Anda di halaman 1dari 31

WRAP UP PBL

SKENARIO I BLOK MEDIKOLEGAL


MATA DIOBATI MENJADI BUTA

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK A-5

Ketua : Betari Texania Harsa (1102013058)


Sekertaris : Bening Irhamna (1102013057)
Anggota :
Abiyya Farah Putri (1102013003)
Andhani Putri Kusumaningtyas (1102013024)
Annisa Maharani (1102013036)
Dara Mayang Sari (1102013069)
Faisal Muhammad (1102013104)
Indah Aprilyani Kusuma Dewi (1102013132)
Khairul Huda (1102013148)

FAKULTAS KEDOKTERAN UMUM


UNIVERSITAS YARSI
2016/2017
JL.Letjend Suprapto, Cempaka Putih Jakarta 10510
Telp (021) 4244574 Fax (021) 4244574

0
SKENARIO I
MATA DIOBATI MENJADI BUTA
Tidak terima matanya menjadi buta, Haslinda bersama tim kuasa hukum dari Lembaga
Bantuan Hukum Kesehatan mendatangi ke Polda Metro Jaya untuk melaporkan dugaan
malpraktik dokter, Waldensius Girsang di Rumah Sakit Jakarta Eyes Center.
Haslinda menuturkan pada 6 Maret lalu, kemerahan pada mata, kabur penglihatan, kepekaan
terhadap cahaya (ketakutan dipotret), gelap, mata sakit sudah disampaikan ke dokter Fikri
Umar Purba yang kemudian didiagnosis sebagai penyakit uveitis tuberkulosa. Namun
beberapa hari kemudian setelah ditangani oleh dokter Purba, mata Haslinda tidak kembali
berfungsi normal atau menjadi buta.
Sementara itu, Dokter Purba yang ditemui di Rumah Sakit Jakarta Eyes Centre membantah
telah melakukan malpraktik terhadap Haslinda.
Sebelum mengadukan ke pihak yang berwajib, Haslinda berkonsultasi pada seorang ustadz
tentang hukum malpraktik menurut Islam.
Dalam pengaduannya ke ruang pengaduan Polda Metro Jaya, Haslinda warga Kayu Mas,
Pulogadung, Jakarta Timur ini tidak menyebutkan tuntutan materil dan immaterial kepada
dokter Purba dan Rumah Sakit Jakarta Eyes Center sebagai pihak yang diduga melakukan
malpraktik.
Pengacara pasien juga menuliskan dasar gugatannya berdasarkan:
1. Pasal 27 ayat (1) UUD 1945
2. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
3. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
4. UU No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan
5. UU No.29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
6. UU No.44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
7. Kode Etik Kedokteran
8. UU No.8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

1
KATA SULIT
1. Malpraktik: kesalahan yang dibuat dokter karena melakukan tindakan tidak sesuai
dengan standar
2. Tuntutan materil: tuntutan berupa uang
3. Tuntutan immaterial: tuntutan bukan berupa uang contohnya pidana
4. Hukum perdata: ketentuan yang mengatur hak dan kepentingan individu dalam
masyarakat
5. Hukum pidana: keseluruhan peraturan-peraturan yang menentukan perbuatan yang
dilarang dan hukumannya
PERTANYAAN
1. Kenapa pasien tidak menuntuk secara materil dan immaterial?
2. Apa sajakah sanksi apabila melakukan malpraktik?
3. Apa yang bisa dilakukan dokter untuk mencegah malpraktik?
4. Apa saja contoh dan jenis malpraktik?
5. Bagaimana cara membuktikan bahwa dokter benar-benar terbukti melakukan
malpraktik?
6. Apakah dokter mendapat perlindungan dari rumah sakit?
7. Apa saja langkah-langkah dalam menghadapi malpraktik?
8. Bagaimana hukum malpraktik menurut agama Islam?
9. Apa kedudukan LBHK dalam kasus ini?
JAWABAN
1. Karena pasien meminta pertanggungjawaban dokter dalam bentuk lain seperti
pengakuan telah melakukan tindak malpraktik, permintaan maaf
2. Terkena hukuman pidana, pencabutan izin praktik, sanksi teguran, denda, sanksi
sosial
3. Melakukan tidakan sesuai dengan SOP, melakukan informed consent pada tiap
tindakan yang akan dilakukan, mencatat tidakan dalam rekam medis, mengetahui
dengan baik kompetensi diri dalam menangani suatu kasus
4. Jenisnya malpraktik seperti malpraktik medis yakni kelalaian yang mengakibatkan
luka pada pasien dan malpraktik etik yaitu tindakan dokter yang bertentangan dengan
kode etik kedokteran seperti membocorkan rekam medis pasien tanpa persetujuan
5. Menelusuri rekam medisnya apakah sudah melakukan tindakan sesuai SOP atau
belum dan bisa juga dengan melihat track record dokter dalam menangani pasien-
pasien terdahulu
6. Jika memang sudah melakukan sesuai SOP maka akan mendapat perlindungan dari
rumah sakit
7. Mengecek ulang rekam medis dan SOP yang sudah dilakukan, mencari perlindungan
hukum
8. Haram, tidak boleh memudharatkan diri sendiri dan orang lain
9. Dibawah kewenangan Kementrian Hukum dan HAM

2
HIPOTESIS
Dokter diduga melakukan tidakan tidak sesuai SOP hingga menimbulkan kerugian yang
dirasakan oleh pasien. Pasien meminta bantuan kuasa hukum beserta Lembaga Bantuan
Hukum Kesehatan yang berada dibawah kewenangan Kementrian Hukum dan HAM untuk
melaporkan dokter dengan tuduhan malpraktik. Malpraktik terdiri atas malpraktik medis
yakni kelalaian yang mengakibatkan luka pada pasien dan malpraktik etik yaitu tindakan
dokter yang bertentangan dengan kode etik kedokteran seperti membocorkan rekam medis
pasien tanpa persetujuan. Sanksi yang diberikan bila benar terbukti melakukan malpraktik
berupa hukuman pidana, pencabutan izin praktik, sanksi teguran, denda, sanksi sosial.
Adapun dokter dapat melakukan pencegahan agar terhindar dari tindakan malpraktik dengan
cara melakukan tidakan sesuai dengan SOP, melakukan informed consent pada tiap tindakan
yang akan dilakukan, mencatat tidakan dalam rekam medis, mengetahui dengan baik
kompetensi diri dalam menangani suatu kasus. Sedangkan menurut Agama Islam sendiri
menjelaskan bahwa malpraktik hukumnya haram serta prinsip yakni tidak boleh
memudharatkan diri sendiri dan orang lain.
SASARAN BELAJAR
1. Memahami dan Menjelaskan Malpraktik
1.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Malpraktik
1.2 Memahami dan Menjelaskan Jenis Malpraktik
1.3 Memahami dan Menjelaskan Pasal-Pasal yang Mengatur Malpraktik
1.4 Memahami dan Menjelaskan Alur Hukum Malpraktik
1.5 Memahami dan Menjelaskan Pencegahan Malpraktik
2. Memahami dan Menjelaskan Informed Consent
3. Memahami dan Menjelaskan Rekam Medis
4. Memahami dan Menjelaskan Malpraktik dalam Sudut Pandang Islam

3
1. Memahami dan Menjelaskan Malpraktik
1.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Malpraktik
Definisi
Secara harfiah mal mempunyai arti salah sedangkan praktik mempunyai arti
pelaksanaan atau tindakan, sehingga malpraktik berarti pelaksanaan atau tindakan yang
salah. Definisi malpraktik profesi kesehatan adalah kelalaian dari seseorang dokter atau
perawat untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam mengobati
dan merawat pasien, yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau orang yang terluka
menurut ukuran dilingkungan yang sama (Valentin v. La Society de Bienfaisance Mutuelle de
Los Angelos, California, 1956).

Pengertian malpraktik medik menurut WMA (World Medical Associations)


adalah Involves the physicians failure to conform to the standard of care for treatment of the
patients condition, or a lack of skill, or negligence in providing care to the patient, which is
the direct cause of an injury to the patient (adanya kegagalan dokter untuk menerapkan
standar pelayanan terapi terhadap pasien, atau kurangnya keahlian, atau mengabaikan
perawatan pasien, yang menjadi penyebab langsung terhadap terjadinya cedera pada pasien).

Definisi Menurut Kedokteran


Kegagalan dokter untuk memenuhi standar pengobatan dan perawatan terhadap
pasien atau adanya kekurangan keterampilan atau kelalaian dalam pengobatan dan perawatan
yang menimbulkan cedera pasien. Namun,tidak semua kegagalan medis disebabkan oleh
malpraktek kedokteran. Contohnya adalah perjalanan penyakir seorang pasien yang semakin
berat, reaksi tubuh yang tidak dapat diramalkan, komplikasi penyakit yang terjadi secara
bersamaan. (World Medical Association, 1992)

Sesuatu perbuatan atau sikap medis dianggap lalai apabila memenuhi empat unsur 4D, yaitu:
a Duty. Ada kewajiban medis untuk melakukan tindakan medis tertentu terhadap pasien
pada situasi kondisi tertentu
b Derelection of that duty. Adanya penyimpangan kewajiban tersebut
c Damage. Segala sesuatu yang dirasakan oleh pasien sebagai kerugian akibat dari
layanan kesehatan kedokteran yang diberikan
d Direct causal relationship. Dapat dibuktikan adanya hubungan sebab akibat yang
nyata antara penyimpangan kewajiban dengan kerugian

Definisi Menurut Hukum


Istilah malpraktek hanya digunakan untuk menyatakan adanya tindakan yang salah
dalam pelaksanaan suatu profesi; baik dibidang kedokteran maupun bidan hukum.Tindakan
yang salah secara yuridis penal diartikan setelah melalui putusan pengadilan.Tindakan yang
salah dimaksud sebagai tindakan yang dapat menumbuhkan kerugian baik nyawa, maupun
harta benda.

4
1.2 Memahami dan Menjelaskan Jenis Malpraktik

MALPRACTICE

MEDICAL MALPRACTICE PROFESI LAIN

ETHICAL MALPRACTICEYURIDICAL MALPRACTICE

CRIMINAL MALPRACTICE

CIVIL MALPRACTICE

ADMINISTRATIVE MALPRACTICE

Berpijak pada hakekat malpraktek adalan praktik yang buruk atau tidak sesuai dengan
standar profesi yang telah ditetepkan, maka ada bermacam-macam malpraktek yang dapat
dipiah dengan mendasarkan pada ketentuan hukum yang dilanggar, walaupun kadang kala
sebutan malpraktek secara langsung bisa mencakup dua atau lebih jenis malpraktek.Secara
garis besar malprakltek dibagi dalam dua golongan besar yaitu mal praktik medik
(medicalmalpractice) yang biasanya juga meliputi malpraktik etik (etichalmalpractice) dan
malpraktek yuridik (yuridicalmalpractice).Sedangkan malpraktik yurudik dibagi menjadi tiga
yaitu malpraktik perdata (civilmalpractice), malpraktik pidana (criminalmalpractice) dan
malpraktek administrasi Negara (administrativemalpractice).

1. Malpraktik Medik (medicalmalpractice)

John.D.Blum merumuskan: Medical malpractice is a form of professional negligence


in whice miserable injury occurs to a plaintiff patient as the direct result of an act or
omission by defendant practitioner. (malpraktik medik merupakan bentuk kelalaian
professional yang menyebabkan terjadinya luka berat pada pasien / penggugat sebagai akibat
langsung dari perbuatan ataupun pembiaran oleh dokter/terguguat).

Sedangkan rumusan yang berlaku di dunia kedokteran adalah Professional


misconduct or lack of ordinary skill in the performance of professional act, a practitioner is
liable for demage or injuries caused by malpractice. (Malpraktek adalah perbuatan yang
tidak benar dari suatu profesi atau kurangnya kemampuan dasar dalam melaksanakan
pekerjaan. Seorang dokter bertanggung jawab atas terjadinya kerugian atau luka yang
disebabkan karena malpraktik), sedangkan junus hanafiah merumuskan malpraktik medik

5
adalah kelalaian seorang dokter untuk mempergunakan tingkat keterampilan dan ilmu
pengetahuan yang lazim dipergunakan dalam mengobati pasien atau orang yang terluka
menurut lingkungan yang sama.

2. Malpraktik Etik (ethicalmalpractice)

Malpraktik etik adalah tindakan dokter yang bertentangan dengan etika kedokteran,
sebagaimana yang diatur dalam kode etik kedokteran Indonesia yang merupakan seperangkat
standar etika, prinsip, aturan, norma yang berlaku untuk dokter.

3. Malpraktik Yuridis (juridicalmalpractice)

Malpraktik yuridik adalah pelanggaran ataupun kelalaian dalam pelaksanaan profesi


kedokteran yang melanggar ketentuan hukum positif yang berlaku.

Malpraktik Yuridis meliputi:

a. Malpraktik perdata (civilmalpractice)

Malpraktik perdata terjadi jika dokter tidak melakukan kewajiban (ingkar janji) yaitu
tidak memberikan prestasinya sebagaimana yang telah disepakati. Tindakan dokter yang
dapat dikatagorikan sebagai melpraktik perdata antara lain :
a. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatan wajib dilakukan
b. Melakukan apa yang disepakati dilakukan tapi tidak sempurna
c. Melakukan apa yang disepakati tetapi terlambat
d. Melakukan apa yang menurut kesepakatan tidak seharusnya dilakukan

Pertanggung jawaban civil malpractice dapat bersifat individual atau korporasi dan
dapat pula dialihkan pihak lain berdasarkan principle of vicarius liability. Dengan prinsip ini
maka RS / sarana kesehatan dapat bertanggung gugat atas kesalahan yang dilakukan
karyawannya (tenaga kesehatan) tersebut dalam rangka melaksanakan tugas kewajibannya.

b. Malpraktik Pidana (criminalmalpractice)

Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dalam kategori criminal malpractice


manakala perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik pidana, yakni:
Perbuatan tersebut (positive/negative act) merupakan perbuatan tercela
Dilakukan dengan sikap batin yang salah (mens rea) yang berupa kesengajaan
(intensional), kecerobohan (recklessness) atau kealpaan (negligence)
o Intensional: melakukan euthanasia (pasal 344 KUHP), membuka rahasia jabatan
(pasal 332 KUHP), membuat surat keterangan palsu (pasal 263 KUHP), melakukan
aborsi tanpa indikasi medis (pasal 299 KUHP)
o Recklessness: melakukan tindakan medis tanpa persetujuan pasien informed consent
o Negligence: kurang hati-hati mengakibatkan luka, cacat atau meninggalnya pasien,
ketinggalan klem dalam perut pasien saat melakukan operasi

Malpraktik pidana terjadi, jika perbuatan yang dilakukan maupun tidak dilakukan
memenuhi rumusan undang-undang hukum pidana. Perbuatan tersebut dapat berupa
perbuatan positif (melakukan sesuatu) maupun negative (tidak melakukan sesuatu) yang

6
merupakan perbuatan tercela (actus reus), dilakukan dengan sikap batin yang slah (mens rea)
berupa kesengajaan atau kelalauian. Contoh malpraktik pidana dengan sengaja adalah :
a. Melakukan aborsi tanpa tindakan medik
b. Mengungkapkan rahasia kedokteran dengan sengaja
c. Tidak memberikan pertolongan kepada seseorang yang dalam keadaan darurat
d. Membuat surat keterangan dokter yang isinya tidak benar
e. Membuat visum et repertum tidak benar
f. Memberikan keterangan yang tidak benar di pengadilan dalan kapasitasnya sebagai
ahli
Contoh malpraktik pidana karena kelalaian:
a. Kurang hati-hati sehingga menyebabkan gunting tertinggal diperut
b. Kurang hati-hati sehingga menyebabkan pasien luka berat atau meninggal
c. Malpraktik Administrasi Negara (administrative malpractice)

Pertanggung jawaban didepan hukum pada criminal malpractice adalah bersifat


individual/personal dan oleh sebab itu tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau kepada
rumah sakit / sarana kesehatan

C. Malpraktik Administrative

Malpraktik administrasi terjadi jika dokter menjalankan profesinya tidak


mengindahkan ketentuan-ketentuan hukum administrasi Negara. Misalnya:
a. Menjalankan praktik kedokteran tanpa ijin
b. Menjalankan praktik kedokteran tidak sesuai dengan kewenangannya
c. Melakukan praktik kedokteran dengan ijin yang sudah kadalwarsa.
d. Tidak membuat rekam medik.

Tenaga perawatan dikatakan telah melakukan administrative malpractice manakala


tenaga tenaga perawatan tersebut telah melanggar hukum administrasi.Perlu diketahui bahwa
melakukan police power, pemerintah mempunyai kewenangan menertibkan berbagai
ketentuan di bidang kesehatan, misalnya tentang persyaratan bagi tenaga perawatan untuk
menjalankan profesinya (Surat Ijin Kerja, Surat Ijin Praktek), batas kewenangan serta
kewajiban tenaga perawatan.Apabila aturan tersebut dilanggar maka tenaga kesehatan yang
bersangkutan dapat dipersalahkan melanggar hukum administrasi.
Kelalaian dapat terjadi dalam 3 bentuk, yaitu malfeasance, misfeasance dan nonfeasance:
Malfeasance berarti melakukan tindakan yang melanggar hukum atau tidak tepat /
layak (unlawful atau improper), misalnya melakukan tindakan medis tanpa indikasi
yang memadai.
Misfeasance berarti melakukan pilihan tindakan medis yang tepat tetapi
dilaksanakan dengan tidak tepat (improper performance), yaitu misalnya
melakukan tindakan medisdengan menyalahi prosedur
Nonfeasance adalah tidak melakukan tindakan medis yang merupakan
kewajiban baginya.

1.3 Memahami dan Menjelaskan Pasal-Pasal yang Mengatur Malpraktik

Peraturan Non Hukum


Diatur oleh Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI).KODEKI semula merupakan
peraturan non hukum karena peraturan ini telah menjadi petunjuk perilaku atau etika seorang

7
dokter dalam menjalankan profesinya. Dalam KODEKI diatur tentang kewajiban dokter
terhadap pasien yang dicantumkan di dalam Pasal 10 sampai dengan Pasal 14, yaitu:

Pasal 10 KODEKI: Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajibannya


melindungi makhluk insani
Pasal 11 KODEKI: Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala
ilmu dan keterampilannya untu kepentingan penderita. Dalam hal ia tidak mampu melakukan
suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka ia wajib merujuk penderita kepada dokter lain
yang mempunyai keahlian dalam bidang penyakit tersebut
Pasal 13 KODEKI: Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya
tentang penderita, bahkan juga setelah penderita itu meninggal dunia
Pasal 14 KODEKI: Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas
perikemanusiaan, kecuali ia yakin ada orang lain yang bersedia dan lebih mampu
memberikan pertolongan darurat terhadap pasien yang membutuhkannya, padahal ia mampu
dapat terkena sasaran tuntutan malpraktek juga
Peraturan Hukum
1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Pasal-pasal didalam KUHP yang terkait dengan malpraktik medik, yaitu:
a Pasal 263 dan 267 KUHP (Membuat Surat Keterangan Palsu)
b Pasal 290 KUHP (Melakukan Pelanggaran Kesopanan)
c Pasal 299 KUHP (Mengobati seorang wanita dengan memberitahukan atau
menimbulkan harapan bahwa kandungannya dapat digugurkan)
d Pasal 322 KUHP (Membuka Rahasia)
e Pasal 304 KUHP (Pembiaran / Penelantaran)
f Pasal 306 KUHP (Apabila tindakan penelantaran tersebut mengakibatkan
kematian)
g Pasal 322 KUHP (Membocorkan rahasia profesi)
h Pasal 333 KUHP (Dengan sengaja dan tanpa hak telah merampas kemerdekaan
seseorang)
i Pasal 344 KUHP (Euthanasia)
j Pasal 347 KUHP (Sengaja melakukan abortus tanpa persetujuan wanita yang
bersangkutan)
k Pasal 348 KUHP (Sengaja melakukan abortus dengan persetujuan)
l Pasal 349 KUHP (Membantu atau melakukan tindakan abortus provocatus
criminalis)
m Pasal 359 KUHP (Kelalaian yang menyebabkan kematian)
n Pasal 360 KUHP (Kelalaian yang menyebabkan luka / cacat)
o Pasal 386 KUHP (Memberi atau menjual obat palsu)
p Pasal 531 KUHP (Tidak memberi pertolongan pada orang yang berada dalam
keadaan bahaya)

Pemberlakukan hukum pidana dalam kasus-kasus kelalaian medis yang terjadi di


dalam penyelenggaraan praktek kedokteran haruslah sebagai ultimatum remidium artinya
hukum pidana sebagai alternatif terakhir apabila upaya-upaya non litigasi sudah tidak bisa
lagi berhasil untuk mengatasi permasalahan yang timbul.Selain iitu juga karena praktek
kedokteran merupakan profesi yang sangat mulia dan luhur yang diperlukan oleh banyak
orang dan praktek kedokteran dijamin pelaksanaannya oleh undang-undang.

2 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata


Pasal-pasal didalam KUHPerdata yang terkait dengan malpraktek medik, yaitu:

8
a Pasal 1239 KUH Perdata (Melakukan wanprestasi atau cidera janji)
b Pasal 1365 KUH Perdata(Melakukan perbuatan melawan hukum)
c Pasal 1366 KUH Perdata (Melakukan kelalaian sehingga menimbulkan
kerugian)
d Pasal 1367 KUH Perdata (Bertanggung jawab atas kelalaian yang dilakukan
oleh bawahannya)

3 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan


a Pasal 54 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 (Kesalahan atau
kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan)
b Pasal 80 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 (Sengaja melakukan
tindakan medis tidak sesuai dengan Standart Operational Procedure pada ibu
hamil)
c Pasal 81 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 (Sengaja melakukan
transplantasi organ tubuh untuk tujuan komersil)
d Pasal 81 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 (Tanpa keahlian
sengaja melakukan transplantasi, implan alat kesehatan, bedah plastik)
e Pasal 81 ayat 2a Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 (Sengaja mengambil
organ tanpa memperhatikan kesehatan dan persetujuan pendonor / ahli waris)

4 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran


a Pasal 3 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 (Pengaturan praktek
kedokteran bertujuan untuk, Pertama memberikan perlindungan kepada pasien,
Kedua mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan medis yang
diberikan oleh dokter dan dokter gigi, dan Ketiga memberikan kepastian
hukum kepada masyarakat, dokter dan dokter gigi)
b Pasal 44 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 (Mensyaratkan kepada setiap
dokter dan dokter gigi dalam memberikan pelayanan haruslah mempunyai
standar pelayanan. Standar pelayanan disini adalah pedoman yang harus diikuti
oleh dokter atau dokter gigi dalam menyelenggarakan praktek kedokteran)
c Pasal 75 dan 76 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 (Mensyaratkan setiap
dokter harus mempunyai surat registrasi yang ditandatangani oleh konsil
kedokteran. Sedangkan surat izin praktek kedokteran ditandatangani oleh
pejabat kesehatan yang berwenang di kabupaten/kota tempat praktek
kedokteran atau dokter gigi dilaksanakan. Kedua persyaratan tersebut menjadi
suatu hal yang mutlak dimiliki oleh seorang dokter. Apabila dokter tidak
mempunyai surat registrasi dan surat izin praktek, maka selain dokter tersebut
tidak sah, masyarakat juga tidak berani di diagnosa oleh dokter tersebut karena
takut terjadi malpraktek)

5 Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan


a Pasal 32 (Pasien berhak atas ganti rugi apabila dalam pelayanan kesehatan
yang diberikan oleh tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22
mengakibatkan terganggunya kesehatan, cacat atau kematian yang terjadi
karena kesehatan atau kelalaian

Dalam perikatan sebagaimana diatur di dalam KUHPerdata dikenal adanya dua macam
perjanjian, yaitu:
Inspanningverbintenis: perjanjian upaya, artinya kedua belah pihak yang berjanji
berdaya upaya secara maksimal untuk mewujudkan apa yang diperjanjikan

9
Resultaatbintennis: perjanjian bahwa pihak yang berjanji akan memberikan result, yaitu
sesuatu hasil yang nyata sesuai dengan apa yang diperjanjikan.
1.4 Memahami dan Menjelaskan Alur Hukum Malpraktik
Seorang dokter atau dokter gigi yang menyimpang dari standar profesi dan melakukan
kesalahan profesi belum tentu melakukan malpraktik medis yang dapat dipidana, malpraktik
medis yang dipidana membutuhkan pembuktian adanya unsur culpa lata atau kalalaian berat
dan pula berakibat fatal atau serius (Ameln, Fred, 1991).Hal ini sesuai dengan ketentuan
pasal 359 KUHP, pasal 360, pasal 361 KUHP yang dibutuhkan pembuktian culpa lata dari
dokter atau dokter gigi.
Dengan demikian untuk pembuktian malpraktik secara hukum pidana meliputi unsur :
1 Telah menyimpang dari standar profesi kedokteran;
2 Memenuhi unsur culpa lata atau kelalaian berat; dan
3 Tindakan menimbulkan akibat serius, fatal dan melanggar pasal 359, pasal 360,
KUHP.
Adapun unsur-unsur dari pasal 359 dan pasal 360 sebagai berikut :
1 Adanya unsur kelalaian (culpa).
2 Adanya wujud perbuatan tertentu .
3 Adanya akibat luka berat atau matinya orang lain.
4 Adanya hubungan kausal antara wujud perbuatan dengan akibat kematian orang lain
itu.

10
Alur Penyelesaian Hukum

MAJELIS KEHORMATAN ETIK KEDOKTERAN (MKEK)

MKEK (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran) adalah badan otonom IDI yang
bertanggung jawab mengkoordinasi kegiatan internal organisasi dalam pengembangan
kebijakan, pembinaan pelaksanaan dan pengawasan penerapan etika kedokteran.
Dalam hal pengembangan dan pelaksaaan kebijakan yang bersifat nasional dan strategis,
MKEK wajib mendapat persetujuan dalam forum Musyawarah Pimpinan Pusat.
MKEK dibentuk pada tingkat pusat, wilayah, dan cabang.MKEK di tingkat cabang dibentuk
apabila dianggap perlu atas pertimbangan dan persetujuan dari MKEK wilayah.MKEK
bertanggung jawab kepada muktamar musyawarah wilayah dan musyawarah cabang sesuai
dengan tingkat kepengurusan.Masa jabatan MKEK sama dengan PB IDI Kepengurusan
MKEK sekurang-kurangnya terdiri dari ketua, sekretaris, dan anggota. MKEK wilayah dan
cabang mengadakan koordinasi dengan pengurus wilayah dan pengurus cabang, sesuai
dengan tingkat kepengurusan.

Tugas dan wewenang

11
Melaksanakan isi anggaran dasar dan anggaran rumah tangga serta semua keputusan
yang ditetapkan muktamar.
Melakukan tugas bimbingan, pengawasan dan penilaian dalam pelaksanaan etik
kedokteran, termasuk perbuatan anggota yang melanggar kehormatan dan tradisi
luhur kedokteran.
Memperjuangkan agar etik kedokteran dapat ditegakkan di Indonesia.
Memberikan usul dan saran diminta atau tidak diminta kepada pengurus besar,
pengurus wilayah dan pengurus cabang, serta kepada Majelis Kolegium Kedokteran
Indonesia.
Membina hubungan baik dengan majelis atau instansi yang berhubungan dengan etik
profesi, baik pemerintah maupun organisasi profesi lain.
Bertanggung jawab kepada muktamar, musyawarah wilayah dan musyawarah cabang.

Manfaat Pedoman MKEK


Pedoman MKEK ini merupakan jabaran dan pedoman pelaksanaan dari Anggaran
Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IDI tentang MKEK dalam rangka pengaturan substansi
etika kedokteran bagi setiap pengabdian profesi dokter di Indonesia, penegakan, pengawasan,
bimbingan, penilaian pelaksanaan, penjatuhan sanksi etika, rehabilitasi (pemulihan hak-hak
profesi), dan interaksi kelembagaan MKEK dengan sesama perangkat dan jajaran internal IDI
atau lembaga etika lainnya di luar IDI.

Status MKEK:
o Sebagai badan otonom IDI
o Segala keputusannya di bidang etika tidak dipengaruhi pengurus IDI
o Keputusan MKEK mengikat pengurus IDI

Kewajiban MKEK
1 MKEK wajib ikut mempertahankan hubungan dokter pasien sebagai hubungan
kepercayaan.
2 MKEK Pusat mempertanggungjawabkan kinerja dari program kerjanya kepada
Muktamar, MKEK Wilayah kepada Musyawarah Wilayah IDI dan MKEK Cabang ke
Rapat Anggota Cabang IDI setempat
3 MKEK wajib menyimpan kerahasiaan medik kasus yang disidangkannya apabila
secara eksplisit diminta oleh pasien pengadu.
4 MKEK Pusat dalam batas kemampuannya wajib meningkatkan kapasitas
pengetahuan, sikap dan ketrampilan anggota MKEK Wilayah dan Cabang yang
memerlukannya.

Fungsi
Perkara yang dapat diputuskan di majelis ini sangat bervariasi jenisnya.Di MKEK IDI
Wilayah DKI Jakarta diputus perkara-perkara pelanggaran etik dan pelanggaran disiplin
profesi, yang disusun dalam beberapa tingkat berdasarkan derajat pelanggarannya.

Putusan MKEK tidak ditujukan untuk kepentingan peradilan, oleh karenanya tidak
dapat dipergunakan sebagai bukti di pengadilan, kecuali atas perintah pengadilan dalam
bentuk permintaan keterangan ahli.Salah seorang anggota MKEK dapat memberikan
kesaksian ahli di pemeriksaan penyidik, kejaksaan ataupun di persidangan, menjelaskan
tentang jalannya persidangan dan putusan MKEK.Sekali lagi, hakim pengadilan tidak terikat
untuk sepaham dengan putusan MKEK.

12
Eksekusi Putusan MKEK Wilayah dilaksanakan oleh Pengurus IDI Wilayah dan/atau
Pengurus Cabang Perhimpunan Profesi yang bersangkutan.Khusus untuk SIP, eksekusinya
diserahkan kepada Dinas Kesehatan setempat.Apabila eksekusi telah dijalankan maka dokter
teradu menerima keterangan telah menjalankan putusan.

Tatacara Pengelolaan
a Ketua MKEK dipilih dan ditetapkan dalam muktamar, musyawarah wilayah dan
musyawarah cabang.
b Pengurus MKEK adalah anggota biasa.
c Ketua MKEK tingkat pusat dipilih dalam sidang khusus MKEK di muktamar dan
dikukuhkan dalam sidang pleno muktamar.
d MKEK segera menjalankan tugas-tugasnya setelah selesainya muktamar, musyawarah
wilayah, dan musyawarah cabang.
e MKEK dapat melakukan kegiatan atas inisiatif sendiri ataupun atas usul serta
permintaan.
f MKEK mengadakan pertemuan berkala sesama pengurus ataupun dengan pihak lain
yang ditentukan sendiri oleh MKEK.

MAJELIS KEHORMATAN DISIPLIN KEDOKTERAN INDONESIA (MKDKI)

MKDKI adalah lembaga yang berwenang untuk :


1 Menentukan ada tidaknya kesalahan yang dilakukan dokter dan dokter gigi dalam
penerapan disiplin ilmu kedokteran dan kedokteran gigi.
2 Menetapkan sanksi disiplin.

Sesuai dengan UU PRADOK NO.29 Tahun 2004 Pasal 55 ayat (1) yang berisi Menegakkan
disiplin dokter dan dokter gigi dalam penyelenggaraan praktil kedokteran.

Tujuan penegakan disiplin adalah :


1 Memberikan perlindungan kepada pasien.
2 Menjaga mutu dokter/dokter gigi.
3 Menjaga kehormatan profesi kedokteran/kedokteran gigi.

Kedudukan dan Keanggotaan MKDKI


MKDKI sebagai lembaga otonom dari Konsil Kedokteran Indonesia.Majelis ini
dibentuk ditingkat pusat dan provinsi.Anggota MKDKI terdiri dari 3 orang dokter dari
organisasi profesi, 1 orang dokter dari asosiasi rumah sakit (dalam hal ini PERSI), dan 3
orang sarjana hukum.Anggota-anggota dalam majelis ditetapkan oleh menteri atas usulan
organisasi profesi.Masa bakti MKDKI adalah 5 tahun dan dapat diusulkan kembali untuk 1
kali masa jabatan lagi.

Tugas MKDKI :
a menerima pengaduan, memeriksa, dan memutuskan kasus pelanggaran disiplin dokter dan
dokter gigi yang diajukan dan
b menyusun pedoman dan tata cara penanganan kasus pelanggaran disiplin dokter
atau dokter gigi.

13
Dalam melaksanakan tugas MKDKI mempunyai wewenang:
a menerima pengaduan pelanggaran disiplin dokter dan dokter gigi
b menetapkan jenis pengaduan pelanggaran disiplin atau pelanggaran etika atau bukan
keduanya
c memeriksa pengaduan pelanggaran disiplin dokter dan dokter gigi
d memutuskan ada tidaknya pelanggaran disiplin dokter dan dokter gigi
e menentukan sanksi terhadap pelanggaran disiplin dokter dan dokter gigi
f melaksanakan keputusan MKDKI
g menyusun tata cara penanganan kasus pelanggaran disiplin dokter dan dokter gigi
h menyusun buku pedoman MKDKI dan MKDKI-P
i membina, mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan tugas MKDKI-P
j membuat dan memberikan pertimbangan usulan pembentukan MKDKI-P kepada
Konsil Kedokteran Indonesia
k mengadakan sosialisasi, penyuluhan, dan diseminasi tentang MKDKI dan dan
MKDKI-P mencatat dan mendokumentasikan pengaduan, proses pemeriksaan, dan
keputusan MKDKI.

Disiplin Kedokteran
Disiplin kedokteran berarti kepatuhan menerapkan aturan-aturan atau ketentuan
penerapan keilmuan dalam pelaksanaan pelayanan. Lebih khusus lagi yaitu kepatuhan
menerapkan kaidah-kaidah penatalaksanaan klinis yang mencakup penegakan diagnosis,
tindakan pengobatan, menetapkan prognosis, dengan standar atau indikator dari Standar
Kompetensi, Standar Perilaku Etis, Standar Asuhan Medis dan Standar Klinis
Tujuan Penegakan Disiplin Kedokteran
Tujuan utama adalah untuk proteksi pasien.Tujuan lainnya yaitu untuk menjaga mutu
dokter atau dokter gigi dan juga untuk menjaga kehormatan profesi kedokteran atau
kedokteran gigi.
Pelanggaran Disiplin
Sesuai putusan KKI No. 17/KKI/KEP/VIII/2006
1 Kegagalan penatalaksanaan pasien oleh karena:
- Ketidakcakapan (Incompetence)
- Kelalaian (Gross Negligence)
2 Perilaku tercela (menurut ukuran profesi)
3 Ketidaklayakan fisik dan mental (Unfit to practice)

Atau dengan kata lain


Tidak memenuhi:
1 Standard of care, Clinical Standard
2 Standard of competence
3 Standard of professional atitude

Bentuk Pelanggaran Disiplin Kedokteran


1 Tidak kompeten
2 Tidak merujuk
3 Dokter atau dokter gigi pengganti tidak diberitahu ke pasien, Tidak memiliki SIP
4 Tidak layak praktik (kesehatan fisik dan mental)
5 Kelalaian dalam penatalaksanaan pasien
6 Pemeriksaan dan pengobatan berlebihan
7 Tidak memberikan informasi yang jujur
8 Tidak ada informed consent

14
9 Tidak membuat atau menimpan rekam medis
10 Penghentian kehamilan tanpa indikasi medis
11 Euthanasia
12 Penerapan pelayanan yang belum diterima ilmu kedokteran
13 Penelitian klinisi tanpa persetujuan etis.
14 Tidak memberi pertolongan darurat.
15 Menolak atau menghentikan pengobatan tanpa alasan yang sah
16 Membuka rahasia medis tanpa izin
17 Membuat keterangan medis tidak benar
18 Ikut serta tindakan penyiksaan
19 Peresepan obat psikotropik/narkotik tanpa indikasi
20 Pelecehan seksual, initimidasi, dan kekerasan
21 Penggunaan gelar akademik atau profesi palsu
22 Menerima komisi terhadap rujukan atau resepan
23 Pengiklanan diri yang menyesatkan
24 STR, SIP, Sertifikan kompetensi tidak sah
25 Imbalan jasa tidak sesuai tindakan.

Proses Pengaduan Pelanggaran

TAHAP PENEGAKAN DISIPLIN OLEH MKDKI


TAHAP 1: INVESTIGATIONAL STAGE (TAHAP INVESTIGASI)
PENGADUAN (ADMISSION)
VERIFIKASI
PEMERIKSAAN AWAL OLEH MPA
INVESTIGASI (INQUIRY)

TAHAP 2: ADJUDICATORY STAGE (PEMERIKSAAN DAN KEPUTUSAN)
PEMERIKSAAN DISIPLIN OLEH MPD
PEMBUKTIAN
PENGAMBILAN KEPUTUSAN

TAHAP 3: DISPOSITIONAL STAGE (PENYAMPAIANKEPUTUSAN)


PEMBACAAN KEPUTUSAN
PENGAJUAN KEBERATAN TERADU (JIKA ADA)
PENYAMPAIAN KEPUTUSAN KEPADA PIHAK TERKAIT

Pelanggaran disiplin kedokteran adalah pelanggaran terhadap aturan-aturan dan/atau


ketentuan dalam penerapan disiplin ilmu kedokteran/kedokteran gigi. Dokter/dokter gigi
dianggap melanggar disiplin kedokteran bila :
1 Melakukan praktik dengan tidak kompeten
2 Tidak melakukan tugas dan tanggung jawab profesionalnya dengan baik (dalam hal
ini tidak mencapai standar-standar dalam praktik kedokteran)
3 Berperilaku tercela yang merusak martabat dan kehormatan profesinya

Yang termasuk pelanggaran disiplin kedokteran/kedokteran gigi antara lain ketidakjujuran


dalam berpraktik, berpraktik dengan ketidakmampuan fisik dan mental, membuat laporan
medis yang tidak benar, memberikan "jaminan kesembuhan" kepada pasien, menolak
menangani pasien tanpa alasan yang layak, memberikan tindakan medis tanpa persetujuan

15
pasien/keluarga, melakukan pelecehan seksual, menelantarkan pasien pada saat
membutuhkan penanganan segera, mengistruksikan atau melakukan pemeriksaan
tambahan/pengobatan yang berlebihan, bekerja tidak sesuai standar asuhan medis, dsb

Suatu pengaduan diputuskan menjadi kewenangan MKDKI apabila :


1 Dokter/dokter gigi yang diadukan telah terregistrasi di Konsil Kedokteran Indonesia.
2 Tindakan medis yang dilakukan oleh dokter/dokter gigi yang diadukan terjadi setelah
tanggal 6 Oktober 2004 (setelah diundangkannya UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang
Praktik Kedokteran)
3 Terdapat hubungan profesional dokter-pasien dalam kejadian tersebut
4 Terdapat dugaan kuat adanya pelanggaran disiplin kedokteran/kedokteran gigi
Jika keempat kriteria tersebut terpenuhi, akan dilanjutkan dengan pemeriksaan oleh Majelis
Pemeriksa Disiplin (MPD)

Dalam formulir pengaduan, terdapat beberapa informasi yang harus diberikan, antara lain :
1 Identitas pengadu/pelapor;
2 Identitas pasien (jika pengadu bukan pasien);
3 Nama dan tempat praktik dokter/dokter gigi yang diadukan;
4 Waktu tindakan dilakukan;
5 Alasan pengaduan dan kronologis;
6 Pernyataan tentang kebenaran pengaduan, dsb

Setelah semua kelengkapan data pengaduan diterima, Anda akan mendapatkan tanda terima
pengaduan (berisi nomor register pengaduan). Setelah dilakukan verifikasi, pengaduan akan
ditangani oleh Majelis Pemeriksa Awal ataupun Majelis Pemeriksa Disiplin.
Sesuai UU Praktik Kedokteran, sanksi disiplin dalam keputusan MKDKI dapat berupa:
1 Pemberian peringatan tertulis
2 Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi (STR) atau Surat Izin Praktik (SIP);
dan/atau
3 Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan kedokteran
atau kedokteran gigi

MKDKI dapat menangani permintaan ganti rugi/kompensasi yang diajukan terhadap dokter
teradu:
1 MKDKI berwenang untuk menentukan ada tidaknya pelanggaran disiplin oleh
dokter/dokter gigi
2 MKDKI berwenang menetapkan sanksi disiplin kepada dokter/dokter gigi yang
dinyatakan melanggar disiplin kedokteran/kedokteran gigi
3 MKDKI tidak menangani sengketa antara dokter dan pasien/keluarganya
4 MKDKI tidak menangani permasalahan ganti rugi yang diajukan pasien/keluarganya

Keputusan MKDKI bersifat final dan mengikat dokter/dokter gigi yang diadukan, KKI,
Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, serta instansi terkait.
Dokter/dokter gigi yang diadukan dapat mengajukan keberatan terhadap keputusan MKDKI
kepada Ketua MKDKI dalam waktu selambat-lambatnya 30 hari sejak dibacakan atau
diterimanya keputusan tersebut dengan mengajukan bukti baru yang mendukung
keberatannya

16
1.5 Memahami dan Menjelaskan Pencegahan Malpraktik
1. Upaya pencegahan malpraktek dalam pelayanan kesehatan
Dengan adanya kecenderungan masyarakat untuk menggugat tenaga medis karena adanya
malpraktek diharapkan tenaga dalam menjalankan tugasnya selalu bertindak hati-hati, yakni:
Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan upayanya, karena
perjanjian berbentuk daya upaya (inspaning verbintenis) bukan perjanjian akan
berhasil (resultaat verbintenis).
Sebelum melakukan intervensi agar selalu dilakukan informed consent.
Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis.
Apabila terjadi keragu-raguan, konsultasikan kepada senior atau dokter.
Memperlakukan pasien secara manusiawi dengan memperhatikan segala
kebutuhannya.
Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga dan masyarakat sekitarnya.

2.Upaya menghadapi tuntutan hukum


Apabila upaya kesehatan yang dilakukan kepada pasien tidak memuaskan sehingga
perawat menghadapi hukum, maka tenaga kesehatan seharusnya bersifat pasif dan pasien
atau keluarganya yang aktif membuktikan kelalaian tenaga kesehatan. Apabila tuduhan
kepada kesehatan merupakan criminal malpractice, maka tenaga kesehatan dapat melakukan :
a Informal defence, dengan mengajukan bukti untuk menangkis/ menyangkal bahwa
tuduhan yang diajukan tidak berdasar atau tidak menunjuk pada doktrin-doktrin yang
ada, misalnya perawat mengajukan bukti bahwa yang terjadi bukan disengaja, akan
tetapi merupakan risiko medik (risk of treatment), atau mengajukan alasan bahwa
dirinya tidak mempunyai sikap batin (men rea) sebagaimana disyaratkan dalam
perumusan delik yang dituduhkan.
b Formal/legal defence, yakni melakukan pembelaan dengan mengajukan atau
menunjuk pada doktrin-doktrin hukum, yakni dengan menyangkal tuntutan dengan
cara menolak unsur-unsur pertanggung jawaban atau melakukan pembelaan untuk
membebaskan diri dari pertanggung jawaban, dengan mengajukan bukti bahwa yang
dilakukan adalah pengaruh daya paksa.

Berbicara mengenai pembelaan, ada baiknya perawat menggunakan jasa penasehat


hukum, sehingga yang sifatnya teknis pembelaan diserahkan kepadanya.
Pada perkara perdata dalam tuduhan civil malpractice dimana perawat digugat membayar
ganti rugi sejumlah uang, yang dilakukan adalah mementahkan dalil-dalil penggugat, karena
dalam peradilan perdata, pihak yang mendalilkan harus membuktikan di pengadilan, dengan
perkataan lain pasien atau pengacaranya harus membuktikan dalil sebagai dasar gugatan
bahwa tergugat (perawat) bertanggung jawab atas derita (damage) yang dialami penggugat.
Untuk membuktikan adanya civil malpractice tidak mudah, utamanya tidak diketemukan
fakta yang dapat berbicara sendiri (res ipsa loquitur), apalagi untuk membuktikan adanya
tindakan menterlantarkan kewajiban (dereliction of duty) dan adanya hubungan langsung
antara menterlantarkan kewajiban dengan adanya rusaknya kesehatan (damage), sedangkan
yang harus membuktikan adalah orang-orang awam dibidang kesehatan dan hal inilah yang
menguntungkan tenaga perawatan.

2. Memahami dan Menjelaskan Informed Consent

17
Persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekat setelah mendapat
penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran yang dilakukan terhadap pasien
tersebut.

Bentuk Informed Consent


a Implied Constructive Consent (Keadaan Biasa)
Tindakan yang biasa dilakukan, telah diketahui, telah dimengerti oleh masyarakat
umum, sehingga tidak perlu lagi dibuat tertulis.Misalnya pengambilan darah untuk
laboratorium, suntikan, atau hecting luka terbuka.
b Implied Emergency Consent (Keadaan Gawat Darurat)
Bila pasien dalam kondiri gawat darurat sedangkan dokter perlu melakukan tindakan
segera untuk menyelematkan nyawa pasien sementara pasien dan keluarganya tidak
bisa membuat persetujuan segera.Seperti kasus sesak nafas, henti nafas, henti jantung.
c Expressed Consent (Bisa Lisan/Tertulis Bersifat Khusus)
Persetujuan yang dinyatakan baik lisan ataupun tertulis, bila yang akan dilakukan
melebihi prosedur pemeriksaan atau tindakan biasa. Misalnya pemeriksaan vaginal,
pencabutan kuku, tindakan pembedahan/operasi, ataupun pengobatan/tindakan
invasive.

Tujuan Informed Consent


Tujuan dari informed consent adalah agar pasien mendapat informasi yang cukup
untuk dapat mengambil keputusan atas terapi yang akan dilaksanakan. Informed consent
juga berarti mengambil keputusan bersama. Hak pasien untuk menentukan nasibnya
dapat terpenuhi dengan sempurna apabila pasien telah menerima semua informasi yang
ia perlukan sehingga ia dapat mengambil keputusan yang tepat. Kekecualian dapat dibuat
apabila informasi yang diberikan dapat menyebabkan guncangan psikis pada pasien.

Dokter harus menyadari bahwa informed consent memiliki dasar moral dan etik yang
kuat. Menurut American College of Physicians Ethics Manual, pasien harus mendapat
informasi dan mengerti tentang kondisinya sebelum mengambil keputusan. Berbeda
dengan teori terdahulu yang memandang tidak adanya informed consent menurut hukum
penganiayaan, kini hal ini dianggap sebagai kelalaian. Informasi yang diberikan harus
lengkap, tidak hanya berupa jawaban atas pertanyaan pasien.

Manfaat Informed Consent


Informed Consent bermanfaat untuk :
a Melindungi pasien terhadap segala tindakan medik yang dilakukan tanpa
sepengetahuan pasien. Misalnya tindakan medik yang tidak perlu atau tanpa
indikasi, penggunaan alat canggih dengan biaya tinggi dsbnya.
b Memberikan perlindungan hukum bagi dokter terhadap akibat yang tidak terduga
dan bersifat negatif. Misalnya terhadap resiko pengobatan yang tidak dapat dihindari
walaupun dokter telah bertindak seteliti mungkin.

Dengan adanya informed consent maka hak autonomy perorangan di kembangkan,


pasien dan subjek dilindungi, mencegah terjadinya penipuan atau paksaan, merangsang
profesi medis untuk mengadakan introspeksi, mengajukan keputusan-keputusan yang
rasional dan melibatkan masyarakat dalam memajukan prinsip autonomy sebagai suatu
nilai sosial serta mengadakan pengawasan dalam penelitian biomedik.

Informasi yang harus diberikan dokter kepada pasien:

18
a Diagnosis dan tata cara tindakan kedokteran, meliputi:
Temuan klinis dari hasil pemeriksaan medis
Diagnosis penyakit; atau dalam hal belum dapat ditegakkan maka sekurang-
kurangnya diagnosis kerja dan diagnosis banding
Indikasi atau keadaan klinis pasien yang membutuhkan dilakukannya tindakan
kedokteran
Prognosis apabila dilakukan tindakan dan apabila tidak dilakukan tindakan
b Tujuan tindakan kedokteran yang dilakukan, meliput:
Tujuan tindakan kedokteran yang dapat berupa tujuan preventif, diagnostik,
terapeutik ataupun rehabilitatif
Tata cara pelaksanaan tindakan apa yang akan dialami pasien selama dan sesudah
tindakan serta efek samping atau ketidaknyamanan yang mungkin terjadi
Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi pada masing-masing alternatif
tindakan
Perluasan tindakan yang mungkin dilakukan untuk mengatasi keadaan darurat
akibat risiko dan komplikasi tersebut atau keadaan tak terduga lainnya
c Alternatif tindakan lain dan risikonya
d Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi
Risiko dan komplikasi yang sudah menjadi pengetahuan umum
Risiko dan komplikasi yang sangat jarang terjadi atau dampaknya sangat ringan
Risiko dan komplikasi yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya
e Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan, meliputi:
Prognosis tentang hidup-matinya
Prognosis tentang fungsinya
Prognosis tentang kesembuhan
f Perkiraan pembiayaan

Kapan Persetujuan Tindakan Medis dilakukan:


a Dalam setiap tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien
b Setiap tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi
c Dalam hal terdapat indikasi kemungkinan perluasan tindakan kedokteran yang tidak
terdapat indikasi sebelumnya untuk menyelamatkan jiwa pasien

Yang berhak memberikan persetujuan


Pasien yang kompeten atau keluarga terdekat suami atau isteri, ayah atau ibu kandung,
anak-anak kandung, saudara-saudara kandung atau pengampunya

Tata cara pemberian persetujuan:


a Semua tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat
persetujuan secara tertulis atau lisan dan diberikan setelah pasien mendapat
penjelasan yang diperlukan tentang perlunya tindakan kedokteran yang dilakukan
b Setiap tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi harus memperoleh
persetujuan tertulis yang tertuang dalam formulir khusus yang ditanda tangani oleh
yang berhak memberikan persetujuan
c Dalam keadaan gawat darurat untuk menyelamatkan jiwa pasien dan / atau mencegah
kecacatan tidak diperlukan tindakan keokteran

19
d Tindakan penghentian / penundaan bantuan hidup pada seorang pasien harus
mendapat persetujuan keluarga terdekat pasien setelah mendapat penjelasan dari tim
dokter yang bersangkutan
e Persetujuan tindakan kedokteran dapat dibatalkan atau ditarik kembali oleh yang
memberi persetujuan secara tertulis sebelum dimulainya tindakan
Penolakan Tindakan Kedokteran
a Penolakan tindakan kedokteran dapat dilakukan oleh pasien dan / atau keluarga
terdekatnya setelah menerima penjelasan tentang tindakan kedokteran yang akan
dilakukan. Penolakan tindakan kedokteran tersebut dilakukan secara tertulis
b Akibat penolakan tindakan kedokteran menjadi tanggung jawab pasien
c Penolakan tindakan-tindakan kedokteran tidak memutuskan hubungan dokter dan
pasien
Tanggung Jawab
a Pelaksanaan tindakan kedokteran yang telah mendapat persetujuan menjadi tanggung
jawab dokter atau dokter gigi yang melakukan tindakan kedokteran
b Sarana pelayanan kesehatan bertanggung jawab atas pelaksanaan persetujuan
tindakan kedokteran

Skema Pelaksanaan Informed Consent

Pasien Dokter

Informasi

Mempertimbangkan / memutuskan

SETUJU MENOLAK

Penandatanganan Form persetujuan Penandatanganan Form penolakan

Ketentuan Informed Consent

Ketentuan persetujuan tidakan medik berdasarkan SK Dirjen Pelayanan Medik


No.HR.00.06.3.5.1866 Tanggal 21 April 1999, diantaranya:
1 Persetujuan atau penolakan tindakan medik harus dalam kebijakan dan prosedur (SOP) dan
ditetapkan tertulis oleh pimpinan RS.
2 Memperoleh informasi dan pengelolaan, kewajiban dokter
3 Informed Consent dianggap benar:

20
a Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan untuk tindakan medis yang
dinyatakan secara spesifik.
b Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan tanpa paksaan (valuentery)
c Persetujuan dan penolakan tindakan medis diberikan oleh seseorang (pasien) yang
sehat mental dan memang berhak memberikan dari segi hukum
d Setelah diberikan cukup (adekuat) informasi dan penjelasan yang diperlukan
4 Isi informasi dan penjelasan yang harus diberikan :
a Tentang tujuan dan prospek keberhasilan tindakan medis yang ada dilakukan
(purhate of medical procedure)
b Tentang tata cara tindakan medis yang akan dilakukan (consenpleated medical
procedure)
c Tentang risiko
d Tentang risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi
e Tentang alternatif tindakan medis lain yang tersedia dan risiko risikonya
(alternative medical procedure and risk)
f Tentang prognosis penyakit, bila tindakan dilakukan
g Diagnosis
5 Kewajiban memberi informasi dan penjelasan
a Dokter yang melakukan tindakan medis tanggung jawab
b Berhalangan diwakilkan kepada dokter lain, dengan diketahui dokter yang
bersangkutan
6 Cara menyampaikan informasi
a Lisan
b Tulisan
7 Pihak yang menyatakan persetujuan
a Pasien sendiri, umur 21 tahun lebih atau telah menikah
b Bagi pasien kurang 21 tahun dengan urutan hak :
Ayah/ibu kandung
Saudara saudara kandung
c Bagi pasien kurang 21 tahun tidak punya orang tua/berhalangan, urutan hak :
Ayah/ibu adopsi
Saudara-saudara kandung
Induk semang
d Bagi pasien dengan gangguan mental, urutan hak :
Ayah/ibu kandung
Wali yang sah
Saudara-saudara kandung
e Bagi pasien dewasa dibawah pengampuan (curatelle) :
Wali
Kurator
f Bagi pasien dewasa telah menikah/orangtua
Suami/istri
Ayah/ibu kandung
Anak-anak kandung
Saudara-saudara kandung
8 Cara menyatakan persetujuan
a Tertulis; mutlak pada tindakan medis resiko tinggi
b Lisan; tindakan tidak beresiko

21
9 Jenis tindakan medis yang perlu informed consent disusun oleh komite medik ditetapkan
pimpinan RS.
10 Tidak diperlukan bagi pasien gawat darurat yang tidak didampingi oleh keluarga
pasien.
11 Format isian informed consent persetujuan atau penolakan
a Diketahui dan ditandatangani oleh kedua orang saksi, perawat bertindak sebagai
salah satu saksi
b Materai tidak diperlukan
c Formulir asli harus dismpan dalam berkas rekam medis pasien
d Formulir harus ditandatangan 24 jam sebelum tindakan medis dilakukan
e Dokter harus ikut membubuhkan tanda tangan sebagai bukti telah diberikan
informasi
f Bagi pasien/keluarga buta huruf membubuhkan cap jempol ibu jari tangan
kanannya
12 Jika pasien menolak tandatangan surat penolakan maka harus ada catatan pada rekam
medisnya.

Aspek Hukum dan Sanksi


1 Pasal 1320 KUHPerdata syarat syahnya persetujuan
o Sepakat mereka yang mengikatkan diri
o Kecakapan untuk berbuat suatu perikatan
o Suatu hal tertentu
o Suatu sebab yang halal
2 Pasal 1321 tiada sepakat yang syah apabila sepakat itu diberikan karena kehilafan atau
diperlukan dengan paksaan atau penipuan
3 KUHPidana pasal 351
o Penganiayaan dihukum dengan hukum penjara selama-lamanya dua tahun
delapan bulan.
o Menjadikan luka berat hukum selama-lamanya 5 tahun (KUHP 20)
o Membuat orang mati hukum selam-lamanya 7 tahun (KUHP 338)
4 UU No. 23/1992 tentang kesehatan pasal 53
o Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan
tugas sesuai dengan profesinya
o Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi
standar profesi dan menghormati hak pasien
o Hak pasien antara lain ; hak informasi, hak untuk memberikan persetujuan, hak
atas rahasia kedokteran dan hak atas pendapat kedua (second opinion).
5 UU No. 29/2004 tentang Praktik Kedokteran pasal 45 ayat (1), (2), (3), (4), (5,) (6).
Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau
dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan
6 Permenkes No. 585/1989 tentang persetujuan tindakan medis.
Dokter melakukan tindakan medis tanpa informed consent dari pasien atau
keluarganya saksi administratif berupa pencabutan surat ijin prakteknya.

3. Memahami dan Menjelaskan Rekam Medis

Definisi

22
Rekam Medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas
pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan
kepada pasien (Permenkes No.269/Menkes/Per/III/2008)

Tujuan Rekam Medis


Untuk menunjang tercapainya tertib administrasi dalam rangka upaya peningkatan
pelayanan kesehatan . Tanpa didukung suatu siste pengelolaan rekam medis yang baik
dan benar , maka tertib administrasi tidak akan berhasil.

Manfaat Rekam Medis


Dalam kepustakaan dikatakan bahwa rekam medis memiliki 6 manfaat, yang untuk
mudahnya disingkat sebagai ALFRED, yaitu:

A: Administrative Value: Rekam medis merupakan data administratif pelayanan


kesehatan
L: Legal Value: Rekam medis dapat dijadikan bahan pembuktian di pengadilan
F: Financial Value: Rekam medis dapat dijadikan dasar untuk perincian biaya pelayanan
kesehatan yang harus dibayar oleh pasien
R: Research Value: Data rekam medis dapat dijadikan bahan untuk penelitian dalam
lapangan kedokteran, keperawatan dan kesehatan
E: Education Value: Data-data dalam rekam medis dapat bahan pengajaran dan
pendidikan mahasiswa kedokteran, keperawatan serta tenaga kesehatan lainnya
D: Documentation Value: Rekam medos merupakan sarana untuk penyimpanan berbagai
dokumen yang berkaitan dengan kesehatan pasien

1. Aspek Administrasi
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai administrasi , karena isinya menyangkut
tindakan berdasarkan wewenang dan tanggung jawab sebagai tenaga mdis dan
perawat dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan
2. Aspek Medis
Catatan tersebut dipergunakan sebagai dasar untuk merencanakan
pengobatan/perawatan yang harus diberikan kepada pasien
Contoh :
- Identitas pasien _ name, age, sex, address, marriage status, etc.
- Anamnesis _ fever _ how long, every time, continuously, periodic???
- Physical diagnosis _ head, neck, chest, etc.
- Laboratory examination, another supporting examination. Etc
3. Aspek Hukum
Menyangkut masalah adanya jaminan kepastian hukum atas dasar keadilan , dalam
rangka usaha menegakkan hukum serta penyediaan bahan tanda bukti untuk
menegakkan keadilan
4. Aspek Keuangan
Isi Rekam Medis dapat dijadikan sebagai bahan untuk menetapkan biaya pembayaran
pelayanan . Tanpa adanya bukti catatan tindakan /pelayanan , maka pembayaran tidak
dapat dipertanggungjawabkan
5. Aspek Penelitian
Berkas Rekam medis mempunyai nilai penelitian, karena isinya menyangkut data /
informasi yang dapat digunakan sebagai aspek penelitian .
6. Aspek Pendidikan

23
Berkas Rekam Medis mempunyai nilai pendidikan, karena isinya menyangkut data /
informasi tentang kronologis dari pelayanan medik yang diberikan pada pasien.
7. Aspek Dokumentasi
Isi Rekam medis menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan dan dipakai
sebagai bahan pertanggungjawaban dan laporan sarana kesehatan

Berdasarkan aspek-aspek tersebut , maka rekam medis mempunyai kegunaan yang


sangat luas yaitu :
Sebagai alat komunikasi antara dokter dengan tenaga kesehatan lainnya yang ikut
ambil bagian dalam memberikan pelayanan kesehatan
Sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan/perawatan yang harus diberikan
kepada seorang pasien
Sebagai bukti tertulis atas segala tindakan pelayanan , perkembangan penyakit dan
pengobatan selama pasien berkunjung/dirawat di Rumah sakit Sebagai bahan yang
berguna untuk analisa , penelitian dan evaluasi terhadap program pelayanan serta
kualitas pelayanan. Contoh: Bagi seorang manajer:
- Berapa banyak pasien yang dating ke sarana kesehatan kita ? baru dan lama ?
- Distribusi penyakit pasien yang dating ke sarana kesehatan kita
- Cakupan program yang nantinya di bandingkan dengan target program
Melindungi kepentingan hukum bagi pasien, sarana kesehatan maupun tenaga
kesehatan yang terlibat
Menyediakan data dan informasi yang diperlukan untuk keperluan pengembangan
program , pendidikan dan penelitian
Sebagai dasar di dalam perhitungan biaya pembayaran pelayanan kesehatan
Menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan serta bahan
pertanggungjawaban dan laporan

Manfaat lainnya:
1. Pengobatan Pasien
Rekam medis bermanfaat sebagai dasar dan petunjuk untuk merencanakan dan
menganalisis penyakit serta merencanakan pengobatan, perawatan dan tindakan medis
yang harus diberikan kepada pasien.
2. Peningkatan Kualitas Pelayanan
Membuat Rekam Medis bagi penyelenggaraan praktik kedokteran dengan jelas dan
lengkap akan meningkatkan kualitas pelayanan untuk melindungi tenaga medis dan
untuk pencapaian kesehatan masyarakat yang optimal.
3. Pendidikan dan Penelitian
Rekam medis yang merupakan informasi perkembangan kronologis penyakit,
pelayanan medis, pengobatan dan tindakan medis, bermanfaat untuk bahan informasi
bagi perkembangan pengajaran dan penelitian di bidang profesi kedokteran dan
kedokteran gigi.
4. Pembiayaan
Berkas rekam medis dapat dijadikan petunjuk dan bahan untuk menetapkan
pembiayaan dalam pelayanan kesehatan pada sarana kesehatan. Catatan tersebut dapat
dipakai sebagai bukti pembiayaan kepada pasien.
5. Statistik Kesehatan
Rekam medis dapat digunakan sebagai bahan statistik kesehatan, khususnya untuk
mempelajari perkembangan kesehatan masyarakat dan untuk menentukan jumlah
penderita pada penyakit-penyakit tertentu.

24
6. Pembuktian Masalah Hukum, Disiplin dan Etik
Rekam medis merupakan alat bukti tertulis utama, sehingga bermanfaat dalam
penyelesaian masalah hukum, disiplin dan etik.

Jenis Rekam Medis


Berdasarkan perkembangannya rekam medis memiliki dua jenis, yaitu konvensional dan
elektronik.
Jenis konvensional merupakan jenis yang masih banyak dipergunakan di setiap rumah
sakit seperti pencatatan secara langsung oleh tenaga kesehatan.
Jenis elektronik merupakan sistem pencatatan informasi dengan menggunakan
peralatan yang modern seperti komputer atau alat elektronik lainnya.

Isi Rekam Medis


a. Isi rekam medis untuk pasien rawat jalan sekurang-kurangnya memuat:
Identitas pasien
Tanggal dan waktu
Hasil anamnesis mencakup sekurang-kurangnya keluhan dan riwayat penyakit
Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medik
Rencana penatalaksanaan
Pengobatan dan / atau tindakan
Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien
Untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odontogram klinik, dan
Persetujuan tindakan bila diperlukan
b. Isi rekam medis untuk pasien rawat inap sekurang-kurangnya memuat:
Identitas pasien
Tanggal dan waktu
Hasil anamnesis mencakup sekurang-kurangnya keluhan dan riwayat penyakit
Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medik
Diagnosis
Rencana penatalaksanaan
Pengobatan dan / atau tindakan
Persetujuan tindakan bila diperlukan
Catatan observasi klinis dan hasil pengobatan
Ringkasan pulang
Nama dan tandatangan dokter, dokter gigi atau tenaga kesehatan tertentu yang
memberikan pelayanan kesehatan
Pelayanan lain yang dilakukan oleh tenaga kesehatan tertentu
Untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odontogram klinik
c. Isi rekam medis untuk pasien gawat darurat sekurang-kurangnya memuat:
Identitas pasien
Kondisi saat pasien tiba di sarana pelayanan kesehatan
Identitas pengantar pasien
Tanggal dan waktu
Hasil anamnesis mencakup sekurang-kurangnya keluhan dan riwayat penyakit
Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medik

25
Diagnosis
Pengobatan dan / atau tindakan
Ringkasan kondisi pasien sebelum meninggalkan pelayanan unit gawat darurat
dan rencana tindak lanjut
Nama dan tandatangan dokter, dokter gigi atau tenaga kesehatan tertentu yang
memberikan pelayanan kesehatan
Sarana transportasi yang digunakan pasien yang akan dipindahkan ke sarana
pelayanan kesehatan lain
Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien

Tata Cara Penyelenggaraan Rekam Medis


a. Setiap dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran wajib membuat
rekam medis dengan segera dan dilengkapi setelah pasien menerima pelayanan
b. Pembuatan rekam medis dilaksanakan melalui pencatatan dan pendokumentasian
hasil pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan
kepada pasien
c. Setiap pencatatan ke dalam rekam medis harus dibubuhi nama, waktu dan
tandatangan dokter, dokter gigi atau tenaga kesehatan tertentu yang memberikan
pelayanan kesehatan secara langsung
d. Dalam hal terjadi kesalahan dalam melakukan pencatatan pada rekam medis dapat
dilakukan pembetulan dan hanya dapat dilakukan dengan cara pencoretan tanpa
menghilangkan catatan yang dibetulkan dan dibubuhi paraf dokter, dokter gigi atau
tenaga kesehatan yang bersangkutan
e. Dokter dan dokter gigi dan atau tenaga kesehatan tertentu bertanggung jawab atas
catatan dan / atau dokumen yang dibuat pada rekam medis
f. Sarana pelayanan kesehatan wajib menyediakan fasilitas yang diperlukan dalam
rangka penyelenggaraan rekam medis
Penyimpanan, Pemusnahan dan Kerahasiaan Rekam Medis
a. Rekam medis pasien rawat inap di rumah sakit wajib disimpan sekurang-kurangnya
untuk jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung dari tanggal terakhir pasien berobat atau
dipulangkan dan setelah batas waktu terlampaui rekam medis dapat dimusnahkan
kecuali ringkasan pulang dan persetujuan medis
b. Ringkasan pulang dan persetujuan tindakan medis harus disimpan untuk jangka
waktu 10 (sepuluh) tahun terhitung dari tanggal dibuatnya ringkasan tersebut
c. Penyimpanan rekam medis dan ringkasan pulang dilaksanakan oleh petugas yang
ditunjuk oleh pimpinan sarana pelayanan kesehatan
d. Rekam medis pada sarana kesehatan non rumah sakit wajid disimpan untuk jangka
waktu 2 (dua) tahun terhitung dari tanggal terakhir pasien berobat dan setelah setelah
itu dapat dimusnahkan
e. Informasi tentang identitas, diagnosis, riwayat penyakit, riwayat pemeriksaan dan
riwayat pengobatan pasien harus dijaga kerahasiaannya oleh dokter, dokter gigi,
tenaga kesehatan tertentu, petugas pengelola dan pimpinan sarana pelayanan
kesehatan

26
f. Informasi tentang identitas, diagnosis, riwayat penyakit, riwayat pemeriksaan dan
riwayat pengobatan dapat dibuka dengan permintaan secara tertulis kepada pimpinan
sarana pelayanan kesehatan, dalam hal:
Untuk kepentingan kesehatan pasien
Memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum
atas permintaan pengadilan
Permintaan dan atau persetujuan pasien sendiri
Permintaan institusi / lembaga berdasarkan ketentuan perundang-undangan
Utuk kepentingan penelitian, pendidikan dan audit medis sepanjang tidak
menyebutkan identitas pasien
g. Penjelasan isi rekam medis hanya boleh dilakukan oleh dokter atau dokter gigi yang
merawat pasien dengan izin tertulis pasien atau berdasarkan peraturan perundang-
udangan
h. Pimpinan sarana pelayaan kesehatan dapat menjelaskan isi rekam medis secara
tertulis atau langsung kepada permohonan tanpa izin pasien berdasarkan peraturan
perundang-undangan
Kepemilikan, Pemanfaatan dan Tanggungjawab dalam Pelaksanaan Rekam Medis
a. Berkas rekam medis milik sarana pelayanan kesehatan
b. Isi rekam medis dalam bentuk ringkasan rekam medis merupakan milik pasien
c. Ringkasan rekam medis dapat diberikan, dicatat atau dicopy oleh pasien atau orang
yang diberi kuasa atau atas persetujuan tertulis pasien atau keluarga pasien yang
berhak untuk itu
Aspek Hukum dan Sanksi
Rekam medis dalam Undang-undang No.29 Tahun 2004 Tentang Praktik
Kedokteran
Pasal 46
(1) Setiap dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran wajib
membuat rekam medis.
(2) Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus segera dilengkapi
setelah pasien selesai menerima pelayanan kesehatan.
(3) Setiap catatan rekam medis harus dibubuhi nama, waktu, dan tanda tangan
petugas yang memberikan pelayanan atau tindakan.

Pasal 47
(1) Dokumen rekam medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 merupakan milik
dokter, dokter gigi, atau sarana pelayanan kesehatan, sedangkan isi rekam medis
merupakan milik pasien.
(2) Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disimpan dan dijaga
kerahasiaannya oleh dokter atau dokter gigi dan pimpinan sarana pelayanan kesehatan.
(3) Ketentuan mengenai rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2) diatur dengan Peraturan Menteri.

4. Memahami dan Menjelaskan Malpraktik dalam Sudut Pandang Islam


Malpraktek adalah tindakan yang salah dalam pelaksanaan suatu profesi. Istilah ini bisa
dipakai dalam berbagai bidang, namun lebih sering dipakai dalam dunia kedokteran dan
kesehatan. Perlu diketahui bahwa kesalahan dokter atau profesional lain di dunia medis

27
kadang berhubungan dengan etika/akhlak. Malpraktek juga kadang berhubungan dengan
disiplin ilmu kedokteran.

Bentuk-bentuk malpraktek:
a. Tidak punya keahlian (jahil)
Melakukan praktek pelayanan kesehatan tanpa memiliki keahlian, baik tidak
memiliki keahlian sama sekali dalam bidang kedokteran, atau memiliki sebagian
keahlian tapi bertindak diluar keahliannya. Orang yang tidak memiliki keahlian di
bidang kedokteran kemudian nekat membuka praktek, telah disinggung oleh Nabi
SAW dalam sabda beliau:



Barang siapa yang mengobati orang sakit dan sebelumnya tidak diketahui memiliki
keahlian, maka ia bertanggung jawab (HR. Abu Dawud no.4575, an-Nasai no.4845
dan Ibnu Majah no. 3466. Hadits hasan. Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no.
635)

Kesalahan ini sangat berat, karena menganggap remeh kesehatan dan nyawa banyak
orang, sehingga para Ulama sepakat bahwa Mutathabbib (pelaku pengobatan yang
bukan ahlinya) harus bertanggung jawab jika timbul masalah dan harus dihukum agar
jjera dan menjadi pelajaran bagi orang lain

b. Menyalahi prinsip-prinsip ilmiah (mukhalafatul ushul al-ilmiyyah)


Yang dimaksud dengan prinsip ilmiah adalah dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang
telah baku dan biasa dipakai oleh para dokter, baik secara teori maupun praktek, dan
harus dikuasai oleh dokter saat menjalani profesi kedokteran.
c. Ketidaksengajaan (khatha)
Adalah suatu tindakan / kejadian tanpa ada maksud pelaku dalam melakukannya.
Misalnya, tangan dokter bedah terpeleset sehingga ada anggota tubuh pasien yang
terluka. Bentuk malpraktek ini tidak membuat pelakunya berdosa, tapi ia harus
bertanggung jawab terhadap akibat yang ditimbulkan sesuai dengan yang telah
digariskan Islam dalam bab jinayat, karena ini termasuk jinayat khatha (kejahatan
tidak sengaja)
d. Sengaja menimbulkan bahaya (itidd)
Maksudnya adalah membahayakan pasien dengan sengaja. Ini adalah bentuk
malpraktek yang paling buruk. Biasanya pembuktiannya dilakukan dengan
pengakuan pelaku, meskipun juga faktor kesengajaan ini dapat diketahui melalui
indikasi-indikasi kuat yang menyertai terjadinya malpraktek yang sangat jelas.
Pembuktian Malpraktek
Agama Islam mengajarkan bahwa tuduhan harus dibuktikan. Demikian pula, tuduhan
malpraktek harus diiringi dengan bukti, dan jika terbukti harus ada pertanggungjawaban
dari pelakunya. Ini adalah salah satu wujud keadilan dan kemuliaan ajaran Islam. Jika
tuduhan langsung diterima tanpa bukti, dokter dan paramedis terzhalimi, dan itu bisa
membuat mereka meninggalkan profesi mereka, sehingga akhirnya membahayakan
kehidupan umat manusia. Sebaliknya, jika tidak ada pertanggungjawaban atas tindakan
malpraktek yang terbukti, pasien terzhalimi, dan para dokter bisa jadi berbuat seenak
mereka. Dalam dugaan malpraktek, seorang hakim bisa memakai bukti-bukti yang diakui
oleh syariat sebagai berikut:

28
a. Pengakuan pelaku malpraktek (iqrar).
Iqrar adalah bukti yang paling kuat, karena merupakan persaksian atas diri sendiri,
dan ia lebih mengetahuinya. Apalagi dalam hal yang membahayakan diri sendiri,
biasanya pengakuan ini menunjukkan kejujuran.
b. Kesaksian ( syahadah ).
Untuk pertanggungjawaban berupa qishash dan ta'zir, dibutuhkan kesaksian dua pria
yang adil. Jika kesaksian akan mengakibatkan tanggung jawab materiil, seperti ganti
rugi, dibolehkan kesaksian satu pria ditambah dua wanita. Adapun kesaksian dalam
hal-hal yang tidak bisa disaksikan selain oleh wanita, seperti persalinan, dibolehkan
persaksian empat wanita tanpa pria. Di samping memperhatikan jumlah dan
kelayakan saksi, hendaknya hakim juga memperhatikan bahwa saksi tidak memiliki
tuhmah (kemungkinan mengalihkan tuduhan malpraktek dari diri pelaku).
c. Catatan medis.
Yaitu catatan yang dibuat oleh dokter dan paramedis, karena catatan tersebut dibuat
agar bisa menjadi referensi saat dibutuhkan. Jika catatan ini valid, ia bisa menjadi
bukti yang sah.

Bentuk tanggung jawab malpraktek


Jika tuduhan malpraktek telah dibuktikan, ada beberapa bentuk tanggung jawab yang
dipikul pelakunya. Bentuk-bentuk tanggung-jawab tersebut adalah sebagai berikut:
a. Qishash
Qishash ditegakkan jika terbukti bahwa dokter melakukan tindak malpraktek sengaja
untuk menimbulkan bahaya (i'tida'), dengan membunuh pasien atau merusak anggota
tubuhnya, dan memanfaatkan profesinya sebagai pembungkus tindak kriminal yang
dilakukannya. Ketika memberi contoh tindak kriminal yang mengakibatkan qishash,
Khalil bin Ishaq al-Maliki mengatakan: "Misalnya dokter yang menambah (luas area
bedah) dengan sengaja.
b. Dhaman (tanggung jawab materiil berupa ganti rugi atau diyat)
Bentuk tanggung-jawab ini berlaku untuk bentuk malpraktek berikut:
Pelaku malpraktek tidak memiliki keahlian, tapi pasien tidak mengetahuinya, dan
tidak ada kesengajaan dalam menimbulkan bahaya.
Pelaku memiliki keahlian, tapi menyalahi prinsip-prinsip ilmiah.
Pelaku memiliki keahlian, mengikuti prinsip- prinsip ilmiah, tapi terjadi kesalahan
tidak disengaja.
Pelaku memiliki keahlian, mengikuti prinsip- prinsip ilmiah, tapi tidak mendapat ijin
dari pasien, wali pasien atau pemerintah, kecuali dalam keadaan darurat.
c. Ta'zir berupa hukuman penjara, cambuk, atau yang lain.
Ta'zir berlaku untuk dua bentuk malpraktek:
Pelaku malpraktek tidak memiliki keahlian, tapi pasien tidak mengetahuinya, dan
tidak ada kesengajaan dalam menimbulkan bahaya.
Pelaku memiliki keahlian, tapi menyalahi prinsip-prinsip ilmiah.

Pihak yang bertanggung jawab


Tanggung-jawab dalam malpraktek bisa timbul karena seorang dokter melakukan
kesalahan langsung, dan bisa juga karena menjadi penyebab terjadinya malpraktek secara
tidak langsung. Misalnya, seorang dokter yang bertugas melakukan pemeriksaan awal
sengaja merekomendasikan pasien untuk merujuk kepada dokter bedah yang tidak ahli,

29
kemudian terjadi malpraktek. Dalam kasus ini, dokter bedah adalah adalah pelaku
langsung malpraktek, sedangkan dokter pemeriksa ikut menyebabkan malpraktek secara
tidak langsung.
Jadi, dalam satu kasus malpraktek kadang hanya ada satu pihak yang bertanggung-
jawab. Kadang juga ada pihak lain lain yang ikut bertanggung-jawab bersamanya.
Karenanya, rumah sakit atau klinik juga bisa ikut bertanggung-jawab jika terbukti teledor
dalam tanggung-jawab yang diemban, sehingga secara tidak langsung menyebabkan
terjadinya malpraktek, misalnya mengetahui dokter yang dipekerjakan tidak ahli.

DAFTAR PUSTAKA

AbouZahr1, Carla & Boerma1,Ties. Health information systems: the foundations of public
health in Bulletin of the World Health Organization August 2005, 83 (8)

Buku Panduan HAM bagi Pasien dan Dokter untuk Mencegah Malpraktek, Diakses dari:
http://www.balitbangham.go.id/index/images/judul_pdf/sipol/pengembangan/2008/malprakte
k.pdf

Chadha,P.Vijay.1995.Ilmu Forensik dan Toksikologi.Jakarta:Widya Medika Indonesia.

Hanafiah MJ, Amir Amri. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan Edisi 3. Jakarta: EGC .
1998

Malpraktek Dalam Kajian Hukum Pidana, Diakses


dari:http://eprints.undip.ac.id/20768/1/2380-ki-fh-98.pdf

Malpraktek Medik, Diakses dari:


http://elib.fk.uwks.ac.id/asset/archieve/matkul/Forensik/MALPRAKTEK%20MEDIK.pdf

Malpraktek Menurut Syariat Islam, Diakses dari:


http://almanhaj.or.id/content/2836/slash/0/malpraktek-menurut-syariat-islam/

National Cancer Institute. A Guide to Understanding Informed Consent. Available


at:wwww.cancer.gov/ClinicalTrials

30