Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA PANGAN

ANALISIS SEDERHANANA KANDUNGAN BORAKS DALAM


MAKANAN MENGGUNAKAN KUNYIT

OLEH
CHOIRUL ANWAR

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN


JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
2016
KATA PENGANTAR

Puji beserta syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan kesehatan dan rahmat-Nya kepada penulis sehingga penulis bisa
menyelesaikan laporan praktikum yang berjudul Analisis Sederhanan
Kandungan Boraks Pada Makanan Dengan Menggunakan Kunyit tepat pada
waktunya. Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi besar
yakni Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada :

1. Ibu Dr. Ida Ratnasari, S.Pi, M.Si, Selaku dosen mata kuliah Kimia Pangan yang
telah memberikan dan pengarahan atas penyusunan laporan ini.

2. Serta teman teman yang telah bekerjasama dalam penyusunan laporan ini.

Penulis menyadari dalam penulisan laporan ini banyak terdapat kekurangan


karena penulis masih dalam tahap pembelajaran. Namun, penulis tetap berharap
agar laporan ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

Kritik dan saran dari penulisan laporan ini sangat penulis harapkan untuk
perbaikan dan penyempurnaan pada laporan penulis berikutnya. Untuk itu penulis
ucapkan terima kasih.

Palangka Raya, 05 Oktober 2016

1
Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR..............................................................................................i

DAFTAR ISI...........................................................................................................ii

DAFTAR TABEL..................................................................................................iii

DAFTAR GAMBAR.............................................................................................iii

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang..............................................................................................1

1.2. Tujuan dan Manfaat Praktikum.....................................................................3

2
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Boraks............................................................................................................4

2.2. Kunyit............................................................................................................6

III. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat.........................................................................................9

3.2. Alat dan Bahan..............................................................................................9

3.3. Prosedur Praktikum.......................................................................................9

3.4. Parameter Pengamatan..................................................................................9

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil.............................................................................................................10

4.2. Pembahasan.................................................................................................12

V. PENUTUP

5.1. Kesimpulan..................................................................................................14

5.2. Saran............................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................15

3
DAFTAR TABEL

NO Teks Halaman
1 Daftar Makanan Yang diuji 10

DAFTAR GAMBAR

NO Teks Halaman
1 Struktur Kimia Boraks 4
2 Kunyit 10
3 1c Pentol di jurusan perikanan tetap kuning 11
4 2 Tahu yang tetap kuning 11
5 3 Sampel mie basah yang tetap kuning 11
6 1a Pentol di jurusan 12
7 1b Pentol di Fakultas Hukum 12

4
5
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Makanan memiliki arti penting dalam kehidupan manusia. Selain


menyediakan zat-zat yang diperlukan untuk sumber tenaga dan pertumbuhan,
makanan juga menyediakan zat-zat yang diperlukan untuk mendukung kehidupan
tubuh yang sehat. Karena itu untuk meningkatkan kehidupan manusia diperlukan
adanya persediaan makanan yang memadai baik dari segi kualitas maupun
kuantitas. Dari segi kualitas, selain mengandung semua zat yang diperlukan oleh
tubuh makanan juga harus memenuhi syarat keamanan (Sugiyatmi, 2006).

Keamanan pangan diartikan sebagai kondisi dan upaya yang diperlukan untuk
mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang
dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia. Pangan
yang aman serta bermutu dan bergizi tinggi sangat penting peranannya bagi
pertumbuhan, pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan serta peningkatan
kecerdasan masyarakat (Saparinto dan Hidayati, 2006 Dalam Widayat, 2011).

Pada umumnya dalam pengelolaan makanan selalu diusahakan untuk


menghasilkan produk makanan yang disukai dan berkualitas baik. Makanan yang
tersaji harus tersedia dalam bentuk dan aroma yang lebih menarik, rasa enak,
warna dan konsistensinya baik serta awet. Untuk mendapatkan makanan seperti
yang diinginkan maka sering pada proses pembuatannya dilakukan penambahan
Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang disebut zat aktif kimia (food additive)
(Widyaningsih, 2006). BTP ditambahkan untuk memperbaiki karakter pangan
agar memiliki kualitas yang meningkat. BTP pada umumnya merupakan bahan
kimia yang telah diteliti dan diuji sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah yang ada.
Pemerintah sendiri telah mengeluarkan berbagai aturan yang diperlukan untuk
mengatur pemakaian BTP secara optimal (Syah, 2005).

1
Konsentrasi bahan BTP pengawet yang diizinkan oleh peraturan bahan
pangan sifatnya adalah penghambatan dan bukannya mematikan organisme-
organisme pencemar, oleh karena itu sangat penting bahwa populasi mikroba dari
bahan pangan yang akan diawetkan harus dipertahankan seminimum mungkin
dengan cara penanganan dan pengolahan secara higienis. Jumlah bahan pengawet
yang ditambahkan akan mengawetkan bahan pangan dengan muatan mikroba
yang normal untuk suatu jangka waktu tertentu, tetapi akan kurang efektif jika
dicampurkan ke dalam bahan-bahan pangan membusuk dan terkontaminasi secara
berlebihan. Disamping itu bahan kimia berbahaya yang bukan ditujukan untuk
makanan, justru ditambahkan kedalam makanan. Hal ini tentu saja akan sangat
membahayakan konsumen (Yuliarti, 2007).

Adapun bahan kimia berbahaya yang bukan ditujukan untuk makanan, justru
ditambahkan kedalam makanan, seperti ; Boraks.

Boraks merupakan suatu bahan kimia berbentuk kristal berwarna putih


dengan rumus kimia Na2B4O7.10H2O. Boraks digunakan pada industri kaca,
porselin, alat pembersih, bahan pestisida, dan bahan pengawet lainnya. Selain itu
di bidang kedokteran boraks digunakan untuk antiseptik, bahan pembuat salep,
dan obat pencuci mata (Fuad, 2014).

Berdasarkan Permenkes RI No. 033 tahun 2012 tentang bahan tambahan


pangan, bahwa Boraks digolongkan dalam bahan tambahan yang dilarang
digunakan dalam makanan, tetapi pada kenyataannya masih banyak bentuk
penyalahgunaan dari zat tersebut. Boraks sangat berbahaya bagi kesehatan apabila
terdapat dalam makanan. Boraks pada pemakaian sedikit dan lama akan terjadi
akumulasi (penumpukan) pada otak, hati, lemak dan ginjal.

Boraks banyak digunakan dalam pembuatan berbagai makanan seperti bakso,


mie basah, tahu, pisang molen, lemper, siomay, lontong, ketupat, dan pangsit.
Penggunaan boraks sebagai bahan tambahan selain dimaksudkan untuk bahan

2
pengawet juga dimaksudkan untuk membuat bahan menjadi lebih kenyal dan
memperbaiki penampilan.

Berbahayanya boraks bagi tubuh manusia sudah banyak diketahui oleh


masyarakat umum, namun demikian belum banyak masyarakat yang mengetahui
cara mendeteksi boraks dalam makanan. Kebanyakan untuk mengetahui
kandungan boraks dalam makanan dilakukan melalui uji labolatorium oleh
praktisi akademis. Oleh karena itu sebagai alternatif untuk mengetahui kandungan
Boraks pada makanan digunakan kunyit.

Kunyit sangat bermanfaat dalam mendeteksi boraks secara sederhana, praktis,


dan cepat. Kunyit yang memiliki kandungan utama kurkuminoid yang mana
kurkuminoid tersebut tersusun oleh kurkumin dengan rumus molekul CHO
yang merupakan pembentuk warna kuning pada kunyit.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kunyit dapat
dijadikan sebagai media untuk mengidentifikasi kandungan
boraks pada makanan.
1.2. Tujuan dan Manfaat Praktikum

Adapun tujuan dari di laksanakan praktikum ini adalah untuk mengetahui


kandungan boraks dalam makanan yang beredar di kalangan mahasiswa seperti
pentol, mie basah, dan tahu yang ada di sekitar kampus.

Adapun manfaat dari praktikum ini adalah dapat lebih teliti dalam memilih
makanan terutama makanan yang ada di kampus.

3
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Boraks

Boraks adalah senyawa kimia turunan dari logam berat boron (B), Boraks
meru-pakan anti septik dan pembunuh kuman. Bahan ini banyak digunakan

4
sebagai bahan anti jamur, pengawet kayu, dan antiseptik pada kosmetik. Asam
borat atau boraks (boric acid) merupakan zat pengawet berbahaya yang tidak
diizinkan digunakan sebagai campuran bahan makanan. Boraks adalah senyawa
kimia dengan rumus Na2B4O7. 10H2O berbentuk kristal putih, tidak berbau dan
stabil pada suhu dan tekanan normal. Dalam air, boraks berubah menjadi natrium
hidroksida dan asam borat (Syah, 2005).

Gambar 1. Struktur Kimia Boraks.

Sumber : Raike, 2007

Asam borat (H3BO) merupakan senyawa bor yang dikenal juga dengan nama
borax. Di Jawa Barat dikenal juga dengan nama bleng, di Jawa Tengah dan
Jawa Timur dikenal dengan nama pijer. Digunakan atau ditambahkan ke dalam
pangan/bahan pangan sebagai pengental ataupun sebagai pengawet (Cahyadi,
2008 dalam widayat 2011). Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan
diperoleh data bahwa senyawa asam borat ini dipakai pada lontong agar
teksturnya menjadi bagus dan kebanyakan ditambahkan pada proses pembuatan
bakso. Komposisi dan bentuk asam borat mengandung 99,0% dan 100% H3BO3.
Mempunyai bobot molekul 61,83 dengan B = 17,50% ; H = 4,88% ; O = 77,62%
berbentuk serbuk hablur kristal transparan atau granul putih tak berwarna dan tak
berbau serta agak manis (Cahyadi, 2008 dalam widayat, 2011). Karekteristik
boraks antara lain (Riandini, 2008 dalam widayat, 2011):

a) Warna adalah jelas bersih

5
b) Kilau seperti kaca

c) Kristal ketransparanan adalah transparan ke tembus cahaya

d) Sistem hablur adalah monoklin

e) Perpecahan sempurna di satu arah

f) Warna lapisan putih

g) Mineral yang sejenis adalah kalsit, halit, hanksite, colemanite, ulexite dan
garam asam bor yang lain.

h) Karakteristik yang lain: suatu rasa manis yang bersifat alkali.

Senyawa asam borat ini mempunyai sifat-sifat kimia sebagai berikut: jarak
lebur sekitar 171C, larut dalam 18 bagian air dingin, 4 bagian air mendidih, 5
bagian gliserol 85% dan tak larut dalam eter. Kelarutan dalam air bertambah
dengan penambahan asam klorida, asam sitrat atau asam tetrat. Mudah menguap
dengan pemanasan dan kehilangan satu molekul airnya pada suhu 100C yang
secara perlahan berubah menjadi asam metaborat (HBO2). Asam borat merupakan
asam lemah dan garam alkalinya bersifat basa. Satu gram asam borat larut
sempurna dalam 30 bagian air, menghasilkan larutan yang jernih dan tak
berwarna. Asam borat tidak tercampur dengan alkali karbonat dan hidroksida
(Cahyadi, 2008 dalam Widayat 2011).

Efek boraks yang diberikan pada makanan dapat memperbaiki struktur dan
tekstur makanan. Seperti contohnya bila boraks diberikan pada bakso dan lontong
akan membuat bakso/lontong tersebut sangat kenyal dan tahan lama, sedangkan
pada kerupuk yang mengandung boraks jika digoreng akan mengembang dan
empuk serta memiliki tekstur yang bagus dan renyah. Parahnya, makanan yang

6
telah diberi boraks dengan yang tidak atau masih alami, sulit untuk dibedakan jika
hanya dengan panca indera, namun harus dilakukan uji khusus boraks di
Laboratorium (Depkes RI, 2002).

2.1.1. Penggunaan Boraks

Boraks bisa didapatkan dalam bentuk padat atau cair (natrium


hidroksida atau asam borat). Baik boraks maupun asam borat memiliki sifat
antiseptik dan biasa digunakan oleh industri farmasi sebagai ramuan obat,
misalnya dalam salep, bedak, larutan kompres, obat oles mulut dan obat
pencuci mata. Selain itu boraks juga digunakan sebagai bahan solder,
pembuatan gelas, bahan pembersih/pelicin porselin, pengawet kayu dan
antiseptik kayu (Aminah dan Himawan, 2009 dalam Widayat 2011). Asam
borat dan boraks telah lama digunakan sebagai aditif dalam berbagai
makanan. Sejak asam borat dan boraks diketahui efektif terhadap ragi, jamur
dan bakteri, sejak saat itu mulai digunakan untuk mengawetkan produk
makanan. Selain itu, kedua aditif ini dapat digunakan untuk meningkatkan
elastisitas dan kerenyahan makanan serta mencegah udang segar berubah
menjadi hitam.

Boraks digunakan orang sudah sejak lama, yaitu sebagai zat pembersih
(cleaning agent), zat pengawet makanan (additive), dan untuk penyamak
kulit. Boraks sebagai antiseptik dan pembunuh kuman. Karena itu borak
banyak digunakan sebagai anti jamur, bahan pengawet kayu, dan untuk bahan
antiseptik pada kosmetik. Dalam industri tekstil boraks digunakan untuk
mencegah kutu, lumut, dan jamur. Boraks juga digunakan sebagai insektisida
dengan mencampurkannya dalam gula untuk membunuh semut, kecoa, dan
lalat. Boraks sejak lama sudah digunakan untuk membuat gendar nasi, krupuk
gendar, atau krupuk puli yang secara lokal di beberapa daerah di Jawa disebut
karag atau lempeng (Sugiyatmi, 2006).

7
Dalam pembuatan makanan, termasuk makanan jajanan tradisional,
masih banyak ditemukan penggunaan bahan-bahan pengawet yang dilarang.
Salah satu di antaranya adalah penggunaan boraks. Bahan ini banyak
digunakan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan berbagai makanan,
misalnya bakso, mi basah, siomay, dan gendar. Penggunaan boraks sebagai
bahan tambahan pangan selain bertujuan untuk mengawetkan makanan juga
bertujuan agar makanan menjadi lebih kompak (kenyal) teksturnya dan
memperbaiki penampakan. Dengan jumlah sedikit saja telah dapat
memberikan pengaruh kekenyalan pada makanan sehingga menjadi lebih
legit, tahan lama, dan terasa enak di mulut.

2.2. Kunyit

Klasifikasi pada kunyit sebagai berikut :

Kingdom : Plantae(Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta(Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas : Commelinidae

Ordo : Zingiberales

Famili : Zingiberaceae (suku jahe-jahean)

8
Genus : Curcuma

Spesies : Curcuma longa L.

Sumber : Arief, 2012

Kunyit atau kunir, (Curcuma longa Linn. syn. Curcuma domestica Val.),
adalah termasuk salah satu tanaman rempah dan obat asli dari wilayah Asia
Tenggara. Tanaman ini kemudian mengalami penyebaran ke daerah Malaysia,
Indonesia, Australia bahkan Afrika. Hampir setiap orang Indonesia dan India serta
bangsa Asia umumnya pernah mengonsumsi tanaman rempah ini, baik sebagai
pelengkap bumbu masakan, jamu atau untuk menjaga kesehatan dan kecantikan.
Kunyit adalah rempah-rempah yang biasa digunakan dalam masakan di negara-
negara Asia. Kunyit sering digunakan sebagai bumbu dalam masakan sejenis
gulai, dan juga digunakan untuk memberi warna kuning pada masakan, atau
sebagai pengawet. Produk farmasi berbahan baku kunyit, mampu bersaing dengan
berbagai obat paten, misalnya untuk peradangan sendi (arthritis- rheumatoid) atau
osteo-arthritis berbahan aktif natrium deklofenak, piroksikam, dan fenil butason
dengan harga yang relatif mahal atau suplemen makanan (Vitamin-plus) dalam
bentuk kapsul. Produk bahan jadi dari ekstrak kunyit berupa suplemen makanan
dalam bentuk kapsul (Vitamin-plus) pasar dan industrinya sudah berkembang.
Suplemen makanan dibuat dari bahan baku ekstrak kunyit dengan bahan
tambahan Vitamin B1, B2, B6, B12, Vitamin E, Lesitin, Amprotab, Mg-stearat,
Nepagin dan Kolidon 90. Umbi (rimpang) / kunyit yang berumur lebih dari satu
tahun dapat dipakai sebagai obat, umbi (rimpang) kunyit berkhasiat untuk
mendinginkan badan, membersihkan, mempengaruhi bagian perut Khususnya
pada lambung , merangsang, melepaskan lebihan gas di usus, menghentikan
pendarahan dan mencegah penggumpalan darah, selain dari itu juga digunakan
sebagai bahan dalam masakan.Kunyit juga digunakan sebagai obat anti gatal, anti
septik dan anti kejang serta mengurangi pembengkakan selaput lendir mulut.
Kunyit dikonsumsi dalam bentuk perasan yang disebut filtrat, juga diminum
sebagai ekstrak atau digunakan sebagai salep untuk mengobati bengkak dan

9
terkilir. Kandungan utama kunyit adalah kurkumin dan minyak atsiri yang
berfungsi untuk pengobatan hepatitis, antioksidan, gangguan pencernaan, anti
mikroba, anti kolesterol, anti HIV, anti tumor (menginduksi apostosis),
menghambat perkembangan sel tumor payudara, menghambat ploriferasi sel
tumor pada usus besar, anti invasi, anti rheumatoid arthritis (rematik).Diabetes
melitus, Tifus, Usus buntu, Disentri, Sakit keputihan, Haid tidak lancar, Perut
mulas saat haid, Memperlancar ASI, Amandel, Berak lendir, Morbili, Cangkrang
(Waterproken). Kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat, yang disebut
kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin , desmetoksikumin sebanyak 10% dan
bisdesmetoksikurkumin sebanyak 1-5% dan zat- zat bermanfaat lainnya seperti
minyak atsiri yang terdiri dari Keton sesquiterpen, turmeron, tumeon 60%,
Zingiberen 25%, felandren, sabinen, borneol dan sineil. Kunyit juga mengandung
Lemak sebanyak 1 -3%, Karbohidrat sebanyak 3%, Protein 30%, Pati 8%,
Vitamin C 45-55%, dan garam-garam mineral, yaitu zat besi, fosfor, dan kalsium
(Arief, 2012).

10
III. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu Tanggal 28 September 2016, di


Ruang P3 Program Studi Teknologi Hasil Perikanan Jurusan Perikanan Fakultas
Pertanian Universitas Palangka Raya.

3.2. Alat dan Bahan

1. Alat

Alat yang digunakan adalah, tusuk gigi, alat tulis

2. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah kunyit, jajanan ringan
diantaranya pentol, mie basah, serta tahu

11
3.3. Prosedur Praktikum

Metode yang digunakan dalam dalam praktikum ini adalah uji analisis
kualitatif kandungan boraks dalam makanan dengan melihat perubahan warna
yang terjadi setelah ditusuk tusuk gigi yang dilumuri dengan kunyit.

Dimana tusuk gigi dilumuri dengan kunyit kemudian ditusuk ke dalam


sampel, tunggu beberapa detik kemudia diangkat dan lihat perubahan warna yang
terjadi pada setiap sampel.

Perubahan warna pada tusuk gigi untuk dianalisis kandungan boraksnya.

3.4. Parameter Pengamatan

Menurut Arief, 2012. Menjelaskan tentang Petunjuk makanan/ jajanan


mengandung atau tidak mengandung boraks dilakukan dengan mengamati
perubahan warna pada sampel makanan setelah ditetesi dengan air kunyit:

Perubahan warna pada boraks sebagai kontrol berwarna kuning.

Jika sampel makanan tidak mengalami perubahan warna (tetap berwarna


kuning seperti warna kunyit) berarti tidak mengandung boraks.

Jika sampel makanan mengalami perubahan warna (berwarna merah


kecoklatan) berarti diduga mengandung boraks.

12
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Kunyit yang digunakan dalam praktikum ini adalah kunyit lokal yang biasa
digunakan sebagai bumbu masak dan pewarna alami makanan. Bagian kunyit
yang digunakan adalah rimpangnya. Secara umum kunyit memberi warna kuning
pada makanan. Senyawa kimia yang terkandung dalam kunyit adalah kurkumin
dan minyak astiri

Gambar 2. Kunyit

Berdasarkan pengamatan pada sembilan sampel makanan yang diuji


dihasilkan data seperti dalam Tabel 1.
N Nama Makanan Respon Perubahan warna
O
1 a. Pentol (Jurusan Agribisnis) +
b. Pentol (Fakultas Hukum) +
c. Pentol (Jurusan Perikanan) -
2 Tahu -
3 Mie Basah -

Keterangan + = positif

- = negatif

13
Tabel 1. Daftar Makanan Yang diuji

Berdasarkan hasil pengamatan dalam table 1. dapat dilihat bahwa dari 5


sampel makanan yang diuji, 3 (tiga) sampel makanan tidak bereaksi (negative),
yaitu mie basah, pentol dijurusan perikanan, dan tahu. Sedangkan 2 (dua) sampel
makanan yang lain menunjukkan reaksi positif, yaitu pentol di jurusan Agribisnis
dan pentol di Fakultas Hukum.

3 (tiga) sampel makanan yang dinyatakan bereaksi negative adalah sampel


makanan yang setelah ditusuk tusuk gigi yang sudah dilumuri dengan kunyit
awalnya berwarna kuning, setelah dibiarkan beberapa waktu, tidak terjadi
perubahan warna (tetap kuning). Hasil pengujian 3 (tiga) sampel makanan
tersebut dapat dilihat dalam Gambar berikut:

Gambar 3. 1c Pentol di jurusan Gambar 4. 2 Tahu yang tetap kuning


perikanan tetap kuning

Gambar 5. 3 Sampel mie basah yang


tetap kuning

tiga sampel makanan yang tidak mengalami perubahan warna tersebut diduga
tidak mengandung boraks. Ketiga sampel tersebut mengandung borak dalam

14
jumlah yang sangat sedikit. Oleh karena itu tiga sampel makanan tersebut
dinyatakan aman untuk dikonsumsi.

Pentol di jurusan Agribisnis dan pentol di Fakultas Hukum di ditusuk gigi di


lumuri dengan kunyit awalnya berwarna kuning, tetapi setelah beberapa waktu
tusuk gigi berubah warna menjadi kuning kemerahan. Perubahan warna tersebut
dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 6. 1a Pentol di jurusan Gambar 7. 1b Pentol di Fakultas


Agribisnis Hukum

4.2. Pembahasan

Perubahan warna pada kedua pentol tersebut menunjukkan bahwa keduanya


diduga mengandung boraks. Boraks ditambahkan pada makanan agar makanan
tersebut menjadi lebih kenyal, warna makanan lebih cerah, jika digigit akan
kembali ke bentuk semula dan membuat makanan lebih tahan lama. Hal tersebut
sesuai dengan Rudiandini (2008) menyatakan bahwa Bila boraks diberikan pada
pentol akan membuat pentol tersebut sangat kenyal dan tahan lama, sedangkan
pada kerupuk yang mengandung boraks jika digoreng akan mengembang dan
empuk serta memiliki tekstur yang bagus dan renyah.

Penggunaan boraks dalam makanan sangat berbahaya, karena jika makanan


yang mengandung boraks dikonsumsi dalam jangka lama, akan menyebabkan
gangguan otak, hati, dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan
demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang system syaraf pusat,
menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal,

15
pingsan, hingga kematian. Widyaningsih dan Murtini (2006) menyatakan sering
mengkonsumsi makanan berboraks akan menyebabkan gangguan otak, hati,
lemak dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria
(tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan
depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan bahkan
kematian.

Efek negatif dari penggunaan boraks dalam pemanfaatannya yang salah pada
kehidupan dapat berdampak sangat buruk pada kesehatan manusia. Boraks
memiliki efek racun yang sangat berbahaya pada sistem metabolisme manusia
sebagaimana halnya zat-zat tambahan makanan lain yang merusak kesehatan
manusia. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 722/MenKes/Per/IX/88 boraks
dinyatakan sebagai bahan berbahaya dan dilarang untuk digunakan dalam
pembuatan makanan. Dalam makanan boraks akan terserap oleh darah dan
disimpan dalam hati. Karena tidak mudah larut dalam air boraks bersifat
kumulatif. Dari hasil percobaan dengan tikus menunjukkan bahwa boraks bersifat
karsinogenik. Selain itu boraks juga dapat menyebabkan gangguan pada bayi,
gangguan proses reproduksi, menimbulkan iritasi pada lambung dan
menyebabkan gangguan pada ginjal, hati, dan testes (Widayat, 2012).

16
17
V. PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum dan kajian pustaka yang dilakukan dapat


disimpulkan sebagai berikut:

1. Kunyit dapat dijadikan sebagai bahan penguji yang sederhanan kandungan


boraks dalam makanan.

2. Dari lima sampel yang diuji terdapat dua sampel yang mengandung boraks
yaitu pentol di jurusan agribisnis dan di fakultas hukum.

5.2. Saran

Mengingat sangat berbahayanya boraks bagi kesehatan manusia, hendaklah


masyarakat terutama mahasiswa di Universitas Palangka Raya lebih memilih
makanan yang sehat dan dapat mensosialisasikan kepada pedagang atau produsen
agar tidak menjajakan atau memproduksi makanan yang berbahaya bagi manusia.

18
19
DAFTAR PUSTAKA

Arief, Zainal. 2012. Analisis Sederhana Kandungan Boraks Dalam Makanan


Menggunakan Air Kunyit. Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan
Surabaya. Surabaya.
Depkes R.I. 2002. Pedoman Penggunaan Bahan Tambahan Pangan bagi Industri.
Jakarta
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 033 tahun 2012 tentang
bahan tambahan pangan
Raike. 2007. Borax-Struktur. http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Borax-
Struktur.jpg. [16 Agustus 2008].
Riandini, N. 2008. Bahan Kimia dalam Makanan dan Minuman. Bandung: Shakti
Adiluhung
Sugiyatmi, Sri. 2006. Analisis Faktor-Faktor Risiko Pencemaran Bahan Toksik
Boraks Dan Pewarna Pada Makanan Jajanan Tradisional Yang Dijual Di
Pasar-Pasar Kota Semarang Tahun 2006. Tesis Pasca Sarjana Universitas
Diponegora. Semarang.
Widayat, Dandi. 2011. Uji Kandungan Boraks Pada Bakso (Studi pada Warung
Bakso di Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember). Skripsi Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Jember. Jember
Syah, D. dkk. 2005. Manfaat dan Bahaya Bahan Tambahan Pangan. Bogor:
Himpunan Alumni Fakultas Teknologi Pertanian IPB
Widyaningsih, T.D. dan Murtini, ES. 2006. Alternatif Pengganti Formalin Pada
Produk Pangan. Jakarta: Trubus Agrisarana
Yuliarti, N. 2007. Awas Bahaya Di Balik Lezatnya Makanan. Yogyakarta: Andi

20
21