Anda di halaman 1dari 30

KIMIA LINGKUNGAN

Pengolahan Limbah Domestik (Rumah

Tangga)

Oleh Kelompok 5:

1. FITRIANTI 1413440022
2. RAUDINA NURAMALIAH
3. RESKI AMALIAH GAFFAR

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang maha Esa karena
dengan rahmat dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah
bertema kesehatan lingkungan yang berjudul Pengolahan Limbah Rumah
Tangga ini sebagai salah satu syarat kelulusan pada mata kuliah Kimia
Lingkungan di semester 6 ini.
Pada makalah ini kami membahas masalah yang berkaitan dengan
pengolahan limbah rumah tangga. Kami mengucapkan terima kasih
banyak kepada dosen pengajar yang telah membimbing dan menyemangati
kami. Kami mohon maaf jika dalam makalah ini terdapat banyak
kekurangan dalam menggali semua aspek yang menyangkut segala hal
yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan tersebut. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat.

Makassar, 24 April 2017

Kelompok 5

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................................................i

DAFTAR ISI......................................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................................1

1.1. Latar Belakang........................................................................................................................1

1.2. Rumusan Masalah...................................................................................................................2

1.3. Tujuan......................................................................................................................................2

1.4. Manfaat...................................................................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN....................................................................................................................4

2.1. Definisi Limbah Domestik......................................................................................................4

2.2. Sumber-Sumber Limbah Domestik.........................................................................................4

2.3. Dampak Limbah Rumah Tangga bagi Lingkungan jika tidak Dikelola dengan Baik............4

2.4. Tempat Pembuangan Limbah Rumah Tangga........................................................................5

2.5. Cara Mengolah Limbah Rumah Tangga...............................................................................12

2.6. Karakteristik Air Limbah Rumah Tangga.............................................................................14

2.7. Sistem Penyaluran Akhir Limbah Rumah Tangga................................................................16

2.8. Solusi Mengolah Limbah Domestik Bagi Daerah Dengan Kepadatan Penduduk Yang
Tinggi...........................................................................................................................................24

BAB III PENUTUP..........................................................................................................................25

3.1. Kesimpulan...........................................................................................................................27

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................................28

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia adalah negara dengan kepadatan penduduk ke-4 terbanyak di


dunia. Dengan jumlah penduduk yang banyak, ternyata banyak menimbulkan
masalah di berbagai bidang. Masalah yang timbul dengan jumlah penduduk yang
banyak berupa masalah ekonomi, sosial dan kesehatan. Di antara masalah
kesehatan yang timbul, diakibatkan oleh kurangnya pasokan air bersih. Dimana
air bersih merupakan sumber dari kehidupan. Saat ini terjadi masalah kesulitan air
bersih di berbagai daerah dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi di
Indonesia. Salah satu daerah yang mengalami kesulitan air bersih tersebut adalah
Makassar.
Saat ini di Makassar, sumber air tanah, sungai dan danau tercemar oleh
limbah domestik yang berasal dari Rumah tangga, perkantoran dan restaurant.
Suatu studi penelitian uji sampel air tanah pernah dilakukan oleh ITB dan Dinas
Pekerjaan Umum Pemerintah Kota DKI untuk menilai kondisi air tanah wilayah
Jakarta, ternyata ditemukan bahwa 84 % Sampel air tanah tercemar oleh limbah
air rumah tangga (limbah air tinja/kotoran Manusia).(Kementrian Pekerjaan
Umum, 2013).
Kondisi tersebut dapat terjadi di Daerah Ibukota Indonesia dikarenakan
penduduk perkotaan yang semakin padat (9,6 juta jiwa penduduk dengan
kepadatan 14.753 jiwa per km (BPS DKI Jakarta, 2010)). Hal ini meningkatkan
jumlah dari limbah rumah tangga yang dihasilkan setiap harinya. Data survey di
Jakarta tahun 1989, tiap orang rata-rata mengeluarkan beban limbah organik
sebesar 40 gram BOD per orang per hari, yakni dari limbah toilet 13 gram per
orang per hari dan dari limbah non toilet sebesar 27 gram BOD per orang per hari.
Jika hanya air limbah toilet yang diolah dengan sistem tangki septik dengan
efisiensi pengolahan 65 %, maka hanya 22,5 % dari total beban polutan organik
yang dapat dihilangkan, sisanya 77,5 % masih terbuang keluar. Dan saat
kepadatan penduduk tahun 2010 sudah meningkat 9,6 juta jiwa penduduk, bisa

1
dibayangkan seberapa besar penumpukan limbah tersebut di sumber-sumber mata
air. (Kementrian Pekerjaan Umum, 2013)
Kondisi tersebut semakin diperparah dengan laju perkembangan
pembangunan sarana pengelolaan air limbah secara terpusat sangat lambat hanya
sekitar 3,5 % dari total daerah pelayanan, hal ini dikarenakan terbatasnya lahan
untuk membangun saranan pengolahan limbah. (Kementrian Pekerjaan Umum,
2013).
Atas dasar inilah kami menyusun sebuah makalah berjudul penumpukan
limbah domestik ditengah daerah dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi di
Makassar.

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang tercatum dalam makalah ini sebagai berikut:


1. Apa itu definisi limbah domestik dan apa saja sumber-sumber limbah
domestik?
2. Bagaiamana dampak limbah domestik bagi lingkungan jika tidak dikelola
dengan baik?
3. Dimana sebaiknya limbah rumah tangga dibuang?
4. Bagaimana cara mengolah limbah rumah tangga sebelum dibuang?
5. Bagaimana karakteristik limbah rumah tangga yang sudah boleh dibuang?
6. Bagaimana proses atau cara penyaluran limbah rumah tangga yang baik dan
benar?
7. Solusi apa yang bisa diberikan untuk daerah dengan kepadatan penduduk yang
tinggi untuk mengolah limbah Domestik?

1.3. Tujuan

Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:


1. Agar mahasiswa dapat memahami definisi dari limbah domestik dan
sumber-sumber limbah domsetik

2
2. Agar mahasiswa dapat memahami bagaimana dampak limbah domestik
bagi lingkungan.
3. Agar mahasiswa dapat memahami cara pengolahan limbah domestik dari
proses pengolahan sebelum dibuang sampai ke proses penyaluran limbah
untuk dibuang.
4. Agar mahasiswa dapat mengetahui cara untuk menangulangi masalah
penumpukan limbah di tengah daerah dengan kepadatan penduduk yang
tinggi.

1.4. Manfaat

Manfaat penyusunan makalah ini adalah untuk menambah pemahaman


mahasiswa mengenai limbah domestik, dan cara pengolahan limbah tersebut yang
baik dan benar di tengah tingginya kepadatan penduduk.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Definisi Limbah Domestik

Limbah didefinisikan secara umum yaitu buangan dari suatu proses


produksi yang sudah tak terpakai lagi. Karena tidak memiliki nilai ekonomi dan
daya guna lagi. Limbah bisa sangat membahayakan bila sudah mencemari
lingkungan sekitar terutama untuk limbah yang mengandung bahan kimia yang
tak mudah terurai oleh bakteri pengurai.( Notoatmodjo, Soekidjo. 2003)
Limbah domestik atau yang dikenal sebagai limbah rumah tangga,
merupakan limbah yang dihasilan dari aktivitas rumah tangga yang dapat berupa
limbah padat, dan limbah cair. Suatu contoh adalah air sisa cuci dan kakus,
sampah maupun benda yang telah rusak dan tidak layak pakai seperti sikat toilet
yang rusak yang tidak dapat difungsikan lagi sebagaimana mestinya.
(Notoatmodjo, Soekidjo. 2003)

Gambar 1. Limbah sisa air cucian

4
2.2. Sumber-Sumber Limbah Domestik

Limbah yang berasal dari aktifitas kehidupan rumah tangga, yaitu


berupa limbah padat berupa sampah dan kotoran manusia (tinja) serta limbah cair
berupa buangan air dari kamar mandi, dapur, tempat cuci serta air hujan.
Karena limbah cair dari rumah tangga ini berupa air buangan yang tidak
mengandung zat yang membahayakan lingkungan hidup, maka pembuangan
airnya disalurkan pada saluran terbuka yang ada dilingkungan tersebut
kemudian dibuang pada saluran kota yang menuju kesaluran alam yaitu sungai.

Gambar 2. Limbah dapur rumah tangga

Gambar 3. Limbah sampah rumah tangga

5
2.3. Dampak Limbah Rumah Tangga bagi Lingkungan jika tidak Dikelola
dengan Baik

Dampak air limbah yang tidak diolah, yaitu (Notoatmodjo, Soekidjo. 2003):
1. Menjadi transmisi atau media penyebaran berbagai penyakit, terutama
kholera, typhus abdominalis, disentri baciler
2. Menjadi media berkembang biaknya mikroorganisme patogen
3. Menjadi tempat-temoat berkembang biaknya nyamuk atau tempat hidup
larva nyamuk
4. Menimbulkan bau yang tidak enak serta pandangan yang tidak sedap
5. Merupakan sumber pencemaran air permukaan, tanah, dan lingkungan
hidup lainnya.
6. Mengurangi produktivitas manusia, karena orang bekerja dengan tidak
nyaman, dan sebagainya.

2.4. Tempat Pembuangan Limbah Rumah Tangga

2.4.1. Kakus Sumuran (Jumbleng)

Bangunan ini digunakan untuk membuang limbah padat manusia (faeces).

Pada umumnya dibangun pada daerah dimana lahan yang digunakan masih cukup

luas, misalnya di pedesaan, dan pada lingkungan yang relatif belum cukup

memperhatikan lingkungannya, dan dianggap konstruksi relatif lebih murah

dibandingkan dengan tangki septik. Bentuk bangunannya yaitu tanah digali

menyerupai sumuran sedalam 2 6 meter (dasarnya masih diatas permukaan air

tanah yaitu 2 6 meter tergantung kondisi tanah setempat, agar tidak mencemari

air tanah).

Sedalam 1 2 meter dari permukaan tanah, dibuat pasangan batu bata

setebal satu batu dengan spesi kedap air, agar muka tanah tidak mudah longsor.

6
Konstruksi tersebut dapat bertahan (digunakan) sampai 10 tahun pada suatu

rumah tangga dengan 6 jiwa, dengan ukuran sumuran 1 meter dengan

kedalaman 8 meter. Setelah penuh, limbah padat dapat dikuras atau dibuatkan

sumuran baru didekatnya (jarak sumuran baru dengan sumuran lama tergantung

jenis tanah dan kepadatan/kestabilannya).

Pipa Ventilasi

Plat Beton
Bertulang
Pasangan Kedap Air
Buangan Dari
Kloset

A A

Potongan A -
A
26
meter
Muka Air
Tanah

2.4.2. Tanki Septik (Septic tank)

Bangunan ini banyak digunakan, baik di kota-kota, kota kabupaten,

maupun di kota kecamatan, bahkan mulai merambah di desa-desa. Tangki septik

dapat dibangun pada lahan yang tidak terlalu luas, bahkan dapat dibangun didalam

ruangan, misalnya dibawah lantai dapur, ruang keluarga bahkan dibawah ruang

tamu. Hanya saja bangunan ini memerlukan peresapan untuk membuang

7
kelebihan air yang ada dalam tangki septik, jika kelebihan air tersebut tidak

dialirkan ke saluran drainase kota.

Peresapan dapat berupa peresapan sumuran, jika muka air tanah rendah

atau peresapan lapangan jika memungkinkan tersedia lahan yang cukup. Pada

daerah perkotaan yang padat penduduknya dan muka air tanah cukup tinggi,

kelebihan air dari tangki septik dapat dialirkan menuju drainase kota yang

kemudian dialirkan menuju Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL). Pada daerah

perkotaan termasuk kota-kota baru / kota satelit, pengolaan limbah domestik dapat

dilakukan secara terpusat, sehingga setiap rumah tidak perlu membuat tangki

septik, cukup limbah yang dihasilkan diolah secara terpusat dan profesional,

sehingga air tanah pada lingkungan tersebut tidak tercemar.

Bilamana pada setiap rumah, limbah domestik dialirkan menuju drainase

kota, seyogyanya pemerintah kota dapat membuat kebijaksanaan menyediakan

meteran dan detektor air limbah yang dipasang pada saluran outlet rumah tangga,

dimana biaya pembuangan limbah domestik dapat ditentukan dengan jumlah

limbah yang dibuang dan kandungan kimianya termasuk bahan-bahan toksik

(beracun) untuk menutupi biaya operasional Instalasi Pengolah Air Limbah

(IPAL) yang dimiliki pemerintah kota.

2.4.3. Peresapan
Air buangan dari tangki septik dapat dialirkan menuju pipa saluran
drainase primer atau menuju ke peresapan. Peresapan dapat dibuat bentuk
sumuran atau bentuk lapangan. Peresapan sumuran dapat dibuat pada lokasi
dimana kondisi muka air tanah rendah, misalnya sedalam 7 meter dari muka
tanah. Untuk Muka air tanah sedalam kurang dari 2 meter, sebaiknya
menggunakan peresapan lapangan. Peresapan lapangan dapat dibuat berbagai

8
macam bentuk yang tergantung dari tersedianya dana dan luas lahan (tanah) yang
tersedia. Jika lahan untuk peresapan cukup luas, peresapan lapangan dapat dibuat
2, 3 atau 4 lajur. Jika lahan sempit, cukup dibuat 1 lajur saja. Bahan pipa untuk
peresapan lapangan, dapat dibuat dari pipa PVC/UPVC, pipa beton atau pipa
tanah liat lokal/pabrik. Tetapi untuk pipa-pipa tersebut sebaiknya berbentuk
pervorasi (berlubang-lubang) yang berfungsi untuk menyebarkan aliran air
buangan kesegala arah. Jika tidak didapat pipa bentuk pervorasi, untuk pipa beton
maupun pipa tanah liat, maka penyambungan pipa tersebut tanpa spesi (adukan),
cukup ditutup dengan batu bata. Sedangkan untuk pipa PVC/UPVC dapat
dibuatkan lubang-lubang.

2.4.4. Penyaring Aliran (Trickling Filter).


Bangunan ini digunakan untuk menyaring limbah yang banyak
mengandung bahan-bahan organik (bahan yang mudah membusuk), misalnya
buangan dari industri kecil makanan (pabrik tahu, tempe, roti, kue, dll), dapat pula
digunakan untuk penyaringan dan pengolahan limbah rumah tangga lainnya,
seperti limbah dari rumah makan, restoran, hotel, dan sejenisnya.
Penyaringan dilakukan dengan mengisi bak penyaring dengan batu
gamping atau terasso atau batu bintang, pecahan batu bata, keramik, genteng, atau
sejenisnya sebagai bahan penyaring yang memungkinkan batu penyaring tersebut
dapat tumbuh jasad renik (mikro organisme) yang dapat memakan bahan-bahan
organik yang dikandung limbah tersebut.
Jasad renik akan berkembangbiak pada seluruh permukaan batu-batu
tersebut manakala pada limbah tersebut tidak disertai dengan bahan-bahan
disinfektan (seperti karbol, kreoline, dll) yang akan dapat mematikan jasad renik
tersebut.
Konstruksi dapat dibuat dari pasangan batu bata kedap air serta plaster luar
dan dalam kedap air, atau dari beton bertulang serta tutup dari plat beton
bertulang.

9
A

Pipa
Ventilasi

Batu
Pecah/
Kerikil/Klin
ker

Pasangan Bata
A Kedap Air/ Beton
Potongan A-
Bertulang
A
Penyaring Aliran (Trickling
Filter)

2..4.5. Pemisah Minyak dan Lemak (Grease and Oil Interceptors).

Bangunan tersebut digunakan untuk menampung limbah yang


mengandung sejumlah lemak (gajih) atau gemuk, misalnya limbah dari cucian
dapur, cucian piring dan sejenisnya dari restoran dan hotel, industri makanan yang
limbahnya cenderung berlemak, industri penyembelihan hewan, dll.

2.4.6. Instalasi Pengolah Limbah (Waste Water Treatment Plant).


Instalasi pengolah limbah ini cocok untuk mengolah limbah cair dari
asrama, hotel-hotel, perkantoran bahkan limbah cair non medis dari rumah sakit.
Konstruksi dapat dibuat dari pasangan batu bata kedap air atau pasangan beton
bertulang, dilengkapi bak penampung, ruang pompa dan pompa serta splinker
(pemancar air).

10
2.5. Cara Mengolah Limbah Rumah Tangga

Limbah memerlukan pengolahan sebelum dibuang ke pembuangan akhir


atau didaur ulang, baik secara fisik, kimia, biologis, atau pembakaran. Kombinasi
dari cara pengolahan seringkali diterapkan untuk memperoleh hasil yang efektif
tetapi murah biayanya dan dapat diterima oleh lingkungan. Pengolahan ditujukan
untuk mengurangi dan menghilangkan racun racun/detoksitasi, merunah bahan
berbahaya menjadi kurang berbahaya atau mempersiapkan proses berikutnya.
Pengolahan tekhnologi secara tepat tergantung jenis yang akan diolah dan
tergantung dari bentuk limbah (padat, cair, gas, atau lumpur). Terdapat dua macam
sistem dalam pengelolaan air limbah domestik/permukiman yaitu: Notoatmodjo,
Soekidjo. 2003

1. Cara Sederhana

Sanitasi sistem setempat atau dikenal dengan sistem sanitasi on-site


yaitu sistem dimana fasilitas pengolahan air limbah berada dalam persil
atau batas tanah yang dimiliki, fasilitas ini merupakan fasilitas sanitasi
individual seperti septik tank. Sistem ini di pakai jika syarat-syarat teknis
lokasi dapat dipenuhi dan menggunakan biaya relatif rendah. Sistem ini
sudah umum karena telah banyak dipergunakan di Indonesia. Kelebihan
sistem ini adalah:

a) Biaya pembuatan relatif murah.

b) Bisa dibuat oleh setiap sektor ataupun pribadi.

c) Teknologi dan sistem pembuangannya cukup sederhana.

d) Operasi dan pemeliharaan merupakan tanggung jawab pribadi.

Disamping itu, kekurangan sistem ini adalah:

a) Umumnya tidak disediakan untuk limbah dari dapur, mandi dan cuci.

b) Mencemari air tanah bila syarat-syarat teknis pembuatan dan


pemeliharaan tidak dilakukan sesuai aturannya.

11
Pada penerapan sistem setempat ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi
antara lain:

a. Kepadatan penduduk kurang dari 200 jiwa /ha.


b. Kepadatan penduduk lebih dari 200 jiwa/ha masih memungkinkan
dengan syarat penduduk tidak menggunakan air tanah.
c. Tersedia truk penyedotan tinja.

2. Cara Kompleks dengan MBR

Membrane Bioreactor (MBR) merupakan teknologi pengolahan limbah


yang mengkombinasikan proses biologis untuk mendegradasi limbah dan
proses membran untuk pemisahan biomassa. Secara prinsip, teknologi
MBR dimaksudkan untuk memisahkan ammonia dari limbah. Membran
menggantikan peran kolam sedimentasi untuk memisahkan padatan dan
cairan pada teknologi konvensional (lumpur aktif). Jika dibandingkan
dengan sistem konvesional IPAL kinerja pemisahan oleh MBR lebih baik
karena pemisahan tidak lagi dibatasi oleh kondisi hidrodinamik lumpur
seperti waktu tinggal lumpur (SRT, sludge retention time), waktu tinggal
cairan (HRT, hydraulic retention time) serta laju pembuangan lumpur.
Membran dapat memisahkan hampir seluruh bakteri coliform, padatan
tersuspensi (suspended solid) dan menghasilkan efluen dengan kualitas
yang sangat baik. (Kementrian Pekerjaan Umum, 2013)

12
Keunggulan dan keuntungan yang akan diperoleh dari teknologi
Membrane Bioreactor (MBR) ini antara lain adalah sebagai berikut :
(Kementrian Pekerjaan Umum, 2013).
a. Sistem membran mampu menghasilkan kualitas hasil olahan (Kadar BOD
dan COD) yang relatif lebih baik dibandingkan dengan sistem
konvensional (Pengolahan Lumpur Aktif) maupun sistem gabungan (MBR
dan Pengolahan Lumpur Aktif).
b. Sistem membran memerlukan lahan yang lebih sedikit dibandingkan
dengan sistem konvensional (Pengolahan Lumpur Aktif).

c. Tidak memerlukan bak pengendap (clarifier) sehingga dapat menghemat


penggunaan lahan

d. Konsentrasi MLSS (mixed liquor suspended solids) yang tinggi dapat


memaksimalkan jumlah BOD yang masuk ke dalam modul MBR untuk
diolah sehingga dapat mengurangi waktu pengolahan

e. Pembuangan lumpur dapat dilakukan langsung dari dalam reaktor

f. Kualitas efluen hasil pengolahan yang tinggi sehingga air hasil olahannya
dapat digunakan kembali (misal untuk boiler)

2.6. Karakteristik Air Limbah Rumah Tangga

Karakteristik air limbah perlu dikenal, karena hal ini akan


menentukan cara pengolahan yang tepat, sehingga tidak mencemari
lingkungan hidup. Secara garis besar karakteristik air limbah ini
digolongkan menjadi sebagai berikut: (Notoatmodjo, Soekidjo. 2003)

1. Karakteristik fisik

Sebagian besar terdiri dari air dan sebagian kecil terdiri dari bahan-
bahan padat dan suspense. Terutama air limbah rumah tangga, biasanya
berwarna suram seperti larutan sabun, sedikit berbau. Kadang-kadang
mengandung sisa-sisa kertas, berwarna bekas cucian dan sayur, bagian-
bagian tinja, dan sebagainya

13
2. Karakteristik kimiawi

Biasanya air buangan ini mengandung campuran zat-zat kimia


anorganik yang berasal dari air bersih serta bermacam-macam zat organic
berasal dari penguraian tinja, urine, dan sampah-sampah lainnya. Oleh
sebab itu, pada umumnya bersifat basah pada waktu masih baru, dan
cenderung ke asam apabila sudah mulai membusuk. Substansi organic
dalam air buangan terdiri dari dua gabungan, yakni :

a. Gabungan yang mengandung nitrogen, misalnya : urea, protein, amine,


dan asam amino
b. Gabungan yang tak mengandung nitrogen, misalnya : lemak, sabun,
dan karbohidrat, termasuk selulosa

3. Karakteristik bakteriologis

Kandungan bakteri pathogen serta organisme golongan coli terdapat


juga dalam air limbah tergantung darimana sumbernya, namun keduanya
tidak berperan dalam proses pengolahan air buangan.

Sesuai dengan zat-zat yang terkandung didalam air limbah ini,


maka air limbah yang tidak diolah terlebih dahulu akan menyebabkan
berbagai gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup antara
lain:

a. Menjadi transmisi atau media penyebaran berbagai penyakit, terutama


: kolera, typhus abdominalis, desentri basiler
b. Menjadi media berkembangbiaknya mikroorganisme pathogen
c. Menjadi tempat-tempat berkembang biakny nyamuk atau tempat
hidup larva nyamuk
d. Menimbulkan bau yang tidak enak serta pandangan yang tidak sedap
e. Merupakan sumber pencemaran air permukaan, tanah, dan lingkungan
hidup lainnya
f. Mengurangi produktifitas manusia, karena orang bekerja dengan tidak
nyaman, dan sebagainya

14
Untuk mencegah atau mengurangi akibat-akibat buruk tersebut diatas
diperlukan kondisi, persyaratan dan upaya-upaya sedemikian rupa sehingga
air limba tersebut :

a. Tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap sumber air minum


b. Tidak mengakibatkan pencemaran terhadap permukaan tanah
c. Tidak menyebabkan pencemaran atau air untuk mandi, perikanan, air
sungai atau tempat-tempat rekreasi
d. Tidak dapat dihinggapi serangga dan tikus dan tidak menjadi tempat
berkembang biaknya berbagai bibit penyakit dan vektor
e. Tidak terbuka kena udara luar (jika tidak diolah) serta tidak dapat
dicapai oleh anak-anak
f. Baunya tidak mengganggu.

2.7. Sistem Penyaluran Akhir Limbah Rumah Tangga

2.7.1. On Site Treatment


Sistem sanitasi setempat (On-site sanitation) atau On Site Treatment
adalah sistem pembuangan air limbah dimana air limbah tidak dikumpulkan serta
disalurkan ke dalam suatu jaringan saluran yang akan membawanya ke suatu
tempat pengolahan air buangan atau badan air penerima, melainkan dibuang di
tempat. Sistem ini di pakai jika syarat-syarat teknis lokasi dapat dipenuhi dan
menggunakan biaya relatif rendah. (Gordon,M,F,1966). Sistem ini sudah umum
karena telah banyak dipergunakan di Indonesia.
Kelebihan sistem ini adalah:
a) Biaya pembuatan relatif murah.
b) Bisa dibuat oleh setiap sektor ataupun pribadi.
c) Teknologi dan sistem pembuangannya cukup sederhana.
d) Operasi dan pemeliharaan merupakan tanggung jawab pribadi.
Disamping itu, kekurangan sistem ini adalah:
a) Umumnya tidak disediakan untuk limbah dari dapur, mandi dan
cuci.
b) Mencemari air tanah bila syarat-syarat teknis pembuatan dan
pemeliharaan tidak dilakukan sesuai aturannya.

2.7.2. Sistem penyaluran terpisah


Sistem Penyaluran terpisah atau biasa disebut separate system/full sewerage
adalah sistem dimana air buangan disalurkan tersendiri dalam jaringan riol

15
tertutup, sedangkan limpasan air hujan disalurkan tersendiri dalam saluran
drainase khusus untuk air yang tidak tercemar. Sistem ini digunakan dengan
pertimbangan antara lain (Zevri A, 2010):

1. Periode musim hujan dan kemarau lama.


2. Kuantitas aliran yang jauh berbeda antara air hujan dan air buangan
domestik.
3. Air buangan umumnya memerlukan pengolahan terlebih dahulu, sedangkan
air hujan harus secepatnya dibuang ke badan penerima.
4. Fluktuasi debit (air buangan domestik dan limpasan air hujan) pada musim
kemarau dan musim hujan relatif besar.
5. Saluran air buangan dalam jaringan riol tertutup, sedangkan air hujan
dapat berupa polongan (conduit) atau berupa parit terbuka (ditch).

Kelebihan sistem ini adalah masing-masing sistem saluran mempunyai


dimensi yang relatif kecil sehingga memudahkan dalam konstruksi serta operasi
dan pemeliharaannya. Sedangkan kelemahannya adalah memerlukan tempat luas
untuk jaringan masing-masing sistem saluran. Zevri A, 2010.

2.7.3. Sistem Penyaluran Konvensional


Sistem penyaluran konvensional (conventional Sewer) merupakan suatu
jaringan perpipaan yang membawa air buangan ke suatu tempat berupa bangunan
pengolahan atau tempat pembuangan akhir seperti badan air penerima. Sistem ini
terdiri dari jaringan pipa persil, pipa lateral, dan pipa induk yang melayani

16
penduduk untuk suatu daerah pelayanan yang cukup luas. Setiap jaringan pipa
dilengkapi dengan lubang periksa manhole yang ditempatkan pada lokasi-loka si
tertentu. Apabila kedalaman pipa tersebut mencapai 7 meter, maka air buangan
harus dinaikkan dengan pompa dan selanjutnya dialirkan secara gravitasi ke lokasi
pengolahan dengan mengandalkan kecepatan untuk membersihkan diri. (Zevri A,
2010).
Syarat yang harus dipenuhi untuk penerapan sistem penyaluran
konvensional:

1. Suplai air bersih yang tinggi karena diperlukan untuk menggelontor.


2. Diameter pipa minimal 100 mm, karena membawa padatan.
3. Aliran dalam pipa harus aliran seragam.
4. Slope pipa harus diatur sehingga V cleansing terpenuhi (0.6 m/det). Aliran
dalam saluran harus memiliki tinggi renang agar dapat mengalirkan
padatan.
5. Kecepatan maksimum pada penyaluran konvnsional 3m/detik.
6. Kelebihan sistem penyaluran konvensional adalah tidak diperlukannya
suatu tempat pengendapan padatan atau tangki septik. Sedangkan
kekurangan dari sistem penyaluran konvensional antara lain:
7. Biaya ko nstruks i relatif maha l.
8. Peraturan jaringan saluran akan sulit jika dikombinasikan dengan saluran
small bore sewer, karena dua sistem tersebut membawa air buangan
dengan karakteristik berbeda sehingga tidak boleh ada cabang dari sistem
konvensional bersambung ke saluran small bore sewer. Daerah yang cocok
untuk penerapan sistem penyaluran konvensional:
9. Daerah yang sudah mempunyai sistem jaringan saluran konvensional atau
10. dekat dengan daerah yang punya sistem ini.
11. Daerah yang mempunyai kepekaan lingkungan tinggi, misalnya daerah
perumahan mewah, pariwisata.
12. Lokasi pemukiman baru, dimana penduduknya memiliki penghasilan
cukup tinggi, dan mampu membayar biaya operasional dan perawatan.

17
13. Di pusat kota yang terdapat gedung-gedung bertingkat yang apabila tidak
dibangun jaringan saluran, akan diperlukan lahan untuk pembuangan dan
pengolahan sendiri.
14. Di pusat kota, dengan kepadatan penduduk > 300 jiwa/ha dan umumnya
Penduduk menggunakan air tanah, serta lahan untuk pembuatan sistem
setempat sangat sulit dan permeabilitas tanah buruk.

2.7.4. Sistem Riol Dangkal (shallow Sewer)


Shallow sewerage disebut juga Simplified sewerage atau Condominial
Sewerage. Perbedaannya dengan sistem konvensional adalah sistem ini
mengangkut air buangan dalam skala kecil dan pipa dipasang dengan slope lebih
landai. Perletakan saluran ini biasanya diterapkan pada blok-blok rumah. Shallow
sewer sangat tergantung pada pembilasan air buangan untuk mengangkut buangan
padat jika dibandingkan dengan cara konvensional yang mengandalkan self
clensing. (Zevri A, 2010).
Sistem ini cocok diterapkan sebagai sewerage di daerah perkampungan
dengan kepadatan tinggi, tidak di lewati oleh kendaraan berat dan memiliki
kemiringan tanah sebesar 1% Shallow sewer harus dipertimbangkan untuk daerah

18
perkampungan dengan kepadatan penduduk tinggi dimana sebagian besar
penduduk sudah memiliki sambungan air bersih dan kamar mandi pribadi tanpa
pembuangan setempat yang memadai. Sistem ini melayani air buangan dari kamar
mandi, cucian, pipa servis, pipa lateral tanpa induk serta dilengkapi dengan
pengolahan mini.

2.7.5. Sistem Riol Ukuran Kecil/Small Bore Sewer


Saluran pada sistem riol ukuran kecil (small bore sewer) ini dirancang,
hanya untuk menerima bagian-bagian cair dari air buangan kamar mandi, cuci,
dapur dan limpahan air dari tangki septik, sehingga salurannya harus bebas zat
padat. Saluran tidak dirancang untuk self cleansing, dari segi ekonomis sistem ini.
lebih murah dibandingkan dengan sistem konvensional (Zevri A, 2010.).
Daerah pelayanan relatif lebih kecil, pipa yang dipasang hanya pipa persil
dan servis yang menuju lokasi pembuangan akhir, pipa lateral dan pipa induk
tidak diperlukan, kecuali untuk beberapa daerah perencanaan dengan kepadatan
penduduk sangat tinggi dan timbulan air buangan yang sangat besar. Sistem ini
dilengkapi dengan instalasi pengolahan sederhana. Syarat yang harus dipenuhi
untuk penerapan sistem ini:

1. Memerlukan tangki yang berfungsi untuk memisahkan padatan dan cairan ,


2. tangk i ini biasanya tangki septik.
3. Diameter pipa minimal 50 mm karena tidak membawa padatan.
4. Aliran yang terjadi dapat bervariasi.

19
5. Aliran yang terjadi dalam pipa tidak harus memenuhi kecepatan self cleansing
karena tidak harus membawa padatan.
6. Kecepatan maksimum 3m/det.

Kelebihan sistem riol ukuran kecil:

1. Cocok untuk daerah dengan kerapatan penduduk sedang sampai tinggi


terutama daerah yang telah menggunakan tangki septik tapi tanah sekitarnya
2. sudah tidak mampu lagi menyerap effluen tangki septik.
3. Biaya pemeliharaan relatif murah.
4. Mengurangi kebutuhan air, karena saluran tidak mengalirkan padatan.
5. Mengurangi kebutuhan pengolahan misalnya screening.
6. Biasanya dibutuhkan di daerah yang tidak mempunyai lahan untuk bidang
resapan atau bidang resapannya tidak efektif karena permebilitasnya jelek.

Kekurangan sistem riol ukur an kecil antara lain:

1. Memerlukan lahan untuk tangki.


2. Memungkinkan untuk terjadi clogging karena diameter pipa yang kecil

2.7.6. Sistem Penyaluran Tercampur


Sistem penyaluran tercampur merupakan sistem pengumpulan air
buangan yang tercampur dengan air limpasan hujan. Sistem ini digunakan apabila
daerah pelayanan merupakan daerah padat dan sangat terbatas untuk
membangun saluran air buangan yang terpisah dengan saluran air hujan, debit
masingmasing air buangan relatif kecil sehingga dapat disatukan, memiliki

20
kuantitas air buangan dan air hujan yang tidak jauh berbeda serta memiliki
fluktuasi curah hujan yang relatif kecil dari tahun ke tahun.
Kelebihan sistem ini adalah hanya diperlukannya satu jaringan sistem
penyaluran air buangan sehingga dalam operasi dan pemeliharaannya akan lebih
ekonomis. Selain itu terjadi pengurangan konsentrasi pencemar air buangan
karena adanya pengenceran dari air hujan. Sedangkan kelemahannya adalah
diperlukannya perhitungan debit air hujan dan air buangan yang cermat. Selain itu
karena salurannya tertutup maka diperlukan ukuran riol yang berdiameter besar
serta luas lahan yang cukup luas untuk menempatkan instalasi pengolahan
buangan.

2.7.7. Sistem Kombinasi


Pada sistem penyalurannya secara kombinasi dikenal juga dengan istilah
interceptor, dimana air buangan dan air hujan disalurkan bersama-sama sampai
tempat tertentu baik melalui saluran terbuka atau tertutup, tetapi sebelum
mencapai lokasi instalasi antara air buangan dan air hujan dipisahkan dengan
bangunan regulator.

21
Air buangan dimasukkan ke saluran pipa induk untuk disalurkan ke lokasi
pembuangan akhir, sedangkan air hujan langsung dialirkan ke badan air penerima.
Pada musim kemarau air buangan akan masuk seluruhnya ke pipa induk dan tidak
akan mencemari badan air penerima.
Sistem kombinasi ini cocok diterapkan di daerah yang dilalui sungai yang
airnya tidak dimanfaatkan lagi oleh penduduk sekitar, dan di darah yang untuk
program jangka panjang direncanakan akan diterapkan saluran secara
konvensional, karena itu pada tahap awal dapat dibangun saluran pipa induk yang
untuk sementara dapat dimanfaatkan sebagai saluran air hujan.

2.8. Solusi Mengolah Limbah Domestik Bagi Daerah Dengan Kepadatan


Penduduk Yang Tinggi

Solusi yang dapat diambil dari masalah penumpukan limbah domestik pada
lingkungan yang padat adalah dengan mengolah sistem penyaluran limbah rumah
tangga secara on site treatment pada pemukian rumah warga dan juga pemerintah
dapat pembangunan MBR(Membrane Bioreactor) pada daerah dengan titik
dengan jumlah kepadatan penduduk tinggi.

Dengan metode on site treatment diharapkan seluruh air limbah rumah tangga
baik air limbah toilet maupun air limbah non toilet harus diolah dengan unit
pengolahan air limbah di tempat (on site treatment), selanjutnya air olahannya
dibuang ke saluran umum. Jika efisiensi pengolahan On site treatment rata-rata
90 %, maka hanya tinggal 10 % dari total beban polutan yang masih terbuang

22
keluar. Sistem pembuangan air limbah dengan sistem on site treatmet secara
sederhana ditunjukan sebagai berikut

Membangun MBR dapat di lakukan pada lahan yang lebih sedikit, dan
dengan teknologi MBR dapat mengolah sumber air limbah menjadi sumber air
bersih sehingga pembangunan pengolahan limbah air dapat merata ke seluruh
daerah.
Membrane Bioreactor (MBR) merupakan teknologi pengolahan limbah
yang mengkombinasikan proses biologis untuk mendegradasi limbah dan
proses membran untuk pemisahan biomassa. Secara prinsip, teknologi MBR
dimaksudkan untuk memisahkan ammonia dari limbah. Membran
menggantikan peran kolam sedimentasi untuk memisahkan padatan dan cairan
pada teknologi konvensional (lumpur aktif). Jika dibandingkan dengan sistem
konvesional IPAL kinerja pemisahan oleh MBR lebih baik karena pemisahan
tidak lagi dibatasi oleh kondisi hidrodinamik lumpur seperti waktu tinggal
lumpur (SRT, sludge retention time), waktu tinggal cairan (HRT, hydraulic
retention time) serta laju pembuangan lumpur. Membran dapat memisahkan
hampir seluruh bakteri coliform, padatan tersuspensi (suspended solid) dan
menghasilkan efluen dengan kualitas yang sangat baik. Hasil efluen yang
berupa air bersih, tentunya juga sekaligus dapat membantu mengatasi dari

23
kesulitan air bersih yang dihadapi di kota-kota besar. (Kementrian Pekerjaan
Umum, 2013)

24
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Limbah domestik adalah merupakan limbah yang dihasilkan dari
aktivitas rumah tangga yang dapat berupa limbah padat, dan limbah cair.
Pengolahan limbah rumah tangga tersebut dapat diolah secara sederhana
maupun dengan secara rumit mengunakan teknologi tinggi.
Masalah penumpukan limbah domestik berupa limbah rumah tangga
baik toilet dan non-toilet di lingkungan padat penduduk diharapkan dapat
diatasi dengan metode on site treatment dan BMR. Diharapkan dengan kedua
metode ini yang berjalan akan mengurangi tingkat pencemaran lingkungan
akibat limbah domestik.

25
DAFTAR PUSTAKA
BPS DKI Jakarta, 2010. Jumlah Penduduk Jakarta Tahun 2010, tersedia dalam:
http://jakarta.bps.go.id,(diakses pada 2 januari 2014)

Kementrian Pekerjaan Umum, 2013. Mengolah Limbah Kota Metropolitan


Dengan Teknologi Membran. tersedia dalam:
http://ciptakarya.pu.go.id/plp/?p=432,(diakses pada 2 januari 2014)
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta.
Jakarta.
Pratikto, D, 2010, Faktor Penyebab Timbulnya Masalah Limbah Di Lingkungan
Perumahan Rt 05/Rw Vii Solo Baru Desa Langenharjo Kec.Grogol
Kab.Sukoharjo, Tersedia dalam:
http://ejournal.utp.ac.id/index.php/JTSA/article/view/49/47 (diakses pada 2
Januari 2014).
Zevri A, 2010. Studi Penyaluran Dan Pengolahan Air Limbah Di Komplek
Pemukiman. Universitas Sumatra Utara.

26

Anda mungkin juga menyukai