Anda di halaman 1dari 9

Langkah-langkah dalam pelaksanaan pengembangan Desa Siaga:

a. Persiapan
Dalam tahap persiapan, hal-hal yang perlu dilakukan adalah:
1. Pusat:
- Penyusunan pedoman.
- Pembuatan modul-modul pelatihan.
- Penyelenggaraan Pelatihan bagi Pelatih atau Training of Trainers (TOT).
2. Provinsi:
- Penyelenggaraan TOT (tenaga kabupaten / Kota).
3. Kabupaten / Kota:
- Penyelenggaraan pelatihan tenaga kesehatan.
- Penyelenggaraan pelatihan kader.
b. Pelaksanaan
Dalam tahap pelaksanaan, hal-hal yang perlu dilakukan adalah:
1. Pusat:
- Penyediaan dana dan dukungan sumber daya lain.
2. Provinsi:
- Penyediaan dana dan dukungan sumber daya lain.
3. Kabupaten / Kota:
- Penyediaan dana dan dukungan sumber daya lain.
- Penyiapan Puskesmas dan Rumah Sakit dalam rangka penanggualangan bencana dan
kegawatdaruratan kesehatan.
4. Kecamatan:
- Pengembangan dan Pembinaan Desa Siaga.
c. Pemantauan dan Evaluasi
Dalam tahap pemantauan dan evaluasi, hal-hal yang perlu dilakukan adalah:
1. Pusat:
- Memantau kemajuan dan mengevaluasi keberhasilan pengembangan Desa Siaga.
2. Provinsi:
- Memantau kemajuan pengembangan Desa Siaga.
- Melaporkan hasil pemantauan ke pusat.
3. Kabupaten / Kota:
- Memantau kemajuan pengembangan Desa Siaga.
- Melaporkan hasil pemantauan ke Provinsi.
4. Kecamatan:
- Melakukan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS).
- Melaporkan pengembangan ke Kabupaten /Kota.

Contoh kegiatan pelaksanaan pengembangan Desa Siaga, sebagai berikut:


1. Persiapan
a. Persiapan Petugas Pelaksana :
- Pelatihan bidan
- Pelatihan tokoh masyarakat ( toma) dan kader
b. Persiapan Masyarakat :
- Pembentukan Forum Masyarakat Desa (FMD)
- Survey Mawas Diri (pendataan keluarga/lapangan rembuk desa)
- Musyawarah Masyarakat Desa (di awal pembentukan)
2. Pelaksanaan
- Pelayanan kesehatan dasar sesuai dengan kewenangan bidan, bila tidak dapat ditangani dirujuk ke
Puskesmas Pembantu atau Puskesmas.
- Kader dan toma melakukan surveilance (pengamatan sederhana) berbasis masyarakat tentang
kesehatan ibu anak, gizi, penyakit, lingkungan dan perilaku.
- Pertemuan Forum Masyarakat Desa untuk membahas masalah kesehatan desa termasuk tindak lanjut
penemuan pengamatan sederhana untuk meningkatkan kewaspadaan dini masyarakat dan menyepakati
upaya pencegahan dan peningkatan.
- Alih pengetahuan dan keterampilan melalui pertemuan dan kegiatan yang dilakukan oleh jejaring
penyebaran informasi kesehatan di desa (Jejaring Promosi Kesehatan), pelaksanaan kelas ibu, kelas
remaja, pertemuan dalam rangka swa-medikasi, dsb.
- UKBM misalnya pelaksanaan Posyandu, Posbindu, Warung Obat, Upaya Kesehatan Kerja, UKBM
Maternal (tabulin, calon donor darah, dsb.), dana sehat serta UKBM lain sesuai kebutuhan dan
kesepakatan.
- Gerakan masyarakat dalam kesigaan bencana dan kegawatdaruratan, Kesehatan Lingkungan, PHBS
dan Keluarga Sadar Gizi.
3. Pemantauan dan Evaluasi
Keberhasilan pengembangan Desa siaga dapat dilihat dari empat (4) indikatornya yaitu masukan, proses,
keluaran dan dampak.

LATAR BELAKANG
Permasalahan kesehatan yang dihadapi sampai saat ini cukup kompleks, karena upaya kesehatan belum
dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
tahun 2007 diketahui penyebab kematian di Indonesia untuk semua umur, telah terjadi pergeseran dari
penyakit menular ke penyakit tidak menular, yaitu penyebab kematian pada untuk usia > 5 tahun,
penyebab kematian yang terbanyak adalah stroke, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Hasil
Riskesdas 2007 juga menggambarkan hubungan penyakit degeneratif seperti sindroma metabolik,
stroke, hipertensi, obesitas dan penyakit jantung dengan status sosial ekonomi masyarakat
(pendidikan, kemiskinan, dan lain-lain).
Kesehatan adalah tanggung jawab bersama dari setiap individu, masyarakat, pemerintah dan swasta.
Apapun peran yang dimainkan oleh pemerintah, tanpa kesadaran individu dan masyarakat untuk secara
mandiri menjaga kesehatan mereka, hanya sedikit yang akan dapat dicapai. Perilaku yang sehat dan
kemampuan masyarakat untuk memilih dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu sangat
menentukan keberhasilan pembangunan kesehatan. Oleh karena itu, salah satu upaya kesehatan pokok
atau misi sektor kesehatan adalah mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat.
Untuk mencapai upaya tersebut Departemen Kesehatan RI menetapkan visi pembangunan kesehatan
yaitu Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat. Strategi yang dikembangkan adalah menggerakkan
dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat, berupa memfasilitasi percepatan dan pencapaian
derajat kesehatan setinggi-tingginya bagi seluruh penduduk dengan mengembangkan kesiap-siagaan di
tingkat desa yang disebut dengan Desa Siaga.
Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta
kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan
secara mandiri. Pada intinya, desa siaga adalah memberdayakan masyarakat agar mau dan mampu
untuk hidup sehat. Untuk dapat danmampu hidup sehat, masyarakat perlu mengetahui masalah-
masalah dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesehatannya, bak sebagai individu, keluarga,
ataupun sebagai bagian dari anggota masyarakat.
Beberapa determinan yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat adalah keturunan (heredity),
keadaan gizi, gaya hidup, akses pelayanan kesehatan dan lingkungan fisik dan nonfisik. Heredity
memegang peran dalam penentuan sifat dan karakteristik fisiologis seorang individu, seperti postur
tubuh, warna kulit dan golongan darah. Lingkungan fisik meliputi lingkungan yang ada di sekitar
manusia, seperti udara yang kita hirup, darat dan laut sebagai sumber kehidupan, termasuk rumah dan
fasilitasnya serta ketersediaan pelayanan umum (air bersih, listrik dan jalan raya). Sedangkan faktor
budaya akan mempengaruhi sikap masyarakat terhadap hidup sehat dan kesehatan secara keseluruhan.
Seiring dengan program Desa Siaga yang dicanangkan oleh Departemen Kesehatan RI, pendidikan dan
profesi keperawatan telah menerapkan standar perawatan komunitas yang mencakup berbagai unsur
dan komponen seperti yang ada pada konsep Desa Siaga. Perawatan kesehatan masyarakat diterapkan
untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan populasi dimana prakteknya tersebut bersifat umum
dan komprehensif yang ditujukan pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang memiliki
kontribusi bagi kesehatan, pendidikan kesehatan dan manajemen serta koordinasi dan kontinuitas
pelayanan holistik. Masalah kesehatan masyarakat dapat bermula dari perilaku individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat diantaranya berkaitan dengan masalah kesehatan lingkungan, kesehatan ibu
anak, kesehatan remaja serta kesehatan lanjut usia (lansia),maupun pemanfaatan fasilitas pelayanan
kesehatan yang masih sangat rendah seperti pemeriksaan kesehatan, kehamilan, imunisasi, posyandu
dan lain sebagainya.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang di atas , maka rumusan masalah yang kami kemukakan dalam makalah ini
adalah :
1. Apa pengertian Desa siaga ?
2. Apa tujuan dari Desa siaga ?
3. Apa saja sasaran dari Desa siaga?
4. Bagaimana langkah-langkah pengembangan Desa Siaga?
5. Bagaimana pendekatan pengembangan Desa Siaga ?
6. Apa saja peran perawat dalam Desa Siaga?

1.3 TUJUAN UMUM


Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Komunitas IV
serta untuk menambah pengetahuan tentang keperawatan Komunitas.

1.4 TUJUAN KHUSUS


Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan dari pembahasan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian Desa siaga
2. Untuk mengetahui tujuan dari Desa siaga
3. Untuk mengetahui Sasaran dari Desa siaga
4. Untuk mengetahui Langkah-langkah pengembangan Desa siaga
5. Untuk mengetahui pendekatan pengembangan Desa siaga
6. Untuk mengetahui peran perawat dalam Desa Siaga.

1.5 METODE
Dalam penyusunan makalah ini, metode yang kami gunakan yaitu metode kepustakaan dengan mencari
dan mengumpulkan data-data yang berhubungan baik melalui media internet maupun materi kuliah
yang diberikan oleh dosen pembimbing/pengajar.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Desa Siaga
Desa siaga adalah suatu kondisi masyarakat tingkat desa yang memiliki kemampuan dalam menemukan
permasalahan yang ada, kemudian merencanakan & melakukan pemecahannya sesuai potensi yg
dimilikinya, serta selalu siap siaga dalam menghadapi masalah kesehatan , bencana , dan
kegawatdaruratan
Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta
kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan(bencana dan kegawatdaruratan
kesehatan) secara mandiri. Desa siaga ini merupakan program pemerintah Indonesia untuk mewujudkan
Indonesia sehat 2010. Desa yang dimaksud dalam desa siaga adalah kelurahan / istilah lain bagi
kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah, yang berwenang untukmengatur dan
mengukur kepentingan masyarakat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan RI.
Desa Siaga adalah salah satu program Kementerian Kesehatan yang salah satu fokus kegiatannya adalah
mengurangi angka kematian Ibu, dengan meningkatkan peran serta masyarakat setempat. Desa siaga
adalah upaya bersama masyarakat untuk mengatasi persoalan kesehatan khususnya kesehatan ibu dan
anak.
Si (siap), yaitu pendataan dan mengamati seluruh ibu hamil, siap mendampingi ibu, siap menjadi donor
darah, siap memberi bantuan kendaraan untuk rujukan, siap membantu pendanaan, dan bidan wilayah
kelurahan selalu siap memberi pelayanan.
A (antar), yaitu warga desa, bidan wilayah, dan komponen lainnya dengan cepat dan sigap
mendampingi dan mengatur ibu yang akan melahirkan jika memerlukan tindakan gawat-darurat.
Ga (jaga), yaitu menjaga ibu pada saat dan setelah ibu melahirkan serta menjaga kesehatan bayi yang
baru dilahirkan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa desa siaga adalah suatu keadaan dimana suatu desa memiliki
kemampuan dan kemauan untuk mengenal, menghadapi dan mengatasi masalah kesehatan secara
mandiri baik bencana maupun kegawatdaruratan.

2.2 Tujuan Desa Siaga


Tujuan Umum :
Terwujudnya desa dengan masyarakat yang sehat, peduli, dan tanggap terhadap masalah-masalah
kesehatan, bencana, dan kegawatdaruratan di desanya.
Tujuan Khusus :
Optimalisasi peran PKD.
Terbentuknya FKD yang berperan aktif menggerakan pembangunan kesehatan.
Berkembangnya kegiatan PMD ,pokja gotong royong,
Upaya kesehatan ,Survailance dan Pembiayaan kesehatan.
Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan dan
melaksanakan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat).
Meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong dirinya sendiri di bidang
kesehatan.
Meningkatnya kesehatan di lingkungan desa.
Meningkatnya kesiagaan dan kesiapsediaan masyarakat desa terhadap risiko dan bahaya yang dapat
menimbulkan gangguan kesehatan (bencana, wabah penyakit, dsb).
Menurunkan angka kematian ibu dan anak.
Meningkatkan pertolongan persalinan oleh nakes.
Meningkatkan kepesertaan KB.
2.3 Sasaran Desa Siaga
Sasaran desa siaga dibedakan menjadi tiga jenis untuk mempermudah strategi intervensi,yaitu:
1. Semua individu dan keluarga di desa, yang diharapkan mampu melaksanakan hidup sehat, serta
peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayah desanya.
2. Pihak-pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perubahan perilaku individu dan keluarga atau
dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan perilaku tersebut, seperti tokoh masyarakat,
termasuk tokoh agama, tokoh perempuan, dan pemuda,kader,serta petugas kesehatan
3. Pihak-pihak yang diharapkan memberi dukungan kebijakan, peraturan perundang-undangan,
dana, tenaga, sarana, dll. Seperti kepala desa, camat, para pejabat terkait, swasta, para donatur, dan
pemangku kepentingan lain.
2.4 Langkah-langkah Pengembangan Desa Siaga
Sebelum dibahas langkah-langkah pengembangan desa siaga akan dijelaskan terlebih dahulu proses
pembentukan desa siaga. Adapun proses pembentukan desa siaga yaitu:
a. Persiapan di tingkat kabupaten
Keorganisasian tim lintas lembaga di tingkat kabupaten: dinas kesehatan, BKKBCS, BPMD,
BAPPEDA, dan LSM
Pelatihan-pelatihan
b. Sosialisasi tingkat kecamatan
c. Tingkat desa
Analisa masalah dengan metode PPA (Partisipatory Problem Analisys)
Pengorganisasian masyarakat dalam jejaring (pencatatan, dana, transport, KB)
Pertemuan rutin/bulanan desa siaga
Pengembangan desa siaga dilaksanakan dengan membantu / memfasilitasi masyarakat untuk menjalani
proses pembelajaran melalui siklus atau spiral pemecahan masalah yang terorganisasi, yaitu dengan
menempuh tahap-tahap:
Mengidentifikasi masalah, penyebab masalah, dan sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk
mengatasi masalah.
Mendiagnosis masalah dan merumuskan alternatif-alternatif pemecahan masalah.
Menetapkan alternatif pemecahan masalah yang layak, merencanakan, dan melaksanakannya.
Memantau, mengevaluasi, dan membina kelestarian upaya-upaya yang telah dilakukan.
Secara garis besar, langkah pokok yang perlu ditempuh untuk mengembangkan desa siaga meliputi :
1. Pengembangan tim petugas
Langkah ini merupakan awal kegiatan, sebelum kegiatan-kegiatan lainnya dilaksanakan. Tujuan Iangkah
ini adalah mempersiapkan para petugas kesehatan yang berada di wilayah Puskesmas, baik petugas
teknis maupun petugas administrasi. Persiapan pada petugas ini bisa berbentuk sosialisasi, pertemuan
atau pelatihan yang bersifat konsolidasi, yang disesuaikan dengan kondisi setempat.
Keluaran atau output dan Iangkah ini adalah para petugas yang memahami tugas dan fungsinya, serta
siap bekerjasama dalam satu tim untuk melakukan pendekatan kepada pemangku kepentingan dan
masyarakat.
2. Pengembangan tim masyarakat
Tujuan langkah ini adalah untuk mempersiapkan para petugas, tokoh masyarakat, serta masyarakat,
agar mereka tahu dan mau bekerjasama dalam satu tim untuk mengembangkan Desa Siaga. Dalam
langkah ini termasuk kegiatan advokasi kepada para penentu kebijakan, agar mereka mau memberikan
dukungan, baik berupa kebijakan atau anjuran, serta restu, maupun dana atau sumber daya lain,
sehingga pengembangan Desa Siaga dapat berjalan dengan lancar. Sedangkan pendekatan kepada
tokoh-tokoh masyarakat bertujuan agar mereka memahami dan mendukung, khususnya dalam
membentuk opini publik guna menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan Desa Siaga. Jadi
dukungan yang diharapkan dapat berupa dukungan moral, dukungan finansial atau dukungan material,
sesuai kesepakatan dan persetujuan masyarakat dalam rangka pengembangan Desa Siaga.
Jika di daerah tersebut telah terbentuk wadah-wadah kegiatan masyarakat di bidang kesehatan seperti
Konsil Kesehatan Kecamatan atau Badan Penyantun Puskesmas, Lembaga Pemberdayaan Desa, PKK,
serta organisasi kernasyarakatan Iainnya, hendaknya lembaga-lembaga ini diikutsertakan dalam
setiap pertemuan dan kesepakatan.
3. Survei mawas diri (SMD)
Survei Mawas Diri (SMD) atau Telaah Mawas Diri (TMD) atau Community Self Survey (CSS) bertujuan agar
pemuka-pemuka masyarakat mampu melakukan telaah mawas diri untuk desanya. Survei ini harus
dilakukan oleh pemuka-pemuka masyarakat setempat dengan birnbingan tenaga kesehatan. Dengan
demikian, diharapkan mereka menjadi sadar akan permasalahan yang dihadapi di desanya, serta
bangkit niat dan tekad untuk mencari solusinya, termasuk membangun Poskesdes sebagai upaya
mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat desa. Untuk itu, sebelumnya perlu
dilakukan pemilihan dan pembekalan keterampilan bagi mereka.
Keluaran atau output dan SMD ini berupa identifikasi masalah-masalah kesehatan serta daftar potensi
di desa yang dapat didayagunakan dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan tersebut, termasuk
dalam rangka rnembangun Poskesdes.
4. Musyawarah mufakat desa (MMD)
Tujuan penyelenggaraan musyawarah masyarakat desa (MMD) ini adalah mencari alternatif
penyelesaian masalah kesehatan dan upaya membangun Poskesdes, dikaitkan dengan potensi yang
dimiliki desa. Di samping itu, juga untuk menyusun rencana jangka panjang pengembangan Desa Siaga.
lnisiatif penyelenggaraan musyawarah sebaiknya berasal dari para tokoh masyarakat yang telah sepakat
mendukung pegembangan Desa Siaga. Peserta musyawarah adalah tokoh-tokoh masyarakat, termasuk
tokoh-tokoh perempuan dan generasi muda setempat. Bahkan sedapat rnungkin dilibatkan pula
kalangan dunia usaha yang mau mendukung pengembangan Desa Siaga dan kelestariannya (untuk itu
diperlukan advokasi).
Data serta temuan lain yang diperoleh pada saat SMD disajikan, utamanya adalah daftar masalah
kesehatan, data potensi, serta harapan masyarakat. Hasil pendataan tersebut dimusyawarahkan untuk
penentuan prioritas, dukungan dan kontribusi apa yang dapat disumbangkan oleh masing-masing
individu/ institusi yang diwakilinya, serta langkah-Iangkah solusi untuk pembangunan Poskesdes dan
pengembangan masing-masing Desa Siaga

2.5 Pendekatan Pengembangan Desa Siaga


Agar percepatan pengembangan desa siaga cepat tercapai maka ada beberapa strategi yang dilakukan
oleh Tim Pengembangan Desa Siaga, di antaranya adalah sebagai berikut :

Pemberdayaan
Pada prinsipnya konsep Desa Siaga adalah pemberdayaan, dimana peran serta dari masyarakat adalah
yang utama. Langkah awal yang dilakukan dalam pemberdayaan tersebut dengan membantu kelompok
masyarakat memegenali masalah-masalah yang mengganggu kesehatan sehingga masalah tersebut
menjadi masalah bersama. Kemudian masalah tersebut dimusyawarakan untuk dipecahkan bersama.
Pembinaan Desa Siaga dilakukan dengan menggerakkan segenap komponen yang ada dalam masyarakat
agar secara mandiri dan berkesinambungan, mencegah dan mengatasi masalah kesehatannya dan
mengenali potensi yang dimiliki guna mengatasinya. Mengajak masyarakat agar terlibat secara mandiri
dalam Desa Siaga juga dilakukan dengan melakukan penyuluhan-penyuluhan semisal pada saat ada
pelaksanaan Posyandu. Petugas kesehatan dari Puskesmas sangat memberi andil yang sangat besar
dalam pengembangan Desa Siaga dengan startegi pemberdayaan tersebut.
Bina Suasana (Empowerment)
Bina suasana adalah upaya menciptakan suasana atau lingkungan sosial yang mendorong individu,
keluarga dan masyarakat agar berperan dalam pengembangan Desa Siaga.Bina suasana dilakukan
dengan pemberian informasi tentang Desa Siaga melalui leaflet. Misal yang telah dilakukan dengan
adalah pembagian selebaran informasi tentang Demam Berdarah Dengue dengan pendekatan konsep
Desa Siaga. Hal lain yang juga dilakukan adalah memotivasi kader-kader kesehatan di desa agar mampu
mempunyai pengaruh untuk menciptakan opini positif tentang Desa Siaga kepada masyarakat.
Pemasangan papan Desa Siaga juga adalah salah satu strategi bina suasana, hal ini dilakukan agar desa
siaga menjadi familir di tengah-tengah masyarakat.
Advokasi
Advokasi terus dilakukan oleh Tim Teknis Pengembangan Desa siaga dan tim promosi kesehatan oleh
tenaga kesehatan puskesmas. Pendekatan juga dilakukan kepada stakeholder yang terkait guna
memberikan dukungan, kebijakan, dana, tenaga, sarana dan prasarana.

Kemitraan
Bentuk kemitraan untuk pengembangan Desa Siaga Siaga masih dalam tahap penjajakan. Tim Teknis
Desa Siaga telah melakukan pendekatan terhadap pihak ketiga ( Pihak Swasta ) agar dapat mengambil
peran dalam pengembangan Desa Siaga. Tentunya ada manfaat bagi Pihak swasta yang ditawarkan jika
Desa Siaga berjalan dengan baik.

2.6 Peran Perawat dalam Pelaksanaan Desa Siaga


Pelayanan keperawatan merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan secara
keseluruhan. Proporsi tenaga keperawatan (perawat dan bidan) merupakan proporsi tenaga terbesar
(48%) yang dapat mempengaruhi kinerja rumah sakit dan puskesmas/ sarana pelayanan kesehatan
lainnya. Perawat berperan dalam UKP (Upaya kesehatan perorangan) dan Upaya kesehatan masyarakat
(UKM). Peran perawat di semua tatanan pelayanan kesehatan di setiap level rujukan dimana bentuk
pelayanan yang diberikan berupa pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif.
Perawat sebagai ujung tombak tenaga kesehatan di masyarakat tentu harus juga dipersiapkan dalam
pelaksanaan desa siaga ini. Dengan mengacu dari prinsif-prinsif keperawatan komunitas yaitu (Astuti
Yuni, Nursari 2005) :
Kemanfaatan, yang berarti bahwa intervensi yang dilakukan harus memberikan manfaat sebesar
besarnya bagi komunitas.
Prinsip otonomi yaitu komunitas harus diberikan kebebasan untuk melakukan atau memilih
alternative yang terbaik yang disediakan untuk komunitas.
Keadilan yaitu melakukan upaya atau tindakan sesuai dengan kemampuan atau kapasitas
komunitas.
Adapun peran perawat disini antara lain (Old, London, & Ladewig, 2000)
Sebagai pemberi pelayanan dimana perawat akan memberikan pelayanan keperawatan langsung
dan tidak langsung kepada klien dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat.
Sebagai pendidik, perawat memberikan pendidikan kesehatan kepada klien dengan resiko tinggi
atau dan kader ksehatan.
Sebagai pengelola perawat akan merencanakan, mengorganisasi,menggerakan dan mengevaluasi
pelayanan keperawatan baik langsung maupun tak langsung dan menggunakan peran serta aktif
masyarakat dalam kegiatan keperawatan komunitas.
Sebagai konselor, perawat akan memberikan konseling atau bimbingan kepada kader, keluarga
dan masyarakat tentang masalah kesehatan komunitas dan kesehatan ibu dan anak.
Sebagai pembela klien (advokator) perawat harus melindungi dan memfasilitasi keluarga dan
masyarakat dalm pelayanan keperawatan komunitas.
Sebagai peneliti perawat melakukan penelitian untuk mengembangkan keperawatan komunitas
dalam rangka mengefektifkan desa siaga.
Mengacu dari BPPSDM Dep Kes 2006, mengenai sumber daya manusia (SDM) Kesehatan di Desa Siaga
dijelaskan bahwa SDM pelaksana pada desa siaga ini menempati posisi yang sangat penting , dimana
mereka akan berperan dalam sebuah tim kesehatan yang akan melaksanakan uapya pelayanan
kesehatan . SDM Kesehatan yang akan ditempatan di desa siaga ini memiliki kompetensi sebagai
berikut:
Mampu melakukan pelayanan kehamilan dan pertolongan persalinan, kesehatan ibu dan anak
Mampu melakukan pelayanan kesehatan dasar
Mampu melakukan pelayanan gizi individu dan masyarakat
Mampu melakukan kegiatan sanitasi dasar
Mampu melakukan kegiatan penyuluhan kesehatan
Mampu melakukan pelayanan kesiapsiagaan terhadap bencana , dan mampu melaksanakan
pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Perawat dengan peran dan fungsinya untuk ikut mensukseskan Desa Siaga, sebaiknya telah dipersiapkan
dengan baik sehingga beberapa persyaratan SDM seperti dijelaskan diatas bisa dicapai.

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang kami dapat dari penulisan makalah di atas yaitu Desa siaga adalah desa yang
penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan
mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan, secara mandiri.
Adapun tujuan umumnya adalah terwujudnya desa dengan masyarakat yang sehat, peduli, dan tanggap
terhadap masalah-masalah kesehatan, bencana, dan kegawatdaruratan di desanya. Sedangkan tujuan
khususnya antara lain:
Optimalisasi peran PKD.
Terbentuknya FKD yang berperan aktif menggerakan pembangunan kesehatan.
Berkembangnya kegiatan PMD ,pokja gotong royong,
Upaya kesehatan ,Survailance dan Pembiayaan kesehatan.
Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan dan
melaksanakan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat).
Meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong dirinya sendiri di bidang
kesehatan.
Meningkatnya kesehatan di lingkungan desa.
Meningkatnya kesiagaan dan kesiapsediaan masyarakat desa terhadap risiko dan bahaya yang dapat
menimbulkan gangguan kesehatan (bencana, wabah penyakit, dsb).
Menurunkan angka kematian ibu dan anak.
Meningkatkan pertolongan persalinan oleh nakes.
Meningkatkan kepesertaan KB.

3.2 SARAN
Dari pengertian dan tujuan adanya desa siaga sangatlah bermanfaat bagi masyarakat khususnya dalam
mempertahankan dan bahkan meningkatkan derajat kesehatan diharapkan agar pelaksanaan desa siaga
ini kembali dilakukan dan disebarluaskan ke setiap wilayah di Indonesia. Desa siaga inilah merupkan
langkah awal yang sangat penting untuk dilakukan yang akhirnya nanti akan mendukung pogram
pemerintah dalam pencapaian peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia
DAFTAR PUSTAKA

Dr.Frans Salesman SE, M.Kes dalam Program Desa Siaga di Kabupaten Manggarai diakses pada tanggal 3
Mei 2011 melalui http://p3b.bappenas.go.id/loknas_ruteng/docs/materi/12-Desa%20Siaga
%20%28Manggarai%29.pdf
Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan, Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Depkes. Februari
2009.PELAYANAN KEPERAWATAN DALAM SISTEM PELAYANAN KESEHATAN diakses tanggal 4 Mei 2011
melalui http://staff.ui.ac.id/internal/132014715/material/SISYANWATDLMSISYANKES.ppt
Depkes RI, 1993, Jakarta, Petunjuk Pengelolaan Perawatan Kesehatan Masyarakat
Depkes RI, 1996, Jakarta, Pedoman Pemantauan Penilaian Program Perawatan Kesehatan Masyarakat.
Diakses tanggal 4 Mei 2011 melalui http://maydwiyurisantoso.wordpress.com/peran-perawat-dalam-
kesehatan-masyarakat/
Diakses tanggal 3 Mei 2011 melalui http://stikeskabmalang.files.wordpress.com/2009/06/bab-1.doc
Diakses tanggal 3 Mei 2011 melalui http://www.slideshare.net/BJSGSDP/konsep-amp-pengertian-desa-
siaga
Diakses tanggal 3 Mei 2011 melalui http://www.slideshare.net/guest3a7d85/pengertian-desa-siaga
Dr. Sri Astuti Suparmato, MSc.Ph Dirjen Bina Kesmas Depkes RI.Pengembangan Desa Siaga dan Pos
Kesehatan Desa diakses tanggal 3 Mei 2011 melalui
http://www.dinkesjatim.go.id/images/datainfo/200609281012-MATERI%20DESA%20SIAGA%20&
%20POSKESDES.pdf