Anda di halaman 1dari 11

6/1/2017 Moch Hilmi Zaenal Putra: Laporan UAS Paleontologi Filum Mollusca Kelas Cephalopoda Subkelas Ammonoidea Ordo

Ammonitida Subordo Lytoceratina Su

0 Lainnya Blog Berikut Buat Blog Masuk

When can you start calling yourself a writer? Now. -Chuck Sambuchino-

THURSDAY, DECEMBER 5, 2013 FOLDER

Buka Semua | Tutup Semua


Laporan UAS Paleontologi Filum Mollusca Kelas Cephalopoda Subkelas
Ammonoidea Ordo Ammonitida Subordo Lytoceratina Superfamili
MOCHHIM23
Desmocerataceae Famili Pachydiscidae Genus Pachydiscus Spesies
pachydiscus duelmensis

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI DAN KEBUMIAN

TUGAS PENDAHULUAN

NAMA : MOCH HILMI ZAENAL PUTRA

NIM : 12012070
SHIFT : KAMIS 07.00-09.00
ASISTEN : EKO PRAMUDYO (12010078)
RAUFAN FIKRI (12010040)

MOCH HILMI ZAENAL PUTRA


- Geologist - email:
mochhilmizp@gmail.com -

SOCIALIZE

LIKE US

COMMENTS

POPULAR POSTS

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG Mineral Optik dan Petrografi Paralel Nikol


Cross Nikol
Mineral Optik dan Petrografi

http://mochhim23.blogspot.co.id/2013/12/laporan-uas-paleontologi-kelas.html 1/11
6/1/2017 Moch Hilmi Zaenal Putra: Laporan UAS Paleontologi Filum Mollusca Kelas Cephalopoda Subkelas Ammonoidea Ordo Ammonitida Subordo Lytoceratina Su
2013 Mineral optik adalah salah
satu cabang keilmuan
Geologi yang mempelajari
tentang mineral yang ...

KATA PENGANTAR
STRUKTUR BUMI DAN
DASAR TEORI TEKTONIK
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya laporan ini bisa LEMPENG
terselesaikan dengan tepat waktu. Laporan praktikum Spesies : Pachydiscus duelmensis STRUKTUR BUMI DAN
DASAR TEORI TEKTONIK
ASPEK MORFOLOGI DAN KEHIDUPANNYA ini penulis maksudkan untuk memenuhi LEMPENG Tektonik adalah cabang dari
tuntutan tugas praktikum Paleontologi, yang mana untuk mendekskripsi fosil dan menjelaskan ilmu geologi yang mempelajari hubungan
dan evolusi...
aspek morfologi dan kehidupannya.
Penulis ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu terselesaikannya Geologi Indonesia
Kalimantan, Sejarah, Potensi
laporan praktikum ini, baik secara bantuan secara langsung maupun tidak langsung.
BAB I PENDAHULUAN I.1
Oleh karena itu, penulis sampaikan rasa terima kasih kepada yang terhormat: Latar Belakang Interaksi
1. Prof. Dr. Yahdi Zaim, Dr. Ir. Yan Rizal Dipl, and Dr. Aswan ST, MT. selaku dosen mata kuliah antara dua buah lempeng
merupakan pengaruh dari konsep
Paleontologi yang telah membimbing kami. konveksi mantel yang terjad...
2. Eko Pramudyo (12010078) dan Raufan Fikri (12010040) yang telah membingbing dan
Tekstur Umum dan Khusus
menemani kegiatan praktikum. pada Batuan Beku di
3. Rekan-rekan semua Program Studi Teknik Geologi 2012. Sayatan Tipis
4. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan namanya satu persatu, yang telah memberikan bantuan Tekstur Umum dan Khusus
pada Batuan Beku di
terhadap penulisan laporan praktikum ini. Sayatan Tipis Saya akan menjelaskan
Penulis menyadari laporan praktikum ini belum sempurna. Maka dari itu penulis tekstur-tekstur khusus yang muncul pada
masing-mas...
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat konstruktif guna penyempurnaan
laporan praktikum ini. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang Geologi Indonesia Pulau
Jawa
membutuhkan. JAWA 2.1. Pola Tektonik
Regional Pulau Jawa
Band ung, 4 Desember 2013 Fisiografi Fisiografi Pulau
Jawa telah diutarakan oleh Van
Bemmelen. Pada Jawa Bara...

Penulis DEFINISI PANASBUMI, KONSEP DASAR


PANASBUMI, KOMPONEN PANASBUMI
DAFTAR ISI DAN MANIFESTASI PANAS BUM
DEFINISI PANASBUMI, KONSEP DASAR
PANASBUMI, KOMPONEN PANASBUMI
KATA PENGANTAR .................................................................................. I DAN MANIFESTASI PANAS BUMI
DAFTAR ISI ................................................................................................. II DEFINISI PANAS BUMI Panasbumi a...
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... III
Geologi Indonesia Papua
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1
1.1 Latar Belakang dan Rumusan Masalah ......................................... 1 LATAR BELAKANG Geologi
Indonesia merupakan salah
1.1.1 Latar Belakang ............................................................... 1 satu ilmu yang mempelajari
1.1.2 Rumusan Masalah .......................................................... 2 keadaan geologi setiap bagian...
1.2 Ruang Lingkup Kajian ............................................................... 2
[GEOKIMIA GEOTERMAL] TIPE/JENIS AIR
1.3 Tujuan Penelitian ....................................................................... 2 PANAS, TENARY PLOT DIAGRAM Cl-
SO4-HCO3, PLOT DIAGRAM Na-K-Mg,
1.4 Metode Penelitian ...................................................................... 3
TEMPERATUR BAWAH PERMUKAAN
1.5 Sistematika Penulisan ................................................................ 3 [GEOKIMIA GEOTERMAL] TIPE/JENIS AIR
BAB II DASAR TEORI................................................................................ 4 PANAS, TENARY PLOT DIAGRAM Cl-
SO4-HCO3, PLOT DIAGRAM Na-K-Mg,
2.1 Ciri-ciri Umum ........................................................................... 4 TEMPERATUR BAWAH PERMUKAAN
2.2 Morfologi Chepalopoda ............................................................. 5 Data k...

2.3 Klasifikasi Chepalopoda ............................................................. 7 KLASIFIKASI SISTEM PANAS BUMI,


BAB III PEMBAHASAN ............................................................................. 11 DATA-DATA GEOLOGI PANAS BUMI,
KELOMPOK MINERAL UBAHAN, TIPE-
3.1 Morfologi Pachydiscus duelmensis............................................ 11
TIPE ALTERASI HIDROTERMAL, DAN
3.2 Fosilisasi Pachydiscus duelmensis ............................................. 12 PALEOTEMPERATUR
3.3 Cara Hidup dan Habitat Pachydiscus duelmensis ...................... 13 KLASIFIKASI SISTEM PANAS BUMI,
DATA-DATA GEOLOGI PANAS BUMI,
4.3 Taksonomi Pachydiscus duelmensis........................................... 14 KELOMPOK MINERAL UBAHAN, TIPE-
BAB IV KESIMPULA ................................................................................. 15 TIPE ALTERASI HIDROTERMAL, DAN
PALEOTEMPERAT...
Daftar Pustaka ............................................................................................... 16
http://mochhim23.blogspot.co.id/2013/12/laporan-uas-paleontologi-kelas.html 2/11
6/1/2017 Moch Hilmi Zaenal Putra: Laporan UAS Paleontologi Filum Mollusca Kelas Cephalopoda Subkelas Ammonoidea Ordo Ammonitida Subordo Lytoceratina Su
Riwayat Hidup ............................................................................................. 17 Laporan UAS Paleontologi
Filum Mollusca Kelas
Cephalopoda Subkelas
Ammonoidea Ordo
Ammonitida Subordo
Lytoceratina Superfamili
DAFTAR GAMBAR Desmocerataceae Famili Pachydiscidae
Genus Pachydiscus Spesies pachydiscus
duelmensis
Gambar Halaman PRAKTIKUM PALEONTOLOGI PROGRAM
1.1 Morfologi Cephalopoda 6 STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS
ILMU DAN TEKNOLOGI DAN KEBUMIAN
2.1 Nautilus 7 TUGAS PENDAHULUAN NAMA ...
2.2 Nautilus 7
2.3 Bentuk Sutura Ammonoid 8 KOMENTAR TERBARU
2.4 Bentuk cangkang planispiral 9
2.5 Cangkang Belemnites 10 TENTANG
3.1 UAS 15 11
3.2 UAS 15 11 BREAKING NEWS
3.3 UAS 15 12
3.4 Garis sutura 12 MOCHHIM23
What can you start calling yourself a
writter? Now.

BAB I FULL WIDTH CSS


PENDAHULUAN
PAGENAVI RESULTS NO.

1.1 Latar Belakang dan Rumusan Masalah LABEL ICONS CSS


1.1.1 Latar Belakang
Paleontologi adalah ilmu yang mempelajarari jejak atau sisa-sisa kehidupan di masa G

lampau dalam umur skala geologi. Paleontologi berasal dari kata paleo yang artinya masa Instagram
lampau, onto yang artinya kehidupan dan logos yang artinya adalah ilmu. Jadi secara umum
paleontologi dapat diartikan ilmu mengenai fosil, sebab jejak kehidupan zaman purba SUBSCRIBE
terekam dalam fosil.
Fosil adalah organisme atau sisa organisme termasuk jejaknya yang terawetkan secara FLICKR
alamiah dan berumur lebih tua dari Holosen atau sekitar 10.000 tahun yang lalu. Sangat sulit
menemukan fosil secara utuh, biasanya fosil berupa bagian yang keras dari organisme
BEAUTY
seperti tulang, cangkang/rangka. Ada syarat organisme yang telah mati dapat menjadi fosil,
yaitu :
1. Organisme miemiliki bagian dalam yang keras, cangkang/kulit yang keras, yang dapat
terawetkan. Bisa berupa gigi, cangkang, tulang atau jaringan kayu pada tanaman.
2. Jatuh pada lingkungan dimana proses pembusukkan harus dicegah sekecil mungkin.
3. Sedimin penimbun fosil harus lembut dan miskin oksigen sehingga mampu menahan
terjadinya pembusukkan di lingkungan pengendapan.
4. Kedap air, karena air yang mengalir dapat menghanyutkan, menghancurkan, atau
menyebarkan fosil tersebut.
Begitu banyak jenis fosil yang tersebar , maka dengan mengetahui sebuah fosil dengan
mempelajari taksonomi dan karakteristik tiap fosil terlebih dahulu, diharapkan kita dapat
mengidentifikasi fosil lebih presisi dan akurat.
Paleontologi merupakan salah satu mata kuliah wajib pada program studi Teknik Geologi,
Institut Teknologi Bandung. Untuk melengkapi tugas akhir semester ganjil pada program
studi ini, penulis melakukan deskripsi mengenai fosil cephalopoda spesies Pachydiscus
duelmensis dan menulis makalah mengenai hasil deskripsinya.

1.1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, muncul masalah antara lain :

http://mochhim23.blogspot.co.id/2013/12/laporan-uas-paleontologi-kelas.html 3/11
6/1/2017 Moch Hilmi Zaenal Putra: Laporan UAS Paleontologi Filum Mollusca Kelas Cephalopoda Subkelas Ammonoidea Ordo Ammonitida Subordo Lytoceratina Su

1. Bagaimana karakteristik umum dari Pachydiscus duelmensis ?


2. Bagaimana morfologi dari Pachydiscus duelmensis ?
3. Bagaimana klasifikasi dari Pachydiscus duelmensis ?
4. Bagaimana aspek kehidupan dari Pachydiscus duelmensis ?
5. Bagaimana taksonomi dari Pachydiscus duelmensis?
6. Bagaimana dapat terfosilkan Pachydiscus duelmensis ?

1.2 Ruang Lingkup Kajian


Untuk menjawab rumusan masalah di atas perlu pengkajian beberapa pokok, yaitu :
1. Karakteristik Umum
2. Morfologi Cephalopoda
3. Klasifikasi Cephalopoda

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan yang hendak dicapai melalui penulisan laporan ini adalah untuk :
1. Menganalis karakteristik umum dari Pachydiscus duelmensis
2. Mengetahui morfologi dari Pachydiscus duelmensis
3. Mengetahui klasifikasi dari Pachydiscus duelmensis
4. Menganalisis aspek kehidupan dari Pachydiscus duelmensis
5. Mengetahui taksonomi dari Pachydiscus duelmensis
6. Menganalisis jenis-jenis foliasi dari Pachydiscus duelmensis

1.4 Metode Penelitian


Metoda penelitian yang digunakan dalam makalah ini adalah metode pustaka analitis, yaitu
dengan studi literatur dari berbagai referensi yang didapatkan dari buku dan internet serta
pengamatan langsung fosil dengan data yang di dapat, kemudian ditarik kesimpulan dari hasil
analisa tersebut.

1.5 Sistematika Penulisan


Sistematika penyusunan karya tulis ini dibagi ke dalam empat bab.
Bab 1 memuat pendahuluan yang terdiri dari lima subbab, yaitu latar belakang, rumusan
masalah, ruang lingkup kajian, tujuan, metoda penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab 2 berisi landasan teori yang membahas mengenai ciri-ciri umum, morfologi, taksonomi,
dan aspek kehidupan dari fosil yang dideskripsi.
Bab 3 memuat pembahasan yang terdiri dari morfologi Pachydiscus duelmensis,
taksonomi Pachydiscus duelmensis, fosilisasi dari fosil Pachydiscus duelmensis, dan cara
hidup dari Pachydiscus duelmensis serta habitat dari fosil Pachydiscus duelmensis.
Bab 4 yang merupakan bab terakhir dalam karya tulis ini, memuat kesimpulan berdasarkan
landasan teori dan pembahasan dari bab-bab sebelumnya

BAB II
DASAR TEORI

2.1 Ciri-Ciri Umum


Moluska berasal dari kata Latin yang berarti soft nut atau soft body, yaitu tubuh binatang
lunak di dalam cangkangnya, cangkang tersebut berfungsi sebagai pelindungnya.
Golongan binatang ini mempunyai daya adaptasi yang tinggi dan merupakan phylum yang paling
berhasil dalam hidupnya dibandingkan dengan phylum lainnya. Fosil-fosil moluska ditemukan
berlimpah di setiap perioda geologi mulai dari zaman Kambrium dan banyak diantaranya sebagai
fosil indeks yang baik.
http://mochhim23.blogspot.co.id/2013/12/laporan-uas-paleontologi-kelas.html 4/11
6/1/2017 Moch Hilmi Zaenal Putra: Laporan UAS Paleontologi Filum Mollusca Kelas Cephalopoda Subkelas Ammonoidea Ordo Ammonitida Subordo Lytoceratina Su
Phylum Moluska digolongkan menjadi 5 kelas didasarkan atas wujud atau sifat dasar dari kaki
dan bagian-bagian lunak tertentu lainnya, yakni :
1. Kelas Amphineura : Moluska berbentuk oval, jarang dijumpai fosil-fosilnya. Muncul pada
zaman Kambrium Resen
2. Kelas Scaphopoda : Moluska bercangkang seperti taring gajah. Jarang dijumpai fosil-
fosilnya. Muncul pada masa Mesozoikum Resen.
3. Kelas Pelecypoda : Moluska bercangkang dua yang sama besar, banyak dijumpai fosil-
fosilnya. Muncul pada zaman Ordovisium Resen.
4. Kelas Gastropoda : Moluska bercangkang satu ruangan, banyak dijumpai fosil-fosilnya.
Muncul pada zaman Kambrium-Resen.
5. Kelas Cephalopoda : Moluska bercangkang satu yang terbagi dalam banyak ruangan.
Muncul pada zaman Paleozoikum-Resen.
Karena sampel fosil termasuk ke dalam kelas Cephalopoda, maka yang akan dijelaskan lebih
lanjut adalah mengenai kelas Cephalopoda.

Kelas Cephalopoda
Cephalopoda, berasal dari kata cephale : kepala dan podos : kaki. Cephalopoda adalah
Mollusca yang berkaki di kepala. Contoh dari Klas ini yaitu Cumi-cumi dan sotong yang
memiliki 10 tentakel yang terdiri dari 2 tentakel panjang dan 8 tentakel lebih pendek. Ciri-ciri
umum dari organisme ini adalah :
a. Tubuh simetri radial.
b. Planispiral (putarannya bersifat dua dimensi) dan external shell seperti nautilids dan
ammonoids/ ammonit.
c. Internal shells contohnya belemnites (seperti cumi-cumi dan gurita pada masa sekarang)
d. Habitat di perairan laut dangkal (zona litoral-neritik).
e. Hidup secara nektonik.
f. Cangkangnya terdiri dari zat gampingan.
g. Cangkangnya terdiri dari kamar-kamar (chambers)
h. Memiliki ornamentasi berupa sutura yang merupakan representasi dari pembatas
chamber.

2.3 Morfologi Cephalopoda


Cephalopoda memiliki tentakel yang berada di sekitar kepalanya dan berfungsi seperti
tungkai ( lengan dan kaki). Tungkai ini digunakan untuk menangkap mangsa. Otak Cephalopoda
berkembang dengan baik dan pada beberapa jenis dapat mengingat dengan baik. Selain itu
Cephalopoda juga memiliki mata yang berkembang dengan baik (memiliki lensa mata dan iris).
Cephalopoda memiliki lengan penangkap yang bersatu dengan membentuk bagian leher,
corong, dan sifon (sebagai jalan keluarnya air). Sifon inilah yang berfungsi untuk menyemprotkan
air. Energi penyemprotan ini yang digunakan oleh Cephalopoda untuk bergerak di perairan. Di
sebelah perut terdapat kantung tinta. Tinta disemprotkan ketika berada dalam kondisi yang
membahayakan hidupnya.
System organ pada Cephalopoda telah berkembang dengan baik. System perncernaan,
respirasi serta system peredaran telah memiliki organ-organ tersendiri. Cephalopoda
berkembang biak dengan cara seksual.
Cephalopoda hidup di laut pada bagian litoral sampai neritic atas. Cephalopoda hidup
secara nektonic dengan berenang bebas di perairan.
Beberapa morfologi Cephalopoda yang biasa dikenali, diantaranya :
oKamar (chamber) adalah ruangan yang dibatasi oleh septum, kamar terakhir di isi oleh
binatang, sedangkan kamar yang lainnya berisi udara.
oSeptum adalah bidang yang membatasi kamar-kamar yang berdekatan.
oSaddle adalah bagian sutura yang cembung (convex) ke arah aperture.
oLobe adalah bagian sutura yang cekung (concave) ke arah aperture.
http://mochhim23.blogspot.co.id/2013/12/laporan-uas-paleontologi-kelas.html 5/11
6/1/2017 Moch Hilmi Zaenal Putra: Laporan UAS Paleontologi Filum Mollusca Kelas Cephalopoda Subkelas Ammonoidea Ordo Ammonitida Subordo Lytoceratina Su
oUmbilicus adalah bagian pusat coil cephalopoda.
oAperture adalah mulut yang berada di anterior.
oSutura adalah suatu garis dimana ujung septa bersatu dengan bagian luar kulit.
oProtoconch adalah garis yang menutupi embrio.
oSifo atau siphuncle adalah garis yang memotong septa dan kamar-kamar secara
melintang, berbentuk silinder.

Gambar 1.1 Morfologi Cephalopoda (http://cr2chicago.weebly.com/1/archives/02-2013/1.html)


2.3 Klasifikasi Cephalopoda
Secara garis besar Cephalopoda diklasifikasikan menjadi 3 subkelas, yaitu :
a. Nautilus
Subkelas ini masih bisa ditemui sampai sekarang. Putaran cangkangnya planispiral dan
melingkar. Sebagian besar cangkangnya involute. Tapi ada juga yang involute. Tidak memiliki
kantung tinta. Cangkangnya terbentuk dari kapur. Suturanya lebih lurus dan pada umumnya
memiliki siphuncle.

Gambar 2.1 Gambar 2.2 Nautillus


http://palaeo.gly.bris.ac.uk/palaeofiles/fossilgroups/cephalopoda/nautiloidea.html

b. Ammonoidea
Subkelas Ammonoidea memiliki cangkang eksternal (ectocochliate) dengan nenek moyang
yang sama dengan Bactritida. Ammonoidea ditandai dengan model sutura yang moderat hingga
yang sangat kompleks, sebuah siphuncle tubular sempit yang pada umumnya, meskipun tidak
secara eksklusif, diposisikan sepanjang margin ventral, dan setidaknya dalam bentuk yang lebih
maju ke depan dengan memproyeksikan leher septum prosifonat dan yang melengkung ke
depan septa secara konveksi. Cangkang Ammonoida memiliki berbagai macam
variasi. Kebanyakan planispiral, beberapa menjadi tak-tergelung, yang lainnya menjadi
trochoidal (melingkar secara asimetris sepanjang puncak menara ), dan yang lain, secara
heteromorf, merubah bentuk mereka secara radikal selama ontogeni. Pada umumnya, sebagian
besar planispiral, cangkang ammonoid berevolusi dengan melihat dari struktir sutura yang
terlihat. Semakin komplek bentuk sutura ammonoid, maka semakin muda umurnya. Garis sutura

http://mochhim23.blogspot.co.id/2013/12/laporan-uas-paleontologi-kelas.html 6/11
6/1/2017 Moch Hilmi Zaenal Putra: Laporan UAS Paleontologi Filum Mollusca Kelas Cephalopoda Subkelas Ammonoidea Ordo Ammonitida Subordo Lytoceratina Su
ammonoids biasanya digunakan sebagai patokan untuk menentukan zaman mesozoikum.

Gambar 2.3 Bentuk Sutura Ammonoid


http://paleo.cortland.edu/tutorial/Ceph%26Gast/cephalopods.htm

Gambar 2.4 Bentuk Cangkang Planispiral


http://www.tonmo.com/science/fossils/morphology/

c. Belemnites
Subkelas Belemnites memiliki bentuk cangkang yang sangat unik. Cangkang Belemnites
tidak melingkar seperti pada Nautillus ataupun Ammonoids, tetapi lurus. Belemnites adalah
Cephalopoda yang memiliki cangkang di dalam tubuhnya. Bagian cangkang inilah yang akan
menjadi fosil. Cangkang Belemnites terbentuk dari kalsit. Belemnites mulai muncul pada Jurasik
bawah dan berakhir pada era Cretaceous atas. Ketika menjadi fosil, cangkang Belemnites akan
tergantikan dengan kalsit ataupun aragonite.

Gambar 2.5 Cangkang Belemnites (http://www.nhm.ac.uk/nature-online/earth/fossils/fossil-


folklore/fossil_types/belemnites.htm)

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Morfologi Pachydiscus duelmensis


Sampel fosil UAS 15 secara umum berwarna abu-abu kecoklatan, masih ada beberapa
http://mochhim23.blogspot.co.id/2013/12/laporan-uas-paleontologi-kelas.html 7/11
6/1/2017 Moch Hilmi Zaenal Putra: Laporan UAS Paleontologi Filum Mollusca Kelas Cephalopoda Subkelas Ammonoidea Ordo Ammonitida Subordo Lytoceratina Su
bagian yang masih bisa diidentifikasi. Fosil UAS 15 termasuk kedalam filum Cephalopoda
Subkelas Ammonoid, karena karakteristik bentuk cangkangnya yang memiliki putaran cangkang
planispiral yang dibatasi oleh septa dan bentuk sutura yang masih terlihat pada fosil. Beberapa
hasil analisis dari sampel fosil UAS 15, diantaranya :
1. Putaran cangkang planispiral
2. Terdapat aperture
3. Terdapat protoconch
4. Terdapat growthline
5. Terdapat garis sutura
6. Bentuk cangkang discocone

Gambar 3.1 dan gambar 3.2 UAS-15 (Dokumentasi Pribadi,2013)

Gambar 3.3 (Dokumentasi pribadi,2013)


Gambar 3.4 Garis sutura (Dokumentasi pribadi, 2013)
Sutura yang membatasi kamar-kamar pada cangkangnya merupakan sutura Ammonitic
yang menunjukkan bahwa fosil tersebut berumur Kapur.
Berdasarkan hasil pengamatan dan deskripsi, fosil UAS-15 merupakan fosil Mollusca,
Kelas Chephalopoda, Subkelas Ammonoid, sutura Ammonitic, ordo Ammonitida, sehingga
sampel fosil UAS 15 adalah Pachydiscus duelmensis.

3.2 Fosilisasi Pachydiscus duelmensis


Dari hasil pengamatan dan deskripsi fosil Pachydiscus duelmensis, fosil Pachydiscus
duelmensis ini terfosilkan secara internal mold. Hal ini diketahui karena bentuk suturanya yang
masih terlihat. Sutura merupakan representasi dari kamar-kamar pada cangkang Ammonoids.
Ketika cangkang bagian dalam terisi oleh sedimen, maka suturanya akan tercetak pada sedimen
yang mengisi cangkang tersebut.
Mineral yang mengisi cangkang adalah kalsit. Hal ini sangat umum dijumpai pada fosil
Cephalopoda karena pada dasarnya cangkang Cephalopoda terbentuk dari zat gampingan dan
ketika terjadi fosilisasi kalsit, aragonite, ataupun dolomit, yang merupakan mineral yang
berasosiasi dengan zat gampingan, yang akan mengisi cangkang Cephalopoda tersebut.
Kalsit yang mengisi cangkang Pachydiscus duelmensis berwarna abu-abu kecoklatan
pada satu sisi dan berwarna coklat pada sisi yang lain. Warna coklat pada kalsit yang mengisi

http://mochhim23.blogspot.co.id/2013/12/laporan-uas-paleontologi-kelas.html 8/11
6/1/2017 Moch Hilmi Zaenal Putra: Laporan UAS Paleontologi Filum Mollusca Kelas Cephalopoda Subkelas Ammonoidea Ordo Ammonitida Subordo Lytoceratina Su
cangkang tersebut diperoleh karena adanya zat pengotor di dalam mineral kalsit.

3.3 Cara Hidup dan Habitat Pachydiscus duelmensis


Seperti pada Ammonoids lainnya, Pachydiscus duelmensis hidup secara nektonik
dengan berenang aktif pada bagian laut dangkal (zona tidal). Jangkauan daerah pengendapannya
adalah zona litoral sampai neritik. Pachydiscus duelmensis merupakan karnivora yang
memakan binatang laut lain yang lebih kecil.

3.4 Taksonomi Pachydiscus duelmensis


Phyllum : Mollusca
Class : Chepalopoda
Subclass : Ammonoidea
Ordo : Ammonitida
Subordo : Lytoceratina
Superfamili : Desmocerataceae
Famili : Pachydiscidae
Genus : Pachydiscus
Spesies : Pachydiscus duelmensis

BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan deskripsi makroskopis dari Fosil UAS-15, disimpulkan
bahwa Fosil UAS-15 merupakan fosil mollusca dengan taksonomi sebagai berikut :
Phyllum : Mollusca
Class : Chepalopoda
Subclass : Ammonoidea
Ordo : Ammonitida
Subordo : Lytoceratina
Superfamili : Desmocerataceae
Famili : Pachydiscidae
Genus : Pachydiscus
Spesies : Pachydiscus duelmensis

Ciri-ciri morfologi dari Pachydiscus duelmensis (Fosil UAS-15) adalah putaran cangkang
planispiral, putaran cangkang discocone, bentuk sutura Ammonitic yaitu sutura yang sangat
kompleks, sudah banyak perkembangan pada saddle dan lobenya, serta bentuk cangkang yang
semakin menebal ketika menuju kamar terakhir.
Dri bentuk suturanya, disimpulkan bahwa Fosil Pachydiscus duelmensis berumur antara
Kapur.
Pachydiscus duelmensis hidup secara nektonik di zona litoral sampai neritik. Jenis
fosilisasi pada fosil Pachydiscus duelmensis adalah internal mold dengan mineral yang
mengisinya adalah kalsit.
DAFTAR PUSTAKA

Syarifin, Paleontologi Invertebrata. Bandung: Teknik Geologi Universitas Padjadjaran.


http://www.discoveringfossils.co.uk/ammonites.htm

http://mochhim23.blogspot.co.id/2013/12/laporan-uas-paleontologi-kelas.html 9/11
6/1/2017 Moch Hilmi Zaenal Putra: Laporan UAS Paleontologi Filum Mollusca Kelas Cephalopoda Subkelas Ammonoidea Ordo Ammonitida Subordo Lytoceratina Su
(Diakses pada tanggal 2 Desember 2013 pukul 08.00 WIB)
http://www.palaeos.org/Cravenoceras
(Diakses pada tanggal 2 Desember 2013 pukul 08.10 WIB)
http://www.mrwoodsfossils.co.uk/product.php?prod=266
(Diakses pada tanggal 2 Desember 2013 pukul 19.53 WIB)
http://www.fossilmuseum.net/EdResources/AmmoImages.htm
(Diakses pada tanggal 2 Desember 2013 pukul 20.00 WIB)
http://www.tumblr.com/tagged/ammonite-fossil
(Diakses pada tanggal 3 Desember 2013 pukul 20.04 WIB)
http://www.boltonmuseums.org.uk/collections/geology/fossils/ammonites/
(Diakses pada tanggal 3 Desember 2013 pukul 20.07 WIB)
http://www.enchantedlearning.com/subjects/dinosaurs/glossary/Ammonite.shtml
(Diakses pada tanggal 23 Desember 2013 pukul 20.09 WIB)

Posted by Moch. Hilmi Zaenal Putra at 1:44 PM


Reactions: lucu (0) menarik (0) keren (0)

Recommend this on Google

No comments:

Post a Comment

Enter your comment...

Comment as: Unknown (Google) Sign out

Publish Preview Notify me

Newer Post Home Older Post

Subscribe to: Post Comments (Atom)

DISQUS SHORTNAME

COMMENTS SYSTEM

http://mochhim23.blogspot.co.id/2013/12/laporan-uas-paleontologi-kelas.html 10/11
6/1/2017 Moch Hilmi Zaenal Putra: Laporan UAS Paleontologi Filum Mollusca Kelas Cephalopoda Subkelas Ammonoidea Ordo Ammonitida Subordo Lytoceratina Su
Picture Window theme. Powered by Blogger.

http://mochhim23.blogspot.co.id/2013/12/laporan-uas-paleontologi-kelas.html 11/11