Anda di halaman 1dari 8

Makalah bakteri

Klebsiella pneumonia

A. Sistem Binomial dan klasifikasi

Kingdom : Bakteria

Phylum : Proteobakteria

Class : Gama Proteobakteria

Ordo : Enterobakteriales

Familly : Enterobakteriaceae

Genus : Klebsiella

Spesies : Klebsiella pneumonia

Genus Klebsiella di bagi atas beberapa strain penting yang sering berupa infeksi
Oportunistik bagi manusia,diantaranya :
1. K. pneumonia
2. K. ozaena
3. K. rhinoscleromatis
4. K. oxytoca
5. K. planticola
6. K. terrigena
7. K. ornitinolitika
8. K. singaporensis
9. K. variicola
10. K. senegalensis
11. K. miletis
12. K. aerogenes

B. Sejarah Klebsiella pneumonia


Hans Christian Gram seorang Ilmuwan berkebangsaan Denmark yang hidup pada tahun 1853
1938. Untuk pertama kali beliau berhasil memperkenalkan cara pewarnaan bakteri secara
gram,dan berhasil mengamati Klebsiella pneumonia dan Streptococcus pneumonia pada
tahun 1884. Kemudian bakteri tersebut berhasil di identifikasi oleh seorang ahli Bakteriologi
berkebangsaan jerman bernama Edwin Klebs, yang hidup pada tahun ( 1831 1913 ) yang
kemudian memperkenalkan Bakteri ini,dan diberi nama Klebsiella sesuai namanya.

C. Morfologi
Berbentuk batang pendek,Gram negatif,bersifat Aerob fakultatif, bakteri ini berukuran 0,5
1,5 x 1 2 , tidak mampu berbentuk spora, tidak dapat bergerak dengan bebas dan
mempunyai kapsul yang tersusun dari Polisakarida sehingga dengan mudah dapat mengikat
lipoprotein untuk membetuk Lipopolisakarida yang berfungsi sebagai Patogenitas bakteri ini.
Kadang-kadang bakteri ini mempunyai susunan berpasangan seperti pneumococcus.

D. Sifat Pertumbuhan
Coliform ini dapat tumbuh subur dan cepat pada media sederhana, aerobic dan anaerobic
fakultatif, dapat memfermentasikan laktosa dengan menghasilkan asam (6 7,8) dan gas
pada pengeraman 37oC selama 24-48 jam. Spesies yang termasuk golongan Coliform antara
lain Escherichia coli, Enterobacter aerogenes, dan Klebsiella pneumonia.

E. Gambaran Koloni
Koloni bekteri ini berbentuk bulat, tepi koloni rata, cembung, koloni ini terlihat tampak
berlendir, dan berwarna abu-abu.
F. Test Biokimia berdasarkan uji

Bakteri ini tidak mampu menghasilkan indol (Uji indol)

tidak mampu menghasilkan asam (Uji Metil Red /MR)

mampu menghasilkan asetil metal karbinol (Uji Voger Proskauer/VP)

tidak mampu menghasilkan sitrat (Uji Citrat)

mampu menghasilkan urea (Uji Urease)

tidak mampu bergerak dan menghasilkan gelatin

mampu menghasilkan glukosa, laktosa, manitol, sukrosa, inostitol, adonitol, salicin

Media yang digunakan untuk reaksi biokimia adalah (Gani A, 2003) :


1. Triple Sugar Iron agar (TSIA)
Media ini terdiri dari 0,1 % glukosa, 1 % sukrosa, 1 % laktosa, fernik sulfat untuk
pendeteksian produksi H2S, protein, dan indicator Phenol red. Klebsiella bersifat alkali acid,
alkali terbentuk karena adanya proses oksidasi dekarboksilasi protein membentuk amina yang
bersifat alkali denga adanya phenol red maka terbentuk warna merah, Klebsiella
memfermentasi glukosa yang bersifat asam sehingga terbentuk warna kuning (Jawtz, et al,
2001).
2. Sulfur Indol Motility (SIM)
Media SIM adalah perbenihan semi solid yang dapat digunakan untuk mengetahui
pembentukan H2S, indol dan motility dari bakteri. Hampir semua bakteri Klebsiella
membentuk indol kecuali tipe pneumonia dan ozaenae. Motility negatif sesuai dengan
morfologi Klebsiella yang tidak memiliki flagella. sedangkan pembentukan H2S juga tak
terlihat pada semua jenis Klebsiella
3. Citrate
Bakteri yang memanfaatkan sitrat sebagai sumber karbon akan menghasilkan natrium
karbonat yang bersifat alkali, dengan adanya indicator brom tymol blue menyebabkan
terjadinya warna biru. Pada bakteri Klebsiella, hanya jenis rhinos yang tidak memanfaatkan
sitrat, sehingga pada penanaman media sitrat hasilnya negative. Sedangkan spesies Klebsiella
lainnya seperti pneumonia, oxytoca, dan ozaenae menunjukkan hasil positif pada media ini.
4. Urea
Bakteri tertentu dapat menghidolisis urea dan membentuk ammonia dengan terbentunya wana
merah karena adanya indicator phenol red, Klebsiella pada media urea memiliki pertumbuhan
yang lambat memberikan hasil positif pada pneumonia, oxytoca atau bisa juga ozaenae
karena Klebsiella juga ada beberapa yang mampu menghidrolisis urea dan membentuk
ammonia.
5. Methyl red
Media ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan dari beberapa bakteri yang memproduksi
asam kuat sebagai hasil fermentasi dari glukosa dalam media ini, yang dapat ditunjukkan
dengan penambahan larutan methyl red. Hampir semua Klebsiella sp memproduksi asam
yang kuat sehingga pada penambahan larutan methyl red terbentuk warna merah, kecuali
pada pneumonia dan oxytoca yang juga dapat memberikan hasil negative
6. Voges Proskauer
Bakteri tertentu dapat memproduksi acetyl metyl carbinol dari ferentasi glukosa yang dapat
diketahui dengan penambahan larutan voges proskauer, Klebsiella ozaenae dan rhinos tidak
memproduksi acetyl methyl carbinol sehingga penanaman pada media ini meberikan hasil
negative, berbeda dengan jenis pneumonia dan oxytoca yang mampu memberikan hasil
positif pada media ini.
7. Fermentasi Karbohidrat
Media ini berfungsi untuk melihat kemampuan bakteri memfermentasikan jenis karbohidrat,
jika terjadi fermentasi maka media terlihat berwarna kuning karena perubahan pH menjadi
asam. Klebsiella sp memfermentasi glukosa, maltose sedangkan sukrosa tidak
difermentasikan pada jenis rhinos atau bisa juga ozaenae.

G. Sifat mutualistk dan komensalistik


Klebsiella merupakan hampir sebagian besar spesiesnya hidup sebagai flora normal,dan dapat
menjelajahi kulit,Faring dan saluran cerna seperti mikro organisme lainnya, K.aerogenes
menggunakan L-glutamine sebagai metabolit dalam metabolism nitrogen. Nitrogen amida
dari glutamine adalah penting dalam biosintesis asparagin, glukosamin 6-fofat, triptofan,
histidin, fosfat karbamil, p-amino benzoate, adenosine, 5-monofosfat, sitosin 5-trifosfat,
guanosin 5-monofosfat, glutamate dan asam amino lainnya. Kelompok alpha-ami no
glutamine juga di transferkan ke asamalfa-keto dalam reaksi transaminase.Semua reaksi ini
memungkinkan reaksi biosintesis untuk asimilasi NH3 ke semua asam amino.Sehingga dapat
bersifat mutualistik dan komensalistik karena pada tanah dapat juga beker ja memfiksasi
Nitrogen untuk kesuburan tanaman.

H. Sifat oportunistik
Pada dasarnya pertahanan terhadap invasi bakteri tergantung pada fagositosis oleh granulosit
polymorphonuclear dan efek bakterisidal serum. Bakteri mengatasi imunitas host bawaan
melalui beberapa cara. Mereka memiliki kapsul polisakarida, yang merupakan penentu utama
patogenisitas mereka. Kapsul ini terdiri dari polisakarida asam kompleks. lapisan besar Its
melindungi bakteri dari fagositosis oleh granulosit polymorphonuclear. Selain itu, kapsul
bakteri mencegah kematian disebabkan oleh faktor serum bakterisidal. Lipopolysacarida
(LPS) merupakan faktor lain patogenisitas bakteri. Mereka mampu mengaktifkan pelengkap,
yang menyebabkan deposisi selektif C3b ke molekul LPS di lokasi yang jauh dari membran
sel bakteri. Hal ini menghambat pembentukan kompleks serangan membran (C5b-C9), yang
mencegah kerusakan membran dan kematian sel bakteri.
Orang-orang berisiko tinggi dalam hal nosokomial infeksi adalah laki-laki yang lebih tua
dengan alkoholisme, diabetes, atau penyakit bronkopulmonalis kronis.
Faktor risiko pada pneumonia sangat sering,dan dapat di bedakan menjadi dua :
1. Faktor yang berhubungan dengan daya tahan tubuh
Penyakit kronik (misalnya penyakit jantung, diabetes, alkoholisme, azotemia), perawatan di
rumah sakit yang lama, koma, pemakaian obat tidur, perokok, intubasi endotrakeal,
malnutrisi, umur lanjut, pengobatan steroid, pengobatan antibiotik, waktu operasi yang lama,
sepsis, syok hemoragik, infeksi berat di luar paru dan cidera paru akut (acute lung injury)
serta bronkiektasis
2. Faktor eksogen antara lain :
a. Pembedahan
Besar risiko kejadian pneumonia nosokomial tergantung pada jenis pembedahan, yaitu
torakotomi (40%), operasi abdomen atas (17%) dan operasi abdomen bawah (5%).
b. Penggunaan antibiotik
Antibiotik dapat memfasilitasi kejadian kolonisasi, terutama antibiotik yang aktif terhadap
Streptococcus di orofaring dan bakteri anaerob di saluran pencernaan. Sebagai contoh,
pemberian antibiotik golongan penisilin mempengaruhi flora normal di orofaring dan saluran
pencernaan. Sebagaimana diketahui Streptococcus merupakan flora normal di orofaring
melepaskan bacterocins yang menghambat pertumbuhan bakteri gram negatif. Pemberian
penisilin dosis tinggi akan menurunkan sejumlah bakteri gram positif dan meningkatkan
kolonisasi bakteri gram negatif di orofaring.
c. Peralatan terapi pernapasan kontaminasi pada peralatan ini, terutama oleh bakteri
Pseudomonas aeruginosa dan bakteri gram negatif lainnya sering terjadi.
d. Pemasangan pipa/selang nasogastrik, pemberian antasid dan alimentasi enteral
Pada individu sehat, jarang dijumpai bakteri gram negatif di lambung karena asam lambung
dengan pH < 3 mampu dengan cepat membunuh bakteri yang tertelan. Pemberian antasid /
penyekat H2 yang mempertahankan pH > 4 menyebabkan peningkatan kolonisasi bakteri
gram negatif aerobik di lambung, sedangkan larutan enteral mempunyai pH netral 6,4 - 7,0.
e. Lingkungan rumah sakit
Petugas rumah sakit yang mencuci tangan tidak sesuai dengan prosedur, dan penatalaksanaan
dan pemakaiaan alat-alat yang tidak sesuai prosedur, seperti alat bantu napas, selang
makanan, selang infus, kateter dll.

I. Patogenesis dan Patologi


Anggota genus Klebsiella biasanya mengekspresikan 2 jenis antigen pada permukaan sel
mereka. Yang pertama adalah lipopolisakarida (O antigen), yang lain adalah polisakarida
kapsul (K antigen). Kedua antigen ini berkontribusi pada patogenisitas. Tentang 77 K antigen
dan 9 O antigen ada. Variabilitas struktur antigen ini membentuk dasar untuk klasifikasi
dalam berbagai serotipe. Virulensi dari semua serotipe tampaknya serupa.
Lobar pneumonia berbeda dari pneumonia lain dalam hal itu dikaitkan dengan perubahan
destruktif di paru-paru. Ini adalah penyakit yang sangat berat dengan onset yang cepat dan
hasil yang sering fatal meskipun pengobatan antimikroba dini dan tepat.
Pasien biasanya hadir dengan onset akut demam tinggi dan menggigil, gejala seperti flu, dan
batuk produktif dengan sputum banyak, tebal, ulet, dan darah-biruan kadang-kadang disebut
dahak jeli kismis.Sebuah kecenderungan meningkat ada ke arah pembentukan abses, kavitasi,
empiema, dan adhesi pleura.
Kebanyakan penyakit paru disebabkan oleh K.pneumoniae dalam bentuk bronkopneumonia
atau bronkitis. Infeksi ini biasanya didapat di rumah sakit dan memiliki presentasi yang lebih
halus.
Patogenesis pneumonia nosokomial pada prinsipnya sama dengan pneumonia komuniti.
Pneumonia terjadi apabila mikroba masuk ke saluran napas bagian bawah. Ada empat rute
masuknya mikroba tersebut ke dalam saluran napas bagian bawah yaitu :
1. Aspirasi, merupakan rute terbanyak pada kasus-kasus tertentu seperti kasus neurologis
dan usia lanjut
2. Inhalasi, misalnya kontaminasi pada alat-alat bantu napas yang digunakan pasien
3. Hematogenik
4. Penyebaran langsung
Klinis
Pada umumnya, gejala-gejala penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri golongan Klebsiellae
adalah sama. Akan tetapi, setiap penyakit berdasarkan jenis spesies Klebsiella-nya masing-
masing punya ciri khas.
Klebsiella pneumoniae yang menyebabkan penyakit paru-paru memberikan penampakan
berupa pembengkakan paru-paru sehingga lobus kiri dan kanan paru-paru menjadi tidak
sama; demam (panas-dingin); batuk-batuk (bronkhitis); penebalan dinding mukosa; dan
dahak berdarah. Sedangkan, Klebsiella rhinoscleromatis dan Klebsiella ozaenae yang
menyebabkan rinoschleroma dan ozaena memberikan gejala pembentukan granul (bintik-
bintik), gangguan hidung, benjolan-benjolan di rongga pernapasan (terutama hidung), sakit
kepala, serta ingus hijau dan berbau.

J. Pengobatan
Pengobatan tergantung pada sistem organ yang terlibat. Secara umum, terapi awal pasien
dengan bakteremia mungkin adalah empiris.. Pemilihan agen antimikroba spesifik tergantung
pada pola-pola kerentanan setempat.. Setelah bakteremia dikonfirmasi pengobatan dapat
dimodifikasi.
Pengobatan dengan aktivitas intrinsik yang tinggi terhadap K pneumoniae harus dipilih untuk
pasien sakit parah. Contoh obat tersebut termasuk sefalosporin generasi ketiga (misalnya,
cefotaxime, ceftriaxone), carbapene dengan nama genaeriknya( imipenem / cilastatin),
aminoglikosida (misalnya, gentamisin, amikasin), dan kuinolon.Obat-obat ini dapat
digunakan sebagai monoterapi atau terapi kombinasi. Beberapa ahli menyarankan
menggunakan kombinasi dari aminoglikosida dan sefalosporin generasi ketiga sebagai
pengobatan. Lainnya tidak setuju dan merekomendasikan monoterapi. Aztreonam dapat
digunakan pada pasien yang alergi terhadap antibiotik beta-laktam. Kuinolon juga pilihan
pengobatan yang efektif untuk rentan isolat pada pasien, baik alergi carbapenem atau alergi
beta-laktam.
Antibiotik lain yang digunakan untuk mengobati rentan isolat termasuk ampisilin /
sulbaktam, piperasilin / tazobactam, tetrakarsilin / klavulanat, seftazidim, sefepim,
levofloxacin, norfloksasin, gaitfloxacin, moksifloksasin, meropenem, dan ertapenem.

K. Pencegahan
Peningkatan derajat kesehatan dan daya tahan tubuh merupakan upaya pencegahan paling
penting, karena bakteri ini sebenernya sudah ada sebagai flora normal pada orang sehat.
Pencegahan nosocomial infection dilakukan dengan cara kerja yang aseptic pada perawatan
pasien di rumah sakit. Enterobacteria peka terhadap panas dan dapat dibunuh dengan
pemanasan yang merata (di atas 700C). Sumber utama infeksi bakter ini adalah makanan
mentah, makanan yang kurang matang dan kontaminasi silang, yaitu apabila makanan sudah
dimasak bersentuhan dengan bahan mentah atau peralatan yang terkontaminasi misalnya alas
pemotong. Karena itu, pemanasan dengan benar dan penanganan makanan secara higienis
dapat mencegah enterobacteria.
Gejala-gejala seseorang yang terinfeksi Klebsiella
Pada umumnya, gejala-gejala penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri golongan
Klebsiellae adalah sama. Akan tetapi, setiap penyakit berdasarkan jenis spesies Klebsiella-
nya masing-masing punya ciri khas.
Klebsiella pneumoniae yang menyebabkan penyakit paru-paru memberikan
penampakan berupa pembengkakan paru-paru sehingga lobus kiri dan kanan paru-paru
menjadi tidak sama; demam (panas-dingin); batuk-batuk (bronkhitis); penebalan dinding
mukosa; dan dahak berdarah. Sedangkan, Klebsiella rhinoscleromatis dan Klebsiella ozaenae
yang menyebabkan rinoschleroma dan ozaena memberikan gejala pembentukan granul
(bintik-bintik), gangguan hidung, benjolan-benjolan di rongga pernapasan (terutama hidung),
sakit kepala, serta ingus hijau dan berbau.
Gejala-gejala seseorang yang terinfeksi Klebsiella pneumonia adalah napas cepat dan
napas sesak, karena paru meradang secara mendadak. Batas napas cepat adalah frekuensi
pernapasan sebanyak 50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari
1 tahun, dan 40 kali permenit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun.
Pneumonia Berat ditandai dengan adanya batuk atau (juga disertai) kesukaran bernapas,
napas sesak atau penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam (severe chest indrawing)
pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun. Pada kelompok usia ini dikenal juga
Pneumonia sangat berat, dengan gejala batuk, kesukaran bernapas disertai gejala sianosis
sentral dan tidak dapat minum. Sementara untuk anak dibawah 2 bulan, pnemonia berat
ditandai dengan frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih atau (juga
disertai) penarikan kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam, batuk-batuk, perubahan
karakteristik dahak, suhu tubuh lebih dari 38 C. Gejala yang lain, yaitu apabila pada
pemeriksaan fisik ditemukan suara napas bronkhial, bronkhi dan leukosit lebih dari 10.000
atau kurang dari 4500/uL.
Pada pasien usia lanjut atau pasien dengan respon imun rendah, gejala pneumonia
tidak khas, yaitu berupa gejala non pernafasan seperti pusing, perburukan dari penyakit yang
sudah ada sebelumnya dan pingsan. Biasanya frekuensi napas bertambah cepat dan jarang
ditemukan demam. Beberapa jenis Klebsiella pneumonia dapat diobati dengan antibiotik,
khususnya antibiotik yang mengandung cincin beta-laktam.
Contoh antibiotik tersebut adalah ampicillin, carbenicillin, amoxicilline, dll. Dari hasil
penelitian diketahui bahwa Klebsiella pneumonia memiliki sensitivitas 98,4% terhadap
meropenem, 98,2% terhadap imipenem, 92,5% terhadap kloramfenikol, 80 % terhadap
siprofloksasin, dan 2% terhadap ampisilin. Strain baru dari Klebsiella pneumoniakebal
terhadap berbagai jenis antibiotik dan sampai sekarang masih dilakukan penelitian untuk
menemukan obat yang tepat untuk menghambat aktivitas atau bahkan membunuh bakteri
tersebut.
8. Patologi rhinoskleroma
Rinoskleroma terbagi menjadi tiga stadium, yaitu stadium I, II, dan III. Pada stadium
I, gejala-gelaja yang dirasakan penderita tidak khas, seperti rinitis biasa. Dimulai dengan
keluarnya cairan hidung encer, sakit kepala, sumbatan hidung yang berkepanjangan,
kemudian diikuti dengan pengeluaran cairan mukopurulen berbau busuk yang dapat
mengakibatkan gangguan penciuman.
Stadium II ditandai dengan hilangnya gejala rinitis. Pada stadium ini terjadi
pertumbuhan yang disebut nodular submucous infiltration di mukosa hidung yang tampak
sebagai bintil di permukaan hidung. Lama-lama, bintil ini bergabung menjadi satu massa
bintil yang sangat besar, mudah berdarah, kemerahan, tertutup mukosa dengan konsistensi
padat seperti tulang rawan. Kemudian membesar ke arah posterior (belakang) maupun ke
depan (anterior). Sedangkan pada stadium III, massa secara perlahan-lahan membentuk
struktur jaringan lunak. Jaringan ini bisa menyempitkan jalan napas. Proses yang sama seperti
di hidung dapat juga terjadi pada mulut, tenggorokan, dan paru-paru.