Anda di halaman 1dari 19

ABSTRAK

Pendahuluan : Sejarah dan perkembangan teknik laparoskopi serta masalah-masalah potensial yang
mungkin terjadi.

Tujuan: pengkajian masalah-masalah potensial yang mungkin terjadi pada laparoskopi sangat penting
bagi ahli anestesi untuk dapat memberikan anestesi yang optimal pada pasien.

Metode : Membandingkan hasil-hasil penelitian serta kepustakaan yang memperlihatkan keuntungan


untuk pememilihan teknik anestesi regional dibandingkan dengan anestesi umum pada laparoskopi.

Kesimpulan : Keselamatan pasien dan kebutuhan pembedahan akan teknik anestesi yang optimal dan
mampu memfasilitasi perubahan kardiopulmoner serta dapat mengantisipasi komplikasi yang
mungkin terjadi merupakan hal penting dalam pemilihan teknik anestesi umum atau regional.

Kata Kunci : Laparoskopi, anestesi regional

1
BAB I

PENDAHULUAN

Teknik laparoskopi klinik pertama kali dilakukan oleh H. Jacobaeus pada tahun 1910. Mulai
tahun 1970an, seiring dengan berkembangnya teknologi dan tersedianya peralatan yang aman dan
memadai memungkinkan dikembangkannya laparoskopi ginekologi secara rutin. Laparoskopi
appendiktomi perama kali dilakukan oleh Semm pada tahun 1983 dan laparoskopi kolesitektomi
pertama kali dilakukan oleh Muhe pada tahun 1985. Sejak saat itu, konsep pembedahan invasif
minimal berkembang dengan pesat, meliputi berbagai tindakan pembedahan, dan menjadi prosedur
standar di bidang pembedahan tertentu. (Schellpfeffer, 2006)

Di Indonesia, teknik bedah laparoskopi mulai dikenal di awal 1990-an ketika tim dari RS
Cedar Sinai California AS mengadakan live demo di RS Husada Jakarta. Selang setahun kemudian,
Dr Ibrahim Ahmadsyah dari RS Cipto Mangunkusumo melakukan operasi laparoskopi pengangkatan
batu dan kantung empedu (Laparoscopic Cholecystectomy) yang pertama. Sejak 1997, Laparoscopic
Cholecystectomy menjadi prosedur baku untuk penyakit-penyakit kantung empedu di beberapa rumah
sakit besar di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia. (Imadeharyoga, 2008)

Laparoskopi, dalam beberapa tahun terakhir menjadi suatu prosedur yang umum dalam
praktek klinik. Pada mulanya laparoskopi banyak dilaksanakan oleh bagian obstetri dan ginekologi
dimana banyak dilakukan laparoskopi sterilisasi dan tindakan diagnostik singkat. Umumnya tindakan
ini dikukan pada pasien muda dan sehat.

Teknik laparoskopi intra abdominal sekarang telah berkembang, bahkan dilakukan pada
pasien-pasien usia tua dan mungkin memiliki penyakit kardiovaskuler dan paru. Tindakan laparoskopi
ini mungkin memerlukan perubahan posisi pasien dan membutuhkan insuflasi karbondioksida intra
abdominal dalam waktu yang cukup lama.

Masalah utama pada laparoskopi berkaitan dengan efek kardiopulmoner akibat


pneumoperitoneum, absorbsi sistemik karbondioksida, insuflasi gas ekstraperitoneal, emboli gas vena,
cedera sutuktur intra abdominal yang tidak disengaja dan posisi pasien. (Joshi, 2002)

Pengkajian masalah-masalah potensial yang mungkin terjadi pada laparoskopi sangat penting
bagi ahli anestesi untuk dapat memberikan anestesi yang optimal pada pasien. Teknik yang tepat dan
fasilitas monitoring selama pembedahan memungkinkan deteksi dini dan pencegahan komplikasi.
Demikian pula upaya untuk pulih sadar yang cepat dan masa rawat inap yang pendek dengan efek

2
residual minimal membutuhkan keahlian tersendiri bagi para ahli anestesi untuk dapat mengelola
pasien-pasien laparoskopi.

Pada referat ini akan dibahas pemilihan teknik anestesi, meliputi anestesi umum dan regional,
dimana mulai berkembang penggunaan teknik anestesi regional pada tindakan laparoskopi.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

TINDAKAN BEDAH DENGAN LAPAROSKOPI

Secara umum tidakan laparoskopi dapat dibagi menjadi intra abdominal dan ginekologi. Beberapa
tindakan yang sering menggunakan teknik laparoskopi : (Michaels, 2005)

a. Intra abdominal
Cholescystectomy
Appendectcomy
Colectomy
Inguinal hernia repair
Adrenalectomy
Nephrectomy
Prostatectomy
Pancreatectomy
Splenectomy
Liver resection

b. Ginekologi
Kehamilan ektopik
Ovarian cystectomy
Pemulihan torsi ovarium
Salphingo-oophorectomy
Hysterectomy
Myomectomy
Lymphadenectomy

KELEBIHAN PROSEDUR LAPAROSKOPI

Dibandingkan dengan pembedahan terbuka, teknik laparoskopi memberikan kelebihan:


(Schellpfeffer, 2006)

Benefit intraoperatif :

4
Berkurangnya stress respon dengan penurunan reaktan fase akut (C-reactive protein dan
interleukin-6)
Berkurangnya repon metabolik dengan berkurangnya hiperglikemia dan leukositosis
Berkurangnya pergeseran cairan
Sistem imun dapat dipertahankan lebih baik
Berkurangnya ekspos dan manipulasi isi abdomen

Benefit pasca operasi :

Berkurangnya nyeri dan kebutuhan akan analgesik post operasi


Fungsi pulmoner lebih baik ( dikaitkan dengan berkurangnya nyeri, berkurangnya atelektasis dan
pemulihan yang lebih cepat )
Kosmetik yang lebih baik dengan insisi kecil
Infeksi yang jarang
Berkurangnya kejadian ileus
Berkurangnya lama rawat inap dan pemulihan aktivitas sehari-hari yang lebih cepat

PROSEDUR LAPAROSKOPI

Langkah utama dari prosedur laparoskopi yang juga paling sering menimbulkan komplikasi operasi
adalah pneumoperitoneum. Karbondioksida (CO 2) melalui jarum Veress, yang secara buta diinsersi
persis di bawah umbilikus ke dalam rongga peritoneum. Setelah memasuki peritoneum, dilakukan
insuflasi gas. Pada awal insuflasi tekanan intraperitoneum tidak boleh melebihi 8-9 mmHg. Insuflasi
ditandai dengan perkusi udara pada abdomen. Tekanan intra abdominal dipertahankan hingga 12-15
mmHg. Kemudian kanul dan trokar diinsersi untuk perlatan pembedahan dan visualisasi dengan
kamera. (Michaels, 2005)

PERUBAHAN FISIOLOGI SELAMA LAPAROSKOPI

Perubahan fisiologi kardiopulmoner selama laparoskopi merupakan suatu masalah yang kompleks dan
tergantung pada interaksi : (Joshi, 2002)

status kardiopulmoner pasien sebelumnya


teknik anestesi
beberapa faktor pembedahan meliputi :
tekanan intra-abdomen

5
absorbsi CO2
posisi pasien
durasi pembedahan

Walaupun perubahan fisiologi dapat ditolerir dengan baik oleh pasien yang sehat, hal ini dapat
memberikan efek yang tidak diharapkan pada pasien usia tua dan dengan kondisi kardiopulmoner
yang terganggu.

PERUBAHAN KARDIOVASKULER

Perubahan hemodinamik yang terjadi selama laparoskopi merupakan akibat dari : (Joshi, 2002)

Pneumoperitoneum
Absorbsi sistemik CO2
Posisi pasien

Penelitian yang menganalisa perubahan kardiovaskuler pada laparoskopi menunjukkan peningkatan


tahanan vaskuler sistemik (SVR), tekanan arteri rata-rata (MAP) dan tekanan pengisian jantung.
Perubahan indeks kardiak dan frekuensi jantung minimal pada pasien sehat. Namun pada pasien
dengan gangguan kardiovaskuler bisa terjadi perubahan yang berat dan mendadak.

Peningkatan SVR disebabkan oleh peningkatan output simpatis dari absorbsi CO 2 dan repon neuro
endokrin akibat pneumoperitoneum. Peningkatan SVR akan meningkatkan tegangan dinding miokard
selanjutnya meingkatkan kebutuhan oksigen miokard. Kompresi organ abdomen (misalnya hepar dan
lien) sebagai akibat meningkatnya tekanan intra-abdomen (IAP) dan peningkatan output simpatis
munkin merupakan salah satu penyebab meningkatnya tekanan pengisian jantung dimana hal ini juga
dapat dikaitkan dengan peningkatan tekanan intrathorakal akibat pneumoperitoneum. (Miller, 2005)

Pneumoperitoneum pada posisi supine (dibandingkan posisi head-down) akan mereduksi perubahan
pada fungsi kardiovaskuler

Efek kardiopulmoner proporsional dengan tingginya IAP selama laparoskopi, dimana perubahan
signifikan terjadi pada tekanan yang lebih besar daripada 12 mmHg. Menurunkan IAP akan dapat
mengurangi resiko potensial perubahan fisiologi.

Perubahan sirkulasi regional dapat terjadi pula selama laparoskopi. Meliputi peningkatan aliran darah
serebral dan tekanan intrakranial, penurunan aliran darah hepar, penurunan sirkulasi gaster yang
menyebabkan penurunan pH intramukosal gaster (menyebabkan penurunan perfusi saluran cerna),
penurunan aliran darah ginjal dan keluaran urine dan penurunan aliran darah femoral yang
meningkatkan resiko terjadinya trombosis vena dalam. Perlu diperhatikan bahwa perubahan sirkulasi
regional ini bisa menimbulkan iimplikasi klinik pada pasien kritis yang menjalani prosedur

6
laparoskopi yang panjang dimana membutuhkan pneumoperitoneum yang lama. (Joshi, 2002; Miller
2005)

PERUBAHAN PULMONER

Peningkatan IAP menekan diafragma ke atas dan menurunkat kapasitas residual fungsional (FRC) dan
komplians total paru, yang menyebabkan atelektasis basal dan peningkatan tekanan pada jalan napas.
Perubahan pulmoner ini akan bertambah pula dengan perubahan posisi dan akan diperberat pada
pasien dengan obesitas dan gangguan fungsi paru. (Joshi, 2002)

KOMPLIKASI LAPAROSKOPI

Komplikasi laparoskopi meliputi hal yang berkaitan dengan instrumentasi pembedahan,


pneumoperitoneum dan posisi pasien.

KOMPLIKASI DARI INSTRUMENTASI PEMBEDAHAN

Akses awal ke dalam rongga peritoneum dilakukan dengan menggunakan jarum Veress yang diinsersi
melalui insisi subumbilikal. Karena insersi dilakukan secara blind, ada kemungkinan terjadi
kekeliruan masuknya jarum ke subkutan, pembuluh darah, viscus, omentum, mesenterium atau
retroperitoneum. Perdarahan yang tidak terkontrol akibat cederanya pembuluh darah besar oleh
instrumen pembedahan dapat menyebabkan hipotensi. Dengan kata lain persarahan yang tersembunyi
dapat diketahui pada masa pasca operasi dengan adanya penurunan hematokrit. Cedera pada kandung
kencing dapat dihindari dengan pengosongan buli atau dengan pemasangan kateter. Insisi
minilaparotomi untuk memasukkan trokar akan mengurangi komplikasi. (Joshi, 2002; Miller 2005)

KOMPLIKASI KARDIOVASKULER

Walaupun jarang, pernah didapatkan kejadian kolaps kardiovaskuler akut selama laparoskopi, dan
mungkin disebabkan oleh reaksi vasovagal yang hebat, disritmia, kehilangan darah akut, disfungsi
miokard, tension pneumothorak, emboli gas pada vena, asidosis respiratorik berat, tamponade
kardiak, IAP yang tinggi dan agen anestesi. Perlu dilakukan evaluasi rutin (kedalaman anestesi dan
volume intravaskuler), IAP tidak boleh lebih dari 15 mmHg. Bila berlebihan perlu dilakukan deflasi
abdomen. Pasien dengan penurunan cardiak output yang signifikan dan SVR yang tiinggi memerlukan
intervensi farmakologis dengan nitrogliserin dan atau agonis -adrenergik untuk mempertahankan
status hemodinamik. (Joshi, 2002; Miller 2005)

7
KOMPLIKASI PULMONER

Perubahan pada pulmoner selama laparoskopi dapat menyebabkan hipoxemia dan hiperkarbi yang
berat. Diagnosis banding dari disfungsi pulmoner meliputi absorbsi CO 2, hipoventilasi (obstruksi jalan
napas, kebocoran pada ventilator atau sirkuit), bertambahnya dead space (berkaitan dengan distensi
abdomen, posisi pasien, ventilasi mekanik), intubasi endobronkial, penurunan cardiac output, emboli
CO2, pneumothorak, pneumomediastinum, pneumoperikardium dan emfisema subkutan. (Joshi, 2002)

TEKNIK ANESTESI PADA LAPAROSKOPI

8
Teknik anestesi yang optimal harus dapat memenuhi kebutuhan pembedahan dan menyesuaikan
dengan perubahan fisiologis yang terjadi selama pembedahan. Peralatan monitoring harus tersedia
untuk dapat mengenali komplikasi sejak dini. Perlu dipertimbangan pula adanya kemungkinan
pembedahan berubah menjadi laparotomi. Demikian pula diupayakan pemulihan yang cepat, efek
samping minimal dan segera kembalinya kemampuan untuk beraktifitas. (Gharaibeh, 1998; Miller
2005)

ANESTESI UMUM

Anestesi umum dengan intubasi endotrakeal dan pelumpuh otot masih menjadi teknik pilihan untuk
berbagai prosedur laparoskopi. Beberapa pertimbangan yang mendukung bahwa teknik tersebut
merupakan teknik yang paling aman untuk laparoskopi adalah : (Tuteja, 2005)

1. Kemungkinan prosedur operasi yang lama


2. Pasien cemas
3. Posisi trendelenburg yang dapat mengganggu respirasi dan sesak pada pasien sadar yang
bernapas spontan dengan penekanan isi abdomen. Demikian pula pada pasien dengan obesitas
4. Pada pasien sadar sulit untuk memasang pipa nasogastrik, yang dibutuhkan untuk mengurangi
resiko aspirasi dan perforasi trokar
5. Kebutuhan akan relaksasi dan paralisa otot. Peningkatan IAP dan terdorongnya diafragma
menyebabkan kesulitan napas spontan. Batuk dapat menyebabkan tekanan negatif pada dada
dan meningkatkan resiko pneumothorak. IAP akan bertambah dan meningkatkan resiko
perforasi oleh instrumen pembedahan. Paralisis otot akan menurunkan IAP sesuai dengan
derajat distensi abdomen. Pemberian ventilasi dengan tekanan positif dengan kontrol
ventilasi akan dapat mempertahankan kondisi normokarbi. Ventilasi dengan tidal volume
yang besar (12-15 ml/kgbb akan mencegah timbulnya atelaktasis dan hipoksemia dan
memberikan ventilasi alveolar serta eliminasi CO 2 yang lebih efektif.

Penggunaan N2O pada laparoskopi masih merupakan kontroversi karena kemampuannya untuk
berdifusi ke dalam lumen saluran cerna, yang dapat menyebabkan distensi dan mengganggu akses
pembedahan. Eger dan Saidman menyatakan bahwa terjadi pelebaran lumen intestinal lebih dari
200% setelah pemberian napas dengan N 2O. Lomie dan Harper melaporkan bahwa kejadian PONV
berkurang dari 49% hingga 17% pada tindakan laparoskopi tanpa penggunaan N 2O.

Pemeliharaan anestesi dengan anestesi inhalasi isofluran, desflurane dan sevoflurane memungkinkan
pemulihan yang cepat dan menjadi pilihan. Halothan meningkatkan resiko terjadinya aritmia
terutama dalam kondisi adanya hiperkarbi. (Gharaibeh, 1998)

ANESTESI LOKAL DAN REGIONAL PADA LAPAROSKOPI

9
Tindakan laparoskopi yang singkat seperti pada laparoskopi diagnostik, pain mapping, laparoskopi
untuk infertilitas dan ligasi tuba dapat dilakukan dengan anestesi lokal atau regional. Prosedur ini
mulai sering digunakan. Regional anestesi dikatakan memiliki kelebihan akan : (Joshi, 2002)
1. Pulih sadar yang cepat
2. Mengurangi insidensi PONV
3. Nyeri pasca operasi yang rendah
4. Rawat inap lebih singkat

Beberapa kondisi yang menjadi alasan pemilihan teknik anestesi regional pada laparoskopi adalah bila
anestesi umum tidak direkomendasikan, yaitu dalam hal :

1. Pasien menolak
2. Prediksi sulit intubasi
3. Alergi terhadap obet anestesi (khususnya curare)
4. Untuk melindungi pita suara (misalnya pada penyanyi)
5. Pada kasus tertentu dimana ahli bedah ingin berkomunikasi dengan pasien untuk pengambilan
keputusan tindakan selama operasi

Pada kasus-kasus tersebut diatas perlu adanya komunikasi yang baik antara operator dan ahli anestesi
akan kepentingan anestesi, prosedur operasi dan kemungkinan dilakukannya anestesi umum bila
anestesi regional yang dilakukan tidak maksimal. (P. Schoeffler, 2005)

ANESTESI LOKAL

Deeb dan kawan-kawan pernah sukses menggunakan teknik irigasi peritoneal dengan Lidokain 0,5 %
dengan sedasi dalam pada tindakan laparoskopi ligasi tuba. Teknik ini mungkin dilakukan, namun
memerlukan kecepatan dan ketrampilan teknik pembedahan serta kerja sama yang baik dari pasien. (P.
Schoeffler, 2005)

Anestesi lokal memberikan beberapa keuntungan, pemulihan yang cepat, kejadian PONV yang
rendah, diagnosis dini terhadap komplikasi dan perubahan hemodinamik minimal. Namun perlu
diingat bahwa teknik ini akan menimbulkan kecemasan, nyeri dan rasa tidak nyaman pada manipulasi
organ pelvis dan abdomen. Lokal anestesi harus disertai dengan pemberian obat-obatan sedasi
intravena. Kombinasi efek pneumoperitonum dan sedasi akan menyebabkan hipoventilasi dan
desaturasi oksigen arterial. Insuflasi gas IAP harus diatur serendah mungkin agar dapat mengurangi
rasa nyeri dan gangguan ventilasi bila memungkinkan tekanan insuflasi harus lebih rendah daripada
10-12 mmHg . (Miller, 2005)

Laparoskopi untuk ligasi tuba sebenarnya dapat dilakukan dengan anestesi lokal, namun tidak banyak
ahli laparoskopi yeng memilih teknik anestesi ini. Prosedur laparoskopi lain yang memerlukan banyak
lokasi tusukan, pertimbangan manipulasi organ, posisi kemiringan yang ekstrim dan

10
pneumoperitoneum yang besar yang menyebabkan gangguan ventilasi pasien, ketidak nyamanan
sebaiknya tidak dilakukan dengan anestesi lokal. (Miller, 2005)

Rongga intraperitoneal dikatakan efektif untuk analgesia postoperatif dengan kombinasi pemberian
meperidine 50 mg intraperitoneal dan 80 mg bupivacaine 0,125% intraperitoneal dengan epinephrine
1:200.000 untuk laparoskopi ginekologi, namun untuk laparoskopi kolesistektomi yang memerlukan
waktu lebih lama dan diseksi jaringan yang lebih besar hal ini dinyatakan kurang baik (Ng, 2002)

ANESTESI REGIONAL

Teknik anestesi regional, baik epidural maupun spinal, dikombinasikan dengan posisi kepala lebih
rendah dapat digunakan untuk laparoskopi ginekologi tanpa gangguan bermakna pada ventilasi.
Secara umum, anestesi epidural dan spinal memberikan keuntungan dan kerugian yang sebanding.
Anestesi regional memberikan keuntungan kebutuhan obat sedasi dan narkotika minimal, relaksasi
lebih baik. Respon metabolik yang ditimbulkan akan lebih rendah pada anestesi regional. Prosedur
laparoskopi dengan teknik anestesi rogional sebaiknya tidak digunakan pada tindakan yang
membutuhkan waktu lama dan keberhasilan teknik hal ini sangat dipengaruhi kondisi pasien yang
kooperatif, ahli laparoskopi yang terlatih dan berpengalaman, IAP dan kemiringan yang rendah.
(Miller, 2005)

Nyeri bahu akibat iritasi diafragma dan ketidaknyamanan karena distensi abdomen tidak dapat diatasi
secara penuh dengan teknik epidural murni. Laparoskopi membutuhkan blok sensorik yang cukup
luas (T4-L5) dan mungkin dapat menyebabkan ketidaknyamanan. Pemberian opioid atau clonidine
secara epidural dapat memberikan anestesi yang adekuat.

Efek hemodinamik akibat pneumoperitoneum pada teknik anestesi epidural belum dipelajari secara
mendalam. Walaupun blok simpatis dapat memfasilitasi timbulnya reflek vagal, vasodilatasi dan
penghindaran pemberian ventilasi tekanan positif dapat mengurangi terjadinya perubahan-perubahan
kardiovaskuler pada pneumoperitoneum. (Miller, 2005)

Selain adanya resiko kegagalan dan potensi toksisitas akan obat anestesi lokal, penggunaan teknik
epidural pada laparoskopi memerlukan perhatian pada problem-problem berikut : (P. Schoeffler,
2005)

1. Level blok sensorik antara T4 dan L5 umumnya diperlukan untuk memperoleh kualitas blok
yang baik. Nyeri perut akibat iritasi peritoneum yang mungkin ditimbulkan oleh
pneumoperitoneum memerlukan blok hingga setinggi T4.
2. Blok simpatis setinggi T4-L5, pnumoperitoneum (dapat menyebabkan kompresi vena cava
bila tekanan insuflasi gas mencapai 10 mmHg atau lebih) dan posisi pasien dapat
menyebabkan penurunan venous return dan cardiac output.

11
3. Anestesi regional secara teoritis berkaitan dengan perubahan pada respirasi. Blokade sensorik
T4-L5 akan diikuti paralisis otot intercostal dalam berbagai tingkat. Adanya
pneumoperitoneum dan posisi pasien menyebabkan diafragma terdorong. Perubahan-
perubahan ini, termasuk pemberian sedasi yang kadang dilakukan akan menyebabkan
hiperkapnea dengan resiko terjadinya hipoksia. Pemberian oksigen pada pasien dengan napas
spontan harus selalu dicermati.
4. Poin penting dari anestesi regional pada laparoskopi adalah bagaimana menerapkan teknik
regional ini mulai dari lamanya pemasangan alat, monitoring dan kontak dengan pasien
dengan prosedur laparoskopi itu sendiri sehingga waktu operasi secara keseluruhan selesai
dalam waktu yang relatif singkat rata-rata 30-90 menit rata-rata.

Keberhasilan pemilihan teknik regional untuk laparoskopi sangat tergantung pada beberapa hal :
(Whelan, 2006)
1. Pasien bersedia dan kooperatif
2. Tidak ada kontraindikasi, meliputi
a. Hipovolemi
b. Gangguan perdarahan
c. Infeksi pada daerah puncture
d. Gagguan saraf perifer
e. Alergi obat anestesi lokal
f. Gangguan pulmoner berat
3. Lamanya tindakan laparoskopi
4. Keahlian dan pengalaman ahli anestesi dan bedah

Pamela dan kawan-kawan (2002) membandingkan teknik spinal anestesi selektif (SSA) menggunakan
lidocaine 10 mg dan sufentanil 10 g dengan teknik anestesi umum menggunakan desfluran dan N 2O
(DES) pada pasien yang menjalani laparoskopi ginekologi berdurasi singkat pada unit rawat jalan.
Data demografis kedua grup hampir sama, dapat dilihat pada tabel berikut : (Lennox, 2002)

12
Pada grup SSA, anestesi spinal dilakukan pada posisi duduk, insersi jarum midline pada L3-4 atau L4-
5 dengan jarum spinal Whitacre 27 G. Obat anestesi lokal yang digunakan adalah lidocaine 1 % 10
mg dan sufentanil 10 g. Saat insuflasi CO 2 pasien diposisikan Trendelenburg untuk meminimalisasi
iritasi diafragma dan nyeri bahu akibat pneumoperitoneum. Kecemasan dan rasa tidak nyaman pada
abdomen atau bahu diterapi dengan midazolam 1 mg dan fentanyl 25-50 g IV.
Pada kelompok anestesi umum (DES) digunakan induksi propofol 2 mg/kg IV dan fentanyl 2 g/kg
IV. Fasilitasi intubasi trakeal dengan mivacurium 0,15 mg/kg IV dan 4 % lidocaine 160 mg diberikan
intratracheal diberikan sebelum intubasi. Pemeliharaan anestesi dengan desflurane 2%-6% dengan
kombinasi N2O 65 % dalam O2 dititrasi. Ventilasi dilakukan secara mekanik. Mivacurium 0,04 mg/kg
diberikan untuk pemeliharaan. Bila
diperlukan dilakukan reversal
dengan neostigmin dan glikopirolat. Pada
kedua teknik ini kondisi pembedahan
dinilai oleh ahli bedah.
Di Post Anesthesia Care Unit (PACU),
nyeri postoperatif dikelola dengan
fentanyl 25 g IV dan atau codeine 30-60
mg IM. Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) dikelola dengan dolasetron 50 mg IV.
Hasil penilaian (tabel 3) kondisi pembedahan dikatakan good hingga excellent pada 9 dari 10 kasus
pada grup SSA dan 10 dari 10 kasus pada DES. Tiga pasien mengeluhksn rasa tidak nyaman pada

13
bahu dan dua diantaranya mendapat tambahan fentanyl IV. Hasil penilaian dengan skor Aldrete
menunjukkan grup SSA lebih baik secara bermakna dibandingkan dengan grup DES tabel 4). Nyeri
post operatif tidak didapatkan pada grup SSA, sebaliknya didapatkan pada 5 pasien grup DES. PONV
ringan hingga sedang dijumpai pada 3 pasien grup SSA. Tidak ada perbedaan bermakna dalam hal
lama waktu perawatan di PACU

Dosis lidokain yang digunakan pada penelitian ini lebih kecil daripada dosis konvensional.
Penambahan opioid intratekal dapat
mengatasi resiko blok yang inadekuat
akibat penggunaan dosis kecil lidokain.
Penggunaan lidokain dengan
dosis kecil memungkinkan
status hemodinamik yang
lebih stabil.

Secara umum penelitian ini menyimpulkan bahwa teknik selektif spinal anestesi dapat memberikan
kondisi pembedahan yang cukup baik dan pemulihan yang baik pula untuk tindakan laparoskopi
ginekologi. (lennox, 2002)

14
Van Zundert dan kawan-kawan melaporkan pernah dilakukan anestesi dengan teknik kombinasi spinal
epidural (combined spinal epidural (CSE)) pada pasien dengan penyakit paru obstruktif menahun
yang menjalani operasi laparoskopi kolesistektomi. Blok dilakukan dengan insersi jarum CSE pada
ruang interspinosum setinggi vertebra thoracal ke 10, dengan bupivacaine murni 0,5% 1,0 ml dan
sulfentanil 2,5 mg (0,5ml). Sebelumnya tidak diberikan premedikasi dan tidak diberikan pula
tambahan obat sedasi dan analgesik selama operasi. Bupivacaine 1,25 mg/ml dengan sulfentanil 1
mg/ml diberikan melalui infus epidural kontinyu, dimulai dengan pemberian sebanyak 5 ml/jam pada
saat akhir operasi dan diteruskan hingga 2 hari. Dilaporkan terjadi penurunan tensi dari 122/84 hingga
82/67 mmHg dan denyut jantung dari 80 hingga 50 kali per menit, namun tanpa diikuti kejadian
muntah dan berespon baik pada pemberian ephedrin 10 mg. Blok sensorik terjadi setinggi T3 hingga
L2 namun tanpa blok motorik dan distress repiratorik. Operasi berlangsung selama 43 menit, dan
berakhir tanpa ada perubahan pada fungsi pulmoner. Pasien kembali ke rumah pada hari keempat
pasca operasi. (Zundert, 2006)

Laporan kasus ini menunjukkan teknik ini dapat diterapkan pada pasien dengan gangguan respirasi
yang berat, meskipun ada kekhawatiran akibat cedera spinal karena lokasi tusukan yang tinggi dan
kemungkinan gangguan respirasi akibat blok saraf thorakal. (Zundert, 2006)

MONITORING PADA LAPAROSKOPI

American Society of Anesthesiologist (ASA) telah menetapkan standar monitoring pada pasien yang
dikelola dengan anestesi lokal, regional maupun umum. Standar tersebut meliputi : (Murray, 2005)

1. Ahli anestesi yang selalu waspada. Hal ini adalah yang paling penting
2. Monitor ventilasi, oksigenasi, sirkulasi dan temperatur tubuh pasien
3. Automated noninvasive blood pressure monitor (NIBP)
4. End-tidal carbondioxide analyzer (capnograph)
5. Probe temperatur (esofageal atau kulit)

Kesalahan pada monitoring dapat disebabkan karena pengukuran yang salah atau false alarm yang
disebabkan oleh elektro kauter dan gerakan, sangat penting untuk secara kontinyu memantau warna
kulit pasien. Mesin-mesin anestesi juga memiliki fungsi analisa konsentrasi gas-oksigen terinspirasi
dan alarm ventilator, hal ini berbeda dan spesifik pada tiap jenis mesin. (Murray, 2005)

Capnography

Capnograph merupakan alat yang paling awal dapat mendeteksi emboli gas vena dari kelima monitor
standar di atas. Hal ini ditandai dengan respon bifasik dengan meningkatnya CO 2 ekspirasi diikuti
penurunan konsentrasi. (Murray, 2005)

15
Pulsatile Oxygen Saturation Monitor (SpO2)

Ahli anestesi harus waspada terhadap hubungan antara perubahan pada monitor dengan
perkembangan pada saat laparoskopi. Penurunan mendadak saturasi oksigen pada saat awal insuflasi
gas ke ruang peritoneal bisa disebabkan emboli gas (tanda lanjut) sedangkan penurunan saturasi pada
saat lebih lanjut dapat disebabkan atelektasis paru basal yang dapat disebabkan tekanan
pneumoperitoneum yang terlalu tinggi atau obtruksi aliran gas.

Penurunan lambat secara kontinyu saturasi oksigen dapat terjadi selama laparoskopi dan dapat diatasi
dengan meningkatkan konsentrasi oksigen inspirasi. Perlu dilakukan analisa untuk mengetahui hal
yang menjadi penyebabnya. (Murray, 2005)

Monitor Penggunaan Pelumpuh Otot

Penggunaan pelumpuh otot pada laparoskopi dengan anestesi umum di perlukan untuk memberikan
relaksasi yang adekuat selama laparoskopi hingga deflasi pneuperitoneum, perlu deketahui dengan
baik waktu, onset dan durasi pemberian obat untuk memungkinkan pemulihan blok neuromuskular
yang cepat. (Murray, 2005)

Produksi Urine

Digunakan untuk monitor dan penghitungan kebutuhan keseimbangan cairan tubuh dan volume
intravaskuler. Pneumoperitoneum menurunkan perfusi korteks dan medula renal yang mengakibatkan
penurunan GFR, ekskresi natrium dan klirens kreatinin. Akumulasi gas pada kantung kateter mungkin
menunjukkan cedera pada kandung kemih. (Murray, 2005)

Stetoskop Prekordial (Esophageal)

Stetoskop prekordial atau esophageal dapat mendeteksi adanya emphysema pembedahan (mediastinal,
subkutis, leher) dengan terdengarnya crackles

Secara umum pemantauan anestesi selama laparoskopi tidak berbeda dengan teknik pembedahan
lainnya. Namun sangat diperlukan pengetahuan akan perubahan fisiologis yang terjadi pada tubuh
untuk memberikan interpretasi yang tepat pada hasil monitoring selama laparoskopi. Hasil monitoring
juga akan menentukan dalam pengambilan keputusan beralihnya teknik regional ke anestesi umum.
(Murray, 2005)

16
BAB III

KESIMPULAN

Seiring dengan kemajuan teknik pembedahan, laparoskopi sekarang telah menjadi pilihan
untuk beberapa prosedur bedah karena mempunyai keuntungan pasca operasi meliputi trauma yang
minimal, nyeri yang minimal, disfungsi paru yang minimal, pulih sadar yang lebih cepat, dan waktu
tinggal di rumah sakit yang lebih singkat. Keselamatan pasien dan kebutuhan pembedahan akan
teknik anestesi yang optimal dan mampu memfasilitasi perubahan kardiopulmoner serta dapat
mengantisipasi komplikasi yang mungkin terjadi merupakan hal penting dalam pemilihan teknik
anestesi umum atau regional. Monitoring selama laparoskopi dan pengelolaan post operatif yang baik
pasca laparoskopi akan memberikan manfaat optimal dari tindakan laparoskopi.

17
DAFTAR PUSTAKA

G, Joshi. 2002. Anesthesia for laparoscopic surgery. Canadian journal of anesthesiology, Volume 49: :
R1R5

H, Gharaibeh. 1998. Anaesthetic management of laparoscopic surgery, Eastern Mediterranean Health


Journal, Volume 4, 1st issue : 185-188

Haryoga. 2008. Anestesi pada laparoskopi cholesistektomi


url: http://imadeharyoga.wordpress.com/2008/06/26/anestesi-pada-laparoskopi-cholesistektomi/

IK, Michaels. 2005. Laparoscopy in :Reed AP, Yudkowitz FS, editors. Clinical case in anesthesia.
Elsevier : 217-23

JL, Joris. 2005. Anesthesia for laparoscopic surgery in Miller: Millers anesthesia, Elsevier Churchil
Livingstone, sixth edition

Ng, Smith G. 2002. Intraperitoneal administration of analgesia: is this practice of any utility?. British
journal of anaesthesia Vol 89/4:534-7

PH, Lennox, Vaghadia H, Henderson C. 2002. Small-dose selective spinal anesthesia for short-
duration outpatient laparoscopy: recovery characteristics compared with desflurane anesthesia.
Anesthesia analgesia, volume 94:34650

Schellpfeffer, Crino D. 2006. Anesthesia for minimally invasive surgery in : Duke J editor. Anestesia
secrets. Mosby elsevier 3rd ed.: 494-99

Schoeffler, P. 2012, Practical training and research in gynecologic endoscopy in Anaesthesia for
gynecological endoscopy,Geneva Foundation for Medical Education and Research
url : http://www.gfmer.ch/Books/Endoscopy_book/Ch04_Anaesthesia.html

Scott-Conner. 2006. Intraoperative management of the laparoscopic patient in Whelan LR, Fleshman
JW, Fowler DL editors : The sages manual : perioperative care in minimally invasive surgery.
Springer science

18
S, Tuteja. Next article safety considerations during anesthesia in laparoscopy : Review article, New
Delhi
url: http://www.laparoscopyhospital.com/Laparoscopic_anesthesia_special_consederation.htm

WB, Murray. 2005, Monitoring devices and anesthesia for laparoscopic surgery. New textbook
prevention and management of laparoendoscopic surgical complications, 2nd edition

Zundert, Ham D, Wildsmith J. 2006. Segmental spinal anaesthesia for cholecystectomy in a patient
with severe lung disease : case report, British Journal of Anaesthesia 96 (4): 4646

19