Anda di halaman 1dari 2

PERLINDUNGAN PROFESI GURU MEMBERIKAN JAMINAN KEAMANAN DAN

KENYAMANAN BAGI GURU DALAM RANGKA MENCERDASKAN KEHIDUPAN


BANGSA

Akhir-akhir ini banyak sekali kasus hukum yang melibatkan guru saat memberikan
sanksi kepada anak didiknya. Ada beberapa sebab mengapa guru memberikan
sanksi kepada anak didiknya antara lain:
- Siswa tidak melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru
- Siswa membuat suasana tidak tertib saat pelajaran berlangsung
- Siswa tidak mematuhi peraturan dan tata tertib yang ditetapkan oleh sekolah.
- Siswa melakukan tindakan melawan, melecehkan dan merendahkan harkat
dan martabat guru.
Setiap guru pasti ingin memberikan pendidikan yang terbaik bagi murid-
muridnya. Tidak satupun guru yang dengan sengaja menjerumuskan/menjebak
siswa dalam kesalahan. Akan tetapi adakalanya setelah mendapatkan peringatan
baik berupa teguran ataupun nasihat siswa tidak juga mengubah perilaku buruknya.
Adanya pembelaan wali siswa terhadap anaknya yang terkadang tanpa melakukan
proses check and re-check membuat kasus-kasus pembalasan terhadap guru
menjadi merebak sangat luas. Tentu saja hal ini berdampak jelas pada semangat
guru untuk mendidik siswa. Guru menjadi cuek dan enggan menegur siswa karena
takut diproses hukum. Sementara suasana di sekolah menjadi tidak kondusif karena
tata tertib tidak bisa ditegakkan dengan tegas.
Dalam PP 74 tahun 2008 tentang Guru yg perlu diindahkan oleh Murid/ Wali
Murid, kepolisian, kejaksaan, Pengadilan Negeri (PN) dan Pengadilan Tinggi (PT)
"Guru memiliki kebebasan memberikan sanksi kepada peserta didiknya yang
melanggar norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, peraturan
tertulismaupun tidak tertulis yang ditetapkan guru, peraturan tingkat satuan
pendidikan, dan peraturan perundang-undangan dalam proses pembelajaran yang
berada di bawah kewenangannya," bunyi Pasal 39 ayat 1.
Dalam ayat 2 disebutkan, sanksi tersebut dapat berupa teguran dan/atau
peringatan, baik lisan maupun tulisan, serta hukuman yang bersifat mendidik sesuai
dengan kaedah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan.
Bunyi pasal 40: "Guru berhak mendapat perlindungan dalam melaksanakan tugas
dalam bentuk rasa aman dan jaminan keselamatan dari pemerintah, pemerintah
daerah, satuan pendidikan, organisasi profesi guru, dan/atau masyarakat sesuai
dengan kewenangan masing-masing..
Rasa aman dan jaminan keselamatan tersebut diperoleh guru melalui perlindungan
hukum, profesi dan keselamatan dan kesehatan kerja.
Sedangkan dalam pasal 41 menyatakan: "Guru berhak mendapatkan perlindungan
hukum dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau
perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat,
birokrasi, atau pihak lain."

Oleh karena itu, perlu dibuat suatu rumusan yang jelas bagaimana cara penegakan
tata tertib di sekolah tanpa menimbulkan rasa was-was dan khawatir bagi guru
maupun peserta didik. Bagaimana guru merasa aman dan nyaman dalam mendidik
siswa jika selalu dibayangi ketakutan? Bagaimana siswa dapat menerima pelajaran
dengan baik jika dididik oleh guru yang killer ? Hal ini tentu diberi acuan jelas, agar
belajar di sekolah menjadi menyenangkan, aman dan nyaman bagi siswa dan guru.

Ditulis sebagai syarat mengikuti Bimtek Perlindungan Keprofesian bagi Guru


Pendidikan Menengah.
Oleh: Fithri Indawahyuni
SMA Negeri 1 Tebing Tinggi Kabupaten Serdang Bedagai