangung
jawab siswa dalam satu kelas seperti pada tabel diatas digunakan rumus seperti
berikut
ini: (misalnya keaktifan siswa)

Pa
siswaaktif x100%
(Depdiknas.200
4:17)
seluruhsis
wa

Berdasarkan hasil analisis data, akan ditentukan ketuntasan belajar siswa. Jika
keaktifan, kemauan, kemampuan
data mengenai observasi yang meliputi dan
tanggungjawab siswa serta ketuntasan belajar secara klasikal siswa mencapai
sebesar
85% atau lebih, maka dikatakan berhasil atau tercapai tujuan yang diinginkan.
Untuk
mencari prosentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal digunakan rumus:
N
E P x 100
Keterangan: E : Tingkat ketuntasn belajar siswa
N : Jumlah siswa tuntas belajar
P : Jumlah semua siswa

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil observasi aktivitas siswa dihitung dengan menggunakan rumus

prosentase keaktifan siswa. Dalam lembar aktivitas siswa yang berkemampuan

tinggi sangat aktifdalam belajar dibandingkan yang berkemampuan sedang.

Pada kegiatan kelompok siswa yangberkemampuan tinggi membantu temannya

yang berkemampuan dibawahnya, baik memahami konsep maupun

mengerjakan soal. Sedangkan prosentase keaktifan siswa, kemauan,

kemampuan dan tanggung jawab dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. Prosentase Tingkat Ketercapaian Pembelajaran Pertemuan I, II Pada

Siklus I

dan Peningkatannya
Kategori Tingkat Ketercapaian
Pertemuan I Pertemuan II Peningkatan
Keaktifan 66,67% 77,77% 11,10%
Kemauan 70,37% 81,48% 11,11%
Kemampuan 74,07% 81,48% 7,41%
Tanggungjawab 62,96% 85,19% 22,23%
Sumber: Hasil lembar observasi siklus I diolah
Tabel 3. Prosentase Tingkat Ketercapaian Pembelajaran Pertemuan I, II Pada
Siklus II
dan Peningkatannya
Kategori Tingkat Ketercapaian
Pertemuan I Pertemuan II Peningkatan
Keaktifan 85,19% 96,29% 11,1%
Kemauan 88,89% 96,29% 7,4%
Kemampuan 88,89% 92,59% 3,7%
Tangungjawab 88,89% 96,29% 7,4%
Sumber: Hasil lembar observasi siklus II diolah
Berikut ini akan disajikan tabel penjelasan ketuntasan siswa selama
menerapkan
model STAD dalam materi Program Linier.
Tabel 4. Ketuntasan Belajar Siswa dengan metode STAD selama siklus 1 dan
siklus 2
Keadaan Siswa Tes TES 1 TES 2 Tes 3
Pendahuluan siklus 1 siklus 1 siklus 2
sebelum (tes
metode akhir)
STAD

Jumlah siswa yang tuntas 10 24 28 34

Prosentase Ketuntasan Belajar 27.77 %% 66.66% 77.77% 94.44 %


dengan menggunakan Metode
STAD dalam materi Program
Linier.

Dari hasil analisis tes pada tes Pendahuluan, tes 1 pada siklus 1 dan tes 2

pada siklus 1 serta tes ke 3 pada siklus 2 yang merupakan tes terakhir, maka dapat

diketahui bahwa penerapan model STAD dalam materi Program Linier berhasil

meningkatkan hasil belajar siswa tentang konsep matematika dalam Program


Linier. Penerapan model ini juga dapat menumbuhkan rasa solideritas, interaksi

siswa, sikap saling membantu dan bekerjasama dalam belajar, serta dapat

menerima apa adanya perbedaan keragaman di sekitar lingkungan belajar. Dengan

melihat rata-rata hasil analisis tes kelas XI IPS 1 SMAN 1 Kuningan maka

diperoleh peningkatan yang semula dalam tes pendahuluan ketuntasan belajar

sebesar 27.77%, setelah menggunakan metode STAD berangsur-angsur terdapat

peningkatan dari % pada tes 1 siklus 1 berubah menjadi 66.66% pada tes ke 2

siklus1, dan pada siklus ke 2 yang merupakan tes ke 3 (tes terakhir) berubah

menjadi 77.77%.

Berdasarkan pembahasan diatas, hasil kegiatan pembelajaran pada siklus II

menjadi lebih baik dari pembelajaran pada siklus I. Penerapan pembelajara model

STAD berhasil meningkatkan kemampuan dan meningkatkan keaktifan siswa

sebesar 94.44%, menumbuhkan kesadaran untuk selalu menegakkan kerjasama

dalam memecahkan permasalahan secara bersama-sama sehingga terwujud rasa

sosial yang tinggi antar teman dalam sekolahan.

Pada penelitian ini masih terdapat siswa yang belum tuntas yakni nilainya

kurang dari 76 yang menyebabkan mereka tidak tuntas, karena mereka kurang

aktif selama belajar kelompok dan kurang teliti serta tergesa-gesa dalam

mengerjakan soal tes. Apabila digambarkan dalam bentuk grafik maka akan

terlihat seperti berikut :


Berdasarkan penemuan dari fakta yang diperoleh dalam penelitian tindakan

kelas diatas maka dapat disimpulkan bahwa siswa merasa senang dan tertarik

belajar dengan menggunakan metode pembelajarankooperatif model STAD dalam

materi Program Linier, karena siswa dapat dengan mudah mengingat materi,

saling bekerja sama dalam mengerjakan soal dan memahami materi pelajaran

yang mereka anggap sulit dan menambah keakraban antar teman. Adanya

pemberian penghargaan berupa hadiah pada kelompok yang berhasil mendapatkan

point perkembangan tertinggi membuat siswa dalam kelas saling berkompetisi

untuk keberhasilan dirinya sendiri dan kelompok. Adanya metode STAD dalam

pembelajaran memberikan pengaruh yang positif terhadap peningkatan hasil

belajar siswa, hal ini ditunjukkan dengan hasil belajar siswa yang meningkat dari

siklus 1 ke siklus ke 2.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis pembahasan yang telah dilakukan,

maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Penerapan pembelajaran model STAD dalam proses pembelajaran, hasil belajar

siswa mata pelajaran Matematika pokok bahasan Program Linier kelas XI.1

IPS semester 1 tahun 2016/2017 di SMA Negeri 1 Kuningan meningkat.


2. Analisis data observasi siswa menunjukkan prosentase ketercapaian tingkah

laku yang positif terhadap pembelajaran matematika dengan menerapkan

pembelajaran model STAD terus meningkat sampai 94.44%

3. Penggunakan metode STAD berangsur-angsur terdapat peningkatan dari

26.66% pada tes 1 siklus 1 berubah menjadi 77.77% pada tes ke 2 siklus1, dan

pada siklus ke 2 yang merupakan tes ke 3 (tes terakhir) berubah menjadi

94.44%.

Berdasarkan hasil penelitian tentang penggunaan metode pembelajaran

kooperatif model STAD dalam materi Program Linier pada siswa kelas XI.1 IPS

SMA Negeri 1 Kuningan Semester Ganjil Tahun ajaran 2016-2017, dapat

dikemukakan saran bahwa guru dapat menggunakan metode pembelajaran

kooperatif model STAD dalam pembelajaran matematika khususnya pada mata

pelajaran Program Linier sebagai salah satu alternatif pembelajaran di kelas.

Disamping itu, hasil penelitian ini hendaknya dapat dikembangkan melalui

penelitian pada pokok bahasan dan subjek penelitian yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S.2001. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Asari, Rahman. A.2000. Sekilas Tentang Pembelajaran Kooperatif. Malang:


UNM

Badeni. 2002. Cooperative Learning Dalam Konteks Pencapaian Tujuan Mata


Pelajaran Sosial SMU. Bengkulu: FKIP Universitas Bengkulu
Widyastuti: Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Model STAD
...________175
Cooper, et al. 1999. Classrom Teaching Skills edisi 9. Virgina. Unievrsity of
Virginia

Djamarah, Zain. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta

------------. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta. Grasindo

------------. 2002. Strategi Belajar Mengjar. Jakarta: Rineka Cipta

Djamali. 2001. Penggunaan STAD Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kalkulus.


Dalam Teknobel. Jember IKIP PGRI

Hadjar, Ibnu. 1996. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif Dalam


Pendidikan. Jakarta: PT Raja grifindo Persada

Margono. 1997. Metodologi Peneltian Pendidikan. Jakarta Rineka Cipta

Mudjiono, Dimyati. 2000. Belajar Dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Sudjana, Nana. 1992. Penilaian Proses Belajar Mengajar. Bandung:


Remaja
Rosdakraya

Sunardi, dkk. 2001. Penyusunan Proposal dan Laporan Penelitian Tindakan


Kelas. Jember: YPLD2 Jember

Tim Pelatih Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Dirjen
Pendidikan Tinggi Proyek PGSM

Winataputra. 2001. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Jakarta: Universitas


Terbuka

Zuriah, Nurul. 2003. Penelitian Tindakan Pendidikan dan Sosial. Malang:


Bayumedia Publishing

Depdiknas 2013 Kurikulum 2013 SMA Panduan Khusus Pengembang Silabus


dan Penilaian Mata Pelajaran Matematika
PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL
STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION) DALAM
MATERIPROGRAM LINIER DAPAT MENINGKATKAN HASIL
BELAJAR SISWA KELAS XI IPS SEMESTER GANJILTAHUN
AJARAN 2016/2017 DI SMA NEGERI 1 KUNINGAN

Abstrak. Tinggi rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa dalam


pembelajaran salah satunya ditentukan oleh metode mengajar yang
digunakan oleh guru. Salah satu alternatif metode pembelajaran yang
mampu meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa adalah penerapan
metode pembelajaran Kooperatif dengan metode STAD (Student Team
Achievement Division). Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil
belajar siswa kelas XI IPS1 Semester Ganjil di SMA Negeri 1 Kuningan
Tahun Ajaran 2016/2017 melalui penerapan metode pembelajaran
Kooperatif model STAD. Subyek penelitian yang digunakan siswa kelas XI.I
IPS. di SMA NEGERI 1 Kuningan Tahun Ajaran 2016/2017. Metode
Pengumpulan Data berupa metode observasi, metode dokumentasi, metode
wawancara dan metode tes. Pengambilan data dilakukan mulai tanggal 4 s/d
28 Agustus 2016. Berdasarkan hasil dan pembahasan disimpulkan bahwa
penerapan metode pembelajaran kooperatif dengan model STAD dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada materi Matematika pokok bahasan
Program Linier yaitu dapat mencapai ketuntasan secara klasikal dan
individual dimana 85% yang mendapat nilai rata-rata > 76 dan ketuntasan
secara klasikal sebesar 88,9% ketercapaian pada siklus II, sehingga ada
peningkatan dari semula tes 1 sebesar 81,48 %, pada tes ke 2 sebesar
85,19% pada siklus I menjadi 88,9 % pada siklus II

Kata kunci: Metode Pembelajaran Kooperatif dengan Model STAD dan hasil
belajar siswa.