Anda di halaman 1dari 7

Nama : Andhika Kusuma

NIM : 201410110311009
Matkul : Hukum Perburuhan G

A, Perbedaan Dan Analisa Mengenai Perlindungan Hukum PKWT, PKWTT, dan


Outsourcing

PKWTT
PKWT (Perjanjian Kerja
OUTSOURCING
NO HAL (Perjanjian Kerja Waktu Waktu Tidak
Tertentu ) Tertentu)
Harus dibuat secara Pada hakekatnya
Dapat dibuat baik
tertulis (88) sama.
secara lisan (*) atau
Persyaratan Pembuatan menggunakan bahasa
1 tertulis (**) (pasal
Kontrak Indonesia (pasal 57 ayat
51 ayat (1) UU
(1) UU
Ketenagakerjaan).
Ketenagakerjaan).
Harus memenuhi
Harus memenuhi syarat-
syarat-syarat umum
syarat umum perjanjian
perjanjian kerja
kerja sebagaimana
sebagaimana diatur
diatur dalam Pasal 52
dalam pasal 52 UU
UU Ketenagakerjaan.
Ketenagakerjaan.
Dapat
Tidak dapat mempersyaratkan
mempersyaratkan masa masa percobaan
percobaan (pasal 58 ayat maksimal selama 3
(1) UU bulan (pasal 60 ayat
Ketenagakerjaan). (1) UU
Ketenagakerjaan.
Hanya dapat dibuat
untuk jenis pekerjaan
tertentu yang karena
jenis dan sifat Dapat dibuat untuk
pekerjaannya akan seluruh jenis
selesai dalam waktu pekerjaan.
tertentu (pasal 56 ayat
(2) jo 59 UU
Ketenagakerjaan).
Dapat dibuat untuk Untuk jangka waktu
jangka waktu maksimal
2 tahun dan dapat
diperpanjang satu kali
untuk jangka waktu
paling lama 1 tahun
tidak tertentu.
dan/atau diperbaharui
satu kali paling lama 2
tahun (pasal 54 ayat (4)
dan (6) UU
Ketenagakerjaan).
Berdasarkan pasal 61 Pada hakekatnya
UU sama.
Ketenagakerjaan,
Berdasarkan pasal 61
perjanjian kerja akan
UU Ketenagakerjaan,
berakhir apabila:
perjanjian kerja akan
berakhirnya jangka
berakhir apabila:
waktu perjanjian
pekerja meninggal
kerja
dunia;
pekerja meninggal
adanya putusan
2 Pengakhiran dunia;
pengadilan dan/atau
adanya putusan
penetapan lembaga
pengadilan dan/atau
pemerintah
penetapan lembaga
adanya keadaan tertentu
pemerintah
yang menyebabkan
adanya keadaan
berakhirnya hubungan
tertentu yang
kerja.
menyebabkan
berakhirnya
hubungan kerja.
3 Pengertian Adalah perjanjian kerja Adalah suatu jenis Adalah pekerja
yang jangka berlakunya perjanjian kerja yang pemborong
telah ditentukan atau umum dijumpai disebuah
disebut sebagai dalam suatu perusahaan yang
karyawan kontrak. perusahaan, yang sebagian
tidak memiliki pelaksanaan
jangka waktu pekerjaan kepada
berlakunya. perusaha lain yang
berbadan hukum
dengan cara
perjanjian
pemborongan
pekerjaan atau
penyedia jasa
pekerja jasa yang
dibuat secara
tertulis.
Sedangkan
outsourcing pada
hakikatnya adalah
sebuah upaya
mengalihkan
pekerjaan atau
jasa ke pihak
ketiga. Undang-
undang
ketenagakerjaan
sendiri tidak
mengenal istilah
outsourcing.
Dasar hukumnya
adalah pasal 64,
65 ayat (2) dan 66
ayat (1) UU
Nomor 13 Tahun
2003.
Bila jangka waktu sudah
habis maka dengan
sendirinya terjadi PHK
dan para karyawan tidak
Konsekuensi apabila berhak mendapat
4 Pekerjaan.
terjadi PHK kompensasi PHK
seperti uang pesangon,
uang penghargaan masa
kerja, uang penggantian
hak dan uang pisah.
Digunakan untuk
Digunakan untuk
pekerjaan tertentu atau
pekerjaan sifatnya
5 Karakteristik untuk waktu tertentu
tetap.
(sifatnya sementara).

Dilakukan dengan Dilakukan dengan


pembuatan perjanjian Surat Pengangkatan
Kerja. Jangka Waktu:
PKWT dapat diadakan atau pembuatan
untuk paling lama 2 Perjanjian Kerja.
(dua) tahun.
Perpanjangan PKWT
hanya boleh
diperpanjang 1 (satu)
kali untuk jangka waktu
paling lama 1 (satu)
tahun. (Ps. 59 ayat (4)
UU No.13 th.2003).
Pembaruan PKWT
boleh dilakukan 1 (satu)
kali, sesuai jangka
waktu sebelumnya,
paling lama 2 (dua)
tahun.(Ps.59 ayat (6)
UU No.13 th.2003).

Hubungan kerja adalah hubungan antara pekerja dengan pengusaha yang terjadi setelah
adanya perjanjian kerja yang mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan perintah. Dasar hukum:
pasal 1 angka 15 undang-undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Substansi
perjanjian kerja yang dibuat tidak boleh bertentangan dengan perjanjian perburuhan atau
kesepakatan kerja bersama (kkb)/perjanjian kerja bersama (pkb) pengertian perjanjian kerja:
berdasarkan pasal 1601 a kuhperdata: suatu perjanjian dimana pihak kesatu (buruh) mengikatkan
dirinya untuk di bawah perintah pihak lain (majikan) untuk suatu waktu tertentu melakukan
pekerjaan dengan menerima upah. Perjanjian kerja menurut pasal 1 angka 14 undang-undang
nomor 13 tahun 2003; perjanjian kerja adalah suatu perjanjian antara pekerja, buruh, dan
pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja hak dan kewajiban kedua belah
pihak

Menurut pasal 50 UU Ketenagakerjaan, suatu hubungan kerja terjadi karena adanya


perjanjian kerja antara pengusaha dan karyawan. Segala biaya yang perlu dikeluarkan dalam
rangka pembuatan dan pelaksanaan perjanjian kerja menjadi tanggung jawab pengusaha.

Salah satu cara pengusaha mengoptimalkan efisiensi dan mengurangi resiko dalam
melakukan kegiatan bisnisnya yaitu dengan mempekerjakan karyawan dengan menggunakan
perjanjian kerja waktu tertentu atau karyawan kontrak.

Perjanjian Kerja Waktu Tertentu yang disebut PKWT diatur dalam Keputusan Menteri
KEP.100/MEN/VI/2004 yang dimana didefinisikan sebagai perjanjian kerja antara pekerja/buruh
dengan pengusaha untuk mengadakan hubungan kerja dalam waktu tertentu atau untuk pekerja
tertentu.

PKWT dimana pekerjanya disebut juga sebagai karyawan kontrak ditentukan berdasarkan
selesainya pekerjaan tertentu atau dalam jangka waktu tertentu. PKWT wajib dibuat secara
tertulis dan didaftarkan pada instansi tenaga kerja terkait, untuk PKWT yang tidak dibuat secara
tertulis dan didaftarkan pada instasi terkait akan dianggap sebagai PKWTT. Oleh karena itu
apabila tidak ada perjanjian secara tertulis maka karyawan berhak menerima pesangon apabila
perusahaan memberi PHK pada karyawan.

Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu yang disebut PKWTT adalah perjanjian kerja
antara pekerja/buruh dengan pengusaha untuk mengadakan hubungan kerja yang bersifat tetap.
Karena PKWTT bersifat tetap dan berlaku untuk selamanya maka karyawan berhak mendapat
pesangon sesuai dengan masa kerjanya apabila diberhentikan oleh perusahaan.

Perbedaan PKWT dan PKWTT


PKWT harus mencantumkan masa berlaku perjanjian kerja dalam kurun waktu
tertentu (sesuai dengan berakhirnya proyek atau sepanjang musim tertentu, dll)
sedangkan untuk PKWTT tidak perlu.
PKWT yang tidak menggunakan bahasa Indonesia dan huruf latin akan berubah
menjadi PKWTT
Dalam PKWT bila salah satu pihak melakukan pemutusan hubungan kerja maka
pihak yang terkena harus mendapatkan ganti rugi sejumlah sisa menurut perjanjian
masa kontrak
Dalam PKWT uang pesangon, uang penghargaan masa kerja dan penggantian hak
tidak diwajibkan.

Dalam menghadapi ketidakpastian bisnis yang tinggi karena berubahnya peraturan


investasi, perubahan teknologi atau pun perubahan pasar menyebabkan pengusaha atau
perusahaan berhati-hati dalam kebijaksanaan dan strateginya merekrut karyawan.

Salah satu biaya/cost yang tinggi adalah manajemen sumber daya manusia. Trend di
negara maju maupun negara berkembang semakin sedikitnya karyawan yang mempunyai status
karyawan permanen. Bahkan di Jepang yang dikenal mempunyai peraturan ketat dan secara
sosial taboo untuk memecat karyawan dalam skala besar, di tahun 2013 mulai
mempertimbangkan kemungkinan kelonggaran bagi perusahaan dalam memberlakukan PHK.

Konsep shushin koyo yaitu konsep Lifetime employment di Jepang dimana karyawan
diperkerjakan selama masa hidupnya, konsep ini dimulai sejak sekitar 1910 tapi semakin luas
dikenal ketika perkembangan ekonomi yang pesat di Jepang setelah Perang Dunia II sekitar
tahun 1955. Ketika terjadi pemberhentian karyawan secara masal di akhir tahun 40-an dan awal
tahun 50-an Perkumpulan Buruh bereaksi keras terhadap kejadian ini dan menjadi preseden yang
membatasi hak-hak dari pengusaha untuk memberhentikan karyawan karena kesulitan bisnis.

Di Indonesia, tidak ada perkumpulan buruh yang kuat yang dapat memperjuangkan hak-
hak karyawan apabila perusahaan tempat bekerjanya tidak berlaku adil. Sampai sekarang free
market berlaku, supply dan demand yang menyetir bursa kerja.

Untuk menghindari biaya tinggi yang harus dikeluarkan ketika bisnis melambat atau
proyek yang berkurang, banyak perusahaan akhirnya memutuskan untuk menghindari itu dengan
tidak mempekerjakan karyawan tetap atau PKWTT.

Keputusan Menteri KEP.100/MEN/VI/2004 tentang ketentuan pelaksanaan Perjanjian


Kerja Waktu Tertentu memberlakukan beberapa batasan pada PKWT untuk menghindari
perusahaan yang memfokuskan diri ke outsourcing dan memperkerjakan karyawannya secara
kontrak.

Hanya jenis pekerjaan yang bersifat sementara atau musiman yang bisa
menggunakaan PKWT seperti proyek konstruksi dimana pekerjaan berakhir setelah
proyek jadi.
Jangka waktu PKWT paling lama adalah 2 tahun dan hanya boleh diperpanjang 1 kali
untuk jangka waktu paling lama satu tahun. Ada juga opsi untuk membaharui kontrak
hanya 1 kali dan paling lama dalam jangka waktu 2 tahun.

Pemerintah disini dengan peraturannya berusaha untuk berimbang dalam melindungi hak
karyawan dan menciptakan situasi yang kondusif untuk bisnis dan investasi. Perusahaan
melakukan kegiatan outsourcing terutama pada saat memulai sebagai antisipasi apabila dilanda
krisis dapat lebih mudah dan murah untuk mengurangi cost berupa tenaga kerja.

Namun banyak yang terjadi adalah perusahaan berupaya untuk mengakali Peraturan yang
bertujuan melindungi hak-hak pekerja. Alasan perusahaan menghindari PKWTT agar:

Perusahaan dapat lebih mudah menghentikan karyawan yang tidak produktif dan
tanpa perlu memberikan pesangon.
Dari aspek efisiensi dimana perusahaan tidak perlu mengurusi berbagai tunjangan
karyawan seperti THR, tunjangan kesehatan dll.
Tidak menentunya iklim investasi yang bergantung pada ekonomi dan politik
membuat perusahaan mencari jalan yang mudah apabila harus memberhentikan
karyawannya ketika diperlukan perampingan perusahaan.

Dunia Bisnis dan Investasi mengandalkan formula pengeluaran sekecil-kecilnya untuk


pendapatan yang sebesar-besarnya. Keputusan ini menjadi dasar dari hampir semua keputusan
bisnis yang dikeluarkan oleh pengusaha. Masalahnya analisa cost-benefit untuk investasi sumber
daya manusia sulit untuk diukur, karena manusia adalah manusia tidak bisa diprediksi apakah
akan menjadi aset yang meningkat value-nya atau hanya dapat dikategorikan beban/cost pada
akhirnya.

Biasanya, dalam praktik outsourcing selalu menggunakan PKWT juga kaitannya dengan
perjanjian kontrak dengan para buruh, sehingga buruh outsourcing juga termasuk dalam status
kontrak atau PKWT. Jadi, walaupun PKWT dan outsourcing penerapannya dapat dilakukan
secara bersamaan, namun sebenarnya merupakan dua istilah yang berbeda.