Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jeruk nipis atau limau nipis adalah tumbuhan perdu yang menghasilkan buah
dengan nama sama. Tumbuhan ini dimanfaatkan buahnya, yang biasanya bulat,
berwarna hijau atau kuning, memiliki diameter 3-6 cm, umumnya
mengandung daging buah masam, agak serupa rasanya dengan lemon. Jeruk nipis,
yang sering dinamakan secara salah kaprah sebagai jeruk limau, dipakai perasan
isi buahnya untuk memasamkan makanan, seperti pada soto. Fungsinya sama
dengan cuka. Sebagai bahan obat tradisional, perasan langsung buah jeruk nipis
dipakai sebagai obat batuk, diberikan bersama dengan kapur untuk menurunkan
demam. Perasannya juga dipakai sebagai obat batuk.
Disamping itu, sebenarnya manfaat jeruk nipis itu sangat banyak. Sebab
kandungan di dalam jeruk nipis pun sangat banyak. Jeruk nipis mengandung
unsur-unsur senyawa kimia yang bemanfaat, misalnya: asam sitrat, asam amino
(triptofan, lisin), minyak atsiri (sitral, limonen, felandren, lemon kamfer, kadinen,
gerani-lasetat, linali-lasetat, aktilaldehid, nonildehid), damar, glikosida, asam
sitrun, lemak, kalsium, fosfor, besi, belerang vitamin B1 dan C. Selain itu, jeruk
nipis juga mengandung senyawa saponin dan flavonoid yaitu hesperidin
(hesperetin 7-rutinosida), tangeretin, naringin, eriocitrin, eriocitrocide. Hesperidin
bermanfaat untuk antiinflamasi, antioksidan, dan menghambat sintesis
prostaglandin. Hesperidin juga menghambat azoxymethane (AOM) yang
menginduksi karsinogenesis pada colon kelinci, dan juga menghambat N-butil-N-
(4-hidroksi-butil) nitrosamin yang menginduksi karsinogenesis pada kandung
kemih tikus (Chang, 2001). Jeruk nipis juga mengandung 7% minyak essensial
yang mengandung citral, limonen, fenchon, terpineol, bisabolene, dan terpenoid
lainnya. Guo, et al. (2006) telah meneliti bahwa D-Limonene dapat menghambat
proliferasi dan menginduksi apoptosis pada sel HL-60 dan sel K562.
Dengan begitu banyaknya kandungan senyawa yang bermanfaat dalam
tubuh kita maka ala semakin bayak manfaat jeruk nipis ini untuk bagi kebaikan
tubuh kita. Hal inilah yang akan kita bahas dalam makalah ini.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini antara lain ;
1. Mengetahui kandungan jeruk nipis
2. Mengetahui pengolahan pasca panen buah jeruk
3. Mengetahui manfaat jeruk nipis bagi kesehatan
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Jeruk Nipis


Jeruk nipis merupakan salah satu jenis citrus (jeruk) yang asal usulnya
adalah dari India dan Asia Tenggara. Adapun sistematika jeruk nipis adalah
sebagai berikut (Setiadi, 2004) :
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Gereniales
Suku : Rutaceae
Marga : Citrus
Jenis : Citrus aurantifolia
Nama daerah : Jeruk asam (Jawa), limau asam (Sunda), jeruk dhurga (Madura)
Nama asing : Lime (Inggris), lima (Spanyol), dan limah (Arab).
Tanaman jeruk nipis merupakan pohon yang berukuran kecil. Buahnya
berbentuk agak bulat dengan ujungnya sedikit menguncup dan berdiameter 3-6
cm dengan kulit yang cukup tebal. Saat masih muda, buah berwarna kuning.
Semakin tua, warna buah semakin hijau muda atau kekuningan. Rasa buahya
asam segar. Bijinya berbentuk bulat telur, pipih, dan berwarna putih kehijauan.
Akar tunggangnya berbentuk bulat dan berwarna putih kekuningan. (Astarini et al,
2010)

2.2 Kandungan Pada Jeruk Nipis


Buah jeruk nipis memiliki rasa pahit, asam, dan bersifat sedikit dingin.
Beberapa bahan kimia yang terkandung dalam jeruk nipis di antaranya adalah
asam sitrat sebnyak 7-7,6%, damar lemak, mineral, vitamin B1, sitral limonene,
fellandren, lemon kamfer, geranil asetat, cadinen, linalin asetat. Jeruk nipis
mengandung vitamin C sebanyak 27mg/100 g jeruk, Ca sebanyak 40mg/100 g
jeruk, dan P sebanyak 22 mg. (Hariana, 2006).
Selain itu, menurut lusi (2013), Jeruk nipis mengandung unsur-unsur
senyawa kimia yang bemanfaat, seperti asam sitrat, asam amino, minyak atsiri,
damar, glikosida, asam sitrun, lemak , kalsium, fosfor, besi, belerang vitamin B1
dan C.2 Kandungan Gizi dalam 100gram buah jeruk nipis mengandung vitamin C
sebesar 27 miligram, kalsium 40 miligram, fosfor 22 miligram, hidrat arang 12,4
gram, vitamin B1 0,04 miligram, zat besi 0,6 miligram, lemak 0,1 gram, kalori 37
gram, protein 0,8 gram dan mengandung air 86 gram.
Tanaman genus Citrus merupakan salah satu tanaman penghasil minyak
atsiri yang merupakan suatu substansi alami yang telah dikenal memiliki efek
sebagai antibakteri. Minyak atsiri yang dihasilkan oleh tanaman yang berasal dari
genus Citrus sebagian besar mengandung terpen, siskuiterpen alifatik, turunan
hidrokarbon teroksigenasi, dan hidrokarbon aromatik. Komposisi senyawa
minyak atsiri dalam jeruk nipis (Citrus aurantifolia) adalah limonen (33,33%), -
pinen (15,85%), sitral (10,54%), neral (7,94%), - terpinen (6,80%), -farnesen
(4,14%), -bergamoten (3,38%), -bisabolen (3,05%), -terpineol (2,98%), linalol
(2,45%), sabinen (1,81%), -elemen (1,74%), nerol (1,52%), -pinen (1,25%),
geranil asetat (1,23%), 4-terpineol (1,17%), neril asetat (0,56%) dan trans--
osimen (0,26%). (Astarini et al, 2010) Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dapat
dijadikan obat tradisional yang berkhasiat mengurangi demam, batuk, infeksi
saluran kemih, ketombe, menambah stamina, mengurangi jerawat serta sebagai
anti-inflamasi dan antimikroba. (Astarini et al, 2010)

2.3 Pengolahan Pascapanen


Jeruk nipis merupakan buah non klimaterik. Berdasarkan pola
respirasinya, buah dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu buah klimakterik
dan non klimakterik. Buah klimakterik adalah buah yang mengalami kenaikan
produksi CO2 secara mendadak, kemudian menurun secara cepat. Buah
klimakterik mengalami peningkatan laju respirasi pada akhir fase kemasakan,
sedang pada buah non klimakterik tidak terjadi peningkatan laju respirasi pada
akhir fase pemasakan. Buah jeruk termasuk non klimaterik, sebaiknya panen
dilakukan sebelum akhir fase kemasakan buah agar daya simpannya lebih lama.
Ciri-ciri buah yang siap dipanen : jika dipijit tidak terlalu keras, bagian bawah
buah jika dipijit terasa lunak dan jika dijentik dengan jari tidak berbunyi nyaring
dan warnanya hijau mengkilat. Dalam satu pohon, buah jeruk tidak semuanya
dapat dipanen sekaligus, tergantung pada kematangannya. Jeruk termasuk buah
yang kandungan patinya rendah sehingga bila dipanen masih muda tidak akan
menjadi masak seperti mangga. Jika panen dilakukan setelah melampaui tingkat
kematangan optimum atau buah dibiarkan terlalu lama pada pohon, sari buah akan
berkurang dan akan banyak energi yang dikuras dari pohon sehingga mengganggu
kesehatan tanaman dan produksi musim berikutnya. Panen yang tepat adalah pada
saat buah telah masak dan belum memasuki fase akhir pemasakan buah (sutopo,
2011).
Di kebun, buah dikumpulkan di tempat yang teduh dan bersih. Pisahkan
buah yang mutunya rendah, memar dan buang buah yang rusak. Sortasi dilakukan
berdasarkan diameter dan berat buah yang biasanya terdiri atas 4 kelas. Kelas A
adalah buah dengan diameter dan berat terbesar sedangkan kelas D memiliki
diameter dan berat terkecil.
BAB 3. MANFAAT

Jeruk nipis merupakan buah-buahan yang cukup digemari oleh masyarakat


Indonesia. Jeruk nipis yang bernama latin Citrus aurantifolia Swingle merupakan
sejenis tanaman perdu yang banyak tumbuh dna dikembangkan di Indonesia.
Jeruk nipis mengandung senyawa-senyawa yang bermanfaat seperti asam sitrat,
asam amino, minyak atsiri, damar, glikosida, asam sitrun, lemak, kalsium, fosfor,
besi dan vitamin C (Lauma dkk, 2015). Dari kandungan senyawa-senyawa
tersebut jeruk nipis sering dimanfaatkan sebagai obat batuk, peluruh dahak,
influenza, dan obat jerawat. Berikut merupakan beberapa manfaat dari sari buah
jeruk nipis yaitu:
a. Sebagai Penghambat Pembentukan Abses
Abses gigi merupakan pembengkakan yang berisi nanah cairan kental
disebabkan karena infeksi bakteri. Abses sering kali menimbulkan rasa sakit yang
tiba-tiba dan berlangsung lama. Abses bisa terjadi pada semua struktur atau
jaringan mulut, abses sering terjadi pada periodontal yang diakibatkan oleh
adanya bakteri Staphylococcus aureus (Lauma dkk, 2015). Staphylococcus aureus
merupakan salah satu bakteri gram positif berbentuk bulat yang merupakan
bakteri pathogen bagai manusia (Wiguna, 2011).
Minyak atsiri yang terkandung dalam jeruk nipis mempunyai fungsi sebagi
antibakteri, yang salah satu kandungan minyak atsiri yaitu flavonoid mampu
berperan penting dalam menghambat pertumbuhan bakteri (Sudirman, 2014). Hal
ini didukung oleh penelitian Lauma dkk (2015), menyatakan bahwa perasan air
jeruk nipis memiliki efektifitas terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus
aureus dimana perbedaan rerata luas zona hambat antara kelompok intervensi
dengan kelompok control telah teruji.
b. Sebagai Pengawet Makanan
Salah satu zat yang dikandung oleh jeruk nipis adalah asam sitrat. Asam
sitrat telah lama digunakan dalam industri makanan dan minuman sebagai
pengawet tambahan. Asam sitrat mampu menghambat pertumbuhan
Saccharomyces cereviciae dan Zygocharomyces bailli. Sehingga asam sitrat dalam
jeruk nipis terbuktu memiliki keefektifitasan dalam meningkatkan ketahanan
suatu produk pangan terutama nasi terhadap kerusakan yang disebabkan oleh
mikroba (Istifany dkk, 2010).
c. Sebagai Antioksidan
Jeruk nipis memiliki kandungan fenol dan flavonoid yang mempunyai
aktivitas antioksidan tinggi. Kandungan antioksidan ini dapat digunakan untuk
mencegah terjadinya peningkatan produksi dan penurunan eliminasi radikal bebas
yang berakibat terjadinya stress oksidatif sehingga menyebabkan kerusakan sel
dan jaringan. Stress oksidatif ini dapat mengakibatkan penuaan dan penyakit
seperti kanker stau neurodegenerasi (Fajarwati, 2013).
d. Mencegah Pembentukan Plak Gigi
Karies merupakan suatu kerusakan jaringan keras gigi yaitu email, dentin
dan sementum yang disebabkan oleh aktivitas jasad renik dalam suatu karbohidrat
yang dapat diragikan. Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) merupakan zat herbal yang
biasanya ditambahkan pada pasta gigi karena berkaitan dengan kemampuannya
yang mampu menghambat pertumbuhan mikroba. Jeruk nipis mempunyai
kandungan minyak atsiri yang berfungsi sebagai antibakteri. Selain itu, jeruk nipis
berasal dari tumbuh-tumbuhan, dimana bahan tersebut aman dan alami (Enda,
2012).
e. Anti Karsinogenik
Jeruk nipis mengandung senyawa saponon dan flavonoid yaitu hesperedin,
tangeritin, naringin, eriocitrin. Hesperidin bermanfaat untuk antiinflamasi,
antioksidan dan menghambat sintesis prostaglandin (Anna 2012). Menurut Del
Leo dan Del Bosco (2005 cit. Awang 2014) menyatakan bahwa naringin dan
hesperidin memiliki efek penghambatan proliferasi sel kanker, menunda
tumorigenesis, dan agen kemopreventif karsinogenesis. Selain itu, hesperidin
dapat menurunkan lipopolysaccharide yang dapat menginduksi hepatotoksisitas
pada hepar tikus.

Selain sari buah jeruk nipis, Kulit jeruk nipis mengandung zat aktif
hesperidin, naringin, dan polymethoxylated flavones (PMFs). Kulit jeruk nipis
termasuk lapisan albedo, flavedo dan lapisan segmennya, memiliki kandungan
flavonoid yang lebih tinggi daripada jus butiran daging buahnya. Flavonoid yang
terkandung dalam kulit jeruk nipis antara lain adalah eriocitrin, nairutin,
hesperidin, neohesperidin, neoponcirin, poncirin, isorhoifolin, diosmin,
neodiosmin, sinensetin, nobiletin, tangeretin, dan heptamethoxyflavone 9. Selain
itu, dalam kulit jeruk nipis juga terdapat kandungan apigenin, rutin, quercetin, dan
kaempferol yang melimpah10. Zat-zat dalam kulit jeruk tersebut mampu bekerja
sebagai zat anti inflamasi, anti bakteri, anti mikroba, anti virus, anti ulserogenik,
anti oksidan, anti kanker, menurunkan kadar kolesterol, anti neoplastik, antitumor,
anti platelet, anti hepatotoksik, serta anti hipertensi (Nogata dkk, 2006).
BAB 4. PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan dalam makalah ini, dapat disimpulkan bahwa ;
1. Jeruk nipis mengandung vitamin C sebanyak 27mg/100 g jeruk, Ca
sebanyak 40mg/100 g jeruk, dan P sebanyak 22 mg
2. Buah jeruk termasuk non klimaterik, sebaiknya panen dilakukan sebelum
akhir fase kemasakan buah agar daya simpannya lebih lama. Dalam satu
pohon, buah jeruk tidak semuanya dapat dipanen sekaligus, tergantung pada
kematangannya. Jeruk termasuk buah yang kandungan patinya rendah
sehingga bila dipanen masih muda tidak akan menjadi masak seperti
mangga. Jika panen dilakukan setelah melampaui tingkat kematangan
optimum atau buah dibiarkan terlalu lama pada pohon, sari buah akan
berkurang dan akan banyak energi yang dikuras dari pohon sehingga
mengganggu kesehatan tanaman dan produksi musim berikutnya. Panen
yang tepat adalah pada saat buah telah masak dan belum memasuki fase
akhir pemasakan buah
3. Jeruk nipis memiliki beberapa manfaat diantaranya ; sebagai penghambat
pembentukan abses, sebagai pengawet makanan, sebagai antioksidan,
mencegah pembentukan plak gigi, anti karsinogenik
DAFTAR PUSTAKA

Anna, Karina. 2012. Khasiat dan Manfaat Jeruk Nipis. Edisi ke-1. Surabaya:
Stomata.
Astarini, N. P. F., Burhan R.Y. P., Zetra, Y, 2010, Minyak Atsiri Dari Kulit Buah
Citrus Grandis, Citrus Aurantium (L.) Dan Citrus Aurantifolia (Rutaceae)
Sebagai Senyawa Antibakteri Dan Insektisida, Fakultas Matematika Dan
Ilmu Pengetahuan Alam, Jurusan Kimia, Institut Teknologl 10 Nopember,
Surabaya.
Awang, Messyliana. 2014. Pengaruh Berkumur Larutan Air Perasan Jeruk Nipis
(Citrus aurantifolia) Terhadap Akumulasi Plak. Denpasar: Universitas
Mahasaraswati.
Chang, L.C. and Kinghorn, A.D., (2001), Flavonoid as Cancer
Chemopreventive Agents. in : Trigali, C, Bioactive Compounds from
Natural Sources, Isolation, Characterisation and Biological
Properties, Taylor and Francis, New York.
Enda, Fitarosana. 2012. Pengaruh Pemberian Larutan Ekstrak Jeruk Nipis
(Citrus aurantifolia) Terhadap Pembentukan Plak Gigi. Semarang:
Universitas Diponegoro.
Fajarwati, N. 2013. Uji Aktivitas Antioksidan Pada Ekstrak Daun Jeruk Nipis
(Citrus aurantifolia) Dengan Menggunakan DPPH (1,1-Dipheniyl-2-
Picrylhydrazil). Skripsi. Jakarta: Universitas Negeri Islam Syarif
Hidayatullah.
Guo, X.M., Lu, Q., Liu, Z.J., Wang, L.F., Feng, B. A. (2006). Effects of D-
limonene on leukimia cells HL-60 and K562 in vitro, Zhongguo Shi
Yan Xue Ye Xue Za Zhi. 14(4):692-5.
Istifany, G., Permanasari, A., Sholihin, H. 2010. Efektifitas Penggunaan Sari Buah
Jeruk Nipis Terhadap Ketahanan Nasi. Jurnal Sains dan Teknologi Vol 1(1):
44-58.
Lauma, S., Pangemanan, D., Hutagalung, B. 2014. Uji Efektifitas Perasan Air
Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia S) Terhadap Pertumbuahn Bakteri
Staphylococcus aureus Secara In Vitro. Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 4(4):
2302-2493.
Lusi, I. N. Pemanfaatan Kandungan Air Jeruk Nipis (The Utilization Of Content
Water Lime). Jurnal UNEJ 2013 : I (1) : H. 1-4.
Nogata, Y., Sakamoto, K., Shiratsuchi, H., Ishii, T., Yano,M., Ohta, H. 2006.
Flavanoid of Fruit Tissues of Citrus Species. Biosci Bioethecnol Biochem
Vol 70(1): 178-192.
Setiadi, 200 Setiadi, P., 2004. Budi Daya Jeruk Asam Di Kebun Dan Di Pot.
Penebar Swadaya : Jakarta. Cetakan I.
Sudirman, A. 2014. Uji Efektivitas Daun Salam (Eugenia polyantha) terhadap
pertumbuahan Staphylococcus aureus secara In Vitro. Skripsi. Makasar:
Universitas Hassanudin.
Sutopo, 2011. Penanganan Panen Dan Pasca Panen Buah Jeruk.
Http://Www.Kpricitrus.Wordpress.Com (21 Desember 2016).
Wiguna, L. 2011. Mengetahui Daya Hambat dari Air Perak dalam Produk Ionik
Silver Gt dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Sthaphylococcus
aureus. Skripsi. Makasar: Universitas Hassanudin.